Kerusuhan Sampit, 2001

Saya paham sepenuhnya, judul di atas merupakan isu sensitif yang pamali dibahas hingga sekarang. Di postingan kali ini saya hanya sekadar ingin berbagi mengenai apa yang saya alami ketika konflik tersebut terjadi. Bahkan dalam penyebutannyapun, semacam di’atur’ oleh entah siapa.
Saya sempat bekerja di media dan menemukan media massa dilarang menyebut peristiwa 18 Februari 2001 dengan istilah kerusuhan, perang etnis maupun pertikaian adat. Kami (saya dan redaktur sempat berdiskusi alot mengenai hal ini) kemudian memutuskan untuk mempublishnya dengan sebutan Konflik Etnis.
Berikut tulisan saya untuk media mengenai konflik etnik 2001
(Tulisan ini ketika masih mentah dan belum masuk meja redaksi, saya sendiri bahnyak menggunakan istilah Kerusuhan di dalamnya. Well, bagi saya apa yang terjadi layak disebut kerusuhan, even worse)
Napak Tilas Konflik Etnik 2001
Sembilan tahun sudah kerusuhan berlalu. Waktu yang lebih dari cukup untuk merefleksi dan menyadari fungsi sebenarnya keberadaan seseorang di bumi Habaring Hurung. Dua tahun pasca kerusuhan hingga saat ini, secara alamiah warga Madura kembali ke tanah Habaring Hurung. Kali ini mereka membawa salam damai, keinginan tulus untuk menyatu dan menjunjung tinggi falsafah Belum Bahadat yang senantiasa digaungkan oleh petinggi adat di Kalimantan Tengah.
Rusnani Anwar, Sampit
Sempat menjabat sebagai kepala Satuan Polisi Pamong Praja pada tahun 2001 membuatnya harus terlibat langsung dalam kerusuhan antar etnis Dayak dan Madura kala itu. “Tahun 2001 adalah puncak kerusuhan, sebenarnya kerusuhan itu dimulai sejak tahun 1999,” ujar Mantil saat ditemui di kantornya Sabtu (13/2) lalu.
Konflik awal terjadi pada tahun 1999, tepatnya 23 September malam, sebuah perkelahian ditempat karaoke yang berlokasi di perbatasan Tumbang Samba menewaskan Iba Tue, seorang Dayak Manyan yang dibantai oleh sekelompok suku Madura. Warga Dayak yang kesal karena Iba Tue tidak bersalah meninggal kemudian melakukan pembalasan dengan membakar rumah dan ternak suku Madura di Tumbang Samba.
Diawali kejadian sepele tersebut, pembakaran melebar hingga nyaris ke seluruh desa. “Saat itu upaya pemerintah adalah dengan mengevakuasi warga madura,” ujar Mantil. Sebanyak 37 warga Madura diungsikan keluar dari wilayah konflik (Tumbang Samba) untuk mencegah kemungkinan munculnya korban yang lebih besar. Lepas diungsikannya warga, keadaan di Tumbang Samba meredam.
Keadaan kembali memanas ketika setahun sesudahnya, 6 Oktober 2000, terjadi pengeroyokan oleh sekelompok orang Madura terhadap seorang warga dayak bernama Sendung di sebuah lokalisasi kilometer 19 Katingan. Sendung tewas dengan kondisi mengenaskan. Merasa marah, suku Dayak akhirnya melakukan sweeping terhadap suku Madura, kali ini kuantitas korban jauh lebih besar daripada tahun 1999. Korban jiwa berjatuhan, bus bus trans milik warga Madura dibakar, sementara para penumpang (suku Madura) disekap lantas dibantai. Upaya pemerintah saat itu adalah mediasi melalui upacara adat Dayak agar konflik tidak berkelanjutan.
Keadaan pun mulai mereda. Namun siapa sangka hanya berselang empat bulan, tepatnya pada 18 Februari 2001, kerusuhan dengan skala besar terjadi. “Keadaan memang sudah labil, tapi tetap saja kita terkejut,” ungkap Mantil. Pada Minggu subuh (18 Februari) etnis Madura mengepung rumah Sehan dan Dahur, keduanya merupakan suku dayak Manyan. Sehan adalah purnawirawan TNI pada saat itu. Pengepungan itu berakhir dengan dibakarnya rumah Sehan dan Dahur, keduanya (beserta keluarga) tewas terbakar. Total sepuluh tewas pada pagi itu.
Kerusuhanpun pecah, pembakaran, pembantaian terjadi sepanjang hari itu. Polres dan TNI bekerjasama mengungsikan warga Sampit ke Palangkaraya. Di tengah perang yang mulai berkecamuk, pada Senin malam, tepatnya pada pukul 10.25, serangan balik dari suku Dayak dilancarkan. Seminggu penuh aksi balas itu berlangsung, tidak terhitung berapa rumah terbakar dan leher terpenggal selama perang itu terjadi. “Hingga seminggu setelah tanggal 18 itu, kita 18 kali mengungsikan warga madura ke Surabaya,” ujar Mantil. Jumlah total warga yang mengungsi mencapai angka 57.000 jiwa.
Para pengungsi di angkut menggunakan kapal milik TNI dan perusahaan pelayaran swasta. Mereka di angkut menuju pulau Madura. Hingga kini masih terekam dalam kepala warga Sampit mengenai sungai Mentaya yang dipadati mayat tanpa kepala. Dan tentu saja, bau anyir darah yang menguar hingga sebulan lepas kerusuhan. Tidak ada kalkulasi pasti mengenai jumlah spesifik korban kerusuhan.
Saat kerusuhan terjadi, markas Madura terkonsentrasi di Jalan Sarigading dan Hotel Rama. Wajar jika kemudian temuan mayat terbanyak ada di kedua tempat tersebut. Suasana mencekam berlangsung hingga sebulan pasca kerusuhan, Sampit berubah menjadi kota mati, bau amis menyengat di setiap sudut kota. Tubuh tubuh tanpa kepala bergelimpang di tepi jalan. Mayat-mayat korban kerusuhan akhirnya dikuburkan secara massal di kilometer 13,8 Jl. Jendral Sudirman. “Saya dan asisten I Kotim saat itu, pak Duwel Rawing (bupati Katingan sekarang) sempat bingung kemana mayat-mayat itu harus dikuburkan, akhirnya, kita sepakat untuk dimakamkan ke Km 13,” ujar Mantil.
Tidak main-main, jumlah mayat yang menggunung dan sebagian besar sudah hancur itu harus dimakamkan secepatnya. Tidak memungkinkan untuk menyolati mayat satu persatu. “Saya sampai trauma makan seusai pemakaman itu,” tutup Mantil.(***)
Kala itu, saya diminta untuk membuat sebuah liputan khusus (tipenya indepth news). Saya kemudin mengisi satu halaman penuh edisi lipsus dengan tema konflik etnik. Tulisan di atas sengaja disuguhkan dengan gaya penulisan boks (ringan). Rasanya agak sulit menerjemahkannya ke dalam straight news. Lagipula, saya merasa memiliki sedikit kelebihan dalam menyusun kaliman menjadi penulisan boks.
Saya menemui Mantil F Senas sebagai narasumber. Untuk alasan jabatannya di tahun 2001, dan segi kesukuan beliau. Beliau seorang dayak dan beragama (?) Kaharingan. Namun jujur sajam saya sempat jatuh bangun mengejar beliau. Di kalangan wartawan, Mantil merupakan sosok yang cukup sulit ditemui. Sebagai Kepala Dinas, mobilitas beliau cukup tinggi.
Seorang rekan dan saya bahkan sempat menund penugasan hingga sebulan lebih lantaran beliau jarang ada di tempat. Jangan tanya mengenai akses komunikasi, meminta nomor handphone beliau sama susahnya dengan minta dikawinin Bratt Pit (sori jayus). Dan akhirnya saya berhasil mewawancarai beliau. Data yang didapat (menurut saya) sangat dayaksentris.
Untuk mencoba mengimbangkan beritanya, saya mencoba mencari sisa sisa anggota Ikatan Keluarga Madura (IKAMA). Yang saya belum ketahui saat itu adalah, IKAMA ternyata sudah dilarang masuk ke Sampit (Kotim). Hal ini tertuang dalam Peraturan Daerah (PERDA) Kotim nomor 5 Tahun 2004 Pasal 7 ayat (2)
“Tidak terlibat langsung pada peristiwa konflik dan tidak terdaftar dalam pengurus IKAMA”
Untuk alasan alasan di atas, berita saya kemudian terbit sebagai:
Mereka Pasrah, Diam dan Menyerah
RUSNANI ANWAR, Sampit
Napak tilas perang etnis mengantarkan saya ke perkampungan warga Madura di kawasan Gang Kutilang, Jalan Perkutut kelurahan MBH Utara, kecamatan Baamang. Sembilan tahun lalu wilayah ini penuh dengan warga Madura. Di Sampit (dan juga banyak wilayah Kotim lainnya), banyak terdapat titik titik perkampungan madura. Mereka terbiasa hidup berkelompok. “Kita tidak pernah cekcok, damai sekali,” ujar Arifin, warga gang Kutilang memaparkan bagaimana interaksi mereka terhadap warga non Madura.
Pria yang mengaku berasal dari Surabaya ini menyatakan memang ada yang berubah dalam perihal tingkah laku warga Madura yang kembali datang ke Sampit. Mereka sekarang lebih diam, memilih untuk menekuni kehidupan mereka sendiri tanpa meributkan siapa yang harus berkuasa terhadap siapa.
Saat ini, mereka yang menjadi korban kerusuhan perlahan kembali ke tempat tinggal mereka dulu. “Saya salut dengan kemampuan orang Madura dalam hal bekerja, mereka memulai lagi semuanya dari nol, kerja keras mereka seperti tidak ada batasnya,” papar Wahidah, warga jalan Kutilang. Padahal jika bicara mengenai perasaan, mereka para warga kecil Madura layak mengeluh. Mereka yang tidak tahu menahu harus menjadi korban, tersingkir dari tanah kelahiran, kehilangan seluruh harta benda.
Tegar. Sebuah kata yang mampu merangkum seluruh perjuangan warga Madura yang kembali ke Sampit. “Saya di Madura malah bingung mau kerja apa, di sana saya tidak punya apa-apa,” ujar seorang Madura yang sedang asik meladang pada Minggu (14/2) pagi. Di atas sisa-sisa bangunan rumah yang habis diluluhlantakkan mereka membangun kembali nafas mereka. Menyusun kembali kepingan harapan di tanah ini.
Tidak sedikit dari mereka yang dulu seorang pengusaha berubah menjadi pekerja kelas rendah. Menjadi pedagang upahan, buruh usaha kecil rumahan, tukang becak, pemulung, apa saja mereka geluti. Sulit rasanya menemukan ketabahan luar biasa semacam itu di zaman sekarang.
“Mereka (warga Madura), ketika kembali kesini seperti tidak kaget melihat harta bendanya hilang semua. Mereka bilang ‘Semua milik tuhan pasti akan kembali padanya’, saya sampai sedih mendengarnya,” ujar salah seorang keluarga Arifin.
Padahal, jika hendak mengenang masa lalu, tahun tahun sebelum kerusuhan adalah masa emas bagi warga Madura di Sampit. Kebanyakan dari mereka memang merupakan pekerja kerah putih. Yang sekedar berprofesi sebagai petani, pedagang pasar maupun buruh bangunan. Sempat hadir sebuah guyonan lokal yang kurang lebih menyebutkan warga Madura menyebut Sampit laksana surga, lantaran pulau asal mereka hanya ada garam.
Sebuah kisah kuno tentang sejarah suku Dayak saya temukan pada Perpustakaan dan Arsip Daerah Kotim. Kisah kuno mengenai tokoh Mangkurambang, seorang dayak yang dikisahkan berlayar dan terdampar di pulau Nipah, Madura. Entah cerita tersebut sekedar sage atau justru kisah nyata, setidaknya dapat memberikan gambaran seperti apa hubungan suku Dayak-Madura di masa lampau.
Dikisahkan dalam perjalanannya merantau, Mangkurambang membawa seekor ayam jago. Dalam pelayarannya, pemuda itu terdampar dis ebuah pulau bernama Pulau Nipah. Di sana, ayam yang ia bawa terus berbunyi gaduh. Hal ini memicu kemarahan raja Nipah, raja merasa intergritasnya sebagai pemimpin suku direndahkan karena ayam yang terus berbunyi tersebut.
Perkelahianpun digelar, raja Madura melawan Mangkurambang sang putra Dayak. Dalam dongeng itu, Mangkurambang memenangi duel tersebut. Putri raja Madurapun dipersunting oleh Mangkurambang sebagai hadiah pertandingan. Mereka lantas hidup di pulau Nipah dan memiliki keturunan berdarah Madura-Dayak.
Dalam sekali waktu, kepala ikatan keluarga madura (IKAMA) H. Marlinggi (alm) menyatakan bahwa beliau itu separuh badannya merupakan orang dayak ,”Nenek moyangnya orang Nipah, jadi pak haji (Marlinggi) saja mengakui kalau di Madura ada suatu pulau dimana seluruh orang disana keturunan Dayak,” papar Mantil F Senas, kepala Disdukcapil Kotim yang terlibat langsung dalam konflik etnis 2001 silam.
Dalam rangka sosialisasi peraturan daerah nomor 5 tahun 2004 ke kecamatan Ketapang, Madura pada 22 Agustus 2004 silam, tim sosialisasi difasilitasi warga
Ketapang untuk berkunjung ke Pulau Nipah. Mantil yang tergabung dalam tim tersebut mengaku kaget melihat kebiasaan warga Pulau Nipah. Pasalnya, warga pulau itu memiliki kebudayaan yang sangat serupa dengan suku Dayak, baik dari adanya mandau, bentuk bangunan, hingga kebiasaan teriakan Dayak dalam memanggil kera.
Sosialisasi peraturan daerah no. 5 tahun 2004-pun disambut positif oleh warga Madura, peraturan tersebut antara lain menekankan bahwa warga manapun yang menjadi pendatang di tanah habaring hurung harus menjunjung tinggi falsafah ‘Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung’, selain itu, perda tersebut juga melarang orang-orang yang memiliki hubungan dengan IKAMA (Ikatan Keluarga Madura) kembali ke kota Sampit.
Perda tersebut, menurut Mantil sudah dipahami oleh warga Madura. Pasal-pasal di dalam perna merunut persis tentang prosedur bagaimana seorang Madura bisa kembali tinggal di Sampit. Antara lain ketentuan bahwa keharusan mereka membaur dan mengikuti pola adat warga setempat. Kemudian dipaparkan bahwa yang menjadi “eksekutor” atau pemegang hak untuk memperbolehkan atau menentang keberadaan warga Madura di lingkungan masyarakat adalah masyarakat itu sendiri. “Jika warga lokal menolak, maka mereka harus pulang,” ujar Mantil.
Hal ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan munculnya kecemburuan sosial seperti yang terjadi sebelum kerusuhan. Keadaan dimana pasar dikuasai oleh etnis tertentu membuat warga asli merasa cemburu. Mantil juga mengakui jika dulu, warga Madura memiliki perangai keras. “Saya sampai kesulitan mengevakuasi pasar pada saat kerusuhan itu,” tutupnya. Namun sekarang, sembilan tahun pasca bencana, keadaan sudah kondusif, warga Madura yang kembali ke Sampit telah memahami sepenuhnya peranan dan fungsi mereka sebagai warga pendatang.(***)
Ketika kerusuhan terjadi, saya baru berusia sembilan tahun. Sedari kecil saya tinggal di perkampungan Madura. Umur sembilan tahun menjadi penanda pertama kalinya saya melihat mayat tanpa kepala, menelan ‘ajian’ Dayak yang (konon) bisa membuat tubuh kebal tombak dan terjebak di dalam rumah yang tengah diserbu  massa. Sama sekali bukan ingatan masa kecil yang menyenangkan.
Berikut beberapa foto terkait kerusuhan yang berhasil saya kurasi.
(selebaran selebaran yang beredar)
(selebaran selebaran yang beredar (2))

 

selebaran selebaran yang beredar (3)

 

 

selebaran selebaran yang beredar (4)




Berikut hasil terbitan dua tulisan saya :

Saya menyadari sepenuhnya indepth news yang saya coba bangun ini gagal.
Saya tidak berhasil cover both side. Saya belum mampu menafsirkan apa yang terjadi dengan warga Madura hingga nekat menyerang warga Dayak di Tumbang Samba. Jika berdasarkan konflik perorangan, mengapa bisa meluas menjadi begitu besar?
Sejauh ini, yang saya ketahui mengenai percikan awal kerusuhan hanyalah pertikaian seorang Madura kepada Dayak. Ini pendapat saya, mungkin ada semacam kecemburuan sosial terhadap kaum Madura yang secara implisit ‘menguasai’ Kotim dalam segi ekonomi. Rasa iri? atau justru ada semacam kesetiakawanan yang sangat besar dalam tubuh masing masing suku hingga rela mati demi terinjaknya harga diri salah seorang sukunya?
*Terbit untuk SKH Radar Sampit edisi 18 Februari 2010*

Kemarin Aku Pulang

Semua ini rasanya sudah terlampau gelap. Sedari dulu. Aku tak peduli, sama sekali tak ingin peduli. Tentang bagaimana hidup ini harus berlalu dan terlewati..
Sore itu gerimis menyapa lembut kota ini. Aku baru pulang. Gerimis pelan berubah menjadi butiran raksasa, lagi lagi kehujanan. Cuaca agak menggila akhir akhir ini. Panas terik yang berlangsung seharian ditimpa hujan badai di sore hari. Bahkan cuacapun mulai lebay..
Aku melintasi satu per satu pengendara yang menepi. Ruko ruko kosong mulai berjamur di kota ini, masih baru. Keberadaannya yang dinilai strategis membuat para investor tak pikir dua kali untuk turut mengeksploitasi.
Hujan makin lebat, jarak pandang kian tipis. Aku tak peduli, tidak pada intonasi hujan yang meninggi, pada lampu jalan yang berkedip merah sejak tadi, atau pada jerit sejumlah anak berseragam putih-biru yang tengah menggigil dingin di ruko kosong.
“Awas!!!,”
Sepenggal kata itu sempat sedikit menyusup ke telinga. Sayang, kedatangannya sedikit lebih lambat dari jeritanku. Aku menjerit, terhempas lantas terpental ke trotoar. Bising suara penanti hujan di ruko kosong kian menggema. Berdengung di tengah tatapan nanarku. Darah bersimpul di sudut kacamataku yang retak. Dari kejauhan, sayup gaungan –entah ambulance atau mobil polisi- meraung.
Lantas gelap yang membekas. Diiringi sedikit ayunan, derek kereta troli dan getaran sepanjang jalan. Sakit terasa menggerayangi. Pelan ia menyentuh ujung kaki, bergerilya ke lutut, pinggul, dada, hingga kerongkongan. Sakit yang teramat sangat. Yang lantas sibuk berbisik di kepalaku adalah sepenggal sepenggal ceramah yang dulu kerap diputar Abah* dari tape tuanya.
“Ajal pasti akan datang… diriwayatkan dalam hadist nabi… rasanya seperti hewan yang dikuliti hidup hidup..”
Suara tape tua itu seakan direwind, berulang sepotong sepotong. Aku lupa bagaimana lengkapnya. Ceramah itu kerap kudengar semasa tinggal di rumah Abah, kala masih kanak kanak, belasan tahun silam. “Aku mati?” bisikku. Aku sulit menggambarkan apakah aku berbisik, bergumam atau berteriak. Lidahku kelu, tidak ada satupun desibel yang terlontar.
Pertanyaan itu terjawab. Aku akhirnya mendengar lantunan al-quran dan merasakan hal klise yang hanya kulihat di komik komik jepang. Aku melayang, benar benar melayang. Bisa kulihat aku yang terbujur tengah diarak, menuju liang kuburan. Ah! Itu Dimas, Irfan, Rahma, Qonita.. aku mulai mengingat ingat wajah yang melingkar di tepi tanah basah berlubangi itu.
Sayang, tidak ada yang berurai airmata. Sembabpun tidak. Mereka hanyalah kawan sekolah dulu, yang bahkan tidak tau apa nama belakangku. Aku terus menengok ke bawah, mencari wajah wajah yang basah. Ibu, ayah, kakak. Ah, rupanya mereka masih sayang padaku.
Atau jangan jangan mereka menangisi masalah yang kutinggalkan? Aku teringat anak kecil bersepeda yang kuhantam ketika meregang nyawa. Tiba tiba semuanya menjadi flashback. Bentakan bentakanku pada mereka, tuntutan tuntutan yang terkadang tak tercerna logika. Semuanya berputar, menyisakan sedikit pilu di sudut pikiranku. Semacam menyesal.
Tiba tiba aku merasakan tarikan yang kuat, dari belakang. Tepat ketika aku menyatakan menyesal. Punggungku seperti terbakar, panas. Tarikan itu tak kunjung berhenti, lapis demi lapis awan kulewati. Pandangan akan tanah pemakaman kian mengabur, meninggalkan titik kecil yang kian lama kian menghilang.
Seakan gravitasi terbalik, aku yang sedari tadi ditarik ke atas tiba tiba jatuh ke bawah. Terjerembab. Aku melihat batu batu raksasa bertumpuk. Tebing curam, langit yang merah dan bulan – atau matahari- bergumpal, satu, dua.. lima jumlahnya. Aku berpijak pada tanah, yang entah mengapa begitu liat, seakan mengisap. Aku yang sedari kecil terintegrasi dengan doktrin surga-neraka langsung berasumsi apa yang kulihat sekarang bukan surga.
Gambaran fisik surga yang kukenal adalah lautan madu dengan ribuan bidadari. Lamunan itu buyar ketika sesosok hitam menghampiriku. Pikiranku melayang pada sebuah komik mengenai shinigami, dewa kematian. Ia berjubah hitam panjang. Dengan wajah yang hampa, hanya ada hamparan lubang hitam di tempat seharusnya wajah sosok ini berada.
“Imelda Ningrum?” suaranya berat, mengingatkanku pada seorang penyanyi bariton yang kerap tampil di televisi.
“I. iya,” kurasakan dingin yang amat sangat ketika makhluk tak berwajah ini menatapku.
Ia lantas menjentikkan jarinya –atau sesuatu mirip jari- yang panjang kurus berwarna kelabu. Sebuah perkamen melayang mendekatinya. Aku tersungkur, siapapun dia, ia telah mendorongku dengan sentakan udara dingin. Sosoknya tiba tiba menjadi terlihat begitu tinggi. Lama aku tidak merasakan perasaan ini. Aku merasa takut.
Sosok pekat itu lantas bersuara.
“Kamu akan ke neraka, atas tuduhan bunuh diri,”
Tercekat, aku mencoba mereka kembali proses kematianku. Demi tuhan aku tidak akan melakukan perbuatan pendosa seperti itu.
“Saya tidak bunuh diri!,” sanggahku, namun entah kenapa kurasakan sedikit gentar dalam suara itu.
Ia melebarkan perkamen yang sedari tadi dipegangnya. Kertas itu lantas membentang, menjadi layar raksasa. Di sana, aku melihat hidupku.
Kilatan pertama hadir di kala lebaran, tiga tahun lalu. Layar itu menampilkan aku yang membentak kedua orangtuaku lantaran mereka menolak memberiku uang untuk berlibur. Kulihat aku yang memutuskan tidur selama hari raya, memutus semua telepon kawan yang ingin bertandang.
Ini bukan dosa, wajar aku marah terhadap orangtua yang gagal membahagiakanku itu.
Malaikat kematian itu seakan membaca pikiranku, berdehem pelan dan berkata
“Seperti apa bahagia yang kau mau? Memiliki banyak materi?”
Aku tau itu retoris, namun kujawab juga
“Sejak kecil aku tak pernah dimanjakan. Selepas dewasa aku malah dituntut menafkahi mereka,”
Protesku dijawab dengan kilatan cahaya dari layar.
Tampak sosok ibu ibu yang setengah mati ngeden, sambil sesekali mencengkeram tepian ranjang. Sekali dua ia seperti nyaris pingsan. Akhirnya si bayi keluar, darah menggenang.
Aku merasa jijik, kupalingkan muka.
Lalu seperti menonton film lawas, aku melihat potongan potongan masa kanak kanakku. Namun di sudut pandang lain. Tenyata uang untuk menyekolahkanku di sekolah elit itu berasal dari hasil ayah berhutang. Di layar kulihat terkadang ayah menundukkan wajah, seperti diceramahi oleh si empunya pinjaman.
Juga sesekali melintas sosok ibu yang menghitung uang tengah malam. Serius memandang tombol kalkulator dan menggumam. Uang lantas disisihkan dengan desisan “Kurang lagi..” sesekali.
Lalu muncul aku dua tahun lalu. Saat pulang kerumah dan meminta uang untuk membeli formulir universitas. Wajah kuyu mereka muram, lalu menggeleng lemah. Marah, kubanting televisi empatbelas inci satu satunya milik keluarga kami di ruang tengah. Selepas itu, seminggu aku tak pulang, ngambek dan bermalam di kontrakan kawan.
Saat itu aku fikir mereka tidak memperdulikan rengekanku untuk masuk universitas. Bahkan mencetuskan ultimatum untuk tidak akan pulang kalau permintaanku ditangguhkan.
Yang tidak ku tahu, selama seminggu aku kabur dari rumah, ayah ibu mati matian mencari pinjaman. Namun tak ada yang percaya, hutang menyekolahkanku saja belum lunas. Berbelas pintu menolak ajuan hutang ayah ibuku. Hari ketujuh mereka seakan menyerah, atau malu lantaran keseringan berhutang hingga tak lagi dipercaya. Layar itu menjawab semuanya.
Aku masih menolak kenyataan. Kubilang pada malaikat kematian bahwa ini tidak ada hubungannya dengan bunuh diri.
Ia mengeram, lantas berteriak lantang.
“Dua tahun aku mengawasimu! Dua tahun kamu tidak pulang kerumah orangtuamu!,” suaranya menggelegar, aku kian gentar.
Layar berkedip menampilkan aku yang memenuhi ultimatumku dan minggat ke kota lain. Aku yang kala itu berhasil melamar pekerjaan di sebuah kantor penerbitan mulai bekerja sebagai penulis. Hasilnya bahkan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Tulisanku laku keras, padahal aku hanya menuliskan khayalan khayalanku.
Tentang terlahir di keluarga kaya raya, menjadi anak tunggal kemudian hatuh cinta kepada rekan kerja ayah. Hidup sempurna tokoh utamaku rupanya mengundang minat jutaan remaja. Buku sold out, produser melirikku sebagai penulis naskah sinetron. Rupanya masih banyak anak muda yang gemar berkhayal terlampau tinggi di negara ini.
Lama aku tak pulang, hanya ketika dinyatakan meninggallah pihak penerbit memulangkan jenazahku ke kota kelahiran.
Sayang aku keburu menjadi mayat ketika pulang, sehingga tak tau seperti apa keadaan orangtuaku sekarang.
Lagi lagi layar yang menjawab gumamku.
Sebuah rumah reot terlintas, kedua orangtuaku yang sudah separuh baya, duduk di atas dipan. Sesekali mereka melongok ke jendela. Rupanya longokan itu di arahkan ke sepeda pak pos yang memang lewat setiap hari di depan rumah.
“Mereka menanti tukang pos itu berhenti dan membawa kabar tentangmu,”
Suara malaikat kematian itu kontan meluruhkan hatiku, aneh, sudah matipun tenyata masih bisa menangis.
Bayangkan seperti apa perasaan mereka setelah satu satunya kabar tentangmu yang ditunggu selama dua tahun hanyalah sebuah kematian.
Namun, aku dengan sangat keras kepalanya bersikukuh aku tidak bunuh diri.
“Baik, aku berdosa pada orangtuaku. Aku lalai atas mereka, tapi kenapa aku dianggap bunuh diri??” uraiku.
Malaikat kematian tiba tiba menghilang, pun dengan perkamen-layar tadi.
Hanya sebuah suara yang terdengar, seperti doa, yang lamat lamat kutangkap sebagai suara abah.

“Ya Allah.. anakku telah durhaka. Tidak ada ampunan bagi seorang pendurhaka. Jangan siksa ia dalam pedihmu ya Allah. Biarlah kami anggap dia telah meninggal, asal jangan golongkan ia ke dalam pendurhaka. Dosa bunuh dirinya biarlah kami yang menanggung, anggap ia telah mati agar dosanya terhadap kami tidak lagi bertambah ya Allah,”

Tiba tiba semuanya terasa kedap cahaya.

Tadi malam aku bertemu malaikat kematian,

Begitu tenang duduk disampingku..

Kami berbicara.

Dengan bahasa yang sama dengan angin ketika ia menyapa daun kering di pucuk pohon tua..

Dengan kata yang air sampaikan pada sang hujan..

Semalam aku bertemu malaikat kematian,

Aku bertanya..

“Apa guna kelahiran jika harus ada kematian?”

Malaikat kematian tersenym padaku,

Berkata pelan..

“Apa guna awal jika harus ada akhir?”

Kulayangkan pandanganku pada ribuan bintang di atas kami.

Mengabaikan kepakan distorsi sayap nyamuk di sekitar..

Merasakan embun di rumput basah tempat kami berpijak..

Kembali kusuarakan kata dengan bahasa rumit itu.

“Bukankah yang kekal tak kan menyisakan kesedihan?”

Dia tertawa kali ini,

Memejamkan matanya..

“Lalu apa yang harus kukerjakan jika kekekalan itu abadi?”

Kuteguk kopi yang mulai mendingin..

“Kau senang melihat yang bersedih?”

Dia beranjak berdiri, membenahi jubah hitamnya dari rumput liar.

“Yang bersedih tak tau betapa menyenangkannya kematian itu”

Di antara riuh rendah alunan jangkrik..

Dia pergi.

Selamat Lebaran!

Ini tahun 2010. Lebaran kali ini, sama seperti lebaran tahun lalu, saya masih berstatus (kembali) pengangguran. Ah ga penting. This is not going to be ‘unemployee pathetic note’ kok. Jadi singkirkan pointer mouse anda dari close bar itu!



Saya sempat online twitter dan menemukan sepatah kalimat disana. Kurang lebih berisikan : ‘Entah lantaran sekarang kita mudah membeli baju dan memperoleh uang, Lebaran jadi terasa istimewa hanya ketika kita masih anak anak’

Ingat zaman SD? Waktu angpao isi sepuluh ribu rasanya seperti harta karun. Disimpan rapi, lantas dipamerkan ke saudara dan kawan kawan, banyak banyakan duit. Lebaran seperti moment sangat istimewa. Yang sejak awal puasa dihitung pelan pelan, sambil wanti wanti jangan sampai bolong demi bisa dibeliin baju baru.

Meski sebenarnya bolongpun orangtua tetap akan membelikan baju, tapi puasa tetap anti dibolongkan kala itu. “Uh, pokoknya waktu masih kekanakan tu, supan banar mun sampai ketahuan orang tuha bolong,” kenang seorang kawan.

Atau ingat ketika saat itu kita seakan berlomba berangkat tarawih, demi mengejar tanda tangan sang Imam, mengisi buku ramadhan. Ketika buku ramadhan yang biasanya berisi checklist sholat, puasa, tarawih hingga hapalan ayat itu penuh terisi, nilai agama bisa naik loh! Dan ketika banyak bolongnya, saya yang sekolah di sekolah islamipun terbayang penggaris kayu milik wali kelas yang tak gentar melayang ke lengan dan pantat. Saat itu, didikan keras guru masih dinilai wajar, kalau sekarang mah orangtua si murid bakal lebay kalo tau anaknya dipukul guru.

Jujur, saat ini saya seperti kehilangan euforia lebaran. Saya bisa saja dengan mudahnya mendapatkan uang dan membeli baju setiap saat. Saya tidak lagi merasa membolongkan puasa adalah pelanggaran berat. Dan sekarang, saat malam takbiran seperti ini saya malah memilih mengurung diri di kamar. Sekedar menulis dan bermain Zuma.

Euforia itu memudar saat saya memasuki umur limabelas tahun. Saat saya menyadari bahwa saya memiliki kuasa penuh atas hidup saya. Kuasa penuh. Saya tidak bisa dan tidak boleh dikekang aturan dan perintah. Proses pendewasaan diri? Kok malah terdengar sangat egois?

Sejak itu, saya seperti ‘mencari’ rasa gegap gempita masa kanak kanak setiap kali menjelang lebaran. Saya mencoba membuat target sendiri perihal absensi puasa, atau mencoba bepergian bersama kawan saat malam lebaran. Mencari euforia itu. Hasilnya? Saya tetap merasa lebaran tak ada bedanya dengan hari biasa, pun halnya dengan ramadhan.

Karenanya, tahun ini saya semacam menyerah. Lelah mencari, saya putuskan untuk berdiam diri di kamar, mendengarkan lantunan takbir lamat lamat dari masjid depan gang. Meski kemudian suara takbir itu tenggelam ditelan belasan lagu keras dari dalam headphone.

Mungkin, ini karena iman saya yang lemah, atau lantaran saya yang sedari kecil hanya tau kalau arti lebaran adalah baju baru dan setumpuk angpao. Atau justru Iman saya kala bocah tak lebih dari sekedar rasa takut terhadap penggaris kayu…

Kangen!

Aku kangen menulis! benar benar kangen. Ga kerasa udah tiga bulan saya berhenti menjalani rutinitas -menulis-sebanyakbanyaknya-setiap -hari-sampai-eneg-sendiri-. Dan yak, resultnya sekarang adalah: Kangen!

Hahaha, tiga bulan buat rehat rasanya sudah cukup untuk memulihkan napsu menulis. Nah, kemarin pas lagi ngepak barang barang lama, aku nemu statistik berita (semacam jurnal harian yang isinya produktivitas, bikinan sendiri). Dan ternyata, selama tujuh bulan bekerja, aku mencetak kurang lebih 562 berita. Gila!

Imajinasikan satu berita panjangnya satu halaman legal (sebelum diedit redaktur). Ini artinya selama tujuh bulan aku mengetik 562 lembar halaman dengan tema yang berbeda setiap halamannya. Kalau ‘semangat’ itu dialihkan untuk menulis sajak/puisi. Udah jadi buku noh 😀

Sementara, sepanjang tahun 2009 lalu, aku hanya berhasil bikin 74 sajak. Setahun penuh!

Gimana ga stress. -_- kesannya aku nulis ini seperti seorang pengeluh yang gemar merutuki masa lalu yak.

okeh. Kita beralih ke berita selanjutnya.

My recent activity adalah mencoba kembali menulis. Kali ini mencoba menulis untuk sebuah zine lokal yang rencananya terbit pas gig 15 September ntar. Nanti diposting.

This is it for now. Besok Lebaran!

Bruynzeel, Bentuk Kejayaan Masa Lampau (1)

Lokomotif Beserta Rel Itu diangkut Dari Belanda

Reruntuhan pabrik yang terkenal dengan sebutan brengsel itu masih berdiri berdampingan dengan Taman Kota Sampit hingga sekarang. Berdiri di tahun 1948, NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven (BDH) merupakan kilang penggergajian kayu termodern di Indonesia. Masyarakat lokal yang tidak terbiasa dengan aksara Belanda melafalkannya dengan sebutan Brengsel. Sebutan itu begitu kental melekat hingga sekarang.

Rusnani Anwar, Sampit

Koran Ini dibawa ke puluhan tahun lampau oleh Muhammad Amberi H.I, warga Baamang yang bersinggungan langsung dengan kilang penggergajian milik NV Bruynnzeel sejak tahun 1951. “Saya, setelah lulus SR (sekolah rakyat), sudah berjualan di kantin Bruynzeel,” ujarnya membuka cerita.

Bapak yang akrab disapa Amberi ini memaparkan tentang kecanggihan kilang penggergajian kayu yang didirikan oleh Belanda itu. Ia dulu adalah anak dari pemilik kantin karyawan NV BDH, ayahnya seorang tentara. Setiap hari Amberi berhadapan dengan kemegahan kilang penggergajian yang memiliki penjagaan ketat itu.

Meskipun Indonesia telah dinyatakan merdeka pada tahun 1945, para penjajah tidak sepenuhnya meninggalkan negara kita. Pada tahun 1948, di tanah Sampit, Belanda mendirikan kilang penggergajian kayu tercanggih se-Indonesia. Kalimantan pada waktu itu terkenal dengan rimbunan kayu dan kekayaan hutannya. Kilang penggergajian tersebut berada di jajaran sungai Mentaya, luas bangunan utama pabrik mencapai 50 × 100 meter.

Bangunan seluas itu berlantai dua, lantai satu berfungsi sebagai tempat pengolahan kayu tahap akhir. Lantai dua difungsikan sebagai tempat pengeringan dan pengolahan kayu tahap satu. Semuanya menggunakan mesin yang langsung didatangkan dari negeri Belanda. “Canggih sekali, jumlah mesinnya puluhan,” ungkap Amberi. Mesin dan teknisinya juga dikirim langsung dari Belanda.

Gelondong-gelondong kayu diangkut dari hutan di kawasan barat Sampit dengan menggunakan kereta api. Sebutannya dulu adalah lokomotif, besi rel yang membentang hingga belasan kilometer itu diangkut dengan menggunakan kapal dari negara Belanda. Hitam legam lokomotif itu menyeruak di sela kompleks perumahan Holland yang terletak tidak jauh dari rel kereta. “Lokomotif itu besar sekali, sekali angkut ribuan gelondong kayu bisa dibawa,” papar lelaki berusia 64 tahun itu.

Kepulan asap mesin turbin penggerak lokomotif membentuk cendawan-cendawan hitam dari cerobong kereta api yang relnya terbentang dari kilang Bruynzeel hingga ke kilometer 7 (Pasir Putih sekarang). Sepanjang jalan yang dilalui lokomotif akan menunggu gelondongan kayu yang telah ditebang dan digelindingkan turun dari hutan. Berbahan bakar batubara, lokomotif berwarna legam sepanjang 50 meter itu menjadi pemandangan khas di sore hari. Hingga saat ini jalan yang dulu merupakan jalur rel lokomotif kilang Bruynzeel disebut sebagai Jalan Rel.

Ribuan gelondong kayu itu lantas dibawa lokomotif ke areal kilang. Di sana, kayu-kayu itu diceburkan ke sungai dengan tujuan untuk membersihkan sekaligus untuk menampung kayu-kayu tersebut sebelum diolah. “Dulu sebutannya Sungai Pemuatan,” ujar Amberi. Lantas, dengan menggunakan mesin hidrolik, gelondong kayu basah itu dinaikkan setinggi delapan meter ke lantai dua bangunan pabrik utama.

*Daerah sisir Sungai Mentaya*

Saat ini, hanya satu cerobong asap yang tersisa di area pabrik tersebut. Itupun sudah doyong dan berkarat, nyaris rubuh. Dulu, ada dua cerobong yang selalu mengepulkan asap putih hasil pembakaran kayu untuk mesin pengering gelondong. “Satu tinggi satu rendah, langit berasap kalau kayu lagi dikeringkan,” kenang Amberi.

Berbagai jenis kayu hasil hutan Kalimantan diolah di kilang Bruynzeel. Kayu jenis Kruing, Meranti, Jati, Bengalan hingga Agatis diolah menjadi bahan bangunan dan kerangka meubel . hasil olahan yang paling terkenal adalah Agatis dan Bengalan, semuanya kualitas ekspor. Kayu-kayu ini lantas dikirim menggunakan kapal Neel Bruynzeel milik Bruynzeel ke Batavia (Jakarta), dari sana, kayu-kayu olahan tersebut di ekspor ke India dan China.

Dulu pada awal berdiri, pabrik Bruynzeel memiliki dua armada kapal pengangkut kayu olahan, bernama Leet Bruynzeel dan Neel Bruynzeel, namun pada tahun 1957, kapal Leet Bruynzeel terbakar lantas karam lantaran terbakar di sekitar sungai Mentaya wilayah Terawan (tidak lama setelah tenggelamnya kapal Leet Bruynzeel, kapal Pelni yang hendak berlabuh turut karam di lokasi yang sama).

Kedua kapal inipun didatangkan langsung dari Belanda, kapasitasnya mencapai ribuan kubik, besar sekali. Setiap kali kapal datang, bunyinya yang lantang mampu didengar hingga radius berkilometer. Pabrik Bruenzeel merupakan bukti nyata kejayaan hutan Sampit. Sejak awal berdiri di tahun 1948 hingga 1961, hutan dan kayu seakan tidak ada habisnya untuk di eksploitasi.

Saat itu Belanda-lah yang memegang kuasa penuh atas industri kayu di Kalimantan. Menggunakan sistem bagi hasil dengan pemerintah. Sebanyak 2000 lebih warga Sampit pada saat itu menggantungkan hidupnya pada kilang penggergajian kayu NV BDH. Terjajahkah kita? Secara harfiah mungkin ya, kita terjajah.

Warga asing merampas kekayaan hutan kita dan menjualnya untuk kekayaan pribadi. Kita mungkin terjajah karena mereka menjadikan kita budak di tanah sendiri. Di ajukan pernyataan seperti ini, Amberi hanya tertawa. Ia menyatakan, jika bisa memilih, dirinya lebih baik bekerja di Bruynzeel daripada menjadi pegawai negeri (pekerjaannya sekarang).

Rupanya, kaum feodal itu memperlakukan pekerjanya dengan sangat baik. Jika dibuat perumpamaan, upah bekerja di pabrik Bruynzeel selama seminggu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama sebulan. Selain itu, setiap bulan pimpinan perusahaan akan membagikan jatah sembako kepada setiap pekerja pabrik. “Sampai tepung juga diberi, mereka baik sekali,” ujar Amberi.

Tidak hanya pangan, seluas satu kilometer tanah yang membentang mulai Taman Kota hingga Gatot Subroto ujung merupakan kepunyaan NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven. Tanah dengan luas 1000 × 500 meter itu diprioritaskan untuk perumahan pekerja. Jalan Gatot Subroto hingga daerah Pesawahaan ujung diperuntukkan sebagai Kompleks Perumahan Belanda. Jejeran rumah di kompleks itu sama persis, jumlahnya ratusan buah, khusus untuk pekerja dari Belanda. Sisanya menyebar kaum pribumi menempati areal tanah milik Bruynzeel. Dalam pengadaan tanah ini, Belanda memiliki hak pakai tanah dengan sistem kontrak.

Disiplin. Sebuah kata yang mampu menggambarkan sistem kerja di kilang penggergajian Bruynzeel. Waktu kerja masing-masing divisi adalah 07.00 hingga 16.00 WIB. Pekerja pabrik yang rata-rata tinggal di daerah sekitar pabrik akan diperingatkan dengan sirine setiap menjelang pukul 07.00 pagi. Ada berbagai jenis pekerjaan di kilang tersebut, mulai dari petugas sortir, pengering kayu, penggergaji, mekanik, hingga cleaning service.

Sirine pertama artinya seluruh pekerja harus bersiap-siap, sirine kedua berarti gerbang pabrik akan ditutup. “Ketika pekerja dinyatakan terlambat, ia tidak diperbolehkan masuk bekerja,” terang Amberi. Kedisiplinan yang diterapkan pimpinan Bruynzeel ini berlaku rata, baik kaum pribumi maupun pekerja Belanda.

Sayang, kejayaan kaum Belanda dan Bruynzeel-nya hanya bertahan selama 13 tahun. Pada tahun 1961, tampuk kepemimpinan pabrik berpindah ke tangan pemerintah kota. Hal ini menyusul dikeluarkannya Peraturan Perusahaan Negara (PN) Perhutani oleh pemerintah. Kemudian pada tahun 1972, pemerintah mengeluarkan PP no. 15/1972 tentang perubahan PN. Perhutani Kalimantan menjadi PT. Inhutani I (kaltim), PT. Inhutani II (kalsel) dan PT. Inhutani III (kalteng dan kalbar). Ini merupakan upaya pemerintah dalam meningatkan pendapatan negara melalui sektor perkayuan. Ditambah dengan gempuran politik orde lama yang perlahan lahan “mengusir” kaum Belanda yang menanam modal dari tanah air.

Saat ini tak banyak yang tersisa dari kejayaan kilang penggergajian kayu NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven. Areal pabrik yang dulu sempat dinoktahkan sebagai pabrik terbesar dan tercanggih se-Indonesia itu berubah menjadi lahan rimbun semak belukar. Tanaman rambat liar menyesapi sela-sela bangunan yang sebagian runtuh dan tidak terurus.

Cerobong tinggi tempat dimana asap mesin pengering kayu masih berdiri gamang, renta ditelan karat dan hujan selama berpuluh tahun. Saat ini lebatnya hutan Kalimantan hanya tinggal ode pengantar tidur. Kisah tentang kilang penggergajian terbesar dan kejayaannya itu kian memudar, pelaku sejarah yang terlibat langsung dengan pabrik itu perlahan tutup usia seiring fade out-nya lantunan sejarah kota kita. (***)


*Terbit pada Surat Kabar Harian Radar Sampit, April 2010*

Bruynzeel, Bentuk Kejayaan Masa Lampau (2)

Adnan, Mekanik Handal ‘Lulusan’ Brengsel

Terampil tangan keriputnya melilit kabel dinamo ke kumparan mesin. Layaknya mekanik profesional, mobil yang semula ngadat mengerang perlahan. Gumpalan asap hitam keluar dari knalpot belakang. Berhasil, mobil yang semula anfal hidup kembali di tangan Adnan, pemilik bengkel spesialis mesin yang tak pernah mengenyam pendidikan formal permesinan.

RUSNANI ANWAR, Sampit

Ditemui pada Sabtu (27/2) sore di kediamannya, Koran Ini disambut ramah oleh Adnan. Bertempat tinggal di jalan Gatot Subroto sejak lahir, membuat Adnan paham betul tentang masa lampau kota Sampit. Usianya menjelang 80, kelahiran tahun 1933. Beliau adalah salah satu dari 2000 lebih pekerja NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven (BDH) dulu. Kilang penggergajian milik Belanda yang dinoktahkan sebagai wadah pengolahan kayu tercanggih se Indonesia itu berdiri di tahun 1948.

Pada tahun 1957, Adnan menjadi bagian dari kilang tersebut sebagai buruh mesin. Mesin-mesin bubut yang jumlahnya puluhan itu menderu nyaring setiap waktu. Secara konstan melahap kayu-kayu siap olah. Adnan tidak hanya bertugas mengoperasikan mesin-mesin tersebut, ia juga bertanggungjawab pada kerusakan-kerusakan di tiap unit mesin.

Alah bisa karena biasa, mungkin pepatah inilah yang tepat untuk Adnan. Ditempa brengsel selama belasan tahun membuatnya paham betul tentang seluk beluk mesin, tanpa harus mengenyam pendidikan resmi. “Dahulu itu sempat disekolahkan oleh pimpinan Bruynzeel, hitungan bulan ja,” ujar Adnan. Ia bahkan tak bisa baca tulis, namun fasih mulutnya meluncurkan kalimat-kalimat berbahasa Belanda yang didapatnya semasa bekerja di kilang penggergajian.

Putih rambut dan keriput kulit Adnan di usia 77 tahun rupanya tidak mengurangi kemampuannya dalam mengingat keadaan Sampit puluhan tahun silam. Dulu, menurut Adnan, ratusan rumah bermodel sama membentang dari Taman Kota hingga Pesawahan ujung. Berderet rata, rumah itu dihuni oleh kaum Belanda yang semuanya merupakan pekerja Bruynzeel.

*Adnan*

Sebagai fasiltas pelengkap, lapangan bola, lapangan tenis, area bola sodok (bilyard), hingga kompleks hiburan didirikan berdekatan dengan area kilang penggergajian kayu. Taman Kota dulunya adalah lapangan sepakbola, masih lekat di ingatan Adnan deretan kursi penonton yang berbahan dasar kayu, mengilap warnanya berlapis vernis ditimpa sinar matahari.

Tahun 1950-an, jejeran penjual helm di kawasan kontainer pelabuhan Sampit merupakan gudang garam. Ribuan ton garam ditampung dalam gudang tersebut. Kilang penggergajian itu bagai jantung tempat dimana seluruh aktivitas kehidupan warga Sampit berdenyut. Di samping lapangan sepakbola. Berdiri megah sebuah kompleks hiburan, isinya beragam, rumah-rumah makan, bar-bar tempat para Belanda menghabiskan waktu liburnya, hingga area permainan khas negri kincir angin.

Musik-musik barat kerap dimainkan band-band di area hiburan tersebut. Alunan jazz, ballad dan blues mengalun bergantian setiap malam. Perlahan setelah berpindahnya tampuk kepemimpinan Belanda atas kilang penggergajian membuat kejayaan bangsa Holland itu atas bumi Habaring Hurung memudar.

Di tahun 1961 ke atas, lepas berpindahnya kepemimpinan NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven ke tangan PN. Perhutani, kedudukan penguasa dagang tertinggi Sampit bergeser. “Kalau tahun 40-50-an itu Belanda yang menguasai perdagangan, tahun 60-an ke atas itu jadi tahunnya orang China,” ujar Adnan. Meskipun Soeharto telah terpilih sebagai presiden pada tahun 1966 -kita semua tahu bagaimana bentuk perlakuan pemerintah terhadap kaum China pada saat itu-, hal tersebut tidak lantas menyurutkan semangat kaum China untuk berkuasa atas sistem dagang warga pribumi. Warga Belanda yang sudah habis masa kontraknya pulang kembali ke tempat asalnya.

Pada era itu, mayoritas penduduk Sampit adalah warga Banjar dan Madura. Tarian Ronggeng khas Madura ternyata sudah menjadi bagian dari hiburan warga Sampit sejak dulu. Setiap Rabu dan Sabtu malam, pasar malam di kompleks hiburan (kawasan eks gedung Mentaya Theater sekarang) akan diramaikan dengan tabuhan musik khas Madura dan geolan penari Ronggeng.

Jumlah warga China pada saat itu tidaklah seberapa, di bawah tekanan rezim Soeharto mereka banyak mengubah nama menjadi lebih berbau lokal. Budaya ini rupanya terbawa hingga sekarang. Jangan heran jika pada tahun delapan puluhan ada kaum bermata sipit yang mengaku bernama Muhammad. “Mereka punya dua nama, nama Indonesia dan nama China,” ujar Arman, seorang warga asli Sampit yang sejak 74 tahun lalu lahir di kota ini.

Meskipun kuantitasnya kecil, mereka berkuasa atas perdagangan saat itu. Tercatat setidaknya tiga kilang penggergajian kayu besar milik etnis China yang tersebar di Kalimantan sejak tahun 1950. Ketiga kilang penggergajian itu bernama Firma Gani milik Lie Sioe Wing di Tenggarong, milik Ban Hong di Long Iram, dan milik Tan Tjong Tju di Samarinda. Kelak, di tahun 1972 ketika NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven berubah menjadi PT. Inhutani III dan pamornya memudar, kilang-kilang penggergajian kayu milik kaum China inilah yang merajai pasar.

Tauke-tauke itu tidak hanya menguasai pasar kayu, namun juga aspek perdagangan lain. “Pokoknya orang China itu semuanya pedagang di Sampit,” papar Arman. Mereka terkenal sebagai pedagang ulung. Sengit menentukan harga dan pintar mengendalikan pembeli. Di tahun 1963, ada dua bioskop milik China yang terkenal di kota Sampit. Masing-masing mengusung nama Sentosa dan Shanghai.

Bioskop Sentosa terletak di jalan Sutoyo S, tepat di Kusuka Swalayan saat ini. Sedangkan bioskop Shanghai berada di jalan Jendral A. Yani, bekas gedung pajak yang terbakar. Meski sama-sama dimiliki etnis China, kedua bioskop ini memiliki perbedaan pada film yang diputar. Bioskop Sentosa khusus menayangkan film-film Jakarta, bioskop Shanghai merupakan spesialis film Malaysia.

Baru pada tahun 1980-an, Theater Mentaya dibangun, perlahan keberadaan dua bioskop kecil itu tergantikan dengan rol-rol film yang lebih canggih dan kapasitas gedung yang lebih besar. Mengenang masa lalu dan kemakmuran hidup di waktu itu memang tidak akan ada habisnya. Simpulan kepemimpinan Soeharto yang berbunyi “sejahtera tapi ngutang” sepertinya benar adanya. Meski dijajah secara moril, para orang-orang tua yang hidup di era orde baru tetap mengakui bahwa zaman dulu jauh lebih enak dibanding sekarang.

Adnan menyatakan meski rekan-rekan bekerjanya sudah habis dimakan usia, meskipun tidak ada sejarah tentang Bruynzeel yang tersisa, ia tetap meyakini sejarah yang terbagi melalui lisan tidak akan habis termakan zaman. Ia dan kemahirannya merakit mesin misalnya, merupakan sebuah warisan tidak berwujud yang diserap dengan sendirinya selama bekerja di kilang penggergajian NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven. (***)

*sebuah rumah bubungan tinggi di kawasan Baamang Hulu, Sampit*

*Terbit pada Surat Kabar Harian Radar Sampit, April 2010*

Kembali Menulis

Kangen menulis lagi. Rasanya udah setahun lebih ga bikin sajak kampret sok nyastra itu. Saatnya kembali menulis. Di bawah ada dua sajak yang kubikin kemarin. Baru sempat keposting sekarang. Here their are :

Sepotong Kesal Sang Penyair Muda

Sore itu aku bertandang ke rumah dokter.
Pohon Akasia menyala di tepi teduh gedung praktiknya.
Dokter ini lulusan fakultas psikologi. Entah dokter entah psikolog.
Dengan segala keterprofesionalisannya ia bertanya.
Mengenai apa yang kukeluhkan akhir akhir ini.

Tergelitik rasanya untuk menunjukkan slip gaji yang angkanya mengecil.
Atau menunjukkan segunung kewajiban yang masih harus digenapi.
Dokter berkacamata kotak itu lantas menyilakanku berbaring di kursi malas di sudut ruangannya.

Aku mulai mengeluh, kubilang aku tidak lagi bisa menulis.
“Kenapa Anda merasa demikian?” kejarnya.
“Saya adalah penulis sajak penuh penderitaan. Saya menulis apa yang rakyat kecil kebanyakan derita,” termangu mangu aku menjawab seraya tak bisa lepaskan pandang pada televisi portable di sisi ruang.

Ia tersenyum. Kemudian mencoba menebak nebak tulisan seperti apa yang kuhasilkan.
Lantas, entah mengapa, ia menanyakan latar belakang ekonomiku.
Ya sudahlah, toh memang pekerjaannya menjajah wilayah pribadi pasien.
Kujawab ayahku dulu jendral, ibuku dosen. Keduanya kini hidup bahagia dengan uang pensiun masing masing. Sedari kecil aku hidup berkecukupan. Namun kemiskinan tetanggaku membuatku tersentuh. Simpati.

Aku yang terdorong menjadi penulis, berhenti kuliah, berangkat ke kota asing, mencoba menggali sisi miris rakyat kecil.
“Banyak yang memuji tulisan saya. Mereka bilang saya mampu menangkap sisi muram negri ini. Anehnya tak satupun penerbit menarik saya untuk menjadi penulis mereka, “
“Lantas bagaimana caramu membuat orang lain tau tentang tulisanmu?” sang dokter seakan memberi pertanyaan retoris.

Aku menjelaskan mengenai upayaku bergabung dengan komunitas gratisan untuk bisa menulis dengan upah gratis tentu saja. Dan betapa lelahnya aku memenuhi hidup dengan menjadi penyiar lepas di radio.
Dan betapa tulisan itu lantas dibaca banyak orang. Mungkin efek gratisan.
“Sekarang saya kesulitan menulis lagi, dok. Redaktur majalah gratisan terus mencecar tulisan saya yang tak lagi mengiba iba seperti dulu.”
Lalu kujelaskan bahwa sekarang tulisanku penuh kemarahan. Protes bahkan mulai mencerca kemiskinan. Mencerca apa yang menjadi ladang inspirasiku.

“Marah?” tanya dokter seraya menaikkan sebelah alisnya.
“Ya. Dok. Saya merasa marah pada para miskin yang hanya bisa mengeluh dan mengiba atas nasib mereka. Saya merasa jengkel pada pengemis yang selalu merasa iri pada nasib bermobil yang tiap hari ia ketuk jendelanya,” ungkapku berapi.
Aku juga menjelaskan betapa sebalnya aku pada tangisan bayi mendamba susu, loper putus sekolah dan pengemis kereta api.
“Ah. Aku tau..” dokter itu lantas mengambil gelas berisi air putih, menjulurkannya padaku.

“Anda, dalam hati seakan berontak dan berteriak. ‘Aku juga menderita, aku juga kesulitan. Sulitkah bagi kalian untuk mengerti dan setidaknya bersyukur aku sudah menyuarakan sakit kalian? “ lanjutnya.
Hebat, tak percuma aku habiskan tujuh kali berganti angkutan kota untuk mendatanginya.

“Saya hanya merasa,. Tidak lagi mampu mengerti perasaan mereka. Apa lantaran saya sudah menjadi bagian dari mereka?”
Dokter kembali berdiri, mempersilakan saya menuju pintu keluar.
“Tidak ada yang perlu Anda khawatirkan. Anda telah menjadi manusia sepenuhnya,”

—————————————————————————————————-

Ditelan Zaman

Kuterka, usianya lebih dari 70 tahun. Mungkin 80. Sulit menebaknya di sela keriput dan tatapan mata sayu itu.
Aku sedang menikmati makan siangku. Sengaja kupilih warung pinggir jalan, harganya murah, meski harus berkawan dengan pengamen dan kuli bangunan.
Siang itu terik, sang kakek melepas topi baretnya. Aku pesimis topi lusuh itu mampu menangkal matahari dari wajah rentanya.

Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang tak kalah lusuh dari baretnya.
Semacam naskah, entah. Kulanjutkan menyeruput es jeruk, tapi tak lepas juga pandangan atasnya.
Sang kakek lantas menggumam sendiri. Aku bisa mendengarnya dari seberang meja kecil yang berjajar sekenanya di warung kumuh ini.
Kurang lebih “Mau kemana lagi” yang ia senandungkan*, lirih.

Iseng. Kucoba tanya apayang sedang ia lakukan,
Rupanya kakek ini sorang penulis. Sastrawan sejak tahun enampuluhan.
Tampak matanya bersinar ketika bercerita mengenai zaman perang.
Penasaran. Kuminta izin untuk membaca naskah yang ia pegang.
Waktu istirahat siang tinggal seperempat jam.

Bait huruf yang ada di dalam naskah itu diuntai menggunakan mesin tik. Terlihat guratan putih bekas ditimpa pembersih.
Kurang lebih bercerita tentang fiksi-nyata seorang pejuang. Dan kisah cinta klasik yang polos.
Bagiku, seorang kakek yang hidup di zaman sulit seperti kala itu, bisa membuat novel adalah hal luar biasa.

Kakek itu lantas menyebutkan namanya, tidak kukenal. Tapi ia mengaku tulisannya dulu dipuji para pejuang. Karyanya membangkitkan semangat, jujur, dan mengena meski kadang terlampau sarkastik.
Kini, ia baru saja pulang dari penerbit ke enam. Belum ada yang berminat.
Waktu istirahat habis, kutinggal sang kakek kembali tenggelam dalam kopi dan gumamnya.

Perjalanan kembali aku tersenyum. Aku teringat sosokku sepuluh tahun lalu. Kala masih duapuluhan. Masih beridealis tinggi. Merasa bisa hidup dengan tulisan melawan pasar.

Sama seperti sang kakek. Aku merasa hebat dengan pujian atas segala kekritisan itu. Lantas pelan merasa dikhianati tulisan sendiri.
Aku menyerah, sang kakek tampaknya belum goyah.
Menghela nafas, aku kembali ke kubikal sempit tempatku menghabiskan belasan waktu setiap harinya.

*kok aku kebayang si kakek nyanyi lagu Armada ‘Mau dibawa Kemana’ yak..

hehehehe. Dua sajak sok nyastra inipun berhasil ditelurkan.

(terimakasih untuk bacaan bagus yang sungguh menginspirasi, Aku Ingin Menjadi Peluru -Widhi Thukul)
Selamat Menjelang Lebaran!