Between the Monster, Sea and Magnetic Zero

Di tahun ini keakraban saya dengan Spotify meningkat. Ditandai dengan secara rutin menjadi satu di antara sekian juta subscriber yang turut menanggung biaya hidup orang orang di belakang aplikasi musik satu ini setiap bulannya.

Spotify mendekatkan saya dengan indie-folk lebih jauh lagi berkat algoritma tebak tebakkan mereka melalui menu Discover Weekly setiap minggunya. Sistemnya sederhana, mereka membuatkan playlist dengan musisi musisi yang berkaitan dengan musik yang sering kita dengarkan. Berhubung dosis harian saya muter muter di First Aid Kid, Laura Marling, Mumford and Sons serta Imagine Dragons, maka yang muncul adalah beberapa nama ini yang dalam setahun belakangan lagu lagunya saya nyanyikan dengan segegap gegapnya gempita yang saya punya.

Of Monster and Men

https://i0.wp.com/66.media.tumblr.com/6c9b3bed815e5d023b43e172f973db8c/tumblr_ob0p4k6FWk1vu4ih3o3_1280.jpg
Gayanya bolela, kek band band Grunge 90an

Nuansa kampung halaman band ini – Iceland – terlihat kental dalam lagu Little Talk yang secara viral menjadikan band ini dikenal. Paus raksasa, laut lengkap dengan gunung esnya, orang orang berjaket bulu tebal memburu paus, dan seterusnya. Album My Head is An Animal (yang kemudian muncul sebagai sepenggal lirik dalam lagu di atas) menjadi bagian dalam playlist harian tanpa kecuali. Nomor nomornya menarik, seperti Dirty Paws (yang menjadi soundtrack film The Secret Life of Walter Mitty), King and Lion Heart dan favorit saya tentu saja, Chrystal.

Edward Sharpe and the Magnetic Zero

Gara garanya sepenggal bridge sebelum refrain yang berbunyi;

‒ Jade?
‒ Alexander?
‒ Do you remember that day you fell outta my window?
‒ I sure do‒you came jumping out after me.
‒ Well, you fell on the concrete, nearly broke your ass, and you were bleeding all over the place, and I rushed you out to the hospital, you remember that?
‒ Yes, I do.
‒ Well, there’s something I never told you about that night.
‒ What didn’t you tell me?
‒ Well, while you were sitting in the back seat smoking a cigarette you thought was gonna be your last, I was falling deep, deeply in love with you, and I never told you ’til just now!

https://rusnanianwardotcom.files.wordpress.com/2016/11/7f131-edward-sharpe-and-the-mag-008.jpg?w=590&h=354
Hippie Hippie ena. Membernya kek mau tanding bola.

Saya kemudian habis habisan mendengarkan gabungan dua band yang menghasilkan sebuah kolaborasi berisi lebih dari 10 member ini, lengkap dengan gaya mereka yang mengingatkan saya pada Bara Suara. Renyah, riang berapi api. Favorit saya adalah self-titled album mereka dan tentu saja, nomor Home di atas.

Wild Child

https://f4.bcbits.com/img/a0463800673_10.jpg
Why kumisnya why?

Formatnya: mbak-mbak chubby nyanyi dengan males malesan duet sama mas-mas kerempeng dengan kumis hipster dan gaya belum mandi berhari hari.

Tapi bangsat lagu lagunya enak semua.

Duo Kelsey dan Alexander yang mirip pasangan kelamaan bareng terus ogah ogahan PDA demi kepentingan kamera punya kinetis kimiawi yang jauh lebih mesra, klop dan megah dibanding apa yang terlihat. Udah paling pas mendengarkan mereka melalui format audio saja hahaha.

Tiga album telah saya hapal semua lagunya, Pillow Talk, Rundaround dan Fools. Dengan nomor nomor yang liriknya bikin mendesah enak. Whiskey Dream, Winter Pocket, Fools, Pillow Talk, Saving Face, Reno, Trillo Talk, Meadow, Break Bones. Semuanya. Oh, dan coba dengarkan Reno dalam versi audiotree, enaaaa.

I’m a girl and every single girl on earth needs a certain song to represent their feeling dan band asal Texas ini telah berhasil menemani setiap inci perjalanan hati saya. Tsaahh.

Fleet Foxes

https://i0.wp.com/stereoembersmagazine.com/wp-content/uploads/2016/05/A1CQUjoruxL._SL1500_.jpg
Artwork album Fleet Foxes keren semua.

Di Path, mbak Reda dari AriReda sekali waktu memposting tengah mendengarkan Sun Giant milik band ini. Teringat pernah mendengarkannya sekali waktu, sayapun mengunduh Album Sun Giant dan beberapa nomor dari album Helplessness Blues dan Fleet Foxes. Keberhasilan lagu lagu seperti Mykonos, White Winter Hymnal (yang liriknya gore sekali itu) dan Montezuma dalam mentersesatkan mood saya sehari hari membuat mereka menjadi salah satu favorit saya di tahun ini.

Ketajaman Fleet Foxes dalam mengolah lirik yang tidak biasa dengan musik yang membawa pesona ambient membuat mereka cocok untuk meditasi (?) ini memang terdengar aneh namun sejak agak rajin yoga dan meluangkan 15 menit meditasi setiap hari, lagu lagu mereka entah mengapa lebih enak untuk mengiringi tinimbang score score keIndia-Indiaan yang bertebar di yutub. Personal preference sih, tapi kalo iseng cobain aja.

Empat nama di atas adalah temuan berharga saya di tahun ini. Meski terdapat sederet nama lain yang tidak kalah menarik seperti The Oh Hellos, Barton Hollow, Ben Howard, The Avett Brothers sampai Lost in the Trees yang Neither Here or There-nya cocok buat score film psikologi thriller, kayaknya cuma empat di atas yang betah saya dengarkan berkali kali, berhari hari, hingga hapal di luar kepala lalu direka reka untuk digumamkan sebagai (sekali lagi) representasi perasaan.

Sampit, 17 Nopember 2016

Wolf mother where you’ve been? You look so worn, so thin.

Menjelang akhir tahun, seperti biasa resolusi saya tahan hingga ulang tahun di Januari nanti. Namun semangat untuk ikut menikmati euforia menjelang akhir tahun turut melingkupi saya. Semacam kaleidoskop -sebab saya tak bisa membuat mixtape- terkait lagu lagu favorit di tahun ini terluncurlah. Beserta sedikit ulasan yang keseluruhannya berdasarkan pada alasan melankoli. Enjoy~

1. Radiohead – No Suprises

Waktu itu Januari, Cipete tengah malam. Menyelesaikan download untuk album rilisan 1997 ini. Skip setelah seperempat lagu menuju lagu selanjutnya, selanjutnya, lalu “Eh, ini yang jadi opening song House season 6!” lalu dicopy ke dalam mp3 player, dan bertahan hingga sekarang. Sesekali didengarkan saat dalam perjalanan pulang siaran, menuju magrib.

2. The Doors – People Are Strange

Seorang kawan di twitter memposting lagu ini akhir Januari. Merasa punya koleksi the Doors dalam HDD, menemukan judulnya dan memutarnya setengah jalan. Lalu bersemayam dalam perangkat pemurtar lagu hingga berbulan bulan kemudian lagu ini terputar. Tepat saat saya makan sendirian di Citos, tengah siang, sambil memperhatikan ornag orang yang sibuk dengan gadgetnya di Starbuck seberang.

3. The Beatles – Eleanor Rigby

Nasibnya serupa dengan lagu di atas, dimiliki namun tak tersentuh. Cipete tengah malam, sambil ngomong di depan kaca. “Aaaa look at all the lonely people..”

4. Agnes Obel – Riverside

Episode ke empat Revenge. Emily van Camp punya pesonanya sendiri. 12 mei, sepanjang Jakarta – Bandung lagu ini terulang ulang. Meruntuhkan semua minat saya untuk berpengharapan tinggi. Toh kita semua bakal mati dan tergeletak di Riverside, kan?

5. Ingrid Michelson –  Creep

Lagu milik Radiohead yang dibawakan dengan cantik. Ingrid sudah membuat saya jatuh cinta pada nomor duetnya bersama Sara Bareilles – Winter Song. Tidak pernah merasa cocok dengan versi aslinya. Terlalu bising untuk lirik seperti itu 😛

6. The SIGIT – Live in New York

Tidak hanya di tahun ini sebenarnya, tepat saat saya membeli album Visible Idea of Perfection dan jatuh cinta kepada mereka tiga tahun lalu, lagu lagunya adalah teman yang baik dengan Live in New York menjadi yang terfavorit. Terlepas dari sederet argumen soal The SIGIT sudah banyak berubah, Mosque Song, Verge of  Puberty dan Soul Sister tetap menjadi yang paling berhasil untuk urusan melemparkan kekangenan kepada kawan kawan di masa silam. Duduk di trotoar, jalanan sunyi dan kita yang mereka ulang video klip Horse.

7. Ismail Marzuki – Sepasang Mata Bola

Tidak ada yang melebihi rasa nyaman bercampur tersipu saat saya mendengarkan lagu ini. Saya mengingat siang siang panas di Sampit, baru lulus sekolah. Mendownload lagu lagu Iwan Fals dan keroncong demi membangun mood mengetik Senja Merah. Sungguh ini berhasil, saya yang tidak memiliki bayangan apapun terhadap Indonesia di tahun 60an, terbayar dengan penggambaran Ismail Marzuki atas Aryati. Menjadikan Sloan pria yang gagah nan pujangga bertemu Wenggini perempuan pemalu namun raksasa jiwanya. Lagu ini juga selalu mengingatkan saya pada trilogi cerpen Seno Gumira tentang penembak misterius. Cerpen Keroncong Pembunuhan memuat penggalan lirik lagu ini.

8. Nat King Cole – Smile

“Sebab saya harus selalu tersenyum. Ya kan, kamu?”

9. Jim Reeves – He’ll Have to Go 

Menemukan kembali lagu ini dalam mixtape bikinan young-lad.blogspot.com. Sebelumnya saya cuma mengingatnya sebagai salah satu soundtrack untuk film Cold Feet. Menjadikannya lagu yang paling sering saya nyanyikan di kamar mandi seminggu belakangan.

Though love is blind, make up your mind, I’ve got to know.

Should I hang up, or will you tell him he’ll have to go?

10. Poomplamoose – Mister Sandman

Duo ini bisa jadi adalah harta karun dalam selancar saya di ranah youtube. Nyaris semua lagu yang mereka nyanyikan kembali saya suka. Vokal Nataly yang semilir renyah, effortless. Dalam EP (album?) berjudul Tribute to Famous People saya mengenal Mr. Sandman. Versi aslinyapun tak kalah apik, The Chordettes namanya. Bisa diliat di sini

11. Florence and the Machine – Shake it Out

Florence Welch punya suara yang hebat. Momentum kepergian saya dari Jakarta diliputi gema lagu ini dan beberapa dari album Ceremonials. Ditimpa tambahan nomor dari Feist, saya belum pernah seringan itu setelah melepas sesuatu.

 

12. Neil Young – Only Love Can Break Your Heart

Yang menenangkan saya saat patah hati adalah waktu. Untuk mundur, memikirkan soal kenapa -sukur sukur berujung introspeksi- dan melangkah kembali. Lagu ini adalah pembenaran sekaligus penyemangat. Bersyukurlah sudah patah hati karena hanya cinta yang bisa membuatmu begitu.

 

Outro:

Sekali waktu, dalam lembaran buku tentang indie saya membaca sebuah artikel tulisan kurator musik ibukota. Konon katanya, masalah terbesar generasi sekarang adalah mereka kurang mendengarkan musik musik bagus. Sayang saya harus tidak setuju. Musik, sama halnya seperti film, dan buku adalah medium penyampaian pesan oleh sang penciptanya. Bagaimana kemudian sebuah pesan tersebut rasuk ke pendengarnya adalah soal korelasi.

Belum pernah saya menyukai sebuah lagu untuk alasan “Ga tau, suka aja”. Selalu ada alasan, semisal itu adalah band kawan, lirik yang kebetulan sama dengan kisah saya saat itu, atau ia berasal dari satu genre yang disukai. Maka tidak bisa mematok standar ‘musik bagus’ versi sendiri untuk didengarkan orang lain. Soal generasi ini akan maju atau tidak bukan soal musik bagus. Himne L’internationale itu ga banget buat saya, tapi toh ia berhasil menjadi latar musik untuk pergerakan di seluruh dunia.

Tenang saja bung. Generasi ini tidak akan runtuh hanya karena mereka berkerut keningnya kala mendengarkan Iron Maiden dan lebih memilih berdiri di barisan depan konser Big Bang. Selera setiap generasi akan terus berubah dan berapi api mencercanya tak akan menghasilkan apa apa.

Nikmati musikmu sendiri dan berhenti gaduh sebab, hey, tidak ada yang suka diusik pada saat tenangnya, kan?

2015 Mixtape : Rambling Mind

Temuan menarik tahun ini adalah Spotify, semacam aplikasi musik yang memungkinkan kita menjelajah trilyunan lagu dan mendengarkannya secara streaming dan membuat playlist sendiri. Lantaran Indonesia masih dianggap sebagai third world country oleh developernya, jadi untuk bikin akunnya kudu pakai proxy (yang mana saya ga tau apa apa soal ini kecuali kenyataan bahwa proxy mirip dengan merk baju). Terimakasih untuk seorang kawan yang telah berbaik hati membuatkan akun rusnanianwar!

Mengikuti zinemaker favoritku, Ilham Satrio yang konsisten tahun ke tahun membuat mixtape di bulan Desember, akupun terpikir buat melakukan hal serupa. Didukung oleh aplikasi mahadahsyat bernama spotify tadi, here’s my 2015 mixtape: Rambling Mind.

1. Halsey – Ghost (Badlands, 2015)

Halsey adalah Lorde, Ed Sheeran atau bahkan Justin Bieber. Penyanyi penyanyi yang menuai popularitas di usia muda berkat kuasa viral. Alasan menjadikan lagu ini sebagai lini pertama Rambling Mind mixtape adalah penyataan keras bahwa Nani kini sungguhlah sangat mainstream :)))

Setelah diarahkan Vevo ke laman youtube pribadinya, kesukaan terhadap Halsey rupanya berhenti cuma di lagu ini. Selain music videonya yang mesum menarik, suaranya mirip nona Goulding.

 

2. One Republic – I Lived (Native, 2014)

Di awal saya bilang apa? Yak, Nani kini sungguh sangat mainstream sekali. Lagu ini sedemikian catchynya hingga ia berada di urutan kedua prioritas playlist karaoke saya, tepat setelah lagu Siti Nurhaliza – Nirmala. Tahun tahun mendengarkan lagu lagu rumit dengan makna terlampau implisit sudah saya lewatkan. 2015 adalah tahun di mana Nani banyak menyanyi di kamar mandi dengan lagu yang didengarnya secara semena mena sekenanya.

One Republic selalu mengisi playlist saya dari tahun ke tahun lantaran dulu sering mengcopy lagu dari radio dan baru nyadar ini: paska Love Runs Out yang rasanya mirip Panic! at the Disco banget itu, di single ke enam ini mereka lebih kalem dan liriknya juara.

3. Florence + The Machine – Delilah (How Big How Blue How Beautiful, 2015)

Saya memulai perjalanan menyukai musik musik ambeien ambient di tahun 2013. Saat itu genre folk  alternative indie-hipster sedang marak maraknya mungkin lantaran seluruh lelaki di muka bumi menyukai Summer dan seluruh perempuan di muka bumi ingin menjadi Summer from 500 days with Summer. Nama nama seperti Laura Marling, First Aid Kit, She and Him, Camera Obscura sampai Haim memenuhi playlist hanphone saya.

Sisa sisa kejayaan itu adalah Florence + The Machine, yang perkenalan pertama saya dengan musik mereka justru di tahun 2012, saat lagu Dog Days are Over muncul di serial CSI New York. Di tahun 2015 mereka merilis album How Big, How Blue How Beautiful yang langsung saya unduh via iTunes (Ya Allah ampuni dosa kafir indie Nani ya Allah dia beli iPhone ya Allah) dan seketika menyukai sejumlah nomor di album ini. Delilah, adalah lagu pertama yang dengan gila gilaan saya nyanyikan di bulan Juni di sepanjang jalan menuju tempat makan di tengah malam. Khas lagu lagu ambient, liriknya yang implisit dan kemampuan struktur musiknya membuat yang mendengar merasa remang remang adalah alasan kenapa ia berada di urutan ketiga di Rambling Mind Mixtape.

4. Paloma Faith – It’s The Not Knowing (A Perfect Contradiction, 2014)

Aduh maap, kalau untuk Paloma Faith saya kudu memasukkan satu album penuh ke dalam playlist. Hahaha becanda. Tapi temuan atas Paloma Faith adalah temuan yang paling menarik belakangan ini. Tema yang diambil kebetulan pas banget sama kondisi hati mungkin. Di tahun 2013 ketertarikan atas Paloma Faith ditandai dengan mulai masuknya nomor nomor seperti Agony, Technicolor, Picking Up The Pieces ke dalam daily playlist.

Sama seperti nona Florence, album A Perfect Contradiction adalah yang saya unduh berbayar tanpa berpikir panjang soal tagihan kartu kredit di akhir bulan (eniwei kalo dipikir pikir paska mengenal spotify saya kok berasa bego sekali menghabiskan duit di iTunes ya hahaha). Nomor nomor di dalam album ini setimpal dengan sembilan ribu rupiah per lagunya. Can’t Rely on You nyaris menjadi yang saya pilih tapi aura pengen nampol nampolin orang menguat di lagu yang kalau boleh saya quote liriknya berbunyi seperti ini

“I’m sure you meant all that you said, at the time

I believe you can’t be made of stone

We both know it’s ok to change your mind

It’s just the not knowing, that hurts, the most”

SINI SAYA TEMPELENG DULU KAMUNYA SINI HEH! oke maap, baper.

5. Katjie & Piering – Kinanti (Kinanti EP, 2010)

Ini lagu lama yang secara sadar saya download ulang untuk dinikmati menjelang musim penghujan. Kesukaan atas lagu ini sampai menjadikannya inspirasi untuk satu cerpen di tahun 2013 silam. Men dua tahun sungguh waktu yang singkat, setiap mendengar lagu ini padahal rasanya seperti baru didengarkan kemarin. Saat masih muda mudanya, indie indienya, petualang petualangnya. Sekarang kita menua, iya. *minum teh sambil elus jenggot*

Katjie & Piering saya temukan di yesnowave.com, situs sekaligus label lokal dari Malang. Rilisan rilisan yesnowave senantiasa memuaskan selera saya seperti duo ini atau Semak Belokar hingga Bara Suara misalnya. Katjie & Piering adalah proyek dari vokalis Tigapagi (Sigit) dan vokalis Baby Eat Crackers (Ayay/Yayi), isi EP mereka sendiri adalah coveran lagu lagu indie yang dibikin menjadi folk minimalis. Dari lima nomor di EPnya, cuma Kinanti ini yang mereka ciptakan sendiri, sisanya cover (Psycho Girl (Olive Tree), Destiny (Homogenic), Zsa Zsa Zsu (Rock n’ Roll Mafia), Polypanic Room (Polyester Embassy).

6. Postmodern Jukebox – Seven Nation Army (Haley Reinhart, 2015)

White Stripes justru saya dengarkan paska lagu Seven Nation Army dibawakan oleh Melanie Martinez dalam The Voice season 6 tiga tahun lalu. Seven Nation Army yang sama yang dibawakan Haley Reinhart jebolan American Idol 11 yang dibikin menjadi vintage! Lagu ini jadi semakin kaya karena dijadikan proyek Scott Bradley dalam laman youtubenya, Postmodern Jukebox (PMJ).

Laman itulah yang berbulan bulan belakangan saya ikuti perkembangannya dan sesekali diunduh menggunakan snaptube (terpujilah developer aplikasi ini), sederet nama peserta American Idol saya temukan dan kedua setelah Aubrey Logan, Haley mencuri hati saya dengan kemampuannya bernyanyi sekaligus bikin horny.

7. Lana Del Rey – Young and Beautiful (The Great Gatsby Soundtrack, 2014)

The Great Gatsby adalah satu dari sekian film yang saya cari dengan penuh kesungguhan lantaran reviewnya bagus dan nominasi oscarnya banyak tentu saja. Di tahun 2014 barulah saya nemu yang bluray dan sengaja memutarnya di layar televisi yang agak besar dengan sound maksimal karena seperti film Gravity (Sandra Bullock – 2014) yang hanya bisa dinikmati di bioskop, The Great Gatsby baru terasa greatnessnya kalau dinikmati setelah kausal kausal di atas dipenuhi.

Oh karena saya menyukai film ini dan nyaris hapal setiap adegannya, lagu Young and Beautiful yang mengalun saat Jay dan Daisy berdansa langsung nempel di kepala untuk kemudian digoogling. “Pantesan kenal suaranya,” ternyata Llama del Rey sotara sotara. Saya tidak tertarik pada Lana paska Barely Political habis habisan mereferensikan suaranya dengan sebutan A horny lazy kind of voice. Namun seorang kawan menceritakan soal album albumnya, lagu lagunya dan sedikit banyak lagu lagu Lana mulai saya dengarkan. By far yang menarik untuk saya ulang ulang di playlist adalah Young and Beautiful dan Video Games.

8. Barasuara – Api dan Lentera (Taifun, 2015)

1440x1440srProyekan indie yang juga saya suka. Sepintas saya kira ini ada hubungannya dengan Efek Rumah Kaca (yang sekarang menjadi Pandai Besi), gara gara laman youtube soundfromthecorner yang kerensekali itulah perkenalan dengan Barasuara dan album Taifun mereka. Saya fikir ini akan seperti band band indie sok kece (you know lah, ada perasaan “I’m better than anybody else since I played this kind of music with this kind of lyric” yang ditimbulkan band band indie protelar antimainstream pretensius di abad ini) yang melumasi musik mereka dengan referensi referensi njelimet dan gaung yang kelewat jenius hingga susah dipahami.

Dan ternyata benar adanya.

9. Mumford and Sons – The Wolf (Wilder Mind, 2015)

Tidak begitu banyak banjo di album ini, tidak seperti album sebelumnya, Noah and the Whale, yang over-exploit unsur folk-country dengan kelintingan banjo di nyaris setiap partitur lagu lagunya. Di album ini saya merasa Mumford and Sons jauh lebih pop dan mengarus sekaligus mengingatkan pada band band 90an seperti the Strokes dan Arctic Monkey.

The Wolf adalah single ketiga di album Wilder Mind, menyukai lagu ini karena setelah single self tittled, ini lagu kedua dengan nuansa yang lebih ceria dibanding nomor nomor lainnya yang entah kenapa terdengar sangat Bruce Springsteen sekali. Lagu ini juga yang menandai perubahan mood saya di beberapa pekan silam selepas bermalam malam mendengarkan lagu sendu.

Because, the lone wolf licks their own wounds and being strong by that, right?

10. Sheila On 7 – Canggung (Musim Yang Baik, 2014)

Menjadi penyiar radio sejak kelas 2 SMA hingga beberapa bulan lalu semestinya membuat saya aware terhadap lagu lagu baru. Nyatanya tidak, sejak awal berkiprah di dunia broadcast radio, saya selalu memilih program acara lagu lagu mancanegara. Ini berlangsung sekian lama dan akhirnya baru sadar soal saya buta lagu lagu indonesia populer pada masanya saat karaoke dengan kawan kawan. Mereka memilih lagu indonesia yang ngehits di zamannya dan saya cuma bisa cengo, tidak tau apa apa (and they’re like “How could you wasn’t know Cidaha Nan? Its like the biggest catching phrase in 2008” hahahaha)

Sheila on Seven, adalah pengecualian. Sebut album apa saja, lagu yang mana saja, dapat dipastikan saya tau dan hapal. Untuk alasan mereka menarik, udah itu aja. Musim yang Baik adalah album terakhir band asal Jogja ini di bawah Universal Music Indonesia. Paska album ini (kalaupun mereka bikin album lagi) maka Sheila on Seven akan menjadi band indie. Lagu Canggung, adalah lagu pertama di album ini yang saya dengarkan. Nomor nomor selanjutnya segera mengisi playlist dan sesekali didengarkan dengan senyum mengembang, liriknya positif dan musiknya riang.

Sebenarnya ada puluhan bahkan ratusan lagu lain yang menemani perjalanan 2015 saya, Namun lantaran aturan utama dari 2015 mixtape adalah kudu berasal dari tahun 2015 maka beginilah, sekurangnya sepuluh lagu teranyar di playlist harian saya.

Daaaaan, mixtapenya bisa dinikmati di sinih.