Yang Bikin Bodoh Itu Kurang Baca, Bukan Micin

Yang paling mengganggu saat berselancar di dunia maya adalah masih saja menemukan orang orang yang melakukan hal ini:

Tapi ketika yang beginian muncul, saya biasanya hanya tertawa dan membatin “Goblooo” sambil lalu. Herannya, meski sudah setengah mati screening pertemanan tapi tetap saja hal hal begini melintas di timeline Facebook. Bagi saya, like dan amin begini harmless. Nyampah tentu saja, apalagi kalau ternyata entry yang diserbu adalah clickbait atau monetized post tapi ya udahlah, toh saya berada di area yang tegas terkait memperbolehkan adik menghabiskan siang malamnya untuk looting sen demi sen dari flooding adsense. Yang ‘terjebak’ ngasih duit ke empunya hajatan ya siapa suruh sampah begitu diklik.

Sama seperti entry entry “Ketik Amin”, terlepas dari perdebatan ustadz ustadz soal boleh-tidaknya, kata “Amin” dalam kehidupan nyata memang telah digunakan secara foya foya sehingga apa bedanya dengan mengetiknya di sosial media (kecuali annoying dan nyampah, tentu saja. Tapi merasa annoyed adalah masalah saya, bukan hutang siapa siapa) dan kembali lagi, kalau terjebak monetized post maka yang goblo sebenarnya siapaaa?

Yang membodohi lagi menyesatkan serta meresahkan hingga urgensi untuk menuliskannya di blog ini adalah kebiasaan meng-copy paste/share hoax. Dan ini berbahaya karena sejarah telah mencatat ratusan kejadian dan puluhan ribu kematian sia sia karena berawal dari kabar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Dulu ketika menjadi jurnalis, setiap pagi saya panas dingin membaca berita yang saya tulis. Saya senantiasa kuatir jika berita saya tidak benar dan tidak cukup cover both side. Di bulan bulan terakhir saya bahkan sengaja menghindar menulis berita berita bombastis yang berpotensi masuk halaman utama. Saya lebih banyak mencari ide untuk berita feature yang menyenangkan semua pihak (mungkin ini juga yang akhirnya menyadarkan bahwa saya tidak berbakat menjadi jurnalis hahaha)

Kekhawatiran itu menghantui saya hingga susah tidur padahal koran kami hanya dicetak tiga ribu eksemplar dengan probabilitas orang membaca berita saya di sudut bawah halaman tengah hitam putih pastilah sangat kecil. Beruntung hingga akhir masa kejurnalisan, saya tidak mendapat kendala berarti terkait hal ini.

Sekarang bayangkan seseorang dengan follower ratusan ribu hingga jutaan, setiap hari menulis kebencian dan menyebar tidak hanya fitnah namun juga hoax. Berita bohong. Iya saya berbicara soal Jonru. Sejak setahun terakhir saya mengenal nama ini dan sesekali memantau Facebook Pagenya yang luar biasa sampah itu. Awalnya saya biasa saja sebab alam memang membutuhkan orang orang seperti Jonru untuk menjaga keseimbangannya. Toh hanya satu orang saja, dan saya hanya perlu menutup aplikasi Facebook agar tidak lagi merasa terganggu.

Namun waktu berlalu dan makin banyak undangan group yang saat saya bergabung di dalamnya, kok Jonrunya makin banyak. Makin sering saya menemukan tulisan tulisan Jonru dan yang sejenis Jonru di sekitar saya. Kalau hoax masih bisa disikapi dengan kebijaksanaan berupa buka Google dan verifikasi beritanya, menghadapi ujaran kebencian membutuhkan kebijaksanaan mental yang lebih kompleks. Kita harus memiliki keterbukaan pikiran, toleransi yang tinggi dan kelapangan jiwa untuk bisa menelan kenyataan bahwa ada jutaan orang yang tiap tiap individu itu memiliki kemungkinan terhasut dan turut menjadi.

Kebencian yang tidak rasional terhadap Jokowi

Cina akan menginvasi Indonesia dan mengganti ideologi negara ini menjadi Komunisme

Anti vaksin (yang menariknya jika di luar negeri gerakan anti vaksin ini karena mereka curiga pemerintah melalui industri obat obatan ingin meracuni anak anak mereka atau karena tergabung dalam cult of being as nature as possible will heal your miserable soul, di Indonesia vaksin ditolak karena Amerika menyusupkan gelatin Babi ke dalam vaksin untuk mengkafirkan bayi bayi muslim. Yeah, it really happens.

Gempa terjadi karena makin banyak orang pro LGBT

Yahudi antek Amerika akan memusnahkan umat Islam

Konten konten bertema demikian biasanya dimulai dengan sederet panjang dikabarkan dari (insert a shady news biro) yang melakukan investigasi di (insert a stranded city of nowhere) dan mendapat informasi dari agen rahasia (what? MI6? Mossad? BIN? apa?) lalu disusul a poorly written (some sort of) news dan diakhiri dengan seruan agar umat Islam bersatu dan ujung ujungnya memboikot sesuatu.

Dan kita masih saja menuding micin sebagai sumber kebodohan.

Membaca adalah solusi untuk kebodohan yang sia sia ini. Baca buku buku yang bagus, berita berita dari saluran yang kredibel; tonton berita di televisi karena sekurangnya masih dikawal oleh KPI bukan dari channel Youtube yang sumber beritanya dari opini content creatornya. Bangun perspektifmu sendiri, uji dengan verifikasi dan buka pikiran (serta kelapangan hati) untuk menerima perubahan atas perspektif itu. Saya tidak pernah malu jika perspektif saya sekarang berbeda dengan beberapa tahun lalu sebab saya tau seberapa banyak buku yang saya baca, berapa banyak individu baru yang saya temui, kejadian yang terjadi selama rentang waktu itu.

Lagipula sudah 2018 masa masih meminjam opini orang?

 

 

Sumba and Other Revelations

Syahdan, kawan kawan saya ingin ke Sumba sementara saya terjebak dengan training asuransi di HO Jakarta. Sungguh sebuah ketidakadilan yang tidak bisa dibiarkan! Meski sebenarnya selain terbentur jadwal, saya tetap tidak bisa pergi karena cuti sudah minus dua sejak pulang dari KL kemarin. Tapi di mana ada kemauan di situ ada jalan, bukan? Setelah dua hari mengikuti training, sayapun bolos ke Bali untuk menunggu teman teman yang menyusul 2 hari kemudian. Huahahaha.

Yang saya lupa, saya cuma packing untuk keperluan training berupa 3 blouse dan 2 celana panjang. Tapi bukan sia sia saya menerima sematan McGyver saat sendal jepit putus dan saya berhasil menyambungnya dengan mediasi seutas bobby pin di tengah tengah Pulau Komodo setahun silam. Akhirnya celana jeans dipotong jadi shorts, blouse jadi flowy tank top dan (mau tidak mau) membeli 3 kaos dan 3 celana baru di Krisna, toko oleh oleh kesayangan kita semua karena sebiji celana harganya 20 ribu saja~

Kamis siang kami berangkat dari Denpasar menuju bandara Waikabubak di Tambolaka, Sumba Barat Daya. Kondisi kota Kabupaten ini seperti jalan lintas provinsi pada umumnya. Kesan yang muncul adalah gersang, berdebu dan gerah ketika melintasi jalan raya utama yang menghubungkan Tambolaka dengan beberapa spot wisata di Kecamatan itu. Kalau harus mengkomparasi dengan Kalteng, Tambolaka ini mirip seperti Cempaga dengan jalan aspal yang sedikit lebih banyak.

Seminggu setelah pulang saya baru ngeuh kalau kami datang di musim penghujan sehingga dapat disebut itu adalah periode terbaik dalam setahun di wilayah itu. Namun kesan gersang masih ada meski hujan nyaris setiap hari. Bayangkan bagaimana kondisi masyarakat di sana saat musim kering tiba mengingat Indonesia wilayah timur dikenal dengan curah hujan setahun yang sedikit.

Kami berlima mengambil private tour sehingga lebih fleksibel soal jadwal. Di Sumba Barat Daya kami baru mengetahui kalau hotel yang kami tempati sudah termasuk salah satu hotel paling top di sana. Yang mana bentukannya… lebih mirip seperti penginapan Melati di pinggir kota kalau di Sampit. Baru kali ini saya pergi ke luar kota dan merasa bangga dengan Sampit yang setidaknya punya satu hotel bintang 4 itu hahaha. Terlepas dari itu semua, Kabupaten Sumba Barat Daya adalah surga tersembunyi yang akhirnya terkuak (dan assesible) berkat film Marlina dan Susah Sinyal :))

Kita akan melalui sebuah Kecamatan bernama Kodi Bangedo jika ingin menuju Pantai Bawana. Sepanjang jalan memang telah beraspal, namun akan titik di mana kamu akan bergumam “Persetan dengan pembangunan jalan kalau warganya masih berak dengan menggali tanah begini” sebab apa artinya memiliki halaman belakang instagramable kalau setiap hari dihantui kelaparan? Yep, Kodi adalah kecamatan paling miskin di Kabupaten Sumba Barat Daya, bahkan seluruh Sumba.

DSC00202
Pantai Bawana, Kodi. Akan ada belasan orang yang menemanimu menuruni tebing yang licin dan curam untuk upah 20 ribu rupiah. Kesel kan?

Saat menulis ini saya sedang membaca baca berita terkait Kecamatan ini, yang ternyata jalan aspal baru dibangun tahun 2015. Anggaran yang tidak sedikit mengingat dari Tambolaka ke Pantai Bawana saja nyaris 3 jam perjalanan. Duit yang bisa dipakai untuk pengembangan UKM dan pengadaan air bersih, misalnya. Perjalanan ke Sumba menghasilkan mixed feeling yang lumayan kampret sih. Di satu sisi saya terpuaskan sekali dengan keindahan alamnya sementara sisi lain rasanya marah sekali terhadap turis seperti saya yang membuat Pemda lupa prioritas dalam mengelola daerah.

Tapi mungkin kelak Kecamatan Kodi dan Kabupaten Sumba Barat Daya akan berkembang seperti ‘kakaknya’ Labuan Bajo dan moga moga menjadi seperti Bali. Sebab jika kita tidak bisa hidup sejahtera dari tanah gersang dan terik matahari, setidaknya masih ada harapan dari sektor wisata.

Karena energi saya untuk ngomel sudah habis, selamat menghabiskan bandwidth untuk foto foto cakep berikut ini..

sdr
Pantai Bawana yang sepi, bersih dan luas. 20 menit lebih bengong dan nyaris nangis terbawa suasana. Untungnya saya pribadi yang tegar.
IMG_20180218_074914.jpg
Bukit Bulu Halus, duh namanya~
cof
Setiap hari disuguhkan ikan yang satu porsinya segede ini, gimana bentuk ikannya semasa hidup ya..
DSC00717
Senja keemasan di Dancing Tree Pantai Walakiri, Sumba Timur
DSC00257
Sekali lagi, ini bukan dari Google.
DSC00389
Desa Adat di Waingapu.
27581743_304096740116755_141005803552243712_n
Juklak turis
cof
Pantai Mandorak, Waingapu yang aduhai banyak airnya~

 

 

Sampit, 08 Maret 2018

Taun depan Wakatobi~

Resolusi 26

Delay posting 2 minggu karena sibuk bolak balik toilet gara gara muntaber bedebah~

Here I am, menjadi 26. Setelah dari awal Januari mencari cari soal apa saja yang saya inginkan dan tidak menemukan banyak hal. Bukan ingin sok having a content grateful life tentu saja tidak saya masih iri dengan yang bisa makan bakso tiap hari tapi badannya tetap kayak barbie. Tapi seiring dengan bertambahnya buku yang saya baca, tempat yang saya kunjungi dan diskusi tak habis habis soal jagad raya dan seisinya, saya mungkin kehabisan mimpi karena satu per satu telah terpenuhi. Agar perputaran hidup tetap sip, maka mari menemukan mimpi mimpi baru!

Review resolusi 25, waktu itu saya menulis:

  • Membaca 50 buku
    • Saya menamatkan 52 buku di usia ini, not bad.
  • Menyelesaikan renovasi rumah pribadi
    • Mengurus instalasi listrik dan air serta menambah dapur. Meski tidak ditempati tapi rumah tersebut sudah dikontrakkan jadi satu tanggungan hutang dicoret karena sudah bisa muter sendiri
  • Pergi ke luar negeri setidaknya satu kali
    • Seminggu di Jepang pada November 12 kyaaa~
  • Nonton AriReda lagi
    • AriReda rilis album Suara Dari Jauh pada 23 Maret di Gedung Kesenian Jakarta dan saya duduk manis di baris kedua dari depan 🙂
  • Makin jago renang dan yoga
    • AKHIRNYA BISA BERENANG! setelah sepanjang empat bulan akhir di 2016 latihan berenang seminggu 3 kali, Februari 2017 sudah berani nyebur di laut bebas tanpa pelampung, berenang bersama Pari Manta (dan kesetrum ubur ubur) di laut Labuan Bajo.
  • Tinggal di Bali
    • Belum, masih pitching sesekali 
  • Dan tentu saja, masih New York!

Tahun lalu saat menuliskan resolusi ini saya sedang merindukan Bali dengan teramat sangat. Sepanjang 2016 saya 3 kali ke Bali dalam rangka menuntaskan rindu itu yang berujung dengan keinginan untuk tinggal di sana. Setelah pulang dari Jepang juga sama, saya mengalami demam dadakan dan ingin tinggal di Jepang. Hingga akhirnya sadar bahwa no place is home until you settling your nest and call it home. Setelahnya semua demam demam dadakan itu reda, 25 tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk menyebut di sinilah rumah saya sekarang. No more denial baby~

Resolusi 26:

  1. Menjadikan meal prep sebagai gaya hidup
  2. Lebih ramah kepada lingkungan
  3. Pergi ke luar negeri setidaknya satu kali
  4. Membaca 50 buku
  5. Nonton konser bagus
  6. (Masih) New York

Finger crossed!

KL and The Number Two Emergency

26184586_517084545357161_6886268026572767232_n
Fleet Foxes on stage with their White Winter Hymnal. Jantungku copot mz~~

Saya menambahkan Kuala Lumpur dalam daftar bepergian ke luar negeri Januari 2018 dengan budget kurang dari 5 juta. Karena niat perginya untuk nonton Fleet Foxes di KL Life, jadilah menyusun itienary untuk muter muter sekitaran KLCC dan hanya 3 hari saja. Tiga hari habis 5 juta tuh mahal, bukan backpacker sama sekali. Namun berhubung beberapa kawan (dekat maupun tidak) bertanya soal bagaimana caranya bisa berlibur ke luar negeri dengan sumber pendapatan gaji bulanan sebagai rang kantoran, saya ingin membagi breakdown anggaran untuk tetap nyaman di KL dengan budget 5 jutaan.

Tiket dan Hotel

Beruntunglah mereka yang tinggal di Jakarta sebab CQK – KUL cuma 400 ribuan dengan Air Asia (no baggage no meal), sementara untuk Sampit – Jakarta – Sampit saya harus membayar  1,9. Untungnya ada 1.100 point Traveloka senilai 1,1 juta. Praktis untuk tiket saya hanya membayar total 1,2. Sementara untuk hotel, di area KLCC ini harga hotel muahal muahal karena tergolong pusat kota tempat menara kembar, KL Tower dan Bukit Bintang berada. Mengakalinya adalah dengan hotel kapsul, saya menginap di The Bed untuk 3 malam dan hanya membayar 400 ribuan dari harga original 800ribu karena lagi lagi point Traveloka.

 

The Bed KLCC

 

ini pengalaman pertama saya mencoba shared room begini, awalnya mikir akan risih dan ga nyaman mengingat di satu ruangan besar ada 16 blok dan waktu itu saya berbagi ruangan dengan 6-7 tamu lain. Ternyata ga berisik sama sekali, common bathroomnya luas dan ada banyak shower room.

 

Bersih dan Lengkap. Ada Hairdryer

 

Mengingat ukuran ‘kamar’ yang hanya segitu, mungkin akan ribet kalau membawa koper besar dan saat proses bongkar bongkar nyari barang. Tapi tetap dapat loker dan lemari penyimpanan kok. Saya hanya membawa koper kabin dan muat pas di celah kecil di kaki kasur, dan be organized maka segalanya bakal gampang. Travel bag organizer yang keliatannya sepele ini ternyata berguna banget. Taruh pakaian ganti dan sikat gigi and you’re good to go. 

Saya banyak tertolong soal tiket dan akomodasi dengan deduksi point Traveloka, kalau mau dapat banyak point harus sering sering beli tiket/booking hotel. Rajinlah menawarkan diri kalau ada yang mau beli tiket, ribet juga engga. Rumusnya per 250 rupiah booking hotel dan per 10.000 beli tiket pesawat dapat 1 point senilai 100 rupiah. Di kantor saya bisa beliin tiket pesawat dan hotel bos hingga 15 juta lebih, dapet poin senilai 150.000, lumayan kan.

Hiburan dan Transportasi

Pengeluaran cukup besar yang sering saya missed adalah transportasi. Kemarin pas ke Jepang ga berasa karena dicover paket tur dan di Singapura dicover travelmate. Kalau liburan masih di dalam negeri tinggal instal GoJek. Ternyata rate transportasi privat di KL ga terlalu bikin keki tapi perbedaannya signifikan antara pakai Uber dan taksi umum, selisihnya bisa sampai 15-20 RMPaling mahal mungkin ke Bandara, jarak KLCC ke KLIA2 bisa sampai 79RM pakai Uber (250 ribuan sebenarnya sama aja kaya ke Soetta dari Jakarta Pusat hahaha) tapi ada KLIA Express yang sekali jalannya 35RM (120 ribu) berhenti di KL Sentral dan 15 RM taksi ke area Vortex jadi yha sama sama ajaa hahaha.

Masa ke KL ga foto foto di Petronas? Dari area Vortex tempat saya menginap ke Petronas cuma 300 meter, jalan kaki nyampe. Lalu mikir seberdekatseberdekatannya lokasi wisata, tetap aja gempor kalau jalan kaki dan bakal mahal kalau naik Uber. Browing browsing ternyata ada fasilitas city tour murah, dari Petronas saya naik Hop On Hop Off city tour dengan tiket tembusan 24 jam 55RM (187 ribu) dengan total 23 perhentian di tempat wisata! Jadi sistemnya: beli tiket di bus stop manapun, naik terus turun aja di tempat wisata yang diinginkan. Setelah puas keliling/belanja/makan/foto foto, tinggal ke bus stop dan tunggu bisnya lewat per 20 menit. Seru kan, saya dapet 5 spot dari total 23 dengan durasi 2-3 jam di tiap tempat wisata.

WhatsApp Image 2018-01-24 at 11.16.32Kalau ke KL Tower siapkan sekitar 300 ribu untuk nembus sampai Sky Deck dan Sky Box, worth it kok. Selama efektif 24 jam di Hop On Hop Off saya sempat ke Petronas, KL Tower, Bukit Bintang, China Town dan tentu saja, nonton Fleet Foxes!

26071306_2016191691952402_1526895778927214592_n

Setelah merilis album ketiga di tahun 2017,  Skye Skjelset dkk makin.. aneh :)) aseli dari sebelas lagu di album Crack-Up yang bisa saya pahami maksudnya mungkin hanya tiga, sisanya percampuran lirik dan musik psikedelik yang kelewat tinggi. Namun dua album sebelumnya (self titled dan Helplessness Blues) adalah favorit saya. Malam itu mereka membawakan lebih dari 20 lagu dan KL Life literally rattled saat sing a long Mykonos bersama. Senang!

Salah satu sponsornya adalah Levi’s yang bagi bagi tote bag dan denim pouch gratisan lengkap dengan dua patch yang bebas dipilih. Mevvah!

Makanan

Ada tiga ras yang menjadi komposisi Malaysia secara keseluruhan. Melayu, India dan China. Ketiganya berakar sejak lama hingga terlihat pada perpaduan budaya dan makanan. Seorang kawan berkata bahwa makanan India terbaik bisa ditemukan di Malaysia setelah di India itu sendiri saking berakarnya ras ini di sana. Ada Little India dan China Town yang cukup merepresentasikan itu semua.

Nah masalahnya, I don’t like any of that food.

Don’t get me wrong, saya suka makanan berlemak bersantan dan heboh tapi hanya untuk waktu waktu tertentu. Lebaran misalnya. Sekarang coba eda bayangkan berada di negara yang sarapan Nasi Lemak makan siang Briyani makan malam Laksa adalah hal wajar. Gimana ga diare.

Yep, hari ketiga di KL saya terserang muntaber. Awalnya mengira masuk angin biasa karena telat makan, tapi kok sampai muntah muntah dan akrab sama toilet begini. Nelpon dokter kantor dan diagnosisnya either keracunan makanan atau muntaber. Niat untuk makan dan jajan enak di bandara KLIA2 yang konon salah satu bandara terkeren di Asia itupun sirna. Buru buru check in, menuju gate departure dan mencari toilet adalah prioritas utama.

Kecurigaan utama saya ada banyak, selain dari pencarian nasi yang dimasak apa adanya tanpa tambahan broth or coconut milk yang susah minta ampun (di satu resto pilihan nasi either Briyani, Pulau Rice atau Saffron) tapi China Town dan food stall di KLCC menjadi kandidat utama karena agak tidak higienis. Tapi kalau perutnya kuat dan doyan makanan bersantan khas Melayu, KL adalah sorga.

Nilai tukar RM yang ga terlalu menyakitkan (waktu itu 1RM=3.400 rupiah, dibanding Singapore yang nembus 10 ribu atau Jepang yang 1Yennya 112 rupiah sementara untuk semangkuk ramen pinggir jalan bisa 1.200 Yen atau 134 ribu sih bikin bahagia) membuat harga makanan maupun barang di KL tergolong bersahabat. Sebagai komparasi saya jajan di Uniqlo Suria KLCC Mall 89RM dapet 2 potong baju dan 1 celana non diskon yang mana hal tersebut adalah mustahil di Indonesia. Sementara untuk makanan dengan 7RM 5 sen (25 ribu) bisa dapat nasi hainan lauk iga bakar plus sup kuah daging di senia hawker (semacam warung tenda) di China Town. Tapi kalau di resto seperti Old Town yang terkenal itu seporsi nasi lemak lauk kari ayam bisa nembus 35RM jadi be wise yaaa (paling ngilu sih pas kelaperan sehabis konser lalu mampir di resto India yang rada high-end, ga ngerti menu akhirnya pesan chef’s recomendation dan for a not so satisfying dinner I have to pay 165RM hiks maratus rebu di Indonesia bisa buat makan sushi sampe teler)

Oleh Oleh

Nhaa, kalau ada niatan untuk merapel oleh oleh, inilah saatnya. Apalagi kalau dapat jatah bagasi 20KG, MANFAATKAN! di Bukit Bintang ada satu mall kecil namanya Sungei Wang. Di situ banyak toko yang menjual cokelat dan barang barang klise (kaos, keychain) dan murah. Setidaknya jika dibandingkan dengan kalau beli di Bandara hehe. Dengan budget 300RM saya bisa beli sekoper penuh oleh oleh dan masih ada sisa buat nyobain shiatsu di Fahrenheit88. Beli oleh oleh murah dan banyak (dan kalau bisa sifatnya netral) di satu negara biar kalau pergi ke negara lain ga harus beli oleh oleh. Tinggal bilang “Cuma sempat beli ini di bandara” mehehe.

Kira kira 4 hal di atas yang harus disiapkan pos budgetnya. Karena 40 persen dari masa liburan saya di KL isinya muntaber jadi saya ga terlalu boros di pos makanan. See, there will always be a silver lining on every pain wkwkwk.

Sampit, 24 Januari 2018

A Sad Sad World of Murakami

cropped
Penyebab Nani jadi sering makan Indomie

Perkenalan pertama pada buku Haruki Murakami adalah saat saya menemukan Norwegian Wood di tumpukan best seller Periplus dalam perjalanan ke Malang, 2015 silam. Sebelumnya, saya cuma tau soal penulis Jepang yang merajai laman utama Goodreads ini melalui seorang kawan yang menyebut namanya saat saya tanya tengah membaca apa. Lantaran judulnya seperti judul lagu The Beatles, sayapun membeli dan menghabiskannya saat liburan di Malang usai.

Saya ingat perasaan mencelos seusai membacanya lantaran dengan kejam Murakami menjabarkan secara detail soal perasaan kesepian. Bagaimana dengan santainya ia menulis soal it just another morning I woke up with an empty feeling seolah kemuraman itu sebuah kewajaran dalam keseharian orang orang Jepang. Saya lalu bertemu Kafka on the Shore, melanjutkan dengan Colorless Tsukuru Tazaki and His Pilgrimage Years, Strange Library dan What I Talk About When I Talk About Running (judulnya kek kumcer Raymond Carver aww) dalam kurun sebulan kemudian.

Akhirnya di bulan April saya dengan semena mena mengklik order SEMUA buku Murakami yang Periplus Online jual tanpa terkecuali. Saya memberdayakan gerakan Mari Makan Indomie demi Beli Buku Yang disukai selama nyaris sebulan dan mempertanyakan kenapa ga belinya pas THR udah keluar hahaha. Dua bulan kemudian datanglah 17 judul buku buku Murakami langsung dari Penguin Press.

Menginjak bulan kedelapan perkenalan dengan penulis yang kalau jogging gemar bertelanjang dada dan koloran doang ini, saya baru membaca tujuh dan menyisakan sepuluh lainnya untuk dibaca hingga akhir tahun. Hasilnya: stress :))))

Tiap menginjak halaman halaman menjelang ending, saya menyiapkan diri untuk menghadapi akhir yang kentang. Murakami tidak pernah menyediakan ending yang membuat kita menghela nafas lega karena tau tokoh utama akan baik baik saja. Ada kekhawatiran yang subtil soal “Duh mati bunuh diri nih abis ini nih” terhadap unnamed character di Dance Dance Dance, Toru Okada dan Tsukuru Tazaki sampai Kafka Tamura yang baru berumur 15 tahun. Semua tokoh utama laki laki ini digambarkan telah menemukan dan menyelesaikan apa yang mereka cari atau hadapi tapi ya tetap saja saya kuatir soal jangan jangan ending ini adalah cara Murakami mengisyaratkan bahwa mereka akan bunuh diri. 

Kesuraman ini saya dapatkan paling kuat di Kafka on the Shore. Bocah 15 tahun yang harus kabur dari rumah, terlibat kasus pembunuhan, meniduri ibu dan kakak perempuannya berdasarkan ramalan bapaknya. Segalanya serba gelap dan mencekam hingga saya meragukan kewarasan pak Murakami saat menulis cerita cerita ini.

Vivid detail of gruesome events! astaga! baru membaca tujuh buku saja saya sudah beberapa kali bermimpi soal kucing yang dibelah hidup hidup di Kafka on the Shore, lelaki yang dikuliti hidup hidup dan inevitable pain of Creta Kano di buku The Wind-Up Bird Chronicle. Dan Murakami yang dengan santainya menjabarkan perkara perkara telak soal kesepian, kesendirian, rutin yang membosankan seolah itu adalah hal normal yang membuat saya sedikit banyak kagum dan mengubah perspektif saya yang selama ini menganggap hal itu besar dan seluruh dunia kudu mengerti 😀

Yang membuat Murakami menonjol adalah bagaimana kritikus sastra menyampirkan nama Kafka dalam buku bukunya. Mungkin seperti Eka Kurniawan yang disejajarkan dengan Umberto Eco bahkan Salman Rushdie. Penempatan nama nama besar yang membuat orang bertanya tanya sehebat apa sih buku yang mereka tulis. Pujian adalah kutukan, kata Wiji Thukul. Meski kedua nama di atas (Murakami dan Eka Kurniawan) adalah penulis yang sangat saya gemari dan tidak dipungkiri kehebatannya dalam menulis, saya masih memiliki trah tersendiri antara Midnight’s Child dan One Hundred Years of Solitude dan Kafka on the Shore serta Cantik itu Luka.

Surealisme di buku buku Murakami memang menakjubkan. Bagaimana ia terpikir soal portal batu yang menghubungkan dua perfektur berbeda di Jepang. Bagaimana ia memasukkan unsur telekinesis sekaligus dual-persona bahkan beberapa layer kesadaran dalam satu tokoh dan bangsatnya itu terasa masuk akal di The Wind-Up Bird Chronicle.  Hahaha. Yang menjadi ciri adalah adanya realm atau dimensi lain dari layer kesadaran yang sekarang ini. Dan semuanya dijelaskan dengan tutur yang santai (di beberapa bagian bahkan saya merasa deuh ini part kok panjang amat yaaaa namun Murakami selalu berhasil menarik pembaca dengan tempo lamban tapi charming ini) sehingga segala keabsurdan dan surealisme yang disajikan tidak menggebu gebu dan serba mengagetkan.

Dalam Dance Dance Dance yang merupakan sequel dari Wild Sheep Chase, dibuat semacam alter ego si tokoh utama tanpa nama berupa Sheep Man dan ini merupakan buku ketiga dari trilogy Pinball – Wild Sheep Chase – Dance Dance Dance. Ada total seribu limaratus lebih halaman untuk dunia magis penuh kambing dari Murakami dan sialnya saya baca sampai tuntas :)))

Saat ini saya tengah menekuni Leila S Chudori – Sembilan dari Nadira sebagai istirahat singkat dari marathon Murakami sebulan belakangan. Cape mental tapi adiktif. Dan setelah proklamasi soal “Ah apaan sih Murakami, suram begitu bukunya” dalam diskusi bersama seorang penggemar buku di bulan Januari silam, saya kudu merevisi ucapan tersebut sebab sembilan belas buku Murakami telah terpesan.

Saya jatuh cinta, seperti orang orang di luar sana, pada Murakami dan kesuraman yang ditawarkannya.

And it feels almost like a magic.

2017, Wrapped

Ini adalah tahun kedelapan saya tuliskan resolusi tahun baru sekaligus ulang tahun dalam label Resolusi {insert current age}. Tahun ini adalah giliran Resolusi 26 meski rasanya baru kemarin saya menuliskan Resolusi 18 dan saat itu saya menulis begini:

Saya hanya akan bekerja jika pekerjaan itu mampu bersinergi dengan ideologi saya (saya tau ini terdengar sangat sangat super sombong)
Well, saya rasa ini salah satu dari resolusi ulang tahun yang mampu saya penuhi. Ideologi saya sebenarnya tidak muluk, saya hanya ingin pekerjaan yang tidak terpaku hanya pada satu space. Tidak hanya diam, menunggu tanggal gajian lalu berulang sampai tahun berlalu tanpa terasa lantas saya jadi tua dan kalang kabut nyari jodoh 😀
Sekarang saya menjejak tahun ke empat menjadi corporate slave yang terpaku pada satu space, diam dan menunggu tanggal gajian. Jika hal ini saya tulis setahun silam, entry blog ini akan berisi penyesalan dan rasa bersalah terhadap Nani Delapan Tahun Lalu. Betapa saya sudah membunuh mimpi mimpinya dan seterusnya.
Selama tiga tahun menjadi ‘mimpi buruk’ bagi idealisme remaja 17 tahun itu, saya telah menjejakkan kaki ke belasan kota dan tiga negara. Langkah terjauh yang melebihi dari apa yang saya bisa lakukan dalam lima tahun sebelumnya. Tidak hanya soal mampu bepergian, tapi apa yang saya dapat dari perjalanan itu. Saya mengetahui hal hal baru dan melihat langsung, mengalami peristiwa yang selama ini hanya saya baca dan lihat di buku buku dan internet. Setiap diskusi dengan orang orang baru menjadi nutrisi bagi pikiran saya dan membuka perspektif seluas luasnya. Menggenapi istilah open-minded se-kaffah kaffahnya.
2017 adalah satu lagi tahun yang menyenangkan. Saya kembali bisa bepergian dan bersenang senang. Menambah Lombok, Gili Trawangan, Semarang, Bali (ke 8 kalinya), Malang – Batu (ke 2 kalinya), Jakarta (ke entah sekian belas kalinya), Jogjakarta (ke 2 kalinya), Labuan Bajo, Bali (ke 9 kalinya), Bali (lagi) (ke 10 kalinya), Jakarta memboyong Bapak Anwar sekeluarga, dan Jogjakarta (ke 3 kalinya) untuk list perjalanan dalam negeri dan Jepang untuk daftar bepergian luar negeri. Bagaimana caranya bisa liburan hingga 13 kali dalam setahun sementara jatah cuti hanya 14 hari? Berterimakasihlah pada kalender Indonesia yang banyak tanggal merah kejepitnya.
Istilah travelling adalah candu akhirnya saya rasakan benar adanya. Setelah tiga tahun terakhir menghabiskan setidaknya 10 kali jalan jalan dalam setahun (walaupun sekedar short trip untuk nonton premiere film/konser/teater atau cuma makan makan enak), sebulan saja tidak ke mana mana rasanya seperti ada yang kurang. Apalagi akhir tahun kemarin saat bersikeras untuk tidak ke mana mana karena selain cuti habis :))) juga karena Bapak Anwar ingin ngumpul pas tahun baru.
Major spotlight pada tahun 2017 kemarin memang (masih) soal bepergian. Di sela selanya saya menamatkan membaca 52 judul buku, pindahan dari kos menjadi rumah kontrakan, menekuni hobi bersepeda dan memulai meal prep. Seperti semua manusia lain di muka bumi, saya menginginkan progresi, perubahan, kemajuan. Menulis resolusi adalah salah satu cara untuk mengabadikan hal tersebut. Delapan tahun berselang sejak penulisan Resolusi 18 dan sebuah dusta rasanya jika saya tidak merasa lega dengan apa yang terjadi tahun demi tahun. Yang paling melegakan mungkin pada tahun 2015  saat saya mencoret nyaris semua bucket list yang saya buat empat tahun sebelumnya, hanya tersisa satu bucket list yang belum kesampaian; pergi ke New York.
Di tahun itu juga, saya menulis ulang bucket list saya. Hal hal yang ingin dilakukan sebelum mati dan lantaran hingga saat ini saya belum mati, maka review terhadap hal tersebut terasa penting untuk dilakukan:
Bucket list revised, 7 Desember 2015
1. New York
Munculnya keinginan untuk pergi ke New York saya rasa sama dengan anak anak yang remaja di tahun 2000an lainnya. Saya memulainya dengan serial How I Met Your Mother dan film film chick flick. Betapa indah New York di mata saya saat itu. Saya masih melihatnya dengan keindahan yang sama hingga sekarang. Saat ini, ke New York sebenarnya mudah dan (relatively) murah jika dilakoni melalui paket tour. Tapi bertahun tahun saya menyimpan kota itu dalam angan bukan untuk disederhanakan melalui 6 hari perjalanan ke tempat tempat wisata dengan kunjungan terburu buru. Saya ingin (kalau tidak kesampaian untuk tinggal) menetap setidaknya selama sebulan lalu menyesap pelan pelan kota yang sudah memesona saya sejak remaja itu. Untuk mewujudkan hal ini sama sekali tidak mudah apalagi murah :)))

2. Berat badan ideal

Yhaa.. masih belum yhaa.. tapi on a serious note, I’m no longer give a fuck about it. Selama ini gendut adalah label yang tidak saya terima untuk menjadi bagian dari diri saya. Seolah sebutan gendut adalah sebuah penghinaan yang harus mati matian dilawan. Padahal sebenarnya orang orang menyebut saya gendut tidak mutlak karena menghina, mungkin hanya ngatain :)) semenjak semakin aware bahwa semesta tidak berputar dengan saya sebagai porosnya, kekhawatiran kekhawatiran irasional terhadap pandangan orang terhadap bentuk tubuh saya perlahan hilang. People wasn’t care that much on others because we are all designed to be a self-centered person. 

3. Jatuh cinta karena perasaan ini menyenangkan mehehehe

“Mehehehe”nya bikin point ini meaningless sebenarnya. Dua tahun lewat dari 2015 dan saya masih belum merasakan apa apa kepada siapa siapa. Kalau diandaikan sebagai kurva memang ada beberapa lonjakan perasaan yang disponsori trio hormon tapi tidak satupun bertahan lebih dari seminggu. Mungkin it is the way it is, bahwa tidak semua manusia “cocok” dengan kotak bernama percintaan.

4. Perjalanan ke luar negeri

Saya melontarkan hal ini dalam kondisi belum pernah ke luar negeri sama sekali. Passport aja ga punya dan pergi ke luar negeri terasa rumit sekali dalam kepala. Akhirnya setelah batal ke Vietnam, enam bulan kemudian saya mencoret bucket list ini dengan menjadikan Singapore sebagai negara asing pertama yang dikunjungi. Tahun selanjutnya menambahkan Jepang dalam daftar tersebut. Malaysia di tahun ini dan semoga, semoga saja, New York di winter 2019.

5. Kuliah dan menjadi sarjana

Sebenarnya perkara sarjana sarjanaan ini agak mengganggu hanya pada saat mencari pekerjaan tanpa koneksi ‘orang dalam’. Jika tanpa dibantu rekomendasi orang di dalam perusahaan yang perekrutannya secara spesifik mencari jurusan tertentu maka mustahil saya bisa masuk sebagai asst. comm. di kantor yang dulu mensyarat minimalkan S1 Komunikasi/Pendidikan Bahasa Inggris ini. Bukan bermaksud untuk menihilkan nilai kuliah dan menjadi sarjana tapi mungkin seperti perkara percintaan, kotak itu hanya tidak “cocok” dengan saya.

6. Melihat abah naik haji umroh

Daftar tunggu calon jamaah haji Kotawaringin Timur tembus 18 tahun untuk yang sudah membayar DP. Kemarin sempat ngobrol dengan Abah, umroh aja gapapa katanya :)))

7. Pekerjaan yang nyaman

Saya ga tau apa itu nyaman karena saya belum mencoba semua pekerjaan. Namun setelah 9 tahun bekerja di berbagai tempat, saya harus mengakui ini adalah pekerjaan paling nyaman dari semua pekerjaan yang pernah saya lakoni.

8. Memenuhi impian impian tersier di masa kecil

Mimpi tersier saya akan terdengar sederhana jika dibaca di usia dan perspektif sekarang. Namun jika dilihat dari mata anak kecil yang begitu miskin hingga untuk makan malam ia harus berbagi sebungkus indomie dengan kakaknya, keinginan ini megah adanya. Mimpi saya ingin punya uang untuk membeli apapun yang saya inginkan. Meski uang saya sekarang tidak cukup untuk membeli Apache Helicopter, tapi sejauh ini saya merasa aman dari segi finansial.

9. Membuat siapapun yang bersinggungan dengan saya merasa bahagia

Ini kerjaan SJW sebenarnya hahaha. Saya tidak pernah iseng nanya apakah mereka bahagia tapi sejauh ini hubungan dengan keluarga, teman dan Bambang baik baik saja.

10. Be a positive Nani and makes the struggling 2012 Nani proud!

I am positive and proud!

Saya masih memiliki tahun tahun di depan untuk mencoret bucket list yang tersisa. Tidak banyak memang tapi ya ga mudah juga. Secara keseluruhan 2017 adalah tahun yang menyenangkan ^^

 

Sampit, 04 Januari 2018

Bulan Pertama Meal Prep dan Apa Yang Terjadi di Antaranya

Genap sebulan mencoba pola makan meal prep. Beberapa perubahan terjadi salah satunya soal tidak lagi telat makan gara gara males pesan atau beli makanan. Tapi yang paling signifikan adalah soal berapa banyak uang yang bisa dihemat selama sebulan meal prep.

Saya kebetulan track down kegiatan ini di Instagram, gambaran berapa yang dihabiskan untuk meal prep seperti ini:

Minggu 1

Rolled oats + susu kedelai 5 porsi
Sup sapi jamur kancing with steamed veggies 5 porsi
Baked chicken breast with oglio olio fettuccine 5 porsi
Total belanja 187 ribu

Minggu 2

Chicken burrito with roasted sweet potato & sautéed garlic broccoli 5 porsi
Semur daging dan fettuccine oglio olio 5 porsi
Telor dadar saos pedas dan nasi merah 5 porsi
Total belanja 71 ribu

Minggu 3

Roasted (tulang2) Salmon plus nasi 4 porsi
Empal gepuk plus kentang 4 porsi
Capsim bawang putih 4 porsi
Total belanja 85 ribu

Minggu 4

Pulled beef burrito + tamagoyaki + sayur 4 porsi
Ayam kalasan + nasi putih 4 porsi
Cajun shrimp 2 ways + baked sweet potatoes 4 porsi
Total belanja 104 ribu

Berarti total sebulan 447 ribu dengan total porsi 54 porsi. Kalau dipukul rata berarti satu kali makan biayanya Rp. 8.200! Kemarin dalam posting sebelumnya saya gambarkan kalau satu kali makan biayanya minimal 15 ribu, porsi nasi campur dengan lauk seadanya belum lagi kalau pesannya pake gojek. Saya sulit mencari pembanding untuk harga 8 ribu bisa makan apa di luar sana kecuali Indomie di warung burjo.

Sementara dengan meal prep, delapan ribu saya bisa makan Salmon, daging sapi, ayam kampung sampai telur omega. Sayurannya juga ”mewah” mulai dari brokoli, wortel Thailand, ubi Cilembu (di Sampit ubi Cilembu mahal neyk), paprika sampai kentang impor. Kenapa bisa semurah itu? Pertama saya beli bahan makanan sekaligus untuk seminggu ke depan dan betul betul diperkirakan perlunya seberapa. Paprika misalnya, sekilonya 89 ribu tapi saya cuma perlu untuk filling burrito 4 porsi jadi belinya cuma 1 buah (10 ribu), brokoli juga begitu. Untuk protein saya biasanya beli daging 1 kilo (120 ribu) lalu direbus dan dibagi untuk 10 porsi (satu porsi 100 gram), bisa untuk 2 minggu meal prep, kemarin malah beli sekilo di awal bulan baru habis sekarang. Protein kalau disimpan di freezer bisa tahan berbulan bulan.

Saya sering ditanya “Memangnya enak ya makanan yang udah berhari hari di kulkas?” saya juga sebelum mulai mikirnya begitu kok. Ternyata engga, mungkin karena disimpannya per porsi jadi ga dibuka – tutup dan antara masakan kering dan basah dipisah. Yang kurang awet sejauh pengalaman saya adalah rolled oat. Saya bikin sekaligus untuk 5 hari dengan mencampur rolled oat dan susu kedelai, hari keempat rasanya mulai asam. Tapi anggap aja yoghurt tep aja saya abisin wkwk, jadinya sekarang kalau mau sarapan oat bikinnya malam sebelumnya atau nyetok hanya 2 porsi. Sisanya aman, sayur sampai sup setelah dipanaskan rasanya sama seperti baru dimasak.

Pertanyaan lainnya apakah tidak bosan. Meskipun saya membuat 3 porsi dalam sehari, namun jika dimakan setiap hari rasanya bosan juga. Ini saya akui, minggu pertama saya sempat jenuh di hari keempat, ditambah saya yang ngotot masak makanan sehat. Perut yang sebelumnya diisi makanan enak (high carbo, high sugar, high salt) dipaksa adjust untuk makanan yang tidak hanya monoton tapi juga hambar. Mana skill masak masih terbatas banget :)) di minggu kedua saya perbaiki, mulai makan daging dan ayam yang dimasak dengan enak (pake bumbu instant Munir/Pazaar dari Malaysia yang sebungkusnya aja 25 ribu meh. Untung bisa dibagi tiga) terus dengan tidak terpatok dengan menu yang sudah disiapkan. Biasanya makan siang dan makan malam saya tukar bergantian. Dan untuk makan malam kalau lagi rajin saya modif lagi (misal sup daging saya ambil dagingnya, dibalur tepung jadi katsudon) minggu ketiga saya cuma masak untuk 4 hari dengan tujuan 3 harinya bisa makan siang/makan malam di luar. Yang ada malah ga makan gara gara males dan udah terlanjur mikir sayang duitnya hahaha. Minggu keempat saya masukkan satu menu yang familiar (lalapan ayam goreng Kalasan plus nasi putih) soalnya kangen makan nasi putih :)))

Gila ya, kebayang ga riwehnya ibumu memasak setiap hari dan memikirkan menu yang berbeda beda biar kamu ga bosen. Tapi kamunya malah bilang bosan, ga enak dan makan di luar.

Pertanyaan lainnya yang juga menarik adalah “Memang beneran bisa sehemat itu ya, Nan?” saya berhemat dengan meal prep ini tujuannya sederhana sekali : pengen bisa jalan jalan tanpa mengorbankan dana untuk 2 rumah yang masih harus saya kredit selama 9 tahun ke depan. Tidak hanya untuk membayar cicilan tapi juga bikin pagar bangun halaman belakang ini dan itu yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Lagian ngapain ya kredit rumah sampai dua biji :))) sebagai impact dari bulan pertama full meal prep, tidak ngopi di cafe dan hanya jajan satu tiket bioskop di akhir pekan saya bisa nonton Fleet Foxes di Malaysia tanggal 16 Januari ini dengan sisa gaji tanpa mengusik bonus tahunan. Kok bisa? 

Ya kalo gajinya gede mah bisa bisa aja *ditimpuk massa*

Tapi cara melihatnya bukan dari apa yang bisa dibeli/dilakukan dengan sisa uang setelah meal prep soalnya kalau duit lu meteran mah sebulan abis 4 juta buat makan ya sisanya tetap aja banyak. Saya melihatnya dari seberapa persen turun dari biaya makan normal (full makan di luar) berbanding meal prep. Seperti yang saya rincikan di posting sebelumnya, saya menghabiskan minimal 2,5 juta sebulan untuk makan. Minimal. Di hari hari yang indah seperti sehabis kenaikan gaji atau bonus tahunan pernah nembus 4 juta. Dari mana saya tau? saya cukup neat menulis flow keuangan (tapi tidak cukup rajin untuk memikirkan mana yang bisa dihemat dan tidak wkwk). Dari 2,5 juta menjadi 447 ribu adalah pencapaian tersendiri. Kalau kamu fikir 2,5 juta sebulan untuk makan terdengar berlebihan, itu hanya 83 ribu sehari. Dibagi 3 berarti 27 ribu. Itu hanya untuk makan lho, belum ngemil, ngopi dan jajan lainnya. Kalau dengan meal prep bisa menghemat 2-3 juta sebulan, there’s no other reason for me to not to bosque~

Dengan asumsi bisa menyisihkan minimal 2 juta saja sebulan, dalam setahun sudah bisa menyimpan 24 juta hanya dari mengubah pola makan. Tujuannya memang muluk, pengen hemat sekaligus kurus sekaligus sehat sekaligus ke New York hahaha. Sebulan terakhir dengan meal prep memang turun sekilo hanya dengan melakukan portioning dan mengira ngira kalori intake per meal tanpa olahraga yang berarti. Modal awal untuk yang pengen memulai meal prep mungkin selain niat adalah kotak bekal yang durable untuk microwave dan bumbu kering (bawang putih, bawang bombai, cajun spice, italian herb, black pepper, paprika bubuk, bubuk kari dst sebab walaupun ga bisa masak, kalau semuanya dicampur makanan jadi terasa ‘profesional’ hahaha)

2017 telah habis, Desember kemarin memang saya jadikan bulan percobaan sebelum ‘serius’ meal prep di Januari. Karena percobaan, saya masih makan suka suka kalau keluar di akhir pekan. Rencananya 2018 selain meal prep, saya juga mau mulai menjalani frugal living. Selain hemat juga enviroment friendly soalnya. Banyak sekali yang ingin dilakukan, semoga konsisten dan menjadi kebiasaan 🙂

 

Sampit, 02 Januari 2018