Liturgi Melankolia dan Semiotika Rajatega

Begitu mendapati buku Setelah Boombox Usai Menyalak dalam kiriman buku bulanan dua bulan silam, saya segera menjadikan buku bersampul cokelat ini sebagai next playlist dalam anggaran baca buku bulanan saya. Begitu menyelesaikan 1Q84 yang naudzubilah tebalnya itu, saya justru terlupa dengan keberadaan buku yang belinya pakai acara ngotot dulu sama mas Ilham lantaran dicetak terbatas dan PO dulu duluan ini. Hingga tiga buku kemudian barulah saya ngeuh kalau saya masih berhutang janji untuk menamatkan buku ini.

Untitled.jpg
Tiap berhasil menamatkan buku di kantor, saya merasa seolah melakukan sebuah pemberontakan melalui metode makan gaji buta :))

 

Herry Sutresna yang kemudian lebih dikenal sebagai Ucok Homicide adalah salah satu pembesar skena hiphop underground di Bandung. Eranya bangkit beriringan dengan nafas musik metal yang berembus dari wilayah rural Ujung Berung. Meski bukan penggemar hip hop secara partikular, kesukaan saya pada musik underground di era 2007-2011 sedikit banyak mengantarkan saya pada karya karya Pak Ucok, utamanya melalui Homicide.

Beberapa lagunya kerap saya jadikan anthem bagi kondisi sosial terkini. Saat FPI tengah mendesak Jaringan Islam Liberal dan kerap melakukan sweeping pada diskusi diskusi kiri, misalnya, saya akan bergumam lagu Puritan dan mengutip sepenggal-dua penggal liriknya untuk di-tweet. Atau saat agak berlebihan membaca buku buku sufistik, maka Siti Djenar Cypher Drive akan menemani kepala saya seharian. Juga pada setiap peringatan hari diculiknya Wiji Thukul, saya akan memutar Sajak Suara yang merupakan musikalisasi dari puisi beliau.

Semiotika Rajatega, Panoptikanubis, Membaca Gejala dari Gejala, Boombox Monger dan beberapa nomor lainnya telah saya hapal di luar kepala tanpa motivasi apapun kecuali memang ingin dengan mudah mengutip liriknya sewaktu waktu.

Lirik. Adalah satu satunya alasan mengapa saya mendengarkan Homicide.

Ketika Pak Ucok menggagas zine Lyssa Belum Tidur, saya adalah yang paling semangat membongkar paket kiriman kengkawan dari skena indie Bandung. Aneh, sekian tahun berlalu sejak saya demikian akrab dengan Bandung namun tidak sekalipun pernah menjejakkan kaki di kota itu meski sekian belas kota dan sekian negara lain telah dikunjungi. Lalu kebiasaan itu berkurang hingga lenyap sepenuhnya di beberapa tahun belakangan.

Maka rasanya tidak berlebihan jika kemudian buku ini menjadi ajang nostalgia yang agak melankolis untuk saya. Seolah diingatkan pada masa di mana ideologi dan kemampuan dialektika adalah hal penting, paling penting dan tiada lain yang lebih penting. Masa di mana saya lebih menggemari berdiskusi perkara langitan hingga menjelang pagi tinimbang menghabiskan malam minggu dengan berkencan. Jatuh cinta adalah perkara asing sejak dialektika menjadi komoditas penting.

Sebagian besar isi buku telah diterbitkan untuk berbagai majalah dan zine musik, nasional maupun lokal. Sebagian besar isi buku juga telah saya baca dalam blog, website dan zine yang ditulis Pak Ucok. Bercerita tentang sejarah pembentukan Homicide yang berawal dari Godzkilla hingga Morgue Vanguard sampai pada titik di mana ia menjadi orang paling dicari untuk urusan skena hiphop Bandung.

Perseteruannya dengan Tufail al Ghifari adalah satu dari sekian hal yang mengingatkan saya pada kekuatan lirik yang digunakan Pak Ucok. Hal ini tentu saja didasari oleh asupan bacaannya yang tidak main main. Sederet nama filsuf Yunani hingga sosialis abad 17 menjadi pembuka buku setebal 225 halaman ini.

Buku ini akan dan telah menjadi satu dari beberapa buku skena lokal Bandung yang saya suka (dan putuskan sebagai harta berharga). Pak Ucok telah sekali lagi memberikan kausal mengapa saya sangat suka beliau sebagai penulis..

Kedua setelah Pak Kimung, tentu saja! hihihi.

Fasis yang baik adalah fasis yang mati! – Homicide, Puritan.

Senja Merah : Kebahagiaan yang Banal

Untitled.jpg
Sampul Depan

Saya lupa kapan tepatnya atau dalam momentum berupa apa, namun saya ingat pernah menghabiskan berminggu minggu mengetik naskah Senja Merah ini. Setiap sesi menulis saya selalu memutar lagu lagu Iwan Fals, Homicide dan sesekali nomor klasik semacam Pavarotti dan skor skor olahan Yo Yo Ma. Di sela menulis, saya sibuk terlibat dalam twitwar dan diskusi kiri di forum Facebook seolah dua platform media sosial tersebut adalah satu satunya dunia yang saya punya.

Masa remaja saya (saya 18 tahun kala itu) awesome sekalilah pokoknya. Walaupun penganggur lantaran baru saja cabut dari koran, walaupun tidak mengetahui cara membayar kreditan PC yang cicilannya masih sekian bulan. Waktu itu saya hanya ingin menulis dan menulis saja.

Dengan kemampuan dan pengetahuan tentang dunia kepenulisan yang alakadarnya, banyak sekali kesalahan tata bahasa dan ejaan di dalamnya. Namun toh tetap saja dengan bangganya naskah Senja Merah yang awalnya berjudul Malam Teror ini saya pamerkan ke mana mana. Hingga satu-dua kawan membantu menghubungkan saya dengan penerbit penerbit dan sepanjang 2010 saya disibukkan dengan perasaan deg degan ketika berkomunikasi langsung dengan para editor penerbit penerbit ternama itu.

https://scontent-sit4-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/15055614_1331782500178735_7525894579774471026_n.jpg?oh=8624e6f7ab1a5b0046d2229575fc67ab&oe=58CB35A8

Upaya memenuhi kalimat “Tulisanmu menarik, apalagi ini ditulis oleh gadis belasan tahun, kamu cuma harus edit ulang dan kembangkan cerita tokohnya lalu kirim kembali, naskahmu akan menjadi pertimbangan teratas kami” dari Mbak Nita, editor Kurnia Esa yang waktu itu intens berkomunikasi dengan saya berujung pada kemalasan. Saya bosan melihat naskah novel ini dan mengalami kebuntuan untuk melakukan pembenahan. Ditambah dengan saya yang diterima bekerja di Jakarta dan memulai kesibukan sedemikian rupa.

Hingga tau tau, delapan tahun lewat begitu saja. Saya tidak lagi berkomunikasi dengan Mbak Nita dan keinginan untuk melakukan editing naskah ini tak kunjung muncul. Sampai akhirnya di awal 2016, out of the blue, saya ingin membukukan naskah Senja Merah, bagaimanapun caranya.

Dan begitulah, sebelas bulan selepas resolusi tahun baru itu dilontarkan, saya akhirnya mencetak indie buku ini melalui Print On Demand karena proses di NulisBuku.com kelewat ribet buat pemalas seperti saya. Akhirnya, saya dapat memegang Senja Merah dalam format mirip novel beneran dan bangga tidak alang kepalang. Meski pada akhirnya mereka hanya akan berakhir di rak buku di rumah dan dibaca satu-dua kawan, saya toh akhirnya menerbitkan buku dan memenuhi satu dari beberapa resolusi tahun baru yang belum tentu kesampaian.

Berikut sinopsis untuk Senja Merah yang ditulis oleh Mbak Nita dari Kurnia Esa, 2010:

Tak ada malam yang tak mencekam. Tak ada malam yang berurai cahaya, bahkan dari api kecil sekalipun. Sunyi. Senyap. Semua membisu tanpa suara – selain derap sang Teror Malam beserta sirene mereka. Ketakutan, kecemasan, nafas seakan terhenti ketika senja meredup meninggalkan hari.
Wenggini hanyalah bocah ingusan dari desa yang selalu melewati malam teror. Hingga akhirnya, satu demi satu keluarganya diterkam Teror Malam. Lubang-lubang timah panas mengakhiri segala yang dimilikinya. Satu malam saja, Wenggini yatim piatu.
Dunia tak berhenti. Hidup Wenggini terus berlanjut. Ada apa dengan teror malam? Siapa mereka? Apa mau mereka?
“Merdeka adalah harga mutlak yang harus dimiliki negara ini. Demi merdeka, tak ada satupun nyawa terbuang percuma.” Begitu yang tertanam di benak setiap mereka yang berani saat itu.
Tapi apalah artinya jika sudah mati? Akankah kemerdekaan itu jadi lebih bermakna? Seribu satu pertanyaan berkecamuk dalam benak Wenggini. Kalau saja ada yang mau menjelaskan kenapa ayah, ibu, serta Sunaryo harus mati, Wenggini harus yakin alasannya benar. Hingga akhirnya pria itu datang di hidupnya. Pria yang mengubahnya menjadi wanita mumpuni yang mengerti apa yang harus dilakukan.
Namun teror tetap ada. Teror yang kian mencekam, tak hanya datang saat senja menghilang, tetapi ada kapanpun ia mau!
Lariii!! atau hadapi dengan dagu terangkat dan siap bersimbah darah!

Saya tidak menjual buku ini dalam format cetak karena… too much effort hahaha. Entahlah, saya sendiri ga tega jika seseorang harus membayar 50-60 ribu di luar ongkir hanya untuk membaca sesuatu yang sudah saya sebar di internet sejak sekian lama. Saya hanya ingin membuat kenang kenangan untuk diri sendiri, agar kelak sepuluh, dua puluh tahun dari sekarang saat saya mengalami hari paling buruk sedunia, saya bisa meraih buku ini dari rak berdebu dan tersenyum soal bagaimanapun juga saya pernah bermimpi dan mewujudkan mimpi itu 🙂

Gombal abis ya alasannya.

Anyway jikalau ingin membaca versi yang telah dirapikan, silakan download .Pdfnya di sini.

Sampit, 10 Nopember 2016

Nani punya buku sendiri, Yay!

A Clockwork Orange, Satir Kriminal Rasa Pulp Fiction

Di tahun 197https://i2.wp.com/i.gr-assets.com/images/S/compressed.photo.goodreads.com/books/1391825616i/8810._UY200_.jpg0an, berbarengan dengan populernya nama Andy Warhol dan orang orang yang menjadikan film The Rocky Horror Picture Show sebagai acuan hidup ideal, ada nama Stanley Kubrick yang melejit melalui film film bergenre tidak biasa. Kubrick melejit berkat film Lolita (dari buku populer milik Vladimir Nabokov) menyusul Spacetime Odyssey yang di tahun segitu efek yang digunakan untuk perjalanan luar angkasa bisa dibilang bolehlaah. Kemudian menyusul The Shining dan Dr. Strangelove yang membuat nama beliau ada di jajaran teratas sutradara paling keren sedunia.

Yang saya tidak tau, novel yang baru saja saya habiskan di akhir pekan silam ini ternyata sudah ada filmnya. Film ini disutradari oleh Kubrick dan sebagai penganut paham Apapun Yang Disutradari Kubrick Pastilah Keren dan Patut dibaca versi Bukunya, saya mendapati bahwa meskipun dibutuhkan sedikit waktu untuk beradaptasi dengan gaya bahasa yang digunakan Anthony Burgess (ada campuran bahasa slang Rusia, gaya bahasa selatan Amerika dan beberapa susunan kalimat yang terasa ganjil), buku ini layak saya rawat baik baik untuk generasi selanjutnya.

Kemunculan tokoh Alex yang menggemari violence sepintas mengingatkan saya pada film Pulp Fiction, meski film ini muncul dua dekade selanjutnya, gaya bercerita tokoh Alex DeLarge seolah mengadaptasi duo Vincent Vega dan Jules Winfield.
Untitled.jpg

Dibuka dengan sosok Alex DeLarge dan tiga temannya sedang minum di sebuah milkbar yang saya baru ngeuh kalo minuman yang dijual adalah, well, susu :))) di sana konon terdapat minuman yang mengandung formula khusus yang membuat seseorang terjustifikasi untuk melakukan kegiatan kriminal kelas berat-amoral dan tanpa batas. Whoa. Sains fiksi sekali hahaha.

Di bawah pengaruh minuman ajaib tersebut, keempatnya melakukan kegiatan kriminal mulai dari memukuli gelandangan hingga memperkosa istri orang. Hal hal seperti ini memang terasa seperti “Wah ini filmnya Kubrick banget nih”. Semula saya kira buku ini akan berhenti saat Alex masuk penjara dan perlahan bertobat dan menyesali perbuatannya. Namun melihat buku yang baru mencapai separuh, saya harus siap dengan skenario Jatuh Bangun Seorang Kriminal Tobat Kembali ke Masyarakat.

Namun ternyata justru hal hal bombastis baru dimulai dari sini. Alex kemudian ditawari untuk memperpendek masa tahanannya dengan syarat ia harus ikut eksperimen untuk merubah karakter manusia. Tidak, eksperimen ini tidak melibatkan ustadz yang bisa mengeluarkan jin kriminil dari ubun ubun seseorang. Ia berupa serangkaian tes psikologi dan ‘siksaan’ mental berupa nonstop menyaksikan tayangan kekerasan. Ditambah dengan dosis obat yang meningkatkan emosi, Alex harus berhadapan dengan mimpi buruk itu hingga akhirnya pada final tes, ia lolos dan dinyatakan aman untuk kembali ke masyarakat.

Sepintas saya teringat pada novel A Most Dangerous Method, tentang Sabina, pesakit jiwa yang kemudian menjalani tes psikologi yang dipimpin oleh Sigmund Freud dan Carl Jung melalu metoda dihadapkan dengan mimpi buruk si pesakit jiwa. Dalam A Clockwork Orange Alex adalah kriminal kelas teri yang bertobat dan telah melunturkan dorongan kekerasan yang harus ditekan sedemikian rupa terhadap tayangan kekerasan.

Eksperimen bernama Ludovico Technique oleh Dr. Brodsky ini bukan satu satunya perihal bombastis di novel A Clockwork Orange. Hal bombastis lainnya adalah Alex menjadi alat perlawanan seorang oposisi negara yang istrinya telah diperkosa Alex di awal cerita! Dengan menggunakan Alex sebagai contoh gagal dari Ludovico Technique yang digunakan negara untuk menurunkan angka kejahatan namun penuh dengan indikasi pelanggaran hak asasi manusia, F. Alexander penulis buku A Clockwork Orange di dalam novel ini ingin menunjukkan bahwa negara tidak bisa melanjutkan eksperimen tersebut sekaligus membunuh Alex yang telah memperkosa istrinya hingga meninggal.

Sampai di halaman ini saya sampe mangap mangap saking bombastisnya.

Hal bombastis lainnya adalah: Alex DeLarge baru berusia 15 tahun saat ia melakukan semua tindakan kriminal tersebut, driven by a fucking magical milkshake. Sinting.

Novel ini membuat saya ingin segera mencari filmnya dan menikmati penelaahan visual ala Kubrick yang senantiasa sukses membuat saya berdecak kagum. Dan menyisakan deretan panjang diskusi imajiner soal upaya Burgess yang mungkin sedikit berlebihan dalam menyajikan lapisan lapisan psikologis agar terlihat seperti penulis penulis 70an lainnya.

Sampit, 08 Nopember 2016

Abis ini lanjut baca Murakami lagi, tentu saja.

Menulis, dan Menulis Saja. Seratus Buku Untuk 2016 #Agustus&September

Sebelum saya kehilangan waktu untuk membaca pada kesibukan kesibukan di luar diri sendiri, saya ingin membaca dan terus membaca. Menulis dan menulis saja. Saya ingin memenuhi laman laman site ini dengan ratusan bahkan ribuan entry, yang penting atau tidak, yang sarat pemikiran atau sekadar sampahan curhat.

Sebelum saya memikirkan soal tagihan listrik air kreditan bayar sekolah dan kebutuhan rumah, saya ingin menghabiskan hari hari saya dengan rasa penasaran soal alter realitas, teori teori evolusi dan pembentukan semesta serta perputaran langit bumi beserta luar angkasa. Saya ingin merasakan urgensi untuk mengetahui nasib tokoh utama di buku buku populer yang saya baca. Saya ingin menuliskan semua yang saya rasa hingga detil terkecil dan merayakan semeriah meriahnya festival perasaan dalam kesunyian tengah malam di kamar kos saya.

Saya ingin pergi ke setiap kota di Indonesia, belajar sekurangnya 3 bahasa berbeda dan menjadi pandai dalam tawar menawar harga di pasar karena kemampuan komunikasi yang mumpuni. Saya ingin berdiskusi dan tertawa hingga pagi, saya ingin menari dan bernyanyi sekerasnya pada hujan hujan di kota asing.

Sebelum saya memutuskan untuk melibatkan orang lain selain diri saya sendiri dalam merayakan hidup ini. Sebelum saya menambah satu-dua nama dalam festival sunyi tengah malam dengan rengekan dan dengkuran mereka. Sebelum saya melonggarkan persyaratan serba-praktis dalam periode paling egois ini.

Saya berada di usia di mana saya tidak menginginkan keterlibatan orang lain kecuali satu-dua kawan yang datang sesekali untuk memastikan saya tidak melakukan hal hal tolol seperti memangkas habis rambut (lagi) misalnya. Saya menemukan refleksi paling akurat dalam buku buku Murakami dan larut dalam setiap lembar keriuhan cerita dan dibaca dalam sunyi. Saya kini memahami mengapa orang orang gemar sekali membaca buku.

Saya merapel (lagi) log bacaan saya bulan ini.

Buku yang telah dibaca bulan Agustus dan September:

  1. Wind – Haruki Murakami
  2. Pinball – Haruki Murakami
  3. After Dark – Haruki Murakami
  4. After the Quake – Haruki Murakami
  5. The Girl on the Train – Paula Hawkins
  6. The Elephant Vanishes – Haruki Murakami
  7. South of the Border, West of the Sun – Haruki Murakami
  8. 1Q84 book 1 – Haruki Murakami

Total buku yang telah dibaca hingga September 2016 : 62 dari 100 buku.

Karena mustahil rasanya melahap 38 buku dalam tiga bulan yang tersisa, maka sepertinya resolusi 100 Buku Untuk 2016 harus direlakan untuk tidak tercapai. Sisi positifnya: saya sudah membaca 62 buku! di tahun tahun sebelumnya untuk memikirkan membaca 10 buku setahun saja rasanya sulit. Padahal hidup tidak sibuk dengan waktu luang kelewat banyak.

Maka sebelum saya melibatkan diri dalam hubungan fisik non fisik dengan Homo Sapiens lain di muka bumi, sebelum kepala saya dipenuhi perkara perkara duniawi, saya ingin menghabiskan waktu yang saya punya seegois egoisnya.

Sampit, 29 September 2016

It’s the most egocentric time of my lifetime period. But aren’t we all?

1Q84 Membuat Saya Merasa Normal

Untitled.jpg

Dalam buku George Orwell yang ditulis pada tahun 1949, muncul sebuah prediksi masa depan atas seperti apa dunia di tahun 1984. Di buku ini, tuan Orwell menggambarkan totalitarian di mana bumi dikuasai oleh segelintir orang yang menyebut dirinya Big Brother. Mengingat tahun penulisannya, tuan Orwell sepertinya ingin mengingatkan sesama rekan penulis dan kaum intelektual mengenai bahaya komunisme.

Eniwei, bicara soal tema, 1Q84 mengadaptasi ide tuan Orwell tentang (sebagian) dunia yang dikuasai segelintir orang (Little People) yang sedemikian berkuasa dan mempengaruhi pengikutnya. Sakigake namanya, berada dalam realita alternatif di mana ada dua bulan  berwarna kuning dan hijau menggantung di cakrawala. Pak Murakami mungkin dapat mengendus kemungkinan buku ini akan dituding mengacu pada karya tuan Orwell, didampuklah Profesor Ebisuno untuk menjelaskan hal ini:

“George Orwell introduced the dictator Big Brother in his novel 1984, as I’m sure you know. The book was an allegorical treatment of Stalinism, of course. And ever since then, the term ‘Big Brother’ has functioned as a social icon.” – Professor Ebisune, page 338

Mungkin lantaran buku yang saya baca masih belum banyak dan temanya terbatas, penelurusan psikologis sedetil dan semenarik ini baru saya temukan di buku buku Murakami. Yang dituliskan tidak seperti cukilan dari buku buku psikologi atau menggurui seperti Paulo Coelho. Ia seperti menceritakan kembali sebuah pengalaman pribadi sehingga membuat yang membaca merasa terkoneksi dan membaca lebih lagi. Tidak heran jika kemudian banyak yang terobsesi dengan kehidupan pribadi pak Murakami dan memulai telaah sotoy soal apakah beliau mengalami depresi, lekat dengan ide bunuh diri dan seorang nihilist.

Dalam buku What I Talk About When I Talk About Running saya menangkap bahwa Murakami adalah orang paling simpel sedunia. Lihat bagaimana beliau menjabarkan latar hidupnya sampai akhirnya ia memutuskan untuk menjadi penulis. Penjelasan penjelasannya soal pertanyaan media/fans yang -tidak selengean penuh sarkasme seperti Seno Gumira- namun lebih seperti… menceritakan kembali. Tanpa penelaahan atau upaya menjadi misterius yang berlebihan.

1Q98 adalah buku Murakami paling panjang (sejauh ini) lantaran terdiri dari tiga buku terpisah. Totalnya 1318 halaman dengan satu potongan chapter yang tembus ke Newyorker Magazine berjudul Towns of Cats. Lagi lagi setelah Kafka on the Shore, Murakami ngobrol sama kucing di cerpen yang mengharukan ini hiks.

Membaca 1Q98 membawa kesenangan tersendiri bagi saya, meski sepanjang ini, tiga minggu terasa sebentar dan tau tau bukunya abis. Meski banyak yang menyebut buku ini belum bisa disebut sebagai magnum opusnya Murakami karena masih ada buku bukunya yang lain yang tidak kalah bagus, namun bagi saya yang baru membaca 14 judul Murakami, 1Q98 memenangkan kompetisi Buku Murakami yang Nani Paling Suka. Kompetisi yang tidak penting sekali hahaha.

Proporsinya pas sekali, jumlah tokoh tidak berlebihan dan permainan antara surealisme, plot twist, koneksi antar tokoh, semuanya pas. Rasanya bahagia sekali kalau bisa baca buku sebagus ini ya.

Meski sepenuhnya fiksi, soal pembunuh bayaran di sebuah dunia dengan dua bulan menggantung di cakrawala, penokohan yang dibangun Murakami sepenuhnya terasa nyata. Kita seolah mengenal baik Aomame dan Tengo di dunia nyata. Kepala saya bahkan tidak henti hentinya mengulang sosok Ayumi sebagai refleksi diri sendiri hingga berujung cengengesan dan gumaman “Hehehe, ada temennya hehe”

None of them know, Aomame thought. But I know. Ayumi had a great emptiness inside her, like a desert at the edge of the earth. You could try watering it all you wanted, but everything would be sucked down to the bottom of the world, leaving no trace of moisture. No life could take root there. Not even birds would fly over it. What had created such a wasteland inside Ayumi, only she herself knew. No, maybe not even Ayumi knew the true cause.But one of the biggest factors had to be the twisted sexual desires that the men around Ayumi had forced upon her. As if to build a fence around the fatal emptiness inside her, she had to create the sunny person that she had built, there was only an abyss of nothingness and the intense thirst that came with it. Though she tried to forget it, the nothingness

would visit her periodically – on a lonely rainy afternoon, or at dawn when she woke from a nightmare. What she need at such times was to be held by someone, anyone. – page 523

Setelahnya, saya merasa semua keanehan keanehan di muka bumi ini dapat terjelaskan dengan baik. Seharusnya saya lebih giat membaca buku sejak dulu. Meski akhirnya Ayumi ditemukan mati dalam keadaan telanjang setelah dicekik seseorang di kamar hotel, hidup memang seharusnya dijalani dengan kesederhanaan sikap dan pikiran, seperti yang telah berpuluh puluh tahun pak Murakami lakukan. Hahaha.

South of the Border, West of the Sun

Selepas maraton dinas, saya menemukan buku ini di dasar koper. Merely touched. Bertekad untuk menghabiskannya dalam kurun empat hari sebelum memulai proyek #MembacaTebal di minggu selanjutnya. Buku ini begitu menyenangkan hingga saya tidak sadar telah mencapai halaman terakhir di hari kedua. Meski jika dijabarkan secara sederhana ini adalah cerita tentang lelaki yang memiliki obsesi berlebihan terhadap cinta monyetnya kala SD hingga menimbulkan alter-reality, saya tetap percaya bahwa cinta yang sedemikian besar bisa mengubah banyak hal (kewarasan, misalnya)

Saya menyukai Hajime, tokoh pria sebagai sudut pandang pertama di buku setebal 214 halaman ini. Dia begitu menyukai Shimamoto -teman masa kecilnya- hingga menghabiskan 25 tahun (dan sepertinya terus berlangsung) untuk menghidupkan sosok perempuan yang tidak siapapun tau di mana sama siapa sekarang berbuat apa dalam detil yang luar biasa nyata dan meyakinkan.

https://i1.wp.com/cdn.wordables.com/wp-content/uploads/2015/12/HarukiQuotes9.png
I love the way Google Image Search the most alay version of Murakami’s quotes

Di akhir buku, disebutkan bahwa semua hal nyata yang menghidupkan skena kembalinya Shimamoto setelah 25 tahun perpisahan ternyata tidak pernah ada. Dan di sepanjang buku kita hanya sedang melihat proyeksi khayalan Hajime semata. Saking canggihnya kemampuan menulis pak Murakami, saya tidak menduga hal ini sama sekali. Saya kira akan ada penjelasan panjang lebar tentang apa saja yang terjadi di hidup Shimamoto seperti bagaimana ia bisa begitu kaya padahal tidak sekalipun pernah bekerja? nyet itu yang dilarung ke laut anak siapa nyet? kenapa ada om om ngasih seratus ribu yen buat brenti stalking Shimamoto dan seterusnya.

Ternyata yha, biasa, ga ada penjelasan apa apa karena semua itu khayalan semata hahahahabangsathahaha. Namun buku ini tetap menyenangkan, tidak sepahit Wind-Up Bird Chronicle atau seabsurd trilogi The Rat (Pinball – Wild Sheep Chase – Dance Dance Dance). Nyaris memiliki taste semanis Norwegian Wood namun tidak segelap itu. Soal cari mencari pengentas kesepian di masa muda dan menemukan perkara cocok di antara manusia. Laif.

Note: Dalam jeda setelah menamatkan The Elephant Vanishes kemarin, saya menghabiskan Paula Hawkins – The Girl on the Train yang filmnya akan rilis di bulan Nopember tahun ini. Membayangkan Emily Blunt sebagai Rachel Watson di buku ini rasanya mendebarkan karena she’s exactly who am I gonna pointed out as Rachel.

Things are great lately  ❤

Sampit, 16 September 2016

Menunggu Desember dengan tidak sabar!

 

Before Sunrise’s After Dark Odyssey

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/9c/43/cb/9c43cb3c65cd73b6d8b7633955fbfe12.jpg
This words comes out from Korogi, pages 228. Not a main character but steal my attention vaguely.

Menamatkan After Dark dalam buruan deadline. So there’s these three presentation I have to prepare for General Manager, Production Director up to President Director level. The work wasn’t that much, but with 3 weeks of prep and endless revision from those guys, I felt a bit worn out. Dan mungkin berakibat pada penelaahan berlebih pada karya Tuan Murakami yang satu ini.

Halaman pertama dibuka dengan sebuah scene your favorite young-rebelious wallflower of all time. Mari Asai tengah membaca buku sambil minum kopi pada larut malam di sebuah pojokan kedai 24 jam. Mengenakan worn out jeans jacket, faded colored yellow sneaker and wasn’t talked so much when this guy, Takahashi Tetsuya sat down in front of her and started the conversation.

And that’s it. Buku berjalan dalam durasi satu malam penuh dengan keduanya sebagai magnitude cerita. Little bit tasted like Before Sunrise, for me. A dark, dark Before Sunrise without sex scene at all hahaha. Keduanya lantas bercerita, dan bercerita, dan bercerita tentang banyak kejadian. Mari kemudian terlibat dengan seorang pekerja seks yang dipukuli pada sebuah Love Hotel. Jika muncul dugaan Mari akan bermasalah dengan gangster China dan cerita berubah menjadi action, maka kamu kudu kecewa. Murakami selalu demikian adanya. Something big, out of ordinary happende but it pretty much was it. Shit happens and that’s it.

244 halaman berlanjut dengan fragmen fragmen antara Tetsuya – Mari, Eri (kakak Mari) dan the eagle eyes, serta sedikit sempilan kejadian di Alphaville (love hotel) dengan porsi yang cukup menyenangkan. Cerita berakhir dengan khas Murakami.

KENTANG.

Buku ini menjadi buku ke-11 dari 19 buku untuk proyek Marathon Murakami yang saya mulai 4 bulan silam. Sepuluh kali dikentangin Murakami tidak kunjung membuat saya jera untuk membaca dan membaca lagi. He has this weird magnetic field with his words, meski lamban dan membosankan, meski senantiasa berakhir dengan kentang, saya toh tidak berhenti melahap halaman demi halaman hingga tamat dengan helaan nafas dalam dan perasaan sedih tanpa penjelasan yang menjadi jadi. Buku yang tepat bagi penggemar ide soal nihilisme.

Hari ini saya call-off from work, meminta izin kepada HR dengan alasan “Aku rada susah fokus ngerjain deadline dengan semua distraksi di kantor mbak. Mbak tau lah anak kreatif dan kebutuhannya terhadap konsentrasi ngerjain beginian” menyusul rencana untuk berhenti menjadikan kebohongan sebagai sebuah kebiasaan. And she nodded, understanding my reason fully and let me go home with a promise than this 198 pages of presentation will be done before the deadline.

Walaupun kemudian di kos saya dengan semena menad tidur dari jam 10 pagi sampai 5 sore, sih :))) bangun tidur untuk memenuhi janji meeting dengan camera guy for my 14th event membuat saya berfikir soal ini sepanjang jalan:

Kenapa semakin banyak tidur yang saya lakoni, semakin mengerikan bayangan yang saya temui saat terjaga? These bad dreams just too much to handle.

Maka begitulah, dalam keadaan super terjaga berkat double shoot ristretto, semangat dan optimisme yang meluap luap di malam hari seperti ini selalu saya pertanyakan mengapa ia tidak muncul di siang hari, saat saat saya sungguh membutuhkan mereka :)) I’m just a night owl afterall. Inevitable condition.

Sampit 09 Agustus 2016,

Whoa, I talked to myself more rapidly now.