Bruynzeel, Bentuk Kejayaan Masa Lampau (1)

Lokomotif Beserta Rel Itu diangkut Dari Belanda

Reruntuhan pabrik yang terkenal dengan sebutan brengsel itu masih berdiri berdampingan dengan Taman Kota Sampit hingga sekarang. Berdiri di tahun 1948, NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven (BDH) merupakan kilang penggergajian kayu termodern di Indonesia. Masyarakat lokal yang tidak terbiasa dengan aksara Belanda melafalkannya dengan sebutan Brengsel. Sebutan itu begitu kental melekat hingga sekarang.

Rusnani Anwar, Sampit

Koran Ini dibawa ke puluhan tahun lampau oleh Muhammad Amberi H.I, warga Baamang yang bersinggungan langsung dengan kilang penggergajian milik NV Bruynnzeel sejak tahun 1951. “Saya, setelah lulus SR (sekolah rakyat), sudah berjualan di kantin Bruynzeel,” ujarnya membuka cerita.

Bapak yang akrab disapa Amberi ini memaparkan tentang kecanggihan kilang penggergajian kayu yang didirikan oleh Belanda itu. Ia dulu adalah anak dari pemilik kantin karyawan NV BDH, ayahnya seorang tentara. Setiap hari Amberi berhadapan dengan kemegahan kilang penggergajian yang memiliki penjagaan ketat itu.

Meskipun Indonesia telah dinyatakan merdeka pada tahun 1945, para penjajah tidak sepenuhnya meninggalkan negara kita. Pada tahun 1948, di tanah Sampit, Belanda mendirikan kilang penggergajian kayu tercanggih se-Indonesia. Kalimantan pada waktu itu terkenal dengan rimbunan kayu dan kekayaan hutannya. Kilang penggergajian tersebut berada di jajaran sungai Mentaya, luas bangunan utama pabrik mencapai 50 × 100 meter.

Bangunan seluas itu berlantai dua, lantai satu berfungsi sebagai tempat pengolahan kayu tahap akhir. Lantai dua difungsikan sebagai tempat pengeringan dan pengolahan kayu tahap satu. Semuanya menggunakan mesin yang langsung didatangkan dari negeri Belanda. “Canggih sekali, jumlah mesinnya puluhan,” ungkap Amberi. Mesin dan teknisinya juga dikirim langsung dari Belanda.

Gelondong-gelondong kayu diangkut dari hutan di kawasan barat Sampit dengan menggunakan kereta api. Sebutannya dulu adalah lokomotif, besi rel yang membentang hingga belasan kilometer itu diangkut dengan menggunakan kapal dari negara Belanda. Hitam legam lokomotif itu menyeruak di sela kompleks perumahan Holland yang terletak tidak jauh dari rel kereta. “Lokomotif itu besar sekali, sekali angkut ribuan gelondong kayu bisa dibawa,” papar lelaki berusia 64 tahun itu.

Kepulan asap mesin turbin penggerak lokomotif membentuk cendawan-cendawan hitam dari cerobong kereta api yang relnya terbentang dari kilang Bruynzeel hingga ke kilometer 7 (Pasir Putih sekarang). Sepanjang jalan yang dilalui lokomotif akan menunggu gelondongan kayu yang telah ditebang dan digelindingkan turun dari hutan. Berbahan bakar batubara, lokomotif berwarna legam sepanjang 50 meter itu menjadi pemandangan khas di sore hari. Hingga saat ini jalan yang dulu merupakan jalur rel lokomotif kilang Bruynzeel disebut sebagai Jalan Rel.

Ribuan gelondong kayu itu lantas dibawa lokomotif ke areal kilang. Di sana, kayu-kayu itu diceburkan ke sungai dengan tujuan untuk membersihkan sekaligus untuk menampung kayu-kayu tersebut sebelum diolah. “Dulu sebutannya Sungai Pemuatan,” ujar Amberi. Lantas, dengan menggunakan mesin hidrolik, gelondong kayu basah itu dinaikkan setinggi delapan meter ke lantai dua bangunan pabrik utama.

*Daerah sisir Sungai Mentaya*

Saat ini, hanya satu cerobong asap yang tersisa di area pabrik tersebut. Itupun sudah doyong dan berkarat, nyaris rubuh. Dulu, ada dua cerobong yang selalu mengepulkan asap putih hasil pembakaran kayu untuk mesin pengering gelondong. “Satu tinggi satu rendah, langit berasap kalau kayu lagi dikeringkan,” kenang Amberi.

Berbagai jenis kayu hasil hutan Kalimantan diolah di kilang Bruynzeel. Kayu jenis Kruing, Meranti, Jati, Bengalan hingga Agatis diolah menjadi bahan bangunan dan kerangka meubel . hasil olahan yang paling terkenal adalah Agatis dan Bengalan, semuanya kualitas ekspor. Kayu-kayu ini lantas dikirim menggunakan kapal Neel Bruynzeel milik Bruynzeel ke Batavia (Jakarta), dari sana, kayu-kayu olahan tersebut di ekspor ke India dan China.

Dulu pada awal berdiri, pabrik Bruynzeel memiliki dua armada kapal pengangkut kayu olahan, bernama Leet Bruynzeel dan Neel Bruynzeel, namun pada tahun 1957, kapal Leet Bruynzeel terbakar lantas karam lantaran terbakar di sekitar sungai Mentaya wilayah Terawan (tidak lama setelah tenggelamnya kapal Leet Bruynzeel, kapal Pelni yang hendak berlabuh turut karam di lokasi yang sama).

Kedua kapal inipun didatangkan langsung dari Belanda, kapasitasnya mencapai ribuan kubik, besar sekali. Setiap kali kapal datang, bunyinya yang lantang mampu didengar hingga radius berkilometer. Pabrik Bruenzeel merupakan bukti nyata kejayaan hutan Sampit. Sejak awal berdiri di tahun 1948 hingga 1961, hutan dan kayu seakan tidak ada habisnya untuk di eksploitasi.

Saat itu Belanda-lah yang memegang kuasa penuh atas industri kayu di Kalimantan. Menggunakan sistem bagi hasil dengan pemerintah. Sebanyak 2000 lebih warga Sampit pada saat itu menggantungkan hidupnya pada kilang penggergajian kayu NV BDH. Terjajahkah kita? Secara harfiah mungkin ya, kita terjajah.

Warga asing merampas kekayaan hutan kita dan menjualnya untuk kekayaan pribadi. Kita mungkin terjajah karena mereka menjadikan kita budak di tanah sendiri. Di ajukan pernyataan seperti ini, Amberi hanya tertawa. Ia menyatakan, jika bisa memilih, dirinya lebih baik bekerja di Bruynzeel daripada menjadi pegawai negeri (pekerjaannya sekarang).

Rupanya, kaum feodal itu memperlakukan pekerjanya dengan sangat baik. Jika dibuat perumpamaan, upah bekerja di pabrik Bruynzeel selama seminggu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama sebulan. Selain itu, setiap bulan pimpinan perusahaan akan membagikan jatah sembako kepada setiap pekerja pabrik. “Sampai tepung juga diberi, mereka baik sekali,” ujar Amberi.

Tidak hanya pangan, seluas satu kilometer tanah yang membentang mulai Taman Kota hingga Gatot Subroto ujung merupakan kepunyaan NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven. Tanah dengan luas 1000 × 500 meter itu diprioritaskan untuk perumahan pekerja. Jalan Gatot Subroto hingga daerah Pesawahaan ujung diperuntukkan sebagai Kompleks Perumahan Belanda. Jejeran rumah di kompleks itu sama persis, jumlahnya ratusan buah, khusus untuk pekerja dari Belanda. Sisanya menyebar kaum pribumi menempati areal tanah milik Bruynzeel. Dalam pengadaan tanah ini, Belanda memiliki hak pakai tanah dengan sistem kontrak.

Disiplin. Sebuah kata yang mampu menggambarkan sistem kerja di kilang penggergajian Bruynzeel. Waktu kerja masing-masing divisi adalah 07.00 hingga 16.00 WIB. Pekerja pabrik yang rata-rata tinggal di daerah sekitar pabrik akan diperingatkan dengan sirine setiap menjelang pukul 07.00 pagi. Ada berbagai jenis pekerjaan di kilang tersebut, mulai dari petugas sortir, pengering kayu, penggergaji, mekanik, hingga cleaning service.

Sirine pertama artinya seluruh pekerja harus bersiap-siap, sirine kedua berarti gerbang pabrik akan ditutup. “Ketika pekerja dinyatakan terlambat, ia tidak diperbolehkan masuk bekerja,” terang Amberi. Kedisiplinan yang diterapkan pimpinan Bruynzeel ini berlaku rata, baik kaum pribumi maupun pekerja Belanda.

Sayang, kejayaan kaum Belanda dan Bruynzeel-nya hanya bertahan selama 13 tahun. Pada tahun 1961, tampuk kepemimpinan pabrik berpindah ke tangan pemerintah kota. Hal ini menyusul dikeluarkannya Peraturan Perusahaan Negara (PN) Perhutani oleh pemerintah. Kemudian pada tahun 1972, pemerintah mengeluarkan PP no. 15/1972 tentang perubahan PN. Perhutani Kalimantan menjadi PT. Inhutani I (kaltim), PT. Inhutani II (kalsel) dan PT. Inhutani III (kalteng dan kalbar). Ini merupakan upaya pemerintah dalam meningatkan pendapatan negara melalui sektor perkayuan. Ditambah dengan gempuran politik orde lama yang perlahan lahan “mengusir” kaum Belanda yang menanam modal dari tanah air.

Saat ini tak banyak yang tersisa dari kejayaan kilang penggergajian kayu NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven. Areal pabrik yang dulu sempat dinoktahkan sebagai pabrik terbesar dan tercanggih se-Indonesia itu berubah menjadi lahan rimbun semak belukar. Tanaman rambat liar menyesapi sela-sela bangunan yang sebagian runtuh dan tidak terurus.

Cerobong tinggi tempat dimana asap mesin pengering kayu masih berdiri gamang, renta ditelan karat dan hujan selama berpuluh tahun. Saat ini lebatnya hutan Kalimantan hanya tinggal ode pengantar tidur. Kisah tentang kilang penggergajian terbesar dan kejayaannya itu kian memudar, pelaku sejarah yang terlibat langsung dengan pabrik itu perlahan tutup usia seiring fade out-nya lantunan sejarah kota kita. (***)


*Terbit pada Surat Kabar Harian Radar Sampit, April 2010*

Advertisements

Bruynzeel, Bentuk Kejayaan Masa Lampau (2)

Adnan, Mekanik Handal ‘Lulusan’ Brengsel

Terampil tangan keriputnya melilit kabel dinamo ke kumparan mesin. Layaknya mekanik profesional, mobil yang semula ngadat mengerang perlahan. Gumpalan asap hitam keluar dari knalpot belakang. Berhasil, mobil yang semula anfal hidup kembali di tangan Adnan, pemilik bengkel spesialis mesin yang tak pernah mengenyam pendidikan formal permesinan.

RUSNANI ANWAR, Sampit

Ditemui pada Sabtu (27/2) sore di kediamannya, Koran Ini disambut ramah oleh Adnan. Bertempat tinggal di jalan Gatot Subroto sejak lahir, membuat Adnan paham betul tentang masa lampau kota Sampit. Usianya menjelang 80, kelahiran tahun 1933. Beliau adalah salah satu dari 2000 lebih pekerja NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven (BDH) dulu. Kilang penggergajian milik Belanda yang dinoktahkan sebagai wadah pengolahan kayu tercanggih se Indonesia itu berdiri di tahun 1948.

Pada tahun 1957, Adnan menjadi bagian dari kilang tersebut sebagai buruh mesin. Mesin-mesin bubut yang jumlahnya puluhan itu menderu nyaring setiap waktu. Secara konstan melahap kayu-kayu siap olah. Adnan tidak hanya bertugas mengoperasikan mesin-mesin tersebut, ia juga bertanggungjawab pada kerusakan-kerusakan di tiap unit mesin.

Alah bisa karena biasa, mungkin pepatah inilah yang tepat untuk Adnan. Ditempa brengsel selama belasan tahun membuatnya paham betul tentang seluk beluk mesin, tanpa harus mengenyam pendidikan resmi. “Dahulu itu sempat disekolahkan oleh pimpinan Bruynzeel, hitungan bulan ja,” ujar Adnan. Ia bahkan tak bisa baca tulis, namun fasih mulutnya meluncurkan kalimat-kalimat berbahasa Belanda yang didapatnya semasa bekerja di kilang penggergajian.

Putih rambut dan keriput kulit Adnan di usia 77 tahun rupanya tidak mengurangi kemampuannya dalam mengingat keadaan Sampit puluhan tahun silam. Dulu, menurut Adnan, ratusan rumah bermodel sama membentang dari Taman Kota hingga Pesawahan ujung. Berderet rata, rumah itu dihuni oleh kaum Belanda yang semuanya merupakan pekerja Bruynzeel.

*Adnan*

Sebagai fasiltas pelengkap, lapangan bola, lapangan tenis, area bola sodok (bilyard), hingga kompleks hiburan didirikan berdekatan dengan area kilang penggergajian kayu. Taman Kota dulunya adalah lapangan sepakbola, masih lekat di ingatan Adnan deretan kursi penonton yang berbahan dasar kayu, mengilap warnanya berlapis vernis ditimpa sinar matahari.

Tahun 1950-an, jejeran penjual helm di kawasan kontainer pelabuhan Sampit merupakan gudang garam. Ribuan ton garam ditampung dalam gudang tersebut. Kilang penggergajian itu bagai jantung tempat dimana seluruh aktivitas kehidupan warga Sampit berdenyut. Di samping lapangan sepakbola. Berdiri megah sebuah kompleks hiburan, isinya beragam, rumah-rumah makan, bar-bar tempat para Belanda menghabiskan waktu liburnya, hingga area permainan khas negri kincir angin.

Musik-musik barat kerap dimainkan band-band di area hiburan tersebut. Alunan jazz, ballad dan blues mengalun bergantian setiap malam. Perlahan setelah berpindahnya tampuk kepemimpinan Belanda atas kilang penggergajian membuat kejayaan bangsa Holland itu atas bumi Habaring Hurung memudar.

Di tahun 1961 ke atas, lepas berpindahnya kepemimpinan NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven ke tangan PN. Perhutani, kedudukan penguasa dagang tertinggi Sampit bergeser. “Kalau tahun 40-50-an itu Belanda yang menguasai perdagangan, tahun 60-an ke atas itu jadi tahunnya orang China,” ujar Adnan. Meskipun Soeharto telah terpilih sebagai presiden pada tahun 1966 -kita semua tahu bagaimana bentuk perlakuan pemerintah terhadap kaum China pada saat itu-, hal tersebut tidak lantas menyurutkan semangat kaum China untuk berkuasa atas sistem dagang warga pribumi. Warga Belanda yang sudah habis masa kontraknya pulang kembali ke tempat asalnya.

Pada era itu, mayoritas penduduk Sampit adalah warga Banjar dan Madura. Tarian Ronggeng khas Madura ternyata sudah menjadi bagian dari hiburan warga Sampit sejak dulu. Setiap Rabu dan Sabtu malam, pasar malam di kompleks hiburan (kawasan eks gedung Mentaya Theater sekarang) akan diramaikan dengan tabuhan musik khas Madura dan geolan penari Ronggeng.

Jumlah warga China pada saat itu tidaklah seberapa, di bawah tekanan rezim Soeharto mereka banyak mengubah nama menjadi lebih berbau lokal. Budaya ini rupanya terbawa hingga sekarang. Jangan heran jika pada tahun delapan puluhan ada kaum bermata sipit yang mengaku bernama Muhammad. “Mereka punya dua nama, nama Indonesia dan nama China,” ujar Arman, seorang warga asli Sampit yang sejak 74 tahun lalu lahir di kota ini.

Meskipun kuantitasnya kecil, mereka berkuasa atas perdagangan saat itu. Tercatat setidaknya tiga kilang penggergajian kayu besar milik etnis China yang tersebar di Kalimantan sejak tahun 1950. Ketiga kilang penggergajian itu bernama Firma Gani milik Lie Sioe Wing di Tenggarong, milik Ban Hong di Long Iram, dan milik Tan Tjong Tju di Samarinda. Kelak, di tahun 1972 ketika NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven berubah menjadi PT. Inhutani III dan pamornya memudar, kilang-kilang penggergajian kayu milik kaum China inilah yang merajai pasar.

Tauke-tauke itu tidak hanya menguasai pasar kayu, namun juga aspek perdagangan lain. “Pokoknya orang China itu semuanya pedagang di Sampit,” papar Arman. Mereka terkenal sebagai pedagang ulung. Sengit menentukan harga dan pintar mengendalikan pembeli. Di tahun 1963, ada dua bioskop milik China yang terkenal di kota Sampit. Masing-masing mengusung nama Sentosa dan Shanghai.

Bioskop Sentosa terletak di jalan Sutoyo S, tepat di Kusuka Swalayan saat ini. Sedangkan bioskop Shanghai berada di jalan Jendral A. Yani, bekas gedung pajak yang terbakar. Meski sama-sama dimiliki etnis China, kedua bioskop ini memiliki perbedaan pada film yang diputar. Bioskop Sentosa khusus menayangkan film-film Jakarta, bioskop Shanghai merupakan spesialis film Malaysia.

Baru pada tahun 1980-an, Theater Mentaya dibangun, perlahan keberadaan dua bioskop kecil itu tergantikan dengan rol-rol film yang lebih canggih dan kapasitas gedung yang lebih besar. Mengenang masa lalu dan kemakmuran hidup di waktu itu memang tidak akan ada habisnya. Simpulan kepemimpinan Soeharto yang berbunyi “sejahtera tapi ngutang” sepertinya benar adanya. Meski dijajah secara moril, para orang-orang tua yang hidup di era orde baru tetap mengakui bahwa zaman dulu jauh lebih enak dibanding sekarang.

Adnan menyatakan meski rekan-rekan bekerjanya sudah habis dimakan usia, meskipun tidak ada sejarah tentang Bruynzeel yang tersisa, ia tetap meyakini sejarah yang terbagi melalui lisan tidak akan habis termakan zaman. Ia dan kemahirannya merakit mesin misalnya, merupakan sebuah warisan tidak berwujud yang diserap dengan sendirinya selama bekerja di kilang penggergajian NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven. (***)

*sebuah rumah bubungan tinggi di kawasan Baamang Hulu, Sampit*

*Terbit pada Surat Kabar Harian Radar Sampit, April 2010*

Kembali Menulis

Kangen menulis lagi. Rasanya udah setahun lebih ga bikin sajak kampret sok nyastra itu. Saatnya kembali menulis. Di bawah ada dua sajak yang kubikin kemarin. Baru sempat keposting sekarang. Here their are :

Sepotong Kesal Sang Penyair Muda

Sore itu aku bertandang ke rumah dokter.
Pohon Akasia menyala di tepi teduh gedung praktiknya.
Dokter ini lulusan fakultas psikologi. Entah dokter entah psikolog.
Dengan segala keterprofesionalisannya ia bertanya.
Mengenai apa yang kukeluhkan akhir akhir ini.

Tergelitik rasanya untuk menunjukkan slip gaji yang angkanya mengecil.
Atau menunjukkan segunung kewajiban yang masih harus digenapi.
Dokter berkacamata kotak itu lantas menyilakanku berbaring di kursi malas di sudut ruangannya.

Aku mulai mengeluh, kubilang aku tidak lagi bisa menulis.
“Kenapa Anda merasa demikian?” kejarnya.
“Saya adalah penulis sajak penuh penderitaan. Saya menulis apa yang rakyat kecil kebanyakan derita,” termangu mangu aku menjawab seraya tak bisa lepaskan pandang pada televisi portable di sisi ruang.

Ia tersenyum. Kemudian mencoba menebak nebak tulisan seperti apa yang kuhasilkan.
Lantas, entah mengapa, ia menanyakan latar belakang ekonomiku.
Ya sudahlah, toh memang pekerjaannya menjajah wilayah pribadi pasien.
Kujawab ayahku dulu jendral, ibuku dosen. Keduanya kini hidup bahagia dengan uang pensiun masing masing. Sedari kecil aku hidup berkecukupan. Namun kemiskinan tetanggaku membuatku tersentuh. Simpati.

Aku yang terdorong menjadi penulis, berhenti kuliah, berangkat ke kota asing, mencoba menggali sisi miris rakyat kecil.
“Banyak yang memuji tulisan saya. Mereka bilang saya mampu menangkap sisi muram negri ini. Anehnya tak satupun penerbit menarik saya untuk menjadi penulis mereka, “
“Lantas bagaimana caramu membuat orang lain tau tentang tulisanmu?” sang dokter seakan memberi pertanyaan retoris.

Aku menjelaskan mengenai upayaku bergabung dengan komunitas gratisan untuk bisa menulis dengan upah gratis tentu saja. Dan betapa lelahnya aku memenuhi hidup dengan menjadi penyiar lepas di radio.
Dan betapa tulisan itu lantas dibaca banyak orang. Mungkin efek gratisan.
“Sekarang saya kesulitan menulis lagi, dok. Redaktur majalah gratisan terus mencecar tulisan saya yang tak lagi mengiba iba seperti dulu.”
Lalu kujelaskan bahwa sekarang tulisanku penuh kemarahan. Protes bahkan mulai mencerca kemiskinan. Mencerca apa yang menjadi ladang inspirasiku.

“Marah?” tanya dokter seraya menaikkan sebelah alisnya.
“Ya. Dok. Saya merasa marah pada para miskin yang hanya bisa mengeluh dan mengiba atas nasib mereka. Saya merasa jengkel pada pengemis yang selalu merasa iri pada nasib bermobil yang tiap hari ia ketuk jendelanya,” ungkapku berapi.
Aku juga menjelaskan betapa sebalnya aku pada tangisan bayi mendamba susu, loper putus sekolah dan pengemis kereta api.
“Ah. Aku tau..” dokter itu lantas mengambil gelas berisi air putih, menjulurkannya padaku.

“Anda, dalam hati seakan berontak dan berteriak. ‘Aku juga menderita, aku juga kesulitan. Sulitkah bagi kalian untuk mengerti dan setidaknya bersyukur aku sudah menyuarakan sakit kalian? “ lanjutnya.
Hebat, tak percuma aku habiskan tujuh kali berganti angkutan kota untuk mendatanginya.

“Saya hanya merasa,. Tidak lagi mampu mengerti perasaan mereka. Apa lantaran saya sudah menjadi bagian dari mereka?”
Dokter kembali berdiri, mempersilakan saya menuju pintu keluar.
“Tidak ada yang perlu Anda khawatirkan. Anda telah menjadi manusia sepenuhnya,”

—————————————————————————————————-

Ditelan Zaman

Kuterka, usianya lebih dari 70 tahun. Mungkin 80. Sulit menebaknya di sela keriput dan tatapan mata sayu itu.
Aku sedang menikmati makan siangku. Sengaja kupilih warung pinggir jalan, harganya murah, meski harus berkawan dengan pengamen dan kuli bangunan.
Siang itu terik, sang kakek melepas topi baretnya. Aku pesimis topi lusuh itu mampu menangkal matahari dari wajah rentanya.

Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang tak kalah lusuh dari baretnya.
Semacam naskah, entah. Kulanjutkan menyeruput es jeruk, tapi tak lepas juga pandangan atasnya.
Sang kakek lantas menggumam sendiri. Aku bisa mendengarnya dari seberang meja kecil yang berjajar sekenanya di warung kumuh ini.
Kurang lebih “Mau kemana lagi” yang ia senandungkan*, lirih.

Iseng. Kucoba tanya apayang sedang ia lakukan,
Rupanya kakek ini sorang penulis. Sastrawan sejak tahun enampuluhan.
Tampak matanya bersinar ketika bercerita mengenai zaman perang.
Penasaran. Kuminta izin untuk membaca naskah yang ia pegang.
Waktu istirahat siang tinggal seperempat jam.

Bait huruf yang ada di dalam naskah itu diuntai menggunakan mesin tik. Terlihat guratan putih bekas ditimpa pembersih.
Kurang lebih bercerita tentang fiksi-nyata seorang pejuang. Dan kisah cinta klasik yang polos.
Bagiku, seorang kakek yang hidup di zaman sulit seperti kala itu, bisa membuat novel adalah hal luar biasa.

Kakek itu lantas menyebutkan namanya, tidak kukenal. Tapi ia mengaku tulisannya dulu dipuji para pejuang. Karyanya membangkitkan semangat, jujur, dan mengena meski kadang terlampau sarkastik.
Kini, ia baru saja pulang dari penerbit ke enam. Belum ada yang berminat.
Waktu istirahat habis, kutinggal sang kakek kembali tenggelam dalam kopi dan gumamnya.

Perjalanan kembali aku tersenyum. Aku teringat sosokku sepuluh tahun lalu. Kala masih duapuluhan. Masih beridealis tinggi. Merasa bisa hidup dengan tulisan melawan pasar.

Sama seperti sang kakek. Aku merasa hebat dengan pujian atas segala kekritisan itu. Lantas pelan merasa dikhianati tulisan sendiri.
Aku menyerah, sang kakek tampaknya belum goyah.
Menghela nafas, aku kembali ke kubikal sempit tempatku menghabiskan belasan waktu setiap harinya.

*kok aku kebayang si kakek nyanyi lagu Armada ‘Mau dibawa Kemana’ yak..

hehehehe. Dua sajak sok nyastra inipun berhasil ditelurkan.

(terimakasih untuk bacaan bagus yang sungguh menginspirasi, Aku Ingin Menjadi Peluru -Widhi Thukul)
Selamat Menjelang Lebaran!

Weird Dream

Belakangan ini aku sering tidur di waktu yang ga normal. Kadang tidur satu-dua jam di subuh buta, atau tidur belasan jam hingga menjelang sore hari. Aku ga tau ini ada korelasinya atau nggak sama mimpi aneh yang kudapat belakangan.
Ah, berasa klenik abis ngomongin mimpi gini. Mimpi aneh itu antara lain menjadi semacam alien yang menggasak suatu planet berisi makhluk kerdil bertelinga kelinci. Pesan moral : Jangan main Furby Island selama enam jam penuh sebelum tidur.
Lantas tadi sore, di jeda waktu sebelum berangkat siaran malem, aku mimpi jadi Make Up Artist-nya Justin Bieber. What the F???? dan yang paling aneh ya mimpi seminggu lalu. Bukan aneh sih, hanya sedikit bikin hati mencelos (bah bahasanyeee).
Aku kembali bermimpi tentang kenangan lama. Apa yang membuat kenangan itu terlalu membekas? apa yang menjadi alasan alam bawah sadarku terus merekam kenangan itu dan sesekali iseng menghadirkannya kembali. Saat menulis ini aku lagi siaran malam, dan lagu Josh Groban yang Broken Vow mengudara.
Apa yang membuat kenangan begitu berharga hingga sulit melepaskannya ke udara. Aku ingin, damn I really want to move on. Menemukan rasa suka yang lain. Menemukan hati lain untuk dititipi rasa sayang. Tapi kenapa? kenapa seakan hanya dia yang layak untuk terus kukenang?
Kenangan memang brengsek. Ia berhasil mendayu dayukan seorang tak berhati.
Lama rasanya waktu berlalu. Tapi tetap saja, Ia lekat tak mau pergi.
Selamat Malam, Dunia yang lelah. Malam yang basah, Daun yang tergolek kuyu…

Tentang Buku

Selamat Jumat semuanya. Hehe, ini penyakit yang udah kuderita dari dulu. Ga konsisten, gabisa ngelakuin hal rutin. Bolong lagih ngisi blognyahhhh.
Baru baru ini aku namatin baca The Road to Allah. Semacam buku panduan islam. Nothing to say about this book ^^. Lagi doyan baca buku seminggu belakangan, alhasil, dus dus buku yang udah rapi dibongkar lagi. Yang kurekomendasikan dari tumpukan buku lawas di rumah ya Atheis sama Robohnya Surau Kami.
Paling pas sih baca Harimau, Harimau di bulan puasa kaya gini. Di situ scene uwak haji banyak muncul hahaha. Dan yak, sampai detik ini aku masih mencari sebuah cerpen tulisan Putu Wijya (atau A. Y Mawaris?) dengan tokoh utama bernama Merdeka. Ada yang tau?
Juga masih menunggu kiriman buku. Pesan lewat internet, mogamoga cepat dateng. 😀
hm.. kemarin kakak menanyakan tentang keseriusanku dalam nyari kerja. Well, di kota kecil seperti Sampit, Radio Announcer bukanlah profesi yang bisa dijadikan gantungan hidup. Bukan bermaksud mengecilkan makna profesinya..
Ga kerasa, udah dua bulan sejak aku memutuskan berhenti bekerja. Saat ini aku masih merasa nyaman dengan zona ‘menjadi penyiar’. Aku bisa santai, bangun siang, pekerjaan yang tidak seperti bekerja.
Ah entah, liat nanti. Recent news adalah kesehatan kakek mulai menurun. Beliau memang sudah uzur, semoga dikuatkan. Aku masih ingin melewatkan pagi lebaran dengan mencium tangan beliau. 🙂
Well, enough for today. Lanjut siaran dulu ^^

Gel Well, Kek..

Yang Tak Terselesaikan

Semua ini rasanya sudah terlampau gelap. Sedari dulu. Aku tak peduli, sama sekali tak ingin peduli. Tentang bagaimana hidup ini harus berlalu dan terlewati..
Sore itu gerimis menyapa lembut kota ini. Aku baru pulang. Gerimis pelan berubah menjadi butiran raksasa, lagi lagi kehujanan. Cuaca agak menggila akhir akhir ini. Panas terik yang berlangsung seharian ditimpa hujan badai di sore hari. Bahkan cuacapun mulai lebay..
Aku melintasi satu per satu pengendara yang menepi. Ruko ruko kosong mulai berjamur di kota ini, masih baru. Keberadaannya yang dinilai strategis membuat para investor tak pikir dua kali untuk turut mengeksploitasi. Hujan makin lebat, jarak pandang kian tipis. Aku tak peduli, tidak pada intonasi hujan yang meninggi, pada lampu jalan yang berkedip merah sejak tadi, atau pada jerit sejumlah anak berseragam putih-biru yang tengah menggigil dingin di ruko kosong.
“Awas!!!,”
Sepenggal kata itu sempat sedikit menyusup ke telinga. Sayang, kedatangannya sedikit lebih lambat dari jeritanku. Aku menjerit, terhempas lantas terpental ke trotoar. Bising suara penanti hujan di ruko kosong kian menggema. Berdengung di tengah tatapan nanarku. Darah bersimpul di sudut kacamataku yang retak. Dari kejauhan, sayup gaungan –entah ambulance atau mobil polisi- meraung.
Lantas gelap yang membekas. Diiringi sedikit ayunan, derek kereta troli dan getaran sepanjang jalan. Sakit terasa menggerayangi. Pelan ia menyentuh ujung kaki, bergerilya ke lutut, pinggul, dada, hingga kerongkongan. Sakit yang teramat sangat. Yang lantas sibuk berbisik di kepalaku adalah sepenggal sepenggal ceramah yang dulu kerap diputar Abah* dari tape tuanya.
“Ajal pasti akan datang… diriwayatkan dalam hadist nabi… rasanya seperti hewan yang dikuliti hidup hidup..”
Suara tape tua itu seakan direwind, berulang sepotong sepotong. Aku lupa bagaimana lengkapnya. Ceramah itu kerap kudengar semasa tinggal di rumah Abah, kala masih kanak kanak, belasan tahun silam. “Aku mati?” bisikku. Aku sulit menggambarkan apakah aku berbisik, bergumam atau berteriak. Lidahku kelu, tidak ada satupun desibel yang terlontar.
Pertanyaan itu terjawab. Aku akhirnya mendengar lantunan al-quran dan merasakan hal klise yang hanya kulihat di komik komik jepang. Aku melayang, benar benar melayang. Bisa kulihat aku yang terbujur tengah diarak, menuju liang kuburan. Ah! Itu Dimas, Irfan, Rahma, Qonita.. aku mulai mengingat ingat wajah yang melingkar di tepi tanah basah berlubangi itu.
Sayang, tidak ada yang berurai airmata. Sembabpun tidak. Mereka hanyalah kawan kerja, yang bahkan tidak tau apa nama belakangku. Aku terus menengok ke bawah, mencari wajah wajah yang basah. Ibu, ayah, kakak. Ah, rupanya mereka masih sayang padaku.
Atau jangan jangan mereka menangisi masalah yang kutinggalkan? Aku teringat anak kecil bersepeda yang kuhantam ketika meregang nyawa. Tiba tiba semuanya menjadi flashback. Bentakan bentakanku pada mereka, tuntutan tuntutan yang terkadang tak tercerna logika. Semuanya berputar, menyisakan sedikit pilu di sudut pikiranku. Semacam menyesal.
Tiba tiba aku merasakan tarikan yang kuat, dari belakang. Tepat ketika aku menyatakan menyesal. Punggungku seperti terbakar, panas. Tarikan itu tak kunjung berhenti, lapis demi lapis awan kulewati. Pandangan akan tanah pemakaman kian mengabur, meninggalkan titik kecil yang kian lama kian menghilang.
Seakan gravitasi terbalik, aku yang sedari tadi ditarik ke atas tiba tiba jatuh ke bawah. Terjerembab. Aku melihat batu batu raksasa bertumpuk. Tebing curam, langit yang merah dan bulan – atau matahari- bergumpal, satu, dua.. lima jumlahnya. Aku berpijak pada tanah, yang entah mengapa begitu liat, seakan mengisap. Aku yang sedari kecil terintegrasi dengan doktrin surga-neraka langsung berasumsi apa yang kulihat sekarang bukan surga.
Gambaran fisik surga yang kukenal adalah lautan madu dengan ribuan bidadari. Lamunan itu buyar ketika sesosok hitam menghampiriku. Pikiranku melayang pada sebuah komik mengenai shinigami, dewa kematian. Ia berjubah hitam panjang. Dengan wajah yang hampa, hanya ada hamparan lubang hitam di tempat seharusnya wajah sosok ini berada.
“Imelda Ningrum?” suaranya berat, mengingatkanku pada seorang penyanyi bariton yang kerap tampil di televisi.
“I. iya,” kurasakan dingin yang amat sangat ketika makhluk tak berwajah ini menatapku.
Ia lantas menjentikkan jarinya –atau sesuatu mirip jari- yang panjang kurus berwarna kelabu. Sebuah perkamen melayang mendekatinya. Aku tersungkur, siapapun dia, ia telah mendorongku dengan sentakan udara dingin. Sosoknya tiba tiba menjadi terlihat begitu tinggi. Lama aku tidak merasakan perasaan ini. Aku merasa takut.
(ini ditulis pas kelas tiga SMP. Jelang lebaran, bertahun tahun sesudahnya aku nemu. Masih mengorek ngorek isi otak untuk mencari kenangan mengenai tulisan ini. Lanjutannya apa ya..)

Penyebab Candu Musik Gila Itu..

Coretan Nani
Oke, aku mau sedikit mendongeng, tentang bagaimana aku bisa suka dengan musik ini. Dulu, musik yang ku tau terbatas pada Mtv atau radio. Dan kita semua tau, bagaimana isi lagu di media mainstream. Mereka mengejar rating, memuaskan pasar, dan mencoba memukul rata ‘selera’ penikmatnya.
Aku, terbiasa menjadi berbeda. Ini berlebihan? Well, kurasa ada hubungannya dengan astronomi, aku capricorn bos! Hehe, kelas satu SMA, tahun 2007, aku masih ingat, waktu itu liburan kenaikan. Nani masih berupa anak SMA polos umur 15 tahun yang imut imut dan setengah mati menggemari Muse. Kenapa Muse? Karena itu satu satunya musik keras yang ku kenal saat itu.
Lalu aku kenal seseorang. Namanya Andre, anak Malang. Datang ke Sampit untuk bekerja, darinya aku kenal Burgerkill. Aku masih ingat, lagu Burgerkill pertama yang ku dengar adalah Berkarat dan Anjing Tanah, masing masing album Dua Sisi dan Beyond Coma and Despair. Percaya atau tidak, aku jatuh cinta pada pandangan pertama (sama Burgerkill, bukan Andre ^^)
Waktu itu aku berontak. Berontak dengan etika, berontak dengan tata laku, berontak pada aturan. Orang tuaku memang bukan seorang kolot, dalam artian gemar mengekang anak dan membatasinya dengan jam malam. Mereka memberikan kebebasan penuh, kebebasan yang bertanggung jawab, kalo kata Pembukaan UUD 1945. Ini salah satu yang kusyukuri, punya orang tua yang G4oL AbHeSss.
Yah maklumlah, aku masih abege labil, umur baru 15 tahun, nggak pernah meluhat dunia luar. Aku sempat jadi anak emo, doyannya Mychemical Romance, Saosin, Paramore, The Faders, de el el. Soalnya, band band itu terlihat jauh lebih keren ketimbang band band populer yang ada saat itu (baca ; Radja, ST12, Kangen Band). Maka waktu itu, aku doyan pakai item item, kalau ngomong, nuansanya gelaapp banget, kadang malah makan beling, khas anak emo gitu.
Sejak dikenalkan dengan Burgerkill (sebenarnya si Andre juga ngasih liat band band lokal lain, kayak Jeruji, Jasad, Aphyxiate, tapi waktu itu yang bener bener bikin suka cuma BK), aku mulai tau, kalau ada kok, band yang cadas tapi nggak lebay. Aku sebut MCR cadas saat itu, musiknya enak (ini memang harus diakui), sayang behave personil, aksi panggung, tema yang diusung, serba lebay. (aku masih nggak ngerti, kenapa ada cowok yang bisa pakai eyeliner pas manggung, full make up pula! *ampun om om personil KISS*)
Andre akhirnya pulang ke Malang akhir tahun 2007. Tahun 2007-2008, di Sampit hanya ada dua warnet. Rin Rin dan Ron Ron. Cuma dua warnet, kecepatannya? Bahkan lebih lambat dari siput lumpuh. Tapi untuk saat itu, bisa internetan juga sudah sukur. Waktu itu masih belum ada yang namanya internetan lewat hape. Cuma segelintir yang bisa, aku termasuk ke dalam golongan yang nggak bisa. Hape saya waku itu Nokia 3100, mana bisa internetan T_T
Berhubung waktu itu aku hanya kenal Burgerkill, maka hanya keyword ‘Burgerkill’ saja yang ku ketik di mesin pencari Google. Pelan pelan, aku mulai mendownload lagunya, baca baca fanpagenya, meng-add Myspacenya (waktu itu Facebook belum ada, aku cuma punya Friendster sama Myspace). Jadi bisa dibilang, masa-masa kelas 2 SMA, aku disebut Anwar, Anak Warnet.
Di Sampit, mulai bermunculan warnet sejak pertengahan 2008. Mulai dari Planet, Salmonet, Robi-net, Nabila, sampai yang paling sering kusambangi sampai sekarang, warnet X-Cool. Di warnet itu juga aku pertama kali kenal Kimung, eks-bassist Burgerkill yang menjadi penulis dan juga pioneer komunitas Ujung Berung Rebels. Kenalnya, pas aku mencoba mencari contact person untuk pembelian buku biografi Ivan Scumbag, vokalis Burgerkill yang meninggal di tahun 2006.
Aku masih ingat, nomornya Simpati, ujungnya ada 222-nya atau gimanaa gitu. Aku kira itu nomor publisher buku yang bersangkutan. Ternyata malah terkoneksi dengan penulisnya. Seorang kawan menyebutnya ‘Doa Seorang Fans Yang Di’ijabah Oleh Tuhan’. Hahaha
Proses berkenalan dengan Kimung-lah yang sangat berkontribusi untuk pengembangan pengetahuan metal selanjutnya. Secara kontinyu, Kimung kala itu tidak jenuh mengirimi kaset kaset metal. Isinya beragam, mulai dokumenter, lagu lagu rekaman, hingga zine zine milik uberebels. Sayang, waktu itu aku belum punya komputer, alhasil kaset kaset berformat data CD itu berulang-ulang ku putar di warnet. CD-R sangat rentan rusak, kawan. Kaset2 yang telah menempuh jarak ribuan kilometer itupun rusak tanpa sempat mengenal dunia luas. Hiks.
Belajar dari pengalaman, aku mulai berinisiatif. Setiap kali kiriman datang, data itu bakal ku burning ke CD kosong harga dua ribuan. Di burning ke format audio CD, biar bisa di putar ke VCD player (aku nggak punya DVD player, jadi harus pakai format audio CD). Dan yak, nasibku memang semengenaskan itu 😛
Kaset kaset hasil burning sendiri itu kunamai ‘Kompilasi Nero’. Soalnya ngeburningnya pakai software Nero ^^. Setiap kaset punya label #1, #2, #3, dst. Totalnya mencapai Kompilasi Nero #23. Hahaha, per kaset kuisi 20-25 lagu, mulai dari Fleshgod Apocalypse, Jagal, Climaxeth, Hatestroke, Dying Fetus, sampai Necrophagist. Lagu-lagu kiriman itu tidak tertampung oleh flashdisk bermemori 2 giga.
Dengan memburning kaset, maka pelan pelan aku mulai jarang main ke warnet;. Saat itu tarifnya Rp 6.000 per jam, kantong anak sekolahan mana sanggup membiayainya ^^. Untuk download lagupun, agak susah melakukannya di warnet. Mulai dari koneksi putus putus, mati lampu, sampai ngehang. Ih, cerita kaya gini mengesankan aku tua banget ya, padahal kan umur saya baru 17 tahun *korupsi umur*
Yah.. bisa dibilang, aku bersyukur bisa sampai di titik ini. Sekarang sudah jauh lebih gampang, internet dimana mana, harganya terjangkau bahkan gratis. Komunikasi keluar pulau jauh lebih mudah, sharing lagu tinggal pakai email, bukan pakai pak pos lagi. Sekarang suka ketawa aja ngeliat Kompilasi Nero di kamar, numpuk jarang diputar. Senangnya bisa menggenggam tekhnologi, hahaha (sumpah berasa tua abis ngomong gini)
O ya, salah satu yang menyenangkan dari menyukai musik adalah ketika kita menemukan kawan dengan pemikiran sama. Kalau dulu untuk sharing tentang metal aku lakukan hanya melalui YM, ceting atau telpon, kini aku punya kawan kawan hebat yang mumpuni soal musik. Aku punya kalian. (nah, ini malah kayak omongan orang mau meninggal).
Sip, cuma segini dongeng saya kali ini, bertemu lagi lain waktu, saya Margareta undur pamit dari ruang baca anda semua, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuhh..

Tulisan disumbangkan untuk zine komunitas musik sampit yang belum juga sempat terbit..