Resolusi 27

Sepanjang ingatan, 27 adalah usia terjauh yang pernah saya khayalkan semasa remaja dulu. Saya pernah membayangkan bagaimana hidup seharusnya saat usia 17; satu bulan setelah lulus SMA. Khayalan saya purna: menikah dan beranak pinak sebelum usia 25. Agak menggelikan rasanya jika mengingat betapa yakinnya saya atas hal tersebut. Delusional, indeed.

random thoughts – for the benefit of mr kite (1)
Tulisan dari entry tahun 2009

Akhir tahun hingga menjelang pergantian umur adalah waktu favorit saya untuk membaca ulang blog yang sudah menjadi media curhat 10 tahun belakangan ini. Melihat perspektif saya terhadap berbagai hal dan bagaimana ia perlahan berubah ke arah yang menurut saya lebih baik. Pandangan atas politik, atas dogma, atas nilai nilai dalam hidup. Saya juga merasakan kembali semua resah, gundah, kebimbangan dan ketidaktahuan sebelum akhirnya saya menjadi saya yang sekarang.

random thoughts – for the benefit of mr kite
Pada sebuah entry di tahun 2011 saya menemukan tulisan ini.

Di tahun itu saya berusia 19, baru saja selesai merayakan keriuhan Jakarta setelah 1 tahun lamanya berproses dengan orang orang hebat dalam pekerjaan paling keren yang pernah saya punya. That 19 years old Nani still shares the same perspective about marriage. Bahkan saat menjejak usia 27 sekarang, saya masih membayangkan diri saya travelling sendirian di kota dan negara asing instead of membacakan The Little Prince sebelum anak saya tidur.

Mungkin saya terlalu berlebihan dalam memandang masa depan, terlalu spesifik dan dramatis dalam memaknai sebuah khayalan. Saya lupa kapan tepatnya, mungkin setahun belakangan saat sedang banyak berproses di dalam karena satu-dua (atau tepatnya – beberapa belas) kejadian tidak mengenakkan di tahun tahun sebelumnya, saya berhenti berkhayal soal masa depan. Saya juga merelakan impian impian masa kecil – remaja – awal 20an yang tidak kesampaian. Jika sampai detik ini saya tidak berhasil menjadi penulis, ya sudah tidak apa apa.

Sejak Desember sesekali saya mulai membayangkan resolusi apa yang akan saya tulis untuk 2019. Perkara resolusi resolusian ini telah menjadi ritual tahunan selama satu dekade. Sepanjang rentang 10 tahun kemarin saya melihat sendiri bagaimana resolusi dan bucket list itu menjadi kenyataan. Setiap entry berjudul Resolusi 17, 18, 19 … dst akan menjadi review terhadap resolusi tahun sebelumnya, untuk kemudian saya tuliskan kembali harapan harapan baru yang taelah saya sampe merinding gini melihat bagaimana mereka bisa kejadian meski beberapa di antaranya terdengar tidak masuk akal. 

Di resolusi 21 misalnya saat saya menulis ingin menjadi anchor televisi, FYI saya gendut dan tidak cantik jangankan di kamera TV yang resolusinya 4K, di kamera tustel saja saya ga enak dilihat. Namun kemudian di usia 22 out of the blue saya melamar sebagai creative program di TV lokal dan menjadi host untuk beberapa talkshow bahkan talent iklan (warga Sampit yang traumatize dengan saya yang muncul setiap malam dan Jumat sore, maaf :’)) Dan beberapa perkara random yang saya nobatkan sebagai resolusi dan kejadian dengan cara yang menurut saya pada saat itu: mejik. 

Karena sudah dilakoni sepuluh tahun, diam diam persepsi ini menjadi paradigma yang baru saya sadari keberadaannya setahun belakangan. Turning pointnya adalah buku Neil DeGrasse Tyson – Astrophysics for People in a Hurry. Saya mulai merenung soal kalimat quotable beliau bahwa we’re made from stardust atau we’re not special because our existence consist with the same ingredients with other 7 billions human being. Kontemplasi yang kemudian berujung dengan “Damn, I must’ve been an annoying bitch for the past 10 years”

Terbiasa dengan pemikiran bahwa saya spesial membuat saya merasa entitled pada banyak hal. Saya berpikir bahwa mejik demi mejik yang terjadi dalam hidup adalah buah dari kespesialan itu. Saya merasa lebih baik, lebih pintar, lebih free-thinking, lebih liberal, lebih enlighted, lebih berpengalaman dibanding orang lain karena masa kecil dan latar keluarga saya begitu sulit dan melarat.

Dalam perjalanannya saya mulai mencari afirmasi dan pujian. And become obsessed with being smarty pants snob holier – than – thou. Dalam banyak momen saya mendapatkan pujian yang saya mau. Disebut prodigy, old soul, bijaksana, pintar, dan sematan serupa dari orang orang yang saya pandang hebat dan keren.

But here’s the dark side of feeding your ego : Ga akan pernah cukup.

Perasaan selalu merasa kurang ini berimbas pada banyak sekali self-harm bodoh cenderung pointless. Saya jadi paranoia terhadap penolakan di social circle, pekerjaan, orang yang disuka dan seterusnya. Gemanya akan membesar saat saya mengalami penolakan untuk alasan yang bahkan (mungkin) tidak ada hubungannya dengan apa yang saya rasa kurang. Merasa kurang kurus membuat saya beberapa kali pingsan karena diet ketat yang salah. Merasa kurang pintar membuat saya melahap belasan buku soal sains dan fisika dalam hitungan minggu. Merasa kurang sexually appealing membuat saya bertualang ke banyak kota dan negara hanya untuk memenuhi pernyataan bahwa saya desirable.

Semuanya hanya demi penerimaan. Acceptance.

Buku Mark Manson juga banyak memandu saya untuk membenahi perspektif ini. Beliau melalui bukunya menjelaskan banyak soal merasa spesial dan menjadi entitled karenanya. I’m not an unique snowflakes and it’s okay. 

Perubahannya baru benar benar terasa saat kemarin saya kembali bertemu dengan orang pernah saya cari afirmasinya beberapa tahun lalu. Dulu saat saya tertarik dengannya, saya membuat mental note soal apa saja yang ia suka dan bermalam malam melakukan riset atas hal tersebut. Buku buku kesukaannya, lagu yang ia dengarkan, makanan yang ia sukai semua saya cari dan pahami agar saat berbicara dengannya saya tidak terlihat bodoh. Tujuannya sederhana, agar keberadaan saya diakui, agar saya menjadi signifikan karena telah menonjol melalui kesejajaran dalam berdiskusi.

FAKLAH NO WONDER JOMBLO MULU PERKARA NAKSIR AJA DIBIKIN SERUMIT INI

Afirmasi itu tidak pernah saya dapatkan dan menjadi satu dari beberapa hal yang masuk dalam black hole shouganai pasca momentum Neil DeGrasse Tyson tadi. Kemudian setelah Desember kemarin kembali bertemu, ternyata ada perubahan yang terjadi. Saya mengatakan/melakukan apapun tanpa membawa misi ingin diakui. Tidak ada overthinking, tidak ada kontemplasi mendadak, tidak ada lagi tendensi ingin disebut pintar disebut cantik disebut menarik. Saya bisa dengan santainya mengatakan “Ga tau, apa itu?” atas konsep/istilah/judul/penulis/penyanyi yang memang tidak saya tau tanpa khawatir dikira bodoh :’))

Mungkin baginya saya tidak banyak berubah dan masih sama seperti bertahun silam, but it doesn’t matter for me anymore. Karena saya telah berhenti berasumsi atas hal yang tidak saya tau dan hanya fokus kepada yang saya pahami. Saya berhenti menduga duga perasaan atau pendapat orang terhadap saya dan hanya memikirkan bagaimana perasaan saya terhadap diri sendiri. Senang – tidak senang, nyaman – tidak nyaman, bahagia – tidak bahagia.

49663016_2307083499315292_1452483417529647104_n
Kaget juga melihat tulisan remeh begini sampe diretweet 1,500 kali di Twitter

Menjejak usia 27, saya meneruskan ritual hari ulang tahun ini dengan menuliskan paradigma ketimbang resolusi.

Kelak dalam perjalanannya apapun bentuk pencapaian, milestones, mejik, pengalaman dan orang orang baru yang saya alami/temui, mereka akan menjadi hal menyenangkan untuk dinikmati tanpa harus ditargetkan dan dijadikan harapan. Saya cukup dengan diri sendiri dan apapun yang terjadi di luar itu adalah physical matter yang tidak akan mengurangi maupun menambah nilai eksistensi saya sebagai a speck of stardust in this vast universe.

Seperti tujuh milyar warga bumi lainnya, saya tidak spesial. Saya tidak lebih dan juga tidak kurang dari orang lain. Saya tidak berhutang penjelasan apapun kepada siapapun sebab ya itu tadi, pada akhirnya saya hanya punya diri sendiri.

Ini akan terdengar seperti guidance yang suram jika dilihat dari perspektif : saya terkesan menolak untuk berkongsi dengan orang lain dalam menjalani kehidupan. Namun paradigma ini membantu banyak sebagai coping mechanism saat saya teringat betapa menyakitkannya emotional damage yang saya alami saat menggantungkan eksistensialisme pada afirmasi manusia lain. Pada nervous breakdown setiap kali saya merasakan penolakan. Pada kenangan buruk dan hal hal yang seharusnya bisa saya perbaiki di masa lalu. All of those what if, should’ve, could’ve, must’ve.

Jadi, mari menjalani usia 27 dengan sikap shouganai dan lebih menyayangi diri sendiri!

 

 

 

Sampit, 10 Januari 2019

Hidup tidak semestinya dimaknai dengan kejam

Advertisements

Liebster Award Nomination

Menemukan challenge berantai seperti ini seketika melemparkan saya ke 10 tahun silam, saat menulis blog adalah hobi semua orang dan tempat ini lebih ramai dari pasar malam. Sekarang tentu saja ia telah beralih platform menjadi Facebook, Instagram dan Twitter. Namun hingga saat ini blog masih menjadi favorit saya untuk menuangkan isi kepala. Dan karena ia sudah tidak seramai dulu, saya jauh lebih nyaman untuk berbicara tanpa keinginan untuk menggugah, menginspirasi lebih lebih mencitrakan diri di sini.

Mbak Maya menyertakan saya di antara 11 blogger lain untuk mengikuti Liebster Award Nomination ini (lebih lengkap ada dalam entry beliau yang ini) dan saya tertarik untuk ikut meramaikan karena itu tadi, atas nama nostalgia hahaha.

Berikut jawaban saya untuk 11 pertanyaan dari Mbak Maya:

Question for my fellow bloggers:

  1. your blog in 3 words, are? Media curhat, review buku dan jalan jalan
  2. your favorite author? Saat ini masih ditempati Haruki Murakami
  3. how many times did you re-read your writing? in a good day, 2-3 kali.
  4. when you write, do you lock yourself in a room? I don’t need to, I’m living alone
  5. your favorite books? Cantik Itu Luka, Sputnik Sweetheart, The Redeemer, One Hundred Years of Solitude (by far)
  6. what is your favorite stationary items? my lovely meal plan journal
  7. any other hobbies else than writing? Memasak dan menghitung kalori (by far)
  8. what kind of things that must be there or accompanying you when you write? my imaginary friend
  9. what is a writer’s block to you? rasa nyaman
  10. most anticipated guest to be at your house right now? basically anyone. Why? I’m still in this house warming euforia, baru pindahan~
  11. where would you want to be, the beach or the mountain? beach for sure. Di bawah sinar rembulan. Sambil berpegangan tangan :’)

Random 11 fact about me:

  1. I had this weird allergy toward perekat. Lakban, plester luka, koyo akan menimbulkan ruam dan gatal gatal yang berujung dengan bekas luka. I can’t recall when the last time I had kulit mulus tanpa bekas luka.
  2. I read comic books in a speed of light
  3. Lebih suka nonton teater/monolog/designated seating music show dibanding konser karena suka mendadak panik kalau berada di tengah orang banyak yang teriak teriak
  4. Meski sudah 10 tahun bekerja di bidang komunikasi (jurnalis, penyiar radio, penyiar TV, publicist dan sekarang humas – CSR) lidahku suka mendadak kelu kalau kenalan sama orang baru~
  5. Punya teman diskusi imajiner
  6. Sering dikira melucu padahal murni bodoh. Pernah mengira sapioseksual adalah sebutan untuk orang dengan fetish terhadap sapi.
  7. Pernah masuk UGD karena makan Momogi rasa keju 4 kotak isi 20
  8. Kalau latah nyebutnya ayam aku merasa seperti komedian program TV pagi hari yang tidak lucu 😦
  9. Agus Kuncoro adalah segalanya
  10. Hopeless romantic
  11. Lebih takut film sedih daripada film horor

Saya seharusnya mendampuk 11 blogger lain untuk menuliskan hal serupa di atas tapi saya ga bisa menemukan 11 laman blog milik kawan yang cukup dekat untuk meneruskan pesan ini. Jadi ya, biarlah berhenti di saya hehe.

***

Oh, kemarin saat menuliskan kaleidoskop 2018 di pertengahan bulan Desember, saya sama sekali tidak memiliki rencana akan ke mana pada saat tahun baru. Saya sudah menyusun janji mabar dengan rekan rekan sepermainan PUBG dan membeli banyak sekali cemilan sebagai kawan nonton Netflix untuk melewati tahun baru dan libur panjang di dalamnya.

Ndilalah, saya berangkat ke Bali pada 28 Desember dengan keputusan diambil tepat dua hari sebelumnya sebab apalah artinya usia muda jika impulsif tidak menjadi sifat utama. Menghabiskan seminggu dengan makanan enak, obrolan dan diskusi tidak berkesudahan. Untuk sekedar berpendapat dan mengungkapkan hal hal yang tidak pernah berani saya katakan di lingkaran sosial di Sampit atas nama decency dan memaklumi. Begitulah, tahun baru 2019 saya lewati dengan tipsy berkat 3 gelas wine dan riuhnya hitung mundur di antara kembang api pantai Canggu.

Sampit, 4 Januari 2019

2018, Wrapped

Tahun lalu saat menuliskan ini saya sedang berada dalam fase gemar jalan jalan. Lebih dari belasan kali saya bepergian untuk liburan. Yang mana sebagai mbak mbak kantoran biasa tanpa pressure untuk engagement dan mengelola konten media sosial (hal ini satu satunya alasan yang terlintas di kepala saya soal kenapa seseorang sering jalan jalan selain karena kaya raya tentu saja) jumlah belasan itu terasa banyak. Beruntung pekerjaan kali ini jam kerja dan hak cutinya cukup jelas sehingga saya bisa mengatur jadwal jalan jalan dengan baik.

Karena perkara bepergian ini sekadar fase, lama lama ia pudar dengan sendirinya. Di tahun ini saya tidak terlalu bersemangat ketika mendapat ajakan berlibur. Sejak awal tahun saya sudah menolak ajakan ke Derawan, Banda Neira dan terakhir ke Korea dan Hong Kong karena somehow saya tidak berselera. Di benak saya hanya terbayang keribetan packing, rusuh di Bandara dan mencari nanny untuk Bambang selama ditinggal. Tapi mungkin 80 persen alasannya lebih kepada karena saya mizkin saja hahaha.

Januari memiliki highlight berupa pergi ke Kuala Lumpur selama lima hari untuk menghadiahi diri sendiri nonton konser Fleet Foxes di KLCC. Bulan ini juga menjadi penanda dimulainya hobi baru berupa meal prep. 26071306_2016191691952402_1526895778927214592_n (1)Pertengahan Februari saya mengambil paket tour ke Sumba, Nusa Tenggara Timur selama 6 hari. Bulan ini juga lagi booming film Marlina, Pembunuh dalam Empat Babak dan Susah Sinyal yang mengambil lokasi syuting di Sumba. Penasaran dengan sekeren apa Pantai Walakiri dan Weekuri sayapun berangkat bersama 4 kawan lain dalam private tour. Ternyata memang bagus banget, review lengkapnya di sini.

DSC00100

Maret.. di akhir bulan saya pergi ke Banjarmasin untuk pertama kalinya. Selama tiga hari di sana yang saya lakukan hanya tidur – makan – shopping kaya orang kebanyakan duit karena memang tidak banyak yang bisa dilakukan di Banjarmasin dalam waktu tiga hari kecuali wisata kuliner. Saya juga ingat betul Maret adalah bulan di mana saya agak terobsesi dengan channel YouTube Kurzgesagt – In a Nutshell. Kesembilanpuluh (terhitung hingga hari ini 17/12) video mereka saya tonton berulang ulang setiap malam sebelum tidur. Penjelasannya runut dan grafiknya menarik. Saya juga menyukai bagaimana mereka membuat hal se-njelimet String Theory menjadi sesederhana 1+1=2.

Di bulan April ada beberapa minggu di dalamnya yang penuh perenungan. Pertama karena Farida resign dan saya kehilangan rekan kerja yang sama gilanya di kantor. Kedua, berhentinya Rida dari kantor membuat saya merasa tidak enak untuk ‘numpang’ kontrakan yang telah kami tinggali selama setahun belakangan, ditambah kontrak tahunannya habis di bulan ini. Ketiga, sejak Februari saya mendapat surat peringatan dari KPR-BTN untuk menempati bangunan perumahan yang saya kredit sejak 4 tahun silam. Intinya jika lebih dari 5 tahun bangunan tidak ditempati akan dikenakan sanksi berupa perubahan skema pembayaran dari subsidi menjadi non-subsidi. Saya kira ini hanya bluffing ternyata tetangga depan rumah betulan harus membayar dari cicilan 950 ribu sebulan menjadi 1,4 juta sebulan.

Akhirnya di bulan Mei, bertepatan dengan minggu kedua bulan puasa saya akhirnya pindah. Perpindahan kali ini lebih terasa seperti eksodus karena lokasinya cukup jauh dari kota. Kurang lebih 7 kilometer. Delapan jika dihitung hingga depan rumah. Lokasi perumahan yang jauh ini sedikit banyak membawa perubahan dalam kebiasaan sehari hari saya. Perubahan yang (untungnya) lebih sehat dan hemat. Saya tidak bisa lagi pesan makanan menggunakan ojek online karena satu trip pengantaran ongkosnya 60-75 ribu, padahal dulu waktu rumah masih di tengah kota sehari bisa 3 kali menggunakan ojek online ini. Apapun yang saya mau makan, tinggal pesan dan satu jam kemudian sampai.

36113480_851551645039588_7494619598243758080_n.jpg

Juni, saya memulai hobi baru (lagi). Kali ini karena terdesak keadaan, saya mulai rajin memasak dan membawa bekal. Ditambah setelah kurang lebih satu bulan merasakan capeknya naik motor sejauh 8 kilometer sekali jalan dan berpapasan dengan truk setiap hari, saya memutuskan untuk mulai mengumpulkan uang untuk uang muka mobil. Setiap hari setidaknya seratus ribu bisa saya hemat karena meal prep ini.

Hingga minggu pertama bulan Juli saya gundah gulana karena kebelet ingin punya mobil. I might sounds like a whiny bitch because there’s a lot of people drive their motorbike for a solid hour or even more in order to go to work. Tapi karena bayangan mati tersambar truk saat naik motor menghantui pikiran saya setiap hari, keputusan untuk mencicil mobil akhirnya bulat juga. Setelah berlapang dada merelakan tabungan untuk ke Murmanks, Rusia di akhir tahun terpakai, ditambah bonus lebaran dan hasil berhemat via meal prep saya akhirnya mengambil Mobilio hitam dengan cicilan empat setengah tahun ke depan. Untungnya dengan uang muka yang cukup besar, cicilan bulanannya tidak sebegitu menyakitkan. Yha setidaknya saya masih bisa makan dengan baik dan nonton bioskop walaupun perkara liburan menjadi hal yang mustahil untuk sementara waktu. Sediy~~

Agustus Amel menikah! Untuk pertama kalinya saya pergi ke luar kota setelah kurang dari sebulan ‘bisa’ nyetir karena resepsi Amel di Pangkalanbun. Ini mungkin pertama kali sekaligus terakhir (setidaknya untuk tahun ini) karena ternyata nyetir jauh itu capek sodara sodara. Bulan ini saya kembali dapat tugas untuk berkeliling kebun di Region lain. Kali ini dalam rangka pembuatan video profile KLK Region Kalimantan Timur. Selama 10 hari terhitung sejak tanggal 11 hingga 23 Agustus saya hopping dari satu kebun ke kebun lain tanpa sinyal internet dan telepon sama sekali. Dua hari di ujung visit saya pergi ke kebun terjauh kami –6 jam perjalanan darat– dan menyempatkan untuk singgah ke Labuan Cermin.

Di bulan September saya addicted memainkan PUBG. Sampai sekarang saya masih bermain sesekali tapi tidak segila di bulan September. Saya mulai bermain di akhir season 2 – awal season 3 yang di kedua seasonnya saya push rank tiap hari dan berhasil naik menjadi Ace. Selain PUBG, saya juga memulai kebiasaan baru : Herbalife. Tepatnya sejak 11 September silam saya rutin mengganti sarapan dengan produk ini. Dengan tujuan ingin kurus tentu saja. Ini kali kedua saya ikut program herbalife sebenarnya, hanya saja kali ini saya jauh lebih mengerti soal how my body works dan apa yang dibutuhkan oleh tubuh. Hingga akhir September, saya berhasil menurunkan 5 kilogram dari berat awal.

44924586_2139487512781083_3048575720124472621_n.jpgYang saya ingat tentang bulan Oktober hanya satu : DIET. Bulan ini adalah bulan euforia karena saya ”akhirnya” sukses menurunkan berat badan dengan cepat dan tidak menyakitkan. Saya apply membership Health Club dan ngegym/berenang nyaris setiap hari dengan durasi 30-60 menit.

Gaya hidup yang jelek sepanjang 2016 – 2017 berimbas kepada tidak hanya berat badan yang bertambah hingga lebih 10 kilo, tapi juga menurunnya ketahanan tubuh. Saya gampang flu, cepat lelah dan sedikit2 merasa sedih.

Di bulan ini saya mulai merasakan perubahan yang lumayan. Dari yang dulu baru jalan dikit saja sudah ngos-ngosan, kini sudah bisa lari dengan konsisten hingga 5-6 menit. Dari yang 5 lap berenang sudah mau habis nafas jadi tahan 20-30 lap.

Yang paling menyenangkan, tentu saja karena reward dari konsistensi ini terasa. Baju mulai longgar dan beberapa kaos kesukaan akhirnya muat lagi. Di akhir Oktober, saya turun 10 kilo dalam waktu 1,5 bulan.

Di bulan Nopember saya masih diet tapi dengan ritme yang lebih pelan. Mungkin karena bosan kali ya, cheating day saya jadi lebih banyak dan olahraga mulai jarang. Saya tetap on track tapi pace-nya tidak secepat dua bulan sebelumnya. Karena tujuannya adalah membiasakan diri untuk makan maksimal 1,300 kalori sehari. Saya bisa dan sanggup defisit hingga 1,000 kalori sehari (yang kalau dilakoni konsisten selama 7 hari menjadi jaminan turun berat badan hingga 2 kilogram) dengan hanya makan shake herbalife untuk sarapan, satu potong tahu kukus untuk makan siang dan Promag untuk makan malam. Tapi hell no, saya ga mau begitu terus terusan. Oh di bulan ini saya juga menggagas beberapa gig sastra dan budaya bersama anak anak Cangkir Tua. Menyenangkan rasanya kembali ‘membangkitkan’ roh anak indie yang sudah terpendam bertahun tahun lamanya.

Desember baru menjejak hari kedelapanbelas. Di bulan ini highlightnya adalah ingin ke Korea tapi gagal (ternyata keburu full seat) dan operasi gigi geraham bungsu sebelah kanan. Sisanya hanya kegundahan kegundahan sepele soal ingin tahun baruan ke mana yang saya curiga akan berakhir dengan main game hingga subuh, just like another weekend hahaha.

Saya rasa 2018 saya cukup shallow. Tidak ada kejadian menggemparkan, tidak ada roller coaster perasaan. Awal tahun saya sempat dekat dengan F yang saya kenal saat di Jakarta. namun setelah dua bulan intens ngobrol, video call dan chatting kami memutuskan there’s no possible way this relationship would work. Dia harus balik ke Ankara – Turki sehingga waktu ngobrol kami either delay di saya atau dia selama 5 jam. Lagipula tidak ada yang menyenangkan dari LDR, I’ve learn it in a hard way.

Tapi jujur, saya menyukai ritme hidup yang seperti ini. Meski beberapa kali saat dandan di pagi hari saya membayangkan diri saya seperti Walter Mitty di the Secret Life of Walter Mitty yang monoton – rutin – mundane –  biasa aja. Mungkin karena beberapa tahun di awal usia 20an saya separo mampus jungkir balik berurusan dengan urusan pekerjaan, keluarga dan romansa kali ya. Kalau usia 20-24 tahun saya kemarin dibikin kaleidoscope seperti ini, panjangnya mungkin bakal lebih dari 100 halaman. Setiap bulan, hell, setiap minggu di tahun tahun itu saya mengalami krisis. Adaaaaa aja masalah yang kayaknya ga akan tuntas tuntas.

Saya rasa agak congkak jika menyebutkan saya sudah settle sekarang karena siapa yang tau apa yang akan terjadi besok. Saya bisa saja di-PHK, atau cacat, atau sakit, atau basically anything could happen dan mengubah state settle saya menjadi jungkir balik kembali. Kurang dari sebulan saya akan menjejak usia baru, 27. When people says time flies I used to -Pffft-ing them because they had no idea how hard it is for me to get by even just for a day. Now I kind of get it, it feels like I just graduated high school yesterday yet it’s already 10 years behind. I still felt the same pain on my heart like the day my mother died although she’s already passed for almost 4 years. Some memories are so vivid, linger and had all painful details. 

Dan terasa seperti baru saja terjadi kemarin.

 

Sampit, 18 Desember 2018

Perubahan Adalah Kutukan (?)

Kita harus memaklumi kegemaran orang orang tua dalam bernostalgia. Dalam setiap kesempatan berbicara dengan seseorang yang jauh lebih tua dari saya, saya selalu meminta mereka untuk menceritakan zaman yang sudah lewat and oh boy they love it. Karena perubahan niscaya terjadi dan ia kian cepat berotasi dari masa ke masa. Di abad 18 mungkin butuh 20-30 tahun rentang masa dari satu penemuan berevolusi menjadi penemuan yang lebih mutakhir. Sementara saat ini, hanya butuh 5 tahun bergerak dari Java dan Symbian menuju Android dan IOS. Hanya butuh 2 tahun untuk sebuah handphone bergerak dari waterproof menjadi water resistant.

Karenanya mereka yang di tahun ini berusia 30an namun masih mencoba signifikan dengan mengikuti setiap tren terbaru akan kewalahan dan semakin merasa berjarak pada setiap tren baru yang muncul. Saya sendiri 26 tahun dan sudah tidak bisa merasa relate semenjak era Snapchat. IG Story, Tik Tok dan segala platform media sosial yang hype sudah terasa jauh berjarak dari saya. Di rentang usia dari nol ke 26 saja, saya mengalami beberapa fase perubahan yang menggugat nostalgia sekali-dua.

Seperti masa di mana untuk mengakses internet saja membutuhkan perjuangan yang hakiki. Untuk sekadar download gambar dengan satuan belasan kilobyte memakan waktu bermenit menit. Atau penghiburan paling menarik di internet adalah ketika mengunduh mp3 menjadi perkara yang bisa dilakukan (dan sederet situs porno ber-bandwidth rendah seperti DS dan Lalatx tentu saja)

Kala itu, meski internet dan teknologi sudah merangsek sedemikian canggihnya, kebersamaan masih bisa diraih melalui tukar menukar hardisk dan salin menyalin hasil unduhan ilegal film film terbaru. Atau ngumpul bareng di lokasi ber-wifi kencang (yang saat itu sangat jarang) dan menaruh segenap harap pada Internet Download Manager untuk kemudian berbincang hingga unduhan selesai. Di era itu, saya masih bisa relate.

Tak sampai sepuluh tahun selepasnya, saya berada di sebuah tongkrongan dengan 6 orang lain sibuk bermain dengan gadgetnya masing masing. Sekali-dua saya diajak foto selfie berdua atau foto group dengan senyum dibuat buat seolah we’re having the best time of our life karena sejurus kemudian muncullah foto tersebut di Instagram dengan caption serupa : Having a fun time with besties. Hal tersebut terjadi beberapa kali dan saya jengah, sebab kalau hanya untuk sibuk sendiri saya lebih suka ke cafe sendirian untuk dowload film sambil membaca buku. Melakukan hal sunyi seperti itu sendirian terasa lebih masuk akal daripada diam berjamaah.

Pemandangan menggelikan itupun pada akhirnya menjadi sebuah kemahfuman. Orang orang berkumpul dalam kelompok namun masing masing menelan kesunyian. Yang suka mati gaya karena tidak suka berlama lama menatap layar gadget seperti saya akan tersisih. Karena jengah, karena risih, karena mati gaya dan akhirnya memilih ngapa ngapain enaknya sendirian hahaha.

when everybody tried to be a special snowflake

Maka begitulah, bagaimana perubahan dapat menjadi kutukan. Mungkin ini yang dulu dirasakan oleh pendahulu kita saat melihat roda ditemukan dan orang orang mulai meninggalkan keseruan jalan kaki bersama sama. Saat mesin uap diciptakan dan revolusi teknologi didengungkan dan orang orang mulai lupa value segala hal yang dilakukan secara manual.

Tapi hey, setiap aksi akan menemukan reaksi. Bukannya seiring dengan kesunyian perubahan ini diiringi dengan nyaringnya gaung soal off grid and technology detox. Sebab setiap kita sebenarnya perlu istirahat dari perubahan. Jika yang lain melakoninya dengan seminggu penuh berkemah tanpa gadget dan mesin apapun, saya punya detox saya sendiri bernama nostalgia.

 

Sampit, 22 Juni 2018

Ini sudah hari ketiga hujan kelewat deras turun di pertengahan malam.

Yang Bikin Bodoh Itu Kurang Baca, Bukan Micin

Yang paling mengganggu saat berselancar di dunia maya adalah masih saja menemukan orang orang yang melakukan hal ini:

Tapi ketika yang beginian muncul, saya biasanya hanya tertawa dan membatin “Goblooo” sambil lalu. Herannya, meski sudah setengah mati screening pertemanan tapi tetap saja hal hal begini melintas di timeline Facebook. Bagi saya, like dan amin begini harmless. Nyampah tentu saja, apalagi kalau ternyata entry yang diserbu adalah clickbait atau monetized post tapi ya udahlah, toh saya berada di area yang tegas terkait memperbolehkan adik menghabiskan siang malamnya untuk looting sen demi sen dari flooding adsense. Yang ‘terjebak’ ngasih duit ke empunya hajatan ya siapa suruh sampah begitu diklik.

Sama seperti entry entry “Ketik Amin”, terlepas dari perdebatan ustadz ustadz soal boleh-tidaknya, kata “Amin” dalam kehidupan nyata memang telah digunakan secara foya foya sehingga apa bedanya dengan mengetiknya di sosial media (kecuali annoying dan nyampah, tentu saja. Tapi merasa annoyed adalah masalah saya, bukan hutang siapa siapa) dan kembali lagi, kalau terjebak monetized post maka yang goblo sebenarnya siapaaa?

Yang membodohi lagi menyesatkan serta meresahkan hingga urgensi untuk menuliskannya di blog ini adalah kebiasaan meng-copy paste/share hoax. Dan ini berbahaya karena sejarah telah mencatat ratusan kejadian dan puluhan ribu kematian sia sia karena berawal dari kabar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Dulu ketika menjadi jurnalis, setiap pagi saya panas dingin membaca berita yang saya tulis. Saya senantiasa kuatir jika berita saya tidak benar dan tidak cukup cover both side. Di bulan bulan terakhir saya bahkan sengaja menghindar menulis berita berita bombastis yang berpotensi masuk halaman utama. Saya lebih banyak mencari ide untuk berita feature yang menyenangkan semua pihak (mungkin ini juga yang akhirnya menyadarkan bahwa saya tidak berbakat menjadi jurnalis hahaha)

Kekhawatiran itu menghantui saya hingga susah tidur padahal koran kami hanya dicetak tiga ribu eksemplar dengan probabilitas orang membaca berita saya di sudut bawah halaman tengah hitam putih pastilah sangat kecil. Beruntung hingga akhir masa kejurnalisan, saya tidak mendapat kendala berarti terkait hal ini.

Sekarang bayangkan seseorang dengan follower ratusan ribu hingga jutaan, setiap hari menulis kebencian dan menyebar tidak hanya fitnah namun juga hoax. Berita bohong. Iya saya berbicara soal Jonru. Sejak setahun terakhir saya mengenal nama ini dan sesekali memantau Facebook Pagenya yang luar biasa sampah itu. Awalnya saya biasa saja sebab alam memang membutuhkan orang orang seperti Jonru untuk menjaga keseimbangannya. Toh hanya satu orang saja, dan saya hanya perlu menutup aplikasi Facebook agar tidak lagi merasa terganggu.

Namun waktu berlalu dan makin banyak undangan group yang saat saya bergabung di dalamnya, kok Jonrunya makin banyak. Makin sering saya menemukan tulisan tulisan Jonru dan yang sejenis Jonru di sekitar saya. Kalau hoax masih bisa disikapi dengan kebijaksanaan berupa buka Google dan verifikasi beritanya, menghadapi ujaran kebencian membutuhkan kebijaksanaan mental yang lebih kompleks. Kita harus memiliki keterbukaan pikiran, toleransi yang tinggi dan kelapangan jiwa untuk bisa menelan kenyataan bahwa ada jutaan orang yang tiap tiap individu itu memiliki kemungkinan terhasut dan turut menjadi.

Kebencian yang tidak rasional terhadap Jokowi

Cina akan menginvasi Indonesia dan mengganti ideologi negara ini menjadi Komunisme

Anti vaksin (yang menariknya jika di luar negeri gerakan anti vaksin ini karena mereka curiga pemerintah melalui industri obat obatan ingin meracuni anak anak mereka atau karena tergabung dalam cult of being as nature as possible will heal your miserable soul, di Indonesia vaksin ditolak karena Amerika menyusupkan gelatin Babi ke dalam vaksin untuk mengkafirkan bayi bayi muslim. Yeah, it really happens.

Gempa terjadi karena makin banyak orang pro LGBT

Yahudi antek Amerika akan memusnahkan umat Islam

Konten konten bertema demikian biasanya dimulai dengan sederet panjang dikabarkan dari (insert a shady news biro) yang melakukan investigasi di (insert a stranded city of nowhere) dan mendapat informasi dari agen rahasia (what? MI6? Mossad? BIN? apa?) lalu disusul a poorly written (some sort of) news dan diakhiri dengan seruan agar umat Islam bersatu dan ujung ujungnya memboikot sesuatu.

Dan kita masih saja menuding micin sebagai sumber kebodohan.

Membaca adalah solusi untuk kebodohan yang sia sia ini. Baca buku buku yang bagus, berita berita dari saluran yang kredibel; tonton berita di televisi karena sekurangnya masih dikawal oleh KPI bukan dari channel Youtube yang sumber beritanya dari opini content creatornya. Bangun perspektifmu sendiri, uji dengan verifikasi dan buka pikiran (serta kelapangan hati) untuk menerima perubahan atas perspektif itu. Saya tidak pernah malu jika perspektif saya sekarang berbeda dengan beberapa tahun lalu sebab saya tau seberapa banyak buku yang saya baca, berapa banyak individu baru yang saya temui, kejadian yang terjadi selama rentang waktu itu.

Lagipula sudah 2018 masa masih meminjam opini orang?

 

 

Resolusi 26

Delay posting 2 minggu karena sibuk bolak balik toilet gara gara muntaber bedebah~

Here I am, menjadi 26. Setelah dari awal Januari mencari cari soal apa saja yang saya inginkan dan tidak menemukan banyak hal. Bukan ingin sok having a content grateful life tentu saja tidak saya masih iri dengan yang bisa makan bakso tiap hari tapi badannya tetap kayak barbie. Tapi seiring dengan bertambahnya buku yang saya baca, tempat yang saya kunjungi dan diskusi tak habis habis soal jagad raya dan seisinya, saya mungkin kehabisan mimpi karena satu per satu telah terpenuhi. Agar perputaran hidup tetap sip, maka mari menemukan mimpi mimpi baru!

Review resolusi 25, waktu itu saya menulis:

  • Membaca 50 buku
    • Saya menamatkan 52 buku di usia ini, not bad.
  • Menyelesaikan renovasi rumah pribadi
    • Mengurus instalasi listrik dan air serta menambah dapur. Meski tidak ditempati tapi rumah tersebut sudah dikontrakkan jadi satu tanggungan hutang dicoret karena sudah bisa muter sendiri
  • Pergi ke luar negeri setidaknya satu kali
    • Seminggu di Jepang pada November 12 kyaaa~
  • Nonton AriReda lagi
    • AriReda rilis album Suara Dari Jauh pada 23 Maret di Gedung Kesenian Jakarta dan saya duduk manis di baris kedua dari depan 🙂
  • Makin jago renang dan yoga
    • AKHIRNYA BISA BERENANG! setelah sepanjang empat bulan akhir di 2016 latihan berenang seminggu 3 kali, Februari 2017 sudah berani nyebur di laut bebas tanpa pelampung, berenang bersama Pari Manta (dan kesetrum ubur ubur) di laut Labuan Bajo.
  • Tinggal di Bali
    • Belum, masih pitching sesekali 
  • Dan tentu saja, masih New York!

Tahun lalu saat menuliskan resolusi ini saya sedang merindukan Bali dengan teramat sangat. Sepanjang 2016 saya 3 kali ke Bali dalam rangka menuntaskan rindu itu yang berujung dengan keinginan untuk tinggal di sana. Setelah pulang dari Jepang juga sama, saya mengalami demam dadakan dan ingin tinggal di Jepang. Hingga akhirnya sadar bahwa no place is home until you settling your nest and call it home. Setelahnya semua demam demam dadakan itu reda, 25 tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk menyebut di sinilah rumah saya sekarang. No more denial baby~

Resolusi 26:

  1. Menjadikan meal prep sebagai gaya hidup
  2. Lebih ramah kepada lingkungan
  3. Pergi ke luar negeri setidaknya satu kali
  4. Membaca 50 buku
  5. Nonton konser bagus
  6. (Masih) New York

Finger crossed!

2017, Wrapped

Ini adalah tahun kedelapan saya tuliskan resolusi tahun baru sekaligus ulang tahun dalam label Resolusi {insert current age}. Tahun ini adalah giliran Resolusi 26 meski rasanya baru kemarin saya menuliskan Resolusi 18 dan saat itu saya menulis begini:

Saya hanya akan bekerja jika pekerjaan itu mampu bersinergi dengan ideologi saya (saya tau ini terdengar sangat sangat super sombong)
Well, saya rasa ini salah satu dari resolusi ulang tahun yang mampu saya penuhi. Ideologi saya sebenarnya tidak muluk, saya hanya ingin pekerjaan yang tidak terpaku hanya pada satu space. Tidak hanya diam, menunggu tanggal gajian lalu berulang sampai tahun berlalu tanpa terasa lantas saya jadi tua dan kalang kabut nyari jodoh 😀
Sekarang saya menjejak tahun ke empat menjadi corporate slave yang terpaku pada satu space, diam dan menunggu tanggal gajian. Jika hal ini saya tulis setahun silam, entry blog ini akan berisi penyesalan dan rasa bersalah terhadap Nani Delapan Tahun Lalu. Betapa saya sudah membunuh mimpi mimpinya dan seterusnya.
Selama tiga tahun menjadi ‘mimpi buruk’ bagi idealisme remaja 17 tahun itu, saya telah menjejakkan kaki ke belasan kota dan tiga negara. Langkah terjauh yang melebihi dari apa yang saya bisa lakukan dalam lima tahun sebelumnya. Tidak hanya soal mampu bepergian, tapi apa yang saya dapat dari perjalanan itu. Saya mengetahui hal hal baru dan melihat langsung, mengalami peristiwa yang selama ini hanya saya baca dan lihat di buku buku dan internet. Setiap diskusi dengan orang orang baru menjadi nutrisi bagi pikiran saya dan membuka perspektif seluas luasnya. Menggenapi istilah open-minded se-kaffah kaffahnya.
2017 adalah satu lagi tahun yang menyenangkan. Saya kembali bisa bepergian dan bersenang senang. Menambah Lombok, Gili Trawangan, Semarang, Bali (ke 8 kalinya), Malang – Batu (ke 2 kalinya), Jakarta (ke entah sekian belas kalinya), Jogjakarta (ke 2 kalinya), Labuan Bajo, Bali (ke 9 kalinya), Bali (lagi) (ke 10 kalinya), Jakarta memboyong Bapak Anwar sekeluarga, dan Jogjakarta (ke 3 kalinya) untuk list perjalanan dalam negeri dan Jepang untuk daftar bepergian luar negeri. Bagaimana caranya bisa liburan hingga 13 kali dalam setahun sementara jatah cuti hanya 14 hari? Berterimakasihlah pada kalender Indonesia yang banyak tanggal merah kejepitnya.
Istilah travelling adalah candu akhirnya saya rasakan benar adanya. Setelah tiga tahun terakhir menghabiskan setidaknya 10 kali jalan jalan dalam setahun (walaupun sekedar short trip untuk nonton premiere film/konser/teater atau cuma makan makan enak), sebulan saja tidak ke mana mana rasanya seperti ada yang kurang. Apalagi akhir tahun kemarin saat bersikeras untuk tidak ke mana mana karena selain cuti habis :))) juga karena Bapak Anwar ingin ngumpul pas tahun baru.
Major spotlight pada tahun 2017 kemarin memang (masih) soal bepergian. Di sela selanya saya menamatkan membaca 52 judul buku, pindahan dari kos menjadi rumah kontrakan, menekuni hobi bersepeda dan memulai meal prep. Seperti semua manusia lain di muka bumi, saya menginginkan progresi, perubahan, kemajuan. Menulis resolusi adalah salah satu cara untuk mengabadikan hal tersebut. Delapan tahun berselang sejak penulisan Resolusi 18 dan sebuah dusta rasanya jika saya tidak merasa lega dengan apa yang terjadi tahun demi tahun. Yang paling melegakan mungkin pada tahun 2015  saat saya mencoret nyaris semua bucket list yang saya buat empat tahun sebelumnya, hanya tersisa satu bucket list yang belum kesampaian; pergi ke New York.
Di tahun itu juga, saya menulis ulang bucket list saya. Hal hal yang ingin dilakukan sebelum mati dan lantaran hingga saat ini saya belum mati, maka review terhadap hal tersebut terasa penting untuk dilakukan:
Bucket list revised, 7 Desember 2015
1. New York
Munculnya keinginan untuk pergi ke New York saya rasa sama dengan anak anak yang remaja di tahun 2000an lainnya. Saya memulainya dengan serial How I Met Your Mother dan film film chick flick. Betapa indah New York di mata saya saat itu. Saya masih melihatnya dengan keindahan yang sama hingga sekarang. Saat ini, ke New York sebenarnya mudah dan (relatively) murah jika dilakoni melalui paket tour. Tapi bertahun tahun saya menyimpan kota itu dalam angan bukan untuk disederhanakan melalui 6 hari perjalanan ke tempat tempat wisata dengan kunjungan terburu buru. Saya ingin (kalau tidak kesampaian untuk tinggal) menetap setidaknya selama sebulan lalu menyesap pelan pelan kota yang sudah memesona saya sejak remaja itu. Untuk mewujudkan hal ini sama sekali tidak mudah apalagi murah :)))

2. Berat badan ideal

Yhaa.. masih belum yhaa.. tapi on a serious note, I’m no longer give a fuck about it. Selama ini gendut adalah label yang tidak saya terima untuk menjadi bagian dari diri saya. Seolah sebutan gendut adalah sebuah penghinaan yang harus mati matian dilawan. Padahal sebenarnya orang orang menyebut saya gendut tidak mutlak karena menghina, mungkin hanya ngatain :)) semenjak semakin aware bahwa semesta tidak berputar dengan saya sebagai porosnya, kekhawatiran kekhawatiran irasional terhadap pandangan orang terhadap bentuk tubuh saya perlahan hilang. People wasn’t care that much on others because we are all designed to be a self-centered person. 

3. Jatuh cinta karena perasaan ini menyenangkan mehehehe

“Mehehehe”nya bikin point ini meaningless sebenarnya. Dua tahun lewat dari 2015 dan saya masih belum merasakan apa apa kepada siapa siapa. Kalau diandaikan sebagai kurva memang ada beberapa lonjakan perasaan yang disponsori trio hormon tapi tidak satupun bertahan lebih dari seminggu. Mungkin it is the way it is, bahwa tidak semua manusia “cocok” dengan kotak bernama percintaan.

4. Perjalanan ke luar negeri

Saya melontarkan hal ini dalam kondisi belum pernah ke luar negeri sama sekali. Passport aja ga punya dan pergi ke luar negeri terasa rumit sekali dalam kepala. Akhirnya setelah batal ke Vietnam, enam bulan kemudian saya mencoret bucket list ini dengan menjadikan Singapore sebagai negara asing pertama yang dikunjungi. Tahun selanjutnya menambahkan Jepang dalam daftar tersebut. Malaysia di tahun ini dan semoga, semoga saja, New York di winter 2019.

5. Kuliah dan menjadi sarjana

Sebenarnya perkara sarjana sarjanaan ini agak mengganggu hanya pada saat mencari pekerjaan tanpa koneksi ‘orang dalam’. Jika tanpa dibantu rekomendasi orang di dalam perusahaan yang perekrutannya secara spesifik mencari jurusan tertentu maka mustahil saya bisa masuk sebagai asst. comm. di kantor yang dulu mensyarat minimalkan S1 Komunikasi/Pendidikan Bahasa Inggris ini. Bukan bermaksud untuk menihilkan nilai kuliah dan menjadi sarjana tapi mungkin seperti perkara percintaan, kotak itu hanya tidak “cocok” dengan saya.

6. Melihat abah naik haji umroh

Daftar tunggu calon jamaah haji Kotawaringin Timur tembus 18 tahun untuk yang sudah membayar DP. Kemarin sempat ngobrol dengan Abah, umroh aja gapapa katanya :)))

7. Pekerjaan yang nyaman

Saya ga tau apa itu nyaman karena saya belum mencoba semua pekerjaan. Namun setelah 9 tahun bekerja di berbagai tempat, saya harus mengakui ini adalah pekerjaan paling nyaman dari semua pekerjaan yang pernah saya lakoni.

8. Memenuhi impian impian tersier di masa kecil

Mimpi tersier saya akan terdengar sederhana jika dibaca di usia dan perspektif sekarang. Namun jika dilihat dari mata anak kecil yang begitu miskin hingga untuk makan malam ia harus berbagi sebungkus indomie dengan kakaknya, keinginan ini megah adanya. Mimpi saya ingin punya uang untuk membeli apapun yang saya inginkan. Meski uang saya sekarang tidak cukup untuk membeli Apache Helicopter, tapi sejauh ini saya merasa aman dari segi finansial.

9. Membuat siapapun yang bersinggungan dengan saya merasa bahagia

Ini kerjaan SJW sebenarnya hahaha. Saya tidak pernah iseng nanya apakah mereka bahagia tapi sejauh ini hubungan dengan keluarga, teman dan Bambang baik baik saja.

10. Be a positive Nani and makes the struggling 2012 Nani proud!

I am positive and proud!

Saya masih memiliki tahun tahun di depan untuk mencoret bucket list yang tersisa. Tidak banyak memang tapi ya ga mudah juga. Secara keseluruhan 2017 adalah tahun yang menyenangkan ^^

 

Sampit, 04 Januari 2018