The Subtle Art of Not Giving A Fuck

Mark Manson adalah orang favorit terbaru saya. Dalam skenario tea party imajiner yang saya gelar pada sore sore yang senggang beliau saya tempatkan tepat di samping Neil DeGrasse Tyson, bersisian dengan Christoper Nolan dan Murakami. Dalam skenario tersebut kami ngobrol soal alam semesta sambil minum teh dan ngemil profiteroles. Tidak, ini tidak berakhir dengan orgy what the fuck is wrong with you.

Di sela kesibukan push rank di PUBG (sudah Crown II yay), marathon How To Get Away With Murder di Netflix dan baru baru ini setengah mati bimbang haruskah menekuni Fortnite di Nintendo Switch karena faklah saya tertarik tapi gengsi hahaha, saya menemukan buku Pak Manson tengah diskon 20 persen di Periplus Juanda Surabaya. Dalam perjalanan pulang buku ini nyaris habis dan resmi tamat dua hari kemudian.

Isinya jauh dari buku buku self-help seperti yang sering saya temukan di akun Instagram Junita Liesar. Juga jauh dari tema motivasional seperti yang sering diposting orang orang sehat di media sosial. Secara sederhana The Subtle Art of Not Giving a Fuck (yang untuk kepentingan jemari akan disingkat sebagai TSANGF) ini bertutur soal: life sucks, yaudah jalani aja.

WhatsApp Image 2018-10-01 at 08.29.13

Tidak saya temukan soal “There will be a silver lining on every pain” atau “Embrace your hard time because it lead to something beautiful” atau “Jangan khawatir miskin kalau nikah dan punya anak sebelum mapan, rezeki Allah yang jamin” di buku ini. Buku ini cocok untuk seorang unique snowflake yang merasa berhak atas kemudahan kemudahan hidup karena kespesialan itu tadi. Yang merasa jalan hidupnya berat dan society telah berlaku sangat tidak adil. Bahwa sistem yang sudah berjalan ratusan tahun ini salah dan tidak fleksibel for my own needs. Bahwa tidak ada satupun ideologi yang bisa merangkul pemikiran seorang introvert ini dan nobody gets me.

No, we are not special.

Satu satunya yang membuat kita spesial kalau kata Pak Neil DeGrasse Tyson adalah kita terbuat dari unsur yang sama dengan bintang bintang di angkasa; karbon, nitrogen dan oksigen. Sisanya, seluruh peradaban dari tahun 0 hingga sekarang beserta segenap kebudayaan dan teknologi yang ada di dalamnya hanyalah a speck of dust on this universe. Pak Tyson juga bilang bahwa satu satunya alasan kita dan peradaban ini masih eksis adalah karena belas kasihan alam semesta. Coba bayangkan jika saat ini di galaksi tetangga tengah ada rangkaian ledakan bintang yang akan bersinggungan dengan galaksi kita dan membuat seluruh bumi beserta isinya meledak tanpa sisa dalam yet another big bang dan kita tidak bisa menebaknya karena ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita punya sekarang belum mampu melakukan observasi sejauh itu.

We’ll be erased. We will be forgotten.

Dengan premis A Counterintuitive Approach to Living a Good life Pak Manson terasa sangat berhati hati untuk berjalan tidak memberikan pesan yang salah soal “Ayo anak anak kita jadi nihilis saja karena susah payah mengejar kebahagiaan buat apa karena kita semua akan mati juga pada akhirnya~” untung Pak Doni tidak menulis buku motivasi hahaha. Hal ini ditulis secara gamblang di halaman preface soal Not Giving a Fuck tidak sama dengan being indifferent. Hanya saja kita lebih selektif dalam memilih ‘konflik’ hidup, disebutkan skala prioritas penting untuk menentukan sebanyak apa porsi emosi yang dikeluarkan untuk siapa atas hal apa.

Ini menarik sebab seusai membaca buku ini saya menjadi reflektif soal diri sendiri dan observatif terhadap orang lain. Pengelolaan emosi yang terlalu represif akan membuat seseorang triggered dengan hal hal sepele. Seperti Pak Manson, saya juga pernah mendapati orang marah marah dengan kasir Alfamart hanya karena label harga tidak sesuai. Atau meng-anjing-babi-kan orang yang mengambil spot parkir yang dikehendaki (padahal bukan reserved parking eniwei) diambil orang. Kalau kata Pak Manson, kondisi ini melelahkan karena kita stress dan beremosi berlebihan kepada hal hal yang tidak perlu.

Di Jepang ada istilah shikata ga nai (仕方がない) atau yang sering disingkat shouganai untuk merujuk soal “It can’t be helped”, yaudahlahya. Saya sering sekali menggumam kata yaudahlahya ini beberapa tahun belakangan sampai berubah menjadi shouganai sejak mengetahui hal ini saat kemarin pergi ke Jepang. Saya melihat sendiri soal betapa ‘shouganai’nya orang Jepang saat antrian toiletnya diselak turis Cina, atau saat saya jalan sambil main handphone hingga sering nyaris nabrak nabrak, mereka akan minta maaf (padahal yang salah saya) dan terus berjalan tanpa menunjukkan emosi. Kalau mau melihatnya dari perspektif berbeda ya orang orang Jepang (utamanya di kota besar seperti Tokyo dan Osaka) memang seperti zombie. Dan shouganai-nya mereka mungkin lebih ke arah “Aku sibuk sekali dan ga punya waktu untuk berurusan dengan hal hal sepele seperti memarahi turis yang kalau jalan sambil main hape”

But hey, it works either way.

Chapter chapter awal buku ini memaparkan soal permasalahan kita yang terlalu banyak giving a fuck. Pak Manson juga melakukan dekonstruksi soal kenapa kita sering merasa kita adalah an unique snowflake dan entitled to things. Di saat selebtwit dan selebgram menggempur kita soal kampanye you’re special so the world should pay attention and respect to you, Pak Manson malah mati matian meruntuhkan tower ego itu agar kita tidak merasa bahwa dunia dan masyarakat berhutang sesuatu kepada kita. Entitlement itu anak tirinya ego. Dan menjadi orang egois hanya boleh dilakukan kalau kamu anaknya Jack Ma. Kalau udah mizkin, merasa spesial dan minta diperlakukan istimewa yha udha mz u mati ajha~

WhatsApp Image 2018-10-01 at 08.29.17

Di buku ini juga dijelaskan soal kecenderungan kita untuk romanticizing pain. Di media sosial bertebaran orang orang yang tiap hari galau but never try to get help. Saya juga bertemu dengan yang berada dalam hubungan tidak sehat dan terus curhat soal itu tapi tidak pernah mengiyakan (dan melakukan) saat disuruh putus dan keluar dari hubungan itu. Kita memuja rasa sakit seolah itu memang bagian dari diri kita –lebih buruk lagi, merasa itu adalah takdir– seolah ia bagian dari tubuh yang kalau dilepas setara dengan harus kehilangan kaki kanan, ga ikhlas dan ga mampu.

Padahal rasa sakit baik psycological atau physical adalah reaksi tubuh atas reseptor neuron yang mengatakan “Hey, there’s something wrong here” dan tugas kita adalah to fix it. Seperti saat tangan keiris pisau, kita merasakan sakit lalu mencari cara untuk menyembuhkannya. Kasih obat merah, minum Paramex, lilit perban, apapun agar rasa sakitnya hilang. Begitu juga dengan rasa sakit yang muncul akibat cinta yang tidak berbalas, habis nonton drama Korea atau saat Poussey mati kegencet Sipir di Orange is the New Black (this part made me cried for 2 whole days) dan perasaan perasaan sedih sejenis. When we get sad, try to get out and be happy, get help and let yourself be helped. Terdengar sederhana tapi kita lebih suka menimpa kesedihan dengan kelaraan lain. Kesedihan, somehow, membuat kita merasa spesial. Dan kespesialan itu membuat kita merasa entitled.

The Feedback Loop from Hell-nya Pak Manson juga menarik sebab ia menyentil soal kebiasaan kita untuk overthinking dan overanalyze terhadap perkara yang sebenarnya sederhana saja. Bukan bermaksud mengecilkan nilai depresi, anxiety dan penyakit mental lainnya hanya saja kadang kita terlalu cepat menyimpulkan kesedihan kita sebagai depresi. Ditambah sulit untuk memilah mana kesedihan yang murni dan kesedihan demi konten di era sekarang ini. Tapi ya shouganai, berempati saja tanpa harus mencari motif.

Eniwei, karena entry ini sudah terasa panjang sekali, setelah seminggu membaca buku ini hingga tamat dan mengulang kembali dari kemarin, saya menemui simpulan soal hidup yang singkat ini laluilah dengan biasa saja. Prioritaskan keluarga dan teman yang baik, cut toxic people from your life (mereka beneran ada, bukan hanya mitos), tolong diri sendiri saat merasa sedih dan terjebak dalam anxiety. And life can’t be beautiful if we don’t want to see it that way.

 

Sampit, 01 Oktober 2018

Advertisements

Give A Noob Two Weeks for Growing Her Addiction and She’ll Turn into a Slightly Better Noob. It’s Probably the Longest Title I’ve Ever Written so Bite Me.

My new addiction comes from frowny eyebrows while my brother told me to download the game. Minutes later after my first match and I’m sold. Cara adiksi bekerja pada saya sederhana saja, mengetahuinya secara tidak sengaja lalu dicoba coba eh keterusan. Tapi adiksi seperti ini tidak akan bertahan lama, saya tau betul itu makanya tidak ingin terlalu ‘niat’ dalam memperlengkap gear dan equipment seolah besok mau mulai latihan e-sport.

Player Unknown’s Battle Grounds (yang kemudian disingkat menjadi PUBG) adalah game bikinan Brendan Greene yang dirilis via Steam tahun 2017 silam. Sesekali saya melihat post soal PUBG di antara dank memes Reddit namun tidak berminat memainkannya karena hanya available untuk PC. Dan serupa DOTA, CS:GO dan associates yang membutuhkan ‘niat’ dalam beli-instal-main, saya yang pemalas dan tidak begitu betah berlama lama di depan PC (karena di kantor sudah 8 jam melakukan hal demikian) jadilah tidak sekalipun menyentuh game game PC.

Nahh, baru beberapa bulan lalu Tencent didampuk menjadi developer game ini untuk versi mobile. Namanya baru rilis, bug dan kekurangannya tentu buanyak banget. Seperti ukurannya yang luar biasa gede (1,5 giga ditambah additional data) dan kecenderungan lag di handphone Android dengan RAM di bawah 4 giga. Oh satu lagi, daya konsumsi baterenya gila. Dua-tiga match saja dengan durasi 1 match sekitar 30 menit, batere bisa langsung drop ke 10 persen.

Menanggulangi hal ini saya menggunakan iPhone 7s yang diflash ulang dan HANYA menginstall PUBG. Lumayan, tidak pernah lag dan batere bisa bertahan hingga 4 match. Ini mungkin upaya terjauh saya dalam bermain game.

I killed *uhuk* 14 people *uhuk* on a solo match

Adiksi di game ini tentu saja di adrenaline rush karena membunuh orang beneran (game ini berbasis online) bukan bot itu menyenangkan. Kita ditawarkan untuk bermain Solo, Duo atau Squad. Dari semua stage yang pernah saya jajal kayaknya Squad paling seru. Tandem saya tentu saja adik yang kemudian kami random match dengan dua orang lain. Di hari hari lengang seperti Sabtu – Minggu kami akan ngetroll team match dengan berpura pura menjadi Anne dari Slovenia atau asik menjadi weeaboo dengan membicarakan anime anime dan secret waifu. It’s fun, really.

WhatsApp Image 2018-07-11 at 15.21.02

Saya tau betul saya kecanduan game ini karena sekarang history YouTube saya bergeser dari video video masakan menjadi konten konten milik Litomatoma dan Milyhya. Isinya PUBG semua hahaha. Ini minggu kedua saya menekuni PUBG, menekuni karena literally setiap hari sepulang kerja saya meluangkan sekurangnya 3  jam memainkan game ini. Lama kelamaan noob ini berkembang menjadi sedikit lebih paham maksud gamenya apa.

I dieded everytaim

Dan karena game ini sangat sangat populer, hypenya masih menyenangkan. Ga tau kalau kelak Fortnite atau ROS mengambil alih popularitasnya (wkwkwk), di Steam sendiri grafik popularitas PUBG sudah mengalahkan rekor Minecraft dengan 46 juta orang memainkan game ini via PC dan 10 juta via mobile. Kaya banget pasti ya Bapak Grenee ini.

Image result for PUBG meme
Once I just lay in the middle of the war zone and wait until everybody dies by the blue zone.

Terlepas dari sekian bug yang ada, sejauh ini PUBG masih menawarkan hal hal menyenangkan untuk dimainkan.

Skor 8/10

 

 

 

Perubahan Adalah Kutukan (?)

Kita harus memaklumi kegemaran orang orang tua dalam bernostalgia. Dalam setiap kesempatan berbicara dengan seseorang yang jauh lebih tua dari saya, saya selalu meminta mereka untuk menceritakan zaman yang sudah lewat and oh boy they love it. Karena perubahan niscaya terjadi dan ia kian cepat berotasi dari masa ke masa. Di abad 18 mungkin butuh 20-30 tahun rentang masa dari satu penemuan berevolusi menjadi penemuan yang lebih mutakhir. Sementara saat ini, hanya butuh 5 tahun bergerak dari Java dan Symbian menuju Android dan IOS. Hanya butuh 2 tahun untuk sebuah handphone bergerak dari waterproof menjadi water resistant.

Karenanya mereka yang di tahun ini berusia 30an namun masih mencoba signifikan dengan mengikuti setiap tren terbaru akan kewalahan dan semakin merasa berjarak pada setiap tren baru yang muncul. Saya sendiri 26 tahun dan sudah tidak bisa merasa relate semenjak era Snapchat. IG Story, Tik Tok dan segala platform media sosial yang hype sudah terasa jauh berjarak dari saya. Di rentang usia dari nol ke 26 saja, saya mengalami beberapa fase perubahan yang menggugat nostalgia sekali-dua.

Seperti masa di mana untuk mengakses internet saja membutuhkan perjuangan yang hakiki. Untuk sekadar download gambar dengan satuan belasan kilobyte memakan waktu bermenit menit. Atau penghiburan paling menarik di internet adalah ketika mengunduh mp3 menjadi perkara yang bisa dilakukan (dan sederet situs porno ber-bandwidth rendah seperti DS dan Lalatx tentu saja)

Kala itu, meski internet dan teknologi sudah merangsek sedemikian canggihnya, kebersamaan masih bisa diraih melalui tukar menukar hardisk dan salin menyalin hasil unduhan ilegal film film terbaru. Atau ngumpul bareng di lokasi ber-wifi kencang (yang saat itu sangat jarang) dan menaruh segenap harap pada Internet Download Manager untuk kemudian berbincang hingga unduhan selesai. Di era itu, saya masih bisa relate.

Tak sampai sepuluh tahun selepasnya, saya berada di sebuah tongkrongan dengan 6 orang lain sibuk bermain dengan gadgetnya masing masing. Sekali-dua saya diajak foto selfie berdua atau foto group dengan senyum dibuat buat seolah we’re having the best time of our life karena sejurus kemudian muncullah foto tersebut di Instagram dengan caption serupa : Having a fun time with besties. Hal tersebut terjadi beberapa kali dan saya jengah, sebab kalau hanya untuk sibuk sendiri saya lebih suka ke cafe sendirian untuk dowload film sambil membaca buku. Melakukan hal sunyi seperti itu sendirian terasa lebih masuk akal daripada diam berjamaah.

Pemandangan menggelikan itupun pada akhirnya menjadi sebuah kemahfuman. Orang orang berkumpul dalam kelompok namun masing masing menelan kesunyian. Yang suka mati gaya karena tidak suka berlama lama menatap layar gadget seperti saya akan tersisih. Karena jengah, karena risih, karena mati gaya dan akhirnya memilih ngapa ngapain enaknya sendirian hahaha.

when everybody tried to be a special snowflake

Maka begitulah, bagaimana perubahan dapat menjadi kutukan. Mungkin ini yang dulu dirasakan oleh pendahulu kita saat melihat roda ditemukan dan orang orang mulai meninggalkan keseruan jalan kaki bersama sama. Saat mesin uap diciptakan dan revolusi teknologi didengungkan dan orang orang mulai lupa value segala hal yang dilakukan secara manual.

Tapi hey, setiap aksi akan menemukan reaksi. Bukannya seiring dengan kesunyian perubahan ini diiringi dengan nyaringnya gaung soal off grid and technology detox. Sebab setiap kita sebenarnya perlu istirahat dari perubahan. Jika yang lain melakoninya dengan seminggu penuh berkemah tanpa gadget dan mesin apapun, saya punya detox saya sendiri bernama nostalgia.

 

Sampit, 22 Juni 2018

Ini sudah hari ketiga hujang kelewat deras turun di pertengahan malam.

Yang Bikin Bodoh Itu Kurang Baca, Bukan Micin

Yang paling mengganggu saat berselancar di dunia maya adalah masih saja menemukan orang orang yang melakukan hal ini:

Tapi ketika yang beginian muncul, saya biasanya hanya tertawa dan membatin “Goblooo” sambil lalu. Herannya, meski sudah setengah mati screening pertemanan tapi tetap saja hal hal begini melintas di timeline Facebook. Bagi saya, like dan amin begini harmless. Nyampah tentu saja, apalagi kalau ternyata entry yang diserbu adalah clickbait atau monetized post tapi ya udahlah, toh saya berada di area yang tegas terkait memperbolehkan adik menghabiskan siang malamnya untuk looting sen demi sen dari flooding adsense. Yang ‘terjebak’ ngasih duit ke empunya hajatan ya siapa suruh sampah begitu diklik.

Sama seperti entry entry “Ketik Amin”, terlepas dari perdebatan ustadz ustadz soal boleh-tidaknya, kata “Amin” dalam kehidupan nyata memang telah digunakan secara foya foya sehingga apa bedanya dengan mengetiknya di sosial media (kecuali annoying dan nyampah, tentu saja. Tapi merasa annoyed adalah masalah saya, bukan hutang siapa siapa) dan kembali lagi, kalau terjebak monetized post maka yang goblo sebenarnya siapaaa?

Yang membodohi lagi menyesatkan serta meresahkan hingga urgensi untuk menuliskannya di blog ini adalah kebiasaan meng-copy paste/share hoax. Dan ini berbahaya karena sejarah telah mencatat ratusan kejadian dan puluhan ribu kematian sia sia karena berawal dari kabar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Dulu ketika menjadi jurnalis, setiap pagi saya panas dingin membaca berita yang saya tulis. Saya senantiasa kuatir jika berita saya tidak benar dan tidak cukup cover both side. Di bulan bulan terakhir saya bahkan sengaja menghindar menulis berita berita bombastis yang berpotensi masuk halaman utama. Saya lebih banyak mencari ide untuk berita feature yang menyenangkan semua pihak (mungkin ini juga yang akhirnya menyadarkan bahwa saya tidak berbakat menjadi jurnalis hahaha)

Kekhawatiran itu menghantui saya hingga susah tidur padahal koran kami hanya dicetak tiga ribu eksemplar dengan probabilitas orang membaca berita saya di sudut bawah halaman tengah hitam putih pastilah sangat kecil. Beruntung hingga akhir masa kejurnalisan, saya tidak mendapat kendala berarti terkait hal ini.

Sekarang bayangkan seseorang dengan follower ratusan ribu hingga jutaan, setiap hari menulis kebencian dan menyebar tidak hanya fitnah namun juga hoax. Berita bohong. Iya saya berbicara soal Jonru. Sejak setahun terakhir saya mengenal nama ini dan sesekali memantau Facebook Pagenya yang luar biasa sampah itu. Awalnya saya biasa saja sebab alam memang membutuhkan orang orang seperti Jonru untuk menjaga keseimbangannya. Toh hanya satu orang saja, dan saya hanya perlu menutup aplikasi Facebook agar tidak lagi merasa terganggu.

Namun waktu berlalu dan makin banyak undangan group yang saat saya bergabung di dalamnya, kok Jonrunya makin banyak. Makin sering saya menemukan tulisan tulisan Jonru dan yang sejenis Jonru di sekitar saya. Kalau hoax masih bisa disikapi dengan kebijaksanaan berupa buka Google dan verifikasi beritanya, menghadapi ujaran kebencian membutuhkan kebijaksanaan mental yang lebih kompleks. Kita harus memiliki keterbukaan pikiran, toleransi yang tinggi dan kelapangan jiwa untuk bisa menelan kenyataan bahwa ada jutaan orang yang tiap tiap individu itu memiliki kemungkinan terhasut dan turut menjadi.

Kebencian yang tidak rasional terhadap Jokowi

Cina akan menginvasi Indonesia dan mengganti ideologi negara ini menjadi Komunisme

Anti vaksin (yang menariknya jika di luar negeri gerakan anti vaksin ini karena mereka curiga pemerintah melalui industri obat obatan ingin meracuni anak anak mereka atau karena tergabung dalam cult of being as nature as possible will heal your miserable soul, di Indonesia vaksin ditolak karena Amerika menyusupkan gelatin Babi ke dalam vaksin untuk mengkafirkan bayi bayi muslim. Yeah, it really happens.

Gempa terjadi karena makin banyak orang pro LGBT

Yahudi antek Amerika akan memusnahkan umat Islam

Konten konten bertema demikian biasanya dimulai dengan sederet panjang dikabarkan dari (insert a shady news biro) yang melakukan investigasi di (insert a stranded city of nowhere) dan mendapat informasi dari agen rahasia (what? MI6? Mossad? BIN? apa?) lalu disusul a poorly written (some sort of) news dan diakhiri dengan seruan agar umat Islam bersatu dan ujung ujungnya memboikot sesuatu.

Dan kita masih saja menuding micin sebagai sumber kebodohan.

Membaca adalah solusi untuk kebodohan yang sia sia ini. Baca buku buku yang bagus, berita berita dari saluran yang kredibel; tonton berita di televisi karena sekurangnya masih dikawal oleh KPI bukan dari channel Youtube yang sumber beritanya dari opini content creatornya. Bangun perspektifmu sendiri, uji dengan verifikasi dan buka pikiran (serta kelapangan hati) untuk menerima perubahan atas perspektif itu. Saya tidak pernah malu jika perspektif saya sekarang berbeda dengan beberapa tahun lalu sebab saya tau seberapa banyak buku yang saya baca, berapa banyak individu baru yang saya temui, kejadian yang terjadi selama rentang waktu itu.

Lagipula sudah 2018 masa masih meminjam opini orang?

 

 

Sumba and Other Revelations

Syahdan, kawan kawan saya ingin ke Sumba sementara saya terjebak dengan training asuransi di HO Jakarta. Sungguh sebuah ketidakadilan yang tidak bisa dibiarkan! Meski sebenarnya selain terbentur jadwal, saya tetap tidak bisa pergi karena cuti sudah minus dua sejak pulang dari KL kemarin. Tapi di mana ada kemauan di situ ada jalan, bukan? Setelah dua hari mengikuti training, sayapun bolos ke Bali untuk menunggu teman teman yang menyusul 2 hari kemudian. Huahahaha.

Yang saya lupa, saya cuma packing untuk keperluan training berupa 3 blouse dan 2 celana panjang. Tapi bukan sia sia saya menerima sematan McGyver saat sendal jepit putus dan saya berhasil menyambungnya dengan mediasi seutas bobby pin di tengah tengah Pulau Komodo setahun silam. Akhirnya celana jeans dipotong jadi shorts, blouse jadi flowy tank top dan (mau tidak mau) membeli 3 kaos dan 3 celana baru di Krisna, toko oleh oleh kesayangan kita semua karena sebiji celana harganya 20 ribu saja~

Kamis siang kami berangkat dari Denpasar menuju bandara Waikabubak di Tambolaka, Sumba Barat Daya. Kondisi kota Kabupaten ini seperti jalan lintas provinsi pada umumnya. Kesan yang muncul adalah gersang, berdebu dan gerah ketika melintasi jalan raya utama yang menghubungkan Tambolaka dengan beberapa spot wisata di Kecamatan itu. Kalau harus mengkomparasi dengan Kalteng, Tambolaka ini mirip seperti Cempaga dengan jalan aspal yang sedikit lebih banyak.

Seminggu setelah pulang saya baru ngeuh kalau kami datang di musim penghujan sehingga dapat disebut itu adalah periode terbaik dalam setahun di wilayah itu. Namun kesan gersang masih ada meski hujan nyaris setiap hari. Bayangkan bagaimana kondisi masyarakat di sana saat musim kering tiba mengingat Indonesia wilayah timur dikenal dengan curah hujan setahun yang sedikit.

Kami berlima mengambil private tour sehingga lebih fleksibel soal jadwal. Di Sumba Barat Daya kami baru mengetahui kalau hotel yang kami tempati sudah termasuk salah satu hotel paling top di sana. Yang mana bentukannya… lebih mirip seperti penginapan Melati di pinggir kota kalau di Sampit. Baru kali ini saya pergi ke luar kota dan merasa bangga dengan Sampit yang setidaknya punya satu hotel bintang 4 itu hahaha. Terlepas dari itu semua, Kabupaten Sumba Barat Daya adalah surga tersembunyi yang akhirnya terkuak (dan assesible) berkat film Marlina dan Susah Sinyal :))

Kita akan melalui sebuah Kecamatan bernama Kodi Bangedo jika ingin menuju Pantai Bawana. Sepanjang jalan memang telah beraspal, namun akan titik di mana kamu akan bergumam “Persetan dengan pembangunan jalan kalau warganya masih berak dengan menggali tanah begini” sebab apa artinya memiliki halaman belakang instagramable kalau setiap hari dihantui kelaparan? Yep, Kodi adalah kecamatan paling miskin di Kabupaten Sumba Barat Daya, bahkan seluruh Sumba.

DSC00202
Pantai Bawana, Kodi. Akan ada belasan orang yang menemanimu menuruni tebing yang licin dan curam untuk upah 20 ribu rupiah. Kesel kan?

Saat menulis ini saya sedang membaca baca berita terkait Kecamatan ini, yang ternyata jalan aspal baru dibangun tahun 2015. Anggaran yang tidak sedikit mengingat dari Tambolaka ke Pantai Bawana saja nyaris 3 jam perjalanan. Duit yang bisa dipakai untuk pengembangan UKM dan pengadaan air bersih, misalnya. Perjalanan ke Sumba menghasilkan mixed feeling yang lumayan kampret sih. Di satu sisi saya terpuaskan sekali dengan keindahan alamnya sementara sisi lain rasanya marah sekali terhadap turis seperti saya yang membuat Pemda lupa prioritas dalam mengelola daerah.

Tapi mungkin kelak Kecamatan Kodi dan Kabupaten Sumba Barat Daya akan berkembang seperti ‘kakaknya’ Labuan Bajo dan moga moga menjadi seperti Bali. Sebab jika kita tidak bisa hidup sejahtera dari tanah gersang dan terik matahari, setidaknya masih ada harapan dari sektor wisata.

Karena energi saya untuk ngomel sudah habis, selamat menghabiskan bandwidth untuk foto foto cakep berikut ini..

sdr
Pantai Bawana yang sepi, bersih dan luas. 20 menit lebih bengong dan nyaris nangis terbawa suasana. Untungnya saya pribadi yang tegar.
IMG_20180218_074914.jpg
Bukit Bulu Halus, duh namanya~
cof
Setiap hari disuguhkan ikan yang satu porsinya segede ini, gimana bentuk ikannya semasa hidup ya..
DSC00717
Senja keemasan di Dancing Tree Pantai Walakiri, Sumba Timur
DSC00257
Sekali lagi, ini bukan dari Google.
DSC00389
Desa Adat di Waingapu.
27581743_304096740116755_141005803552243712_n
Juklak turis
cof
Pantai Mandorak, Waingapu yang aduhai banyak airnya~

 

 

Sampit, 08 Maret 2018

Taun depan Wakatobi~

Resolusi 26

Delay posting 2 minggu karena sibuk bolak balik toilet gara gara muntaber bedebah~

Here I am, menjadi 26. Setelah dari awal Januari mencari cari soal apa saja yang saya inginkan dan tidak menemukan banyak hal. Bukan ingin sok having a content grateful life tentu saja tidak saya masih iri dengan yang bisa makan bakso tiap hari tapi badannya tetap kayak barbie. Tapi seiring dengan bertambahnya buku yang saya baca, tempat yang saya kunjungi dan diskusi tak habis habis soal jagad raya dan seisinya, saya mungkin kehabisan mimpi karena satu per satu telah terpenuhi. Agar perputaran hidup tetap sip, maka mari menemukan mimpi mimpi baru!

Review resolusi 25, waktu itu saya menulis:

  • Membaca 50 buku
    • Saya menamatkan 52 buku di usia ini, not bad.
  • Menyelesaikan renovasi rumah pribadi
    • Mengurus instalasi listrik dan air serta menambah dapur. Meski tidak ditempati tapi rumah tersebut sudah dikontrakkan jadi satu tanggungan hutang dicoret karena sudah bisa muter sendiri
  • Pergi ke luar negeri setidaknya satu kali
    • Seminggu di Jepang pada November 12 kyaaa~
  • Nonton AriReda lagi
    • AriReda rilis album Suara Dari Jauh pada 23 Maret di Gedung Kesenian Jakarta dan saya duduk manis di baris kedua dari depan 🙂
  • Makin jago renang dan yoga
    • AKHIRNYA BISA BERENANG! setelah sepanjang empat bulan akhir di 2016 latihan berenang seminggu 3 kali, Februari 2017 sudah berani nyebur di laut bebas tanpa pelampung, berenang bersama Pari Manta (dan kesetrum ubur ubur) di laut Labuan Bajo.
  • Tinggal di Bali
    • Belum, masih pitching sesekali 
  • Dan tentu saja, masih New York!

Tahun lalu saat menuliskan resolusi ini saya sedang merindukan Bali dengan teramat sangat. Sepanjang 2016 saya 3 kali ke Bali dalam rangka menuntaskan rindu itu yang berujung dengan keinginan untuk tinggal di sana. Setelah pulang dari Jepang juga sama, saya mengalami demam dadakan dan ingin tinggal di Jepang. Hingga akhirnya sadar bahwa no place is home until you settling your nest and call it home. Setelahnya semua demam demam dadakan itu reda, 25 tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk menyebut di sinilah rumah saya sekarang. No more denial baby~

Resolusi 26:

  1. Menjadikan meal prep sebagai gaya hidup
  2. Lebih ramah kepada lingkungan
  3. Pergi ke luar negeri setidaknya satu kali
  4. Membaca 50 buku
  5. Nonton konser bagus
  6. (Masih) New York

Finger crossed!

KL and The Number Two Emergency

26184586_517084545357161_6886268026572767232_n
Fleet Foxes on stage with their White Winter Hymnal. Jantungku copot mz~~

Saya menambahkan Kuala Lumpur dalam daftar bepergian ke luar negeri Januari 2018 dengan budget kurang dari 5 juta. Karena niat perginya untuk nonton Fleet Foxes di KL Life, jadilah menyusun itienary untuk muter muter sekitaran KLCC dan hanya 3 hari saja. Tiga hari habis 5 juta tuh mahal, bukan backpacker sama sekali. Namun berhubung beberapa kawan (dekat maupun tidak) bertanya soal bagaimana caranya bisa berlibur ke luar negeri dengan sumber pendapatan gaji bulanan sebagai rang kantoran, saya ingin membagi breakdown anggaran untuk tetap nyaman di KL dengan budget 5 jutaan.

Tiket dan Hotel

Beruntunglah mereka yang tinggal di Jakarta sebab CQK – KUL cuma 400 ribuan dengan Air Asia (no baggage no meal), sementara untuk Sampit – Jakarta – Sampit saya harus membayar  1,9. Untungnya ada 1.100 point Traveloka senilai 1,1 juta. Praktis untuk tiket saya hanya membayar total 1,2. Sementara untuk hotel, di area KLCC ini harga hotel muahal muahal karena tergolong pusat kota tempat menara kembar, KL Tower dan Bukit Bintang berada. Mengakalinya adalah dengan hotel kapsul, saya menginap di The Bed untuk 3 malam dan hanya membayar 400 ribuan dari harga original 800ribu karena lagi lagi point Traveloka.

 

The Bed KLCC

 

ini pengalaman pertama saya mencoba shared room begini, awalnya mikir akan risih dan ga nyaman mengingat di satu ruangan besar ada 16 blok dan waktu itu saya berbagi ruangan dengan 6-7 tamu lain. Ternyata ga berisik sama sekali, common bathroomnya luas dan ada banyak shower room.

 

Bersih dan Lengkap. Ada Hairdryer

 

Mengingat ukuran ‘kamar’ yang hanya segitu, mungkin akan ribet kalau membawa koper besar dan saat proses bongkar bongkar nyari barang. Tapi tetap dapat loker dan lemari penyimpanan kok. Saya hanya membawa koper kabin dan muat pas di celah kecil di kaki kasur, dan be organized maka segalanya bakal gampang. Travel bag organizer yang keliatannya sepele ini ternyata berguna banget. Taruh pakaian ganti dan sikat gigi and you’re good to go. 

Saya banyak tertolong soal tiket dan akomodasi dengan deduksi point Traveloka, kalau mau dapat banyak point harus sering sering beli tiket/booking hotel. Rajinlah menawarkan diri kalau ada yang mau beli tiket, ribet juga engga. Rumusnya per 250 rupiah booking hotel dan per 10.000 beli tiket pesawat dapat 1 point senilai 100 rupiah. Di kantor saya bisa beliin tiket pesawat dan hotel bos hingga 15 juta lebih, dapet poin senilai 150.000, lumayan kan.

Hiburan dan Transportasi

Pengeluaran cukup besar yang sering saya missed adalah transportasi. Kemarin pas ke Jepang ga berasa karena dicover paket tur dan di Singapura dicover travelmate. Kalau liburan masih di dalam negeri tinggal instal GoJek. Ternyata rate transportasi privat di KL ga terlalu bikin keki tapi perbedaannya signifikan antara pakai Uber dan taksi umum, selisihnya bisa sampai 15-20 RMPaling mahal mungkin ke Bandara, jarak KLCC ke KLIA2 bisa sampai 79RM pakai Uber (250 ribuan sebenarnya sama aja kaya ke Soetta dari Jakarta Pusat hahaha) tapi ada KLIA Express yang sekali jalannya 35RM (120 ribu) berhenti di KL Sentral dan 15 RM taksi ke area Vortex jadi yha sama sama ajaa hahaha.

Masa ke KL ga foto foto di Petronas? Dari area Vortex tempat saya menginap ke Petronas cuma 300 meter, jalan kaki nyampe. Lalu mikir seberdekatseberdekatannya lokasi wisata, tetap aja gempor kalau jalan kaki dan bakal mahal kalau naik Uber. Browing browsing ternyata ada fasilitas city tour murah, dari Petronas saya naik Hop On Hop Off city tour dengan tiket tembusan 24 jam 55RM (187 ribu) dengan total 23 perhentian di tempat wisata! Jadi sistemnya: beli tiket di bus stop manapun, naik terus turun aja di tempat wisata yang diinginkan. Setelah puas keliling/belanja/makan/foto foto, tinggal ke bus stop dan tunggu bisnya lewat per 20 menit. Seru kan, saya dapet 5 spot dari total 23 dengan durasi 2-3 jam di tiap tempat wisata.

WhatsApp Image 2018-01-24 at 11.16.32Kalau ke KL Tower siapkan sekitar 300 ribu untuk nembus sampai Sky Deck dan Sky Box, worth it kok. Selama efektif 24 jam di Hop On Hop Off saya sempat ke Petronas, KL Tower, Bukit Bintang, China Town dan tentu saja, nonton Fleet Foxes!

26071306_2016191691952402_1526895778927214592_n

Setelah merilis album ketiga di tahun 2017,  Skye Skjelset dkk makin.. aneh :)) aseli dari sebelas lagu di album Crack-Up yang bisa saya pahami maksudnya mungkin hanya tiga, sisanya percampuran lirik dan musik psikedelik yang kelewat tinggi. Namun dua album sebelumnya (self titled dan Helplessness Blues) adalah favorit saya. Malam itu mereka membawakan lebih dari 20 lagu dan KL Life literally rattled saat sing a long Mykonos bersama. Senang!

Salah satu sponsornya adalah Levi’s yang bagi bagi tote bag dan denim pouch gratisan lengkap dengan dua patch yang bebas dipilih. Mevvah!

Makanan

Ada tiga ras yang menjadi komposisi Malaysia secara keseluruhan. Melayu, India dan China. Ketiganya berakar sejak lama hingga terlihat pada perpaduan budaya dan makanan. Seorang kawan berkata bahwa makanan India terbaik bisa ditemukan di Malaysia setelah di India itu sendiri saking berakarnya ras ini di sana. Ada Little India dan China Town yang cukup merepresentasikan itu semua.

Nah masalahnya, I don’t like any of that food.

Don’t get me wrong, saya suka makanan berlemak bersantan dan heboh tapi hanya untuk waktu waktu tertentu. Lebaran misalnya. Sekarang coba eda bayangkan berada di negara yang sarapan Nasi Lemak makan siang Briyani makan malam Laksa adalah hal wajar. Gimana ga diare.

Yep, hari ketiga di KL saya terserang muntaber. Awalnya mengira masuk angin biasa karena telat makan, tapi kok sampai muntah muntah dan akrab sama toilet begini. Nelpon dokter kantor dan diagnosisnya either keracunan makanan atau muntaber. Niat untuk makan dan jajan enak di bandara KLIA2 yang konon salah satu bandara terkeren di Asia itupun sirna. Buru buru check in, menuju gate departure dan mencari toilet adalah prioritas utama.

Kecurigaan utama saya ada banyak, selain dari pencarian nasi yang dimasak apa adanya tanpa tambahan broth or coconut milk yang susah minta ampun (di satu resto pilihan nasi either Briyani, Pulau Rice atau Saffron) tapi China Town dan food stall di KLCC menjadi kandidat utama karena agak tidak higienis. Tapi kalau perutnya kuat dan doyan makanan bersantan khas Melayu, KL adalah sorga.

Nilai tukar RM yang ga terlalu menyakitkan (waktu itu 1RM=3.400 rupiah, dibanding Singapore yang nembus 10 ribu atau Jepang yang 1Yennya 112 rupiah sementara untuk semangkuk ramen pinggir jalan bisa 1.200 Yen atau 134 ribu sih bikin bahagia) membuat harga makanan maupun barang di KL tergolong bersahabat. Sebagai komparasi saya jajan di Uniqlo Suria KLCC Mall 89RM dapet 2 potong baju dan 1 celana non diskon yang mana hal tersebut adalah mustahil di Indonesia. Sementara untuk makanan dengan 7RM 5 sen (25 ribu) bisa dapat nasi hainan lauk iga bakar plus sup kuah daging di senia hawker (semacam warung tenda) di China Town. Tapi kalau di resto seperti Old Town yang terkenal itu seporsi nasi lemak lauk kari ayam bisa nembus 35RM jadi be wise yaaa (paling ngilu sih pas kelaperan sehabis konser lalu mampir di resto India yang rada high-end, ga ngerti menu akhirnya pesan chef’s recomendation dan for a not so satisfying dinner I have to pay 165RM hiks maratus rebu di Indonesia bisa buat makan sushi sampe teler)

Oleh Oleh

Nhaa, kalau ada niatan untuk merapel oleh oleh, inilah saatnya. Apalagi kalau dapat jatah bagasi 20KG, MANFAATKAN! di Bukit Bintang ada satu mall kecil namanya Sungei Wang. Di situ banyak toko yang menjual cokelat dan barang barang klise (kaos, keychain) dan murah. Setidaknya jika dibandingkan dengan kalau beli di Bandara hehe. Dengan budget 300RM saya bisa beli sekoper penuh oleh oleh dan masih ada sisa buat nyobain shiatsu di Fahrenheit88. Beli oleh oleh murah dan banyak (dan kalau bisa sifatnya netral) di satu negara biar kalau pergi ke negara lain ga harus beli oleh oleh. Tinggal bilang “Cuma sempat beli ini di bandara” mehehe.

Kira kira 4 hal di atas yang harus disiapkan pos budgetnya. Karena 40 persen dari masa liburan saya di KL isinya muntaber jadi saya ga terlalu boros di pos makanan. See, there will always be a silver lining on every pain wkwkwk.

Sampit, 24 Januari 2018