Edge of Twenty Seven

November menjejak langkah ke-duapuluhempat. Tahun 2019 tinggal hitungan minggu, satu lagi tahun yang lewat tanpa pencapaian berarti. Semakin lama, semakin tua, hidup nampaknya memang akan terasa seperti begini begini saja

Untuk aku pribadi, tahun ini tidak seburuk itu. Setidaknya aku tidak mengalami kemalangan yang terlalu, atau penderitaan bertalu. Beberapa highlights terjadi terutama dalam tataran perubahan fisik. Seperti bulan November di tahun-tahun sebelumnya, aku gemar menuliskan semacam kaleidoskop, untuk melihat kembali bahwa hidup dengan pacenya sendiri –sepelan apapun– adalah progresi. Aku juga gemar menilik kembali tulisan-tulisan ini di tahun selanjutnya (yang pada saat itu entah sudah kuhapus atau belum) dan tersenyum sebab dengan membaca ulang, aku bisa ingat betul bagaimana rasanya melalui hal tertentu, di waktu tertentu.

Januari

Di bulan ini beberapa hal baru terjadi, ditembak dan jadian setelah punya crush padanya selama 2 tahun. Menjejak usia 27 dengan sederet perayaan dan hadiah menyenangkan dari kawan-kawan, kembali aktif bermain twitter dan sempat ‘agak populer’ berkat entry-entry self love. Bulan ini juga penanda pindahnya Amel (my childhood friend) ke Pangkalanbun untuk menekuni hidup sebagai istri orang di sana. Tahun 2019 jika berdasar kejadian-kejadian di bulan ini, adalah penanda yang sangat baik sebab rasanya tidak ada seharipun aku sempat merasa sedih. Punya pacar yang sangat sayang padaku, hampir setiap weekend berkegiatan di luar kerjaan kantor dan tidak ada hari yang terlewat tanpa keriaan bersama teman-teman. January was F-U-N.

Februari

Bulan ini keriaan memiliki pacar baru masih berlanjut. Aku begitu sayang padanya hingga bagiku tidak ada yang lebih merdu dari suaranya, yang lebih penting dari mengangkat telponnya. Terbatasnya jarak bukan masalah sebab demi apa yang terasa seperti cinta itu, aku rela berkompromi terhadap nyaris apapun. Tanpa keluh. Awal bulan pergi ke Jakarta untuk teater Nyanyi Sunyi Revolusi (kisah hidup Amir Hamzah) dan di teater ini melihat bagaimana Lukman Sardji menyajikan akting yang begitu hidup jauh sebelum ia dipuji-puji dalam film 24 Steps of May.

Februari juga penanda puncak weight loss terbanyak dalam rentang 27 tahun hidupku. Total aku turun 24 kilogram dan menjejak angka 78 kilo, terkurus sejak terakhir seberat ini adalah saat era wartawan, 10 tahun lalu. Ini tentu sebuah pencapaian meski setiap hari aku tidak sarapan, makan siang dua lembar roti minim isian dan Iced Americano lalu kadang makan malam kadang tidak tergantung pacar menelpon jam berapa (sebucin itu, memang) ditambah berenang minimal 1 jam sehari, setiap hari.

Di bulan ini, Instagram menjadi saksi, aku bisa menggunakan baju lungsuran dari seorang teman yang berukuran M. Demi apapun di muka bumi rasanya bahagia sekali.

Hampir lupa, aku mendaftar kursus Bahasa Jepang dengan total 10 kali pertemuan. Karena bosan aku berhenti dan hingga saat ini Bahasa Jepang yang tersisa tinggal Senpuki dan Itadakimasu.

Maret

Seperti tahun yang sudah sudah, kebiasaan meal prep rupanya sudah menjadi memori motorik. Melihat kembali Instagram berlabel tanggal bulan ini, ada banyak sekali varian makanan yang aku olah sebagai bekal. Rajinnya membuat bekal (dan memakannya tentu saja) membuat progres penurunan berat badan tidak seberapa signifikan. Namun karena pacar menyebut jangan saat kubilang aku ingin sekurus Luna Maya, bucin ini mengangguk setuju dan memperbaiki pola makannya dengan makanan yang lebih bervariasi dan berwarna tinimbang dua lembar roti dan kopi hitam melulu.

Bulan ini, hubungan LDRku yang lebih manis dari biang gula itu mulai goyah. Frekuensi komunikasi yang semula begitu rapat menjadi kadang-kadang. Chatting soal hal-hal kegemaran atau sekadar bercerita sedang apa terasa bukan prioritas lagi. Ruangan Telegram hanya berisi dua-tiga pesan sekadarnya atau ajakan singkat untuk masturbasi. Mungkin aku yang lebay terhadap sebuah perubahan. Tidak tangguh saat kondisi kehidupan kekasih sedang rumit. Namun hal ini tak pelak mengundang tanya:

Jika benar ini adalah cinta, mengapa aku diperlakukan seadanya?

April

I’m HOOKED into Cognitive Bias dan 112 turunannya di bulan ini. Dalam hidup akan selalu ada fase beginian kan, hati tengah gundah gulana namun alih-alih menyelesaikan masalah di depan mata tapi malah mencari distraksi dengan keriaan lain. Dibantu beberapa buku filsafat dan psikologi yang telah dimiliki, “belajar” hal ini menjadi rutin setiap hari. Aku ingat saat makan siang sendirian, menyesap es kopi sambil menulis ulang/membuat contoh kasus/menyusun inti dan korelasi satu bias ke bias lain sambil dalam hati bergumam sesekali “Kenapa hingga siang ini dia belum membalas pesan selamat pagiku?”

Bulan ini melepas Nintendo Switch yang sudah berdebu, nyobain metode meluruskan rambut bernama keratin smoothing (yang lurusnya hanya bertahan 3 hari), kembali memelihara poni, menjadi satu dari milyaran umat manusia di muka bumi yang menjadi saksi dari foto real blackhole untuk pertama kalinya, get into baking dan Pemilihan Presiden.

Puncaknya pada 27 April pergi ke Surabaya untuk menonton film 27 Steps of May. Film yang hingga sekarang masih membuatku merinding jika mengingat sensasi bagaimana aku menyaksikan film itu sendirian sambil menangis dan bagaimana aku mengarungi lautan manusia (ini tidak bercanda, coba saja melewati Tunjungan Plaza di malam Minggu) tapi seperti tidak mendengar dan melihat apa-apa. Semuanya lewat begitu saja sampai akhirnya aku burst out di pojokan smoking area Sushi Tei. Kesedihan itu kian menjadi karena aku tidak bisa menghubungi pacar, orang yang ingin kujadikan sandaran dan tempat berbagi saat hal-hal buruk terjadi.

WhatsApp Image 2019-11-18 at 15.05.33

Mei

Kelas Jepang masih berlanjut tapi aku sudah ogah-ogahan. Rasanya nyaris tidak ada kegiatan di luar kerjaan yang membuatku bersemangat di bulan ini. Rutinku semata bangun pagi-ke kantor-pulang dan tidak sabar menunggu kantuk sebab berada dalam kondisi sadar di bulan ini rasanya sulit sekali.

Mungkin psikologikal, mungkin diagnosa psikiater benar adanya. Namun aku menolak sekeras mungkin untuk kalah dalam kondisi ini dan menyebutnya sebagai perubahan mood semata. Namun percaya soal ini; your doctor goes to medical school and spent millions not for nothing. It’s getting worse dan membangkitkan semua ketakutan yang entah nyata entah rekaan. Aku, lagi-lagi berusaha untuk kuat dan menyebut diri sendiri lebay. Dua orang yang mengaku saling jatuh cinta tentu bisa kehilangan cinta itu kapan saja. Dua orang yang begitu lekat seperti ketan tentu bisa saja perlahan menjauh. Itu natural, itu terjadi pada hampir setiap orang.

Tapi gemanya, gosh, gemanya itu yang masih sesekali membangunkanku di tengah malam untuk kemudian menangis sejadinya hingga sekarang.

Pada tanggal 28, ketakutanku menjadi nyata. Ia memutuskan hubungan kami dengan alasan yang menambah hantaman: aku membenaninya dengan kewajiban untuk wajib lapor. Percayalah untuk seorang perempuan yang selalu mengklaim (dan berusaha setengah mati untuk menjadi) kuat-mandiri-tegar-tangguh-tidak membutuhkan validasi lelaki, diposisikan sebagai perempuan clingy yang seolah membutuhkan perhatian 24 jam membuatku terluka lebih dari yang kusadari hingga aku menyebut kata setuju untuk mengakhiri hubungan ini dalam rentang tidak sampai 5 detik.

Juni

Berjanji untuk bertemu dengan (mantan) pacar di Bali bulan ini namun keburu putus membuat semua rencana liburan buyar. Tiket telah terbeli cuti telah terdeduksi. Atas asas serba-sayang akhirnya nekat berangkat ke Bali untuk menghabiskan 9 hari tanpa rencana pasti. Menjalani hari demi hari dalam kepatah-hatian dan upaya penghiburan seadanya hingga akhirnya berangkat dan menghabiskan 9 hari tersebut dengan gempita.

Hidup ini menarik sekali kalau diingat ingat. Bagaimana aku merasa duniaku luruh saat hubungan yang aku impikan sejak 2 tahun belakangan itu bubar begitu saja lalu seseorang datang tiga hari kemudian dan membayar kontan rasa sedih itu dengan ‘harga’ yang tidak main main. Sepanjang bulan Mei aku berbunga bunga kembali lantaran mengetahui seseorang yang telah kukagumi selama 10 tahun memiliki ketertarikan padaku.

Liburan di Bali menjadi menyenangkan karena disusulin ehe~

Juli

Agak sulit bagiku untuk mencerna konsep karma dan tulah namun entah sudah berapa kali aku dihantamkan dengan kejadian yang jika dirunut maka tulah adalah kata yang bersinar paling terang. Di bulan Mei pasca putus aku memilih untuk tidak berhubungan dengan siapa-siapa namun nyatanya toh aku dibuat jatuh cinta.

Pada 5 Juli saat masih liburan di Bali, aku ke Ubud untuk membuat tattoo. Aku memutuskan untuk membuat tattoo pertamaku dengan orang ini atas rekomendasi seorang kawan yang telah lama tinggal di Bali. Enso nama simbol ini, sebagai pertanda gerbang dimulainya hal yang baru. Long story short, aku jatuh cinta dan jadian dengan tattoist-ku. Sebuah keputusan yang sepertinya tidak rasional dan tidak profesional tapi mau gimana lagi aku anaknya gampang sayang~

Dua hari pertemuan singkat itu berakhir dengan pulangnya aku ke Sampit dan dimulainya hubungan LDR yang baru. Sepanjang bulan ini aku kembali melakoni juklak bucin. Suaranya adalah suara paling merdu, telpon/video call darinya adalah yang paling prior, dicintainya adalah seberuntung beruntungnya perasaan yang pernah ada. Aku jatuh cinta pada pilihan berani atas hidup yang dilakoninya, nilai ideal yang ia usung tentang seperti apa hidup yang ia inginkan dan sebagai seorang seniman, ia adalah seniman yang tidak hanya berbakat namun juga tekun.

Tanpa banyak menunda waktu pada 26 Juli aku kembali ke Bali dan menghabiskan 4 hari di sana. Tidak banyak waktu yang bisa kuhabiskan mengingat terbatasnya cuti yang dimiliki but man… this love feels like summer with all of those unicorns and butterflies in my head.

Agustus

Bulan ini aku dua kali bolak-balik Bali atas nama cinta :)) pertama untuk trip singkat 2-4 di awal bulan dan trip panjang 9 hari pada 16-25 di akhir bulan. Hubungan ini indah sekali dan layak dirayakan dengan meriah. Bulan ini aku punya keriaan baru; turut memanajemenisasi usaha pacar. Membantunya soal pencatatan keuangan secara remote. Menyenangkan rasanya terlibat dalam sesuatu yang berpotensi menjadi besar seperti ini.

September

70113011_2739454472744857_8900031810591784960_o
I feel semriwing~

Usaha pacar kian berkembang, klien berdatangan dan pembangunan dilakukan. Menguras energi namun rasanya senang sekali. Di bulan ini aku memutuskan untuk mencukur habis rambutku mengingat kerusakannya sudah di ambang batas toleransi. Mustahil bagiku mengembalikan rambut ke semula sehingga lebih baik di-reset dengan cara dibotakin. It doesn’t feel ‘much’ seperti pertama kali botak 2015 silam. I feel fine mungkin karena alasannya tidak bias karena perasaan apapun. I just want to be bald and that’s it.

Kami melewatkan malam demi malam bercerita tentang bagaimana hari ini berlalu dan apa yang kami inginkan di masa depan. Restoran kecil untukku di mana aku bisa memasak apapun yang aku mau lalu disuguhkan kepada teman dan klien yang datang. Hubungan ini begitu manis I could died from diabetes.

Oktober

Memasuki bulan kedua tanpa pertemuan. Cutiku habis dan bulan ini lewat begitu saja tanpa kejadian berarti. Mungkin lantaran kesempatan untuk bertemu disia-siakan begitu saja, aku akhirnya mengambil jarak untuk bisa melihat hubungan ini secara keseluruhan.

Hubungan ini, sayangnya, sama sekali bukan fairy tale.

November

Things get worse hingga akhirnya aku memutuskan untuk walk out pada 9 November. Aku sudah cukup berjuang untuk hubungan ini dan chapter itu aku cukupkan. Another broken heart but it okay, this too shall pass kan.

Desember tinggal hitungan hari dan 2019 serta usia 27 akan berlalu sebentar lagi. Suprisingly, after all of these things that happened in this year, aku masih hopeless romantic loh. Aku masih senang mengawang tentang bagaimana rasanya disayangi sepenuh hati. Aku masih gemar melakukan ziarah kenangan dan mengingat bagaimana rasanya disayang. Aku pernah disayang dengan baik dan itu sudah cukup, semua orang memiliki batasan waktu sehingga cepat atau lambat ia akan berakhir, ini hanya soal durasi.

Pada 13 November aku memutuskan untuk memasang behel. Sejarah perbaikan gigiku ini panjang dan melelahkan. Dalam lima tahun terakhir tidak terhitung berapa kali kunjungan ke dokter gigi untuk penambalan belasan caries, perawatan akar untuk geraham yang masih bisa ditolong, pencabutan tiga geraham yang tidak tertolong, hingga akhirnya gigiku benar benar siap untuk perawatan yang bersifat aesthetic. Ini komitmen tidak main-main karena tahunan tapi sudahlah, wayahe.

Secara keseluruhan, 2019 adalah tahun yang baik. Di tahun ini juga aku menyaksikan sendiri perubahan drastis yang terjadi di depan cermin dibanding aku setahun lalu. Nani telah menjadi perempuan berbehel dengan rambut keriting dan berhasil menghilangkan 20kg+ dari bobot tubuhnya. I’m happy that I still manage to love myself in any situation.

Desember berencana tidak ke mana-mana (tapi yha, aku juga menulis begini November silam namun ended up ke Bali selama 9 hari wkwk) karena segenap perubahan ini membuatku merasa perlu untuk mengambil nafas dulu untuk benar-benar mencerna soal apa yang aku inginkan dan apakah ia baik untukku jika dimiliki/dilakoni. Sebab mudah untuk berlaku impulsif tapi ia juga membutuhkan energi besar untuk beres beres setelahnya.

Looking forward for a better 2020!

Mari Sudahi

Dua orang saling menemukan, menjadi lekat dan menyembuhkan. Atas duka atas luka atas segala derita yang pernah tercipta. Keduanya merasa inilah sesempurnanya sebuah jumpa. Begitu magis dan serba tidak biasa.

Hari berganti bulan demi bulan bergulir. Keduanya masih saling mencintai walau jarak kini terukir. Meski bertemu hanya sesekali namun keduanya sama sekali tidak khawatir. Hubungan ini begitu manis dan mustahil untuk menjadi getir.

Bertemu dua minggu sekali, sebulan sekali kemudian tidak sama sekali. Keduanya yakin jarak dan kondisi tidak akan mengalahkan mereka selama masih bisa berkomunikasi. Semula menyapa satu jam sekali, menjadi sehari sekali, lalu berhari hari.

“Keadaan masih bisa membaik, berikan ia satu hari lagi untuk mengerti hal ini”

Adalah rapal kesekian ratus yang kuucap pada malam sebelum tidur setelah berbagi 2-3 pesan singkat seharian. Untuk kemudian menangisi bantal sebab perasaan kesepian begitu menggema ketika seseorang telah menawarkan kebersamaan namun ingkar terhadap perjanjian.

Kini puncaknya, aku diminta menunggu sambil sabar dan memaklumi. Tanpa tenggat waktu kecuali kata ‘nanti’. Maka jika sesuatu yang seolah-olah seperti cinta ini hanya mencekikku dalam sunyi,

Mari sudahi.

92577b1ec408290639f91ca5660a782a.jpg

Sampit, 09 November 2019

Another heartbroken, another sleepless night.

Kita Tidak Sedang Menderita

Dua puluh tahun lalu, saat aku berusia 7 tahun, seseorang melecehkanku secara seksual. Hampir setiap hari ia memperlihatkan penisnya padaku, memintaku untuk memegang, mengulum, menjilat kemaluannya dan mengintipku saat mandi.  Aku tidak pernah mandi tanpa mengenakan baju dan memilih pergi ke rumah tetangga jika ditinggal sendirian di rumah. Hingga akhirnya di usiaku yang ke-15 ia menikah dan pelecehan itu berhenti begitu saja.

Saat itu, aku merasa aku adalah orang paling menderita di dunia.

Ketika usaha ayah bangkrut dan kami yang sudah miskin harus semakin miskin dengan dijualnya rumah dan pindah ke kontrakan berkamar satu, aku harus tidur berhimpitan dengan kakak di kasur tipis depan televisi 14 inci di ruang tamu/ruang tengah/ruang makan sebab kontrakan itu hanya punya 2 ruangan. Setiap hari ibu memasak satu bungkus mie instan rebus berkuah banyak dengan tambahan garam untuk dibagi bertiga; aku, kakak dan adik. Di hari yang baik kami akan makan sarden berkuah encer atau  telur dadar dengan sambal kacang.

Kami lalu menambahkan lauk seadanya itu dengan nasi hasil jatah raskin yang lebih banyak batu daripada berasnya dan mengeluh dalam diam sebab segan pada ibu yang harus mengantri di Kantor Kelurahan dan menjunjung 10 kilogram beras di kepalanya, berjalan kaki, setiap akhir pekan. Sepanjang kelas 4 SD rambutku berkutu karena kontrakan berdinding kayu itu bersebelahan dengan kandang ayam dan bebek pemiliknya. Jika musim hujan, air akan menggenang setinggi mata kaki dan ayah akan membuat panggung darurat di dalam rumah agar kami bisa tidur tanpa kebasahan.

Saat itu, aku merasa aku adalah orang paling menderita di dunia.

Tujuh tahun lalu, di bulan Juli, saat membeli tiga bungkus mie instant dan uangku kurang seribu tujuh ratus rupiah, seorang kasir membentakku karena harus membatalkan pembelian satu bungkus mie instan dan ia terpaksa memanggil managernya. Antrian di belakangku panjang, dan masing-masing menggerutu karena untuk membayar seribu tujuh ratus rupiah saja aku tidak bisa. Dua bungkus mie instant, aku bagi untuk makan satu minggu kemudian di kos kumuh Cipete Dalam seharga 350 ribu per bulan.

Di bulan September aku terjatuh dari tangga dan harus menahan sakit berjalan kaki sepanjang Cipete Raya sebab sepeser uangpun tidak ada untuk ongkos karena habis membayar tukang urut. Hingga sekarang tungkai kaki kananku tidak bisa diluruskan karena kejadian tersebut.

Saat itu, aku merasa aku adalah orang paling menderita di dunia.

2014 Ibu kolaps karena komplikasi hipertensi yang merembet ke ginjal. Keratinin ibu mencapai angka 5,5 dan harus segera di-dialisis. RSUD Kabupaten tidak memiliki mesin itu dan ibu harus dirujuk ke RS Provinsi. Biaya sudah aman berkat Jamkesmas namun kami harus menyewa ambulans dan membayar jasa perawat yang mengawal rujukan sebesar 2,5 juta. Aku terlampau miskin kala itu berkat bersikeras untuk bekerja sesuai ideologi dan menolak ‘bekerja di bawah kapitalis’ sehingga jangankan 2,5 juta untuk membayar cicilan sepeda motor saja sudah setengah mati.

As diagnosed, my mom wouldn’t survived without dialysis and she died a week later on her bed. Tanpa sempat dirujuk dan diupayakan untuk tetap hidup. Her last word that I remember the most

“Aku masih ingin hidup, tolong.”

Saat itu, rasanya aku ingin mati saja sebab apa gunanya hidup jika ia hanya menawarkan penderitaan.

***

Lima tahun terakhir hidup mulai membaik, di usia 27 sekarang aku bisa bangun pagi di kasur empuk dengan kamar ber-AC, membuka kulkas berisi dengan makanan berkualitas premium, berangkat bekerja mengendarai mobil, bekerja di perusahaan  (kapitalis) bonafit dengan pangkat yang lumayan untuk kemudian pulang ke rumah sendiri yang penuh buku-buku impor, membacanya di depan televisi besar dengan ratusan channel luar negeri dan perkara lain yang 20 tahun lalu adalah tersier bahkan mustahil untuk aku miliki.

Namun kemudian aku akan berbaring di ranjang, menerawang jauh hingga larut malam dan mulai menangis. Aku akan betanya tentang tujuan hidup, aku akan menangisi kesepian yang kurasakan, aku akan meratap soal mengapa begitu sulit bagiku untuk berdamai pada diri sendiri dan berbahagia seperti orang-orang kebanyakan.

Saat itu, aku merasa aku adalah orang paling menderita di dunia.

Hidup mempertemukanku dengan banyak orang dan kisah-kisah tentang hidup. Tentang satu derita dan derita lainnya. Meski aku dan egoku ingin agar penderitaanku berada di bawah lampu sorot dan seluruh dunia menaruh kasihan kepadaku, keinginanku untuk menganggap apapun kejadian sulit yang telah dan akan terjadi padaku tidak sebanding dengan derita orang lain masih lebih besar. Sebab seperti yang almarhum ibuku selalu bilang

“Kita ini miskin, tapi kita masih punya harga diri. Dan itu yang harus kamu jaga”

Karenanya meski harus menderita, aku menolak untuk mengiba. Meski harus menyeret kaki berbebat perban sepanjang satu kilometer di panas terik, aku pantang mengeluh dan memaksa orang menjadi bagian dari penderitaanku. Pada akhirnya aku diomeli tentu saja :)) karena merahasiakan hal itu dan tidak membaginya pada seseorang yang sangat peduli padaku saat itu.

IMG_20191020_234236
A mantra from a man who lived long enough to laugh about my whining of suffering.

Aku tidak tau apakah kekeraskepalaan ini merupakan berkah atau kutukan sebab ia selalu menjadi dasar dengan batasan baik/buruk yang rancu. Aku tidak tau apakah jalan yang kupilih sekarang benar adanya dan akan membawaku pada kebahagiaan atau ia justru menjadi jembatan untuk satu lagi penderitaan.

Yang aku tau, setiap hari di mana aku masih hidup dan berkesempatan untuk bersinggungan dengan makhluk bumi lainnya, aku menolak untuk merasa menderita. Aku menolak untuk melakukan pemujaan terhadap kondisi sulit. Aku tidak ingin menjadikan penderitaan dan kesedihanku sebagai alasan untuk meminta pengertian orang lain lebih lebih pembenaran atas tingkah laku tercela.

Dalam menghadapi kejadian dalam hidup, jika ia adalah sebuah kesusahan, aku akan berupaya semampuku untuk keluar dari kondisi itu dan sepayah payahnya kemampuanku untuk berjuang, aku akan berharap agar aku cukup kuat untuk menjadi tabah.

Sebab aku bukan lagi orang paling menderita di dunia.

 

Sampit, 20 Oktober 2019

27 adalah usia paling ajaib sejauh ini.

Tentang Jarak

Aku rasa tuhan mencatat setiap kata rindu yang aku sebut untukmu dan mengubahnya menjadi pendar cahaya. Karenanya malam ini langit seolah menyala sebab aku sedang rindu rindunya.

Aku kira aku cukup veteran soal hubungan jarak jauh. Aku kira aku telah cukup hapal pada rutin, pola dan konsekuensi atas penghambaan pada minimnya frekuensi bertemu dan komunikasi. Yang tabah akan menang, yang gegabah akan kalah.

Namun jika ini soal menang dan kalah, aku ingin menaruh semua jatah keberuntungan yang aku punya agar aku tidak kalah terhadap situasi ini. Sebab ia perlahan membuatku kembali pada kenyataan soal:

Ini cuma soal menunggu siapa yang lebih dulu kalah pada jarak.

Hampir seribu kilometer menujumu, dan aku mulai kesal karena untuk sekadar bertemu ia harus menjadi perkara paling mewah di hubungan ini. Lalu diam-diam menaruh iri pada yang bisa menuntaskan rindu semudah menyalakan sepeda motor dan berkendara pelan selama sepuluh menit. Iri pada setiap resah yang ditenangkan dengan genggaman, pada setiap tangis yang redam dalam pelukan. Perkara sesederhana ini mengapa harus menjadi mewah sekali?

Lalu entah mengapa segalanya terasa sendu. Kebersamaan beberapa hari akan berganti pada sehari, dua hari, seminggu, berminggu minggu tanpa temu. Kembali bertemu untuk kemudian berpisah kembali dalam rentang waktu tidak tentu. Begitu seterusnya sampai… kapan? Dengan naifnya aku memandang hal ini melalui perspektif ini cukup kok, yang penting kan saling sayang namun ia perlahan terasa menjemukan, dan sedih sekali untuk menyadari bahwa hal itu saja tidak cukup, aku ingin lebih.

Aku ingin bertemu.

haruki-murakami-quote-lbu8l6b.jpg

Sampit, 30 September 2019

Sekarang beritahu aku, sampai kapan jarak ini mampu mengingkari waktu? 

Bluebeard’s Castle

Serial You di Netflix ini menarik sekali karena: it touches so many soft spots in me. Menamatkan 10 episodenya dalam dua malam Januari silam dan betapa saya ngefans dengan karakter Beth yang kampring di serial ini :))

Screen Shot 2019-08-05 at 22.26.11Bicara soal plot dan alur cerita sebenarnya biasa banget, milenial urban stories pada umumnya. Agak mengingatkan pada beberapa potongan cerita di novel Hanya Yanagihara yang A Little Life, soal bagaimana dinamika kehidupan milenial di New York, Amerika pada umumnya.

Pergeseran perspektif soal “American Dreams” di era Baby Boomers dan Milenial juga menarik, jika dulu yang diusung adalah soal harta dan tahta dan kesuksesan materi tiada ampun maka di zaman ini kesuksesan adalah bagaimana untuk “selesai” dengan diri sendiri sebelum terjun ke ranah rigid bermasyarakat.

1101130520_600.jpgHal ini mungkin berkaitan dengan awareness soal self-love, soal spiritualisme, soal mental illness dan seterusnya di era sekarang. Setelah revolusi internet bergaung, orang orang lebih mudah menyampaikan pergulatan batinnya sehingga wajar jika majalah Times menyebut milenial dengan The Me Me Me Generation. Generasi paling nyaring dibanding generasi generasi sebelumnya.

Saya sendiri berisik minta ampun, utamanya di ranah tulisan mengingat saya kurang nyaman dengan media visual seperti video. Sehingga ketika menemukan buku atau film/serial yang seolah olah menjadi representasi diri, saya akan ngefans seketika.

Seperti monolog Beth saat menjelang kematiannya dalam sekapan Joe di ruang bawah tanah toko buku:

How the hell did you end up here?

You used to wrap yourself in fairy tales like a blanket. But it was the cold you loved. Sharp shivers as you uncovered the corpses of Bluebeard’s wives. Sweeter goose bumps as Prince Charming slid one glass slipper over your little toes, a perfect fit.

But by the schoolyard, real princesses floated by you on fall winds. You saw the gulf between you and the rich girls, and vowed to stop believing in fairy tales. But the stories were in you, deep as poison.

If Prince Charming was real, if he could save you you needed to be saved from the unfairness of everything when would he come? The answer was a cruel shrug in a hundred fleeting moments. The sneer on Stevie Smith’s face when he called you a fat cow. Uncle Jeff’s hand squeezing your ass in the Thanksgiving kitchen. The accusation in your father’s eyes when you told him what happened.

From every boy masquerading as a man that you let into your body, your heart, you learned you didn’t have whatever magic turns a beast into a prince. You surrounded yourself with the girls you’d always resented, hoping to share their power, and you hated yourself. And that diminished you even more.

And then, right when you thought you might just disappear, he saw you. And you knew, somewhere deep, it was too good to be true. But you let yourself be swept, because he was the first strong enough to lift you.

Now, in his castle, you understand Prince Charming and Bluebeard are the same man. And you don’t get a happy end unless you love both of him. Didn’t you want this? To be loved?

Didn’t you want him to crown you?

Didn’t you ask for it?

Didn’t you ask for it?

Didn’t you ask for it?

So say you can live like this. Say you love him, say thank you, say anything but the truth.

What if you can’t love him back?

 

Bluebeard and His Seven Wives adalah dongeng soal seorang Sultan tajir yang punya kastil dengan banyak pintu. Setiap istri yang dia bawa pulang akan penasaran dengan isi di balik pintu pintu tersebut dan Bluebeard (meski telah memberikan warning) namun tetap membuka pintu itu. Hingga pintu ketujuh terbuka, ia mau tidak mau harus membunuh istrinya itu.

Versi favoritku tentu saja dari Grimm Brothers, namun dongeng versi lightnya bisa dibaca di sini. Dongeng ini cukup terkenal hingga diangkat menjadi film di tahun 1925 dan beberapa play teater. Tentang bagaimana rasa ingin tahu pada akhirnya literally bisa membunuhmu, jauh sebelum istilah curiousity kills the cat itu muncul.

Ini adalah satu dari sekian banyak random thoughts kind of entry. Baru saja tiba dari Bali tadi siang. Delay penerbangan hingga lima jam membuat saya banyak bengong di pojokan bandara. Buku Mythology 101-nya Kathleen Sears hampir habis saat saya menemukan cerita soal Cronus yang membunuh Uranus dengan cara ngumpet di vagina Gaia sambil membawa arit untuk kemudian memotong penis Uranus. Imajinasi orang orang zaman dulu yang ajaib mengingatkan saya pada dongeng Bluebeard dan akhirnya monolog Beth di atas.

Kelindan ingatan itu berakhir dengan saya yang menangis pelan tanpa suara karena tiba tiba merindukan rumah yang tidak pernah ada itu. Teringat kepada berapa kilometer dan waktu yang saya tempuh hingga usia sekarang tapi tetap saja perasaan sunyi menyergap ketika membuka pintu di penghujung hari dan menemukan rumah kosong tanpa bunyi. Saya kira, naifnya, saya telah selesai soal penerimaan atas keadaan. Bahwa sunyi dan sepi harus diterima bukan dipungkiri. Bahwa kesendirian ini adalah konsekuensi atas pilihan yang harus dijalani dengan berani.

Tapi tetap saja,

Ia menjadi kutukan bagi yang mengetahui.

 

 

 

Sampit, 05 Agustus 2019

Sebab, tidak ada yang lebih sunyi dari perasaan tidak dimengerti.

Semantik Perspektif dan Perkara Sudut Pandang

Dari mana sebuah simpulan didapat? Bagaimana sebuah perspektif terbentuk? Apakah ia benar benar berasal dari kesadaran diri, stimulasi berfikir atau yang sering disebut sebagai self conscious? Bagaimana dengan pihak ketiga? Vektor, perantara, lingkungan sekitar, pendapat orang lain, norma, dogma, doktrin dan sejumlah kausal lain yang mampu membentuk — bahkan mempengaruhi — sebuah sudut pandang dan simpulan?

Dari sini saya belajar mengenai perspektif itu relatif. Netralitas adalah ilusi (hal ini akan saya tulis khusus kemudian). Selain relatif, saya belajar bahwa asumsi tidaklah murni berasal dari apa yang disebut sebagai self conscious. Entry blog kali ini mengarah pada apa yang tengah saya amati belakangan di Indonesia. Negara ini masih saja berkutat pada radikalisme dan kelompok penjual agama. Terakhir kabar, Kementrian Komunikasi dan Informasi melakukan pemblokiran terhadap situs situs propagandis berbau radikalisme.

Sejak awal penciptaannya hingga di era Paleotikum manusia percaya bahwa tuhan adalah api, petir, air, bahkan pohon dan batu. Zaman berlalu, peradaban kian maju dan manusia percaya bahwa tuhan adalah matahari dan dewa dewa yang bersemayam pada gunung berapi. Dewa dewa dalam ujud menyerupai manusia dan binatang yang disucikan bermunculan, menumbangkan tuhan tuhan lama yang perlahan bisa dijelaskan, diwajarkan, dirasionalkan. Keyakinan seperti ini melebar sejak abad 1 hingga 9 dan akhirnya tuhan dikirim ke alam luar, ke dimensi entah di mana, dalam wujud berupa ada. Hal ini tertuang dalam kanon kanon agama Semitik (Yahudi, Kristen, Islam dan segenap turunannya). Semenjak diletakkan dalam wujud yang mustahil dibuktikan secara empiris, tuhan aman di kedalaman hati masing masing manusia.

Kemudian tibalah kita di era pra modern. Gejolak sains, penemuan penemuan ilmiah dan revolusi di bidang industri pada awal 16 menjadi titik di mana ilmu pengetahuan mengalami puncak kejayaannya. Porosnya di negara Eropa meskipun di tanah Arab mengalami perkembangan serupa (tapi revolusinya berhenti sejak ada Sultan Turki di masa Ottoman iseng mengharamkan mesin cetak)

Ledakan ilmu pengetahuan membuat agama agama Semitik yang mulai kuat saat itu mendapat guncangan cukup berat hingga menimbulkan friksi antara cendekiawan dan gereja. Tidak terhitung berapa kali Galileo Galilei disidang gereja karena membawa premis mengenai bentuk alam semesta. Tidak terhitung berapa banyak ilmuan yang dipenjara karena berhasil membuat pembuktian empiris atas dongeng dongeng kanon. Selebrasi sains tidak bisa dibendung dan meluas hingga akhirnya perspektif barat berkembang ke arah baru; Ateisme, Sekularisme, Liberalisme. Perjalanannya panjang dan mengorbankan banyak nyawa. Bagi saya manusia dan bagaimana mereka memperjuangkan ideologinya selalu menjadi hal yang menarik untuk diamati.

Membebaskan tuhan dari lingkup kanon dan berita berita usang adalah perspektif saya terhadap pandangan ini. Orang orang membebaskan tuhan dari pepatan definisi dan mematahkan ilusi tentang bagaimana sesuatu terjadi dan diciptakan. Ada juga yang membebaskan tuhan dari ritus pemujaan, ada yang membebaskannya dari ujud  dan ada yang membebaskan tuhan ke titik nol. Tiada. Alpa. Nihil.

Ini disebabkan sejak era pra modern bangsa Eropa – Amerika telah mengalami gejolak mereka sendiri. Mulai kasus Ku Klux Klan hingga perang salib dan sebagainya. Bentangan masa sejak abad 16 hingga 2011-lah, yang berkontribusi besar dalam pembentukan sudut pandang kaum maju hingga tidak lagi mempermasalahkan soal eksistensi ketuhanan lantaran mereka telah mengalaminya sejak berabad lampau.

Meski kemudian, teori relativitas yang saya gunakan mengharuskan saya untuk meletakkan kemungkinan bahwa tentu masih ada sikap radikalisme dan antisekularis di negara dengan sejarah peradaban belasan tahun itu. Dengan persentase yang sangat kecil, tentu saja.

Waktu, ternyata juga bisa menjadi variabel yang membentuk sebuah perspektif.

Saya kemudian mencoba mengkomparasi fenomena tersebut di Indonesia, negara dengan usia sejarah yang tidak sampai empat abad jika dihitung sejak masa prakolonial. Indonesia sebagai sebuah negara tentu mengalami perkembangannya sendiri. Saat negara maju sudah berdamai dengan ledakan ilmu sains dan filsafat serta bagaimana kedua hal itu mempengaruhi konsep ketuhanan, Indonesia baru memulai fase tuhan adalah dewa yang mewujud dalam benda benda duniawi-nya. Lalu agama Semitik masuk melalui pedagang Arab-Gujarat (Islam) dan kolonisasi Belanda yang mengusung triteologi Gold, Glory, Gospelnya (Kristen)

Menurut saya, inilah yang kemudian menyebabkan Indonesia baru memulai fase ledakan ilmu sains dan filsafat di era milenium, ratusan tahun tertinggal dari negara barat. 

Kenapa saya menjadikan tahun 2000 sebagai benchmark perkembangan ilmu sains dan (utamanya) filsafat? Apakah saya menampik fakta bahwa selebrasi ilmu pengetahuan membuat sejarah mencatat soal pro-kontra buku Atheis-nya Achdiat K Miharja, PKI dan tudingan anti-islamnya, hingga konsep manunggaling kawula gusti di era Syech Siti Djenar di era Wali Songo? Bukankah gejolak pencarian tuhan di ranah pribadi telah terjadi sejak dulu kala? Kalau boleh saya menyebut, sejak masa Indonesia nyaris merdeka hingga Orde Baru selesai, kita baru memulai percikan perubahan konsep ketuhanan. Hal inilah era post-modernnya kita.

Percikan yang terus meletup dan akhirnya meledak di era milenium, sekarang sekarang ini. Sejak munculnya tokok Gus Dur sebagai bapak Pluralisme hingga pengukuhan Jaringan Islam Liberal di tahun 2002, rasa rasanya sejak itulah terjadi peralihan dari pra-modern ke modern di negara ini. Tren melawan arus, gelombah mahasiswa yang melawan rezim Suharto, hingga meluasnya teori Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme di ruang publik. Kita lebih bebas dalam memilih ujud tuhan dan memutuskan untuk percaya atau tidak dengan paparan konsep dan ilmu pengetahuan yang sudah terbentuk sejak ratusan tahun silam di negara barat.

Pasca tumbangnya Orba, saat ini dengan mudahnya saya menemukan kelompok anarki dalam atribut punk. Sungguh berbeda dari 40 tahun silam di mana seseorang bisa dengan mudah kehilangan nyawa hanya karena ideologi yang dimilikinya.

Screen Shot 2019-07-11 at 17.20.57
Pendekatan menarik soal Consciousness via Kurzgesagt

Maka sekarang lihatlah, Indonesia tengah menikmati masa merdekanya. Kini begitu mudah menemukan buku buku Karen Armstrong, Stephen Hawking, Carl Sagan hingga Madilog-nya Tan Malaka dan menjadi bacaan setiap orang bahkan menjadi sumber studi. Bicara soal Orba, jangankan buku buku yang mempertanyakan ideologi sosial-budaya seperti Madilog, sebuah fiksi cinta cintaan Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Pulau Buru saja dibredel. Ki Panjdi Kusmin yang cuma menulis cerpen Langit Makin Mendung saja harus dipenjara, Seno Gumira Ajidharma harus kehilangan penertbitan dan pekerjaannya di majalah Djakarta, Djakarta! hingga Widji Thukul yang harus hidup dalam pelarian seumur hidupnya hanya karena menulis puisi.

Kini, tiap individu telah bebas untuk membebaskan tuhan dari koloni kanon. Dalam perjalanannya tentu akan ada friksi dan perlawanan sebagai deviasi dari era pra-modern. Indonesia tengah mengalami prosesnya sendiri untuk melawan radikalisme dan menentang upaya memundurkan peradaban melalui jualan khilafah dan mengembalikan Islam ke khittahnya.

Mungkin, ini hanya kemungkinan dan romantisme saya terhadap negara ini, setelah satu-dua abad gejolak ini mengeliat dan terus menjadi udara yang menebar perspektif progresif, negara ini akan menemukan “kemerdekaan”nya sendiri. Setelah faktor dari sudut ketiga berupa waktu menelusup untuk kemudian membentuk simpulan bahwa apa yang tabu di masa lalu, telah sedikit terbebas di saat ini, dan akan lepas sepenuhnya di masa mendatang.

Apa yang kita lihat saat ini adalah proses. Dengan harga yang mahal sejarah negara ini akan tercatat. Puluhan teror bom bunuh diri, laskar jihad hingga pembantaian atas nama agama (ibid: Cikeusik, 2011) dan segenap upaya perlawanan keji dari yang tidak menginginkan  ledakan ilmu sains dan filsafat ini terjadi. Perlawanan tanpa basis dari kelompok yang tidak mau Indonesia menjadi tanah laknat jajahan antek kafir Yahudi – Amerika.

Namun, jika perubahan serupa udara, bisakah kita menghentikannya?

Saya menempatkan diri dalam perspektif serupa belasan tahun silam. Saat satu satunya ilmu pengetahuan yang saya dapat adalah doktrin agama dari Ayah dan sekolah. Saat majalah yang tersedia di rumah nenek hanya Sabili dan Hidayah serta buku buku radikalis berkedok pencerahan islam. Namun sekarang sudut pandang saya berbeda, semenjak membuka diri untuk berhenti membaca hal tersebut dan memulai petualangan imaji dalam Madilog dan Grand Design hingga mengantarkan saya pada simpulan ini. Simpulan bahwa saya saat ini, belasan tahun berselang, saya menganggap memang sudah saatnya hal ini terjadi. Sesedih apapun saya atas collateral damage yang disebabkan, itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah perubahan.

Apakah ini inkonsistensi? Tidak tetapnya pendirian? Peragu?

Saya menyebutnya perspektif yang mengalami perubahan seiring dengan masuknya vektor dan kausal kausal dari luar. Yang berproses dan diterima sebagai ideologi baru. Karenanya ini tidak bisa disebut sebagai self-conscious. Bagi saya, tidak akan ada simpulan yang bisa diambil tanpa sumber. Tidak ada sudut pandang tanpa bercampurnya bias, pendapat dan diskusi tak berkesudahan.

Yang ada hanya ketidaktahuan, kealpaan, bukan sudut pandang.

Sampit, 11 Juli 2019

Cognitive Bias dan Pemaknaan Mimpi Buruk

Saya jarang sekali bermimpi buruk belakangan ini. Dulu ketika masih usia belasan mimpi buruk menjadi perkara harian, kebanyakan mimpi diperkosa/dikurung dalam sumur. Biasanya jika terbangun dengan keringat mengucur atau airmata mengalir, saya akan merangsek ke kamar Kakak dan melanjutkan tidur di sana karena somehow saya merasa ‘aman’. Sesekali di usia 20an ini saya masih terbangun dengan pola yang sama namun biasanya akan segera tertidur kembali karena saya mengerti dari mana datangnya mimpi buruk itu.

Bahkan hal itu tidak lagi saya maknai sebagai mimpi yang buruk karena tau diri ini menggemari Junji Ito, suka game violence, ngefans sama film film Zombie dan mengikuti serial Happy Tree Friends dan Salad Fingers di YouTube. Jika mimpi yang saya alami adalah tembak tembakan/dikejar zombie/masuk ke realm aneh saya akan terbangun dengan ngos ngosan senang lalu menggumam “THAT DREAM WAS AWESOME!” lalu tidur kembali in no time.

Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, saya menemukan mimpi buruk dengan keinginan merangsek ke kamar Kakak setelah terbangun. Karena sadar sudah 6 tahun terakhir saya hidup sendiri, maka hal pertama yang saya lakukan adalah menangis sejadinya dan menelpon kawan baik di Bengkulu yang kebetulan masih terjaga. Kami membahas soal surviving mode tubuh dan pikiran yang bahkan saat dalam mimpi sekalipun, masih alert dan saya ingat betul dalam mimpi saya bergumam “Nani this is not real, wake up, Nani wake up” hingga akhirnya tiba tiba terjaga.

Tertidur kembali setelah menolak menenggak obat tidur dan memilih minum susu hangat, pagi ini saya bangun lalu browsing singkat dan membaca beberapa lembar Psychology Book-nya DK seusai menyeduh kopi dan merokok seperti biasa. Saya kira saya sudah selesai untuk menyingkirkan kepatah-hatian yang saya alami. Saya sudah menghapus setiap jejaknya hingga tidak bersisa barang secuilpun. Wajahnyapun sudah samar di ingatan saya, suara dan hal hal yang pernah ia katakan pelan pelan saya pindah dari long memory term ke short memory term dengan coping mechanism yang saya pelajari melalui buku buku dan artikel psikologi.

Meski jarang sekali berkasih-kasihan, he’s my second boyfriend for the entire 27 years of my life, saya cukup mahfum soal bagaimana jatuh cinta dan patah hati bekerja. Melalui curhatan teman teman dan buku/video/artikel yang saya cerna. Namun rupanya ada sedikit perbedaan antara memahami dan mengalami. Ada beberapa tahun di mana saya sangat terobsesi dengan bagaimana otak bekerja hingga saya tiba di titik segala hal dapat dijelaskan secara rasional tanpa melibatkan perkara gaib sedikitpun. Titik terakhir jika sesuatu terjadi dan saya mentok tidak bisa memahami, saya kembali pada premis:

“Terima saja, kamu hanya belum mengerti apa yang terjadi”

Dan biasanya setelah sekian waktu dan diskusi saya lalui, ia akan bisa diterima dengan baik. Dirasionalkan dengan baik karena saya tau, ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan saya masih sangat bodoh dan perlu banyak belajar. Mengambil jarak dan melihatnya melalui eagle eye atau sekadar menerima bahwa saya sedang terjebak dalam ilusi Panoptikon, adalah metode paling ampuh untuk melalui ‘cobaan’ hidup.

Dalam cognitive bias ada ruang bernama Not Enough Meaning dengan premis bernama We Imagine Things and People We’re Familiar With of Fond of as Better dan We Simplify Probabilities and Numbers to Make Them Easier to Think About. Dan saya harus mengakui saya memandang kepatah-hatian ini dengan bias yang terlampau banyak. Saya mengira saya sudah cukup mengenalnya dan membangun tebak tebak buah manggis soal perasaannya pada saya. Saya menyusun symptom yang berujung simpulan kurang valid/tidak masuk akal karena menggunakan pendekatan Appetite, seperti yang dijelaskan Plato dalam The Tripartite Theory of the Soul:

Appetite : this is the part of the soul where very basic cravings and desires come from. For Example, things like thirst and hunger can be found in this part of the soul. However, the appetite also features unnecessary and unlawful urges, like overeating or sexual excess.

WhatsApp Image 2019-06-07 at 10.45.31.jpeg

Bias seperti ini jika dibiarkan akan menjadi prejudis dan asumsi yang tidak main main gemanya. Saya ingat betul bagaimana seorang Nani saat berusia 15 tahun dan patah hati untuk pertama kalinya. Saya membangun imagi yang sedemikian kokoh positifnya dan vivid bahwa lelaki ini tidak meninggalkan saya namun hanya sedang sibuk saja, saya harus menunggunya. Hingga akhirnya 9 tahun berlalu dan saya mendapat jawaban bahwa ia tidak sekalipun ingin menjadi pacar saya, yang terjadi hanya perkenalan biasa.

Sembilan tahun saya menunda hidup karena ketidaktahuan dan demi apapun saya menolak menghabiskan sembilan tahun lagi untuk sekadar patah hati. Sejak 31 Mei saya mendapat distraksi menarik, karena kekaguman saya kepada orang ini tidak main main besarnya, sebuah afirmasi darinya menjadi pengalihan isu yang sangat baik. Terlalu baik malah. Setelah 31 Mei saya tidak memikirkan sedikitpun soal patah hati yang baru saja terjadi, dunia seolah berwarna jingga keemasan dengan saya sebagai Alina dan ia Sukabnya. Indah, terlalu indah seolah olah tidak ada hal lain yang lebih indah.

Sayangnya, seperti halnya distraksi apapun, ia ephemeral. Temporal. Ketika keriaan itu usai dan dopamine level di otak menurun, saya harus kembali membuka karpet dan membereskan sampah di bawahnya. Tapi kali ini tanpa bantuan alkohol, obat penenang atau curhat berlebihan. Saya harus menghadapi ini sendirian dengan ‘bekal’ pengetahuan yang rasanya cukup untuk bersepakat dengan diri sendiri bahwa:

“Ia hanyalah fluke in the system. Kesialan yang terjadi. Shit happens sometimes. Kamu dibrengsekin, disakiti dan tidak apa apa. Toh yang indah indah juga pernah terjadi, seimbang. Terima dan lepaskan”

Perasaan dua orang yang bersepakat untuk berkongsi tidak akan pernah bisa linear. Hal ini disebabkan dua individu dibesarkan, terpapar dan memiliki belief system yang berbeda. Jika dalam hal ini garis saya perkara cinta-mencintai lebih panjang sementara ia telah berhenti sejak lama, ya tidak apa apa. Namanya juga dua garis yang tidak akan pernah linear. Rasional saja tidak cukup, saya juga harus belajar untuk menerima dan merelakan.

Tes MMPI telah dibahas sedikit pada pertemuan ke-4 kemarin. Dokter bilang kurva reasoningku tinggi. Kemampuanku untuk merasionalkan setiap kejadian di masa lalu sangat baik. Diam diam aku bangga dengan itu, rasanya seperti validasi atas upaya memahami diri sendiri melalui buku buku dan diskusi selama ini. Kurva yang mengkhawatirkan hanya bad thoughts dan inipun kuamini sebab ia telah menjadi belief systemku pasca bersikap dan berpikiran positif membuatku berakhir pada pelecehan seksual, penipuan uang, dan menunggu seseorang hingga 9 tahun lamanya. Sehingga seperti yang diajarkan seorang kawan, sebelum ia melakukan operasi bedah, ia akan memikirkan kemungkinan terburuk agar siap secara mental dan menganggap keberhasilan operasinya adalah ‘reward’ dari upaya maksimalnya.

Namun saya mengerti, berpikiran positif dan berpikiran negatif memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Ada alur dengan kemungkinan mengguncang ketetapan dan kestabilan pikiran namun itu adalah resiko yang harus diambil. Hidup adalah soal memilih dan memperjuangkan pilihan itu hingga dihadapkan dengan pilihan pilihan baru dan pola yang sama kembali diulang. Sekarang saya ingin belajar bersikap netral, seperti yang kerap saya ulang ulang sebagai mantra di pagi hari:

Daripada suudzon atau husnudzon, lebih baik tidak berprasangka sama sekali.

Untuk bersikap senantiasa netral dan dalam perjalanannya, hidup mempertemukan saya dengan banyak sekali hal hal menarik yang ‘mengejutkan’ karena saya berangkat tanpa prasangka. Jika saja dulu saya berprasangka baik/buruk tentang bagaimana hubungan ini akan menuju, tidak akan saya dikejutkan dengan perasaan sangat sangat bahagia karena dicintai seseorang yang saya cintai 2 tahun lamanya. That was wonderful, menemukan diri berbahagia itu menyenangkan. Mengetahui ada seseorang yang khawatir dan memikirkan eksistensi saya rasanya membahagiakan. Itu adalah reward dari sikap menolak berprasangka.

Walaupun kejutan di akhirnya adalah patah hati, ya tidak apa apa. Hidup tetap harus berjalan dan saya harus lebih belajar lagi soal menerima dan merelakan.

 

Sampit,  07 Juni 2019

 

 

Liebster Award Nomination

Menemukan challenge berantai seperti ini seketika melemparkan saya ke 10 tahun silam, saat menulis blog adalah hobi semua orang dan tempat ini lebih ramai dari pasar malam. Sekarang tentu saja ia telah beralih platform menjadi Facebook, Instagram dan Twitter. Namun hingga saat ini blog masih menjadi favorit saya untuk menuangkan isi kepala. Dan karena ia sudah tidak seramai dulu, saya jauh lebih nyaman untuk berbicara tanpa keinginan untuk menggugah, menginspirasi lebih lebih mencitrakan diri di sini.

Mbak Maya menyertakan saya di antara 11 blogger lain untuk mengikuti Liebster Award Nomination ini (lebih lengkap ada dalam entry beliau yang ini) dan saya tertarik untuk ikut meramaikan karena itu tadi, atas nama nostalgia hahaha.

Berikut jawaban saya untuk 11 pertanyaan dari Mbak Maya:

Question for my fellow bloggers:

  1. your blog in 3 words, are? Media curhat, review buku dan jalan jalan
  2. your favorite author? Saat ini masih ditempati Haruki Murakami
  3. how many times did you re-read your writing? in a good day, 2-3 kali.
  4. when you write, do you lock yourself in a room? I don’t need to, I’m living alone
  5. your favorite books? Cantik Itu Luka, Sputnik Sweetheart, The Redeemer, One Hundred Years of Solitude (by far)
  6. what is your favorite stationary items? my lovely meal plan journal
  7. any other hobbies else than writing? Memasak dan menghitung kalori (by far)
  8. what kind of things that must be there or accompanying you when you write? my imaginary friend
  9. what is a writer’s block to you? rasa nyaman
  10. most anticipated guest to be at your house right now? basically anyone. Why? I’m still in this house warming euforia, baru pindahan~
  11. where would you want to be, the beach or the mountain? beach for sure. Di bawah sinar rembulan. Sambil berpegangan tangan :’)

Random 11 fact about me:

  1. I had this weird allergy toward perekat. Lakban, plester luka, koyo akan menimbulkan ruam dan gatal gatal yang berujung dengan bekas luka. I can’t recall when the last time I had kulit mulus tanpa bekas luka.
  2. I read comic books in a speed of light
  3. Lebih suka nonton teater/monolog/designated seating music show dibanding konser karena suka mendadak panik kalau berada di tengah orang banyak yang teriak teriak
  4. Meski sudah 10 tahun bekerja di bidang komunikasi (jurnalis, penyiar radio, penyiar TV, publicist dan sekarang humas – CSR) lidahku suka mendadak kelu kalau kenalan sama orang baru~
  5. Punya teman diskusi imajiner
  6. Sering dikira melucu padahal murni bodoh. Pernah mengira sapioseksual adalah sebutan untuk orang dengan fetish terhadap sapi.
  7. Pernah masuk UGD karena makan Momogi rasa keju 4 kotak isi 20
  8. Kalau latah nyebutnya ayam aku merasa seperti komedian program TV pagi hari yang tidak lucu 😦
  9. Agus Kuncoro adalah segalanya
  10. Hopeless romantic
  11. Lebih takut film sedih daripada film horor

Saya seharusnya mendampuk 11 blogger lain untuk menuliskan hal serupa di atas tapi saya ga bisa menemukan 11 laman blog milik kawan yang cukup dekat untuk meneruskan pesan ini. Jadi ya, biarlah berhenti di saya hehe.

***

Oh, kemarin saat menuliskan kaleidoskop 2018 di pertengahan bulan Desember, saya sama sekali tidak memiliki rencana akan ke mana pada saat tahun baru. Saya sudah menyusun janji mabar dengan rekan rekan sepermainan PUBG dan membeli banyak sekali cemilan sebagai kawan nonton Netflix untuk melewati tahun baru dan libur panjang di dalamnya.

Ndilalah, saya berangkat ke Bali pada 28 Desember dengan keputusan diambil tepat dua hari sebelumnya sebab apalah artinya usia muda jika impulsif tidak menjadi sifat utama. Menghabiskan seminggu dengan makanan enak, obrolan dan diskusi tidak berkesudahan. Untuk sekedar berpendapat dan mengungkapkan hal hal yang tidak pernah berani saya katakan di lingkaran sosial di Sampit atas nama decency dan memaklumi. Begitulah, tahun baru 2019 saya lewati dengan tipsy berkat 3 gelas wine dan riuhnya hitung mundur di antara kembang api pantai Canggu.

Sampit, 4 Januari 2019

Perubahan Adalah Kutukan (?)

Kita harus memaklumi kegemaran orang orang tua dalam bernostalgia. Dalam setiap kesempatan berbicara dengan seseorang yang jauh lebih tua dari saya, saya selalu meminta mereka untuk menceritakan zaman yang sudah lewat and oh boy they love it. Karena perubahan niscaya terjadi dan ia kian cepat berotasi dari masa ke masa. Di abad 18 mungkin butuh 20-30 tahun rentang masa dari satu penemuan berevolusi menjadi penemuan yang lebih mutakhir. Sementara saat ini, hanya butuh 5 tahun bergerak dari Java dan Symbian menuju Android dan IOS. Hanya butuh 2 tahun untuk sebuah handphone bergerak dari waterproof menjadi water resistant.

Karenanya mereka yang di tahun ini berusia 30an namun masih mencoba signifikan dengan mengikuti setiap tren terbaru akan kewalahan dan semakin merasa berjarak pada setiap tren baru yang muncul. Saya sendiri 26 tahun dan sudah tidak bisa merasa relate semenjak era Snapchat. IG Story, Tik Tok dan segala platform media sosial yang hype sudah terasa jauh berjarak dari saya. Di rentang usia dari nol ke 26 saja, saya mengalami beberapa fase perubahan yang menggugat nostalgia sekali-dua.

Seperti masa di mana untuk mengakses internet saja membutuhkan perjuangan yang hakiki. Untuk sekadar download gambar dengan satuan belasan kilobyte memakan waktu bermenit menit. Atau penghiburan paling menarik di internet adalah ketika mengunduh mp3 menjadi perkara yang bisa dilakukan (dan sederet situs porno ber-bandwidth rendah seperti DS dan Lalatx tentu saja)

Kala itu, meski internet dan teknologi sudah merangsek sedemikian canggihnya, kebersamaan masih bisa diraih melalui tukar menukar hardisk dan salin menyalin hasil unduhan ilegal film film terbaru. Atau ngumpul bareng di lokasi ber-wifi kencang (yang saat itu sangat jarang) dan menaruh segenap harap pada Internet Download Manager untuk kemudian berbincang hingga unduhan selesai. Di era itu, saya masih bisa relate.

Tak sampai sepuluh tahun selepasnya, saya berada di sebuah tongkrongan dengan 6 orang lain sibuk bermain dengan gadgetnya masing masing. Sekali-dua saya diajak foto selfie berdua atau foto group dengan senyum dibuat buat seolah we’re having the best time of our life karena sejurus kemudian muncullah foto tersebut di Instagram dengan caption serupa : Having a fun time with besties. Hal tersebut terjadi beberapa kali dan saya jengah, sebab kalau hanya untuk sibuk sendiri saya lebih suka ke cafe sendirian untuk dowload film sambil membaca buku. Melakukan hal sunyi seperti itu sendirian terasa lebih masuk akal daripada diam berjamaah.

Pemandangan menggelikan itupun pada akhirnya menjadi sebuah kemahfuman. Orang orang berkumpul dalam kelompok namun masing masing menelan kesunyian. Yang suka mati gaya karena tidak suka berlama lama menatap layar gadget seperti saya akan tersisih. Karena jengah, karena risih, karena mati gaya dan akhirnya memilih ngapa ngapain enaknya sendirian hahaha.

when everybody tried to be a special snowflake

Maka begitulah, bagaimana perubahan dapat menjadi kutukan. Mungkin ini yang dulu dirasakan oleh pendahulu kita saat melihat roda ditemukan dan orang orang mulai meninggalkan keseruan jalan kaki bersama sama. Saat mesin uap diciptakan dan revolusi teknologi didengungkan dan orang orang mulai lupa value segala hal yang dilakukan secara manual.

Tapi hey, setiap aksi akan menemukan reaksi. Bukannya seiring dengan kesunyian perubahan ini diiringi dengan nyaringnya gaung soal off grid and technology detox. Sebab setiap kita sebenarnya perlu istirahat dari perubahan. Jika yang lain melakoninya dengan seminggu penuh berkemah tanpa gadget dan mesin apapun, saya punya detox saya sendiri bernama nostalgia.

 

Sampit, 22 Juni 2018

Ini sudah hari ketiga hujan kelewat deras turun di pertengahan malam.

Yang Bikin Bodoh Itu Kurang Baca, Bukan Micin

Yang paling mengganggu saat berselancar di dunia maya adalah masih saja menemukan orang orang yang melakukan hal ini:

Tapi ketika yang beginian muncul, saya biasanya hanya tertawa dan membatin “Goblooo” sambil lalu. Herannya, meski sudah setengah mati screening pertemanan tapi tetap saja hal hal begini melintas di timeline Facebook. Bagi saya, like dan amin begini harmless. Nyampah tentu saja, apalagi kalau ternyata entry yang diserbu adalah clickbait atau monetized post tapi ya udahlah, toh saya berada di area yang tegas terkait memperbolehkan adik menghabiskan siang malamnya untuk looting sen demi sen dari flooding adsense. Yang ‘terjebak’ ngasih duit ke empunya hajatan ya siapa suruh sampah begitu diklik.

Sama seperti entry entry “Ketik Amin”, terlepas dari perdebatan ustadz ustadz soal boleh-tidaknya, kata “Amin” dalam kehidupan nyata memang telah digunakan secara foya foya sehingga apa bedanya dengan mengetiknya di sosial media (kecuali annoying dan nyampah, tentu saja. Tapi merasa annoyed adalah masalah saya, bukan hutang siapa siapa) dan kembali lagi, kalau terjebak monetized post maka yang goblo sebenarnya siapaaa?

Yang membodohi lagi menyesatkan serta meresahkan hingga urgensi untuk menuliskannya di blog ini adalah kebiasaan meng-copy paste/share hoax. Dan ini berbahaya karena sejarah telah mencatat ratusan kejadian dan puluhan ribu kematian sia sia karena berawal dari kabar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Dulu ketika menjadi jurnalis, setiap pagi saya panas dingin membaca berita yang saya tulis. Saya senantiasa kuatir jika berita saya tidak benar dan tidak cukup cover both side. Di bulan bulan terakhir saya bahkan sengaja menghindar menulis berita berita bombastis yang berpotensi masuk halaman utama. Saya lebih banyak mencari ide untuk berita feature yang menyenangkan semua pihak (mungkin ini juga yang akhirnya menyadarkan bahwa saya tidak berbakat menjadi jurnalis hahaha)

Kekhawatiran itu menghantui saya hingga susah tidur padahal koran kami hanya dicetak tiga ribu eksemplar dengan probabilitas orang membaca berita saya di sudut bawah halaman tengah hitam putih pastilah sangat kecil. Beruntung hingga akhir masa kejurnalisan, saya tidak mendapat kendala berarti terkait hal ini.

Sekarang bayangkan seseorang dengan follower ratusan ribu hingga jutaan, setiap hari menulis kebencian dan menyebar tidak hanya fitnah namun juga hoax. Berita bohong. Iya saya berbicara soal Jonru. Sejak setahun terakhir saya mengenal nama ini dan sesekali memantau Facebook Pagenya yang luar biasa sampah itu. Awalnya saya biasa saja sebab alam memang membutuhkan orang orang seperti Jonru untuk menjaga keseimbangannya. Toh hanya satu orang saja, dan saya hanya perlu menutup aplikasi Facebook agar tidak lagi merasa terganggu.

Namun waktu berlalu dan makin banyak undangan group yang saat saya bergabung di dalamnya, kok Jonrunya makin banyak. Makin sering saya menemukan tulisan tulisan Jonru dan yang sejenis Jonru di sekitar saya. Kalau hoax masih bisa disikapi dengan kebijaksanaan berupa buka Google dan verifikasi beritanya, menghadapi ujaran kebencian membutuhkan kebijaksanaan mental yang lebih kompleks. Kita harus memiliki keterbukaan pikiran, toleransi yang tinggi dan kelapangan jiwa untuk bisa menelan kenyataan bahwa ada jutaan orang yang tiap tiap individu itu memiliki kemungkinan terhasut dan turut menjadi.

Kebencian yang tidak rasional terhadap Jokowi

Cina akan menginvasi Indonesia dan mengganti ideologi negara ini menjadi Komunisme

Anti vaksin (yang menariknya jika di luar negeri gerakan anti vaksin ini karena mereka curiga pemerintah melalui industri obat obatan ingin meracuni anak anak mereka atau karena tergabung dalam cult of being as nature as possible will heal your miserable soul, di Indonesia vaksin ditolak karena Amerika menyusupkan gelatin Babi ke dalam vaksin untuk mengkafirkan bayi bayi muslim. Yeah, it really happens.

Gempa terjadi karena makin banyak orang pro LGBT

Yahudi antek Amerika akan memusnahkan umat Islam

Konten konten bertema demikian biasanya dimulai dengan sederet panjang dikabarkan dari (insert a shady news biro) yang melakukan investigasi di (insert a stranded city of nowhere) dan mendapat informasi dari agen rahasia (what? MI6? Mossad? BIN? apa?) lalu disusul a poorly written (some sort of) news dan diakhiri dengan seruan agar umat Islam bersatu dan ujung ujungnya memboikot sesuatu.

Dan kita masih saja menuding micin sebagai sumber kebodohan.

Membaca adalah solusi untuk kebodohan yang sia sia ini. Baca buku buku yang bagus, berita berita dari saluran yang kredibel; tonton berita di televisi karena sekurangnya masih dikawal oleh KPI bukan dari channel Youtube yang sumber beritanya dari opini content creatornya. Bangun perspektifmu sendiri, uji dengan verifikasi dan buka pikiran (serta kelapangan hati) untuk menerima perubahan atas perspektif itu. Saya tidak pernah malu jika perspektif saya sekarang berbeda dengan beberapa tahun lalu sebab saya tau seberapa banyak buku yang saya baca, berapa banyak individu baru yang saya temui, kejadian yang terjadi selama rentang waktu itu.

Lagipula sudah 2018 masa masih meminjam opini orang?