Selamat Satu Oktober!

Hari ini saya peringati dengan kembali menggali koleksi koleksi lama materi tulisan waktu bekerja di koran dulu. Ceritanya sih, saya semacam ingin membangun ‘a good first impression’ terhadap seorang kawan dari Jakarta.
It been a great day. Lama sekali rasanya saya tidak menemukan perbincangan berbobot seperti hari ini. Nice share!
Per satu Oktober ini, jam terbang saya di radio ditambah. Saya ingin mulai menjalani profesi sebagai penyiar ah.. yang saya yakini, hard work never fail me. Kerja keras, adalah semacam password untuk sukses. At least, I’ve made it 😀
Dan seorang kawan, menawarkan pekerjaan untuk saya. Beberapa bulan yang lalu, saya sempat menyatakan ingin bekerja sebagai SPG (sales promotion girl). Dengan alasan saya tidak ingin melakoni pekerjaan yang menguras otak. Lihatlah SPG! tinggal attract some customer, and earn A LOT of money. Tidak perlu berfikir!
Kemarin, saya ditawari menjadi SPG salah satu produk (entah apa saya belum nanya). Dengan gaji enam digit. Siapa yang tak tergiur, the only thing that I have to do is lose some weight. Saya sudah talkactive 😛
Tapi kemudian, saya tolak.
Takut merasa jenuh..
Lantas mengecewakan banyak pihak..

Pancasila Hilang Saktinya

Satu Oktober

Pancasilaku tak lagi sakti

Menjadi penghias kepentingan petinggi
Lumat ia digerus upeti

Pancasilaku hilang saktinya
Seperti karet
Dijejalkan kemanapun kepentingan berseret

Pancasilaku hilang saktinya
Menjadi penghias upacara
Cinderamata dari masa merdeka

Pancasila kini dikebiri

Tuhan Esa diludahi intoleransi beragama
Kemanusiaan di ujung senapan penguasa
Persatuan atas dasar suku dan agama
Kerakyatan yang dipimpin keprihatinan,
permusyawaratan perwakilan pepat kepentingan
Keadilan bagi segelintir kelompok pemenang.

Pancasilaku hilang saktinya
Menjerit ia dihujani lecehan penuh murka.

Kembalilah menjadi sakti, Pancasilaku

Kucing

Ada apa antara kucing dan gadis manis seperti saya? (informasi yang SUNGGUH nggak penting).
Sebelumnya kenalin dulu, ini emak saya :

Foto di ambil ketika beliau berumur 18 tahun. Emak seumuran saya di foto itu. Dan konon, beliau adalah kembang kampung.
Saya yakin, kampung emak isinya adalah jejaka buta 😀 piss, mak.
Nah, emak merupakan penyayang binatang. Buktinya, beliau selalu mencurahkan kasih sayang berlebih kepadaku. (wait.. ini kalimat ngajak berantem).
Saat ini, di rumah kami yang sempitnya monyet monyetan itu dijejali 14 ekor kucing.
May I Repeat.
14 biji!!!!!
Dan mereka makan nasi.
Kira kira ini kalimat regular yang kerap emak katakan:
(aku pulang siaran, menuju dapur)
Emak : Kamu mau makan?
Aku : Yep (buka rice cooker)
Emak : Jangan! jangan makan dulu, nunggu nasinya masak
Aku : Lah, ini apa? (menatap ke dalam rice cooker. nasi masih SETENGAHNYA)
Emak : Pokoknya jangan, itu buat kucing.
Dan setengah jam ke depan, aku mendengarkan orkestra keruyuk sambil menatap 14 biji kucing yang makan dengan penuh kemenangan.
Aku, seperti layaknya penghuni rumah yang lain, sama sekali bukan penggemar kucing. Tapi berhubung di rumah emak adalah Hitler, ga ada yang berani mengeluarkan ide untuk membuang sebagian makhluk berbulu itu.
Dari sekian kucing di rumah, ada satu yang menarik perhatianku.
Kenalin, namanya A Hook

I know, namanya terlalu keren buat bentuknya. 😀
Ini kucing, disebut sebut mengalami penyimpangan orientasi seksual. Disebut, sebut, Dia HOMO!
Kucing ini homo! -_-
Well, analisa ini didasari dari betapa intensnya A Hook digumuli kucing kucing jantan. Dan alih alih bergumul lantaran berkelahi, kucing kucing jantan tersebut nampak bernafsu dan sesekali menggelinjang saat menggumuli A Hook.
Hati emak sungguh hancur, kawan. Bayangkan, kucing yang dirawatnya sejak bayi, disekolahkan dengan baik, bahkan sempat dimasukkan pondok pesantren demi menempa ilmu agama, berakhir hidupnya sebagai homo.
Sebenarnya, kalau menurutku, ini lebih disebabkan lantaran A Hook yang memiliki semacam inner beauty. Kecantikkan. Ia normal kok, hanya saja banyak kucing jantan yang salah kaprah dan mengira dia adalah betina. Ck Ck,. hidup ini berat, kawan.
Dan yang juga menyebalkan, dia ini sombongnya setengah mampus. Mungkin lantaran ngerasa cantik dan yang paling banyak mendapat atensi emak kali ya. Yah.. memang semua orang keren itu sombong. (maap curhat).
Satu lagi kucing imbisil di rumah ;
Namanya Umut.

Dia adalah OMNIVORA! serius. ini kucing pemakan segala. Mulai dari sawi, plastik bekas amplang, sampai sampah kertas. Seperti yang dapat anda saksikan di atas. Umut tengah melahap JAGUNG. Bayangkan! ada kucing makan jagung.
-_- ini kucing apa ayam?

Dan akhirnya, ini menjadi salah satu dari puluhan postingan ga penting di blog ini.
Oia, song for today neh
Grace Kelly – Mika!

Orientasi

Bukan, posting kali ini bukan untuk mengklarifikasi orientasi seksual saya. Mereka tetap begitu, mengambang dan apa adanya (loh). Enggak! saya normal kok! masih suka lakilaki, terutama yang setampan Tom Cruise. Huahahaha.
Orientasi kali ini adalah mengenai poros idup. Banyak yang berubah, belakangan ini. Terutama mengenai kemana hidupku berorentasi. Setahun lalu, lepas lulus SMA, poros hidupku berkblat pada bagaimana nyari duit sebanyak banyaknya. Dan memang, kerja keras never fail us, guys. Di umur 17 tahun aku bisa menghasilnya setidaknya dua juta rupiah sebulannya. Untuk anak lulusan SMA yang tidak punya pengalaman kerja (dan FYI, saya bukan model lebih lebih artis sinetron), duajuta sebulan adalah nilai fantastis.
Syaratnya, tidak mudah kawan. Aku harus berani bekerja dari jam delapan pagi sampai delapan malam. Bahkan lebih. Duabelas jam sehari kuhabiskan untuk bekerja. Dan menjual jiwa pada setan (woh, opo iki). Enam bulan menjalani pola hidup yang mengerikan seperti itu, berhasil membuat saya naik enam kilo 😀 stress!
Akhirnya, kuputuskan untuk melonggarkan nafas, dan menikmati hidup. Dari duabelas jam sehari, sengaja kukuruskan menjadi dua-tiga jam. Dan setelah dua bulan terakhir menjalaninya, saya turun empat kilo 😀
Kini, saya sama sekali tidak malu lagi jika ada yang bilang ‘Sayangnya pang melepas gawian senyaman itu’. Saya tidak lagi merasa telah melakukan hal yang salah. Ini sungguh benar, kawan. Dan yang sadari, uang bukan takaran bahagia. Saya cukup bahagia sekarang, menjalani rutinitas siaran dan menikmati uang tabungan. Mehehehe.
Lagipula, saya toh pada akhirnya bakal jadi beban laki laki yang khilaf menikahi saya kelak. Be prepared, dude!

Ruang Imaji

Kenalin, Mrs. Bleki.

Dan yak, Mrs. Bleki adalah komputer tua ini. Mr. Bleki adalah sebutan buat motorku dulu. Yang sekarang sudah almarhum dan digantikan Tuan Putih. Mrs. Bleki sekarang janda.
Kemarin dia curhat, katanya ga mau menikah lagi. Meskipun Tuan Putih lebih baru dan lebih gaul, Mrs. Bleki tetap setia. Sungguh kisah cinta yang luar biasa (elu bego, bego.). Pasalnya, meskipun Tuan Putih adalah motor yang bagus, baru, dan gaul, dia masih belum menemukan jati diri. Identitasnya masih menggantung pada duapuluhempat bulan kreditan (which is truly killing me monthly). Anda belum dewasa, Tuan Putih.
Eniwei, aku harus membuat semacam koneksi antara judul dan isi postingan ini. Ruang imaji yang kumaksud adalah kamar hitam. Ide untuk mewarnai dinding kamar dengan warna hitam adalah keputusan yang salah, kawan.
Pertama, kamarku tidak seluas lapangan bola. Dan warna hitam memiliki efek memperkecil ruangan. Saat ini, kamarku yang selalu berantakan itu telah bertransformasi menjadi semacam kandang. Kadang kadang, aku suka berhalusinasi ada kuda nil yang lagi leha leha di kamar. Oh, ternyata itu cermin.
Secondly, warna hitam juga berhasil membuat kamarku menjadi lokasi paling bernyamuk dan paling panas di rumah. Tapi entah kenapa, aku selalu menolak tawaran abah untuk ngecat ulang. Terlanjur betah dengan warna hitam ^^
Nah, postingan kali ini makin ga penting dan heading to no where.
Dan aku juga tiba tiba merasa hilang mood.
Baiklah. Sekian.
*krik krik krik*

Kembali Membongkar!

Kembali, menemukan tulisan tulisan lama. Dari sekian banyak sajak yang kutulis.
Dua dibawah ini mungkin paling favorit. Keduanya kutulis dengan banyak melibatkan emosi.

Sebuah Murka

Ketidakberdayaan ini membuat kami pesimis.

Ketidakmakmuran ini membuat kami apatis.

Kemiskinan ini membuat kami atheis.

Kami berdesak di antara jalan berdebu dan parit parit penuh kotoran.

Kami merajut nyawa dengan membanting segalanya di jalanan.

Kami tak lagi sekedar pemenuh peta Kalimantan.

Kami bernyawa, bersuara, tapi senantiasa teredam.

Wahai bapak bapak penjual tuhan.

Kami tak tau bagaimana perasaan bapak waktu bilang sumpah demi Allah di gedung kenegaraan.

Tapi kami orang orang desa sungguh takut bersumpah menggunakan nama tuhan.

Kami takut jika mengingkarinya kami akan berubah menjadi orang utan.

Kami tau ini terdengar klise, corny dan berlebih lebihan.

Tapi seperti biasa kami berkata “padamu harapan kami sandarkan”

Kami harap jawaban bapak tidak “seperti biasanya”, karena biasanya kami hanya menerima kata “tunggu hingga kebinet mendatang” sebagai jawaban.

Kami menjerit lewat puisi dan lagu.

sastrawan dan musisi adalah wakil kami dari dulu.

Kami hanya pesimis suara kami mampu menembus gedung kenegaraan itu.

Konon katanya temboknya tebal sekali, anti peluru.

Pantas saja, ketika kami menjeritkan kelaparan ini, mereka tidak tahu menahu.

Kami ini memang manja.

Kami memang terbiasa meraung untuk hentikan rasa lapar yang merajalela.

Habisnya, kami sudah kehabisan akal mengakali kemiskinan yang tak ada habisnya.

Sebuah sajak, berjudul Sebuah Murka. Tema kemiskinan kayaknya udah terlampau lekat ya dengan hidupku 😀

Dan yang menyenangkan adalah, dua sajak di atas mampu membuatku tembus seleksi wartawan. Dan dua sajak di atas mematahkan kualifikasi ‘minimal D3’ mereka untuk seorang anak 17 tahun lulusan SMA sepertiku.

See, betapa mudahnya hidup dengan menulis ^^

Borneo Dangerous

Sekitar awal bulan Agustus lalu saya menerima sepotong pesan singkat melalui handphone. Kurang lebih seorang kawan yang tinggal di Palangkaraya menginfokan mengenai pagelaran musik keras yang akan diadakan di Taman Kota Palangkaraya. Pagelaran ini merupakan panggung musik keras kedua di tahun ini. Sebelumnya semacam gig metal juga diselenggarakan (Dstorsi Maksimum)


Saya gagal menyambangi keduanya lantaran kesibukan di Sampit (beh, sok sibuk). Nah, untuk yang terakhir, saya berhasil mendapatkan kompilasinya. Tanpa bayar pula (per CD dikatrol harga Rp 15.000). Huahahaha, itulah indahnya pertemanan, kawan.
Album kompilasi sendiri merupakan semacam resume gig yang digelar 7 Agustus malam itu. Yah, seperti layaknya album yang di’sponsori’ rasa independensi yang kuat, maka albumnya sendiri jauh dari ranah komersil. Yang menarik dari kompilasi Borneo Underground adalah genre yang diusung.

Untuk ranah Kalimantan Tengah, terutama Sampit, menemukan band yang dengan bangga mengaku metal cukup sulit. Tapi mengingat kompilasi sendiri berbasis di Palangkaraya, maka rasanya wajarlah, jika genre sekeras metal sudah mewabah. Tapi sekali lagi, untuk seorang Sampit macam saya, ini merupakan barang langka.

Yang membuat saya berdecak kagum adalah munculnya satu band dari Sampit di dalamnya. Meski baru berskala provinsi, saya rasa bisa turut menghajar panggung Borneo Dangerous sudah cukup membanggakan. Semoga apa yang saya tulis di atas senada dengan pendapat kawan kawan dari Salmon.

Ada sembilanbelas band yang tergabung dengan membawakan single jagoan masing masing.

Track pertama dihuni oleh Necrophilia, sebuah band deathmetal yang menggeber malam itu dengan lagu Drenching Myself With Blood meraung tajam lewan alunan distorsi. Demi menikmatinya, saya sengaja membiarkan bar volume player saya penuh. Dan benar saja, Necrophilia memuaskan dahaga saya terhadap musik deathmetal yang pure, sepintas saya menemukan nafas Disgorge dalam musik mereka. Entah, kadang sulit rasanya menemukan definisi yang tepat untuk sebuah band sekeren Necrophilia.

Selanjutnya adalah Uncle Jack Legion. Mendengarkan Uncle Jack Legion membuat saya merasa seperti disuguhkan the Devil Wears Prada bercampur as I lay Dying. Sepintas dan samar samar (mungkin lantaran sample lagu yang saya dapat masih belum tergarap bersih). Benar saja, Uncle Jack Legion menyuguhkan sebuah pertunjukkan apik dengan mengusung genre christian metalcore. Videonya bisa disaksikan di atas. Nuhun, minta izin untuk situs ini, saya unduh videonya ya ^^
(Uncle Jack Legion – Lord is God)
lalu suara gaung gitar yang rapat dan dentuman drum dual pedal memudar. Musik mulai terdengar nyaring, sedikit beraroma country, saya sudah menebak nebak kalau ini pasti Ayo Sekolah milik Jalur Ijo. Benar saja, band punk rock ini berhasil menghalau atmosfir padat metal milik dua lagu diatasnya.
Atensi saya kian menguat ketika mengingat performance mereka dalam Sampit LokalKarya 15 September silam.

Raungan gitar memudar, berganti dengan suara riang bersemangan milik Salmon. Band asal Sampit yang turut meramaikan Borneo Dangerous kompilasi dengan mars mereka ; You are Salmonest. Sulit menyebutkan seperti apa jenis musik mereka. Punk Melodic nampaknya genre yang paling tepat. Ya kan? 😀

Saya sempat mendapat pesan singkat mengenai hadirnya Brutufuck dalam kompilasi tersebut. Ditambah dengan cerita berapi api kawan saya yang kebetulan memang menghadiri acara tersebut, saya semakin bersemangat ketika intro milik band beraliran (?) brutaldeathmetal ini mengalun. Maap kalo saya salah interpretasi musiknya ya.. Tapi setiap saya mendengarkan Fatal Orgasm Machine, musik musik milik Suffocation dan Catalepsy bergaung di kepala saya ^^ pigsquealnya kaga nahan 😀
Kemudian ada sebuah band bernama Kromo Leyo. Awalnya saya agak bingung. Kromo Leyo artinya apa? dan mereka ini beraliran apa? simphonic-kah, gothic-kah, atau justru whitemetal? 😀 sepertinya kuping saya perlu semacam terapi. Terlalu sering mendengarkan Gelap, Otep dan Within Temptation akhir akhir ini. Mereka menggema dengan lagu Kabut Kemurkaan.
Lantas saya mendengar sepenggal kata ‘Jalang’ dalam lagu milik Terangsang Torture. Awalnya, saya sempat terfikir mereka semacam Paracoccidioidomicosisproctitisarcomucosis, band beraliran porngrind/grindcore. Lantas saya kembali berfikir ‘Serius, di sini ada yang berani ngambil genre seperti itu?’ 😀 semacam band yang bermain di jalur mesum yang doyan menggunakan kata kata porno. Ternyata Terangsang Torture yang hadir dengan lagu Primadona Jalang ini menggempur saya dengan alunan Deathmetalnya. Such a Great Song!

Kembali menguar, sebuah lagu milik Stonehead. Hardcore yang sanggup mengingatkan saya pada Burgerkill! tepatnya kala band teluran ujungberung pada masa awal (album berkarat). Wah.. Stonehead mampu membangkitkan kenangan dengan lagu Never Run milik mereka. Dapat dipastikan, crowd taman kota pasti menggila dengan lagu yang berdurasi tiga menit lebih ini.

Yang kemudian berhasil mengubah secara dramatis nuansa playlist saya adalah Dead Occulta. Mereka mengusung Gothic Metal. Terpuruk Dalam Penantian (single milik mereka) sukses membangun nuansa kelam khas gothic. Alunan gitar yang dalam seraya sesekali menukik meningkahi raungan vokal sang vokalis. Dramatis!

Headquarter adalah nama yang mengisi ruang tangkap saya selanjutnya. Saya teringat dengan salah seorang kawan Facebook yang menyebutkan nama band ini dalam wallpostnya kepada saya. Saya kemudian menemukan bahwa Anggri, adalah personil band punk rock ini. Secara pribadi (entah lantaran telah terkontaminasi oleh blog Anggri) menyukai Symphony Lokalisasi milik mereka. Sebuah band keras yang apik. Sekedar info, saya dengar mereka tengah menyiapkan sebuah lagu baru, berjudul Ganja dan Malaga.
Blood Inhibitor. Jujur, ini kali pertama saya mendengar nama dan (tentu saja) mendengarkan lagu mereka. Crusader of God adalah salah satu jenis lagu yang bisa membuat saya jatuh cinta dalam sepintas dengar. Ketukan yang rapat menimpali growl sang vokalis. Jempol ke atas untuk kalian!
Kembali dengan nada nada khas punk, saya disambut oleh Punk School Hero. Khas musik punk, ruang dengar ini serasa disesaki distorsi ala punk ; Penuh emosi dan membakar amarah. Ekspresi berontak yang tertuang secara gamblang. dan mereka mengemasnya secara menggemaskan! Kita Pasti Akan Tetap Bersama Lagi!


(lihat saja logo mereka 😀 berasa logo Pokemon. Menggemaskan)
Ada kemudian nama Sin Eater. Saya sempat mengerutkan kening kala membaca nama ini. Mencoba merunut apakah ada hubungannya dengan film The Last Sin Eater yang rilis tahun 2007 silam. Sayangnya saya tidak memiliki banyak info mengenai mereka. Tidak ada page apapun di internet tentang mereka. Disayangkan, padahal musik yang mereka kemas sanggup membuat saya mengangguk anggukkan kepala. Menikmatinya.
Yang selanjutnya mencuri perhatian adalah sebuah band bernama Anti. Begitu saja, sepengingat saya sebuah band asal Banjarmasin. Ah, pengetahuan band indie lokal saya masih sangat cetek (tapi tetap nekat bikin review).
Morbidtuary. Hmm.. satu lagi nama band bernuansa Gore hadir di playlist saya. Thrash Metal yang mereka usung saya yakini mampu mengguncang Yos Sudarso malam itu. Sepintas, saya merasakan empat nama ‘dewa’ thrashmetal hadir. Lebay memang, tapi ini didompleng perasaan pribadi saya yang kangen dengan Slayer, Testament, Megadeth dan Anthrax. Jadul tapi pure ^^
Sebelumnya saya kerap menemukan nama nama aneh band band indi. mulai dari Sandal Jepit, Rumah Sakit, Bangku Taman, hingga Sri Redjeki. Di Borneo Dangerous saya menemukan nama Nuansa Indah. Kembali, saya kesulitan menemukan korelasi antara nama dan isi Borneo Dangerous yang notabene berisikan musik musik berisik. Don’t Judge the Book by It Cover, my friend. Nuansa Indah mampu menggetarkan playlist saya dengan permainan mereka!
saya menemukan kalimat Long Dick Reduction dari novel Kambing Jantan milik Raditya Dika. Juga di filmnya. LDR, semacam metode pemendekan (maaf) alat kelamin yang dinilai terlalu panjang. Melihat nama band ini, saya berfikir. “Lucu juga nih,”. Dan benar saya, musiknya menarik! Melodic Punk yang dahsyat!

Kill My Soulfly. Melodic death metal yang satu ini membuat saya tergila gila dengan Hidup Setelah Mati mereka. Memang, kualitas rekaman masih jauh dari bersih. Terlepas dari kualitas rekaman, band ini sama sekali tidak dikalahkan oleh kekurangan subjektif. Musik mereka mengalir, stabil dan tentu saja, menyenangkan untuk didengar! ini dia refleksivitas indah dari sebuah New Wave of British Heavy Metal!
Awalnya, ketika melihat cover album, saya fikir RIP dan Heart Scott adalah dua nama band berbeda. Ini sebabnya saya sempat berfikir isi Borneo Dangerous adalah duapuluh lagu. Ternyata, Band Post Hardcore asal Palangkaraya ini bernama RIP Heart Scott. Saya lupa apakah Reason of Emotion yang masuk dalam kompilasi ini. Yang pasti, tidak salah jika band ini menggemari sederet band band deathcore/metalcore. Mereka berhasil meraciknya menjadi suguhan menarik dengan rasa Hardcore yang kental.

Ini dia ke sembilanbelas band yang hadir dalam compact disc bertittle Borneo Dangerous 2010 :
  1. Necrophilia
  2. Uncle Jack Legion
  3. Jalur Ijo
  4. Salmon
  5. Brutufuck
  6. Kromo Leyo
  7. Terangsang Torture
  8. Stonehead
  9. Dead Occulta
  10. Headquarter
  11. Blood Inhibitor
  12. Punk School Hero
  13. Anti
  14. Sin Eater
  15. Morbidtuary
  16. Nuansa Indah
  17. Long Dick Reduction
  18. Kill My Soul Fly
  19. Rip Heart Scott
Satu hal yang membuat saya kecewa adalah kenyataan bahwa saya tidak bisa hadir dan menyaksikan langsung peristiwa bersejarah ini. Dan jangan lupa, beberapa nama yang ada dalam Borneo Dangerous juga turut memeriahkan gig Sampit bernama Sampit Lokal Karya (baca reviewnya disini). Terimakasih untuk kawan kawan dari Headquarter dan Jalur Ijo. Semoga bertemu lagi!
Maafkan jika saya telah lancang melakukan tindakan copy paste (baik foto maupun video) tanpa izin masing masing yang bersangkutan. Maafkan jika dalam review di atas terdapat banyak kesalahan (baik nama, genre hingga judul lagu). Juga terhadap konten tulisan yang sungguh masih jauh dari sempurna. Ini semata wujud rasa sayang saya terhadap musik, dan keinginan kuat untuk menyuarakannya ke dunia luas.
Support Your Local Scene!!
Regard
Rusnani Anwar