The Count of Banda Neira

xxxx
Beberapa buku emang susah dicari ya, kek jodoh.

Ekspektasi awal membaca Banda Neira adalah suguhan gaya bahasa melayu dengan saduran bahasa Belanda khas Angkatan Melayu Lama mengingat latar tahun di novel Banda Neira adalah 1880an. Ternyata tidak, setelah membuka halaman pertama aku mendapat penjelasan bahwa Mayon Soetrisno lahir di tahun 1958 sehingga Banda Neira adalah sepenuhnya fiksi dengan riset sejarah yang tidak main main.

Aku rasa yang sulit dari novel dengan latar sejarah adalah bagaimana cara untuk membuatnya meyakinkan -seolah olah si tokoh betulan ada di zaman itu- tanpa melukai sejarah itu sendiri. Banda Neira menghadirkan kolonialiasi di kepulauan Banda dengan sangat baik. Dalam beberapa chapter memang terasa sangat the Count of Monte Carlo sekali mengingat referensi penjajah-perompak-pelaut terakhir yang kutonton adalah film itu (selain Pirates of Caribbean, tentu saja)

Mayon menuturkan soal kehidupan Pieter van Horn dengan latar Banda Neira era kolonial Spanyol dan Inggris dan Belanda. Men yang menjajah kita banyak banget men. Dalam kisah ini, orang Indonesia masih belum ada. Yang ada adalah Pappua, Bali, Jacatra, dan Orangkaya Orantatta dengan porsi peran yang menyedihkan. Kalo ga budak yang mati dipancung, yhaa.. gitude.

Seks memang telah dijanjikan sejak halaman pertama. Untuk melakukan emphasize soal liarnya kehidupan seks para pelaut, aku rasa ia sudah cukup hingga halaman tigaratus. Tapi tidak, adegan adegan seks terus diulang sampai tamat di halaman 508 sehingga agak sedikit membosankan. Aku sampai bisa menebak jika perempuan dan laki laki berada sekamar, atau sekadar berbincang saat makan malam, pasti bakal kejadian. Kan, enak banget :)))

Selain seks, emphasize atas maniaknya Nicolaus Speelman soal mendapatkan kepuasan seksual lebih saat menyiksa lawan jenisnya membuat adegan Speelman-memecuti-Cornelia terasa seperti ratusan kali diulang.

Selebihnya, novel (atau roman?) ini sangat menarik. Mayon mampu menarik aku ke dalam fantasi soal pulau Banda dan keindahannya, serta arsiteksi kolonial yang memesona. Aku diajak menyelam dalam ranah yang sama sekali asing dan di luar bayanganku soal Indonesia di abad 18.

Karakter yang disuguhkanpun menarik dengan latar hidup yang berlarah larah. Meski agak tertatih di awal untuk mengingat ingat ini sodaranya siapa saking banyaknya karakter yang ditawarkan di seratus halaman pertama, buku ini masih sangat enak untuk diikuti. Secara sederhana ini adalah kisah soal bagaimana Pieter van Horn membalaskan dendam ayah dan keluarganya kepada Nicolaus Speelman, sang kapten kapal penguasa Banda yang membantai 14.000 penduduk setempat demi memuaskan hasratnya terhadap kekuasaan.

Sempalan ceritanya ada istri istri dan kekasih kekasih Pieter yang buanyak banget sampe aku sebel kok laki laki ini kurang ajar sekali. Ada Eveline, anak kapten kapal Belanda yang jatuh cinta abitch sama Pieter tapi lalu mati. Atau Michiko, budak Jepang yang jatuh cinta abitch sama Pieter sampe punya anak yang dikirimkannya ke Jepang dan lalu milih buat seppuku karena ditinggal Pieter kawin sama Elizabeth anak Gubernur yang akhirnya bunuh diri karena ditinggal pergi sama Pieter yang milih buat kawin sama Cornelia.

Yawla ini Pieter cita citanya mau jadi kapten kapal apa Cassanova sik??

Sempalan lain yang paling menarik adalah Cornelia. Gadis dengan latar kisah yang membuatku sempat berhenti membaca, menghela nafas lalu mengumpulkan keberanian lagi untuk lanjut membaca. Bacalah sendiri dan kamu bakal paham kenapa pada prolog muncul dua halaman segore itu.

Sesuai yang tertulis di cover novel, Banda Neira memang lahir untuk menghidupkan erotisme dan eksotisme. Dijabarkan penuh dalam ratusan adegan seks dan bagaimana Mayon membuatmu benar benar mampu memvisualisasikan setiap latar tempat dengan keahliannya bercerita. Juga bagaimana obsesi seksual dan keimanan itu saling bergelut dan berkali kali satu di antaranya menang, ataupun kalah.

Bagian favoritku, selain bermain tebak tebakkan apakah perempuan ini akan ditiduri Pieter/Nicolaus, adalah kisah Michiko, perempuan yang diberikan sebagai hadiah untuk keluarga salah satu Orangkaya Orantatta lalu bertemu dengan Pieter. Bagaimana keduanya berproses hingga saling jatuh cinta, kalimat dan gestur yang mengandung pesan subliminal dan cara Michiko mengakhiri penderitaannya melalui Seppuku. Michiko aku padamu.

Secara sederhana Banda Neira adalah sebuah novel dengan latar sejarah yang menyegarkan, betul betul lugas dan berhasil membangun sebuah (re)konstruksi atas bagaimana negara ini di abad ke 18. Yum!

Coffee Toffee, 18 Februari 2016

Fuck you, Nicolaus Speelman.

Advertisements

Menjadi Peluru

Nama Wiji Thukul pertama kali kudengar bertahun lalu. Saat kelas satu SMA, kalau tak salah. Di dalam buku Membedah Kesusastraan, Mahasiswa Bertanya Sastrawan Menjawab tahun 2006. Seingatku, nama Wiji Thukul dikategorikan ke dalam sastra kerakyatan dalam buku itu. Sastra kerakyatan adalah istilah untuk cabang kepenulisan dengan tema pergerakan dan perlawanan utamanya kelas akar rumput kepada kapitalis.

Atau kemiskinan.

Aku sendiri baru berkesempatan membaca buku kumpulan puisi miliknya (Aku Ingin Menjadi Peluru) yang terbit tahun 2000 itu pada bulan lalu. Sepuluh tahun terlambat. Itupun kalau tidak seorang kawan menjualnya di pasar buku Facebook miliknya, niscaya aku tak akan pernah menyesapi keluarbiasaan buku ini (deuh lebay pisannn)

Tak perlu rasanya kutulis mengenai biografi Wiji Tukul di postingan ini. Dunia sastra Indonesia tidak mungkin asing dengan namanya. Aku cuma ingin membagi kesan kesanku selepas membaca buku ini.

Ada lebih dari belasan line yang kusukai dari buku ini. Secara personal, Aku menyukai keseluruhan buku. Entah ada hubungan dengan kegemaranku menulis sajak sajak getir khas orang miskin, atau memang buku ini memiliki magnitude besar yang tak pelak membuat siapapun penikmatnya suka.

Salah satu kalimat yang (jujur saja) membuatku sedih tak karuan adalah

“Aku tak akan mengakui kesalahanku

Karena berfikir merdeka bukanlah kesalahan

Bukan dosa bukan aib bukan cacat

yang harus disembunyikan”

Merontokkan Pidato – Wiji Thukul

Betapa mengerikannya pemerintahan kala itu (tulisan berkisar antara tahun 80-90an awal). Betapa karya sastra (pun sastrawan) semacam menjadi momok kala itu. Wiji Thukul adalah penulis sajak! sajak bukan essai bukan pledoi yang bisa menumbangkan seseorang. Sajak, kemudian dicetuskan sebagai karya sastra berbasis fiksi. Negara yang takut terhadap fiksi sungguh merupakan negara yang tidak layak dihormati.

Tapi tak bisa dipungkiri, perjuangan melalui sastra dianggap paling ampuh untuk menggalang massa kala itu. Betapa banyak orasi mahasiswa yang di’produseri’ puisi dan sajak berapi api. Kala itu, pers yang dianggap vokal turut di bredel (editor, detik, tempo). Kumpulan puisi ini, konon ditulis Wiji saat dia dalam pelarian.

Hingga akhirnya, tahun 1996, ia diputuskan sebagai ‘Yang Hilang Secara Misterius’. Ia menjadi buron lantaran berpuisi. Bukti bahwa pemerintahan kala itu sungguh paranoia dan obsesif gila gilaan terhadap kekuasaan. Dan betapa mengerikannya pelanggaran HAM yang meraja kala itu. Orba, bagaimanapun merupakan bagian dari sejarah kelam perpolitikkan bangsa.

Hmm.. mungkin yang juga menarik dari Wiji adalah kejeniusannya memutar kata dan menemukan banyak hook hook menarik dalam sajaknya. Satir, getir, pahitnya kemiskinan disulap menjadi sebuah pasar malam. Penuh hiburan (dengan perpseksi miskin, tentu saja) dan rasa tergelitik untuk turut menertawakan pemerintah. Juga, tentu saja, pembangkit semangat juang nomor wahid. Mengurai kemiskinan tanpa menimbulkan kesan cengeng dan mengada ada.

Juang untuk lepas dari miskin, Juang lepas dari pemimpin zalim.

PENGUASA KEMBALIKAN BAPAKKU!

Fitri Nganthi Wani – Putri Wiji Thukul dalam puisi Pulanglah, Pak

P.S : Masih menghasrati Nagabumi – Seno Gumira Ajidharma dan Tanah Tabu-nya Anindhita S. Juga Pledoi Sastra Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipandjikusmin.

Ah saya ini banyak maunya!

Objektivitas

https://i2.wp.com/ecx.images-amazon.com/images/I/51DdAAw9vIL._SX258_BO1,204,203,200_.jpg
Bukunya Robert A. Divine

Seberapa sering kita dituntut, merasa harus, atau bahkan mengklaim diri telah bersikap netral? melakukan penilaian yang sepenuhnya objektif -berdasar atas variabel variabel non konjungtif terhadap standar standar penilaian- tanpa sedikitpun unsur keberpihakan.

Atau seberapa sering keputusan diambil tanpa memandang latar belakang kedekatan atau bahasa Orbanya, tanpa nepotisme?

Kita memiliki kesadaran. Fungsi limbik di dalam otak hanya mempengaruhi sedikit dari sistem logika. Sistem logika merupakan akumulasi gerakan dan paham yang diserap manusia sedari kanak kanak.

Sebabnya bisa muncul berbagai penyakit psikis, seperti schizophrenic, yang memposisikan seseorang di ambang realita dan khayal hingga tidak bisa membedakan keduanya, atau bersikap sesuai keduanya, tanpa memiliki sistem logika yang merunut kejadian berdasar sebab-akibat dan kronologi. Seseorang seharusnya concern dan memeriksakan dirinya jika memiliki sindrom seperti ini alih alih update status facebook dan mengubah nama belakangnya menjadi schizophrenia.

Itu atau mungkin dia penggemar barisan depan untuk band melancholic core itu sik

Dengan posisi manusia yang dibesarkan dengan sistem runut dan logika sebab-akibat, mustahil untuk berdiri di garis tengah, paling tengah antara dua kubu pandangan berbeda. Sumber bacaan, kawan bergaul, orangtua, lingkungan, tontonan, menjadi pembangun karakter dan sistem logika. Kalau saja netralitas adalah hal yang absolut, maka teori relativitas tak akan dilirik lebih lebih diakui sebagai sebuah teori.

Sebuah teori yang mungkin benar adalah benar sampai teori itu dipatahkan dan muncul teori mengenai kemungkinan benar yang baru. Begitu seterusnya. Kebenaran di hari ini bisa menjadi kesalahan di masa mendatang, Pun hal yang dinilai salah di saat ini, bisa saja merupakan kebenaran di masa lalu.

Bagaimana sebenarnya proses penilaian berlangsung? kalau saya sih begini; Ketika saya dihadapkan dengan satu hal -ambilah contoh soal yang menurut saya agak mbingungi, Syiah- dan saya diminta untuk mengambil sikap setuju-tidak setuju mereka harus dimigrasikan ke pulau lain. Saya akan menyebut tidak setuju sebab penilaian saya berdasar atas apa yang saya pahami, yakini, dan berpihaki selama ini; Asas kemanusiaan yang melarang seseorang mengambil hak orang lain, dalam hal ini hak untuk tetap tinggal di tanah milik sendiri, kampung halaman sendiri.

Buku buku yang saya baca, obrolan kawan kawan saya, didikan orangtua yang tidak radikal terhadap islam dan lain sebagainya mengambil posisi dalam penilaian tersebut. Akan lebih sahih lagi jika misalnya ada seorang keluarga saya tinggal di Sampang dan menganut Syiah. Apakah penilaian saya netral? rasanya tidak. Sebab netral adalah kondisi tidak berpihak dan tidak ada yang dirugikan. Tidak memilihpun bisa jadi bukan pilihan netral sebab alasan ketidakpilihan saya adalah untuk kenyamanan pribadi. Saya melihat, (mencoba) memahami, mengambil kesimpulan, memihak lalu kemudian mengutarakan pendapat.

Nan, kepuntel puntel Nan.

Lantas bagaimana caranya mencapai atau sekurang kurangnya mendekati titik netral? Kita diberi solusi berupa pengadilan, pemerintah, pihak pihak ketiga yang diharap bisa mengambil keputusan yang memenangkan semua pihak lebih lebih menyenangkan hati setiap ummat. Pihak ketiga adalah yang dianggap tidak memiliki kedekatan emosional dengan pihak pihak yang butuh peleraian.

Kesadaran akan memaksa kita untuk berpihak. Dalam batas batas imaji soal netralitas dan tanpa nepotisme.

When the Lonely Game Has Gone Too Far

https://rusnanianwardotcom.files.wordpress.com/2016/02/9d9ed-great_expectations_by_charles_dickens.jpgMenemukan novel ini berkat lagu the Beatles – Eleanor Rigby. Seperti yang saya tulis di sini, bisa jadi inilah lagu milik beatles yang paling saya suka. Lagu tentang orang orang yang kesepian.
Apa yang lebih sepi dari duduk diam dan tidak berbicara kepada siapapun selama 40 tahun? Ms. Havisham adalah perempuan yang mewarisi seluruh harta ayahnya -seorang Earl- dan ibunya meninggal saat ia masih bayi. Tanpa saudara, Ms. Havisham menghabiskan masa mudanya di kastil (catatan; setting di tahun 1891) dan akhirnya jatuh cinta pada Compeyson (Compassion?) pria yang mengejar hartanya.

Kerabatnya sudah memperingatkan perempuan muda itu soal Compeyson. Tapi namanya cinta, Ms. Havisham keukeh dan akhirnya ditinggalkan di altar. Dua puluh menit sebelum pukul sembilan, pernikahannya. Patah hati, Ms. Havisham mengurung diri di dalam kastilnya, mematikan semua jam dan duduk di sebuah kursi di depan perapian hingga tua tanpa melepas gaun dan kerudung pernikahannya.

Hingga kemudian ia meninggal setelah ujung gaunnya terkena percikan api dari perapian. Iya, ini spoiler.

Yang mengurus kehidupan Ms. Havisham adalah anak angkatnya, Estella. Anak angkatnya lalu dititipkan ke pengacaranya dan kembali ketika Estella sudah dewasa. Anak angkatnya tumbuh menjadi perempuan cantik, dan Miss Havisham mengajarinya untuk mematahkan hati setiap pria yang menyukainya.

But as she grew, and promised to be very beautiful, I gradually did worse, and with my praises, and with my jewels, and with my teachings, and with this figure of myself always before her a warning to back and point my lessons, I stole her heart away and put ice in its place.

Lalu, well, tidak ada akhir yang bahagia untuk novel berjudul Great Expectations ini. Miss Havisham mati setelah menderita luka bakar, Estella menikah dengan pria yang tidak dicintainya hanya karena ingin membuat Pip, pria yang jatuh cinta padanya patah hati (dan berhasil, Pip mengalami penderitaan yang sama seperti Miss Havisham, membuat perempuan itu tersentuh dan meminta maaf)

Sejak awal hingga pertengahan novel ini bercerita tentang Pirrip -Pip- dengan sudut pandang orang pertama serba tahu. Sampai akhirnya Pip bertemu dengan Estella dan darinyalah kisah tentang ibunya, Miss Havisham meluncur. Dickens, seolah ikhlas membiarkan Pip sang tokoh utama tidak menjadi semenarik Miss Havisham. Sebab setelah membaca Great Expectations, yang akan senantiasa diingat adalah Miss Havisham, bukan Pip.

Dan konon miss Havisham adalah tokoh nyata bernama Eliza Emily Donnithorne (1827–1886) dari sydney. Ia ditinggalkan di altar pada hari pernikahannya. Emily menutup semua jendela dan duduk diam dengan tetap mengenakan gaun pengantin sementara makanan dan kue untuk pesta dibiarkan membusuk. Namun sebuah pintu, yang kerap digunakan calon pengantin prianya saat datang ke rumah Emily, dibiarkan terbuka. Dengan harapan pria yang dicintainya itu akan kembali dan menikah dengannya.

Cocok dibaca sambil tiduran dengan perut dalam keadaan kenyang. Kalau bisa konsen membaca sambil mendengarkan musik (saya ga pernah bisa berlaku seromantis itu, selalu bubar konsentrasinya) cobalah lagu lagu klasik semacam nomor nomor waltz dan tentu saja, Eleanor Rigby-nya the Beatles.

My 15 Most Inspiring Authors

Kena tagnya di Path, nulisnya di sini karena for the glory of satan, of course.

Seno Gumira Ajidharma

Seno Gumira adalah temuan di saat SMA sebenarnya. Bosan dengan gaya bahasa terjemahan buku buku luar aku mulai mencari penulis penulis dalam negeri yang bukunya bertebar di Lapak Tualang milik seorang kawan di Bandung. Dimulai dari membaca satu-dua cerpennya yang bertemakan Petrus lalu merambah ke Wesanggini dan Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian. Buku Saksi Mata yang mengangkat tema pembantaian Dili 1991 banyak mempengaruhi gaya tulisan saya di tahun 2008. Satir dan gelap (ditambah dose cukup dari Wiji Tukul, Nani di usia 17 tahun belum pernah sesinis itu)

Achdiat K Mihardja

Aku hanya membaca satu bukunya, berjudul Atheis. Aku ingat pernah menemukan buku ini di perpustakaan SMP dan membaca habis tanpa banyak ingat detil ceritanya. Membaca Atheis kembali beberapa bulan lalu kemudian bersegera menyimpulkan kalau aku memang jatuh cinta dengan sastrawan angkatan Pujangga Baru hahaha. Gaya bahasa yang baru saja bangkit dari era ejaan lama dengan pustaka HB Jasmin begitu memesona karena sedemikian baku lagi seksi. Terlepas dari itu, Achdiat membuatku kagum dengan plot cerita yang pernah kureview di sini

Stephen Hawking

Tentu tidak perlu kujelaskan bagaimana hype buku The Grand Design di tahun tahun silam. Tidak perlu kujabarkan soal isu ketuhanan memang senantiasa menarik untuk dibahas dari zaman ke zaman. Aku salah satu penikmat isu itu, dengan terus bertanya dan membaca, bertanya dan membaca. Dari zaman buku The Road to Allah-nya Jalalludin Rakhmat sampai The Grand Designnya Hawking, aku belum menemukan alasan apa yang mendorong saya percaya soal Allah. Aku, laiknya keterbatasan micro/macro-examination, melakukannya ya karena ingin saja. Sesungguhnya tidak penjabaran mutlak soal ketidakmutlakan free will ya kaaaan.

Emma Goldman

Sebagai anonimus di akun @bakunins, aku sendiri lupa apa yang membuatku sedemikian excite dengan anarkisme di tahun 2012. Mungkin lantaran aku diam diam menyukai @hansdavidian kali ya :)))) ada dorongan impulsif untuk mempelajari anarki dan membuat akun twitter itu. Emma Goldman, adalah author yang membuatku memikirkan soal feminisme lebih jauh lagi. Aku tidak berada di generasi habis gelap terbitlah terang dengan segenap gombalan feminisme a la kelas menengah ngehe. Goldman membabat habis batasan laki laki dan perempuan dan menempatkan semua orang adalah manusia. Tidak ada privilege dan bias gender.

Ini yang kemudian mendorongku untuk bisa melakukan instalasi listrik sendiri, bertukang dan merakit peralatan elektronik sendiri hingga membuat abah merasa useless saat bertandang ke kos untuk membantu pelaksanaan kerja berat.

Because ideas are bulletproof, my dear.

Jalalludin Rakhmat

Penulis penulis yang menginfluenceku adalah yang sekaligus menjadi trigger atas ketertarikan terhadap sesuatu. Aku memiliki kecenderungan untuk obsess terhadap sesuatu yang menarik. Kalau dirunut dalam satu timeline, sejauh yang aku ingat obsesiku adalah seperti ini:

Manga, Anime, Metal, Komunisme di Indonesia, Sufistik/Theist, Anarkisme, Greek Mythology, Cosmology/brainworks dan shits hippie says.

And I’m not even kidding when I said obsess. Aku ingat hari hari di mana sedemikian suka dengan anime aku sampai bercita cita jadi ninja dengan ninjutsu penyembuh dan pacaran sama Kakashi.

Pernah terlibat komunitas metal dan menggagas beberapa gigs, mengoleksi merch dan kaos hingga kaset kaset rekaman Roadrunner United. Obsesi soal komunisme menelurkan Senja Merah dan tahun tahun di mana tidak ada yang lebih penting di kepalaku kecuali urusan negara yang belum juga menemukan di mana Wiji Thukul.

Puncak pendalaman soal theist yang kemudian mendapat milestone berupa penyebutan “@rusnanianwar pasti anonimnya Asyaukani dan Ulil Abshar” lalu akun @bakunins yang menegaskan obsesi terhadap anarkisme yang bertahan sekurangnya setahun lamanya (yang lalu banyak difollow artes twitter itu)

Dan seterusnya dan seterusnya. Obsesi yang bersifat temporal karena jika aku melihat aku sekarang sungguh rasanya kehidupan sedang kelewat selow. Aku tidak sedang menyenangi apa apa kecuali ide soal menjadi kurus melalui diet OCD. Sungguh waktu membuat kita jadi cetek begini ya, Tun :))

Jalalludin, adalah triggerku untuk urusan sufistik. Jauh sebelum aku membuat akun twitter, jauh sebelum aku tau soal JIL dan utankayu. SMA kelas 2, aku mengenal mas Yudha. Beliau adalah lulusan pesantren dengan kemampuan bahasa inggris yang memesona. Berawal dari minta diajarkan bahasa inggris, bertandangnya beliau ke teras rumah berujung pada pembahasan soal Tuhan dan Agama. Aku dipinjamkan buku dengan judul The Road to Allah. Aku ingat aku yang sebulan kemudian sangat sangat alim hingga berfikir untuk mengenakan jilbab dan ingin menghadiri pengajian tasawuf (yang kemudian tidak diperkenankan abah, tentu saja.

Buku yang membuka pikiran saya soal betapa Islam sesungguhnya merupakan agama yang menyenangkan. Dengan konsep pluralisme yang menyentuh. Betapa beragama sungguh perkara sesederhana berbuat baik kepada sesama manusia.

Lalu saya lupa apa yang membuat saya kembali bebal dan tidak islami lagi di tahun tahun berikutnya. Mungkin lantaran pendalaman saya hanya sebatas membaca buku dan euforia sementara. Pada akhirnya yang melekat sebagai label adalah apa yang dilakukan dengan konsistensi kan?

Tan Malaka

Madilog adalah groundbaseku dalam belajar berlogika. Komplimen soal “Enak kalo curhat sama Nani, jawabannya logis” saya dapatkan paskan membaca Madilog. Ada runutan cara berpikir yang kucoba terapkan dari buku ini, terpujilah beliau dan kemampuan akalnya.

Paradigma paradigma berpikir serunut isi buku ini tentu belum bisa kuterapkan, ada banyak kausal yang membuatnya menjadi sulit. Faktor geologis dan etnologis misalnya, tapi simpulan paling sederhana dari menggunakan metode Tan Malaka adalah step back and see the whole page.

Sapardji Djoko Damono 

Beliau adalah penulis yang menyelamatkan jiwa romantisku. Aku selalu sinis dengan perkara cinta cintaan entah untuk alasan apa. Mungkin lantaran referensi bacaanku yang jauh dari buku buku romantis populer atau ya itu, aku emang ditakdirkan untuk menjadi frigid hingga akhir zaman.

Membaca puisi puisi Damono, melemparkanku pada potongan potongan senja merah jambu yang berujung dengan perasaan hangat di dalam dada. Kesukaan terhadap puisi puisi Sapardji kian menjadi pasca menonton duo Ari Reda secara langsung di Bentara Budaya Jakarta 2012 silam.

Musikalisasi puisi yang sungguh syahdu hingga aku hampir menasbihkan diri sebagai kelas menengah berbudaya yang hanya mendengar musik musik kelas atas nan berkualitas.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana 

Setabah hujan di bulan Juni.

Karena akulah si telaga.

 #MashupHore  

Leo Tolstoy

Anna Karenina mengantarkan saya pada Leo Tolstoy. Bukunya dipinjamkan ibu produser paling baik hati sejagad ranah hiburan Jakarta dan menghabiskan berminggu minggu membaca bukunya. Tolstoy, di balik nama besarnya melalui War and Peace (yang segera menobatkannya sebagai bapak filsuf politik rusia) justru lebih kusukai di buku ini. Kenapa? karena Tolstoy adalah ‘manusia’ di buku ini, ditambah adaptasi filmnya yang mayan di tahun 2014 silam, Anna Karenina adalah satu dari dongeng kehidupan aristokrat yang saya suka. Tuhan Maha Tau, Tapi Ia Menunggu adalah kumpulan cerpen menarik lainnya dari Tolstoy ^^

Marjane Satrapi

Oh siapa yang tidak jatuh cinta pada Persepolis? Siapa yang tidak merasa tergugah, menahan nafas dan trenyuh dengan ilustrasi dan gaya penulisan Satrapi? Aku membeli buku Embroideries sebagai buku kedua Satrapi yang kubaca (setelah Persepolis, tentu saja) dan makin suka pada sudut pandang perempuan ini.

Karl Marx

Oke, aku anak IPS murtad hahaha. Baru mengenal Marxisme justru setelah membaca Madilog. Jika bukan karena disebut tulisan tulisanku Marxis sekali, aku tidak akan menunggu belasan menit untuk mengunduh sekedar .PDF artikel artikel beliau lalu membacanya dengan tekun. Ketekunan itu berakhir dengan senyum simpul dan menertawakan komentar tersebut dengan ketertakjuban kenapa bisa seterkiblat itu pada Marx.

Mungkin lantaran tidak ada yang benar benar original di bawah matahari kan ya?

NH Dini

Begini, aku tumbuh di era SD-SMP dalam kondisi sangat miskin sampai sampai keluarga kami tidak memiliki uang untuk ikut beramai ramai menggunakan televisi parabola. Di kotak TV 14 inci kami hanya ada TVRI berkat antena alakadarnya. Kondisi ini praktis membuatku tidak menonton televisi kecuali jam 4 sore untuk tayangan Pak Odor dan Tara anak Tengger. Gugatku semasa kecil soal kenapa kami tidak punya TV digital untuk menonton sinetron yang tengah hype di kawan kawanku berujung syukur saat ini. Karena kemiskinan itu aku jadi memiliki referensi bacaan yang lumayan.

Hiburan untuk Nani kecil adalah perpustakaan daerah. Menjadi anggota di sana dan rutin meminjam sekedar buku bergambar hingga akhirnya berani masuk ke area non bacaan anak anak dan mulai mengenal penulis penulis angkatan baru, 45, 60 hingga angkatan reformasi. Sederet nama seperti YB Mangunwijaya, Sutan Takdir Alisjahbana, Marah Rusli, Putu Wijaya hingga NH Dini masih aku ingat dengan baik beserta karya karya mereka.

NH Dini dikenal dengan bukunya yang fenomenal; Namaku Hiroko. Buku yang bisa dibilang one hit wonder lantaran aku tidak pernah mendengar gaungnya lagi selepas buku itu. Lalu beberapa bulan silam menemukan buku dengan judul Padang Ilalang di Belakang Rumah dan bersegera menuntaskan nostalgia pada penulis yang membuat masa kecil Nani banyak membayangkan soal penjajah Jepang dan jugun ianfu.

Ugaran Prasad

Definisi author masuk dalam penulis lirik juga kan ya boleh ya ya ya. Hahaha. Ugaran Prasad temukan di blog yang kerap mengupdate tulisan tulisan yang masuk dalam kompas. Mulai dari SGA, Gunawan Muhammad hingga Djenar Maesa Ayu. Prasad, menyempil di antara nama nama itu dengan cerpennya Sepatu Tuhan, kisah soal Maradonna dan fenomena tangan Tuhan dengan ending yang apik.

Lama berselang dan aku mendapat kiriman album Anamnesis milik Melancholic Bitch dan tebak siapa vokalisnya? Yep. Ugaran Prasad. Tulisan tulisannya yang aku sukai itu mewujud dalam deretan lirik yang subhanallah membuatku bersemangat untuk bergumam “Anjrit ini bagus banget”

Chie Watari

Kenapa Nani punya selera horor yang lumayan eksentrik? salahkan Chie Watari :)) kesehatan jiwa anak muda manapun bakal terganggu jika sepanjang waktu luangnya dihabiskan untuk membaca komik horor dengan plot cerita yang buangsat dan ilustrasi yang gore nan graphic semacam Misteri Sepotong Tangan misalnya. Kenapa tidak aku habiskan masa muda dengan nonton anak seusiaku main basket dan pacaran, misalnya. Kenapa??

Jane Austen

Another romantic author. Buku buku Jane, utamanya Emma dan Pride and Prejudice mengusung tema feminisme tanggung yang membuatku terkadang gemes sendiri dengan konflik yang dihadapi Emma dan Elizabeth. Di buku Mansfield Park dan Sense and Sensibility barulah aku paham bagaimana Austen ingin menalarkan kegelisahannya sebagai perempuan di abad 18. Kebutuhan feminisme memang sesepele itu mengingat kondisi sosial budaya yang melatari kisah kisahnya. Tentu tidak akan countable jika dijadikan default untuk masyarakat sekarang. Hm.

Charles Dickens

Seperti semua orang, perjalanan mengenal Dickens dimulai dari A Christmast Carol. Meski bersekolah di SD Muhammadiyah, perpustakaan SDku ternyata menyimpan buku usang bertema natal itu. Lalu beralih ke Oliver Twist, lalu Three Ghost Story dan terakhir The Great Expectations.

So, am I took this tagging game too seriously?

100 Buku Untuk 2016

Lelah mata Hayati.

Hahaha, satu dari kepinginan (atau romantisnya; resolusi resolusian) di tahun 2016 ini adalah membaca 100 buku. Asal muasalnya dari goodreads yang terkonek di facebook dan kawan kawan saya banyak sekali membaca buku di tahun 2015 kemarin! Merasa tertantang sayapun membentang ingin untuk menuntaskan sekurangnya 100 buku di tahun ini.

Januari masih panjang, apalagi Desember. Semangat menggebu untuk terus membaca menghantarkan saya pada sepertiga akhir di bulan ini dengan runut buku yang telah dibaca:

  1. Aleph – Paulo Coelho
  2. The Devil and Miss Prym – Paulo Coelho
  3. Kereta Malam – Avianti Ahmad 
  4. Perempuan Yang dihapus Namanya – Avianti Ahmad
  5. Anjing Anjing Menggali Kuburan – Kumcer Terbaik Kompas 2014
  6. Senja dan Cinta Yang Berdarah – Seno Gumira Ajidharma
  7. Philosophy 101 – Paul Kleinman
  8. Pohon Pohon Sesawi – YB Mangunwijaya
  9. Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer – Pramoedya Ananta Toer
  10. Tiga Menguak Tabir – Kumpulan Puisi Chairil Anwar, Rivai Apin, Asrul Sani
  11. Salah Asuhan – Abdoel Moeis
  12. Perawan di Sarang Penyamun – Sutan Takdir Alisjahbana

Sengaja akan memposting buku buku yang dibaca setiap bulan under #2016ReadingProject sebagai ganti #OCDProject. Sengaja pula memposting ini sebelum Januari habis karena keknya saya butuh istirahat. Akan menghadiri konser AriReda bersama mas mas pujaan bangsa di 26 ini dan kepleset ke Bali empat hari sebelumnya karena masa membudak hingga setahun penuh tanpa cuti itu berakhir sudah. Corrie adalah tokoh terakhir untuk bulan ini yang saya izinkan untuk memporakporandakan hati ini. Bungcudh bangetlah, udah baper baperan pula mbaca sampe habis.

Oke, ehm, lebay.

Yang saya takjubkan justru, saya ternyata punya banyak sekali waktu untuk membaca. Kebiasaan membaca buku berhenti sejak berganti pekerjaan. Saya ingat buku terakhir yang saya baca adalah Linguae-nya Seno Gumira dan itupun rasanya butuh berbulan bulan untuk menamatkan buku tak seberapa tebal itu. Alasannya; sibuk, malas, mending ngecek media sosial.

Mengganti kebiasaan itu ternyata semudah ini; selalu bawa buku. Jam kerja masih gila gilaan, lembur masih sekejam ibu tiri, hati masih dipenuhi lara bertubi, perasaan apalagi. Tapi dengan membawa buku, ternyata waktu luangnya lumayan banyak loh. Saat dalam perjalanan ke kebun yang berjam jam itu, menunggu revisian sibos, makan siang, sepulang kerja, sebelum tidur, belum lagi jika jadual nongkrongnya kosong. Banyak, berjam jam. Tidak sedikit buku yang habis dalam sekali duduk walopun beberapa butuh hingga 4-5 hari untuk menamatkannya karena either tebal atau berbahasa inggris.

Eniwei, semoga kebiasaan baru ini bertahan. Untuk tidak dikit dikit tenggelam dan mengurai keentahan dalam jabaran jabaran serba rumit yang melelahkan itu. Mending membaca, atau belajar berenang. Atau jalan jalan. Atau nonton konser di kota orang.

Hidup memang selayaknya dijalani dengan perasaan senang!