South of the Border, West of the Sun

Selepas maraton dinas, saya menemukan buku ini di dasar koper. Merely touched. Bertekad untuk menghabiskannya dalam kurun empat hari sebelum memulai proyek #MembacaTebal di minggu selanjutnya. Buku ini begitu menyenangkan hingga saya tidak sadar telah mencapai halaman terakhir di hari kedua. Meski jika dijabarkan secara sederhana ini adalah cerita tentang lelaki yang memiliki obsesi berlebihan terhadap cinta monyetnya kala SD hingga menimbulkan alter-reality, saya tetap percaya bahwa cinta yang sedemikian besar bisa mengubah banyak hal (kewarasan, misalnya)

Saya menyukai Hajime, tokoh pria sebagai sudut pandang pertama di buku setebal 214 halaman ini. Dia begitu menyukai Shimamoto -teman masa kecilnya- hingga menghabiskan 25 tahun (dan sepertinya terus berlangsung) untuk menghidupkan sosok perempuan yang tidak siapapun tau di mana sama siapa sekarang berbuat apa dalam detil yang luar biasa nyata dan meyakinkan.

https://i2.wp.com/cdn.wordables.com/wp-content/uploads/2015/12/HarukiQuotes9.png
I love the way Google Image Search the most alay version of Murakami’s quotes

Di akhir buku, disebutkan bahwa semua hal nyata yang menghidupkan skena kembalinya Shimamoto setelah 25 tahun perpisahan ternyata tidak pernah ada. Dan di sepanjang buku kita hanya sedang melihat proyeksi khayalan Hajime semata. Saking canggihnya kemampuan menulis pak Murakami, saya tidak menduga hal ini sama sekali. Saya kira akan ada penjelasan panjang lebar tentang apa saja yang terjadi di hidup Shimamoto seperti bagaimana ia bisa begitu kaya padahal tidak sekalipun pernah bekerja? nyet itu yang dilarung ke laut anak siapa nyet? kenapa ada om om ngasih seratus ribu yen buat brenti stalking Shimamoto dan seterusnya.

Ternyata yha, biasa, ga ada penjelasan apa apa karena semua itu khayalan semata hahahahabangsathahaha. Namun buku ini tetap menyenangkan, tidak sepahit Wind-Up Bird Chronicle atau seabsurd trilogi The Rat (Pinball – Wild Sheep Chase – Dance Dance Dance). Nyaris memiliki taste semanis Norwegian Wood namun tidak segelap itu. Soal cari mencari pengentas kesepian di masa muda dan menemukan perkara cocok di antara manusia. Laif.

Note: Dalam jeda setelah menamatkan The Elephant Vanishes kemarin, saya menghabiskan Paula Hawkins – The Girl on the Train yang filmnya akan rilis di bulan Nopember tahun ini. Membayangkan Emily Blunt sebagai Rachel Watson di buku ini rasanya mendebarkan karena she’s exactly who am I gonna pointed out as Rachel.

Things are great lately  ❤

Sampit, 16 September 2016

Menunggu Desember dengan tidak sabar!

 

Advertisements

Before Sunrise’s After Dark Odyssey

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/9c/43/cb/9c43cb3c65cd73b6d8b7633955fbfe12.jpg
This words comes out from Korogi, pages 228. Not a main character but steal my attention vaguely.

Menamatkan After Dark dalam buruan deadline. So there’s these three presentation I have to prepare for General Manager, Production Director up to President Director level. The work wasn’t that much, but with 3 weeks of prep and endless revision from those guys, I felt a bit worn out. Dan mungkin berakibat pada penelaahan berlebih pada karya Tuan Murakami yang satu ini.

Halaman pertama dibuka dengan sebuah scene your favorite young-rebelious wallflower of all time. Mari Asai tengah membaca buku sambil minum kopi pada larut malam di sebuah pojokan kedai 24 jam. Mengenakan worn out jeans jacket, faded colored yellow sneaker and wasn’t talked so much when this guy, Takahashi Tetsuya sat down in front of her and started the conversation.

And that’s it. Buku berjalan dalam durasi satu malam penuh dengan keduanya sebagai magnitude cerita. Little bit tasted like Before Sunrise, for me. A dark, dark Before Sunrise without sex scene at all hahaha. Keduanya lantas bercerita, dan bercerita, dan bercerita tentang banyak kejadian. Mari kemudian terlibat dengan seorang pekerja seks yang dipukuli pada sebuah Love Hotel. Jika muncul dugaan Mari akan bermasalah dengan gangster China dan cerita berubah menjadi action, maka kamu kudu kecewa. Murakami selalu demikian adanya. Something big, out of ordinary happende but it pretty much was it. Shit happens and that’s it.

244 halaman berlanjut dengan fragmen fragmen antara Tetsuya – Mari, Eri (kakak Mari) dan the eagle eyes, serta sedikit sempilan kejadian di Alphaville (love hotel) dengan porsi yang cukup menyenangkan. Cerita berakhir dengan khas Murakami.

KENTANG.

Buku ini menjadi buku ke-11 dari 19 buku untuk proyek Marathon Murakami yang saya mulai 4 bulan silam. Sepuluh kali dikentangin Murakami tidak kunjung membuat saya jera untuk membaca dan membaca lagi. He has this weird magnetic field with his words, meski lamban dan membosankan, meski senantiasa berakhir dengan kentang, saya toh tidak berhenti melahap halaman demi halaman hingga tamat dengan helaan nafas dalam dan perasaan sedih tanpa penjelasan yang menjadi jadi. Buku yang tepat bagi penggemar ide soal nihilisme.

Hari ini saya call-off from work, meminta izin kepada HR dengan alasan “Aku rada susah fokus ngerjain deadline dengan semua distraksi di kantor mbak. Mbak tau lah anak kreatif dan kebutuhannya terhadap konsentrasi ngerjain beginian” menyusul rencana untuk berhenti menjadikan kebohongan sebagai sebuah kebiasaan. And she nodded, understanding my reason fully and let me go home with a promise than this 198 pages of presentation will be done before the deadline.

Walaupun kemudian di kos saya dengan semena menad tidur dari jam 10 pagi sampai 5 sore, sih :))) bangun tidur untuk memenuhi janji meeting dengan camera guy for my 14th event membuat saya berfikir soal ini sepanjang jalan:

Kenapa semakin banyak tidur yang saya lakoni, semakin mengerikan bayangan yang saya temui saat terjaga? These bad dreams just too much to handle.

Maka begitulah, dalam keadaan super terjaga berkat double shoot ristretto, semangat dan optimisme yang meluap luap di malam hari seperti ini selalu saya pertanyakan mengapa ia tidak muncul di siang hari, saat saat saya sungguh membutuhkan mereka :)) I’m just a night owl afterall. Inevitable condition.

Sampit 09 Agustus 2016,

Whoa, I talked to myself more rapidly now.

100 Buku untuk 2016 #Juni&Juli

https://i0.wp.com/slodive.com/wp-content/uploads/2013/04/quotes-about-losing-a-loved-one/haruki-murakami-quote.jpg

Nampaknya saya harus meredam optimisme soal berhasil membaca 100 buku di tahun ini. Dalam dua bulan terakhir saya cuma berhasil membaca 9 buku, itupun rasanya betul betul penuh perjuangan. Kesulitan utamanya tentu saja, waktu. Sepanjang Juli saya berkutat dengan drama di kantor soal ingin ditarik kantor Jakarta namun ditahan kantor Regional (Sampit), jalan tengah luar biasa yang diambil managemen:

Saya mengerjakan urusan kantor pusat dan kantor regional tanpa penambahan gaji. Meh. Korporat dan apa yang mereka lakukan terhadap karyawannya. Tapi sudahlah, saya tidak sedang dalam state marah atau kecewa atau apapun. Saya menyenangi pekerjaan ini, bisa jalan jalan sesekali dan memenuhi kebutuhan hidup sehari hari, cukuplah. Dan bisa beli buku!

Fokus saya bulan ini masih pada 19 buku Haruki Murakami yang kini 7 di antaranya telah terbaca. Sedikit pembenaran atas minimnya jumlah buku yang dibaca dua bulan ini adalah saya mulai tertarik pada buku berbahasa Inggris. Hal ini lantaran saat membaca terjemahan Indonesianya Murakami yang Dunia Kafka, saya agak terseok mengikuti alurnya dan beberapa frase membuat saya mengernyit tidak suka. Karenanya untuk buku dengan penulis bukan bahasa Inggris (Murakami, Milan Kundera, Andrey Kurkov) saya mencari first hand translation dan ketemunya memang bahasa Inggris.

Bukan karena sok baca buku bahasa Inggris biar keren.

Selain itu, berkurangnya buku yang dibaca adalah lantaran tebalnya ampun ampunan hahaha.

Buku yang telah dibaca bulan Juni dan Juli:

  1. What We Talk About When We Talk About Love – Raymond Carver
  2. And the Mountains Echoed – Khaled Hosseini
  3. Dance Dance Dance – Haruki Murakami (I finished the book in Singapore, in the middle of packed MRT hahaha)
  4. Death and the Penguin – Andrey Karkov
  5. The Wind-Up Bird Chronicle – Haruki Murakami
  6. Ignorance – Milan Kundera
  7. Hear the Wind Sing – Haruki Murakami
  8. Pinball – Haruki Murakami
  9. What I Talk About When I Talk About Running – Haruki Murakami

 

 

Sampit, 2 Agustus 2016

Tidak sampai sepuluh buku untuk dua bulan. Akusedi 😦

100 Buku Untuk 2016 #Mei

Untitled
My favorite spot in kosan

Satu yang saya agak sesalkan bulan ini adalah: saya menyadari kalau Periplus ada onlinenya. Selama ini proses membeli buku selalu saya lakukan bersama mas mas terpercaya di Jogja, yang dengan jiwa besar saya rekuwes carikan berjudul judul buku bukan terbitan baru dan ketemu meski kudu menunggu berminggu minggu. Semoga di Sampit tidak dibangun toko buku sebelum saya kaya raya hahaha.

Di sela kubangan airmata lantaran habis dirampok Periplus Online (ya abisnya gimana, wishlist buku yang diinginkan dari enam-tujuh tahun silam semuanya ada begitu) saya bertekad untuk tidak membeli buku lagi sampai empat bulan ke depan. Kecuali ada diskon. Kecuali jika SGA rilis buku baru.

Buku buku yang telah dibaca di bulan Mei:

  1. Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage – Haruki Murakami
  2. Hikayat Siti Mariah – Haji Mukti
  3. Tidak Ada New York Hari Ini – Aan Mansyur
  4. Kumpulan Budak Setan – Kumcer oleh Eka Kurniawan, Ugaran Prasad dan Intan Paramaditha
  5. This Book Loves You – PewDiePie
  6. Dunia Kafka – Haruki Murakami
  7. The Strange Library – Haruki Murakami
  8. Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi – Eka Kurniawan
  9. Kukila – Aan Mansyur
  10. Melihat Api Bekerja – Aan Mansyur

Sepulangnya dari Bali dalam rangka menyaksikan pagelaran Ari Reda sekaligus mencari mood bagus untuk menamatkan 500-an halaman Dunia Kafka (yang sejak bulan Februari dimulai tapi mentok di halaman 77 gara gara ga tahan dengan keanehan keanehan di dalamnya), saya menargetkan Marquez – One Hundred Years of Solitude selesai sebelum akhir bulan. Namun nampaknya saya butuh liburan panjang lagi untuk membangun mood membaca tragedi ini. #Alasan

Catatan Acak :

Juni adalah bulan yang menurut Sapardji paling tabah, arif dan bijak. Juni adalah bulan ke enam di penanggalan Masehi dan enam hari lagi Ramadhan. Kalau alasan Kafka ngewe sama Nona Saeki dan Sakura karena ramalan bapaknya, rasanya kok alsannya tipis banget. Descendants of the Sun udah tamat setelah 19 jam di akhir pekan habis buat maraton serial ini. Akhirnya ketemu buku Raymond Carver. Beli kompor listrik dan crossed finger buat bayar listrik kosan bulan ini. Akhirnya kosan bebas nyamuk setelah seminggu berkutat dengan Mosquitos Reduction Program. Nemu bedsheet 100 persen cotton dan enak banget di Hypermart diskonan 20 persen. Sebulan ini telat ngantor 4 kali dan semuanya di hari Kamis, wow. Diwawancara Kantor Berita Jerman soal PT. Meranti Mustika Plywood. Ke Bali buat nonton Ari Reda 14 – 18 Mei dan makan omelette Smorgas sampe bosen. Membatalkan tawaran buat pindah ke kantor Jakarta dan jadi Communication Executive karena di Sampit tekanan kerjanya ga seberapa dan duitnya lebih banyak dan Naninya ga mau jadi penduduk Danau Sunter. Tab jadi sering mati mati, pengen cek masalahnya di RAM atau gara gara kebanting. Dikasih tenggat seminggu buat ngerjain presentasi yang udah dikerjakan dari tahun lalu. Pengen ke Helsinki tapi belum ada tanda tanda di Sampit mau hujan duit.

Sampit, 30 Mei 2016

Buset udah Juni aja.

Hikayat Siti Mariah, Perjalanan Nostalgik Abad Delapanbelas

WhatsApp-Image-20160512Saya selalu yakin kalau saya sebenarnya orang tua yang terjebak di tubuh gadis belia hahaha. Saya begitu bersemangat saat membaca Banda Neira beberapa bulan silam dan baru baru ini menamatkan Hikayat Siti Mariah tulisan Haji Mukhti. Saya memiliki ketertarikan dan penalaran berlebih terhadap buku buku berlatar waktu bahari.

Membaca tiap tiap lembar buku setebal 402 halaman ini memunculkan ingatan ingatan sedemikian jelas saya sampai seram sendiri. Seperti seolah olah saya tau seperti apa bentuk pabrik tebu Sokaraja tempat Joyopranoto dan Henry Dam bekerja. Seperti apa wujud rumah mandor dan desa desa yang membentang di sepanjang Jawa Tengah saat itu.

Ini semua tidak lain lantaran imajinasi yang berlebihan saja, saya rasa.

Eniwei Hikayat Siti Mariah adalah buku/hikayat yang digambarkan secara detil dan terlalu banyak drama hingga saya agak skeptis soal keotentikan sejarah buku ini (konon disebut sebagai kisah nyata) dan akhirnya memilih untuk menikmatinya seperti buku buku fiksi lainnya saja.

Kehadiran Pramoedya Ananta Toer selaku editor dan penerbit melalui Hasta Mitra adalah alasan mengapa saya begitu “memburu” buku ini. Awalnya setiap kang buku langganan bilang buku itu sulit dicari, sayapun beralih ke situs penjualan online dan menemukan Hikayat Siti Mariah yang bukan terbitan Hasta Mitra mencapai 750 rebu!

Berkat niat kuat untuk tidak impulsif dan seketika memesan, saya biarkan keinginan membaca buku ini mengendap hingga sebulan lamanya dan akhirnya tokopedia memberikan suggestion buku ini dengan harga cuma 55 ribu. Bekas memang, dan si penjual segera menjadi teman diskusi saya atas sastra Indonesia lama, senangs!

Hikayat Siti Mariah adalah kisah hidup seorang anak hasil hubungan terlarang antara kontrolir tebu Elout van Hogerveldt terhadap Sarinem, seorang buruh pabrik. Sarinem yang hamil dinikahkan dengan petani miskin yang kemudian berniat membunuh bayi perempuan (yang semula bernama Urip) lantaran menghalangi Sarinem untuk bekerja. Urip lantas urung dibunuh dan dipungut oleh Joyopranoto mandor pabrik gula lantas dipelihara di lingkungan pabrik gula Sokaraja dan berubah namanya menjadi Siti Mariah.

WhatsApp-Image-20160512-1Sisanya adalah kelindan drama serba-rumit seperti percintaan Siti Mariah dan Henry Dam orang Belanda yang tidak direstui lantaran perbedaan agama, dijadikannya Siti Mariah sebagai Nyai, Sarinem yang akhirnya bertemu kembali dengan anaknya, Lucy anak pemilik pabrik tebu yang mencintai Sondari yang mencintai Siti Mariah dan seterusnya dan seterusnya. Konflik konflik standar jaman penjajahan.

Semula, jujur saja, saya curiga Haji Mukti adalah tokoh jelmaan Pramoedya Anata Toer sendiri. Gaya penulisan dan pemilihan kata di buku ini sangatlah Pram sekali. Dan jika ditilik dari sejarah buku ini, ia memiliki kisah pembredelan panjang karena melakukan ekspos atas tanam paksa di era Belanda, serupa dengan Gadis Pantai yang juga dibredel kala itu. Mengapa orde baru gemar sekali menutupi sejarah ya, bang?

Mungkin lantaran saya terlalu banyak membaca Pram dalam waktu yang serba berdekatan, meski buku ini membikin hati senang lantaran akhirnya berada di genggaman, saya tidak bisa menutupi perasaan meh saat membuka lembar terakhir buku ini. It tasted just like another Pramoedya book’s. Bukan berarti jelek, saya cuman lagi bosen aja hihi.

WhatsApp-Image-20160512-2
I’m obsessed with this unamused wolf hahaha

Sampit, 12 Mei 2016

Naninya mau nonton AriReda! KYAAAAAAA!

100 Buku Untuk 2016 #April

Bulan ini saya agak sedikit off, hasilnya sejumlah entry mendayu memenuhi blog ini sebagai produk kebaperan dalam beberapa minggu terakhir. Awal bulan ini saya disibukkan dengan haul (peringatan tahun kematian) tahun kedua kematian Ibu. Ditambah dengan petualangan mencari kos baru (dua bulan di rumah Abah membuat saya sadar bahwa saya memang sangat merindukan hidup secara soliter hahaha) praktis waktu untuk membaca berkurang drastis 😦

IMG_0607.JPGBulan April adalah perayaan atas temuan terhadap Eka Kurniawan. Bergegas memesan lima bukunya pada kang buku langganan yang lantas dibalas dengan “Cieee ada yang baru jatuh cinta sama Eka nih” hahaha. Nyatanya iya! saya jatuh cinta pada Eka Kurniawan dan buku bukunya yang penuh dendam, kepahitan dan amarah yang meruap di tiap tiap halaman. Biasa, konektivitas. Wkwkwkwk.

Buku yang telah dibaca di bulan April:

  1. Cantik Itu Luka – Eka Kurniawan
  2. Lelaki Harimau – Eka Kurniawan
  3. Corat Coret di Toilet – Eka Kurniawan
  4. Seperti Dendam, Rindu Harus dibayar Tuntas – Eka Kurniawan
  5. O – Eka Kurniawan
  6. Midah si Manis Bergigi Emas – Pramoedya Ananta Toer
  7. Larasati – Pramoedya Ananta Toer
  8. The Little Prince  – Antoine de Saint-Exupéry
  9. Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai – Emha Ainun Nadjib
  10. Wiji Thukul Teka Teki Orang Hilang – Tim Buku Tempo
  11. Cyanide & Happiness – Kris, Rob, Matt & Dave

Yang terakhir ga layak masuk kategori buku yang telah dibaca sih, mengingat itu komik hahaha. Senang bisa kembali ke angka belasan dalam sebulan. Empat bulan penuh menekankan untuk membaca buku dengan lahap menghasilkan efek yang menyenangkan. Semakin ke sini saya semakin terbiasa untuk membawa buku ke mana mana. Menyicil membacanya pada saat antri belanja bulanan di Hypermart, menunggu travel, sambil makan saat istirahat siang bahkan menemani ritual pup tiap pagi.

Efek menyenangkan lainnya adalah kepala saya selalu occupied sehingga tidak ada ruang buat merenung soal what could and what should have been done. Ada banyaaaaaaaakk sekali yang saya ingin ubah di masa silam dan pikiran pikiran soal itu yang sering membawa saya dalam titih entah itu. Now, in most day I made it (thanks to Serenity Prayer and EFT Method), some other day -in a teeny tiny small amount- I fell.

Tapi gapapa, prosesnyaaaaa.

Sampit, 2 Mei 2016

Setelah ini, proyek diet dimulai kembali :)))

O, Sebuah Fabel Yang Sendu

IMG_0375
Sekalian pamer kalo kerjaan saya banyak, sampe dikerjain di cafe. Huft.

Novel ini saya terima pada awal bulan, berbarengan dengan empat buku Eka Kurniawan lainnya; Corat Coret di Toilet, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau. Ia menjadi buku Eka Kurniawan kelima yang saya baca bulan ini. Semua lantaran dipacu oleh perasaan kagum berlebih lebih dan kesenangan absolut karena telah menemukan penulis dengan karya sebagus beliau.

O, adalah novel dengan irisan peristiwa dan jumlah karakter yang tidak main main banyaknya. Mulai dari O dan Entang Kosasih, Kaleng Sarden, Betalumur si pawang Topeng Monyet, Mimi Jamilah pengamen waria yang mencintai Bruno lelaki yang memanfaatkannya, Rini Juwita dan suami abusifnya, Sobran polisi beristri dan Dara kekasih begal Toni Barong, Kirik yang mencari ibunya, Rudi Gudel, Wulandari, si Kutu, Kiai yang buta, Manikmaya pembaca tanda tanda dan kekasih dengan penis bertotol totolnya, dan sederet tokoh lain yang saya lupa namanya saat menulis ini.

Menjelang halaman halaman akhir, tempo yang diberikan semakin cepat dan cenderung “Yuk ah cepetan kelar ini satu satu nasib tokohnya”, karena saya suka dengan Eka jelas jelas lantaran alasan bias, personal nan subjektif, maka kepentingan untuk menyebut tokoh terlalu banyak dan beberapa tidak penting, ending yang terkesan diburu buru dan kritik lainnya seperti yang dituliskan kawan kawan di Goodreads saya kesampingkan. Seperti hubungan saya dan Nasi Padang, saya suka Eka Kurniawan no matter what :’)

Eniwei, irisan irisan kejadian yang segunung itu dapat saya pahami keberadaannya setelah di halaman terakhir Eka menuliskan rentang penulisan novel ini. 2008-2015, tujuh tahun pengendapan yang tentu saja akan berpengaruh banyak pada perkembangan tokoh dan cerita di dalamnya. Terlepas dari pemahaman itu, saya suka suka aja sih, bahkan dibikin ternganga dengan kemampuan Eka menalikan semua peristiwa itu kepada peristiwa utama tokoh utama : O dan Entang Kosasih, dua monyet yang ingin menjadi manusia.

Berkat gegabah mencari cari spoiler sebelum menamatkan sendiri 500an halaman O, saya dibikin waswas dengan ending “Akhirnya O menikah dengan Betalumur dan ga pernah ketemu dengan Entang Kosasih” kan bikin males ya hahaha. Saya sendiri suka sekali dengan permainan takdir yang dijalin Eka untuk mempertemukan kembali O dan Entang, sambil terus mempermainkan teori evolusi yang dibaurkan dengan konsep reinkarnasi. Di tengah itu, bisa bisanya ia menyelipkan unsur mistis dengan karakter Betalumur yang menjadi BabiNgepet!

IMG_0070

O jelas mengalusi Animal Farm-nya George Owell (eh tapi ini beneran menarik loh, saya semacam dihantarkan untuk membaca buku buku Eka Kurniawan. Dulu sebelum memesan Cantik Itu Luka, saya sudah lebih dulu menamatkan Sastra Realisme Sosialis-nya Pram. Lalu bahkan sebelum tau bahwa O berkisah soal fabel dan sindiran sosial atas manusia yang kebinatang kebinatangan, saya lebih dulu mendapat kiriman Animal Farm dan menjejak sepertiga bukunya sebelum terdistraksi oleh O). Eka bahkan mengutip buku itu di ending cerita O dan Entang.

Kelima lima buku Eka Kurniawan yang saya baca, semuanya berisi dendam dan kepahitan kepahitan yang dibayar demi pemenuhan atas dendam tersebut. Corat Coret di Toilet mungkin tidak semenggebu itu pahitnya lantaran ia kumcer. Selebihnya? persiapkan saja hatimu bakal patah dengan jalan nasib yang disiapkan Eka atas tokoh rekaannya. Persiapan mental itu sudah saya bangun sejak Cantik itu Luka dan hasilnya, meski Margio si anak manis kudu membunuh Anwar Sadat dan menghancurkan hati Maharani atau Iteung yang digelandang dua polisi saat Ajo Kawir akhirnya bisa ngaceng. Dan tak perlulah saya jabarkan bagaimana nasib ciptaan Eka memporak porandakan fondasi keluarga besar Ayu Dewi dalam Cantik itu Luka. MEH!

Hanya saja, Eka membuat saya yang kapasitas penelaahannya minim ini paham dengan mudah soal sarkasme, sindiran halus, alegori alegori dan personifikasi soal kebinatangan manusia dengan dimasukkannya konten konten lokal bahkan -sekali lagi- unsur mistik lokalan semacam santet, babi ngepet dan ngaji ilmu kebatinan. Oh ya, sementara banyak penulis kekinian menggunakan nama nama karakter yang sastrawi, sansekertawi dan berbau dewa dewa Yunani, Eka Kurniawan dengan semena mena menyebut gadis paling cantik dengan nama Rosalina, Iteung, Rini Juwita, atau lelaki paling tampan dengan Kamerad Kliwon, Edi Gendeng, Ajo Kawir, Entang Kosasih. Saya cuma bisa merengut dan kesulitan menyampirkan nama nama tersebut pada figur yang dijabarkan dalam satu-dua paragraf soal bentuk fisik tokoh yang dimaksud.

Jika Seno memiliki ciri khas tulisan dengan banyak menyebut sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar, maka Eka akan menulisnya menjadi sesuatu yang benar dan tidak salah dan paling benar dan tiada lain yang lebih benar. Hahaha. Dan iya, Eka berhasil menyamai, bahkan melampaui Pram (penulis favoritnya, saya duga, didukung dengan beberapa kebiasaan menulis Pram seperti dalam mengganti kata tobat/sadar menjadi insyaf), seperti yang didengung dengungkan banyak lembaga literasi kelas dunia. Karyanya bahkan disandingkan dengan Salman Rushdie, Gabriel Marquez sampai Mark Twain! Mark fucking Twain!

Maka bukan sebuah kekhilafan jika saya menyukai Eka Kurniawan semata mata bias, subjektif dan jauh dari titik netral :)))

Sebulan ini rasanya (lagi lagi) tidak banyak buku yang saya tamatkan. Hutang bacapun masih bertumpuk hingga belasan buku. Namun temuan atas Eka Kurniawan sungguh sangat membuat bulan April bertransformasi menjadi bulan yang menyenangkan ❤

Sampit, 21 April 2016

Selamat Hari Kartini, perempuan perempuan yang gabisa hidup tanpa lelaki :3