Rasa Sakit

Waktu berjalan dan kamu kira kamu sudah terbiasa dengan rasa sakit. Kamu kira hidup dengan larah luka yang menganga sudah kamu relakan sebagai bagian dari masa lalu tanpa pilihan. Kamu lalu memilih untuk menjadi dewasa dan hidup dengan segenap konsekuensi atas pilihan itu.

Hingga seseorang datang, memberikan satu lagi penolakan atas apa yang tersisa dari dirimu. Bertubi, berkali-kali. Saat kamu kira sungguh mustahil seseorang seperti dirinya melukaimu sejauh itu, dia benar-benar melakukannya. Seseorang yang dengan lembut menyebut namamu di belakang kata aku mencintaimu dan membuatmu percaya bahwa apa yang tersisa dari tubuh dan jiwamu layak untuk dicintai. Untuk disayangi.

Lalu, saat ia benar-benar pergi, kamu memilih diam dan menelan rasa sakit itu sendirian. Pada malam-malam saat kamu terjaga dan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menangisi namanya. Memanggil dengan apa yang tersisa dari lirih suaramu untuk kembali merasakan kenyamanan dan keamanan itu, untuk sekali saja. Agar kamu bisa terlelap tanpa mimpi buruk yang perlahan mulai mengambil sedikit demi sedikit dari apa yang tersisa dari dirimu.

Minggu berganti, dan kamu memilih untuk pergi, dari rumah yang menghantuimu dengan kenangan atas apa yang kamu kira adalah cinta. Dari setiap sudut ruangan yang membuatmu mengira kamu berharga tapi lalu dibuang begitu saja.

Namun di ruang dan waktu yang asing inipun, kamu tak habis menangisi rasa sakit di dadamu. Pada malam-malam saat kamu terjaga, pada kesunyian yang bernas setiap usai kamu benturkan kepala ke dinding karena mereka berisik luar biasa, pada setiap keping obat yang kamu telan dalam upaya ingin terlupa, rasa sakit itu tetap memelukmu.

Kamu mengira rasa sakit itu akan kalah pada terjaga berhari-hari, pada tubuh tanpa asupan energi, pada airmata yang menggenang setiap kali kamu sebut namanya, pada ribuan hembusan nafas dan doa agar kamu dapat terlepas rasa sakit meski hanya sehari.

Hari ini bertubi kabar baik kamu terima. Dua orang kini mempercayaimu dengan perkerjaan yang kamu suka. Hadiah, kata-kata penyemangat dan upaya untuk menghiburmu tak pernah putus diberikan. Kamu tersenyum, merasa familiar dengan rasa menyenangkan itu, dan mengira inilah hari di mana rasa sakit itu akhirnya pergi.

Namun pada redup lampu kamar saat hari telah berganti, kamu tutup pintu dan jendela, mencoba memejamkan mata lalu airmata kembali mengalir. Rasa sakit itu kembali memelukmu hingga tidak ada yang bisa kamu lakukan kecuali menangis. Dan kamu merasa telah mengkhianati hal-hal baik yang seharusnya membuatmu bahagia di hari ini.

Kepada pil tidur kelima kamu titipkan sebuah harapan.

Ambil rasa sakitnya.

Ambil semua yang tersisa.

Denpasar, 28 Nopember 2020.

Author: nanirigby

A Wanderer who constantly asking about "Why?"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s