Tentang Amarah

Lahir di keluarga miskin membuatku belajar banyak tentang rasa marah. Aku marah saat teman-teman sekelas dibelikan buku, sepatu dan seragam baru saat mereka juara kelas. Sementara aku harus melanjutkan menulis di halaman-halaman kosong buku pelajaran bekas Kakak. Aku marah, dan belajar sekuatnya untuk menjadi juara 1, kalau perlu juara umum untuk membuktikan bahwa tanpa buku dan sepatu baru aku juga bisa sama seperti yang lain. Saat itu aku tidak melihat bahwa menulis di buku tulis bekas Kakak membuatku terpapar dengan pelajaran yang enam tahun di atas jenjang pendidikanku.

Saat pulang ke rumah dan Ibu lagi-lagi memasak mie instan berkuah banyak yang rasanya asin bukan karena bumbu mie tapi karena Ibu menambahkan garam agar kuahnya bisa dimakan dengan nasi Raskin yang diambilnya setiap hari Sabtu setelah mengantri berjam-jam di Kelurahan, lalu menjunjung beras 5 kilo di kepalanya, berjalan kaki. Aku marah karena teman-temanku bercerita tentang restoran yang mereka dan keluarganya kunjungi di akhir pekan.

Saat harus berjalan kaki berkilometer dari sekolah setiap hari karena malu jika dijemput Bapak menggunakan sepeda yang dipakainya untuk berjualan minyak tanah, aku marah karena temanku yang dibelikan Bapaknya sepeda motor baru karena ia juara 5 di kelas. Aku yang juara 1 kenapa tidak dibelikan sepeda motor juga? Apa salahku sampai harus dihukum seperti ini?

Saat aku bekerja siang dan malam di umur 16 tahun, aku marah karena penghasilanku tetap tidak bisa mengubah kebiasaan Ibu menangis di tengah malam karena hari itu lagi-lagi rumah kami didatangi tukang tagih dari Koperasi Simpan Pinjam dan Ibu tidak punya 20 ribu rupiah untuk cicilan hariannya.

Saat Ibu meninggal dunia karena kami tidak memiliki 2,5 juta untuk membawanya ke Rumah Sakit Provinsi, aku meledak dalam kemarahan. Aku menangis bermalam-malam, mengutuk kemiskinan kami dan bersumpah untuk berhenti menjadi orang miskin.

Aku marah kepada diriku sendiri yang telah membunuh Ibuku karena kurang berusaha sebelum kematiannya. Seharusnya aku bekerja lebih giat lagi dan mencegah kematiannya. Seharusnya aku bisa membelikannya makanan sehat dan mengurangi beban pikirannya yang melulu berputar pada bagaimana cara menjalankan hidup 5 orang dengan uang yang kadang ada kadang tidak dan lebih banyak kelaparannya.

Dua tahun penuh bekerja siang malam namun kali ini aku berada di tempat yang “tepat” untuk mencari uang. Mulai dari Director, Regional Director hingga level President Director dan CEO mengenal namaku dan berkali-kali pujian tentang “Betapa beruntung perusahaan memiliki aku” dan “Putra daerah prodigy” yang mereka banggakan kepada stakeholder membuat kepalaku di atas awan. Setelah menjadi staff, aku naik menjadi assistant, jabatan yang tidak pernah dimiliki siapapun tanpa gelar S1 di perusahaan itu. Betapa banyak aturan yang atasanku langgar semenjak awal masuk kantor membuatku bangga dengan diriku sendiri. Dan sebagai rasa terima kasih, aku bekerja lebih giat lagi.

Enam kali tipes karena berada di kantor untuk bekerja hingga pukul 3 pagi hampir setiap hari, dua kali ke IGD sendirian karena tidak mau merepotkan siapapun, dan puluhan kali visit ke Psikiater karena aku sudah membayar hutang atas kemiskinanku tapi aku masih saja restless.

Aku masih marah.

Empat tahun setelah kematian Ibu, aku membeli rumah, mobil dan memberangkatkan Bapak untuk umroh. Aku bisa makan di mana saja tanpa harus memikirkan harga. Aku bisa pergi ke luar negeri kapan saja asal ada cutinya. Aku bisa menguliahkan adikku dan menjamin kesehatan Bapak dengan segudang asuransi.

Tahun 2017 akhir keadaan kantor berubah total, aku yang merupakan “anak emas” hasil temuan dan kesayangan Regional Director harus meredupkan diri karena beliau sudah saatnya pensiun. Meski tidak butuh waktu lama untuk penggantinya juga menjadikanku anak emas, tapi aku lelah, aku capek kerja hingga lupa bagaimana rupa sinar matahari karena masuk paling pagi dan pulang paling larut. Aku juga capek, karena tidak peduli berapa banyak uang yang kumiliki dan dendam atas kemiskinan yang kubayar, hatiku tidak pernah benar-benar merasa nyaman.

Dalam sabbatical leave yang kuambil sebulan lamanya, aku mendekam di Ubud, Bali. Dibimbing Mbak Rika Cahyani, setiap hari adalah meditasi dan upaya mengenali diri. Lalu ketika ia menanyakan tentang bagaimana aku melihat diriku sendiri, aku menjawab dengan sejujurnya,

“Aku adalah amarah”

“Tapi aku capek, aku lelah marah-marah melulu”

Selama sebulan aku belajar tentang marah, amarah dan bagaimana membedakan keduanya. Serta seperti apa emosi dapat mempengaruhi kebahagiaan. Aku pulang tidak dengan hati yang seketika berubah menjadi bahagia, tapi aku mengerti apa dan bagaimana amarah bekerja dalam membentukku, lalu berdamai dengannya.

Hingga kemarin, aku tidak bisa mengingat kapan terakhir kali aku bergerak karena rasa marah. Betapa “santai”-nya aku menghadapi kesulitan tanpa sekalipun menaikkan suara. Seseorang menipuku jutaan rupiah, tidak satupun makian yang keluar. Aku minta komitmennya untuk membayar dan ketika itu dilanggar, aku laporkan ke kantor polisi untuk penipuan. Tanpa marah, praktikal dan solutif. Saat seseorang memperkosaku dalam keadaan mabuk, aku kumpulkan seluruh barang-barangku dan pergi untuk selamanya dari hidupnya. Aku hanya meninggalkan pesan setiap bulan agar ia mengembalikan apa yang dia pinjam dariku.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun lamanya, aku marah. Saat berkali-kali hatiku diinjak karena ia tidak mampu membuat pilihan dan menerima konsekuensi atas pilihan itu, saat nilai dan sejarah hidupku yang berdarah-darah diludahi dengan kalimat “I like her, but I love you” yang kemudian diubah menjadi “It turns out I don’t love you I choose her” dalam waktu kurang dari 24 jam. Baru ini aku merasa begitu rendah sebagai manusia. Betapa aku dan apa yang telah kulalui jangankan dihargai, dianggap cukup penting untuk dijaga perasaannya saja tidak.

Lalu setelah berkali-kali ia menyebut aku yang harus memaafkan diriku sendiri, aku yang harus mencintai diriku sendiri, aku yang “salah” dalam situasi ini, aku murka. Amarah yang telah membentukku, kembali dalam format berkali lipat. Sebab yang sudah-sudah, mereka cukup tahu diri atas kesalahan mereka dan memilih untuk diam. Untuk menjauh saat kuminta pergi. Mereka cukup “manusiawi” untuk menerima bahwa mereka sudah menyakitiku dan mengerti bahwa mereka tidak layak bahkan untuk meminta maaf.

Lalu seseorang, berkali-kali menikamku dengan pisau yang sama di luka yang sama hingga aku nyaris percaya bahwa ini adalah kesalahanku. Bahwa aku layak diperlakukan serendah itu karena akulah yang lebih dulu menyakitinya. Rasa bersalah ini kupendam sendirian berbulan lamanya saat ia memamerkan kemesraan yang tidak pernah dilakukannya padaku di media sosial. Hingga suatu hari aku sadar, ribuan orang menghargai luka dan perjuanganku sementara ia kembali memintaku untuk memaafkannya, memberi makan egonya. Seseorang yang tanpa kesadaran diri atas seperti apa kerusakan yang telah ia bawa ke hidupku, meminta aku memaafkannya setelah apa yang ia lakukan dalam upaya terbaiknya menyakitiku.

Aku familiar sekali dengan monster yang ada di dalam diriku. Seumpama Carl Jung menyebutnya sebagai shadow. Aku sudah berkenalan dan memberikan ruang untuknya sebagai bagian dari diriku. Sehingga aku tau, ketika ia ingin bergerak bangun, aku bisa memintanya untuk tenang. Ia adalah kumpulan rasa sakit, amarah dan kejadian-kejadian yang tidak akan aku maafkan meski berkali-kali kusebut aku hanya sedang tidak beruntung. Ia mengumpal menjadi satu, seumpama monster, yang aku benci setengah mati namun mau tidak mau aku bersisian hidup dengannya.

Kamu membangunkannya.

Kamu menggantikan posisinya.

Jakarta, 15 Desember 2020

Seseorang telah menempati ruang yang kusiapkan untuk sesempurnanya amarah

Author: nanirigby

A Wanderer who constantly asking about "Why?"

One thought on “Tentang Amarah”

  1. Oh.
    Mampukah, atau sempatkah, setiap orang mengenali luka diri karena amarah dan penat yang terus berulang?
    Membuat jarak dengan diri sendiri, meski hanya sesekali, ternyata lebih sulit ketimbang menjaga jarak antarorang saat pandemi. Setidaknya bagi saya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s