Cantik itu Luka

SwYfxA90.jpgEka Kurniawan harus saya cintai untuk alasan ini:

Dia adalah pencipta karakter paling pahit yang pernah saya baca.

Holden Caufield-nya The Catcher in the Rye sampai Toru Watanabe-nya Haruki Murakami yang saya kira takaran pahitnya sudah di atas rata rata itu kalah oleh karakter karakter yang ada di dalam novel setebal 478 halaman ini. Saya dibuat menggumam “Anjrit..” berkali kali saat disuguhkan situasi yang menunjukkan betapa dingin dan tidak berperasaannya si tokoh utama.

Saya kira karakter demikian hanya dimiliki satu tokoh utama dengan tokoh tokoh lain sebagai penyeimbang. Dugaan ini seketika runtuh sebab pada halaman demi halaman yang melibatkan tokoh baru, saya selalu menemukan kekejaman dan kedinginan yang sama dengan karakter utama- Dewi Ayu-

Dimulai dari si Cantik, lalu Maman Gendeng, lalu Kamerad Kliwon, lalu Alamanda dan seterusnya. Silih berganti mereka menjelma menjadi sosok yang akan mematahkan hatimu tanpa ampun untuk kemudian tersenyum dan berlalu. Kisah percintaan laki laki paling tampan sedunia dan perempuan paling cantik sejagad raya itupun berakhir dengan Kamerad Kliwon yang menikahi Adinda, adik Alamanda. Pedih dan menyakitkan.

Kemudian cara Eka Kurniawan menyediakan ending cerita untuk si Cantik yang seolah berkata “Ga ada gunanya menunggu akhir yang bahagia, hidup ini fucked up, telan dan jalani saja”. Sebuah cara penyampaian cerita yang, sekali lagi, pedih dan menyakitkan. Seperti kebanyakan resensi atas buku ini, membaca Cantik itu Luka memang menyisakan perasaan yang gamang dan sejumlah gugatan. Namun terlepas dari itu semua, bagi saya Cantik itu Luka adalah vakansi yang menyenangkan karena rasa rasanya tidak pernah saya temukan karakter karakter sedingin, sekelam, sepahit mereka bahkan di dalam karya Seno Gumira Ajidarma.

Dewi Ayu adalah puncak performa kelihaian pak Kurniawan dalam menguntai kepahitan karakter. Di halaman halaman awal kita disuguhkan sesosok perempuan tua bekas pelacur yang melahirkan anak buruk rupa namun justru bersyukur atas itu. Lebih lebih, menginginkan agar si anak terlahir demikian. Ia lalu memutuskan untuk mati lalu hidup kembali 21 tahun kemudian. Ia begitu karena ia ingin begitu. Fak sekali kan? KAN??

Dalam novel novel yang terobsesi menyuguhkan pesan moral sebagai dagangan singkat rangkuman cerita di cover belakang, Dewi Ayu tentu akan dijabarkan sebagai perempuan baik baik, manis ramah kesayangan semua orang di masa silam yang lalu diubah oleh keadaan. Sayapun berprediksi demikian, sebab Cantik itu Luka adalah novel pop kekinian yang digemari banyak orang.

Kenyataannya? Dewi Ayu memang bersifat demikian sejak awal mula penciptaan. Gadis kecil dengan kecerdasan alami di atas rata rata yang membuatnya lebih tenang sebab mengetahui banyak hal dari orang sekitarnya. Ia memandang orang lain tidak memiliki kecerdasan yang setara dengannya sehingga mudah baginya menjadi berkuasa atas orang lain. Ia memiliki bakat pemimpin, ketenangan yang tidak main main ditambah ketabahan luar biasa yang ditempa oleh apa (ia sudah memiliki karakter ini sejak hari pertama tentara Jepang mengurungnya di penjara, sejak hari pertama ia dijadikan pelacur di rumah Mama Kalong)

Tanpa penjelasan susah payah soal mengapa si A berkarakter demikian, Eka justru menambah unsur magis novel ini. Membuat saya dan siapapun betah untuk duduk berlama lama, membaca lompatan peristiwa dengan sederet tokoh yang berkaitan satu sama lain meski dalam beberapa chapter agak jauh ia dituliskan.

Buku ini sekaligus menjadi penanda sebuah momentum. Sebulan terakhir saya menjadi bagian dari chapter menyenangkan bersama seseorang yang tidak kalah menyenangkan dari cerita yang saya susun di dalam kepala. Ia yang sedianya ada di dalam orbit saya bertahun tahun lamanya. Orbit yang kemudian berbenturan dan menjumput kebahagiaan. Banyak, berlimpah ruah.

Lalu seperti layaknya sebuah perjalanan, saya harus kembali menyusuri orbit itu. Meninggalkan momentum itu dan melayang untuk menemukan benturan benturan baru. Begitu seterusnya hingga usia gumpalan debu kosmis ini berakhir, saya rasa. Meski terdengan suram dan membosankan, namun setiap kita memang berhutang kewajiban untuk meneruskan perjalanan.

Sampit, 6 April 2016

Seperti Dewi Ayu, dingin dan kejam nampaknya memang sebuah pilihan yang menyenangkan.

Advertisements

100 Buku untuk 2016 #Maret

Betapa waktu adalah lalim

Dihantarnya kita pada masa sekarang bukan kemarin

Sehingga yang sudah sudah menjadi ingatan

Dan sebuah akan, menyusup menjadi harapan

Perkara Waktu, 2016

Bulan yang menyenangkan ^^

Sekurangnya empat akhir pekan saya habiskan di luar kota. Untuk melakukan klaim atas libur dan menamatkan buku buku yang tidak lagi bisa dicuri baca di jam kerja. Bulan yang menjadi rekor sebab rasa rasanya tidak seharipun saya lengang dalam pola bikin laporan-pergi ke lapangan-bikin laporan lagi. Sisa waktu seusai lembur habis dengan saya yang langsung tertidur saat tersentuh kasur. Dalam kondisi begitu, saya dengan pongahnya mengambil jam siar di SENIN MALAM sebanyak 4 jam. Hahaha, menyenangkaaaan.

Karena praktis waktu untuk membaca sedemikian minim, buku buku yang dilahap-pun berkurang. Namun setidaknya saya masih konsisten dengan target 100 buku untuk setahun ini, ya, kan?

Buku yang telah dibaca di bulan Maret:

  1. Dewi Ria Utari – Kekasih Marionette
  2. Pramoedya Ananta Toer – Bukan Pasarmalam
  3. Gitanyali – Blues Merbabu
  4. Gitanyali – 65
  5. Pramoedya Ananta Toer – Gadis Pantai
  6. Hajriansyah – Kisah Kisah yang Menyelamatkan

Dengan highlight di bulan ini adalah Gitanyali (Bre Redana) dengan kisah kisah pop dan petualangan seksualnya di zaman orba. Sisanya adalah buku buku yang seperempat, sepertiga, separuh dan sekadarnya dibaca. Minat menurun seiring rasa lelah ya, iya.

Sampit, 31 Maret 2016

Waktu kok kerasa cepat sekali berlalu belakangan ini

Kisah Kisah yang Menyelamatkan

Pasca dipulangkan oleh HRD yang nampaknya prihatin dengan bentukan Nani yang udah kek zombie, praktis seharian kemarin saya cuma leyeh leyeh dengan lemes di rumah selepas 3 jam berkutat dengan IGD – antrian Poli Penyakit Dalam – Apotek. Kondisi yang menyebalkan mengingat saya masih punya hutang pekerjaan dan tidak terbiasa bengong sampai seharian seperti itu.

Pelampiasannya, setumpuk buku milik Sapardi Djoko Damono yang dibeli paketan (isi 5 buku harga promo, mayan kak!) saya tuntaskan atas nama kepinginan untuk meromantiskan mood di hari itu. Tunai menamatkan Melipat Jarak sebagai buku terakhir, saya teringat pada sebuah buku pinjaman dari seorang kawan.

IMG_20160321_114545.jpg

Kisah Kisah yang Menyelamatkan – Hajriansyah

Kumpulan Cerpen yang tidak seberapa tebal itu menyisakan sepertiga halaman belakang untuk dibaca. Mengingat banyaknya distraksi dalam pembacaan 2/3-nya sayapun mengulang melahap buku ini dan seketika terkenang pada suatu sore di beranda belakang rumah panggung kai di Tanjung, Banjarmasin.

Pasalnya, buku ini terasa sangat Banjarmasin sekali!

Hajriansyah, adalah penutur yang baik. Meski ini merupakan buku pertama beliau yang saya baca, saya sudah dibuat betah dengan narasi yang tertata, jalinan kisah yang berstruktur dengan alur sederhana namun sarat pesan moril (bagi yang bekenan untuk membedahnya, tentu saja hahaha), budaya bertutur yang menjadi ciri bagi warga pesisir dan pedalaman Kalimantan dituangkan dengan baik ke dalam tulisan sehingga satu jam berlalu tanpa terasa berkat sepuluh cerpen dalam buku ini.

Perbincangan soal tarekat-makrifat dan ilmu tasawuf disandingkan dengan obrolan soal harga cabe yang meninggi mungkin hanya bisa didapatkan di kalangan grassroot Banjarmasin. Nilai islam yang kental di kota itu membuat asimilasi antara budaya lokal dan islami sedemikian baur dan mengakar di masyarakat. Makanya jangan heran jika muncul stereotype soal Orang Banjar kuat agamanya. 

Padahal sebagai keturunan Banjar saya kudu agree to disagree hahaha.

Penulis dengan santai mengupas perkara pencarian ketuhanan melalui kisah kisah yang secara terang menyentil soal Tasawuf. Ia masukkan unsur sehari hari dan menjadikan pencari Tuhan itu sebagai pribadi yang natural, berbaur dan membuat kita percaya mungkin saja tetangga kita sedang belajar kitab kuning dan menemukan kedalaman agama.

IMG_20160321_114558

Terlepas dari tema yang diangkat, saya harus mengacungkan jempol pada kemampuan menulis Pak Hajriansyah. Meski skena sastra di Kalimantan tidak semegah di pulau lain, meski penjualan dan oplah saya yakini tidak mampu menunjang hidup penulis dengan laik, kualitas tulisan tidak kalah dengan buku buku besutan penerbit dan penulis tersohor. Diksi yang luas, jangkauan tema yang menarik, struktur kalimat yang runut dan perkara perkara teknis maupun nonteknis lain membuat saya percaya percaya saja jika seandainya penulis adalah anonimus-nya Ahmad Tohari :))

Membaca buku ini membuat saya rindu. Pada semilir angin panas di kaki bukit Dusun Namun, Desa Jaro, Kabupaten Tanjung tempat saya diungsikan pasca bangkrutnya usaha bapak selepas kerusuhan 2001. Rindu pada kai dan segenap cerita beliau tentang malaikat dan nabi nabi, juga senandung (gumaman bahasa yang tidak saya mengerti, tepatnya) nini saat meniup buluh bambu untuk menyalakan atang di pagi hari.

Buku yang baik adalah buku yang membawa perasaan hangat selepas membacanya.

Kisah Kisah yang Menyelamatkan adalah satu di antaranya.

Sampit, 23 Maret 2016

Di sela ngilu di punggung tangan kiri yang tidak kunjung pergi

Derita Derita Proletar

IMG_20160318_121342Minggu yang lamban.

Sejak akhir pekan silam jumlah buku yang saya baca rasa rasanya tidak mengalami perubahan. Geming ia di F. Scott Fitzgerald – the Great Gatsby. Ada satu-dua judul yang disentuh, dirasa menarik lalu tersusun kembali ke rak buku lantaran adaaa saja yang harus dilakukan, yang harus dikerjakan. Kepada Mati, Bertahun yang Lalu – Soe Tjen Marching dan Suti – Sapardji Djoko Damono saya berhutang penyelesaian.

Beberapa buku yang menarik di bulan ini justru purna berisi penderitaan. Utamanya dari kelas akar rumput yang istilah kerennya baru bisa saya lafalkan dengan benar seminggu terakhir – setelah berkali kali menyebutnya sebagai protelar alih alih proletar –

Dimulai dari Nyanyian Akar Rumput – Wiji Thukul, Pecundang – Marxim Gorky hingga terakhir Gadis Pantai-nya Pram. Ketiga buku di atas begitu berkesan sebab saya semacam bernostalgia dengan keriaan pembelajaran atas hal hal berbau kiri 5 tahunan silam. Saat itu, Wiji Thukul dengan Aku Ingin Menjadi Peluru dan buku Trilogi Insidennya SGA banyak menyulut semangat menulis soal polemik kemanusiaan di Indonesia berpuluh tahun lewat.

Nyanyian Akar Rumput memuat beberapa puisi dari Aku Ingin Menjadi Peluru sehingga beberapa kali saya merasa “Aduh.. kangennya dengan Nani yang dulu” hahaha. Juga kosakata yang dimainkan Pram di buku yang ditulisnya sebelum tetralogi Pulau Buru itu membuat saya blingsatan berkaca kaca mengenang soal orang orang yang saya rindukan.

Gorky juga serupa, isi ketiga buku ini tidak jauh dari kemiskinan, kesengsaraan, penderitaan dan posisi akar rumput yang diam diam mendambakan pemberontakan. Yang menjadi garis besar ketiga buku ini (dua ding, Wiji kan kumpulan puisi) adalah ending yang pahit. Pahit, namun realistis. Pram menjabarkannya dengan Gadis Pantai yang kalah dari suaminya yang seorang priyayi, Gorky dengan bunuh diri dan Wiji yang selalu meninggalkan rasa getir di tiap puisinya.

Seolah ingin menyadarkan, bahwa memang, kadang perjuangan tidak melulu berbuah manis. Terminologi habis gelap terbitlah terang tidak berlaku pada setiap manusia, kadang yang gelap itu tak habis habis, melesap dan mematikan si empunya nasib. Khusus Pram, aku rasa sastrawan angkatannya memang tengah gemar menulis perkara penderitaan. Kita bisa lihat di judul judul buku lawas yang memang sarat penderitaan; Azab dan Sengsara, Katak Hendak Jadi Lembu, Tak Putus dirundung Malang, Perawan di Sarang Penyamun dan seterusnya.

Negara yang tidak merdeka, ribuan rakyat yang termarjinalisasi, entitas kebangsaan yang terenggut dengan tidak membanggakan, ditambah kesulitan kesulitan personal di tingkat dapur masing masing, saya rasa wajar adanya jika tidak muncul sebuah pengharapan dan ending dengan gempita kesuksesan. Ya begitulah, kadang penderitaan memang tidak habis habis, namanya juga hidup.

Tiga buku di bulan Maret memang terasa lamban mengingat di dua bulan terakhir masing masing sekurangnya sepuluh buku saya baca. Cibuk kak, beberapa event internal kantor digelar dan beberapa event eksternal di malam hari. Ditambah rutin delapan pagi hingga lima sore Senin hingga Jumat yang lama lama kok seperti menggugat pembebasan.

Buku buku yang cukup untuk menjadi alasan menepi dari tema depresif yang saya lakoni beberapa bulan belakangan. Menepi untuk melanjutkan perjalanan tentu saja, sebab resah, kegelisahan dan depresi itu konon harus dijaga -dikelola- agar ia menjadi alasan untuk menolak mengikuti ritme hidup yang monoton dan kian lamban.

Konon~~

Sampit, 18 Maret 2016

Sampit panasnya mulai ampun ampunan.

Sebuah Kekejian yang Diceritakan dengan Lembut

Untuk alasan alasan tertentu, saya tidak membaca novel ataupun buku tulisan selebtwit meski konon bagus dan banyak kawan saya yang membelinya. Nama seperti Zarry Hendrik, Falla Adinda, Diana Rikasari, bahkan Arman Dhani tidak pernah membangkitkan selera baca saya. Mungkin lantaran sombong, atau mungkin sudah keburu jengah dengan kecerewetan selebtwit di twitter sehingga saya sudah bisa menebak seperti apa isi buku mereka. Ga tau.

Puthut EA, adalah yang dengan khilaf saya kira sebagai selebtwit. Lantaran Sarapan Pagi Penuh Dusta yang saya lihat berjejer di antar nama nama di atas. Serta sepotong kalimat judul buku yang seperti twit twit roromantisan di twitter. Penulis lain yang mengalami kekhilafan saya adalah Sitor Situmorang, but we’ll get there, later.

Seekor Bebek yang MatiIMG_20160301_195436[1].jpg di Pinggir Kali adalah buku pertama Puthut EA yang saya baca dan langsung tandas sekali duduk. Dua bulan terakhir rasa rasanya cuma buku ini dan Sepotong Senja Untuk Pacarku-nya SGA yang sampai membuat saya rela menahan pipis dan dorongan merokok demi menamatkan cerita di dalamnya.

SBYMDPK adalah kumcer dengan tebal 158 lembar berisi 15 cerpen. Cerita pertama di buku ini sepintas mengingatkan saya pada buku buku Gitanyali (Bre Redana). Lekat dengan kisah kisah berbau kiri dan cara penulis mengimplikasikan kejadian nyata dengan fiksi yang tidak berlebihan ini yang terasa menyenangkan untuk dibaca.

Gaya penulisan Puthut di buku ini adalah realism. Dan realisme yang diangkatnya diuntai dengan gaya bahasa tutur yang enak sekali. Bahkan cenderung lembut dan menyenangkan. Ibarat lagu, ritme yang diberikan adalah tempo sedang cenderung lambat kek lagu lagu dangdut lapanpuluhan.

Di tengah buku, saya nyaris terlena berkat cerpen Sambal Keluarga yang sangat hangat, dijabarkan dengan manis dan menyenangkan. Lalu boom! ritme itu diruntuhkan oleh rentetan cerpen soal penjara dan kisah memilukan perempuan dan anak anak yang dirampas oleh negara.

Soal kekejaman tentara, polisi dan kaki tangan Orba sudah kerap saya baca melalui buku buku Pram dan SGA. Terakhir saya menamatkan Orang Orang yang Berlawan tulisan Wilson yang memuat kekejian penjara hingga memaksa seorang tawanan yang dibiarkan kelaparan memakan belatung yang muncul dari borok bekas siksaan di tubuhnya. Saya sudah terbiasa dengan penjabaran soal kuku kaki yang dicabut paksa, catut yang menarik lidah lalu bayonet yang mengiris indra pengecap itu, atau bagaimana kemaluan perempuan dipopor senjata yang telah diletuskan ke kepala rekannya hingga melepuh dan infeksi bekas residu. Rezim Orba memang bangsat, semua orang tau soal itu.

Namun Puthut, menceritakan segenap kisah memilukan itu dengan bahasanya yang menghanyutkan. Ia pandai menjelajahi ranah fiksi dengan membubuhkan rasa perih yang pas. Ia kian perih karena dari setiap kepiluan yang diuatarakan, Puthut menyelipkan kalimat kalimat pengharapan yang lembut sebagai penutup dari tiap ceritanya. Seperti dalam cerpen Anak Anak yang Terampas, bagaimana luruhnya segenap hidup seorang wanita saat diperkosa dan dipaksa hamil lantas membesarkan anaknya di dalam kungkungan penjara dan menelan jagung setiap harinya. Bagaimana soal anak kecil yang harus melanjutkan masa kurungan bapaknya, namun Puthut tetap saja bisa menghangatkan hati dengan pemilihan kalimat soal masa depan di akhir ceritanya.

Saya dibuat hanyut sore itu, di antara keinginan untuk pipis yang menggebu dan bibir yang menagih nikotin, saya menamatkan sebuah dongeng soal bangsatnya Orba dengan bahasa lembut yang membalut kekejian itu (*)

To be A Catcher in the Crooked Mind

IMG_20160226_091227[1]Buku ini lebih populer karena kisah tentang bukunya dibanding isi buku itu sendiri. Pembunuh John Lennon ditangkap saat sedang membawa buku ini, pun pelaku penembakan Rebecca Schaeffer di era 80an. Bukunya sempat dilarang beredar dan bahkan disebut sebut memprovokasi soal Komunisme. Alhasil, banyak review soal buku ini yang membubuhkan kata pemicu pembunuhan sebagai kalimat judul.

Saya sendiri, baru mulai membaca The Catcher in the Rye ini sebulan silam. Menemukannya di lapak dagangan onlen dan mendapati kalimat “Mengapa buku ini disukai para pembunuh?” di sampul belakang sebagai gantinya sinopsis. Kalimat ini retorikal sebab ia bukan menjelaskan isi buku, tapi turut mempertanyakan keterbetulan dua kasus pembunuhan selebritis yang melibatkan buku ini. Sepotong kalimat yang menyesatkan jika buku terbitan ini dibaca oleh yang tidak tau soal latar bukunya, atau 40-50 tahun dari sekarang.

Eniwei, buku ini berkisah soal Holden Caulfield, remaja berumur 16 tahun yang dikeluarkan dari sekolahnya dan memutuskan untuk pulang lima hari (semoga hitung hitungan saya tidak salah) lebih awal sebelum akhirnya ia pulang di hari Rabu ke apartment orang tuanya. Alasannya, ia berkelahi dengan Stradlater lantaran perempuan yang ia sukai berkencan dengan room mate-nya itu. Sisanya, adalah cerita soal apa saja yang Holden alami sebelum akhirnya pulang ke rumah dengan ending yang kentang, sejujurnya.

295 halaman dengan rentang waktu yang hanya lima hari. Bayangkan saja apa yang kira kira dibahas Salinger dalam buku ini kalau bukan monolog yang panjangnya ampun ampunan. Saya rasa buku dengan genre seperti ini menjadi popular sebab diterbitkan pada saat penulis penulis di zaman itu tengah mengulik genre yang bersifat gagasan, ideologi dan teori teori produk dari filsuf era 1900an. Ia menjadi menonjol sebab membahas psikologi klasik bernama alienasi.

Yang mana akan menjadi basi di era sekarang sebab Murakami keburu menjadi dewa atas tema semacam itu.

Holden adalah remaja pada umumnya, yang kebetulan sedikit lebih pemikir dibanding yang lain. Dua orang yang ada di lingkarannya bunuh diri sehingga sedikit banyak mempengaruhi caranya untuk melihat dunia secara optimistik. Ini adalah rangkaian kalimat umpatan yang relate dengan saya sebab begitulah saya melihat dunia. Yang lebih gemar melihat segalanya dengan sinis lagi pesimis. Yang merasa canggung dengan kebaikan dan gestur afeksi, namun sebenarnya memiliki keinginan untuk menjadi anak yang baik.

Di sepanjang buku kita akan setuju jika Holden adalah pemarah, sinis, pesimis bahkan cenderung vandal. Namun jika dibaca lebih jauh lagi, ia adalah sosok yang luar biasa sincere, baik hati, penyayang dan sangat peduli terhadap nilai nilai. Yang justru kontradiktif dengan umpatannya sendiri kepada gurunya -Spencer- saat lelaki itu menasehati Holden bahwa hidup haruslah patuh terhadap aturan aturan.

Ada satu bagian yang saya missed di buku ini. Soal Holden yang menyebutkan ia sudah belasan kali mendapat perlakuan serupa saat ada indikasi Pak Antolini gurunya menggerayanginya (hal. 267) saya sampai membaca ulang buku ini untuk memastikan apakah Holden pernah mengalami trauma seksual di masa kecilnya.

Sebab reaksi Holden setelah terbangun dan menemukan sang guru menepuk nepuk dahinya sangatlah berlebihan jika ia tidak pernah mengalami hal serupa sebelumnya. You know, protection mode based on trial and error gitu. Ditambah dengan Holden yang mendadak sakit, mual luar biasa dan merasa aspal di jalanan menelannya hidup hidup.

Saya sendiri tersenyum simpul saat di halaman belasan menemukan Holden yang tengah menyusup ke kamar kawannya, bertindak seenaknya lalu dalam sepersekian menit menatap jendela dan merasa sangat sangat kesepian hingga rasanya ingin terjun saja.

Atau saat ia ingin membuktikan sesuatu, seperti merokok, minum alkohol bahkan melakukan dansa bodoh bersama perempuan kurang menarik dan mengundang pelacur ke kamar hotel hanya untuk mendengarkan ia bicara. Jadinya saya justru ingin memeluk Holden dan berkata semuanya baik baik saja, jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri. Sini tante jajanin.

Jadi jangan keburu lelah dengan pengulangan kata umpatan, runutan makian bahkan sikap tokoh utama yang seperti pecundang. Mungkin ia adalah kamu, adalah kita di masa lalu, masa kini atau masa mendatang. (*)

Justifikasi Pedofilia Lewat Empati

IMG_20160220_195510.jpg

Lolita adalah buku yang terlanjur populer berkat tema pedofilia yang diangkat bertahun tahun, berpuluh tahun lewat. Pembacaan ulang Lolita, kali ini dengan bersungguh sungguh setelah nyaris enam tahun lewat saat pertama kali sedemikian penasaran dengan kisah ini, berujung perasaan hambar yang mengawang awang. Seperti menelan ludah dalam mulut yang kering. Seperti dicubit di lengkung pinggul. Seperti eskrim kesukaan jatuh ke lantai.

Mencelos.

Dengan kurang ajarnya Nabokov membuatku memaklumi kelainan seks menyimpang bernama pedofilia. Isu yang diangkat memang tidak main main, soal lelaki dewasa (jika pada usia 12 tahun ia berkencan dengan Anabelle, dan kisah ini diceritakan 29 tahun kemudian saat ia bertemu dengan Lo, maka ini Humbert Humbert berusia 41 tahun) yang menyukai anak kecil kelas 1 SMP.

Kita tidak bicara soal suka seperti bapak bapak yang gemes liat anak anak bermain hujan karena ntar kebasahan. Kita bicara soal sukanya oom oom kepada dedek dedek yang re-assembled dengan cinta masa kanak kanak untuk kemudian dicintai tidak hanya satu-dua malam. Diksi atas kalimat kalimat sensual yang selalu “nyaris”, memberikan garis tipis antara literatur dan stensilan.

Stensilan juga cabang literatur sih #SaveEnnyArrow

Yang mengganggu, dan sebenarnya ini kesalahanku lantaran memilih membeli versi terjemahan karena lebih murah, adalah penerjemahan kata Nymphet menjadi Peri Asmara yang.. eum.. eum.. ganggu. Kenapa kudu Peri Asmara kek judul lagu Saiful Jamil, Kak? Kenapa? (jika hanya muncul di satu-dua chapter Hayati masih bisa terima, lah ini satu buku, SATU BUKUK!) Tujuh chapter membaca terjemahannya, aku akhirnya kudu menyerah dan melanjutkan hingga tuntas membaca buku ini via .pdf karena ya itu, ga tahan.

Satu hal lagi yang membekas dari buku ini adalah: Nabokov mengajak kita menyelami pikiran seorang pengidap pedophilia yang sociopath (berkali kali di buku ini dijabarkan bagaimana Humbert mengelabui psikiaternya hingga mendapat diagnosis “impoten” dan “schizophrenia”) sehingga tiba pada ujung, bangsatnya, pemakluman.

Dalam film dengan judul yang sama aku pernah nonton Lolita, besutan Kubrick. Waktu itu masih sedemikian abegeh sehingga menonton film ini hanya berujung kernyit di kening dan mempertanyakan soal WTF are just happened tiap Humbert menjabarkan kesukaannya pada gadis kecil.

Membacanya kembali, mungkin dengan latar mental di usia sekarang, yang kutemui justru pemakluman. Oh betapa tersiksanya Humbert dengan kondisi tidak dan tidak akan dimengerti oleh lingkungannya. Pada kesepian dan kesedihan kesedihannya, atas rasa cinta yang demikian mendalam tapi tidak bisa diungkapkan.

OKE NANINYA CURHAT!

Maksudku, orang dewasa mana yang tidak relate dengan perkara penelaahan diri dan perasaan sendiri ini. Kebingungan Humbert tidak pernah menang atas keyakinannya atas cinta kepada Lolita yang dari halaman ke halaman berubah mediumnya itu. Hingga akhirnya ia menemukannya di diri Dolores Haze, menyematkan cinta abadi di sana walaupun sang Lolita menua dan menikahi pria lain, kecintaannya pada sang gadis kecil tetap menyala.

Meski demikian, Humbert tidak digambarkan sebagai tokoh dengan semata fragile dan wajib dimaklumi. Ia toh tetap merasa ada yang salah dalam dirinya, melalui penalarannya soal ia yang seperti laba laba yang tengah memintal benang sutera untuk ‘menjebak’ sang Lolita. Tentang bagaimana ia bersemangat saat umpan atas jebakannya berhasil membawa sang gadis duduk di pangkuannya (hal 67)

Aku menyukai bagaimana Nabokov menghidupkan karakter Humbert yang tidak terjebak dalam klise dan bermain aman terhadap isu ini. Tidak ia bangun Humbert dengan cinta yang murni, subliminal dan suci tanpa nafsu duniawi. Ia justru dengan nyaring dan yakin (keyakinan ini yang membuatku susah lepas dari halaman demi halamannya) soal ia tertarik secara seksual dan jelas jelas menginginkan tubuh gadis gadis kecil itu dengan penggunaan bahasa yang sama nyaring dan meyakinkannya.

And less than six inches from me and  my  burning  life,  was  nebulous
Lolita!  After  a long stirless vigil, my tentacles moved towards her again,
and this time the creak of the mattress did not  awake  her.  I  managed  to
bring  my  ravenous  bulk  so  close to her that I felt the aura of her bare
shoulder like a warm breath upon my cheek. (page 190)

Meski demikian, Lo, Dolores Haze, Lolita bukannya sepenuhnya Nymphet yang sempurna, ia tetap anak kecil dengan segenap kelakuan kekanak kanakkannya yang sedikit banyak menimbulkan sebal pada pertengahan hingga sepertempat akhir buku. Bagaimana Humbert menjabarkan bahwa Lolitanya memanfaatkan kondisi mereka (yang saat itu sudah berhubungan seksual dan mendeklarasikan diri sebagai sepasang kekasih) dengan rengekan dan keinginan keinginan khas anak kecil.

Aku nyaris berempati jika tidak disadarkan oleh chapter soal manipulasi Humbert atas Lolita dengan ancaman soal Panti Asuhan. Buku ini adalah Roller Coaster yang menyenangkan sekaligus membuat kesal hahaha.

Bacaan yang sendu untuk Sabtu malam yang gerimis, memang. Namun membaca kembali Lolita membuatku sadar bahwa ini bukan cerita sesederhana itu. Ada lapisan lapisan penalaran psikologis yang membuatku ya itu tadi, memaklumi istilah kelainan seksual yang dimiliki sang tokoh utama.

Justifikasi yang bangkit melalui empati, indeed.(*)