Give A Noob Two Weeks for Growing Her Addiction and She’ll Turn into a Slightly Better Noob. It’s Probably the Longest Title I’ve Ever Written so Bite Me.

My new addiction comes from frowny eyebrows while my brother told me to download the game. Minutes later after my first match and I’m sold. Cara adiksi bekerja pada saya sederhana saja, mengetahuinya secara tidak sengaja lalu dicoba coba eh keterusan. Tapi adiksi seperti ini tidak akan bertahan lama, saya tau betul itu makanya tidak ingin terlalu ‘niat’ dalam memperlengkap gear dan equipment seolah besok mau mulai latihan e-sport.

Player Unknown’s Battle Grounds (yang kemudian disingkat menjadi PUBG) adalah game bikinan Brendan Greene yang dirilis via Steam tahun 2017 silam. Sesekali saya melihat post soal PUBG di antara dank memes Reddit namun tidak berminat memainkannya karena hanya available untuk PC. Dan serupa DOTA, CS:GO dan associates yang membutuhkan ‘niat’ dalam beli-instal-main, saya yang pemalas dan tidak begitu betah berlama lama di depan PC (karena di kantor sudah 8 jam melakukan hal demikian) jadilah tidak sekalipun menyentuh game game PC.

Nahh, baru beberapa bulan lalu Tencent didampuk menjadi developer game ini untuk versi mobile. Namanya baru rilis, bug dan kekurangannya tentu buanyak banget. Seperti ukurannya yang luar biasa gede (1,5 giga ditambah additional data) dan kecenderungan lag di handphone Android dengan RAM di bawah 4 giga. Oh satu lagi, daya konsumsi baterenya gila. Dua-tiga match saja dengan durasi 1 match sekitar 30 menit, batere bisa langsung drop ke 10 persen.

Menanggulangi hal ini saya menggunakan iPhone 7s yang diflash ulang dan HANYA menginstall PUBG. Lumayan, tidak pernah lag dan batere bisa bertahan hingga 4 match. Ini mungkin upaya terjauh saya dalam bermain game.

I killed *uhuk* 14 people *uhuk* on a solo match

Adiksi di game ini tentu saja di adrenaline rush karena membunuh orang beneran (game ini berbasis online) bukan bot itu menyenangkan. Kita ditawarkan untuk bermain Solo, Duo atau Squad. Dari semua stage yang pernah saya jajal kayaknya Squad paling seru. Tandem saya tentu saja adik yang kemudian kami random match dengan dua orang lain. Di hari hari lengang seperti Sabtu – Minggu kami akan ngetroll team match dengan berpura pura menjadi Anne dari Slovenia atau asik menjadi weeaboo dengan membicarakan anime anime dan secret waifu. It’s fun, really.

WhatsApp Image 2018-07-11 at 15.21.02

Saya tau betul saya kecanduan game ini karena sekarang history YouTube saya bergeser dari video video masakan menjadi konten konten milik Litomatoma dan Milyhya. Isinya PUBG semua hahaha. Ini minggu kedua saya menekuni PUBG, menekuni karena literally setiap hari sepulang kerja saya meluangkan sekurangnya 3  jam memainkan game ini. Lama kelamaan noob ini berkembang menjadi sedikit lebih paham maksud gamenya apa.

I dieded everytaim

Dan karena game ini sangat sangat populer, hypenya masih menyenangkan. Ga tau kalau kelak Fortnite atau ROS mengambil alih popularitasnya (wkwkwk), di Steam sendiri grafik popularitas PUBG sudah mengalahkan rekor Minecraft dengan 46 juta orang memainkan game ini via PC dan 10 juta via mobile. Kaya banget pasti ya Bapak Grenee ini.

Image result for PUBG meme
Once I just lay in the middle of the war zone and wait until everybody dies by the blue zone.

Terlepas dari sekian bug yang ada, sejauh ini PUBG masih menawarkan hal hal menyenangkan untuk dimainkan.

Skor 8/10

 

 

 

Advertisements

Magnum Opus of Layers of Fear

http://vignette2.wikia.nocookie.net/steamtradingcards/images/b/bd/Layers_of_Fear_Logo.jpg/revision/latest?cb=20150829052843
official poster for LoF

“Kan nyebelin”

Adalah kalimat pertama yang terlontar setelah selama dua jam penuh bungkam (selain kata “Ahh!” “Fuck” “MAMAAAAAA”) saat menjajal jualan baru Steam yang rilis pada 15 Februari 2016 ini.

Layers of Fear adalah game PC/console untuk PS4 (powered by Aspyr) dengan storyline yang baik. Dibanding game dengan genre serupa (Wick, Slenderman, Inside) LoF jelas menawarkan grafis yang huwow dan tidak membosankan.

Dalam bermain game adventure dengan single-point of view begini kita biasanya bakal membuat mental map seperti “Oh abis dari ruang tamu kita bakal ke dapur, ntar abis dari dapur kita ke kamar” dst dst. Lupakan soal itu di game ini. RUMAHNYA BISA MINDAH MINDAH RUANGAN SENDIRI KAN EEK.

Aku abis naik ke attic, buka pintu eh yang muncul malah kamar di lantai dasar. Abis dari basement tiba tiba ada di kamar tidur. Belum lagi beberapa kali ketemu ruangan kosong dengan empat sudut tanpa pintu yang abis diputari sekali, langsung madep ke ruang tengah! Kondisi ruangan yang acak menambah greget(an) LoF. Sayang PewDiePie belum merilis Let’s Play video soal LoF. Kan lumayan buat bahan ketawa :))

Buatku, bermain dengan metode “Ah beli terus main aja ah” tanpa ikutan heboh di forum atau mencoba mencari tau soal game ini sebelumnya itu lebih menarik sebab banyak unsur kejutan yang engga spoiled di gamenya.

Misi player sederhana, mengitari rumah yang ada setannya sambil mencari item demi item buat mengupas layers dari lukisan paling mutakhir bikinan si pelukis yang mengidap schizophrenia, alcohol and abusive issues. Indikatornya adalah lemari dengan laci laci terkunci di ruangan kerja si pelukis yang satu per satu kebuka seiring ditemukannya petunjuk.

Permainan dari schizophrenia world-nya hantu pelukis juga menarik. Bisa masuk ke dunia kubism, nembus kaca, mendengarkan gumam si setan (God I want to have an Oculus) dst dst. Sayangnya aku bermain lewat windows laptop jadi sering lag dan mouse-nya liar banget yawla.

Overall LoF keren. Grafis, gameplay dan alur di atas rata rata, setidaknya LoF membuatku betah bermain sampai habis dan dimakan setan karena dimanjakan tiga unsur tadi. Dan adalah kesalahan bermain di malam Senin sebab akhirnya fase tidur-kebangun jadi kek cicilan KPR. Banyak banget.