100 Buku untuk 2016 #Juni&Juli

https://i0.wp.com/slodive.com/wp-content/uploads/2013/04/quotes-about-losing-a-loved-one/haruki-murakami-quote.jpg

Nampaknya saya harus meredam optimisme soal berhasil membaca 100 buku di tahun ini. Dalam dua bulan terakhir saya cuma berhasil membaca 9 buku, itupun rasanya betul betul penuh perjuangan. Kesulitan utamanya tentu saja, waktu. Sepanjang Juli saya berkutat dengan drama di kantor soal ingin ditarik kantor Jakarta namun ditahan kantor Regional (Sampit), jalan tengah luar biasa yang diambil managemen:

Saya mengerjakan urusan kantor pusat dan kantor regional tanpa penambahan gaji. Meh. Korporat dan apa yang mereka lakukan terhadap karyawannya. Tapi sudahlah, saya tidak sedang dalam state marah atau kecewa atau apapun. Saya menyenangi pekerjaan ini, bisa jalan jalan sesekali dan memenuhi kebutuhan hidup sehari hari, cukuplah. Dan bisa beli buku!

Fokus saya bulan ini masih pada 19 buku Haruki Murakami yang kini 7 di antaranya telah terbaca. Sedikit pembenaran atas minimnya jumlah buku yang dibaca dua bulan ini adalah saya mulai tertarik pada buku berbahasa Inggris. Hal ini lantaran saat membaca terjemahan Indonesianya Murakami yang Dunia Kafka, saya agak terseok mengikuti alurnya dan beberapa frase membuat saya mengernyit tidak suka. Karenanya untuk buku dengan penulis bukan bahasa Inggris (Murakami, Milan Kundera, Andrey Kurkov) saya mencari first hand translation dan ketemunya memang bahasa Inggris.

Bukan karena sok baca buku bahasa Inggris biar keren.

Selain itu, berkurangnya buku yang dibaca adalah lantaran tebalnya ampun ampunan hahaha.

Buku yang telah dibaca bulan Juni dan Juli:

  1. What We Talk About When We Talk About Love – Raymond Carver
  2. And the Mountains Echoed – Khaled Hosseini
  3. Dance Dance Dance – Haruki Murakami (I finished the book in Singapore, in the middle of packed MRT hahaha)
  4. Death and the Penguin – Andrey Karkov
  5. The Wind-Up Bird Chronicle – Haruki Murakami
  6. Ignorance – Milan Kundera
  7. Hear the Wind Sing – Haruki Murakami
  8. Pinball – Haruki Murakami
  9. What I Talk About When I Talk About Running – Haruki Murakami

 

 

Sampit, 2 Agustus 2016

Tidak sampai sepuluh buku untuk dua bulan. Akusedi 😦

100 Buku Untuk 2016 #Mei

Untitled
My favorite spot in kosan

Satu yang saya agak sesalkan bulan ini adalah: saya menyadari kalau Periplus ada onlinenya. Selama ini proses membeli buku selalu saya lakukan bersama mas mas terpercaya di Jogja, yang dengan jiwa besar saya rekuwes carikan berjudul judul buku bukan terbitan baru dan ketemu meski kudu menunggu berminggu minggu. Semoga di Sampit tidak dibangun toko buku sebelum saya kaya raya hahaha.

Di sela kubangan airmata lantaran habis dirampok Periplus Online (ya abisnya gimana, wishlist buku yang diinginkan dari enam-tujuh tahun silam semuanya ada begitu) saya bertekad untuk tidak membeli buku lagi sampai empat bulan ke depan. Kecuali ada diskon. Kecuali jika SGA rilis buku baru.

Buku buku yang telah dibaca di bulan Mei:

  1. Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage – Haruki Murakami
  2. Hikayat Siti Mariah – Haji Mukti
  3. Tidak Ada New York Hari Ini – Aan Mansyur
  4. Kumpulan Budak Setan – Kumcer oleh Eka Kurniawan, Ugaran Prasad dan Intan Paramaditha
  5. This Book Loves You – PewDiePie
  6. Dunia Kafka – Haruki Murakami
  7. The Strange Library – Haruki Murakami
  8. Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi – Eka Kurniawan
  9. Kukila – Aan Mansyur
  10. Melihat Api Bekerja – Aan Mansyur

Sepulangnya dari Bali dalam rangka menyaksikan pagelaran Ari Reda sekaligus mencari mood bagus untuk menamatkan 500-an halaman Dunia Kafka (yang sejak bulan Februari dimulai tapi mentok di halaman 77 gara gara ga tahan dengan keanehan keanehan di dalamnya), saya menargetkan Marquez – One Hundred Years of Solitude selesai sebelum akhir bulan. Namun nampaknya saya butuh liburan panjang lagi untuk membangun mood membaca tragedi ini. #Alasan

Catatan Acak :

Juni adalah bulan yang menurut Sapardji paling tabah, arif dan bijak. Juni adalah bulan ke enam di penanggalan Masehi dan enam hari lagi Ramadhan. Kalau alasan Kafka ngewe sama Nona Saeki dan Sakura karena ramalan bapaknya, rasanya kok alsannya tipis banget. Descendants of the Sun udah tamat setelah 19 jam di akhir pekan habis buat maraton serial ini. Akhirnya ketemu buku Raymond Carver. Beli kompor listrik dan crossed finger buat bayar listrik kosan bulan ini. Akhirnya kosan bebas nyamuk setelah seminggu berkutat dengan Mosquitos Reduction Program. Nemu bedsheet 100 persen cotton dan enak banget di Hypermart diskonan 20 persen. Sebulan ini telat ngantor 4 kali dan semuanya di hari Kamis, wow. Diwawancara Kantor Berita Jerman soal PT. Meranti Mustika Plywood. Ke Bali buat nonton Ari Reda 14 – 18 Mei dan makan omelette Smorgas sampe bosen. Membatalkan tawaran buat pindah ke kantor Jakarta dan jadi Communication Executive karena di Sampit tekanan kerjanya ga seberapa dan duitnya lebih banyak dan Naninya ga mau jadi penduduk Danau Sunter. Tab jadi sering mati mati, pengen cek masalahnya di RAM atau gara gara kebanting. Dikasih tenggat seminggu buat ngerjain presentasi yang udah dikerjakan dari tahun lalu. Pengen ke Helsinki tapi belum ada tanda tanda di Sampit mau hujan duit.

Sampit, 30 Mei 2016

Buset udah Juni aja.

Hikayat Siti Mariah, Perjalanan Nostalgik Abad Delapanbelas

WhatsApp-Image-20160512Saya selalu yakin kalau saya sebenarnya orang tua yang terjebak di tubuh gadis belia hahaha. Saya begitu bersemangat saat membaca Banda Neira beberapa bulan silam dan baru baru ini menamatkan Hikayat Siti Mariah tulisan Haji Mukhti. Saya memiliki ketertarikan dan penalaran berlebih terhadap buku buku berlatar waktu bahari.

Membaca tiap tiap lembar buku setebal 402 halaman ini memunculkan ingatan ingatan sedemikian jelas saya sampai seram sendiri. Seperti seolah olah saya tau seperti apa bentuk pabrik tebu Sokaraja tempat Joyopranoto dan Henry Dam bekerja. Seperti apa wujud rumah mandor dan desa desa yang membentang di sepanjang Jawa Tengah saat itu.

Ini semua tidak lain lantaran imajinasi yang berlebihan saja, saya rasa.

Eniwei Hikayat Siti Mariah adalah buku/hikayat yang digambarkan secara detil dan terlalu banyak drama hingga saya agak skeptis soal keotentikan sejarah buku ini (konon disebut sebagai kisah nyata) dan akhirnya memilih untuk menikmatinya seperti buku buku fiksi lainnya saja.

Kehadiran Pramoedya Ananta Toer selaku editor dan penerbit melalui Hasta Mitra adalah alasan mengapa saya begitu “memburu” buku ini. Awalnya setiap kang buku langganan bilang buku itu sulit dicari, sayapun beralih ke situs penjualan online dan menemukan Hikayat Siti Mariah yang bukan terbitan Hasta Mitra mencapai 750 rebu!

Berkat niat kuat untuk tidak impulsif dan seketika memesan, saya biarkan keinginan membaca buku ini mengendap hingga sebulan lamanya dan akhirnya tokopedia memberikan suggestion buku ini dengan harga cuma 55 ribu. Bekas memang, dan si penjual segera menjadi teman diskusi saya atas sastra Indonesia lama, senangs!

Hikayat Siti Mariah adalah kisah hidup seorang anak hasil hubungan terlarang antara kontrolir tebu Elout van Hogerveldt terhadap Sarinem, seorang buruh pabrik. Sarinem yang hamil dinikahkan dengan petani miskin yang kemudian berniat membunuh bayi perempuan (yang semula bernama Urip) lantaran menghalangi Sarinem untuk bekerja. Urip lantas urung dibunuh dan dipungut oleh Joyopranoto mandor pabrik gula lantas dipelihara di lingkungan pabrik gula Sokaraja dan berubah namanya menjadi Siti Mariah.

WhatsApp-Image-20160512-1Sisanya adalah kelindan drama serba-rumit seperti percintaan Siti Mariah dan Henry Dam orang Belanda yang tidak direstui lantaran perbedaan agama, dijadikannya Siti Mariah sebagai Nyai, Sarinem yang akhirnya bertemu kembali dengan anaknya, Lucy anak pemilik pabrik tebu yang mencintai Sondari yang mencintai Siti Mariah dan seterusnya dan seterusnya. Konflik konflik standar jaman penjajahan.

Semula, jujur saja, saya curiga Haji Mukti adalah tokoh jelmaan Pramoedya Anata Toer sendiri. Gaya penulisan dan pemilihan kata di buku ini sangatlah Pram sekali. Dan jika ditilik dari sejarah buku ini, ia memiliki kisah pembredelan panjang karena melakukan ekspos atas tanam paksa di era Belanda, serupa dengan Gadis Pantai yang juga dibredel kala itu. Mengapa orde baru gemar sekali menutupi sejarah ya, bang?

Mungkin lantaran saya terlalu banyak membaca Pram dalam waktu yang serba berdekatan, meski buku ini membikin hati senang lantaran akhirnya berada di genggaman, saya tidak bisa menutupi perasaan meh saat membuka lembar terakhir buku ini. It tasted just like another Pramoedya book’s. Bukan berarti jelek, saya cuman lagi bosen aja hihi.

WhatsApp-Image-20160512-2
I’m obsessed with this unamused wolf hahaha

Sampit, 12 Mei 2016

Naninya mau nonton AriReda! KYAAAAAAA!

100 Buku Untuk 2016 #April

Bulan ini saya agak sedikit off, hasilnya sejumlah entry mendayu memenuhi blog ini sebagai produk kebaperan dalam beberapa minggu terakhir. Awal bulan ini saya disibukkan dengan haul (peringatan tahun kematian) tahun kedua kematian Ibu. Ditambah dengan petualangan mencari kos baru (dua bulan di rumah Abah membuat saya sadar bahwa saya memang sangat merindukan hidup secara soliter hahaha) praktis waktu untuk membaca berkurang drastis 😦

IMG_0607.JPGBulan April adalah perayaan atas temuan terhadap Eka Kurniawan. Bergegas memesan lima bukunya pada kang buku langganan yang lantas dibalas dengan “Cieee ada yang baru jatuh cinta sama Eka nih” hahaha. Nyatanya iya! saya jatuh cinta pada Eka Kurniawan dan buku bukunya yang penuh dendam, kepahitan dan amarah yang meruap di tiap tiap halaman. Biasa, konektivitas. Wkwkwkwk.

Buku yang telah dibaca di bulan April:

  1. Cantik Itu Luka – Eka Kurniawan
  2. Lelaki Harimau – Eka Kurniawan
  3. Corat Coret di Toilet – Eka Kurniawan
  4. Seperti Dendam, Rindu Harus dibayar Tuntas – Eka Kurniawan
  5. O – Eka Kurniawan
  6. Midah si Manis Bergigi Emas – Pramoedya Ananta Toer
  7. Larasati – Pramoedya Ananta Toer
  8. The Little Prince  – Antoine de Saint-Exupéry
  9. Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai – Emha Ainun Nadjib
  10. Wiji Thukul Teka Teki Orang Hilang – Tim Buku Tempo
  11. Cyanide & Happiness – Kris, Rob, Matt & Dave

Yang terakhir ga layak masuk kategori buku yang telah dibaca sih, mengingat itu komik hahaha. Senang bisa kembali ke angka belasan dalam sebulan. Empat bulan penuh menekankan untuk membaca buku dengan lahap menghasilkan efek yang menyenangkan. Semakin ke sini saya semakin terbiasa untuk membawa buku ke mana mana. Menyicil membacanya pada saat antri belanja bulanan di Hypermart, menunggu travel, sambil makan saat istirahat siang bahkan menemani ritual pup tiap pagi.

Efek menyenangkan lainnya adalah kepala saya selalu occupied sehingga tidak ada ruang buat merenung soal what could and what should have been done. Ada banyaaaaaaaakk sekali yang saya ingin ubah di masa silam dan pikiran pikiran soal itu yang sering membawa saya dalam titih entah itu. Now, in most day I made it (thanks to Serenity Prayer and EFT Method), some other day -in a teeny tiny small amount- I fell.

Tapi gapapa, prosesnyaaaaa.

Sampit, 2 Mei 2016

Setelah ini, proyek diet dimulai kembali :)))

O, Sebuah Fabel Yang Sendu

IMG_0375
Sekalian pamer kalo kerjaan saya banyak, sampe dikerjain di cafe. Huft.

Novel ini saya terima pada awal bulan, berbarengan dengan empat buku Eka Kurniawan lainnya; Corat Coret di Toilet, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau. Ia menjadi buku Eka Kurniawan kelima yang saya baca bulan ini. Semua lantaran dipacu oleh perasaan kagum berlebih lebih dan kesenangan absolut karena telah menemukan penulis dengan karya sebagus beliau.

O, adalah novel dengan irisan peristiwa dan jumlah karakter yang tidak main main banyaknya. Mulai dari O dan Entang Kosasih, Kaleng Sarden, Betalumur si pawang Topeng Monyet, Mimi Jamilah pengamen waria yang mencintai Bruno lelaki yang memanfaatkannya, Rini Juwita dan suami abusifnya, Sobran polisi beristri dan Dara kekasih begal Toni Barong, Kirik yang mencari ibunya, Rudi Gudel, Wulandari, si Kutu, Kiai yang buta, Manikmaya pembaca tanda tanda dan kekasih dengan penis bertotol totolnya, dan sederet tokoh lain yang saya lupa namanya saat menulis ini.

Menjelang halaman halaman akhir, tempo yang diberikan semakin cepat dan cenderung “Yuk ah cepetan kelar ini satu satu nasib tokohnya”, karena saya suka dengan Eka jelas jelas lantaran alasan bias, personal nan subjektif, maka kepentingan untuk menyebut tokoh terlalu banyak dan beberapa tidak penting, ending yang terkesan diburu buru dan kritik lainnya seperti yang dituliskan kawan kawan di Goodreads saya kesampingkan. Seperti hubungan saya dan Nasi Padang, saya suka Eka Kurniawan no matter what :’)

Eniwei, irisan irisan kejadian yang segunung itu dapat saya pahami keberadaannya setelah di halaman terakhir Eka menuliskan rentang penulisan novel ini. 2008-2015, tujuh tahun pengendapan yang tentu saja akan berpengaruh banyak pada perkembangan tokoh dan cerita di dalamnya. Terlepas dari pemahaman itu, saya suka suka aja sih, bahkan dibikin ternganga dengan kemampuan Eka menalikan semua peristiwa itu kepada peristiwa utama tokoh utama : O dan Entang Kosasih, dua monyet yang ingin menjadi manusia.

Berkat gegabah mencari cari spoiler sebelum menamatkan sendiri 500an halaman O, saya dibikin waswas dengan ending “Akhirnya O menikah dengan Betalumur dan ga pernah ketemu dengan Entang Kosasih” kan bikin males ya hahaha. Saya sendiri suka sekali dengan permainan takdir yang dijalin Eka untuk mempertemukan kembali O dan Entang, sambil terus mempermainkan teori evolusi yang dibaurkan dengan konsep reinkarnasi. Di tengah itu, bisa bisanya ia menyelipkan unsur mistis dengan karakter Betalumur yang menjadi BabiNgepet!

IMG_0070

O jelas mengalusi Animal Farm-nya George Owell (eh tapi ini beneran menarik loh, saya semacam dihantarkan untuk membaca buku buku Eka Kurniawan. Dulu sebelum memesan Cantik Itu Luka, saya sudah lebih dulu menamatkan Sastra Realisme Sosialis-nya Pram. Lalu bahkan sebelum tau bahwa O berkisah soal fabel dan sindiran sosial atas manusia yang kebinatang kebinatangan, saya lebih dulu mendapat kiriman Animal Farm dan menjejak sepertiga bukunya sebelum terdistraksi oleh O). Eka bahkan mengutip buku itu di ending cerita O dan Entang.

Kelima lima buku Eka Kurniawan yang saya baca, semuanya berisi dendam dan kepahitan kepahitan yang dibayar demi pemenuhan atas dendam tersebut. Corat Coret di Toilet mungkin tidak semenggebu itu pahitnya lantaran ia kumcer. Selebihnya? persiapkan saja hatimu bakal patah dengan jalan nasib yang disiapkan Eka atas tokoh rekaannya. Persiapan mental itu sudah saya bangun sejak Cantik itu Luka dan hasilnya, meski Margio si anak manis kudu membunuh Anwar Sadat dan menghancurkan hati Maharani atau Iteung yang digelandang dua polisi saat Ajo Kawir akhirnya bisa ngaceng. Dan tak perlulah saya jabarkan bagaimana nasib ciptaan Eka memporak porandakan fondasi keluarga besar Ayu Dewi dalam Cantik itu Luka. MEH!

Hanya saja, Eka membuat saya yang kapasitas penelaahannya minim ini paham dengan mudah soal sarkasme, sindiran halus, alegori alegori dan personifikasi soal kebinatangan manusia dengan dimasukkannya konten konten lokal bahkan -sekali lagi- unsur mistik lokalan semacam santet, babi ngepet dan ngaji ilmu kebatinan. Oh ya, sementara banyak penulis kekinian menggunakan nama nama karakter yang sastrawi, sansekertawi dan berbau dewa dewa Yunani, Eka Kurniawan dengan semena mena menyebut gadis paling cantik dengan nama Rosalina, Iteung, Rini Juwita, atau lelaki paling tampan dengan Kamerad Kliwon, Edi Gendeng, Ajo Kawir, Entang Kosasih. Saya cuma bisa merengut dan kesulitan menyampirkan nama nama tersebut pada figur yang dijabarkan dalam satu-dua paragraf soal bentuk fisik tokoh yang dimaksud.

Jika Seno memiliki ciri khas tulisan dengan banyak menyebut sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar, maka Eka akan menulisnya menjadi sesuatu yang benar dan tidak salah dan paling benar dan tiada lain yang lebih benar. Hahaha. Dan iya, Eka berhasil menyamai, bahkan melampaui Pram (penulis favoritnya, saya duga, didukung dengan beberapa kebiasaan menulis Pram seperti dalam mengganti kata tobat/sadar menjadi insyaf), seperti yang didengung dengungkan banyak lembaga literasi kelas dunia. Karyanya bahkan disandingkan dengan Salman Rushdie, Gabriel Marquez sampai Mark Twain! Mark fucking Twain!

Maka bukan sebuah kekhilafan jika saya menyukai Eka Kurniawan semata mata bias, subjektif dan jauh dari titik netral :)))

Sebulan ini rasanya (lagi lagi) tidak banyak buku yang saya tamatkan. Hutang bacapun masih bertumpuk hingga belasan buku. Namun temuan atas Eka Kurniawan sungguh sangat membuat bulan April bertransformasi menjadi bulan yang menyenangkan ❤

Sampit, 21 April 2016

Selamat Hari Kartini, perempuan perempuan yang gabisa hidup tanpa lelaki :3

100 Buku untuk 2016 #Maret

Betapa waktu adalah lalim

Dihantarnya kita pada masa sekarang bukan kemarin

Sehingga yang sudah sudah menjadi ingatan

Dan sebuah akan, menyusup menjadi harapan

Perkara Waktu, 2016

Bulan yang menyenangkan ^^

Sekurangnya empat akhir pekan saya habiskan di luar kota. Untuk melakukan klaim atas libur dan menamatkan buku buku yang tidak lagi bisa dicuri baca di jam kerja. Bulan yang menjadi rekor sebab rasa rasanya tidak seharipun saya lengang dalam pola bikin laporan-pergi ke lapangan-bikin laporan lagi. Sisa waktu seusai lembur habis dengan saya yang langsung tertidur saat tersentuh kasur. Dalam kondisi begitu, saya dengan pongahnya mengambil jam siar di SENIN MALAM sebanyak 4 jam. Hahaha, menyenangkaaaan.

Karena praktis waktu untuk membaca sedemikian minim, buku buku yang dilahap-pun berkurang. Namun setidaknya saya masih konsisten dengan target 100 buku untuk setahun ini, ya, kan?

Buku yang telah dibaca di bulan Maret:

  1. Dewi Ria Utari – Kekasih Marionette
  2. Pramoedya Ananta Toer – Bukan Pasarmalam
  3. Gitanyali – Blues Merbabu
  4. Gitanyali – 65
  5. Pramoedya Ananta Toer – Gadis Pantai
  6. Hajriansyah – Kisah Kisah yang Menyelamatkan

Dengan highlight di bulan ini adalah Gitanyali (Bre Redana) dengan kisah kisah pop dan petualangan seksualnya di zaman orba. Sisanya adalah buku buku yang seperempat, sepertiga, separuh dan sekadarnya dibaca. Minat menurun seiring rasa lelah ya, iya.

Sampit, 31 Maret 2016

Waktu kok kerasa cepat sekali berlalu belakangan ini

Kisah Kisah yang Menyelamatkan

Pasca dipulangkan oleh HRD yang nampaknya prihatin dengan bentukan Nani yang udah kek zombie, praktis seharian kemarin saya cuma leyeh leyeh dengan lemes di rumah selepas 3 jam berkutat dengan IGD – antrian Poli Penyakit Dalam – Apotek. Kondisi yang menyebalkan mengingat saya masih punya hutang pekerjaan dan tidak terbiasa bengong sampai seharian seperti itu.

Pelampiasannya, setumpuk buku milik Sapardi Djoko Damono yang dibeli paketan (isi 5 buku harga promo, mayan kak!) saya tuntaskan atas nama kepinginan untuk meromantiskan mood di hari itu. Tunai menamatkan Melipat Jarak sebagai buku terakhir, saya teringat pada sebuah buku pinjaman dari seorang kawan.

IMG_20160321_114545.jpg

Kisah Kisah yang Menyelamatkan – Hajriansyah

Kumpulan Cerpen yang tidak seberapa tebal itu menyisakan sepertiga halaman belakang untuk dibaca. Mengingat banyaknya distraksi dalam pembacaan 2/3-nya sayapun mengulang melahap buku ini dan seketika terkenang pada suatu sore di beranda belakang rumah panggung kai di Tanjung, Banjarmasin.

Pasalnya, buku ini terasa sangat Banjarmasin sekali!

Hajriansyah, adalah penutur yang baik. Meski ini merupakan buku pertama beliau yang saya baca, saya sudah dibuat betah dengan narasi yang tertata, jalinan kisah yang berstruktur dengan alur sederhana namun sarat pesan moril (bagi yang bekenan untuk membedahnya, tentu saja hahaha), budaya bertutur yang menjadi ciri bagi warga pesisir dan pedalaman Kalimantan dituangkan dengan baik ke dalam tulisan sehingga satu jam berlalu tanpa terasa berkat sepuluh cerpen dalam buku ini.

Perbincangan soal tarekat-makrifat dan ilmu tasawuf disandingkan dengan obrolan soal harga cabe yang meninggi mungkin hanya bisa didapatkan di kalangan grassroot Banjarmasin. Nilai islam yang kental di kota itu membuat asimilasi antara budaya lokal dan islami sedemikian baur dan mengakar di masyarakat. Makanya jangan heran jika muncul stereotype soal Orang Banjar kuat agamanya. 

Padahal sebagai keturunan Banjar saya kudu agree to disagree hahaha.

Penulis dengan santai mengupas perkara pencarian ketuhanan melalui kisah kisah yang secara terang menyentil soal Tasawuf. Ia masukkan unsur sehari hari dan menjadikan pencari Tuhan itu sebagai pribadi yang natural, berbaur dan membuat kita percaya mungkin saja tetangga kita sedang belajar kitab kuning dan menemukan kedalaman agama.

IMG_20160321_114558

Terlepas dari tema yang diangkat, saya harus mengacungkan jempol pada kemampuan menulis Pak Hajriansyah. Meski skena sastra di Kalimantan tidak semegah di pulau lain, meski penjualan dan oplah saya yakini tidak mampu menunjang hidup penulis dengan laik, kualitas tulisan tidak kalah dengan buku buku besutan penerbit dan penulis tersohor. Diksi yang luas, jangkauan tema yang menarik, struktur kalimat yang runut dan perkara perkara teknis maupun nonteknis lain membuat saya percaya percaya saja jika seandainya penulis adalah anonimus-nya Ahmad Tohari :))

Membaca buku ini membuat saya rindu. Pada semilir angin panas di kaki bukit Dusun Namun, Desa Jaro, Kabupaten Tanjung tempat saya diungsikan pasca bangkrutnya usaha bapak selepas kerusuhan 2001. Rindu pada kai dan segenap cerita beliau tentang malaikat dan nabi nabi, juga senandung (gumaman bahasa yang tidak saya mengerti, tepatnya) nini saat meniup buluh bambu untuk menyalakan atang di pagi hari.

Buku yang baik adalah buku yang membawa perasaan hangat selepas membacanya.

Kisah Kisah yang Menyelamatkan adalah satu di antaranya.

Sampit, 23 Maret 2016

Di sela ngilu di punggung tangan kiri yang tidak kunjung pergi

Derita Derita Proletar

IMG_20160318_121342Minggu yang lamban.

Sejak akhir pekan silam jumlah buku yang saya baca rasa rasanya tidak mengalami perubahan. Geming ia di F. Scott Fitzgerald – the Great Gatsby. Ada satu-dua judul yang disentuh, dirasa menarik lalu tersusun kembali ke rak buku lantaran adaaa saja yang harus dilakukan, yang harus dikerjakan. Kepada Mati, Bertahun yang Lalu – Soe Tjen Marching dan Suti – Sapardji Djoko Damono saya berhutang penyelesaian.

Beberapa buku yang menarik di bulan ini justru purna berisi penderitaan. Utamanya dari kelas akar rumput yang istilah kerennya baru bisa saya lafalkan dengan benar seminggu terakhir – setelah berkali kali menyebutnya sebagai protelar alih alih proletar –

Dimulai dari Nyanyian Akar Rumput – Wiji Thukul, Pecundang – Marxim Gorky hingga terakhir Gadis Pantai-nya Pram. Ketiga buku di atas begitu berkesan sebab saya semacam bernostalgia dengan keriaan pembelajaran atas hal hal berbau kiri 5 tahunan silam. Saat itu, Wiji Thukul dengan Aku Ingin Menjadi Peluru dan buku Trilogi Insidennya SGA banyak menyulut semangat menulis soal polemik kemanusiaan di Indonesia berpuluh tahun lewat.

Nyanyian Akar Rumput memuat beberapa puisi dari Aku Ingin Menjadi Peluru sehingga beberapa kali saya merasa “Aduh.. kangennya dengan Nani yang dulu” hahaha. Juga kosakata yang dimainkan Pram di buku yang ditulisnya sebelum tetralogi Pulau Buru itu membuat saya blingsatan berkaca kaca mengenang soal orang orang yang saya rindukan.

Gorky juga serupa, isi ketiga buku ini tidak jauh dari kemiskinan, kesengsaraan, penderitaan dan posisi akar rumput yang diam diam mendambakan pemberontakan. Yang menjadi garis besar ketiga buku ini (dua ding, Wiji kan kumpulan puisi) adalah ending yang pahit. Pahit, namun realistis. Pram menjabarkannya dengan Gadis Pantai yang kalah dari suaminya yang seorang priyayi, Gorky dengan bunuh diri dan Wiji yang selalu meninggalkan rasa getir di tiap puisinya.

Seolah ingin menyadarkan, bahwa memang, kadang perjuangan tidak melulu berbuah manis. Terminologi habis gelap terbitlah terang tidak berlaku pada setiap manusia, kadang yang gelap itu tak habis habis, melesap dan mematikan si empunya nasib. Khusus Pram, aku rasa sastrawan angkatannya memang tengah gemar menulis perkara penderitaan. Kita bisa lihat di judul judul buku lawas yang memang sarat penderitaan; Azab dan Sengsara, Katak Hendak Jadi Lembu, Tak Putus dirundung Malang, Perawan di Sarang Penyamun dan seterusnya.

Negara yang tidak merdeka, ribuan rakyat yang termarjinalisasi, entitas kebangsaan yang terenggut dengan tidak membanggakan, ditambah kesulitan kesulitan personal di tingkat dapur masing masing, saya rasa wajar adanya jika tidak muncul sebuah pengharapan dan ending dengan gempita kesuksesan. Ya begitulah, kadang penderitaan memang tidak habis habis, namanya juga hidup.

Tiga buku di bulan Maret memang terasa lamban mengingat di dua bulan terakhir masing masing sekurangnya sepuluh buku saya baca. Cibuk kak, beberapa event internal kantor digelar dan beberapa event eksternal di malam hari. Ditambah rutin delapan pagi hingga lima sore Senin hingga Jumat yang lama lama kok seperti menggugat pembebasan.

Buku buku yang cukup untuk menjadi alasan menepi dari tema depresif yang saya lakoni beberapa bulan belakangan. Menepi untuk melanjutkan perjalanan tentu saja, sebab resah, kegelisahan dan depresi itu konon harus dijaga -dikelola- agar ia menjadi alasan untuk menolak mengikuti ritme hidup yang monoton dan kian lamban.

Konon~~

Sampit, 18 Maret 2016

Sampit panasnya mulai ampun ampunan.

Sebuah Kekejian yang Diceritakan dengan Lembut

Untuk alasan alasan tertentu, saya tidak membaca novel ataupun buku tulisan selebtwit meski konon bagus dan banyak kawan saya yang membelinya. Nama seperti Zarry Hendrik, Falla Adinda, Diana Rikasari, bahkan Arman Dhani tidak pernah membangkitkan selera baca saya. Mungkin lantaran sombong, atau mungkin sudah keburu jengah dengan kecerewetan selebtwit di twitter sehingga saya sudah bisa menebak seperti apa isi buku mereka. Ga tau.

Puthut EA, adalah yang dengan khilaf saya kira sebagai selebtwit. Lantaran Sarapan Pagi Penuh Dusta yang saya lihat berjejer di antar nama nama di atas. Serta sepotong kalimat judul buku yang seperti twit twit roromantisan di twitter. Penulis lain yang mengalami kekhilafan saya adalah Sitor Situmorang, but we’ll get there, later.

Seekor Bebek yang MatiIMG_20160301_195436[1].jpg di Pinggir Kali adalah buku pertama Puthut EA yang saya baca dan langsung tandas sekali duduk. Dua bulan terakhir rasa rasanya cuma buku ini dan Sepotong Senja Untuk Pacarku-nya SGA yang sampai membuat saya rela menahan pipis dan dorongan merokok demi menamatkan cerita di dalamnya.

SBYMDPK adalah kumcer dengan tebal 158 lembar berisi 15 cerpen. Cerita pertama di buku ini sepintas mengingatkan saya pada buku buku Gitanyali (Bre Redana). Lekat dengan kisah kisah berbau kiri dan cara penulis mengimplikasikan kejadian nyata dengan fiksi yang tidak berlebihan ini yang terasa menyenangkan untuk dibaca.

Gaya penulisan Puthut di buku ini adalah realism. Dan realisme yang diangkatnya diuntai dengan gaya bahasa tutur yang enak sekali. Bahkan cenderung lembut dan menyenangkan. Ibarat lagu, ritme yang diberikan adalah tempo sedang cenderung lambat kek lagu lagu dangdut lapanpuluhan.

Di tengah buku, saya nyaris terlena berkat cerpen Sambal Keluarga yang sangat hangat, dijabarkan dengan manis dan menyenangkan. Lalu boom! ritme itu diruntuhkan oleh rentetan cerpen soal penjara dan kisah memilukan perempuan dan anak anak yang dirampas oleh negara.

Soal kekejaman tentara, polisi dan kaki tangan Orba sudah kerap saya baca melalui buku buku Pram dan SGA. Terakhir saya menamatkan Orang Orang yang Berlawan tulisan Wilson yang memuat kekejian penjara hingga memaksa seorang tawanan yang dibiarkan kelaparan memakan belatung yang muncul dari borok bekas siksaan di tubuhnya. Saya sudah terbiasa dengan penjabaran soal kuku kaki yang dicabut paksa, catut yang menarik lidah lalu bayonet yang mengiris indra pengecap itu, atau bagaimana kemaluan perempuan dipopor senjata yang telah diletuskan ke kepala rekannya hingga melepuh dan infeksi bekas residu. Rezim Orba memang bangsat, semua orang tau soal itu.

Namun Puthut, menceritakan segenap kisah memilukan itu dengan bahasanya yang menghanyutkan. Ia pandai menjelajahi ranah fiksi dengan membubuhkan rasa perih yang pas. Ia kian perih karena dari setiap kepiluan yang diuatarakan, Puthut menyelipkan kalimat kalimat pengharapan yang lembut sebagai penutup dari tiap ceritanya. Seperti dalam cerpen Anak Anak yang Terampas, bagaimana luruhnya segenap hidup seorang wanita saat diperkosa dan dipaksa hamil lantas membesarkan anaknya di dalam kungkungan penjara dan menelan jagung setiap harinya. Bagaimana soal anak kecil yang harus melanjutkan masa kurungan bapaknya, namun Puthut tetap saja bisa menghangatkan hati dengan pemilihan kalimat soal masa depan di akhir ceritanya.

Saya dibuat hanyut sore itu, di antara keinginan untuk pipis yang menggebu dan bibir yang menagih nikotin, saya menamatkan sebuah dongeng soal bangsatnya Orba dengan bahasa lembut yang membalut kekejian itu (*)

To be A Catcher in the Crooked Mind

IMG_20160226_091227[1]Buku ini lebih populer karena kisah tentang bukunya dibanding isi buku itu sendiri. Pembunuh John Lennon ditangkap saat sedang membawa buku ini, pun pelaku penembakan Rebecca Schaeffer di era 80an. Bukunya sempat dilarang beredar dan bahkan disebut sebut memprovokasi soal Komunisme. Alhasil, banyak review soal buku ini yang membubuhkan kata pemicu pembunuhan sebagai kalimat judul.

Saya sendiri, baru mulai membaca The Catcher in the Rye ini sebulan silam. Menemukannya di lapak dagangan onlen dan mendapati kalimat “Mengapa buku ini disukai para pembunuh?” di sampul belakang sebagai gantinya sinopsis. Kalimat ini retorikal sebab ia bukan menjelaskan isi buku, tapi turut mempertanyakan keterbetulan dua kasus pembunuhan selebritis yang melibatkan buku ini. Sepotong kalimat yang menyesatkan jika buku terbitan ini dibaca oleh yang tidak tau soal latar bukunya, atau 40-50 tahun dari sekarang.

Eniwei, buku ini berkisah soal Holden Caulfield, remaja berumur 16 tahun yang dikeluarkan dari sekolahnya dan memutuskan untuk pulang lima hari (semoga hitung hitungan saya tidak salah) lebih awal sebelum akhirnya ia pulang di hari Rabu ke apartment orang tuanya. Alasannya, ia berkelahi dengan Stradlater lantaran perempuan yang ia sukai berkencan dengan room mate-nya itu. Sisanya, adalah cerita soal apa saja yang Holden alami sebelum akhirnya pulang ke rumah dengan ending yang kentang, sejujurnya.

295 halaman dengan rentang waktu yang hanya lima hari. Bayangkan saja apa yang kira kira dibahas Salinger dalam buku ini kalau bukan monolog yang panjangnya ampun ampunan. Saya rasa buku dengan genre seperti ini menjadi popular sebab diterbitkan pada saat penulis penulis di zaman itu tengah mengulik genre yang bersifat gagasan, ideologi dan teori teori produk dari filsuf era 1900an. Ia menjadi menonjol sebab membahas psikologi klasik bernama alienasi.

Yang mana akan menjadi basi di era sekarang sebab Murakami keburu menjadi dewa atas tema semacam itu.

Holden adalah remaja pada umumnya, yang kebetulan sedikit lebih pemikir dibanding yang lain. Dua orang yang ada di lingkarannya bunuh diri sehingga sedikit banyak mempengaruhi caranya untuk melihat dunia secara optimistik. Ini adalah rangkaian kalimat umpatan yang relate dengan saya sebab begitulah saya melihat dunia. Yang lebih gemar melihat segalanya dengan sinis lagi pesimis. Yang merasa canggung dengan kebaikan dan gestur afeksi, namun sebenarnya memiliki keinginan untuk menjadi anak yang baik.

Di sepanjang buku kita akan setuju jika Holden adalah pemarah, sinis, pesimis bahkan cenderung vandal. Namun jika dibaca lebih jauh lagi, ia adalah sosok yang luar biasa sincere, baik hati, penyayang dan sangat peduli terhadap nilai nilai. Yang justru kontradiktif dengan umpatannya sendiri kepada gurunya -Spencer- saat lelaki itu menasehati Holden bahwa hidup haruslah patuh terhadap aturan aturan.

Ada satu bagian yang saya missed di buku ini. Soal Holden yang menyebutkan ia sudah belasan kali mendapat perlakuan serupa saat ada indikasi Pak Antolini gurunya menggerayanginya (hal. 267) saya sampai membaca ulang buku ini untuk memastikan apakah Holden pernah mengalami trauma seksual di masa kecilnya.

Sebab reaksi Holden setelah terbangun dan menemukan sang guru menepuk nepuk dahinya sangatlah berlebihan jika ia tidak pernah mengalami hal serupa sebelumnya. You know, protection mode based on trial and error gitu. Ditambah dengan Holden yang mendadak sakit, mual luar biasa dan merasa aspal di jalanan menelannya hidup hidup.

Saya sendiri tersenyum simpul saat di halaman belasan menemukan Holden yang tengah menyusup ke kamar kawannya, bertindak seenaknya lalu dalam sepersekian menit menatap jendela dan merasa sangat sangat kesepian hingga rasanya ingin terjun saja.

Atau saat ia ingin membuktikan sesuatu, seperti merokok, minum alkohol bahkan melakukan dansa bodoh bersama perempuan kurang menarik dan mengundang pelacur ke kamar hotel hanya untuk mendengarkan ia bicara. Jadinya saya justru ingin memeluk Holden dan berkata semuanya baik baik saja, jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri. Sini tante jajanin.

Jadi jangan keburu lelah dengan pengulangan kata umpatan, runutan makian bahkan sikap tokoh utama yang seperti pecundang. Mungkin ia adalah kamu, adalah kita di masa lalu, masa kini atau masa mendatang. (*)