Issues

“Penyakit orang urban adalah terlalu berkutat dengan diri sendiri sampai memunculkan perkara perkara yang sebenarnya sepele, menjadi berlebihan dan seolah olah, dunia harus menjadikannya entitas paling spesial dan paling memerlukan perhatian”

Jika selepas mendapatkan kalimat seperti di atas kamu ingin mengambil pisau buah, mengiris pelan nadi secara vertikal dan membiarkan dunia menjadi gelap dan semua perkara di dalamnya hilang, maka pernyataan itu benar adanya.

My dear, soal merasa paling tidak spesial is my thing. I’ve mastered the “I’m just a speck of dust in this vast universe I’m not entitled to any attention or even affection from anyone” since forever. Since I realised not even my parents loves me. I’m unloved, lonely and literally got no one to look up to and it’s okay. Aku 27 tahun hidup dan cuma (kayaknya) disayangi Bambang -kucing yang prognosa hidupnya ga panjang itu- dan yauda gpp.

But I do, tired, sometimes. Pada malam malam tanpa atau dengan sedikit tidur, pada restlessness yang terasa tidak berkesudahan, pada pikiran soal mati sendirian tanpa sekalipun sempat merasa disayang. Nasib menjadi perempuan gendut jele tanpa skill flirting yang cukup untuk membuat orang betah berlama lama ngobrol, sepertinya. And I’ve tried, jangan salah, untuk berkali kali membuka diri, bercerita tentang luka untuk kemudian dinegasikan dalam kesunyian, pengalihan pembicaraan or even worse; tidak dimengerti.

And I’ll shut the fuck up, let everything sinks in and hope that everything would be fine if I’m hiding it under the carpet. Lalu menjalani hidup dengan bangun pagi dari tidur seadanya, bekerja, bermain game, nonton film bagus, baca buku sesekali lalu terjaga dan terjaga dan terjaga bersama sampah di bawah karpet bernama kesepian dan sendirian.

Bangsatnya, it didn’t work.

Dalam rangka ingin tetap hidup meski tanpa alasan yang cukup kuat, I seek for help. A profesional one. Untuk kemudian bercerita, dan mengulang ulang event menyakitkan dalam kepala, lalu dipepatkan dalam sederet istilah yang mau tidak mau diterima meski sempat denial karena aku sudah merasa semuanya baik baik saja, for fuck sake. Dan akhirnya kembali ke rumus semula ; yauda, gapapa.

Membersihkan dan merapikan rumah sampai jam 2 malam hingga badan gemetar kelelahan itu tidak normal, yauda gapapa. Merobek puluhan lembar jurnal karena salah menulis satu kata itu tidak normal, yauda gapapa. Makan sampai kekenyangan dan muntah muntah itu tidak normal, yauda gapapa. Berenang sampai ligamen lutut sebelah kanan cidera itu tidak normal, yauda gapapa.

Yauda gapapa tapi ini terjadi di usia 27, saat kukira aku sudah bisa dan lumayan jago untuk mengelola perkara begitu setelah bertahun tahun berkutat soal self worth dan berhenti menggugat hal yang sudah terjadi. Aku kira aku sehat dan sialnya, ternyata tidak.

Ini pilihanku, aku memutuskan untuk hidup seperti ini. Maka aku selalu meminta diri untuk kuat dan chin up, terhadap kesunyian dan kesepian aku tidak semestinya mengibarkan bendera putih menyerah lalu mencari validasi dan penghiburan dari orang lain. Aku yang memutuskan untuk hanya fokus mencari uang agar hidupku tidak lagi bergelimang penderitaan. Aku yang memilih untuk menyendiri dan menjilati lukaku sendiri. Harusnya aku bisa, harusnya aku cukup kuat untuk ini.

Namun ada kesedihan yang sulit diutarakan saat terbangun dari mimpi buruk dan tidak satupun nama terlintas untuk membagi ketakutan. Pada malam mati lampu di tengah angin kencang dan hujan deras beserta kilat dan gemuruh yang menciutkan perasaan. Pada terjatuh di lantai dapur saat demam mencapai 40 dan seluruh penglihatan menjadi kehijauan namun tidak satu namapun terlintas untuk meminta pertolongan. Aku tidak semestinya merepotkan siapapun sebab ini adalah hidup yang kupilih dan kukira kuinginkan.

“Jika hidup harus berakhir dalam keadaan seperti ini, yaudah gapapa” adalah kalimat yang kuulang ulang saat mengalami ketakutan yang rasional maupun tidak. Being lonely sucks. Tapi hidup dalam ilusi disayangi dan memiliki rekanan namun nyatanya tidak jauh lebih menyakitkan. Berapa kali lagi harus kualami lompatan keriaan karena merasa dimengerti, karena ada yang sudi menawarkan telinga dan hati untukku berbagi namun kemudian berakhir pada kesunyian karena ditinggalkan, pengkhianatan atau sesederhana; aku tidak lagi menarik dan membosankan?

Pada hal hal demikian aku sudah menyiapkan ruang untuk menarik diri dan mengambil jarak yang cukup untuk tidak membiarkan diri ini diinjak injak kembali. Dan menganggap persoalan seperti itu hanya bagian dari kesialan dalam hidup. Untuk kembali menjalani hari dengan bangun pagi, bekerja, bermain game, nonton film, memasak dan memastikan hari ini aku tidak tiba tiba menangis histeris di kamar mandi. Jika dalam rangka tidak ingin membiarkan kepala mengajak berbicara soal kesepian aku harus menyibukkan diri dengan mencuci ulang seluruh isi rak piring, yaudah gapapa.

“Come on, kamu baru 27 dan lihat apa yang sudah kamu lakukan. Lihat apa yang sudah kamu miliki, lihat apa yang kamu capai dalam pekerjaan, yang bagi banyak orang seumurmu ingin miliki, lihat berapa banyak kota dan negara yang telah kamu kunjungi, lihat bagaimana kamu menghidupi tidak hanya diri sendiri tapi seluruh keluargamu. Lihat betapa beruntungnya kamu dalam hidup”

Seandainya semua itu bisa membuatku tidak membuka kunci rumah, mengucapkan “I’m home” kepada ruang sunyi dan gelap, menghidupkan lampu dan mengisi bathub dengan keinginan untuk mati dengan menenggelamkan diri di ujung hari, betapa sederhananya kebahagiaan itu, ya?

But it’s all just temporary, right? Tidak ada kebahagiaan yang abadi, serupa tidak ada kesedihan yang bertahan selamanya. I’ll keep swimming, and took breath sometimes, floating when I feel tired, but I’ll live, I know I will, until the end of the line.

Until the end of the line.

Sampit, 19 Mei 2019

Hari kesebelas, rasanya lelah sekali astaga.

24 Mei 2019

Sengaja ini akan dijadikan post panjang, untuk dapat melihat progressnya. Hari keenam belas. Menyelesaikan tes MMPI dan hasilnya akan ketahuan pada kunjungan berikutnya. Capek, rasanya ingin tidak melakukan apa apa, duduk di pojokan bengong dan menangis, menangis, menangis saja. Sudah aku kasih ruang untuk melakukan hal itu di akhir pekan kemarin, 48 jam memperbolehkan diri sendiri untuk merana semerana merananya, sedih sesedih sedihnya dan ternyata it kinda works.

Mungkin bantuan obat, but I’m way, waaaaayyyyy much more ‘normal’ now. Tidak ada lagi energi berlebih yang membuat terjaga berhari hari, if I feel ecstatic karena excited dengan hal hal seru, aku memaklumi diri sendiri dan paham kenapa lonjakan energi itu muncul. Aku tidak mengalihkannya ke kegiatan fisik tidak masuk akal seperti mengecat kamar mandi jam 11 malam dan menakar lagi soal apakah ini normal/masuk akal?

I’m 27 now. Dulu kukira kalau punya duit, hidupku bakal bahagia. So I work my ass off and I earn some money, but I still unhappy. Lalu kukira kalau kurus, I’ll get over my loneliness and people would want me, love me, so I work my ass off and losing 20kg++ and yet, I’m still unhappy. And I’m tired, T I R E D. Semua aku lawan dan lawan dan lawan dan lawan sampai akhirnya kelelahan sendiri, ngos2an sendiri. Lalu yang tersisa, apa? Selain diri sendiri, selain diri sendiri.

Embrace Nani, embrace~

Advertisements

lelaki yang memulai pagi dengan sunyi

Lelaki itu memulai pagi dengan sunyi.

Disekanya peluh saat mentari meninggi dan menelusup di celah jendela, seketika menerpa wajahnya. Dalam menit menit kemudian ia duduk di tepi ranjangnya, meraih sebatang rokok dan menimangnya dengan ingatan soal entah sudah berapa pagi ia menginginkan untuk berhenti mengisap benda sialan itu.

Asap mulai meliuk saat ia bangkit dan menuju dapur kecil kontrakannya. Menyalakan kompor lalu menunggu secangkir air mendidih dan dituang ke dalam gelas yang telah berisi kopi bubuk tanpa gula. Entah kesadaran semacam apa yang membuat lelaki itu terus mengulang kebiasaan yang telah disumpahnya untuk tidak lagi dilakukan, enam tahun silam.

Asap rokok berbaur dengan kepulan dari gelas kopinya. Ia buka pintu kontrakan, berkalung handuk dan secarik celana kolor berwarna kelabu ia duduk di depan pintu. Melihat yang lewat dan sesekali menghirup kopi, perlahan hingga kopi itu dingin lalu tandas. Rokok telah memasuki batang ketujuh saat ia memutuskan untuk mandi tepat pada saat anak anak Sekolah Dasar membanjiri pintu gerbang, menuju pulang.

Kamar mandi umum senantiasa sunyi pada jam jam begini. Ia bisa mengambil waktu sebanyak mungkin untuk buang tai, menyikat gigi bahkan onani. Pagi itu ia putuskan untuk melakukan ketiganya dengan urutan nyaris bersamaan. Seringai di wajahnya tak bisa ia kendalikan saat penis yang sedemikian tegak itu mengeluarkan sejumput cairan putih kental yang mungkin berisi calon presiden beserta kabinetnya.

Siang menjelang dan belum sepatah katapun ia lontarkan. Kesunyian yang diulangnya setiap hari itu hanya ia sendiri yang mengerti mengapa meski kini usia 34 tahun membayang di jidatnya. Sepatah kata akan diucapkannya saat membeli makan siang, berupa “Nasi campurnya satu” dan “Terimakasih” lalu kembali ke kontrakan 3 kali 5 dengan dapur kecil dan kamar mandi bersama.

Ia nyalakan televisi dan makan dalam sunyi.

Lalu menyalakan rokok dan mengisapnya dalam sepi.

Sore itu kontrakannya ramai, tetangga dan sejumlah anak anak sepulang bermain bola menemukan darah yang merembes dari pintu, diserap alas kaki dan mengubah warna kuningnya menjadi merah. Darah yang menetes dan menggumpal diserap tanah berpasir dan menguarkan bau amis.

Lelaki itu kemudian ditemukan mati.

Dalam sunyi.

Telepon Tuhan

Sore itu kuseduh segelas kopi. Kuaduk pelan dan kusesap aromanya beberapa saat. Harum, kalau ini sebangsa teh, pastilah namanya teh poci atau teh melati. Kulirik bungkusnya, tanpa nama, putih keabuan tanpa marka. Kuangkat bahu sepintas, tak penting apa namanya, yang penting aku tau ini kopi. Sebentar, darimana aku bisa tahu bahwa yang sedang kusesap baunya ini adalah kopi? Karena warnanya hitam pekatkah? Ah, aspal juga warnanya hitam. Oli juga, air got, dan berputarlah nama nama cairan berwarna hitam di kepalaku. Sendok kecil masih berdenting sesekali saat berbentur dengan dinding gelas.

Kuletakkan gelas berisi kopi (atau sesuatu –apapun itu- yang kuanggap sebagai kopi) di atas meja dekat telepon. Berseberangan dengan meja kecil bermahkota telepon, ada televisi, tengah menyala. Suaranya pelan, kumatikan sekalian. Kulirik telepon bertombol belasan itu. Kopi masih mengepul, urung kuminum. Gagang telepon berderit gaung, gegas kupencet beberapa digit nomor. Tut.. tut.. tut..

“Halo,” aku bersuara kala nada ‘trek’ terdengar di ujung sana.

Masih diam, kuulang mengucap sapa.

“Hey, kamu rupanya, lama betul tak menyapa” suaranya masih sama, selalu sama, menyejukkan dan semilir.

“Saya kangen” ujarku.

Aku sudah nyaris lupa kapan terakhir aku menghubunginya. Rasa rasanya sejak aku berhenti meminum kopi. Atau sejak aku melupakan aroma teh melati. Entahlah, suaranya kini mengetuk kepalaku.

“Ah kamu, kalau kangen kenapa tak pernah menelpon?”

Aku kini terkekeh mendengar jawabannya, dia benar, bagiku kata kangen sudah seperti rutinitas semata. Setiap hari aku mengatakan kangen nyaris kepada semua hal. Lama lama rasa kangenku menjadi blur, antara kangen sungguhan atau kangen basa basi.

“Saya sedang sibuk, dunia sedang seru akhir akhir ini,” sahutku. Aku lantas mereka-reka kejadian terakhir dalam hidupku. Kantor, rumah, buku buku, kantor, rumah, buku buku. Ya ya, seru sekali rupanya, aku melengus sendiri.

Suara di seberang sana kini memintaku diam dan mendengarkannya. Aku terlalu sayang pada pemilik suara hingga jangankan membantah, bernafaspun rasanya tidak kulakukan saat menikmati suaranya.

“Aku mengerti, kamu terlalu sibuk memikirkan sesama manusia dan kompleksitas mereka, bukan?”

Suaranya berjeda, ada nada tanya. Entah retorik entah sungguhan menanti jawab.

Aku diam, bisa kudengar nafasnya di gagang telepon. Ah bahkan mendengar nafasnya saja, aku sudah mabuk kepayang, diam dalam diam. Kini aku dan dia sama sama diam. Aku menjawab pertanyaannya dengan menggeleng pelan. Aneh, meski kami berbicara lewat telepon, dia bisa tau bahwa aku tengah menggeleng. Dia memang selalu memukauku dengan keanehan yang disebabkannya.

“Lalu kamu sedang berfikir tentang apa?” ia bertanya kembali setelah melihatku menggeleng

“Saya memikirkan kapan saya naik pangkat, kapan saya bisa membangun rumah yang lebih besar dan kapan buku buku itu habis saya baca” jawabku. Aku tidak pernah mampu berbohong padanya.

Kini nafasku yang terdengar di gagang telepon. Tunggu, dari mana aku tau bahwa ini adalah nafasku bukan nafasnya? Apa yang membuat nafas kami begitu berbeda padahal keduanya hanyalah soal menghirup dan menghela semata?

Telepon bergeresak, kutendang kabel biru yang melalar keluar jendela. Kini geresaknya hilang, berganti suara.

“Kamu membuatku bersedih…” ucapnya yang kemudian disusul kebekuan suara, nafasnyapun tak terdengar.

Aku panik, tak pernah kubayangkan lebih-lebih kuniatkan untuk membuatnya sedih. Jemariku kini melilit lilit kabel ulir yang menautkan gagang telepon dan papan plastik berisi belasan tombol. Kini kudengar nafasku sendiri, berderu deru nyaring memburu. Sekarang aku mengerti apa yang membedakan nafasku dan nafasnya. Nafasnya selalu sama, lembut teratur menentramkan jiwa. Nafasku bermelodi, kadang tinggi kadang lambat kadang tak ada sama sekali. Rupanya nafas bukan hanya soal menghirup dan menghela semata. Ada nyanyian di sana.

Teleponku masih bungkam. Aku mulai menangis, jemariku kini mengusut lelehan airmata yang mengaliri ceruk pipi, leher hingga nyaris ke dada. Isakku rupanya tertangkap gagang telepon dan sampai ke ruang dengarnya.

“Terlalu banyak kata ‘saya’ dalam jawabmu, aku sedih, rupanya jangankan aku, orang orang di sekitarmupun tak mendapat porsi dalam pikiranmu” suaranya merdu, paling merdu,

Airmataku kering, ingin kulontarkan maaf untuknya. Tapi urung kulakukan. Saat ini tak bisa kubedakan apakah maaf yang kurasakan adalah maaf sungguhan atau sekedar maaf basa basi. Jutaan maaf kuucapkan kepada jutaan hal setiap hari. Hingga batasan maaf sungguhan dan maaf basa basi menjadi kabur, baur.

“Aku tau kamu menyesal, oh aku terlalu menyayangimu hingga tak bisa sesaatpun menguntai benci padamu” suara paling merdu itu kembali menguar.

Heran, dia selalu bisa membaca pikiranku.

“Saya tidak suka mereka, mereka penuh benci dan prasangka” gumamku, meraih remote televisi, menghidupkannya, mencari cari kanal berita. Suara televisi kutiadakan. Aku tidak perlu suara lain jika dia yang bersuara di ujung telepon sudah mampu memenuhi segala kebutuhanku akan suara.

“Kamu tidak suka pada mereka yang penuh benci? Hahaha” dia tertawa dengan tawa paling indah yang pernah kudengar. Heran, suara tawanya saja mampu membuatku turut senang.

“Saya tau, saya tak berbeda dengan mereka yang membenci jika saya masih memiliki rasa tidak suka”

Aku berpura pura menggerutu, ingin menarik perhatiannya.

Sejurus kemudian aku sadar, tak perlu aku berpura pura, dia selalu memberiku perhatian. Ah, rasa sayangnya padaku memang keterlaluan!

Lagi lagi dia seperti membaca pikiranku, kini bertanya.

“Kamu sayang padaku?” ucapnya, tanpa nada klise sama sekali.

Aku, entah, rasa rasanya sudah bermilyar kali mendapat pertanyaan seperti itu dari bermilyar hal dalam hidupku. Hingga remang bagiku batasan atas pertanyaan klise dan pertanyaan basa basi dari tiga kata itu. Kamu-sayang-padaku?

Aku biasanya tak menjawab, sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk tidak menjawab segala hal yang masih (atau sudah) tak jelas batasannya bagiku. Tapi kali ini berbeda, pertanyaannya sama sekali tidak terdengar klise. Begitu tulus, paling tulus.

“Tentu, saya sayang padamu.” Kubiarkan suaraku terdengar menggantung, mengharap respon. Percuma, sebenarnya, dia selalu memberi respon atas semua pertanyaan dan pernyataanku. Hanya aku yang dibuai sibuk oleh keakuanku hingga lupa dan hilang perhatian atas responnya. Kali ini kucermati suaranya. Dia tertawa.

“Aku senang, kamu rupanya masih sayang pada dirimu sendiri. Susah ya, untuk berhenti tidak menyukai?” tanyanya lagi, kabel ulir menyentuh mulut gelas, nyaris menyentuh genang kopi (atau sesuatu yang kuanggap kopi) di atas meja. Kusentak perlahan, riak permukaannya kini tenang, tidak pula terlihat kepul asap berbau wangi dari dalam gelas. Sepertinya sudah dingin.

“Televisi sedang menjualmu” kupaparkan padanya tentang iklan yang menjualnya secara grosir maupun eceran. Beserta sumber tenaga yang bisa diisi ulang dengan dicolokkan ke listrik. Juga tentang pernak pernik pendukungnya. Ada hijau, hijau sekali, putih, merah, biru hingga marka marka berbentuk kotak, gumpalan rumput berbuah, kepalan tangan hingga silangan senjara tajam.

“Saya kesal kamu dijual begitu” lanjutku

Dia tertawa lagi. Dia selalu menemukan cara untuk menertawakan apa yang kubenci dan mengundang marahku. Dia humoris, paling humoris.

“Biarkan saja, yang menjual saya justru bisa membuat saya semakin terkenal. Kalau saya sudah terkenal, saya akan muncul di spanduk-spanduk dekat kantormu, papan iklan di depan rumahmu, bahkan saya akan dipasang di setiap sampul buku yang kau baca,” ujarnya, terdengar riang.

Dia melanjutkan dengan nada semakin riang

“Jadi, kamu akan menemukanku di kantor, rumah dan buku. Di setiap pikiranmu. Kamu akan selalu kangen padaku. Duh, senangnya”

Aku tersipu, dia masih ingat hal hal kecil tentangku.

“Ah kamu! Saya jadi geer nih. Beberapa dari mereka selalu mencoba mengklaim bahwa kamu hanya milik mereka. Yang tidak setuju dimusuhi. Kadang, yang dimusuhi membalas mengklaim kamu. Mereka berebut kamu. Saya sebal sekali” gerutuku tak berbendung.

“Ciee.. kamu cemburu?” dia menjawab, dengan pertanyaan baru.

Wajahku terasa panas, kupingku apalagi, seperti ada yang mengigit gigit. Berkali kali kutepis anak rambut yang sebenarnya tak jatuh ke wajah. Dia selalu tau cara membuatku salah tingkah. Jawaban terjujur kini tercetak di wajahku, aku bersyukur menghubunginya melalui telepon sehingga ia (kupikir) takkan bisa melihat wajahku. Aku berdehem, mencoba mengalihkan pertanyaannya.

“Kamu sedang sibuk?” tanyaku, mengambil sepotong koran dari bawah meja. Koran pagi tadi, kulipat kecil dan kukipas kipaskan pada wajahku yang merah padam.

“Aku tidak pernah sibuk, tidak seperti kamu yang sibuk terus sampai lupa buat kangen padaku,”

“Ah. Iya deh saya minta maaf,” aku kembali memasang nada merajuk padanya.

Dia kembali tertawa, “Eh, jadi kamu ga cemburu nih sama mereka yang sibuk memperebutkanku?”

Aku bergumam gumam.

Aku mengalihkan pandangan yang sedari tadi terfokus pada genangan kopi dalam gelas. Aku menatap televisi, ada ratusan orang tengah berteriak teriak sambil memukuli pria bercelana sarung. Pria itu tersungkur, wajahnya tunarupa. Bilur biru di sekujur tubuh. Aku melihat balok kayu dan laras besi menghujani tubuh laki laki itu. Sumpah serapah mengalun disela teriakan teriakan. Aneh, padahal televisi sudah kutiadakan suaranya, namun masih saja jeritan si pria bercelana sarung saat meregang nyawa hinggap di kupingku. Mungkin juga hinggap di gagang telepon, tersampaikan padanya.

“Mereka meneriakkan namamu saat membunuh pria itu,” bisikku pelan. Begitu pelan hingga aku ragu ia bisa mendengar kata kata yang bahkan tak sampai ke kuping kiriku itu.

“Siapa bilang itu namaku?” ia menjawab dengan tenang.

“Tapi televisi bilang itu kamu, namamu” aku lantas terdiam. Kata kata itu meluncur mendahului otakku untuk memikirkan maksudnya apa.

Dia masih di sana, menjawab dan terus merespon setiap nafasku.

“Jadi sekarang kamu lebih sayang televisi nih dibanding aku?”

“Huh! Nanti lama lama kamu bisa berhenti kangen padaku. Soalnya kamu fikir aku sudah ada di televisi,”

Aku tau dia hanya bercanda, tak pernah merajuk. Tidak sepertiku yang begitu mudah ngambek dan mogok menelponnya kala dia kuanggap tidak meresponku.

“Kalau suatu saat, mereka tau bahwa saya selalu menelepon kamu, lantas telepon ini diambil karena saya dianggap merebut kamu dari mereka, gimana?” lega, apa yang mengganggu pikiranku sejak melihat televisi tadi kini sudah kutanyakan.

Tut… tut… tut…

Telepon terputus tiba tiba.

Kutarik tarik kabel biru yang menjalar lewat jendela. Kutekan tombol redial. Setengah putus asa kuguncang guncang papan plastik berisi belasan nomor. Tak sengaja tersenggol gelas kopi, pranggg!! Pecah di lantai ubin.

Aku kini menangis sejadinya, genangan pekat kopi bercampur lelehan airmata. Teleponku padanya tak pernah terputus tiba tiba. Genangan kopi yang tak sempat terminum itu merembes ke karpet, perlahan mengalir hingga menyentuh steker listrik untuk televisi. Aku melihat percikan bunga api, perlahan membesar lantas terdengar letupan.

Televisi hitam, korslet.

Telepon berdering. Aneh, kabel biru yang menjalar di jendela telah kucabut. Bergegas kutempelkan gagangnya ke kuping kanan.

Aku mendengar suaranya lagi. Suara terindah, paling indah.

“Dasar cengeng,” suaranya terdengar lembut, aku merengut sambil menyeka airmata.

“Jangan lakukan lagi, saya kira kamu meninggalkan saya” suaraku tertahan tahan, mengisak isak.

“Habisnya, kamu selalu berbicara tentang televisi. Aku kan jadi cemburu,”

Aku menatap layar televisi yang hitam. Tidak lagi kulihat iklan yang menjualnya secara grosir maupun eceran. Beserta sumber tenaga yang bisa diisi ulang dengan dicolokkan ke listrik. Juga tentang pernak pernik pendukungnya. Yang berwarna hijau, hijau sekali, putih, merah, biru hingga marka marka berbentuk kotak, gumpalan rumput berbuah, kepalan tangan hingga silangan senjara tajam.

Tidak juga kulihat pria bercelana sarung yang dipukuli sampai mati oleh ratusan orang yang meneriakkan namanya di sela hujan sumpah serapah. Ruang tengah rumahku kini begitu tenang. Aku kini mengerti, bahwa dia hanya cemburu. Bahwa dia ternyata tak ingin aku membenci orang lain karena televisi.

Aku tersenyum, kuucapkan selamat malam padanya. Aku menuju tidur.

“Baiklah, kamu harus tidur, aku akan sangat kangen padamu. Hm.. sebelum kamu tidur, aku boleh ucapkan sesuatu?” aku menghela nafas, kusiapkan diri untuk menerima ucapannya.

“Apa itu?”

Suaranya nyaris samar. Antara udara malam dan aku yang kian mengantuk.

“Kamu tidak perlu melaporkan semua kebencian yang menguar di televisi padaku. Percayalah, aku sudah tahu bahkan sebelum pria bercelana sarung itu mati dipukuli orang orang yang meneriakkan –kata televisimu–namaku. Aku sudah tahu bahkan sebelum iklan tentangku dimuat di situ. Kamu tidak membenciku karena ini, kan? Aku tahu bahwa kamu takkan menganggapku telah membiarkan mereka saling membunuh karena memperebutkanku. Aku tahu, dan aku akan bekerja dengan caraku,”

Senyumku semakin lebar saat dia mengucapkan selamat tidur untukku. Kututup telepon dan mengulangi kata katanya.

Bahwa

Dia ada, Paling Ada. Dia tau, Paling Tau.

Be Right Back and How Grieving Works

Menarik bagaimana kemajuan teknologi bergeser dari fungsinya sebagai perangkat untuk mempermudah aktivitas fisik manusia menjadi tools on emotional level. Pada era revolusi industri misalnya, teknologi digunakan untuk bagaimana memperbanyak hasil panen, menerangi seluruh kota, membangun mesin ini dan mesin itu hingga akhirnya mungkin saat semuanya settled manusia menemukan ide soal:

Bagaimana caranya untuk memenuhi kebutuhan eksistensial melalui kemajuan teknologi di bidang komunikasi.

Saya baru ngeuh soal ini saat pertama kali nonton Her, circa 2014. Film ini kemudian saya tonton berulang ulang dalam interval sebulan-dua bulan setelahnya, one of my favorite movie sebab gosh suara mbak Scarlett di film ini sudah lebih dari cukup untuk membuat saya turned on bahkan tanpa kehadiran fisik sempurna mbaknya. Lebih dari itu, plot dan bagaimana The Moon Song selaku score film membuat saya memahami bagaimana rasanya kesepian khas kaum urban. When there’s nothing wrong and everything is fine on the surface, but you just felt.. empty.

Lonely.

Film dengan ambient serupa kemudian saya temukan di Love for Sale, Eternal Sunshine of the Spotless Mind, Brooklyn dan seterusnya. Namun mari bergeser ke series yang baru saja saya tonton tadi malam agar tetap relevan dengan premis awal tulisan ini : Black Mirror season 2, Be Right Back dan bagaimana perkembangan teknologi menjadi perangkat untuk memahami perasaan manusia.

Image result for black mirror be right back posterBercerita soal Ash dan Martha, pasangan baru menikah dan sedang lucu lucunya. Di suatu hari, Ash meninggal dunia karena kecelakaan. Long story short, pada durasi setengah jam kemudian saya mendapati Martha yang grieving dan dwelling atas kematian Ash dalam keadaan hamil. Latar waktu film pendek ini (FYI Black Mirror ini seperti omnibus, kumpulan film pendek tapi ga pendek pendek amat apasih Nan) adalah masa depan yang jauh sekali hingga cup kopi ada lampunya dan laptop bisa dioperasikan pakai hand gesture. 

Di masa depan yang jauh sekali itu, ada artificial intelligence yang bisa mengumpulkan data dari media sosial dan video yang diunggah untuk dipelajari pattern-nya dan ‘menghidupkan’ kembali seseorang yang sudah meninggal melalui media chatting, video-call bahkan Android. Di film ini eskalasinya dirunut dengan baik, saat Martha merasa text saja tidak cukup, AI menawarkan video call hingga puncaknya, chipset ditanamkan dalam robot Android dan diwujudkan dalam tubuh seorang Ash. Literally membangkitkan orang mati tanpa konsep mistis sama sekali hahaha.

***SPOILER ALERT***

Hingga film berakhir dengan Martha yang jadi delusional dan menerima Android Ash sebagai bagian dari hidupnya, film ini memberi tahu how grieving works dengan berbicara soal kematian yang tidak direlakan akan tinggal selamanya. Dan kata ‘tinggal selamanya’ dimaknai literal dengan Android Ash yang benar benar tinggal selamanya di loteng rumah Martha. Ada fase tarik-ulur soal merelakan-tidak merelakan ini sebenarnya, saat Martha sadar bahwa Android Ash kehilangan personal trait yang tak peduli sebanyak apapun sumber informasi yang disedot AI, ia tidak akan bisa seunik Ash sebagai manusia. Saat Martha menyuruh Android Ash untuk terjun dari tebing di hometown Ash misalnya, atau saat mbaknya tiba tiba pundung karena reaksi Android Ash tidak seperti what real Ash would do.

Saya rasa soal menerima kematian, semua orang punya caranya sendiri. Shah Jahan yang membangun Taj Mahal untuk istrinya, beberapa berita soal istri/suami/pacar yang dijadikan mummy dan diletakkan di ruang tamu, regular visit to psychologist, termasuk cara ibu Ash saat adik dan ayahnya meninggal dunia : memindahkan semua foto dan memorabilia mendiang ke attic and shut the door. Detil yang hanya disebut dalam 2 kalimat di menit awal ini muncul kembali di akhir film dengan adanya Android Ash yang dikunci di sana selama periode Martha hamil-melahirkan-hingga anaknya toddler. 

Banyak detil menarik di Be Right Back ini yang semula hanya muncul satu-dua kalimat dalam percakapan yang sepertinya biasa saja. Soal attic, jumping cliff dan pola komunikasi Ash yang lebih menyukai media sosial ketimbang berbicara soal rasa-rasa pada Martha. Dari segi teknis, sinematiknya bagus sekali, warnanya mengingatkan pada Her (well, warna warna pastel kayaknya sudah didampuk menjadi khas film alternatif sih ya) dan sinematografinya sepintas mirip Blue Jasmine. Scoringnya juga uwuwuwuw sehingga cocok buat saya yang sedang ingin rehat dari non-stop action di serial Ozárk.

Meski peradaban belum sampai pada konsep menghidupkan orang mati seperti di Be Right Back, kita sebenarnya sudah melesat jauh dari titik awal perkembangan teknologi di bidang komunikasi. Let’s assume ground break-nya saat telepon ditemukan. Kemudian milestone selanjutnya adalah saat internet diciptakan, konsep komunikasi sederhana berupa the imparting or exchanging of information or news, bergeser menjadi tempat penitipan eksistensi, wadah propaganda, bahkan pencarian pasangan seperti yang aplikasi perjodohan lakukan.

Dari yang semula sebagai “Halo, gini nih mau ngabarin aja kalau Rabu depan pasukan Jepang mau ke Pearl Harbour so be prepared ya xixixi” menjadi “Hey, walaupun kita tidak pernah bertemu sebelumnya, tapi aku mencintaimu melebihi apapun di muka bumi ini” perubahan ini in a way indah sebenarnya. Namun ketika perkembangan teknologi membuat kita terlalu mudah untuk overcome grieving seperti di Be Right Back, rasanya kok ada yang salah aja.

Saya tidak menyebut bahwa ketika seseorang meninggal kita harus weeping and dwelling and being sad all the time, namun proses grieving ada ‘pakem’nya. Saya juga tidak bisa menaksir soal kewarasan Martha yang akhirnya menerima Android Ash karena filmnya berhenti tanpa menjelaskan soal perubahan psychological state mbaknya (walaupun sebenarnya di Bicentennial Man soal percintaan antara dua entitas berbeda ini sudah dipaparkan dan bagi saya ya indah indah saja mas Andrew dan mbak Amanda akhirnya bersama) namun ketika kematian di-tresspass dengan ‘semudah’ itu, kesedihan itu tidak akan benar benar pergi, di Be Right Back soal ‘kesedihan yang tidak benar benar pergi’ dituang dalam scene mbak Martha yang menerawang ke arah jendela meski sudah having a mind blowing sex with Android Ash.

Dan jika tujuan awal teknologi adalah mempermudah urusan kehidupan, sejauh mana ia akan turut andil untuk mempengaruhi manusia dalam berperasa?

 

Sampit, 14 Januari 2019

My favorite line from the film:

“How Deep Is Your Love Cheesy”

“Come on”

Liebster Award Nomination

Menemukan challenge berantai seperti ini seketika melemparkan saya ke 10 tahun silam, saat menulis blog adalah hobi semua orang dan tempat ini lebih ramai dari pasar malam. Sekarang tentu saja ia telah beralih platform menjadi Facebook, Instagram dan Twitter. Namun hingga saat ini blog masih menjadi favorit saya untuk menuangkan isi kepala. Dan karena ia sudah tidak seramai dulu, saya jauh lebih nyaman untuk berbicara tanpa keinginan untuk menggugah, menginspirasi lebih lebih mencitrakan diri di sini.

Mbak Maya menyertakan saya di antara 11 blogger lain untuk mengikuti Liebster Award Nomination ini (lebih lengkap ada dalam entry beliau yang ini) dan saya tertarik untuk ikut meramaikan karena itu tadi, atas nama nostalgia hahaha.

Berikut jawaban saya untuk 11 pertanyaan dari Mbak Maya:

Question for my fellow bloggers:

  1. your blog in 3 words, are? Media curhat, review buku dan jalan jalan
  2. your favorite author? Saat ini masih ditempati Haruki Murakami
  3. how many times did you re-read your writing? in a good day, 2-3 kali.
  4. when you write, do you lock yourself in a room? I don’t need to, I’m living alone
  5. your favorite books? Cantik Itu Luka, Sputnik Sweetheart, The Redeemer, One Hundred Years of Solitude (by far)
  6. what is your favorite stationary items? my lovely meal plan journal
  7. any other hobbies else than writing? Memasak dan menghitung kalori (by far)
  8. what kind of things that must be there or accompanying you when you write? my imaginary friend
  9. what is a writer’s block to you? rasa nyaman
  10. most anticipated guest to be at your house right now? basically anyone. Why? I’m still in this house warming euforia, baru pindahan~
  11. where would you want to be, the beach or the mountain? beach for sure. Di bawah sinar rembulan. Sambil berpegangan tangan :’)

Random 11 fact about me:

  1. I had this weird allergy toward perekat. Lakban, plester luka, koyo akan menimbulkan ruam dan gatal gatal yang berujung dengan bekas luka. I can’t recall when the last time I had kulit mulus tanpa bekas luka.
  2. I read comic books in a speed of light
  3. Lebih suka nonton teater/monolog/designated seating music show dibanding konser karena suka mendadak panik kalau berada di tengah orang banyak yang teriak teriak
  4. Meski sudah 10 tahun bekerja di bidang komunikasi (jurnalis, penyiar radio, penyiar TV, publicist dan sekarang humas – CSR) lidahku suka mendadak kelu kalau kenalan sama orang baru~
  5. Punya teman diskusi imajiner
  6. Sering dikira melucu padahal murni bodoh. Pernah mengira sapioseksual adalah sebutan untuk orang dengan fetish terhadap sapi.
  7. Pernah masuk UGD karena makan Momogi rasa keju 4 kotak isi 20
  8. Kalau latah nyebutnya ayam aku merasa seperti komedian program TV pagi hari yang tidak lucu 😦
  9. Agus Kuncoro adalah segalanya
  10. Hopeless romantic
  11. Lebih takut film sedih daripada film horor

Saya seharusnya mendampuk 11 blogger lain untuk menuliskan hal serupa di atas tapi saya ga bisa menemukan 11 laman blog milik kawan yang cukup dekat untuk meneruskan pesan ini. Jadi ya, biarlah berhenti di saya hehe.

***

Oh, kemarin saat menuliskan kaleidoskop 2018 di pertengahan bulan Desember, saya sama sekali tidak memiliki rencana akan ke mana pada saat tahun baru. Saya sudah menyusun janji mabar dengan rekan rekan sepermainan PUBG dan membeli banyak sekali cemilan sebagai kawan nonton Netflix untuk melewati tahun baru dan libur panjang di dalamnya.

Ndilalah, saya berangkat ke Bali pada 28 Desember dengan keputusan diambil tepat dua hari sebelumnya sebab apalah artinya usia muda jika impulsif tidak menjadi sifat utama. Menghabiskan seminggu dengan makanan enak, obrolan dan diskusi tidak berkesudahan. Untuk sekedar berpendapat dan mengungkapkan hal hal yang tidak pernah berani saya katakan di lingkaran sosial di Sampit atas nama decency dan memaklumi. Begitulah, tahun baru 2019 saya lewati dengan tipsy berkat 3 gelas wine dan riuhnya hitung mundur di antara kembang api pantai Canggu.

Sampit, 4 Januari 2019