Tentang Amarah

Lahir di keluarga miskin membuatku belajar banyak tentang rasa marah. Aku marah saat teman-teman sekelas dibelikan buku, sepatu dan seragam baru saat mereka juara kelas. Sementara aku harus melanjutkan menulis di halaman-halaman kosong buku pelajaran bekas Kakak. Aku marah, dan belajar sekuatnya untuk menjadi juara 1, kalau perlu juara umum untuk membuktikan bahwa tanpa buku dan sepatu baru aku juga bisa sama seperti yang lain. Saat itu aku tidak melihat bahwa menulis di buku tulis bekas Kakak membuatku terpapar dengan pelajaran yang enam tahun di atas jenjang pendidikanku.

Saat pulang ke rumah dan Ibu lagi-lagi memasak mie instan berkuah banyak yang rasanya asin bukan karena bumbu mie tapi karena Ibu menambahkan garam agar kuahnya bisa dimakan dengan nasi Raskin yang diambilnya setiap hari Sabtu setelah mengantri berjam-jam di Kelurahan, lalu menjunjung beras 5 kilo di kepalanya, berjalan kaki. Aku marah karena teman-temanku bercerita tentang restoran yang mereka dan keluarganya kunjungi di akhir pekan.

Saat harus berjalan kaki berkilometer dari sekolah setiap hari karena malu jika dijemput Bapak menggunakan sepeda yang dipakainya untuk berjualan minyak tanah, aku marah karena temanku yang dibelikan Bapaknya sepeda motor baru karena ia juara 5 di kelas. Aku yang juara 1 kenapa tidak dibelikan sepeda motor juga? Apa salahku sampai harus dihukum seperti ini?

Saat aku bekerja siang dan malam di umur 16 tahun, aku marah karena penghasilanku tetap tidak bisa mengubah kebiasaan Ibu menangis di tengah malam karena hari itu lagi-lagi rumah kami didatangi tukang tagih dari Koperasi Simpan Pinjam dan Ibu tidak punya 20 ribu rupiah untuk cicilan hariannya.

Saat Ibu meninggal dunia karena kami tidak memiliki 2,5 juta untuk membawanya ke Rumah Sakit Provinsi, aku meledak dalam kemarahan. Aku menangis bermalam-malam, mengutuk kemiskinan kami dan bersumpah untuk berhenti menjadi orang miskin.

Aku marah kepada diriku sendiri yang telah membunuh Ibuku karena kurang berusaha sebelum kematiannya. Seharusnya aku bekerja lebih giat lagi dan mencegah kematiannya. Seharusnya aku bisa membelikannya makanan sehat dan mengurangi beban pikirannya yang melulu berputar pada bagaimana cara menjalankan hidup 5 orang dengan uang yang kadang ada kadang tidak dan lebih banyak kelaparannya.

Dua tahun penuh bekerja siang malam namun kali ini aku berada di tempat yang “tepat” untuk mencari uang. Mulai dari Director, Regional Director hingga level President Director dan CEO mengenal namaku dan berkali-kali pujian tentang “Betapa beruntung perusahaan memiliki aku” dan “Putra daerah prodigy” yang mereka banggakan kepada stakeholder membuat kepalaku di atas awan. Setelah menjadi staff, aku naik menjadi assistant, jabatan yang tidak pernah dimiliki siapapun tanpa gelar S1 di perusahaan itu. Betapa banyak aturan yang atasanku langgar semenjak awal masuk kantor membuatku bangga dengan diriku sendiri. Dan sebagai rasa terima kasih, aku bekerja lebih giat lagi.

Enam kali tipes karena berada di kantor untuk bekerja hingga pukul 3 pagi hampir setiap hari, dua kali ke IGD sendirian karena tidak mau merepotkan siapapun, dan puluhan kali visit ke Psikiater karena aku sudah membayar hutang atas kemiskinanku tapi aku masih saja restless.

Aku masih marah.

Empat tahun setelah kematian Ibu, aku membeli rumah, mobil dan memberangkatkan Bapak untuk umroh. Aku bisa makan di mana saja tanpa harus memikirkan harga. Aku bisa pergi ke luar negeri kapan saja asal ada cutinya. Aku bisa menguliahkan adikku dan menjamin kesehatan Bapak dengan segudang asuransi.

Tahun 2017 akhir keadaan kantor berubah total, aku yang merupakan “anak emas” hasil temuan dan kesayangan Regional Director harus meredupkan diri karena beliau sudah saatnya pensiun. Meski tidak butuh waktu lama untuk penggantinya juga menjadikanku anak emas, tapi aku lelah, aku capek kerja hingga lupa bagaimana rupa sinar matahari karena masuk paling pagi dan pulang paling larut. Aku juga capek, karena tidak peduli berapa banyak uang yang kumiliki dan dendam atas kemiskinan yang kubayar, hatiku tidak pernah benar-benar merasa nyaman.

Dalam sabbatical leave yang kuambil sebulan lamanya, aku mendekam di Ubud, Bali. Dibimbing Mbak Rika Cahyani, setiap hari adalah meditasi dan upaya mengenali diri. Lalu ketika ia menanyakan tentang bagaimana aku melihat diriku sendiri, aku menjawab dengan sejujurnya,

“Aku adalah amarah”

“Tapi aku capek, aku lelah marah-marah melulu”

Selama sebulan aku belajar tentang marah, amarah dan bagaimana membedakan keduanya. Serta seperti apa emosi dapat mempengaruhi kebahagiaan. Aku pulang tidak dengan hati yang seketika berubah menjadi bahagia, tapi aku mengerti apa dan bagaimana amarah bekerja dalam membentukku, lalu berdamai dengannya.

Hingga kemarin, aku tidak bisa mengingat kapan terakhir kali aku bergerak karena rasa marah. Betapa “santai”-nya aku menghadapi kesulitan tanpa sekalipun menaikkan suara. Seseorang menipuku jutaan rupiah, tidak satupun makian yang keluar. Aku minta komitmennya untuk membayar dan ketika itu dilanggar, aku laporkan ke kantor polisi untuk penipuan. Tanpa marah, praktikal dan solutif. Saat seseorang memperkosaku dalam keadaan mabuk, aku kumpulkan seluruh barang-barangku dan pergi untuk selamanya dari hidupnya. Aku hanya meninggalkan pesan setiap bulan agar ia mengembalikan apa yang dia pinjam dariku.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun lamanya, aku marah. Saat berkali-kali hatiku diinjak karena ia tidak mampu membuat pilihan dan menerima konsekuensi atas pilihan itu, saat nilai dan sejarah hidupku yang berdarah-darah diludahi dengan kalimat “I like her, but I love you” yang kemudian diubah menjadi “It turns out I don’t love you I choose her” dalam waktu kurang dari 24 jam. Baru ini aku merasa begitu rendah sebagai manusia. Betapa aku dan apa yang telah kulalui jangankan dihargai, dianggap cukup penting untuk dijaga perasaannya saja tidak.

Lalu setelah berkali-kali ia menyebut aku yang harus memaafkan diriku sendiri, aku yang harus mencintai diriku sendiri, aku yang “salah” dalam situasi ini, aku murka. Amarah yang telah membentukku, kembali dalam format berkali lipat. Sebab yang sudah-sudah, mereka cukup tahu diri atas kesalahan mereka dan memilih untuk diam. Untuk menjauh saat kuminta pergi. Mereka cukup “manusiawi” untuk menerima bahwa mereka sudah menyakitiku dan mengerti bahwa mereka tidak layak bahkan untuk meminta maaf.

Lalu seseorang, berkali-kali menikamku dengan pisau yang sama di luka yang sama hingga aku nyaris percaya bahwa ini adalah kesalahanku. Bahwa aku layak diperlakukan serendah itu karena akulah yang lebih dulu menyakitinya. Rasa bersalah ini kupendam sendirian berbulan lamanya saat ia memamerkan kemesraan yang tidak pernah dilakukannya padaku di media sosial. Hingga suatu hari aku sadar, ribuan orang menghargai luka dan perjuanganku sementara ia kembali memintaku untuk memaafkannya, memberi makan egonya. Seseorang yang tanpa kesadaran diri atas seperti apa kerusakan yang telah ia bawa ke hidupku, meminta aku memaafkannya setelah apa yang ia lakukan dalam upaya terbaiknya menyakitiku.

Aku familiar sekali dengan monster yang ada di dalam diriku. Seumpama Carl Jung menyebutnya sebagai shadow. Aku sudah berkenalan dan memberikan ruang untuknya sebagai bagian dari diriku. Sehingga aku tau, ketika ia ingin bergerak bangun, aku bisa memintanya untuk tenang. Ia adalah kumpulan rasa sakit, amarah dan kejadian-kejadian yang tidak akan aku maafkan meski berkali-kali kusebut aku hanya sedang tidak beruntung. Ia mengumpal menjadi satu, seumpama monster, yang aku benci setengah mati namun mau tidak mau aku bersisian hidup dengannya.

Kamu membangunkannya.

Kamu menggantikan posisinya.

Jakarta, 15 Desember 2020

Seseorang telah menempati ruang yang kusiapkan untuk sesempurnanya amarah

Rasa Sakit

Waktu berjalan dan kamu kira kamu sudah terbiasa dengan rasa sakit. Kamu kira hidup dengan larah luka yang menganga sudah kamu relakan sebagai bagian dari masa lalu tanpa pilihan. Kamu lalu memilih untuk menjadi dewasa dan hidup dengan segenap konsekuensi atas pilihan itu.

Hingga seseorang datang, memberikan satu lagi penolakan atas apa yang tersisa dari dirimu. Bertubi, berkali-kali. Saat kamu kira sungguh mustahil seseorang seperti dirinya melukaimu sejauh itu, dia benar-benar melakukannya. Seseorang yang dengan lembut menyebut namamu di belakang kata aku mencintaimu dan membuatmu percaya bahwa apa yang tersisa dari tubuh dan jiwamu layak untuk dicintai. Untuk disayangi.

Lalu, saat ia benar-benar pergi, kamu memilih diam dan menelan rasa sakit itu sendirian. Pada malam-malam saat kamu terjaga dan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menangisi namanya. Memanggil dengan apa yang tersisa dari lirih suaramu untuk kembali merasakan kenyamanan dan keamanan itu, untuk sekali saja. Agar kamu bisa terlelap tanpa mimpi buruk yang perlahan mulai mengambil sedikit demi sedikit dari apa yang tersisa dari dirimu.

Minggu berganti, dan kamu memilih untuk pergi, dari rumah yang menghantuimu dengan kenangan atas apa yang kamu kira adalah cinta. Dari setiap sudut ruangan yang membuatmu mengira kamu berharga tapi lalu dibuang begitu saja.

Namun di ruang dan waktu yang asing inipun, kamu tak habis menangisi rasa sakit di dadamu. Pada malam-malam saat kamu terjaga, pada kesunyian yang bernas setiap usai kamu benturkan kepala ke dinding karena mereka berisik luar biasa, pada setiap keping obat yang kamu telan dalam upaya ingin terlupa, rasa sakit itu tetap memelukmu.

Kamu mengira rasa sakit itu akan kalah pada terjaga berhari-hari, pada tubuh tanpa asupan energi, pada airmata yang menggenang setiap kali kamu sebut namanya, pada ribuan hembusan nafas dan doa agar kamu dapat terlepas rasa sakit meski hanya sehari.

Hari ini bertubi kabar baik kamu terima. Dua orang kini mempercayaimu dengan perkerjaan yang kamu suka. Hadiah, kata-kata penyemangat dan upaya untuk menghiburmu tak pernah putus diberikan. Kamu tersenyum, merasa familiar dengan rasa menyenangkan itu, dan mengira inilah hari di mana rasa sakit itu akhirnya pergi.

Namun pada redup lampu kamar saat hari telah berganti, kamu tutup pintu dan jendela, mencoba memejamkan mata lalu airmata kembali mengalir. Rasa sakit itu kembali memelukmu hingga tidak ada yang bisa kamu lakukan kecuali menangis. Dan kamu merasa telah mengkhianati hal-hal baik yang seharusnya membuatmu bahagia di hari ini.

Kepada pil tidur kelima kamu titipkan sebuah harapan.

Ambil rasa sakitnya.

Ambil semua yang tersisa.

Denpasar, 28 Nopember 2020.

Luka

Tidak ada yang tau mengapa aku bernama Luka. Pun diriku sendiri, ibuku hidup tidak cukup panjang untuk memberitahu mengapa aku bernama Luka. Ayah? Sejak lahir aku tidak mengenal sosoknya. Hanya ada Ibu dan bermalam-malam shift kerjanya yang itupun tidak bertahan lama. Ia meninggal saat aku mulai bisa membaca.

Semula kupikir tak ada salahnya bernama Luka. Seorang guruku mengeja namaku sebagai L-U-C-C-A, ia menyebut itu nama yang indah. Hingga tahun ketiga Sekolah Dasar aku bahagia sebab mempunyai nama Lucca yang indah artinya. Lalu kartu pelajar yang dibuat di tahun keempat harus melongok kembali akta kelahiranku. Seluruh kelas akhirnya tau bahwa aku bernama Luka. Dan mereka mulai menyampirkan kata ‘borok’, ‘koreng’, ‘bopeng’ di belakang namaku.

Pengasuh panti asuhan sempat menambahkan nama marganya di belakang namaku. Ia kemudian diseret ke dalam sidang adat karena sembarangan memberi marga ke seorang asing yang tak jelas asalnya. Ditambah, kata Luka harus berada di depan marga yang konon katanya hanya dimiliki para bangsawan itu.

Ya, aku tinggal di panti asuhan selepas Ibu meninggal. Kadang terpikir bagaimana bisa Ibu tak memiliki keluarga sama sekali. Sekadar Kakak, Adik, Ibu atau bahkan teman, Ibu tidak menunjukkan tanda memiliki mereka. Pemakamannya digelar sederhana, yang bertandang hanya tetangga, yang memandikan dan menguburnya para pengurus Masjid. Hingga akhirnya aku ditemukan menangis lapar di dalam kontrakan dan semua orang terusik, membuangku ke Panti Asuhan.

Mungkin, Ibu memiliki keluarga dan teman. Tapi mereka hanya enggan memelihara seorang anak bernama Luka. Tinggal di panti mengharuskanku untuk tidak egois dalam menuntut kasih sayang. Sebab aku harus berbagi dengan puluhan anak lain. Dipeluk sekali seminggu saja sudah beruntung. Karenanya aku terbiasa mengejar gelar terbaik agar diperhatikan. Menjadi penghafal paling cepat, murid paling pandai, hingga pencuri handal.

Di usia remaja setidaknya enam kali aku mencuri dari kotak amal Masjid. Semata lantaran pengurus panti terus mengeluh soal kesulitannya mencari dana untuk memberi kami makan dan kehidupan yang layak. Uang yang kucuri banyak jumlahnya, diam-diam kumasukkan ke dalam kotak amal panti. Seseorang melihat aksiku dan mengadu. Aku dikeluarkan dari panti karena mereka tidak bisa memelihara seorang pencuri.

Padahal aku hanya butuh pelukan dan tepukan bangga dari mereka.

Sebenarnya bernama Luka-pun bagiku tidak masalah. Ibuku pastilah memiliki alasan indah (setidaknya kuharap begitu) mengapa aku bernama Luka. Kadang aku hanya kesal sebab Ibu tidak memberiku nama yang agak panjang, atau setidaknya satu kata tambahan agar aku tidak kesulitan untuk membuat akun jejaring sosial yang mengharuskanku memiliki last name. Atau agar orang-orang tidak sampai di titik kesal karena berkali-kali mendapat jawaban “Luka” saat mereka menanyakan “Iya Luka, terus nama lengkapnya apa?”

Usiaku bertambah dan aku mengalami mimpi buruk banyak jumlahnya. Mimpi itu berupa seorang pria memukuli Ibu. Aku bermimpi Ibu lebam berdarah berkat sabetan ikat pinggang pria tinggi besar yang tidak pernah bisa kulihat wajahnya. Ibu terus memohon ampun dan pria itu seakan tak bertelinga. 

Mimpi itu berulang-ulang hingga membuatku nyaris percaya bahwa itu adalah kenyataan.

Mimpi itu terulang hingga sekarang. Seperti pemutar kaset yang rusak tombolnya kepalaku mengulang mimpi itu setiap malam. Hingga kemarin akhirnya aku percaya, itu adalah kenyataan. Sebab aku bernama Luka, Ibuku mengeram benci saat melahirkanku ke dunia. Aku memberinya luka. Tidak terhitung banyaknya. Ia menyabetkan ikat pinggang dan membenturkan kepalaku ke tembok hingga aku lupa akan lukaku dan selalu mengira ia adalah Ibu terbaik yang aku punya.

Aku bernama Luka. Aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Usiaku 23 tahun, tidak perlu khawatir saat menemukan tubuhku yang mungkin berserak hancur. Makamkan aku selayaknya manusia, tak perlu repot mencari kerabat sebab aku tak memiliki mereka. Urusan duniaku sudah usai, tidak ada hutang maupun dendam yang belum terpunahkan.

Tidak ada yang tau mengapa aku bernama Luka. Pun diriku sendiri, ibuku hidup tak cukup panjang untuk memberitau mengapa aku bernama Luka. Ayah? Sejak lahir aku tidak mengenal sosoknya. Hanya ada ibu dan bermalam malam shift kerjanya yang itupun tidak bertahan lama. Ia meninggal saat aku mulai bisa membaca..

Sampit, 24 Maret 2012

Kepada Laut Aku Ingin Pulang

Kepada laut aku ingin pulang
Untuk lebur bersama riak dan gelombang
Dalam gelap yang menenangkan
Tanpa rasa sakit dan pintu yang ditutup berdebam

Kepada laut aku ingin pulang
Aku menyerah untuk mengetuk berulang
Pada pintu dan jendela yang kukira bersedia memberikan rasa aman

Sebab

Jika hanya larah luka yang engkau berikan
Harusnya kau bunuh aku sejak permulaan.

Sampit, 16 Nopember 2020

Effortless Love

Aku tumbuh dengan asumsi bahwa cinta adalah reward. Aku menitipkan harapan untuk dicintai melalui sikap yang baik, membantu pekerjaan di rumah, menjadi juara satu, memenangi banyak perlombaan di sekolah. Tapi tidak juga kudapatkan pelukan dan kata-kata penuh kasih sayang dari mereka.

Aku tidak sadar, aku selalu menjadikan cinta sebagai imbalan. Sepanjang usia remaja aku mengira seseorang akan mencintaiku jika aku menjadi perempuan yang mereka sukai. Open minded, pandai berbahasa Inggris, cerdas dan mampu mengimbangi diskusi tentang apapun. Dan aku belajar dan belajar, menelan ratusan buku hingga belasan tahun berlalu dan aku tetap tidak dicintai.

And then there’s you. Kamu datang dan membuatku merasa dicintai tanpa aku harus berusaha apapun kecuali menjadi diriku sendiri. Kamu sudah mencintaiku bahkan sebelum aku riset tentang apa yang kamu sukai. Kamu sudah mencintaiku bahkan sebelum aku bergerak untuk membuatmu kagum kepadaku. Kita hanya perlu menjadi diri kita sendiri dan berjalan bersisian untuk membagi keriaan dan kesuraman dunia.

Bulan berlalu dan belum pernah aku merasa sebahagia itu. Bagaimana bisa tanpa aku belajar hingga larut malam, tanpa aku membuat catatan untuk memulai percakapan, tanpa aku diet mati-matian, seseorang menerimaku dan membuat hidupku lebih menyenangkan? Aku begitu menikmati perasaan itu dan tidak bisa menahan diriku sendiri untuk memberitahu setiap orang bahwa aku, dicintai karena menjadi aku, bukan siapapun.

Suatu pagi saat demamku tinggi dan satu porsi soto tersaji di meja makan, hatiku mencelos. Ingatan tentang masa kecil dan segala hal yang terjadi di dalamnya menghajarku dalam sekali sentakan. Hari itu berulang-ulang di kepalaku pikiran tentang “Aku tidak layak mendapatkan ini”

Dan aku menjadi Ibuku. Memilih diam sebagai jalan untuk coping dari setiap masalah dalam hidupnya. Memilih untuk menelan semuanya sendiri karena menganggap tidak akan ada yang bisa mengerti. Memilih untuk perlahan mendorongmu pergi. Mematikan seluruh perasaan sebab aku tidak layak untuk dicintai.

Tapi kamu tetap di situ, menyayangiku.

***

Sebulan terakhir tidak satu malampun aku lewati tanpa mimpi buruk. Buah penyesalan yang sedemikian dalam namun terus kusebut sebagai penghukuman. Berkali-kali mengalami episode mania dan kusebut sebagai tulah dari eksistensiku yang tidak lebih dari sosok jahat tanpa hati. Hingga di penghujung hari, setelah suara dokter meninggi karena ia hampir putus asa menyebut bahwa semua ini bukan salahku, aku pulang dalam penerimaan.

Aku lelah menghukum diriku sendiri, pada malam-malam menuju tidur dan suara itu datang dan menyebut aku tidak layak untuk hidup, aku akan merindukanmu. Menyebut namamu di sela tangis hingga suara itu menjelma menjadi mimpi buruk lalu terjaga dengan penderitaan yang sama.

Aku merindukanmu yang sempat menjadi pengingat bahwa aku bisa berdamai dengan diriku sendiri. Aku merindukanmu saat gelap turun dan aku mulai merasakan dingin. Aku merindukanmu. Aku tidak lagi memiliki ‘tapi’ dan ‘rasionalisasi’.

Yang aku tahu, aku merindukanmu.

Cantik Itu Luka – Sebuah Review

SwYfxA90.jpg

Eka Kurniawan harus saya cintai untuk alasan ini:

Dia adalah pencipta karakter paling pahit yang pernah saya baca.

Holden Caufield-nya The Catcher in the Rye sampai Toru Watanabe-nya Haruki Murakami yang saya kira takaran pahitnya sudah di atas rata rata itu kalah oleh karakter karakter yang ada di dalam novel setebal 478 halaman ini. Saya dibuat menggumam “Anjrit..” berkali kali saat disuguhkan situasi yang menunjukkan betapa dingin dan tidak berperasaannya si tokoh utama.

Saya kira karakter demikian hanya dimiliki satu tokoh utama dengan tokoh tokoh lain sebagai penyeimbang. Dugaan ini seketika runtuh sebab pada halaman demi halaman yang melibatkan tokoh baru, saya selalu menemukan kekejaman dan kedinginan yang sama dengan karakter utama- Dewi Ayu-

Dimulai dari si Cantik, lalu Maman Gendeng, lalu Kamerad Kliwon, lalu Alamanda dan seterusnya. Silih berganti mereka menjelma menjadi sosok yang akan mematahkan hatimu tanpa ampun untuk kemudian tersenyum dan berlalu. Kisah percintaan laki laki paling tampan sedunia dan perempuan paling cantik sejagad raya itupun berakhir dengan Kamerad Kliwon yang menikahi Adinda, adik Alamanda. Pedih dan menyakitkan.

Kemudian cara Eka Kurniawan menyediakan ending cerita untuk si Cantik yang seolah berkata “Ga ada gunanya menunggu akhir yang bahagia, hidup ini fucked up, telan dan jalani saja”. Sebuah cara penyampaian cerita yang, sekali lagi, pedih dan menyakitkan. Seperti kebanyakan resensi atas buku ini, membaca Cantik itu Luka memang menyisakan perasaan yang gamang dan sejumlah gugatan. Namun terlepas dari itu semua, bagi saya Cantik itu Luka adalah vakansi yang menyenangkan karena rasa rasanya tidak pernah saya temukan karakter karakter sedingin, sekelam, sepahit mereka bahkan di dalam karya Seno Gumira Ajidarma.

Dewi Ayu adalah puncak performa kelihaian pak Kurniawan dalam menguntai kepahitan karakter. Di halaman halaman awal kita disuguhkan sesosok perempuan tua bekas pelacur yang melahirkan anak buruk rupa namun justru bersyukur atas itu. Lebih lebih, menginginkan agar si anak terlahir demikian. Ia lalu memutuskan untuk mati lalu hidup kembali 21 tahun kemudian. Ia begitu karena ia ingin begitu. Fak sekali kan? KAN??

Dalam novel novel yang terobsesi menyuguhkan pesan moral sebagai dagangan singkat rangkuman cerita di cover belakang, Dewi Ayu tentu akan dijabarkan sebagai perempuan baik baik, manis ramah kesayangan semua orang di masa silam yang lalu diubah oleh keadaan. Sayapun berprediksi demikian, sebab Cantik itu Luka adalah novel pop kekinian yang digemari banyak orang.

Kenyataannya? Dewi Ayu memang bersifat demikian sejak awal mula penciptaan. Gadis kecil dengan kecerdasan alami di atas rata rata yang membuatnya lebih tenang sebab mengetahui banyak hal dari orang sekitarnya. Ia memandang orang lain tidak memiliki kecerdasan yang setara dengannya sehingga mudah baginya menjadi berkuasa atas orang lain. Ia memiliki bakat pemimpin, ketenangan yang tidak main main ditambah ketabahan luar biasa yang ditempa oleh apa (ia sudah memiliki karakter ini sejak hari pertama tentara Jepang mengurungnya di penjara, sejak hari pertama ia dijadikan pelacur di rumah Mama Kalong)

Tanpa penjelasan susah payah soal mengapa si A berkarakter demikian, Eka justru menambah unsur magis novel ini. Membuat saya dan siapapun betah untuk duduk berlama lama, membaca lompatan peristiwa dengan sederet tokoh yang berkaitan satu sama lain meski dalam beberapa chapter agak jauh ia dituliskan.

Buku ini sekaligus menjadi penanda sebuah momentum. Sebulan terakhir saya menjadi bagian dari chapter menyenangkan bersama seseorang yang tidak kalah menyenangkan dari cerita yang saya susun di dalam kepala. Ia yang sedianya ada di dalam orbit saya bertahun tahun lamanya. Orbit yang kemudian berbenturan dan menjumput kebahagiaan. Banyak, berlimpah ruah.

Lalu seperti layaknya sebuah perjalanan, saya harus kembali menyusuri orbit itu. Meninggalkan momentum itu dan melayang untuk menemukan benturan benturan baru. Begitu seterusnya hingga usia gumpalan debu kosmis ini berakhir, saya rasa. Meski terdengan suram dan membosankan, namun setiap kita memang berhutang kewajiban untuk meneruskan perjalanan.

Sampit, 6 April 2016

Seperti Dewi Ayu, dingin dan kejam nampaknya memang sebuah pilihan yang menyenangkan.

Hantu di Musim Penghujan

“Aku bermimpi tentang hantu”

Segelas air putih yang kuminum belum terteguk sepenuhnya saat Fuga mengusik perhatianku soal mimpinya tentang hantu, sepagi ini.

Ruang tengah sedang sepi. Belum tandas hausku yang harus menempuh puluhan kilometer untuk menemukan jawaban mengapa perempuan ini menghubungiku sambil menangis.

“Aku… melihat matanya yang kelabu dan mencium aroma busuk dari tubuhnya” Fuga kembali bersuara.

Tunggu, bukankah mimpi tidak berbau? Aku pernah beberapa kali bermimpi tentang makanan yang sepertinya beraroma wangi namun aku tidak pernah ingat bagaimana baunya. Tidak, sebuah mimpi tidak semestinya meninggalkan ingatan tentang bau. Aku beringsut dari dudukku, mendekati tubuhnya yang gemetar. Perempuan ini benar-benar ketakutan, dapat kulihat tatapan matanya yang menerawang jatuh dengan pupil membesar, seolah tengah menghadapi mimpi buruknya di dunia nyata. Urung kupeluk sebab terlalu lancang jika kulakukan. Tidak saat ini, tidak di tempat ini.

Fuga kini terisak pelan

“Jika bukan karena ini malam ketiga aku bermimpi hal yang sama, tentang hantu yang menatapku seolah inilah saatnya aku mati, tidak akan aku mengganggumu sepagi ini”

Bicara soal pagi, aku teringat sebuah pagi beberapa tahun silam, saat pertama kali aku mengenal Fuga. Namanyalah yang paling menarik perhatianku. Fuga Agatha. Fuga. Tidak pernah dalam hidupku aku mendengar dan bertemu orang dengan nama Fuga. Aku pernah mengenal seseorang bernama Proletariyati, Xeon hingga Berhala. Yang terakhir adalah teman karibku hingga sekarang, kedua orang tuanya adalah pekerja seni paling progresif di zamannya dan menganggap rasa sayang kepada anak tidak ubahnya sebuah pemujaan terhadap berhala. Temanku mengalami bullying sepanjang sekolah karena nama ini.

Namun Fuga, belum pernah aku bertemu dan mendengar sebelumnya. Dentumnya yang keras mengingatkanku bahwa kelahirannya pastilah membawa makna untuk menjadi lantang dan berbekas di ingatan setiap orang. Tidak seperti Berhala, betapa Fuga adalah doa. Fuga memang membawa dentuman dengan irama paling merdu sejak aku mengenalnya.

Perempuan yang pandai memainkan irama melalui kerling mata dan senyumnya yang indah. Irama yang membuat detak jantungku bertambah kencang setiap ia menelusuri pelan alur wajahku. Bermain dengan anak rambut dan membelaiku hingga tertidur. Ah, Fuga.

Lamunanku buyar. Matari masih belum sepenuhnya terbit, cahayanya yang bias berkejaran di sela jendela ruang tamu. Sudah lama aku tidakk bertemu pagi sesyahdu ini. Mungkin lantaran Fuga, yang sedari tadi beringsut merapatkan tubuhnya kepadaku dengan gemetar yang tak kunjung reda.

“Aku bisa merasakannya, sungguh. Jemarinya yang dingin mencengkram lenganku sangat erat hingga aku kesakitan dan matanya! Matanya demikian kelabu dan aku merasa takut teramat sangat” Suaranya merendah.

Tapi sebentar, konon saat bermimpi manusia tidak bisa menggunakan indera sensoriknya. Serupa aroma, Fuga tidak semestinya merasakan sensasi indera lain. Tidak mungkin bagi seseorang yang tengah bermimpi dapat merasakan dingin, bau, lebih-lebih rasa sakit.

Lantas mengapa ia meninggalkan bekas kebiruan di lengan perempuan yang kini meringkuk dengan mata sendu ini?

“Tolong aku, buat ia berhenti menyakitiku”

Kurengkuh Fuga pada akhirnya, mendekapnya seerat mungkin untuk setidaknya mengurangi rasa takut perempuan yang masih saja gemetar itu. Kupejamkan mataku serapat mungkin. Bias cahaya matahari dari jendela menyentuh wajahku saat waktu berkejaran mendatangkan siang untuk mengganti pagi. Kuhirup aroma Fuga, rambutnya mengingatkanku pada aroma hutan, entah lantaran shampoo yang digunakannya atau sekadar sugesti sebab memeluk Fuga seketika melemparkan ingatanku pada hutan tempatku sering bermain di masa kanak-kanak. Teduh dan tenang.

Dekapan kulekatkan hingga kudengar suara Fuga terbatuk perlahan. Kian lekat, kian erat.

Fuga sempat meronta beberapa saat. Dapat kurasakan kedua lengannya berupaya melepas kuncian tanganku. Namun sejurus kemudian tubuhnya adalah kesunyian yang bernas. Tidak kutemui cahaya mata penuh rasa cemas yang sedari tadi kutatap. Tidak juga kutemukan gemetar tubuhnya seperti saat ia bercerita tentang hantu dalam mimpi beberapa belas menit lalu.

Tidak kutemui apa-apa lagi di tubuh Fuga yang kini tanpa suara meregang nyawa di pelukanku. Kukecup keningnya pelan:

“Tenang, tidak ada lagi hantu yang akan memangsamu”

Sampit, 11 November 2019

Musim penghujan telah tiba.

Midsommar dan Perkara yang Sering kita Abaikan

Tahun 2019 sudah menjejak September dan baru ini saya ‘tergerak’ untuk menulis review film. Selain karena frekuensi nonton film berkurang (biasanya setiap minggu menjadi 1-2 kali sebulan) dan memang belum menemukan film yang cukup menggelitik untuk dituliskan.

Formula film menarik untuk saya sederhana saja, jika 24 jam setelah menontonnya saya masih kepikiran berarti film itu cukup mengganggu, dan saya perlu untuk merekamnya ke dalam media tulisan agar tidak terlupakan. Sayang, soalnya.

images

Midsommar pertama saya kenali dari klip teaser singkat di Twitter, pergi ke YouTube beberapa hari setelahnya untuk trailer dan I’m sold karena iming iming disutradarai Ari Aster, yang juga menyutradarai Hereditary. Mengingat saya suka tiba tiba kepikiran kepala adik tokoh utama yang putus ketabrak tiang lampu hingga berhari hari setelah menontonnya, berangkatlah saya ke Cinemaxx Citimall Sampit untuk Midsommar.

Dan rasa penasaran itu terbayar, lunas, genap seketika. Film ini berdurasi 2 jam 27 menit namun tidak satu menitpun terasa membosankan dan tidak satu adeganpun yang sia-sia. Sebagus itu, sungguh. Saya dihibur dengan turbulence emosi Dani (Florence Pugh) yang harus kehilangan keluarganya begitu saja dan perjuangannya untuk tegar di tengah kehilangan yang terasa uwuwu sekali

*** SPOILER ALERT***

Secara plot, Midsommar sebenarnya tidak menawarkan hal baru. Film serupa soal sekumpulan orang di tempat terpencil melakukan ritus aneh dan bunuh bunuhan sudah ada sejak era Stephen King meledak melalui novel (dan kemudian film) Children of the Corn. Next to next adegan juga mudah ditebak, sejak awal Pelle (Vilhelm Blomgren) mengaku berasal dari Swedia dan ikut cult runut cerita sudah bisa disimpulkan berupa:

Seseorang dari closed cult dikirim ke dunia luar untuk mencari tumbal.

Premis yang semakin kuat saat para turis (total 6 orang) yang berlibur ke Harga, desa terpencil di Swedia untuk mengikuti festival musim panas bernama Midsommar ini dipaparkan begitu saja dengan hal asing berupa dua orang yang bunuh diri secara sukarela. Mengingat kedua orang yang sudah terpapar dunia luar tidak mencegah keenam turis ini, ending cerita sudah bisa ditebak; mereka semua mati atau tidak akan bisa meninggalkan tempat itu.

Midsommar-Dani-May-Queen
mbnya cakep cakep kok mrengut aja~

Selanjutnya Midsommar adalah sembilan hari festival 90 tahunan yang dipenuhi magic mushroom, ramuan ramuan delusi, ritus aneh dan tempat tempat keramat. Pada titik tertentu, film ini mengingatkan saya pada Get Out. Yang menarik perhatian saya justru bagaimana karakter Dani berkembang dari awal hingga akhir film.

Ari Aster memainkan formula Dani sebagai perempuan yang masuk ke dalam rekrutmen untuk Midsommar secara tidak sengaja. Ia menjadi yang ganjil dalam 5 tumbal yang slotnya telah dipenuhi rekan rekan Pelle. Di sisi lain, Dani justru menjadi Ratu Kesuburan berkat memenangi lomba joget di tiang panjat pinang. Dan bagaimana film ini menggambarkan Dani yang “terbuang” dari dunia luar lalu secara sadar dan ikhlas menjadi bagian dari Horga.

Dani yatim piatu secara tiba-tiba karena adiknya yang bipolar membunuh kedua orang tua dan dirinya sendiri dengan mengisap karbondioksida. Dani kemudian tidak memiliki siapa siapa lain selain pacarnya, Christian. Di penghujung film kegamangan Dani soal dia siapa jika harus hidup tanpa Christian dikukuhkan melalui adegan ritus seksual lelaki itu dengan Mya, salah seorang penduduk Horga. Lelaki yang menjadi last resortnya berkhianat dan dipilih Dani untuk dibakar hidup-hidup pada punya festival Midsommar. Cute.

Selain perkembangan karakter yang apik, saya jatuh cinta pada teknis pengambilan gambar di film ini. Setiap shotnya artsy, setiap kostumnya mengingatkan pada baju-baju di toko Muji, setiap anglenya layak dijadikan wallpaper hape. Bahkan mayat yang punggungnya dikuliti dan digantung di kandang ayam aja artsy faklah hahaha. Sebagai film, ia berhasil mengganggu pikiran saya hingga hari ini (nontonnya kemarin sore) dan masih menjadi bahasan antara saya dan rekanan satu geng.

Disturbingly haunting. Me likey.

 

Sampit, 12 September 2019

Bluebeard’s Castle

Serial You di Netflix ini menarik sekali karena: it touches so many soft spots in me. Menamatkan 10 episodenya dalam dua malam Januari silam dan betapa saya ngefans dengan karakter Beth yang kampring di serial ini :))

Screen Shot 2019-08-05 at 22.26.11Bicara soal plot dan alur cerita sebenarnya biasa banget, milenial urban stories pada umumnya. Agak mengingatkan pada beberapa potongan cerita di novel Hanya Yanagihara yang A Little Life, soal bagaimana dinamika kehidupan milenial di New York, Amerika pada umumnya.

Pergeseran perspektif soal “American Dreams” di era Baby Boomers dan Milenial juga menarik, jika dulu yang diusung adalah soal harta dan tahta dan kesuksesan materi tiada ampun maka di zaman ini kesuksesan adalah bagaimana untuk “selesai” dengan diri sendiri sebelum terjun ke ranah rigid bermasyarakat.

1101130520_600.jpgHal ini mungkin berkaitan dengan awareness soal self-love, soal spiritualisme, soal mental illness dan seterusnya di era sekarang. Setelah revolusi internet bergaung, orang orang lebih mudah menyampaikan pergulatan batinnya sehingga wajar jika majalah Times menyebut milenial dengan The Me Me Me Generation. Generasi paling nyaring dibanding generasi generasi sebelumnya.

Saya sendiri berisik minta ampun, utamanya di ranah tulisan mengingat saya kurang nyaman dengan media visual seperti video. Sehingga ketika menemukan buku atau film/serial yang seolah olah menjadi representasi diri, saya akan ngefans seketika.

Seperti monolog Beth saat menjelang kematiannya dalam sekapan Joe di ruang bawah tanah toko buku:

How the hell did you end up here?

You used to wrap yourself in fairy tales like a blanket. But it was the cold you loved. Sharp shivers as you uncovered the corpses of Bluebeard’s wives. Sweeter goose bumps as Prince Charming slid one glass slipper over your little toes, a perfect fit.

But by the schoolyard, real princesses floated by you on fall winds. You saw the gulf between you and the rich girls, and vowed to stop believing in fairy tales. But the stories were in you, deep as poison.

If Prince Charming was real, if he could save you you needed to be saved from the unfairness of everything when would he come? The answer was a cruel shrug in a hundred fleeting moments. The sneer on Stevie Smith’s face when he called you a fat cow. Uncle Jeff’s hand squeezing your ass in the Thanksgiving kitchen. The accusation in your father’s eyes when you told him what happened.

From every boy masquerading as a man that you let into your body, your heart, you learned you didn’t have whatever magic turns a beast into a prince. You surrounded yourself with the girls you’d always resented, hoping to share their power, and you hated yourself. And that diminished you even more.

And then, right when you thought you might just disappear, he saw you. And you knew, somewhere deep, it was too good to be true. But you let yourself be swept, because he was the first strong enough to lift you.

Now, in his castle, you understand Prince Charming and Bluebeard are the same man. And you don’t get a happy end unless you love both of him. Didn’t you want this? To be loved?

Didn’t you want him to crown you?

Didn’t you ask for it?

Didn’t you ask for it?

Didn’t you ask for it?

So say you can live like this. Say you love him, say thank you, say anything but the truth.

What if you can’t love him back?

 

Bluebeard and His Seven Wives adalah dongeng soal seorang Sultan tajir yang punya kastil dengan banyak pintu. Setiap istri yang dia bawa pulang akan penasaran dengan isi di balik pintu pintu tersebut dan Bluebeard (meski telah memberikan warning) namun tetap membuka pintu itu. Hingga pintu ketujuh terbuka, ia mau tidak mau harus membunuh istrinya itu.

Versi favoritku tentu saja dari Grimm Brothers, namun dongeng versi lightnya bisa dibaca di sini. Dongeng ini cukup terkenal hingga diangkat menjadi film di tahun 1925 dan beberapa play teater. Tentang bagaimana rasa ingin tahu pada akhirnya literally bisa membunuhmu, jauh sebelum istilah curiousity kills the cat itu muncul.

Ini adalah satu dari sekian banyak random thoughts kind of entry. Baru saja tiba dari Bali tadi siang. Delay penerbangan hingga lima jam membuat saya banyak bengong di pojokan bandara. Buku Mythology 101-nya Kathleen Sears hampir habis saat saya menemukan cerita soal Cronus yang membunuh Uranus dengan cara ngumpet di vagina Gaia sambil membawa arit untuk kemudian memotong penis Uranus. Imajinasi orang orang zaman dulu yang ajaib mengingatkan saya pada dongeng Bluebeard dan akhirnya monolog Beth di atas.

Kelindan ingatan itu berakhir dengan saya yang menangis pelan tanpa suara karena tiba tiba merindukan rumah yang tidak pernah ada itu. Teringat kepada berapa kilometer dan waktu yang saya tempuh hingga usia sekarang tapi tetap saja perasaan sunyi menyergap ketika membuka pintu di penghujung hari dan menemukan rumah kosong tanpa bunyi. Saya kira, naifnya, saya telah selesai soal penerimaan atas keadaan. Bahwa sunyi dan sepi harus diterima bukan dipungkiri. Bahwa kesendirian ini adalah konsekuensi atas pilihan yang harus dijalani dengan berani.

Tapi tetap saja,

Ia menjadi kutukan bagi yang mengetahui.

 

 

 

Sampit, 05 Agustus 2019

Sebab, tidak ada yang lebih sunyi dari perasaan tidak dimengerti.

Semantik Perspektif dan Perkara Sudut Pandang

Dari mana sebuah simpulan didapat? Bagaimana sebuah perspektif terbentuk? Apakah ia benar benar berasal dari kesadaran diri, stimulasi berfikir atau yang sering disebut sebagai self conscious? Bagaimana dengan pihak ketiga? Vektor, perantara, lingkungan sekitar, pendapat orang lain, norma, dogma, doktrin dan sejumlah kausal lain yang mampu membentuk — bahkan mempengaruhi — sebuah sudut pandang dan simpulan?

Dari sini saya belajar mengenai perspektif itu relatif. Netralitas adalah ilusi (hal ini akan saya tulis khusus kemudian). Selain relatif, saya belajar bahwa asumsi tidaklah murni berasal dari apa yang disebut sebagai self conscious. Entry blog kali ini mengarah pada apa yang tengah saya amati belakangan di Indonesia. Negara ini masih saja berkutat pada radikalisme dan kelompok penjual agama. Terakhir kabar, Kementrian Komunikasi dan Informasi melakukan pemblokiran terhadap situs situs propagandis berbau radikalisme.

Sejak awal penciptaannya hingga di era Paleotikum manusia percaya bahwa tuhan adalah api, petir, air, bahkan pohon dan batu. Zaman berlalu, peradaban kian maju dan manusia percaya bahwa tuhan adalah matahari dan dewa dewa yang bersemayam pada gunung berapi. Dewa dewa dalam ujud menyerupai manusia dan binatang yang disucikan bermunculan, menumbangkan tuhan tuhan lama yang perlahan bisa dijelaskan, diwajarkan, dirasionalkan. Keyakinan seperti ini melebar sejak abad 1 hingga 9 dan akhirnya tuhan dikirim ke alam luar, ke dimensi entah di mana, dalam wujud berupa ada. Hal ini tertuang dalam kanon kanon agama Semitik (Yahudi, Kristen, Islam dan segenap turunannya). Semenjak diletakkan dalam wujud yang mustahil dibuktikan secara empiris, tuhan aman di kedalaman hati masing masing manusia.

Kemudian tibalah kita di era pra modern. Gejolak sains, penemuan penemuan ilmiah dan revolusi di bidang industri pada awal 16 menjadi titik di mana ilmu pengetahuan mengalami puncak kejayaannya. Porosnya di negara Eropa meskipun di tanah Arab mengalami perkembangan serupa (tapi revolusinya berhenti sejak ada Sultan Turki di masa Ottoman iseng mengharamkan mesin cetak)

Ledakan ilmu pengetahuan membuat agama agama Semitik yang mulai kuat saat itu mendapat guncangan cukup berat hingga menimbulkan friksi antara cendekiawan dan gereja. Tidak terhitung berapa kali Galileo Galilei disidang gereja karena membawa premis mengenai bentuk alam semesta. Tidak terhitung berapa banyak ilmuan yang dipenjara karena berhasil membuat pembuktian empiris atas dongeng dongeng kanon. Selebrasi sains tidak bisa dibendung dan meluas hingga akhirnya perspektif barat berkembang ke arah baru; Ateisme, Sekularisme, Liberalisme. Perjalanannya panjang dan mengorbankan banyak nyawa. Bagi saya manusia dan bagaimana mereka memperjuangkan ideologinya selalu menjadi hal yang menarik untuk diamati.

Membebaskan tuhan dari lingkup kanon dan berita berita usang adalah perspektif saya terhadap pandangan ini. Orang orang membebaskan tuhan dari pepatan definisi dan mematahkan ilusi tentang bagaimana sesuatu terjadi dan diciptakan. Ada juga yang membebaskan tuhan dari ritus pemujaan, ada yang membebaskannya dari ujud  dan ada yang membebaskan tuhan ke titik nol. Tiada. Alpa. Nihil.

Ini disebabkan sejak era pra modern bangsa Eropa – Amerika telah mengalami gejolak mereka sendiri. Mulai kasus Ku Klux Klan hingga perang salib dan sebagainya. Bentangan masa sejak abad 16 hingga 2011-lah, yang berkontribusi besar dalam pembentukan sudut pandang kaum maju hingga tidak lagi mempermasalahkan soal eksistensi ketuhanan lantaran mereka telah mengalaminya sejak berabad lampau.

Meski kemudian, teori relativitas yang saya gunakan mengharuskan saya untuk meletakkan kemungkinan bahwa tentu masih ada sikap radikalisme dan antisekularis di negara dengan sejarah peradaban belasan tahun itu. Dengan persentase yang sangat kecil, tentu saja.

Waktu, ternyata juga bisa menjadi variabel yang membentuk sebuah perspektif.

Saya kemudian mencoba mengkomparasi fenomena tersebut di Indonesia, negara dengan usia sejarah yang tidak sampai empat abad jika dihitung sejak masa prakolonial. Indonesia sebagai sebuah negara tentu mengalami perkembangannya sendiri. Saat negara maju sudah berdamai dengan ledakan ilmu sains dan filsafat serta bagaimana kedua hal itu mempengaruhi konsep ketuhanan, Indonesia baru memulai fase tuhan adalah dewa yang mewujud dalam benda benda duniawi-nya. Lalu agama Semitik masuk melalui pedagang Arab-Gujarat (Islam) dan kolonisasi Belanda yang mengusung triteologi Gold, Glory, Gospelnya (Kristen)

Menurut saya, inilah yang kemudian menyebabkan Indonesia baru memulai fase ledakan ilmu sains dan filsafat di era milenium, ratusan tahun tertinggal dari negara barat. 

Kenapa saya menjadikan tahun 2000 sebagai benchmark perkembangan ilmu sains dan (utamanya) filsafat? Apakah saya menampik fakta bahwa selebrasi ilmu pengetahuan membuat sejarah mencatat soal pro-kontra buku Atheis-nya Achdiat K Miharja, PKI dan tudingan anti-islamnya, hingga konsep manunggaling kawula gusti di era Syech Siti Djenar di era Wali Songo? Bukankah gejolak pencarian tuhan di ranah pribadi telah terjadi sejak dulu kala? Kalau boleh saya menyebut, sejak masa Indonesia nyaris merdeka hingga Orde Baru selesai, kita baru memulai percikan perubahan konsep ketuhanan. Hal inilah era post-modernnya kita.

Percikan yang terus meletup dan akhirnya meledak di era milenium, sekarang sekarang ini. Sejak munculnya tokok Gus Dur sebagai bapak Pluralisme hingga pengukuhan Jaringan Islam Liberal di tahun 2002, rasa rasanya sejak itulah terjadi peralihan dari pra-modern ke modern di negara ini. Tren melawan arus, gelombah mahasiswa yang melawan rezim Suharto, hingga meluasnya teori Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme di ruang publik. Kita lebih bebas dalam memilih ujud tuhan dan memutuskan untuk percaya atau tidak dengan paparan konsep dan ilmu pengetahuan yang sudah terbentuk sejak ratusan tahun silam di negara barat.

Pasca tumbangnya Orba, saat ini dengan mudahnya saya menemukan kelompok anarki dalam atribut punk. Sungguh berbeda dari 40 tahun silam di mana seseorang bisa dengan mudah kehilangan nyawa hanya karena ideologi yang dimilikinya.

Screen Shot 2019-07-11 at 17.20.57
Pendekatan menarik soal Consciousness via Kurzgesagt

Maka sekarang lihatlah, Indonesia tengah menikmati masa merdekanya. Kini begitu mudah menemukan buku buku Karen Armstrong, Stephen Hawking, Carl Sagan hingga Madilog-nya Tan Malaka dan menjadi bacaan setiap orang bahkan menjadi sumber studi. Bicara soal Orba, jangankan buku buku yang mempertanyakan ideologi sosial-budaya seperti Madilog, sebuah fiksi cinta cintaan Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Pulau Buru saja dibredel. Ki Panjdi Kusmin yang cuma menulis cerpen Langit Makin Mendung saja harus dipenjara, Seno Gumira Ajidharma harus kehilangan penertbitan dan pekerjaannya di majalah Djakarta, Djakarta! hingga Widji Thukul yang harus hidup dalam pelarian seumur hidupnya hanya karena menulis puisi.

Kini, tiap individu telah bebas untuk membebaskan tuhan dari koloni kanon. Dalam perjalanannya tentu akan ada friksi dan perlawanan sebagai deviasi dari era pra-modern. Indonesia tengah mengalami prosesnya sendiri untuk melawan radikalisme dan menentang upaya memundurkan peradaban melalui jualan khilafah dan mengembalikan Islam ke khittahnya.

Mungkin, ini hanya kemungkinan dan romantisme saya terhadap negara ini, setelah satu-dua abad gejolak ini mengeliat dan terus menjadi udara yang menebar perspektif progresif, negara ini akan menemukan “kemerdekaan”nya sendiri. Setelah faktor dari sudut ketiga berupa waktu menelusup untuk kemudian membentuk simpulan bahwa apa yang tabu di masa lalu, telah sedikit terbebas di saat ini, dan akan lepas sepenuhnya di masa mendatang.

Apa yang kita lihat saat ini adalah proses. Dengan harga yang mahal sejarah negara ini akan tercatat. Puluhan teror bom bunuh diri, laskar jihad hingga pembantaian atas nama agama (ibid: Cikeusik, 2011) dan segenap upaya perlawanan keji dari yang tidak menginginkan  ledakan ilmu sains dan filsafat ini terjadi. Perlawanan tanpa basis dari kelompok yang tidak mau Indonesia menjadi tanah laknat jajahan antek kafir Yahudi – Amerika.

Namun, jika perubahan serupa udara, bisakah kita menghentikannya?

Saya menempatkan diri dalam perspektif serupa belasan tahun silam. Saat satu satunya ilmu pengetahuan yang saya dapat adalah doktrin agama dari Ayah dan sekolah. Saat majalah yang tersedia di rumah nenek hanya Sabili dan Hidayah serta buku buku radikalis berkedok pencerahan islam. Namun sekarang sudut pandang saya berbeda, semenjak membuka diri untuk berhenti membaca hal tersebut dan memulai petualangan imaji dalam Madilog dan Grand Design hingga mengantarkan saya pada simpulan ini. Simpulan bahwa saya saat ini, belasan tahun berselang, saya menganggap memang sudah saatnya hal ini terjadi. Sesedih apapun saya atas collateral damage yang disebabkan, itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah perubahan.

Apakah ini inkonsistensi? Tidak tetapnya pendirian? Peragu?

Saya menyebutnya perspektif yang mengalami perubahan seiring dengan masuknya vektor dan kausal kausal dari luar. Yang berproses dan diterima sebagai ideologi baru. Karenanya ini tidak bisa disebut sebagai self-conscious. Bagi saya, tidak akan ada simpulan yang bisa diambil tanpa sumber. Tidak ada sudut pandang tanpa bercampurnya bias, pendapat dan diskusi tak berkesudahan.

Yang ada hanya ketidaktahuan, kealpaan, bukan sudut pandang.

Sampit, 11 Juli 2019