Fiksi

kembali beres beres kamar, setelah sebelumnya menemukan naskah drama kancut (baca disindang), kali ini nemu naskah mini novel yang udah keprint. Sekitar dua pertiga. Sepertiganya masih belum selesai. Heran, aku ini paling susah nulis sesuatu yang lebih dari tig lembar. Cepet bosenn.

Naskah ini ditulis pas kelas 2 SMA. Umur masih 15 taun, abege abegenya, gila gilanya. Waktu itu, aku punya hobi menyakiti diri sendiri. Mulai ga makan, nindik kuping, sampai doyan nabrak nabrakin motor ke truk sampah. (oke, yang terakhir lebay).

yang warna ungu, diketik oleh Aulia Mandasari, kawan seperjuangan hahaaha. Waktu itu masih belum punya komputer, Lia yang baik hati itupun rela menerjemahkan tulisan tanganku (yang sumpah jelek abis) ke dalam ketikan komputer. i love u dah, aw.

Isinya, kurang lebih seperti hiperbolanya diariku. Believe me, itu mungkin termasuk salah satu dari karyaku yang paling makan emosi. Pas nulis endingnya (yang sampai saat ini masih berbentuk tulisan tangan), aku sampai nangis guling guling. Sambil makan beling.

hahahaha. Kali ini kuposting ah…

Bernafas dengan nafas baru…

Take a deep breath…

Aku harus “menyelesaikan” kegilaan ini, kutatap langit, aku sudah terlalu lama tak ber “emosi”, hanya memasang wajah datar, sekacau apapun badai dalam hidupku (atau memang sudah tak ada lagi rasa yang tersisa? Atau memang tak pernah ada badai dalam hidupku?), rasanya sudah terlalu lama sekali aku gak pure tertawa.

Kututup laptop. Mengambil selembar kertas dari binder maple

geologi. Lantas mengobrak abrik tas demi menemukan pulpen.

Benar, aku harus mengakhiri kegilaan ini.

Aku harus lepas dari depresi ini.

(sebelum aku mengidap disorder bipolar, gila, atau bahkan kecenderungan menjadi psycho).

Belum juga kutulis sepatah kata di atas kertas, airmata telah menetes. tapi ini harus berakhir.

Dia harus tau perasaanku.

Sooner or later.

Confession

“bohong namanya kalau aku tak kehilanganmu

Sosok indah pengisi gelap hariku.

Bohong kalau aku bilang

“tak apa-apa, aku baik-baik saja”

Ketika kau memutuskan untuk menghilang dariku.

Ketika kau pergi…

Bahkan tanpa mengucapkan kata “selamat tinggal” untukku.

Tapi akan amat sangat konyol sekali jika aku datang ke hadapanmu dan berkata “jangan pergi karena aku mencintaimu”.. isn’t?

Aku hanya mencoba bertindak rasional, berfikir realistis. Siapa “aku” sampai begitu egoisnya mengharap cintamu, aku hanya ananta bodoh, yang begitu mudah terbang, dan begitu tersakiti ketika jauh ke tanah.

“aku” hanya ananta bodoh, yang senang melayang, lantas terantuk langit-langit keterbatasannya.

Jadi,ini adalah surat cinta berisi perasaan bodoh yang kupendam selama 3 tahun untukmu.

Pernyataan bahwa..

Aku bahagia bertemu denganmu.

Karena kamu mengajarkanku untuk berdiri di atas segala cacatku.

Pernyataan bahwa..

Tak akan pernah ada kata menyesal untuk perasaan ini.

Sekonyol, segoblok, sesakit apapun rasa ini berimbas kepadaku.

Pernyataan bahwa.

AKU MENCINTAIMU.

Dan aku ingin menghentikannya.

So,farewell for u.

Find ur expectation.

god luck”.

Kubaca sekali lagi, segera aku beranjak, sebelum aku berubah pikiran, aku harus menyelesaikan ini.

Sekarang.

Tak perduli sudah jam 2 malam atau apapun.

Sekarang.

Ku gas motorku secepat mungkin, hingga nafasku terasa sesak. 80.. 90…. 100, kerumunan komunitas jalanan menatapku dengan tatapan garang. Dengan kecepatan seperti itu, sama saja dengan menantang keotoritasan mereka. Tapi aku tak peduli, go head, kejar, tabrak, bunuh saja..

Rumahnya sepi, kupencet bel di pagar rumahnya. Lama kutunggu. Kupencet lagi. Sedikit tersentak dengan bunyi kunci rumah yang dibuka. Ben keluar.

“Nanta?”, katanya, kebingungan melihat sosokku

“ini”, kuserahkan kertas itu, tanpa amplop, tanpa serpihan mawar, tanpa airmata.

Dia menatapku lama, aku tertunduk, lantas terkejut mendengar suara wanita dari depan pintu, mengganggu adegan “tersipu-sipu” ku.

“beib…itu siapa?”,

Deg! Perempuan di took kaset tempo hari ada disana.

“oh, ini Nanta, temanku”,

Sejuta paku, jarum, tetesan air raksa terasa menghujaniku.

“masuk aja nan, dirumah lagi ga da sapa-sapa, lagi pada liburan”, ujar ben, membukakan pagar lebih lebar.

Suaraku terasa tercekat di tenggorokanku,

“gak usah, aku pulang aja”.

Kupacu motor sepelan-pelannya, melalui jalan-jalan sepi, anehnya, tak ada airmata, hanya sesak.

Aku menuju gedung belum jadi di pinggiran kota, naik ke atas sana, menampar tembok hingga tangan memar dan berdarah, beringsut pelan aku duduk. Berteriak sekuat-kuatnya.

Kutatap tembok kosong, kutatap awan hitam.

Anjing!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Konyolnya aku berharap 3 tahun berlalu dan ia masih menginginkanku.

Gobloknya aku yang mengira dia sibuk dengan kuliahnya dan fokus terhadap karirnya hingga ia menolak untuk mencintaiku.

Goblok!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Kuambil cutter dari dalam tasku,

Kuiris pelan ke pergelangan tangan,

Hanya darah yang kulihat, mengalir pelan. Bukan kematian, bukan malaikat maut.

“kurang dalam”, batinku

Ku ambil lagi cutter,

Hapeku bergetar,

Mama, calling..

Kuurungkan niatku untuk mati, aib apa lagi yang harus ditanggung orangtuaku??

Mereka sudah “melarikan diri” ke kota lain demi menghindari malu karena Rara menikah dengan perut membesar, kemana lagi mereka harus lari jika dunia sampai tau, kalau Ananta, anak kedua yang selalu mereka banggakan karena mendapat beasiswa dan mampu menghidupi dirinya sendiri mati bunuh diri hanya karena patah hati?? Hanya demi masalah sepele?

HP ku bergetar lagi,

Kudiamkan, kembali ku terbang ke dunia lamunan.

Kali ini benda sialan itu mengeluarkan nada, ada pesan. Pelan memang, tapi sangat mengganggu.

Benda sialan ini bergetar lagi,

Kulemparkan benda itu ke tembok kosong, serpihannya melayang, benda itu sekarang tergeletak diam, mati.

Lama aku duduk dan termenung di gedung itu, menatap dinding, memikirkan betapa konyolnya perasaan ini.

Gak penting.

Pagi menjelang, kutatap ke bawah gedung yang menghadap ke arah jalan raya, rombonga ibu-ibu penjaja sayur lewat, anak-anak pergi ke sekolah, petugas PU menyapu jalanan.

Hidup ini sebenarnya sengat sederhana, aku saja yang berlebihan menanggapi semua peristiwa.

Beranjak aku pergi, darahku sudah mulai kering meski memar kebiruan masih tersisa disana.

Ruang tamu rumah rara kosong, tumben, biasanya celoteh adinda mengikuti acara sesame street menggema. Aku benci anak-anak, menarik simpati dengan kpolosan mereka. Munafik. -Biasanya aku pulang dari kampus pagi hari, kerumah Rara sekedar berganti baju atau sarapan, lalu pergi, rumah Rara hanya tempat transitku untuk mandi-. Kumasukkan kunci serep ke dalam tas, mengambil handuk, HVS yang menempel di kulkas menarik perhatianku.

Nan, cepat susul kami ke Banjarmasin, ayah sakit, aku sudah berangkat tadi malam, kamu dihubungi gak bias, tiket bus ada di bawah taplak meja makan”

Batal aku mandi, bergegas mencari tiket, jam keberangkatan bus adalah jam 8. Kuputar pandanganku, menyapu dinding, damn!, di mana benda sial itu berada?? Panik aku menghambur menuju kamar. Jam 7.34. kupacu ngebut motorku menuju terminal.

Jam 2 siang, Palangkaraya, ini sebabnya aku benci bus, terlalu sering transit, entah untuk makan penumpang, ke WC, ateu sopir yang napsu buat beli rokok!, lambat!!!! Teriakku dalam hati, perasaanku tidak enak, entah mual, luka-luka ditanganku yang mulai berdenyut perih, entah apa.

Jam 6 sore aku tiba di Banjarmasin, ganti bus, menuju desa ayah di perbatasan Kalimantan timur, jam 10 malam akhirnya benda rongsok ini tiba di desa ayah, diluar mendung, seberkas cahaya mulai menyala redup di tiap-tiap rumah di kampung yang nyaris seuruh pendududknya dalah petani karet. Nyaris tertatih aku berjalan, menapaki jalan kecil di pinggir sawah, menuju kampung ayah….

Rasanya gelegar petir, segala rupa kepedihan menyambarku saat itu juga, alunan tahlil, mura’tal alqur’an, bendera hijau di depan rumah ayah adalah satu-satunya mimpi buruk, mimpi terburuk yang bahkan tak berani untuk kumimpikan.

DAN ITU TERJADI.

Aku terlambat 2 jam, aku terlambat meminta maaf pada beliau di helaan nafas terakhirnya, aku terlambat atas segala salah dan maafku.

Satu minggu aku disana, bukannya ikut manyibukkan diri dengan mengurus pemakaman, aku hanya pergi ke bukit hjau di pinggir sawah, ketika pagi, lalu pulang saat matahari mulai tenggelam, selama seminggu penuh.

Malam ini, setelah acara tahlil 7 harian, aku minta izin untuk pulang, cuti kerja selama 7 hari penuh, tanpa pemberitahuan, aku takut tidak ada toleransi lagi untukku.

“pulang saja, jaga kesehatan ya”, kata ibu, menatap wajah beliau rasanya begitu berat, terlalu banyak sedih menggantung disana.

“iya ma”, jawabku singkat,lantas kembali memulai perjalanan panjang dan melelahkan, menuju tempat yang bahkan tak berani ku panggil rumah. Tak ada satupun tempat di dunia ini yang mampu kusebut “rumah”.

Aku mengutuk cinta ini.

Aku mengutuk ben dan perempuan itu.

Aku mengutuk aku.

Aku mengutuk tuhan.

Aku mengutuk takdirku.

I’ve been so unconcious for a long time. I wanna wake up. Wake me up!. Aku harus berhenti sadomasokis, aku harus berhenti menyakiti diriku sendiri, aku harus berhenti “sendiri”, aku tak ingin tak ada satu orangpun yang nantinya datang di pemakamanku. AKU HARUS BERHENTI.

Mencintainya.

Aku merelokasi hidupku. Tak lagi berkutat dengan dunia “kedua”, tapi fokus terhadap dunia nyata. Kuhentikan kegilaanku pada dunia cyber, mencoba untuk bersosialisasi, menemui hal-hal baru. Dan kuharap. Bertemu dengan seseorang yang mampu sembuhkan kegilaanku pada Ben.

Malam tiba dan aku masih selalu berada di lantai teratas gedung kampus. Kukemasi semua barang, memasukkannya ke dalam tas tua yang setia menemaniku sejak bertahun-tahun lalu. (bukti kegilaan lainnya, aku masih memakai barang yang pernah kupakai waktu Ben masih bersamaku. Kusimpan untuk alasan nilai historisnya tertalu tinggi, hingga ia tak layak dibuang). Menuruni tangga sepi, gedung ini Cuma 3 lantai, khas daerah tertinggal.

Menyusuri jalan-jalan dalam kota, hingga tiba pada daerah pinggir kota, kutatap gedung yang pernah menjadi saksi ketololanku karena mendiamkan panggilan mama tentang kematian ayah, malah lantas melempar benda itu, hanya untuk alasan bodoh : mengganggu konsentrasiku meratapi kepedihan karena berhenti mencintai Ben.

Sebenarnya tak ada yang salah pada gedung tua ini. Sama layaknya gedung-gedung terlantar lainnya. Yang membuatnya istimewa adalah, cerita di balik pembangunan gedung ini. Sebuah gedung yang di alokasikan sebagai hotel berlantai 7 di hentikan pembangunannya Karena pemiliknya bangkrut, lantas bunuh diri. Selain itu, setelah kematian sang pemilik, 2 orang pekerja tewas tertimbun batu kasar. Semenjak saat itu, gedung ini ditelantarkan, tak ada yang berani membelinya, alih-alih mendirikan bangunan di atasnya, karena konon katanya, arwah ketiga orang itu masih berkeliaran di sekitar gedung. Well, sekali lagi, sangat khas daerah terpencil, menggantungkan hidup pada mitos konyol yang belum tentu benar.

Gedung itu tua, berlumut, dan tanaman liar merambat dimana-mana. Kusembunyikan motorku ke ruangan yang seharusnya dijadikan lobi hotel. Tak lucu saja rasanya jika aku digaruk satpol PP atas dugaan melakukan tindakan terlarang disini. Kukeluarkan charge lamp dari dalam tas, lampu kecil itu menyala, menerangi ruangan dalam gedung ini. Kontur gedung yang seharusnya jika selesai dibangun ini akan bergaya minimalis, mempermudahku untuk menapaki bongkahan-bongkahan beton yang mulai runtuh dimakan usia, setelah “mendaki” bongkahan beton, aku menuju lantai 2, disini tangga yang terputus dilantai 1 tadi utuh, menjulang tinggi hingga lantai teratas, aku dapat melihat beberapa sisa-sisa pot bunga besar di samping lift, lukisan-lukisan yang mungkin beberapa tahun lalu masih utuh bentuk rupanya.

Lantai ketiga, aku dapat melihat bahwa pembangunan gedung terhenti di lantai ini, bekas-bekas kayu tempat semen, kuas, dan banyak sekali peralatan pertukangan tertinggal disini. Ada fiberglass yang menutupi lantai ini. Mungkin untuk melindungi pekerja dari hujan pada saat pembangunannya. Sekarang fiberglass itu tak lagi utuh, tapi kurasa cukup untuk melindungiku terhadap peluang hujan. Di sela-sela fiberglass, aku dapat melihat bintang, bertebaran. Jika aku adalah tipe perempuan melankolis, aku pasti akan membayangkan menatap bintng ini bersama kekasih tercinta, diiringi lagu answer dari Sarah Mclachlan. Haha. Poor me, nop, poor the stars, I just ignore ‘em. My romantic mood already gone.

Kupilih tempat di pojok gedung, meletakkan charge lamp. Rasa tekut sudah menguap pergi. Entah kemana. Kuambil binder, menggambar sketsa untuk “lukisan” pertamaku. Pathetic me, tercetak lumayan indah di kertas ku. Kuambil beberapa pilox dari dalam tas, menghamburkannya ke dinding polos berwarna putih yang sudah mulai berwarna kekuningan di sudut gedung. Tak lupa kububuhkan inisialku pada pojok graffiti. “lumayan”, batinku, tak sia-sia rasanya semenjak SD aku sudah aktif menggambar sailormoon (hahaha).

Suasana kampus riuh. Kerumunan orang menyemut di sekitar panggung, kampus mengadakan pensi hari ini, acara di gelar hingga larut malam, kredibilitas atap gedung kampusku terancam dengan banyaknya panitia yang memutuskan untuk menginap di kampus.

Jam 11 malam, crowd mulai memudar, tinggal penitia dan beberapa orang dari pihak sponsor menata panggung dan stand, untuk besok pagi. Menuju gerbang, ada Ben, di parkiran, memeluk nanda, suasana memang sepi, agak gelap. Whadda perfect moment. Aku rasa mataku memanas, “untung saja gelap” batinku. Tanpa mengindahkan mereka sama sekali, aku berlalu. Kukira aku akan sampai dengan selamat ke gerbang, hingga saat tanganku ditarik olehnya.

Tangannya memegang bahuku. Menatapku dalam, damn! Airmata sial ini tak mau kompromi padaku sama sekali, dengan riang gembiranya mereka bermain perosotan dipipiku.

“nanda, kamu duluan ya, nanti kususul, aku mau bicara dengan nanta”, bisik Ben pada nanda yang saat itu berada disisinya.

“iya beib, nanda tunggu yah”

Lama aku membatu, hingga akhirnya suara Ben menyadarkanku kalau ternyata aku masih ada di bumi.

“Nan,mengenai suratmu”, suara Ben tertahan, tangannya memegang pipiku, membimbing wajahku yang tertunduk dan dibanjiri airmata untuk menatapnya. Tangannya mengusap pelan airmataku. Aku terpaku. Tak mampu ucapkan apa-apa, tak mampu bergerak barang seincipun.

“Aku dan nanda sudah berpacaran sejak aku SMA, saat mengenalmu, aku sama sekali tak berharap agar kau jatuh cinta padaku, aku menganggapmu sama seperti Rara, teman”

suaranya pelan, bahkan nyaris berbisik, namun terdengar layaknya aku sedang berdiri di samping soundsystem konser bleeding corpse. Terasa mendenging, pusing, menyakitkan.

“Nan?”tanyanya pelan, seolah-olah meyakinkan ku bahwa aku benar-benar mendengar pernyataan indah itu.

“bukankah hal yang wajar jika seorang teman datang dan pergi dalam hidupmu? Aku meresa tak layak bilang selamat tinggal pada saat itu, karena kurasa kamu adalah temanku, dan kita akan tetap berteman, no matter how long I’ve been passed away from your life!” terang ben panjang lebar.

Suaraku terasa bergetar saat aku berkata

“kalau begitu, aku mengerti, jawabanmu sangat sederhana. Cinta itu tak pernah datang padamu, aku yang berlebihan menanggapi semuanya”

Kali ini Ben menggeleng

“apa yang kumaksud tidaklah se gamblang itu, aku hanya merasa, kita adalah teman, dan selamanya hubungan pertemanan ini tak akan berubah!”

Kujawab dengan sangat pelan

“Aku tak berharap kita dapat berteman, aku sama sekali tak inginkan orang sepertimu menjadi temanku”. Kulepaskan tangannya yang menggenggam tanganku sedari tadi, kemudian melangkah pergi.

Suara Ben setengah berteriak saat langkahku makin jauh menyentakku. Membuat airmata tolol itu tak berhenti hingga pagi.

kalau begitu fine! Anggap saja aku tak pernah datang dalam hidupmu. I mean it. Farewell for you!!”

Aku akhirnya punya hobi baru, terasa sangat menyenangkan untuk menuangkan segala rasa dalam bentuk umpatan berformat graffiti, longgarnya pengamanan daerah-daerah pinggir kota mempermudahku untuk “melancarkan aksi”, haha. Sebuah umpatan kekeceewaam mendalam, terhadap kisah konyol yang membuatku tertahan selama bertahun-tahun, kisah yang menghentikanku bertingkah normal, berhenti berfikir rasional. Inisial namaku selalu menyertai pojok-pojok graffiti asal tanpa basic seni itu. Kembali aku mengingat suara Ben yang terpeta cukup jelas pada surat kecil di lokerku pagi itu.

“aku sudah meyakini ini akan terjadi, kau datang padaku dan menawarkan cinta. Maaf Nan, sekali lagi ini bukan salahmu. Ini salahku yang terlalu menyepelekan batasan pertemanan kita. Aku terlupa hingga tak menyadari telah memberimu sebuah rasa, maaf.”

“cowo anjing”, gumamku tanpa sadar, jadi selama ini dia ada dibelakangku, tertawa sepuasnya atas segala rupa kekonyolanku dalam rangka mencintainya?. Aku merasa malu, tapi lebih di atas itu, ada sebongkah rasa marah yang amat sangat, yang tak bisa ku ungkapkan, there is no other way but struggle, melawan hari-hari selanjutnya dengan tatapan menghina Ben di setiap langkahku..

“aarrgghhh.. kok aku jadi parno gini sih?” umpatku, menendang kaleng-kaleng pilox kosong. Biar mampus aku tak mau peduli, sudah ancur, sudah selesai. Kunyalakan rokok, jam 1 malam, gedung pajak yang batal dibangun gara-gara proposal pembangunannya ditolak pemda. Sebuah tindakan yang amat bodoh sebenarnya, melakukan tindakan sia-sia, seharusnya jangan buang-buang APBD buat hal-hal yang gak pasti.

Kutatap graffiti ke 3 ku minggu ini. Diambil dari band favoritku. Necrophagist, “hahaha”, aku tertawa dalam hati membayangkan muka pekerja bangunan yang membangun gedung ini, melihat karyaku, dari kejauhan terdengar deru motor, kutajamkan telinga, ini hanya motor biasa, bukan suara engine motor polisi. “paling juga gank motor”, batinku. Dan benar saja, rombongan anak-anak muda beserta motor mereka lewat, mereka menamakan diri sebagai KMM, Komunitas Motor Modifikasi, isinya, ya anak-anak muda dengan orangtua kaya raya yang mampu membelikan anak-anaknya motor super mahal, lantas membiayai modifikasi yang harga nya naujubile, komunitas ini sendiri lumayan disegani di kota ini, anak bupati menjadi salah satu membernya. “ah, peduli”, batinku, mengemasi kaleng-kaleng yang belum sepenuhnya habis. Tepat saat rombongan itu melintasi gedung pajak ini.

Kulihat salah satu dari rombongan itu memelankan laju motornya, menunggu jalanan sepi, lantas berputar arah, menujuku, aku tersentak, mereka-reka apa salahku padanya. Kucoba bersikap tenang, damn, terlalu lama tak pernah berhubungan dengan manusia, penyakit “speechless” ku makin parah, gugup, kaku, tak bias bicara apa-apa, dia mematikan motornya. Melangkah ke arahku, lantas melakukan hal yang kuduga sebelumnya(tadinya kupikir dia akan melakukan tindakan kriminal: memalakku misalnya), dia mengulurkan tangannya. Setengah kebingungan aku berkata.

“apa maksudmu?”,

Dia hanya tersenyum, meraih tangan ku, menjabatkan tanganya dengan tanganku.

“aku Dimas”.

Kurasakan suaraku bergetar ketika kusebutkan namaku.

“Nanta.”

“kamu…kenapa ? langsung ngajak aku kenalan?” lanjutku hati-hati, mewaspadainya, takut ia mengeluarkan pisau dan menodongku. Haha.

“aku suka graffitimu, necrophagist adalah band teknikal favoritku”.

Aku hanya mampu ber-“oo”, meskipun aku sedikit kaget ada orang yang tau necrophagist di kota sekecil ini.

Tanpa memperdulikan aku yang sudah totally confuse, dengan ringannya ia menarikku untuk duduk di salah satu bongkahan gedung.

“untuk necrophagist,aku kurang suka semenjak Romain Guilon diganti Hannes grossman”, katanya, memaksaku untuk ngobrol dengannya.

Merasa tertarik dengan topik pembicaraan, aku pun menimpali ceritanya dengan seru.

“hm, makanya aku lebih suka album onset of putrefaction daripada epitaph, kurang maksimal, ditambah lagi, Hannes Grossman sudah keluar dan digantikan Marco Minneman, Hannes bikin band Obscura bareng Christian Muenzner,mantan gitaris necro, hehe”, cengirku tak keruan.

Dimas terdiam, terlihat seperti terkejut tatu menahan kentut(aku kurang pandai membaca ekspresi).

“kamu tau??? Kamu adalah makhluk langka!!!”. Teriaknya memecah orchestra jangkrik di semak-semak sekitar.

Aku bekakakan ga kepalang.

“jarang ada cewek seneng metal, apalagi di kota sekecil ini!”,

Dia mengeluarkan mp4 dari dalam ranselnya, menawariku memakai headphone kecilnya, kukenakan, terdengar raungan distorsi dari dalam sana.

Dia tersenyum.

“gimana?”. Tanyanya, menanti jawabanku.

Kulepas headset, tersenyum.

“brutal death ya?” tanyaku.

“ah, nyaris!, itu hyperblast”.

Aku cekikikan.

“hehe, keren lho.. sekilas rasanya aku kaya dengerin disgorge, atau jangan-jangan ini album barunya opium ya? Band bandung yang mirip disgorge itu”.

Kulihat dimas merengut, tampak tak terima mendengar nama opium.

“itu band dari Jakarta…”

Belum selesai kalimat dimas, lantas kupotong.

“HM.. grausig yaaa”, sahutku dengan napsunya.

Dimas terlihat makin ngambek, ekspresinya kocak banget, tanpa sadar ku tertawa, lepas, tawa yang tak pernah kukenal selama 3 tahun belakangan ini.

“ini kan bandku Nan.. memang sih, belum sebesar grausig..”

“tadi cuma becanda kok, grausig vokalnya beda dengan ini, aku suka bandmu, inhale-nya manteb” komentarku,

“bener kamu suka?aku lho vokalnya”,

Obrolan kami pun berlanjut hingga pagi, benar-benar malam yang menyenangkan, tanpa kusadari, ada setitik perasaan gembira kurasakan, seperti menemuka orang yang “sama” sepertiku. Melangkah ringan ke rumah Rara. Bersenandung riang menuju kampus.

Namanya Dimas, dialah pengisi hariku saat ini, dialah yang selalu menemani malam-malam ku, sekedar sharing tentang musik, atau bertukar pendapat tentang suatu masalah, kegemarannya pada music metal membuatnya menjadi sosok orang yang unik, yang dewasa, struggle, dan selalu berjuang. Pernah pada suatu malam di gedung tua yang sudah kami noktahkan sebagai “markas” kami, pembicaraan seru tentang album terbaru cannibal corpse, evascreation plaque, tehenti, dimas tiba-tiba diam, aku sempat bingung, apakah efek terlalu banyak minum arak lokal, dia jadi kencang tak keruan, atau memang ada yang tiba-tiba mengusik pikirannya (aku bahkan sempat mengira Dimas kesambet).

“kamu..”

Suaranya terhenti, menatapku lama. Membuatku berfikir keras, ada apa? Apa yang begitu mengusiknya hingga membuat pembicaraan tentang fatalnya kesalahan slipknot yang berubah jadi “tidak-matal-lagi”.

“aku baru aja..”

“ya, Dim?”, tanyaku penasaran.

Dimas tiba-tiba tertawa kencang,

“aku barusan kentut Nan!, itu memerlukan konsentrasi penuh!”

Teriaknya sambil berdiri, menghindari sambitan kaleng pilox ku.

“Nan, tolong packing in barang baru ya”, kata Tyo, manager toko menyuruhku, aku tak di pecat semenjak terakhir kali aku bolos hingga 7 hari, alasan menghadiri pemakaman ayah ampuh buat tetap mempertahankan posisiku di toko ini.

Selesai packing, aku kembali ke meja kasir, tempatku bertugas selama ini. Memutar lagu limp bizkit, yah.. band industrial metal ini cukup memuaskan daripada aku harus memutar lagu-lagu ungu sebagai backsound toko. Kualihkan pandangan pada mobil VW biru muda yang memesuki pelataran toko. Pelanggan, batinku sambil berdiri, satu kebijakan konyol toko bahwa selama customer ada dalam toko, para pegawai wajib berdiri, dalam posisi siap melayani. Sucks,. Ternyata yang datang adalah Nanda, tanpa Ben.

Dia melangkah menuju ke arahku. Menyerahkan amplop merah muda berenda, tersenyum kecil, (entah mengapa aku menginterprestasikan senyum itu sebagai senyum kemenangan). Lantas berlalu. Tak perlu dibaca seluruhnya, aku sudah tau, itu undangan pernikahan, cukup dengan melihat foto dan tulisannya. “to : Nanta and partner”, ada perasaan aneh, perih sekali, sangat sakit, membayangkan orang yang mengisi pikiranku bertahun-tahun, akan menikah dengan orang lain.

Pulang kerumah. Kesepian membuatku semakin gila. Kuputuskan buat gak ke kampus hari ini. Aku terlalu lelah untuk menghadapi kehidupan, Rumah kosong, Rara dan suami beserta anaknya pergi liburan, ke Bali, kuhabiskan waktu hingga pagi hanya dengan tidur. Berangkat bekerja seperti biasa, tapi Tyo akhirnya menyuruhku pulang cepat kerena pekerjaanku tak ada yang beres, seharian itu, aku menjadi orang linglung, stuck, tak mampu melakukan apapun, karena bayangan akan Ben yang duduk di pelaminan, bersama Nanda, terus mengusik prikiranku.

Pernikahan itu akhirnya terjadi, seperti seorang “geek”, aku mengamati prosesinya dari kejauhan, ya, ada harapan konyol di dalam hatiku bahwa akan ada badai Katrina, angin puting beliung, atau bencana besar lainnya, yang mampu menggagalkan pernikahan ini, lebih-lebih, membunuh Nanda dan meninggalkan Ben hanya untukku.

Tertatih pulang, hidupku terasa terhenti pada hari itu,I feel nothing but empty, aku merasa kosong, aku merasa hampa. Aku lupa akan segalanya, kuputuskan untuk tidur, hari Minggu, dan kupaksakan untuk bangun pada sore senin. Tidur rupanya tak mampu membuatku lupa akan segalanya. Aku menuju pojokan kamar, menangis pelan hingga pagi menjelang.

Ini hari kelima aku “berduka cita”,akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan hidup, 5 hari tak bekerja, 5 hari tak pergi ke kampus, aku hanya takut jika dunia berhenti peduli padaku. Kuraih tas bututku. Akhirnya, seletah sekian lama, aku memutuskan untuk berhenti menggunakan tas ini, berharap dengan membakarnya, kenanganku bersama Ben juga akan terbakar lenyap bersamanya. Selagi membongkar tas, aku baru sadar bahwa telah melupakan sesuatu, Dimas!, bisa-bisanya aku lupa dengannya,kuraih handphone. 5 hari handphone ini kumatikan, buset. 29 pesan, semuanya dari Dimas (betapa menyedihkannya aku, hanya ada satu oreng yang peduli padaku, bahkan setelah 5 hari aku tak melakukan apa-apa). Kubaca dari bawah.

Nan, ad hal pnting yg gw mw ksih tau. Mlam ini ke markas ya”.

Message sent : 17 februari 2009.

Kulewati beberapa sms, menuju sms teratas.

gw brngkat ke Jakarta hari ini Nan, lo dmana? Please temenin gw..”.

Message sent : 22 Februari 2009.

“ke Jakarta? Ngapain dim?”, aku balas smsnya. Lama kutunngu laporan pengirimannya. Kok pending?, kucoba untuk menghubunginya. Namun operator yang maha baik di ujunga sana memberitahukan bahwa pulsaku sangat-sangat tidak mencukupi untuk melakukan penggilan, 56 rupiah.

Damn, ini jam 2 malam dan dimana ada counter yang buka selarut ini. Kubaca semua sms Dimas, aku tidak mengerti, dia seperti sangat membutuhkanku, sms-smsnya berisi nada kebingungan. Hingga akhirnya di satu smsnya aku menemukan titik terang.

Nan, aku tinggalkan sebuah cerita untukmu, cerita yang sbnarnya ingin q crtakan sjak dlu, di markas kita, sbuah kotak hitam ada untukmu”.

Message sent : 22 februari 2009

Tanpa berfikir panjang aku bergegas menuju gedung itu. Memarkir motor seadanya, setengah berlari -seakan Dimas yang menungguku disana- menuju lantai teratas. Apa yang dimas katakan benar, 5 hari aku tak kesini, graffiti sudah bertambah 1, tulisannya sederhana. “Nan, I miss u”. that’s it. Tulisan-tulisan didinding seolah mewakili perasaan Dimas, semuanya bertema gore, khas Dimas, damn, aku sangat menyesal tidak pernah mengenal dimas begitu jauh. Aku tak tau dia anak siapa, kuliah dimana, apa alasannya pindah dari Jakarta ke kota sekecil ini, aku bahkan tak tau apa nama panjangnya!. Padahal selama ini, seluruh malam-malam gilaku, kulalui bersamanya.

Melihat semua ini, aku jadi teringat sebuah perdebatan sengit kami tentang masalahku, aku akhirnya membagi masalah ini, entah mengapa, pada malam itu aku hanya perlu teman bicara. Kutanyakan padanya sebuah pertanyaan yang menggantung di benakku selama ini.

coba kamu pikir Dim, untuk apa tuhan ciptakan seorang Ananta, jika pada akhirnya aku hanya merasakan derita? Untuk apa aku dilahirkan, jika aku seakan tak punya hak sama sekali untuk merasa bahagia?”

Dimas terdiam, cukup lama, dia mengusap kepalaku pelan.

Ben itu goblok. Dia kehilangan kesempatan untuk memiliki seorang cewe, yang sehebat kamu, secerdas kamu, sepinter kamu.”

Aku menggeleng, aku merasa tak sehebat itu.

Dimas menggeser duduknya, menghadapku.

kamu masih cinta sama dia?”,tanyanya.

Dengan semua rasa yang tersisa, aku tak dapat memungkiri, aku mengangguk pelan, sambil terdiam-terisak.

“kalau begitu. Yang goblok itu sebenarnya kamu.”ujarnya, membuatku bertanya-tanya apa salahku sebenarnya.

“kamu punya kesempatan untuk bahagia dengan melupakannya, dengan tidak terhenti hanya untuk makhluk gak berguna kaya dia. Tapi kamu sia-siain, sekarang siapa yang bodoh sebenarnya?”lanjutnya.

Aku termenung. Memikirkan letak kebenaran kata-katanya.

tapi…”kilahku

apa salahnya jika aku jatuh cinta padanya?”

Dimas tertawa, seakan menertawakan seonggok badut yang berusaha tidak melucu, memungkiri takdirnya.

ga ada salahnya kamu jatuh cinta dengannya, itu normal, itu sangat manusiawi, yang salah adalah, kamu yang berhenti buat terus hidup, hanya demi mengenang cinta yang pernah kamu rasakan padanya..”.

Terangnya panjang lebar.

Itu adalah pembicaraan terakhir kami, perdebatan yang tak menemukan akhir, karena terhenti olehku yang merasa Dimas terlalu sok tau. Kutinggalkan ia malam itu, malam ketika paginya Nanda datang, membawakan surat “kematian’ untukku. Haha. Aku masih mengganggap pernikahan mereka adalah bencana.

Lama aku terdiam di sudut ruangan, botol-botol minuman, puntung rokok dan kaleng-kaleng bekas menyampah di ruangan ini. Bekas kami, kupungut satu diantaranya, meremukkan kaleng itu. Mencoba mengusir kenangan pernikahan mereka dengan resa sakit. Akhirnya kutemukan kotak yang Dimas maksudkan, kotak hitsm, bertuliskan “untuk nanta” di pojoknya.

Kubawa kotak itu, mendekati charge lamp yang kuletakkan di dekat graffiti. Membukanya. Ada sebuah buku disana, dahiku berkerut, serasa mengenal buku itu, ah iya! Ini deathnote, bonus sebuah majalah manga bulan Desember lalu, Dimas berjanji akan mencarikannya untukku setelah aku jejeritan tak keruan melihat Kenichi Matsuyama saat kami membeli beberapa kaset minggu lalu, aku sangat tergila-gila pada komiknya, dan Kenichi Matsuyama adalah salah satu karakter di filmnya, sebagai L. aku tersenyum melihat buku itu.

Aku selalu ada, akan selalu ada.


I’m An Artist :D

Judulnya saru! hahaha. Aku, sedari dulu memiliki semacam kegilaan terhadap dunia broadcast/media. Menjadi terkenal dan berkarya secara kreatip. An Art-ist. Pelaku dunia seni. Dan berhubung aku gapunya talenta berlebih dalam dunia akting, maka cita cita menjadi artis sinetron kuhapus jauh dari daftar mimpi.
Tadi siang ngebongkar dus dus tua di kamar. Menemukan empat buah komik H2-nya Adachi Mitsuru dan dua buah naskah drama. Naskah Drama. Ada apa antara aku dan naskah drama?? (jeng jeng)
Tepat, SMA ku dulu memiliki semacam ketentuan untuk mengadakan ujian praktek kesenian. Dan kami memutuskan untuk bermain drama. Keputusan yang salah, anak muda. Terutama jika kalian meminta seorang kutu buku yang punya obsesi berlebih terhadap abad pertengahan untuk menulis naskahnya.
Kelompok kami, memintaku untuk menulis naskah drama tersebut. Durasi minimal 30 menit. Setelah berkutat dengan sederet proses kreatif, aku akhirnya menemukan sebuah plot drama yang sungguh spektakuler. Berdasarkan sebuah sage di pulau Jawa.
Dan berjuduuullll:

NYI RORO KIDUL!!!!
(apanya yang spektakuler coba -_-)
Dan sepanjang plot, aku mencoba menuangkannya dalam bahasa jaman dulu. Atau lebih tepatnya, bahasa orang yang mabok drama kolosal Anteve. Satu naskah penuh dengan nama Adinda-Kakanda, Kang Mas Prabu dan lain sebagainya.

Nilai Moral dari cerita di atas : Anak SMA berkacamata yang kebanyakan nonton sinetron itu dapat dipastikan gila.
However. Setidaknya dengan menulis naskah drama, aku berhasil meluluskan diriku sendiri dalam ujian praktek kesenian. Hanya dengan menulis.
See. Betapa mudahnya hidup bagi seorang Art-ist 😀
PostNote : Juga menemukan satu poto pas kelas 2 SMA. Silahkan tertawa, aku udah guling guling dari tadi.

(eyeliner ketebalan, liptik bleber, empat tindikan di telinga. Tebak apa tema foto ini. Tepat : Preman Gagal Pergi Kondangan)

Pilem Ini Kerennya Gila Gilaan

Aku suka nonton pilem dua taun belakangan. Sejak HBO hadir di layar televisi 21 inci ruang tengah yang harus ditendang kala warnanya goyang.
Sekarang kegilaan itu bertambah sejak tipi di rumah udah bisa nangkep starmovie.
FYI. Seumur hidup aku ga pernah ke bioskop (silahkan ketawa).
Pertama kali nonton kedua film ini sekitar pertengahan tahun lalu. Telat memang, mengingat masing masing release taun 2005 dan 2008.
Here they are ;

untuk alasannya,, aku bukan orang yang jago ngereview. Jadi jangan harap ada potongan potongan kalimat berisikan nama produser, sutradara plus deretan panjang artis yang memenanginya.
Aku suka Pride and Prejudice lantaran udah keburu tau kalo ini based on Jane Austen novel. Dan yak, aku setengah mati suka BANGET sama Jane Austen. Buku pertama tante Jane (beh, berasa akrab abis) yang kubaca adalah Mansfield Park

Dan di taun 1999, novel ini juga diangkat jadi pilem. Sayangnya aku rada kecewa dengan pilemnya. Inilah resiko nonton pilem yang nopelnya udah dibaca duluan. Imajinasiku luluh lantak, kawan.
Nah, bedanya dengan Pride and Prejudice versi pilem, mungkin gara gara aku suka Kiara Knightly kali ya. Cantik, british, brunette. Ah perpek!
Kemudian dari segi cerita ga banyak berubah. Sama persis dengan yang kucoba imajikan dari novelnya.
Scene yang paling kusuka ya pas Mr. Darcy ngejar Elizbeth pas ujan ujan, di gereja, and when they’re kissed. Saya meleleh :”)
Penggambaran yang romantis, sukses buat sutradaranya deh, si om Joe Wright. Dan baru beberapa bulan yang lalu, aku nonton versi bollywoodnya. Yep! versi India! mereka beneran pake nama Mr. Darcy pula. Honestly, keberadaan Pride and Prejudice versi India ini rada ngerusak imajinasi pecinta film klasik. Judulnya diplesetin jadi Bride and Prejudice pula. Huh! (nani jahat ya allah)

Cover depannya aja udah ngerusak. Pride and Prejudice itu novel romantis woooyyy! a classic story di pertengahan ’70an. Dan India merusaknya menjadi semacam kisah Cinderella sombong yang dapet suami bule trus kawin dan joget joget sepanjang cerita. (dan apa pula maksudnya When Bollywood meet Hollywood?)
Oke, cukup.
Pilem kedua yang paling kusuka adalah The Other Boleyn Girl. rilis taun 2008 dan aku baru bisa nonton setaun setelahnya. Damn you HBO -we-just-gave-you-a-year-forehead-movie- policy. tapi gapapa, toh sebelum nonton juga aku ga tau trailernya 😀
Tentang kakak adik yang punya karakter langit-bumi. Kakak yang ambisius dan adik yang baik hari. Latarnya pas jaman jaman pemerintahan King Henry (bokapnya Queen Elizabeth I). Yang main Scarlett Johanson, Natalie Portman dan Eric Bana. Scarlett sebelumnya kukenal lewat the Prestige (pilem om om tukang sulap) dan the Island (pilem berbiaya besar yang akhirnya gagal nembus blockbuster).
Dan Natalie Portman adalah aktris pilem Star Wars dan V for Vendetta. Dan yang terakhir itu adalah satu pilem hebat yang kunobatkan sebagai pilem keren sepanjang masa 😀

ah.. liat ni pilem tiba tiba kangen dengan lagu Cat Power, I Found the Reason.
Yang menarik dari film V for Vendetta bagiku adalah trailernya. Beneran bikin ngiler. I Love V!! noh tonton di atas.
Woh, kok ngelantur ke V for Vendetta ya?
Balik lagi ke The Other Boleyn Girl. Ng.. ga tau kenapa aku ini tipikal orang yang paling suka sama pilem pilem abad pertengahan.
When the girl have to hold their breath just to lookin nice on tihgtly dress.
An the man was look so gentle at there 😀 marital statue become something that really important.
Semacam pemandangan langka untukr pilem pilem jaman sekarang. Hohoho. Nani the Old-fashion speaking.
yah.. begitulah kiranya review saya terhadap dua (tiga) pilem super keren di atas.
Lain kali ngebahas pilempilem garapan Judd Apatow ahh,,.

Creative Time!

Beberapa hari yang lalu menemukan baju tua milik emak.
Warna ijo, full bordir plus payet. Konon katanya itu baju emak waktu beliau masih abege.

FYI, emak dulunya kembang kampung. Can’t figure 😀

  • Caranya, potong potong bordiran yang menarik hati, pisahkan mereka dari habitat aslinya.
  • Karantina


  • Terus.. cari baju polos yang udah lama ga dipake. (this is why we called is as ‘modifikasi’.

Here’s my flat bored black dress ;

(membosankan, huh?)

  • Langkah selanjutnya : Belilah Lem Lilin

  • Yak, this is a creative time. Tempelkan sesuka hati si potongan bordir tadi.


Hasilnya :

Super Yay!
Tips : Kalau bajunya sering dipake (otomatis sering dicuci), lebih baik sedikit ribet dengan mengganti lem lilin dengan jarum jahit. Lem lilin rada musuhan sama detergen dan air ^^
BTW, I also made something for my flat shoes.
Before :

After ;

Sekarang, sepatu obralan itupun bertransformasi menjadi sepatu kondangan. I Am Genius!!
hihihi, bongkar bongkar baju lama lagi ahh ^^

Metal, Harga Mati!

Di tengah gempuran band beraliran pop-melayu, band beraliran metal seolah tersisihkan dan terancam mati. Di antara yang sedikit itu masih ada yang bersikap idealis dengan mempertahankan aliran metal sebagai perlambang diri.

HINGAR bingar musik keras menghentak di sebuah rumah di dalam gang sempit, inilah rumah Upi. Sepintas mereka terlihat seperti kumpulan anak biasa yang kerap nongkrong tengah malam. Namun, ada yang membedakan mereka dengan komunitas nongkrong lainnya. Mereka adala anak nongkrong dengan selera musik metal.

Diawali dari hobi bermusik yang sama, mereka lantas membuat grup band. “Dulu kita sempat ngeband juga, spesialisasi kita adalah lagu Dream Theater dan Power Metal,” ungkap Ari sang bassis. “Tapi sekarang kita udah bubar, kadang-kadang juga main walau hanya sekedar jamming atau membedah lagu baru,” lanjutnya.

“Di Sampit sendiri penggemar musik seperti ini belum terlalu banyak. Selera pasar masih pop melayu, sekadar keras pun, paling cuma Avanged Sevenfold,” ungkap Upi diamini Ari.

Ketika ditanya alasan mereka menyukai musik keras, mereka punya jawaban unik. Mereka mengataknya satu-satunya jenis musik yang mampu mewakili perasaan mereka hanya musik metal. “Musik metal adalah wadah mengasah kemampuan karena musik ini memerlukan skill dan teknik yang tinggi untuk dimainkan,” kata Ari menambahkan.

Uniknya, kelompok ini hanya terlihat ketika menjelang tengah malam, tepat ketika kota ini mulai terlelap. “Biar matching aja, metal kan biasanya suka yang gelap-gelap,” seloroh Adul, salah seorang “founder” kelompok ini. “Kalo siang kita ‘kan kerja, biarpun rebel tapi kita tetap realistis kok,” ujar Ari menengahi.

Koran ini tergelitik untuk bertanya mengenai tanggapan orang lain atas kebisingan mereka di tengah malam, mengingat lokasi nongkrong mereka berdekatan dengan rumah penduduk. ”Kita berkawan dengan preman kampung, jadi gak mungkin ada yang protes,” ucap Adul.

“Tujuan kita jelas, kita pengen biar anak Sampit ga terpaku pada pola musik yang sama, bosen kalau ada parade band lagunya itu-itu mulu,” Ari menanggapi lebih jauh. Kalau begitu bukankah lebih baik jika dibentuk komunitas agar lebih dikenal dan dapat merekrut anggota baru? ”Kalau bicara long term-nya, kita memang punya rencana membentuk komunitas, tapi nanti menunggu musik metal lebih dikenal di sampit. Untuk sekarang, kita jalan dengan anggota segini aja dulu, yang penting solid,” terang Upi.

“Males banget bikin komunitas tapi enggak longlasting, kita ga mau latah kaya komunitas-komunitas lain yang banyak muncul sekarang ini, tapi unjung-ujungnya bubar,” tambah Ari.

Ditanya lebih jauh tentang musik yang mereka sukai, jawaban dari mereka pun beragam. “Aku pribadi lebih ke genre Deathcore dan Metalcore, seperti Trivium, BMTH, Suicide Silence, dan Bullet For My Valentine, Ari sama Adul sukanya genre Heavy Metal dan Thrash Metal, seperti Metallica, Megadeth, Power Metal, Sepultura dan Anthrax, kalau teman kita yang cewe, senengnya genre Technical Deathmetal sampai Brutal Deathmetal, yang growlnya inhale, parah dia mah, senengnya Necrophagist sama Pyrexia,” ujar Upi panjang lebar menjelaskan kegemaran masing-masing temannya.

Mereka sangat mengandalkan internet untuk memenuhi kebutuhan mereka akan materi lagu. “Di Sampit belum ada toko kaset yang mumpuni untuk kaset metal, radio pun sama, tiap kita request jawabannya pasti belum ada,” ujar Adul. “Kalo ga ada internet, ga tau deh, mungkin kita juga bakal jadi alay penggemar Kangen Band hahaha,” kata Ari seraya tertawa.

Koneksi dan jaringan pertemanan yang baguspun punya andil dalam hobi mereka ini. “Temen-temen di luar Sampit juga cukup membantu, kita sering dikirimin data cd dari Bandung, Banjarbaru dan Pontianak,” lanjutnya. “Harapan kami ke depan sederhana semoga musik metal mendapat tempat di hati masyarakat, semoga kasus bank Century cepet kelar, semoga saya cepat kawin, amin!,” canda Ari mengenai harapan mereka ke depannya.

Ketika ditanya mengenai pesan-pesan mereka untuk anak muda kota Sampit, serentak mereka menjawab, ”Lontong Tahu Telornya tiga, ga pake cabe!”.

Langit Mengelam di Pasar Malam

Tidak ada satupun yang mengenalinya, ia hanya duduk nyaris tersungkur di jalanan aspal. Menyeruak di tengah keramaian pasar malam. Bersimbah lelah, raut wajahnya mengiba sebisanya. Ya, dengan mengiba rupiahpun datang ke tangan kumuhnya. Dua anak kecil diboyong serta. Cacat? Ya. Sebuah tongkat besi menemani langkahnya. Apa saya iba? Ya. Saya menangis sebisanya.

Permasalahan orang miskin memang lekat dengan kehidupan kita. Tatanan hirarki kependudukan laksana timpang tanpa kotak-kotak miskin-kaya, makmur-menderita. Saya tidak tahu siapa namanya, enggan bertanya, sebenarnya. Saya enggan berkawan terlalu lama dengan bau tengik dari baju kumalnya yang entah pernah mengenal deterjen atau tidak selama kurun waktu se-dekade lalu.

Sudah penat rasanya melihat para miskin menyempil dalam lensa kacamata minus empatratus saya. Mereka menggelantar di sudut pasar, tempat pembuangan sampah, bergelut sebisanya mencari nafkah. Setidaknya limapuluh sajak dan puisi saya tulis berlatar kehidupan para miskin. Terkubur dalam file-file berdebu nyonya Bleki (sebutan untuk PC tua saya).

Setiap kali saya melihat mereka, percakapan dengan kepala dinas sosial kota saya sekali waktu dulu kembali berputar di dalam kepala. “Kata siapa mereka itu beneran miskin? Ada semacam “pengepul” pengemis di kota ini, mereka itu ada yang mengelolanya!,” terngiang pernyataan berapi-api itu di kepala saya. Saya juga lumayan terhenyak mendengar bahwa sebenarnya adalah salah jika masyarakat memberi mereka bantuan. Bahkan ada peraturan daerah yang mengaturnya. Nomor tiga tahun 2008 kalau tidak salah.

Saya memang seorang tolol, saya simpulkan bahwa pemerintah tidak selaras dengan kami, para miskin negara ini. Para birokrat benci keberadaan kami, karenannya kami dikebiri, diberantas, dientaskan. But yeah, silly me, jika mereka turut memberi “keleluasaan” bagi para pengemis itu, maka mereka sudah melanggar amanah perundang-undangan untuk memberantas kemiskinan. Caranya? –apa boleh buat- memang seperti itulah adanya. Para gelandangan memang harus digusur, para pengemis memang harus dijaring razia, para terlantar memang harus diusir pergi dari kota ini.

Maka kali ini saya tidak mempermasalahkan siapa yang salah atas masalah ini. Pengemis itu berusia setengah baya, mungkin lebih muda, raut wajahnya mengiba (tentu saja, itu modal utama jika anda ingin menjadi peminta minta). Ada anak kecil turut serta, tertidur di atas kain sarung berwarna hijau yang saama kumuhnya dengan baju Ayahnya.

Ah, saya punya sebuah cerita, tentang orang miskin yang suka malu mengakui ketidakberdayaannya. “Susah mendata orang miskin di Sampit, mereka malu kalau dibilang miskin,” ck ck. Mental kota kita ini mental orang kaya. Saya masih ingat waktu SMA dulu pernah marah pada Ayah gara-gara beliau kerap mengisi minyak tanah di dekat sekolah. Ya, saya sempat malu mengatakan pada kawan-kawan (yang bapaknya orang Pemda semua) bahwa saya anak tukang minyak keliling. Anak miskin yang bisa bertahan di sekolah pongah itu berdasar beasiswa miskin.

Anak kecil itu kembali bergerak, berganti posisi setelah sebelumnya sang Ayah mengipasinya pelan, ada gumaman kecil yang sang pengemis bisikkan ke telinga anaknya. “Sabar nak, kita pulang sebentar lagi,” itu kaliat yang saya coba terka. Namun salah ternyata, pukul setengah sebelas malam saya beranjak pulang dari pasar malam, peminta-minta itu kukuh tetap di sana, tetap menengadahkan tangan dengan wajah tertunduk –entah tersipu atau malu- mengais lembar-lembar rezeki yang nampaknya berserak di arena tersebut.

Pasar malam sempat mengecewakan saya, Seno Gumira tidak saya temukan disana. Biarlah, besok saya bakal sisir lagi stan buku itu. Dari kejauhan saya melihat sang Ayah kembali berbisik pada anaknya. Oh, saya mengerti sekarang. “Sabar nak, laparmu akan hilang jika kantuk sudah datang, bapak ninabobokan padamu sebuah kehidupan. Jadilah berhasil, Ayah ciptakan dunia imajiner kegemaranmu mengenai istana putih dan meja makan penuh penganan. Sabarlah, Ayah dongengkan padamu tentang mimpi ibumu yang meninggal saat melahirkanmu ke dunia, mimpi tentang kamu berjubah hijau dan menjadi sarjana. Sabar,”.

Dan lantunan doa mengalir dari bibir kering peminta-minta itu.

Dzikrullah, Nak, Nisaya selamat dunia akhirat.


*foto taken from google 😀 (lupak linknya, kakaakkk)*

Kerusuhan Sampit, 2001

Saya paham sepenuhnya, judul di atas merupakan isu sensitif yang pamali dibahas hingga sekarang. Di postingan kali ini saya hanya sekadar ingin berbagi mengenai apa yang saya alami ketika konflik tersebut terjadi. Bahkan dalam penyebutannyapun, semacam di’atur’ oleh entah siapa.
Saya sempat bekerja di media dan menemukan media massa dilarang menyebut peristiwa 18 Februari 2001 dengan istilah kerusuhan, perang etnis maupun pertikaian adat. Kami (saya dan redaktur sempat berdiskusi alot mengenai hal ini) kemudian memutuskan untuk mempublishnya dengan sebutan Konflik Etnis.
Berikut tulisan saya untuk media mengenai konflik etnik 2001
(Tulisan ini ketika masih mentah dan belum masuk meja redaksi, saya sendiri bahnyak menggunakan istilah Kerusuhan di dalamnya. Well, bagi saya apa yang terjadi layak disebut kerusuhan, even worse)
Napak Tilas Konflik Etnik 2001
Sembilan tahun sudah kerusuhan berlalu. Waktu yang lebih dari cukup untuk merefleksi dan menyadari fungsi sebenarnya keberadaan seseorang di bumi Habaring Hurung. Dua tahun pasca kerusuhan hingga saat ini, secara alamiah warga Madura kembali ke tanah Habaring Hurung. Kali ini mereka membawa salam damai, keinginan tulus untuk menyatu dan menjunjung tinggi falsafah Belum Bahadat yang senantiasa digaungkan oleh petinggi adat di Kalimantan Tengah.
Rusnani Anwar, Sampit
Sempat menjabat sebagai kepala Satuan Polisi Pamong Praja pada tahun 2001 membuatnya harus terlibat langsung dalam kerusuhan antar etnis Dayak dan Madura kala itu. “Tahun 2001 adalah puncak kerusuhan, sebenarnya kerusuhan itu dimulai sejak tahun 1999,” ujar Mantil saat ditemui di kantornya Sabtu (13/2) lalu.
Konflik awal terjadi pada tahun 1999, tepatnya 23 September malam, sebuah perkelahian ditempat karaoke yang berlokasi di perbatasan Tumbang Samba menewaskan Iba Tue, seorang Dayak Manyan yang dibantai oleh sekelompok suku Madura. Warga Dayak yang kesal karena Iba Tue tidak bersalah meninggal kemudian melakukan pembalasan dengan membakar rumah dan ternak suku Madura di Tumbang Samba.
Diawali kejadian sepele tersebut, pembakaran melebar hingga nyaris ke seluruh desa. “Saat itu upaya pemerintah adalah dengan mengevakuasi warga madura,” ujar Mantil. Sebanyak 37 warga Madura diungsikan keluar dari wilayah konflik (Tumbang Samba) untuk mencegah kemungkinan munculnya korban yang lebih besar. Lepas diungsikannya warga, keadaan di Tumbang Samba meredam.
Keadaan kembali memanas ketika setahun sesudahnya, 6 Oktober 2000, terjadi pengeroyokan oleh sekelompok orang Madura terhadap seorang warga dayak bernama Sendung di sebuah lokalisasi kilometer 19 Katingan. Sendung tewas dengan kondisi mengenaskan. Merasa marah, suku Dayak akhirnya melakukan sweeping terhadap suku Madura, kali ini kuantitas korban jauh lebih besar daripada tahun 1999. Korban jiwa berjatuhan, bus bus trans milik warga Madura dibakar, sementara para penumpang (suku Madura) disekap lantas dibantai. Upaya pemerintah saat itu adalah mediasi melalui upacara adat Dayak agar konflik tidak berkelanjutan.
Keadaan pun mulai mereda. Namun siapa sangka hanya berselang empat bulan, tepatnya pada 18 Februari 2001, kerusuhan dengan skala besar terjadi. “Keadaan memang sudah labil, tapi tetap saja kita terkejut,” ungkap Mantil. Pada Minggu subuh (18 Februari) etnis Madura mengepung rumah Sehan dan Dahur, keduanya merupakan suku dayak Manyan. Sehan adalah purnawirawan TNI pada saat itu. Pengepungan itu berakhir dengan dibakarnya rumah Sehan dan Dahur, keduanya (beserta keluarga) tewas terbakar. Total sepuluh tewas pada pagi itu.
Kerusuhanpun pecah, pembakaran, pembantaian terjadi sepanjang hari itu. Polres dan TNI bekerjasama mengungsikan warga Sampit ke Palangkaraya. Di tengah perang yang mulai berkecamuk, pada Senin malam, tepatnya pada pukul 10.25, serangan balik dari suku Dayak dilancarkan. Seminggu penuh aksi balas itu berlangsung, tidak terhitung berapa rumah terbakar dan leher terpenggal selama perang itu terjadi. “Hingga seminggu setelah tanggal 18 itu, kita 18 kali mengungsikan warga madura ke Surabaya,” ujar Mantil. Jumlah total warga yang mengungsi mencapai angka 57.000 jiwa.
Para pengungsi di angkut menggunakan kapal milik TNI dan perusahaan pelayaran swasta. Mereka di angkut menuju pulau Madura. Hingga kini masih terekam dalam kepala warga Sampit mengenai sungai Mentaya yang dipadati mayat tanpa kepala. Dan tentu saja, bau anyir darah yang menguar hingga sebulan lepas kerusuhan. Tidak ada kalkulasi pasti mengenai jumlah spesifik korban kerusuhan.
Saat kerusuhan terjadi, markas Madura terkonsentrasi di Jalan Sarigading dan Hotel Rama. Wajar jika kemudian temuan mayat terbanyak ada di kedua tempat tersebut. Suasana mencekam berlangsung hingga sebulan pasca kerusuhan, Sampit berubah menjadi kota mati, bau amis menyengat di setiap sudut kota. Tubuh tubuh tanpa kepala bergelimpang di tepi jalan. Mayat-mayat korban kerusuhan akhirnya dikuburkan secara massal di kilometer 13,8 Jl. Jendral Sudirman. “Saya dan asisten I Kotim saat itu, pak Duwel Rawing (bupati Katingan sekarang) sempat bingung kemana mayat-mayat itu harus dikuburkan, akhirnya, kita sepakat untuk dimakamkan ke Km 13,” ujar Mantil.
Tidak main-main, jumlah mayat yang menggunung dan sebagian besar sudah hancur itu harus dimakamkan secepatnya. Tidak memungkinkan untuk menyolati mayat satu persatu. “Saya sampai trauma makan seusai pemakaman itu,” tutup Mantil.(***)
Kala itu, saya diminta untuk membuat sebuah liputan khusus (tipenya indepth news). Saya kemudin mengisi satu halaman penuh edisi lipsus dengan tema konflik etnik. Tulisan di atas sengaja disuguhkan dengan gaya penulisan boks (ringan). Rasanya agak sulit menerjemahkannya ke dalam straight news. Lagipula, saya merasa memiliki sedikit kelebihan dalam menyusun kaliman menjadi penulisan boks.
Saya menemui Mantil F Senas sebagai narasumber. Untuk alasan jabatannya di tahun 2001, dan segi kesukuan beliau. Beliau seorang dayak dan beragama (?) Kaharingan. Namun jujur sajam saya sempat jatuh bangun mengejar beliau. Di kalangan wartawan, Mantil merupakan sosok yang cukup sulit ditemui. Sebagai Kepala Dinas, mobilitas beliau cukup tinggi.
Seorang rekan dan saya bahkan sempat menund penugasan hingga sebulan lebih lantaran beliau jarang ada di tempat. Jangan tanya mengenai akses komunikasi, meminta nomor handphone beliau sama susahnya dengan minta dikawinin Bratt Pit (sori jayus). Dan akhirnya saya berhasil mewawancarai beliau. Data yang didapat (menurut saya) sangat dayaksentris.
Untuk mencoba mengimbangkan beritanya, saya mencoba mencari sisa sisa anggota Ikatan Keluarga Madura (IKAMA). Yang saya belum ketahui saat itu adalah, IKAMA ternyata sudah dilarang masuk ke Sampit (Kotim). Hal ini tertuang dalam Peraturan Daerah (PERDA) Kotim nomor 5 Tahun 2004 Pasal 7 ayat (2)
“Tidak terlibat langsung pada peristiwa konflik dan tidak terdaftar dalam pengurus IKAMA”
Untuk alasan alasan di atas, berita saya kemudian terbit sebagai:
Mereka Pasrah, Diam dan Menyerah
RUSNANI ANWAR, Sampit
Napak tilas perang etnis mengantarkan saya ke perkampungan warga Madura di kawasan Gang Kutilang, Jalan Perkutut kelurahan MBH Utara, kecamatan Baamang. Sembilan tahun lalu wilayah ini penuh dengan warga Madura. Di Sampit (dan juga banyak wilayah Kotim lainnya), banyak terdapat titik titik perkampungan madura. Mereka terbiasa hidup berkelompok. “Kita tidak pernah cekcok, damai sekali,” ujar Arifin, warga gang Kutilang memaparkan bagaimana interaksi mereka terhadap warga non Madura.
Pria yang mengaku berasal dari Surabaya ini menyatakan memang ada yang berubah dalam perihal tingkah laku warga Madura yang kembali datang ke Sampit. Mereka sekarang lebih diam, memilih untuk menekuni kehidupan mereka sendiri tanpa meributkan siapa yang harus berkuasa terhadap siapa.
Saat ini, mereka yang menjadi korban kerusuhan perlahan kembali ke tempat tinggal mereka dulu. “Saya salut dengan kemampuan orang Madura dalam hal bekerja, mereka memulai lagi semuanya dari nol, kerja keras mereka seperti tidak ada batasnya,” papar Wahidah, warga jalan Kutilang. Padahal jika bicara mengenai perasaan, mereka para warga kecil Madura layak mengeluh. Mereka yang tidak tahu menahu harus menjadi korban, tersingkir dari tanah kelahiran, kehilangan seluruh harta benda.
Tegar. Sebuah kata yang mampu merangkum seluruh perjuangan warga Madura yang kembali ke Sampit. “Saya di Madura malah bingung mau kerja apa, di sana saya tidak punya apa-apa,” ujar seorang Madura yang sedang asik meladang pada Minggu (14/2) pagi. Di atas sisa-sisa bangunan rumah yang habis diluluhlantakkan mereka membangun kembali nafas mereka. Menyusun kembali kepingan harapan di tanah ini.
Tidak sedikit dari mereka yang dulu seorang pengusaha berubah menjadi pekerja kelas rendah. Menjadi pedagang upahan, buruh usaha kecil rumahan, tukang becak, pemulung, apa saja mereka geluti. Sulit rasanya menemukan ketabahan luar biasa semacam itu di zaman sekarang.
“Mereka (warga Madura), ketika kembali kesini seperti tidak kaget melihat harta bendanya hilang semua. Mereka bilang ‘Semua milik tuhan pasti akan kembali padanya’, saya sampai sedih mendengarnya,” ujar salah seorang keluarga Arifin.
Padahal, jika hendak mengenang masa lalu, tahun tahun sebelum kerusuhan adalah masa emas bagi warga Madura di Sampit. Kebanyakan dari mereka memang merupakan pekerja kerah putih. Yang sekedar berprofesi sebagai petani, pedagang pasar maupun buruh bangunan. Sempat hadir sebuah guyonan lokal yang kurang lebih menyebutkan warga Madura menyebut Sampit laksana surga, lantaran pulau asal mereka hanya ada garam.
Sebuah kisah kuno tentang sejarah suku Dayak saya temukan pada Perpustakaan dan Arsip Daerah Kotim. Kisah kuno mengenai tokoh Mangkurambang, seorang dayak yang dikisahkan berlayar dan terdampar di pulau Nipah, Madura. Entah cerita tersebut sekedar sage atau justru kisah nyata, setidaknya dapat memberikan gambaran seperti apa hubungan suku Dayak-Madura di masa lampau.
Dikisahkan dalam perjalanannya merantau, Mangkurambang membawa seekor ayam jago. Dalam pelayarannya, pemuda itu terdampar dis ebuah pulau bernama Pulau Nipah. Di sana, ayam yang ia bawa terus berbunyi gaduh. Hal ini memicu kemarahan raja Nipah, raja merasa intergritasnya sebagai pemimpin suku direndahkan karena ayam yang terus berbunyi tersebut.
Perkelahianpun digelar, raja Madura melawan Mangkurambang sang putra Dayak. Dalam dongeng itu, Mangkurambang memenangi duel tersebut. Putri raja Madurapun dipersunting oleh Mangkurambang sebagai hadiah pertandingan. Mereka lantas hidup di pulau Nipah dan memiliki keturunan berdarah Madura-Dayak.
Dalam sekali waktu, kepala ikatan keluarga madura (IKAMA) H. Marlinggi (alm) menyatakan bahwa beliau itu separuh badannya merupakan orang dayak ,”Nenek moyangnya orang Nipah, jadi pak haji (Marlinggi) saja mengakui kalau di Madura ada suatu pulau dimana seluruh orang disana keturunan Dayak,” papar Mantil F Senas, kepala Disdukcapil Kotim yang terlibat langsung dalam konflik etnis 2001 silam.
Dalam rangka sosialisasi peraturan daerah nomor 5 tahun 2004 ke kecamatan Ketapang, Madura pada 22 Agustus 2004 silam, tim sosialisasi difasilitasi warga
Ketapang untuk berkunjung ke Pulau Nipah. Mantil yang tergabung dalam tim tersebut mengaku kaget melihat kebiasaan warga Pulau Nipah. Pasalnya, warga pulau itu memiliki kebudayaan yang sangat serupa dengan suku Dayak, baik dari adanya mandau, bentuk bangunan, hingga kebiasaan teriakan Dayak dalam memanggil kera.
Sosialisasi peraturan daerah no. 5 tahun 2004-pun disambut positif oleh warga Madura, peraturan tersebut antara lain menekankan bahwa warga manapun yang menjadi pendatang di tanah habaring hurung harus menjunjung tinggi falsafah ‘Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung’, selain itu, perda tersebut juga melarang orang-orang yang memiliki hubungan dengan IKAMA (Ikatan Keluarga Madura) kembali ke kota Sampit.
Perda tersebut, menurut Mantil sudah dipahami oleh warga Madura. Pasal-pasal di dalam perna merunut persis tentang prosedur bagaimana seorang Madura bisa kembali tinggal di Sampit. Antara lain ketentuan bahwa keharusan mereka membaur dan mengikuti pola adat warga setempat. Kemudian dipaparkan bahwa yang menjadi “eksekutor” atau pemegang hak untuk memperbolehkan atau menentang keberadaan warga Madura di lingkungan masyarakat adalah masyarakat itu sendiri. “Jika warga lokal menolak, maka mereka harus pulang,” ujar Mantil.
Hal ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan munculnya kecemburuan sosial seperti yang terjadi sebelum kerusuhan. Keadaan dimana pasar dikuasai oleh etnis tertentu membuat warga asli merasa cemburu. Mantil juga mengakui jika dulu, warga Madura memiliki perangai keras. “Saya sampai kesulitan mengevakuasi pasar pada saat kerusuhan itu,” tutupnya. Namun sekarang, sembilan tahun pasca bencana, keadaan sudah kondusif, warga Madura yang kembali ke Sampit telah memahami sepenuhnya peranan dan fungsi mereka sebagai warga pendatang.(***)
Ketika kerusuhan terjadi, saya baru berusia sembilan tahun. Sedari kecil saya tinggal di perkampungan Madura. Umur sembilan tahun menjadi penanda pertama kalinya saya melihat mayat tanpa kepala, menelan ‘ajian’ Dayak yang (konon) bisa membuat tubuh kebal tombak dan terjebak di dalam rumah yang tengah diserbu  massa. Sama sekali bukan ingatan masa kecil yang menyenangkan.
Berikut beberapa foto terkait kerusuhan yang berhasil saya kurasi.
(selebaran selebaran yang beredar)
(selebaran selebaran yang beredar (2))

 

selebaran selebaran yang beredar (3)

 

 

selebaran selebaran yang beredar (4)




Berikut hasil terbitan dua tulisan saya :

Saya menyadari sepenuhnya indepth news yang saya coba bangun ini gagal.
Saya tidak berhasil cover both side. Saya belum mampu menafsirkan apa yang terjadi dengan warga Madura hingga nekat menyerang warga Dayak di Tumbang Samba. Jika berdasarkan konflik perorangan, mengapa bisa meluas menjadi begitu besar?
Sejauh ini, yang saya ketahui mengenai percikan awal kerusuhan hanyalah pertikaian seorang Madura kepada Dayak. Ini pendapat saya, mungkin ada semacam kecemburuan sosial terhadap kaum Madura yang secara implisit ‘menguasai’ Kotim dalam segi ekonomi. Rasa iri? atau justru ada semacam kesetiakawanan yang sangat besar dalam tubuh masing masing suku hingga rela mati demi terinjaknya harga diri salah seorang sukunya?
*Terbit untuk SKH Radar Sampit edisi 18 Februari 2010*