Issues

“Penyakit orang urban adalah terlalu berkutat dengan diri sendiri sampai memunculkan perkara perkara yang sebenarnya sepele, menjadi berlebihan dan seolah olah, dunia harus menjadikannya entitas paling spesial dan paling memerlukan perhatian”

Jika selepas mendapatkan kalimat seperti di atas kamu ingin mengambil pisau buah, mengiris pelan nadi secara vertikal dan membiarkan dunia menjadi gelap dan semua perkara di dalamnya hilang, maka pernyataan itu benar adanya.

My dear, soal merasa paling tidak spesial is my thing. I’ve mastered the “I’m just a speck of dust in this vast universe I’m not entitled to any attention or even affection from anyone” since forever. Since I realised not even my parents loves me. I’m unloved, lonely and literally got no one to look up to and it’s okay. Aku 27 tahun hidup dan cuma (kayaknya) disayangi Bambang -kucing yang prognosa hidupnya ga panjang itu- dan yauda gpp.

But I do, tired, sometimes. Pada malam malam tanpa atau dengan sedikit tidur, pada restlessness yang terasa tidak berkesudahan, pada pikiran soal mati sendirian tanpa sekalipun sempat merasa disayang. Nasib menjadi perempuan gendut jele tanpa skill flirting yang cukup untuk membuat orang betah berlama lama ngobrol, sepertinya. And I’ve tried, jangan salah, untuk berkali kali membuka diri, bercerita tentang luka untuk kemudian dinegasikan dalam kesunyian, pengalihan pembicaraan or even worse; tidak dimengerti.

And I’ll shut the fuck up, let everything sinks in and hope that everything would be fine if I’m hiding it under the carpet. Lalu menjalani hidup dengan bangun pagi dari tidur seadanya, bekerja, bermain game, nonton film bagus, baca buku sesekali lalu terjaga dan terjaga dan terjaga bersama sampah di bawah karpet bernama kesepian dan sendirian.

Bangsatnya, it didn’t work.

Dalam rangka ingin tetap hidup meski tanpa alasan yang cukup kuat, I seek for help. A profesional one. Untuk kemudian bercerita, dan mengulang ulang event menyakitkan dalam kepala, lalu dipepatkan dalam sederet istilah yang mau tidak mau diterima meski sempat denial karena aku sudah merasa semuanya baik baik saja, for fuck sake. Dan akhirnya kembali ke rumus semula ; yauda, gapapa.

Membersihkan dan merapikan rumah sampai jam 2 malam hingga badan gemetar kelelahan itu tidak normal, yauda gapapa. Merobek puluhan lembar jurnal karena salah menulis satu kata itu tidak normal, yauda gapapa. Makan sampai kekenyangan dan muntah muntah itu tidak normal, yauda gapapa. Berenang sampai ligamen lutut sebelah kanan cidera itu tidak normal, yauda gapapa.

Yauda gapapa tapi ini terjadi di usia 27, saat kukira aku sudah bisa dan lumayan jago untuk mengelola perkara begitu setelah bertahun tahun berkutat soal self worth dan berhenti menggugat hal yang sudah terjadi. Aku kira aku sehat dan sialnya, ternyata tidak.

Ini pilihanku, aku memutuskan untuk hidup seperti ini. Maka aku selalu meminta diri untuk kuat dan chin up, terhadap kesunyian dan kesepian aku tidak semestinya mengibarkan bendera putih menyerah lalu mencari validasi dan penghiburan dari orang lain. Aku yang memutuskan untuk hanya fokus mencari uang agar hidupku tidak lagi bergelimang penderitaan. Aku yang memilih untuk menyendiri dan menjilati lukaku sendiri. Harusnya aku bisa, harusnya aku cukup kuat untuk ini.

Namun ada kesedihan yang sulit diutarakan saat terbangun dari mimpi buruk dan tidak satupun nama terlintas untuk membagi ketakutan. Pada malam mati lampu di tengah angin kencang dan hujan deras beserta kilat dan gemuruh yang menciutkan perasaan. Pada terjatuh di lantai dapur saat demam mencapai 40 dan seluruh penglihatan menjadi kehijauan namun tidak satu namapun terlintas untuk meminta pertolongan. Aku tidak semestinya merepotkan siapapun sebab ini adalah hidup yang kupilih dan kukira kuinginkan.

“Jika hidup harus berakhir dalam keadaan seperti ini, yaudah gapapa” adalah kalimat yang kuulang ulang saat mengalami ketakutan yang rasional maupun tidak. Being lonely sucks. Tapi hidup dalam ilusi disayangi dan memiliki rekanan namun nyatanya tidak jauh lebih menyakitkan. Berapa kali lagi harus kualami lompatan keriaan karena merasa dimengerti, karena ada yang sudi menawarkan telinga dan hati untukku berbagi namun kemudian berakhir pada kesunyian karena ditinggalkan, pengkhianatan atau sesederhana; aku tidak lagi menarik dan membosankan?

Pada hal hal demikian aku sudah menyiapkan ruang untuk menarik diri dan mengambil jarak yang cukup untuk tidak membiarkan diri ini diinjak injak kembali. Dan menganggap persoalan seperti itu hanya bagian dari kesialan dalam hidup. Untuk kembali menjalani hari dengan bangun pagi, bekerja, bermain game, nonton film, memasak dan memastikan hari ini aku tidak tiba tiba menangis histeris di kamar mandi. Jika dalam rangka tidak ingin membiarkan kepala mengajak berbicara soal kesepian aku harus menyibukkan diri dengan mencuci ulang seluruh isi rak piring, yaudah gapapa.

“Come on, kamu baru 27 dan lihat apa yang sudah kamu lakukan. Lihat apa yang sudah kamu miliki, lihat apa yang kamu capai dalam pekerjaan, yang bagi banyak orang seumurmu ingin miliki, lihat berapa banyak kota dan negara yang telah kamu kunjungi, lihat bagaimana kamu menghidupi tidak hanya diri sendiri tapi seluruh keluargamu. Lihat betapa beruntungnya kamu dalam hidup”

Seandainya semua itu bisa membuatku tidak membuka kunci rumah, mengucapkan “I’m home” kepada ruang sunyi dan gelap, menghidupkan lampu dan mengisi bathub dengan keinginan untuk mati dengan menenggelamkan diri di ujung hari, betapa sederhananya kebahagiaan itu, ya?

But it’s all just temporary, right? Tidak ada kebahagiaan yang abadi, serupa tidak ada kesedihan yang bertahan selamanya. I’ll keep swimming, and took breath sometimes, floating when I feel tired, but I’ll live, I know I will, until the end of the line.

Until the end of the line.

Sampit, 19 Mei 2019

Hari kesebelas, rasanya lelah sekali astaga.

24 Mei 2019

Sengaja ini akan dijadikan post panjang, untuk dapat melihat progressnya. Hari keenam belas. Menyelesaikan tes MMPI dan hasilnya akan ketahuan pada kunjungan berikutnya. Capek, rasanya ingin tidak melakukan apa apa, duduk di pojokan bengong dan menangis, menangis, menangis saja. Sudah aku kasih ruang untuk melakukan hal itu di akhir pekan kemarin, 48 jam memperbolehkan diri sendiri untuk merana semerana merananya, sedih sesedih sedihnya dan ternyata it kinda works.

Mungkin bantuan obat, but I’m way, waaaaayyyyy much more ‘normal’ now. Tidak ada lagi energi berlebih yang membuat terjaga berhari hari, if I feel ecstatic karena excited dengan hal hal seru, aku memaklumi diri sendiri dan paham kenapa lonjakan energi itu muncul. Aku tidak mengalihkannya ke kegiatan fisik tidak masuk akal seperti mengecat kamar mandi jam 11 malam dan menakar lagi soal apakah ini normal/masuk akal?

I’m 27 now. Dulu kukira kalau punya duit, hidupku bakal bahagia. So I work my ass off and I earn some money, but I still unhappy. Lalu kukira kalau kurus, I’ll get over my loneliness and people would want me, love me, so I work my ass off and losing 20kg++ and yet, I’m still unhappy. And I’m tired, T I R E D. Semua aku lawan dan lawan dan lawan dan lawan sampai akhirnya kelelahan sendiri, ngos2an sendiri. Lalu yang tersisa, apa? Selain diri sendiri, selain diri sendiri.

Embrace Nani, embrace~

Advertisements

Liebster Award Nomination

Menemukan challenge berantai seperti ini seketika melemparkan saya ke 10 tahun silam, saat menulis blog adalah hobi semua orang dan tempat ini lebih ramai dari pasar malam. Sekarang tentu saja ia telah beralih platform menjadi Facebook, Instagram dan Twitter. Namun hingga saat ini blog masih menjadi favorit saya untuk menuangkan isi kepala. Dan karena ia sudah tidak seramai dulu, saya jauh lebih nyaman untuk berbicara tanpa keinginan untuk menggugah, menginspirasi lebih lebih mencitrakan diri di sini.

Mbak Maya menyertakan saya di antara 11 blogger lain untuk mengikuti Liebster Award Nomination ini (lebih lengkap ada dalam entry beliau yang ini) dan saya tertarik untuk ikut meramaikan karena itu tadi, atas nama nostalgia hahaha.

Berikut jawaban saya untuk 11 pertanyaan dari Mbak Maya:

Question for my fellow bloggers:

  1. your blog in 3 words, are? Media curhat, review buku dan jalan jalan
  2. your favorite author? Saat ini masih ditempati Haruki Murakami
  3. how many times did you re-read your writing? in a good day, 2-3 kali.
  4. when you write, do you lock yourself in a room? I don’t need to, I’m living alone
  5. your favorite books? Cantik Itu Luka, Sputnik Sweetheart, The Redeemer, One Hundred Years of Solitude (by far)
  6. what is your favorite stationary items? my lovely meal plan journal
  7. any other hobbies else than writing? Memasak dan menghitung kalori (by far)
  8. what kind of things that must be there or accompanying you when you write? my imaginary friend
  9. what is a writer’s block to you? rasa nyaman
  10. most anticipated guest to be at your house right now? basically anyone. Why? I’m still in this house warming euforia, baru pindahan~
  11. where would you want to be, the beach or the mountain? beach for sure. Di bawah sinar rembulan. Sambil berpegangan tangan :’)

Random 11 fact about me:

  1. I had this weird allergy toward perekat. Lakban, plester luka, koyo akan menimbulkan ruam dan gatal gatal yang berujung dengan bekas luka. I can’t recall when the last time I had kulit mulus tanpa bekas luka.
  2. I read comic books in a speed of light
  3. Lebih suka nonton teater/monolog/designated seating music show dibanding konser karena suka mendadak panik kalau berada di tengah orang banyak yang teriak teriak
  4. Meski sudah 10 tahun bekerja di bidang komunikasi (jurnalis, penyiar radio, penyiar TV, publicist dan sekarang humas – CSR) lidahku suka mendadak kelu kalau kenalan sama orang baru~
  5. Punya teman diskusi imajiner
  6. Sering dikira melucu padahal murni bodoh. Pernah mengira sapioseksual adalah sebutan untuk orang dengan fetish terhadap sapi.
  7. Pernah masuk UGD karena makan Momogi rasa keju 4 kotak isi 20
  8. Kalau latah nyebutnya ayam aku merasa seperti komedian program TV pagi hari yang tidak lucu 😦
  9. Agus Kuncoro adalah segalanya
  10. Hopeless romantic
  11. Lebih takut film sedih daripada film horor

Saya seharusnya mendampuk 11 blogger lain untuk menuliskan hal serupa di atas tapi saya ga bisa menemukan 11 laman blog milik kawan yang cukup dekat untuk meneruskan pesan ini. Jadi ya, biarlah berhenti di saya hehe.

***

Oh, kemarin saat menuliskan kaleidoskop 2018 di pertengahan bulan Desember, saya sama sekali tidak memiliki rencana akan ke mana pada saat tahun baru. Saya sudah menyusun janji mabar dengan rekan rekan sepermainan PUBG dan membeli banyak sekali cemilan sebagai kawan nonton Netflix untuk melewati tahun baru dan libur panjang di dalamnya.

Ndilalah, saya berangkat ke Bali pada 28 Desember dengan keputusan diambil tepat dua hari sebelumnya sebab apalah artinya usia muda jika impulsif tidak menjadi sifat utama. Menghabiskan seminggu dengan makanan enak, obrolan dan diskusi tidak berkesudahan. Untuk sekedar berpendapat dan mengungkapkan hal hal yang tidak pernah berani saya katakan di lingkaran sosial di Sampit atas nama decency dan memaklumi. Begitulah, tahun baru 2019 saya lewati dengan tipsy berkat 3 gelas wine dan riuhnya hitung mundur di antara kembang api pantai Canggu.

Sampit, 4 Januari 2019

Perubahan Adalah Kutukan (?)

Kita harus memaklumi kegemaran orang orang tua dalam bernostalgia. Dalam setiap kesempatan berbicara dengan seseorang yang jauh lebih tua dari saya, saya selalu meminta mereka untuk menceritakan zaman yang sudah lewat and oh boy they love it. Karena perubahan niscaya terjadi dan ia kian cepat berotasi dari masa ke masa. Di abad 18 mungkin butuh 20-30 tahun rentang masa dari satu penemuan berevolusi menjadi penemuan yang lebih mutakhir. Sementara saat ini, hanya butuh 5 tahun bergerak dari Java dan Symbian menuju Android dan IOS. Hanya butuh 2 tahun untuk sebuah handphone bergerak dari waterproof menjadi water resistant.

Karenanya mereka yang di tahun ini berusia 30an namun masih mencoba signifikan dengan mengikuti setiap tren terbaru akan kewalahan dan semakin merasa berjarak pada setiap tren baru yang muncul. Saya sendiri 26 tahun dan sudah tidak bisa merasa relate semenjak era Snapchat. IG Story, Tik Tok dan segala platform media sosial yang hype sudah terasa jauh berjarak dari saya. Di rentang usia dari nol ke 26 saja, saya mengalami beberapa fase perubahan yang menggugat nostalgia sekali-dua.

Seperti masa di mana untuk mengakses internet saja membutuhkan perjuangan yang hakiki. Untuk sekadar download gambar dengan satuan belasan kilobyte memakan waktu bermenit menit. Atau penghiburan paling menarik di internet adalah ketika mengunduh mp3 menjadi perkara yang bisa dilakukan (dan sederet situs porno ber-bandwidth rendah seperti DS dan Lalatx tentu saja)

Kala itu, meski internet dan teknologi sudah merangsek sedemikian canggihnya, kebersamaan masih bisa diraih melalui tukar menukar hardisk dan salin menyalin hasil unduhan ilegal film film terbaru. Atau ngumpul bareng di lokasi ber-wifi kencang (yang saat itu sangat jarang) dan menaruh segenap harap pada Internet Download Manager untuk kemudian berbincang hingga unduhan selesai. Di era itu, saya masih bisa relate.

Tak sampai sepuluh tahun selepasnya, saya berada di sebuah tongkrongan dengan 6 orang lain sibuk bermain dengan gadgetnya masing masing. Sekali-dua saya diajak foto selfie berdua atau foto group dengan senyum dibuat buat seolah we’re having the best time of our life karena sejurus kemudian muncullah foto tersebut di Instagram dengan caption serupa : Having a fun time with besties. Hal tersebut terjadi beberapa kali dan saya jengah, sebab kalau hanya untuk sibuk sendiri saya lebih suka ke cafe sendirian untuk dowload film sambil membaca buku. Melakukan hal sunyi seperti itu sendirian terasa lebih masuk akal daripada diam berjamaah.

Pemandangan menggelikan itupun pada akhirnya menjadi sebuah kemahfuman. Orang orang berkumpul dalam kelompok namun masing masing menelan kesunyian. Yang suka mati gaya karena tidak suka berlama lama menatap layar gadget seperti saya akan tersisih. Karena jengah, karena risih, karena mati gaya dan akhirnya memilih ngapa ngapain enaknya sendirian hahaha.

when everybody tried to be a special snowflake

Maka begitulah, bagaimana perubahan dapat menjadi kutukan. Mungkin ini yang dulu dirasakan oleh pendahulu kita saat melihat roda ditemukan dan orang orang mulai meninggalkan keseruan jalan kaki bersama sama. Saat mesin uap diciptakan dan revolusi teknologi didengungkan dan orang orang mulai lupa value segala hal yang dilakukan secara manual.

Tapi hey, setiap aksi akan menemukan reaksi. Bukannya seiring dengan kesunyian perubahan ini diiringi dengan nyaringnya gaung soal off grid and technology detox. Sebab setiap kita sebenarnya perlu istirahat dari perubahan. Jika yang lain melakoninya dengan seminggu penuh berkemah tanpa gadget dan mesin apapun, saya punya detox saya sendiri bernama nostalgia.

 

Sampit, 22 Juni 2018

Ini sudah hari ketiga hujan kelewat deras turun di pertengahan malam.

Yang Bikin Bodoh Itu Kurang Baca, Bukan Micin

Yang paling mengganggu saat berselancar di dunia maya adalah masih saja menemukan orang orang yang melakukan hal ini:

Tapi ketika yang beginian muncul, saya biasanya hanya tertawa dan membatin “Goblooo” sambil lalu. Herannya, meski sudah setengah mati screening pertemanan tapi tetap saja hal hal begini melintas di timeline Facebook. Bagi saya, like dan amin begini harmless. Nyampah tentu saja, apalagi kalau ternyata entry yang diserbu adalah clickbait atau monetized post tapi ya udahlah, toh saya berada di area yang tegas terkait memperbolehkan adik menghabiskan siang malamnya untuk looting sen demi sen dari flooding adsense. Yang ‘terjebak’ ngasih duit ke empunya hajatan ya siapa suruh sampah begitu diklik.

Sama seperti entry entry “Ketik Amin”, terlepas dari perdebatan ustadz ustadz soal boleh-tidaknya, kata “Amin” dalam kehidupan nyata memang telah digunakan secara foya foya sehingga apa bedanya dengan mengetiknya di sosial media (kecuali annoying dan nyampah, tentu saja. Tapi merasa annoyed adalah masalah saya, bukan hutang siapa siapa) dan kembali lagi, kalau terjebak monetized post maka yang goblo sebenarnya siapaaa?

Yang membodohi lagi menyesatkan serta meresahkan hingga urgensi untuk menuliskannya di blog ini adalah kebiasaan meng-copy paste/share hoax. Dan ini berbahaya karena sejarah telah mencatat ratusan kejadian dan puluhan ribu kematian sia sia karena berawal dari kabar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Dulu ketika menjadi jurnalis, setiap pagi saya panas dingin membaca berita yang saya tulis. Saya senantiasa kuatir jika berita saya tidak benar dan tidak cukup cover both side. Di bulan bulan terakhir saya bahkan sengaja menghindar menulis berita berita bombastis yang berpotensi masuk halaman utama. Saya lebih banyak mencari ide untuk berita feature yang menyenangkan semua pihak (mungkin ini juga yang akhirnya menyadarkan bahwa saya tidak berbakat menjadi jurnalis hahaha)

Kekhawatiran itu menghantui saya hingga susah tidur padahal koran kami hanya dicetak tiga ribu eksemplar dengan probabilitas orang membaca berita saya di sudut bawah halaman tengah hitam putih pastilah sangat kecil. Beruntung hingga akhir masa kejurnalisan, saya tidak mendapat kendala berarti terkait hal ini.

Sekarang bayangkan seseorang dengan follower ratusan ribu hingga jutaan, setiap hari menulis kebencian dan menyebar tidak hanya fitnah namun juga hoax. Berita bohong. Iya saya berbicara soal Jonru. Sejak setahun terakhir saya mengenal nama ini dan sesekali memantau Facebook Pagenya yang luar biasa sampah itu. Awalnya saya biasa saja sebab alam memang membutuhkan orang orang seperti Jonru untuk menjaga keseimbangannya. Toh hanya satu orang saja, dan saya hanya perlu menutup aplikasi Facebook agar tidak lagi merasa terganggu.

Namun waktu berlalu dan makin banyak undangan group yang saat saya bergabung di dalamnya, kok Jonrunya makin banyak. Makin sering saya menemukan tulisan tulisan Jonru dan yang sejenis Jonru di sekitar saya. Kalau hoax masih bisa disikapi dengan kebijaksanaan berupa buka Google dan verifikasi beritanya, menghadapi ujaran kebencian membutuhkan kebijaksanaan mental yang lebih kompleks. Kita harus memiliki keterbukaan pikiran, toleransi yang tinggi dan kelapangan jiwa untuk bisa menelan kenyataan bahwa ada jutaan orang yang tiap tiap individu itu memiliki kemungkinan terhasut dan turut menjadi.

Kebencian yang tidak rasional terhadap Jokowi

Cina akan menginvasi Indonesia dan mengganti ideologi negara ini menjadi Komunisme

Anti vaksin (yang menariknya jika di luar negeri gerakan anti vaksin ini karena mereka curiga pemerintah melalui industri obat obatan ingin meracuni anak anak mereka atau karena tergabung dalam cult of being as nature as possible will heal your miserable soul, di Indonesia vaksin ditolak karena Amerika menyusupkan gelatin Babi ke dalam vaksin untuk mengkafirkan bayi bayi muslim. Yeah, it really happens.

Gempa terjadi karena makin banyak orang pro LGBT

Yahudi antek Amerika akan memusnahkan umat Islam

Konten konten bertema demikian biasanya dimulai dengan sederet panjang dikabarkan dari (insert a shady news biro) yang melakukan investigasi di (insert a stranded city of nowhere) dan mendapat informasi dari agen rahasia (what? MI6? Mossad? BIN? apa?) lalu disusul a poorly written (some sort of) news dan diakhiri dengan seruan agar umat Islam bersatu dan ujung ujungnya memboikot sesuatu.

Dan kita masih saja menuding micin sebagai sumber kebodohan.

Membaca adalah solusi untuk kebodohan yang sia sia ini. Baca buku buku yang bagus, berita berita dari saluran yang kredibel; tonton berita di televisi karena sekurangnya masih dikawal oleh KPI bukan dari channel Youtube yang sumber beritanya dari opini content creatornya. Bangun perspektifmu sendiri, uji dengan verifikasi dan buka pikiran (serta kelapangan hati) untuk menerima perubahan atas perspektif itu. Saya tidak pernah malu jika perspektif saya sekarang berbeda dengan beberapa tahun lalu sebab saya tau seberapa banyak buku yang saya baca, berapa banyak individu baru yang saya temui, kejadian yang terjadi selama rentang waktu itu.

Lagipula sudah 2018 masa masih meminjam opini orang?

 

 

A Trip to Remember

I rarely post my trip experiences. I’m not that good on describing what I feel and found the amazingness of the place I’ve been going. It’s September already and last night I had this thought before I hit the sack.

Men Nani udah jalan jalan ke banyak tempat sekali tahun ini.

Jadi ini dituliskan untuk mengingatkan diri sendiri di tahun tahun selanjutnya soal betapa saya semestinya tidak menggugat berlebih terhadap hidup yang tidak berjalan mulus. Entry kali ini akan dipenuhi selfie. I warn you.

Bali (29 Desember 2016 – 2 Januari 2016)

Ini kali pertama saya pergi ke Bali, menginap di Kuta untuk kemudian pindah ke Sanur dua hari setelahnya. Bertemu Pitooooo \o/ dan menghabiskan pagi – sore seliweran di pantai dan mencicipi kopi kopi enak, makanan makanan lezat dan perbincangan hangat aww.

Bali – Jakarta – Bali (23 – 31 Januari 2016)

Kali ini ke Bali (lagi) karena niatan nonton Ari Reda di Taman Ismail Marzuki pada 26 Januari. Mumpung weekend, melayanglah gadis ini ke haribaan Sanur untuk menyapa residen Ubud kesayangan dan Pito. Lalu menyaksikan Ari Reda yang memukau selama tiga jam pagelaran dan kembali ke Bali untuk nonton Navicula! Bulan yang menyenangkan indeed. Oh, saya juga menghadiri Malam Puisi Bali dan menjadi turis ga tau diri membacakan puisi Lang Leav dan Aan Mansyur. Bhihik.

 

Bali (08 – 12 April 2016)

Iya Nani ke Bali lagi hahaha. Kali ini untuk ngapain ya.. wait.. oke kali ini tanpa alasan selain kebetulan ada libur panjang (?) atau lainnya. Kembali menyambangi residen Ubud dan secara abusive menghajar Kuta dan Seminyak bermodalkan sepeda motor sewaan.

Bali (13 – 18 Mei)

Oke saya ke Bali lagi. Kalau tiap berangkat dan balik ke Sampit membawa satu kodi Pie Susu Dian, mungkin di tahun ini saya sudah sukses menjadi re-seller leholeh khas Bali itu. Di titik ini saya telah sukses dikenali oleh para waitress Smorgas – Jl. Danau Tamblingan dan ikrib bingit sama Pito dan kengkawannya di Helmen Coffee. Dan residen Ubud masih seenak empat kunjungan sebelumnya.

Kali ini saya membawa misi untuk menyaksikan pagelaran Ari Reda di Rumah Sanur – Jl. Danau Poso. Saat pagelaran berakhir dan saya kudu packing untuk mengejar penerbangan pagi keesokan harinya, di sela seruput terakhir soto yang enak banget itu saya memutuskan untuk tidak ke Bali dulu sementara waktu. Setidaknya sampai saya sembuh. Nani sakit kolesterol. Men.

Screen Shot 2016-09-11 at 12.30.19 PM.png

Singapura (30 Juni – 6 Juli 2016)

Berawal dari “Nan ke Vietnam yuk” dari Rida, saya menyelesaikan pembuatan pasport dalam kurun waktu SEHARI. Terimakasih kepada Manager HRD KLK Kalteng, I owe you one muach. Mengurus itinerary dan sekelumit perpesanan hotel melalui jasa pemesanan online, semua sudah fix lengkap dengan peta Ho Chi Minh City dan Rida telah membayar bagiannya. Lalu pada H MINUS SATU, Rida yang saat itu ada di Jakarta menelpon soal.

“Nan kayaknya Vietnam kejauhan, ke Singapore aja yuk”

Saya sayang Rida, namun kali ini sekurangnya tiga puluh menit saya habiskan untuk memprotes soal gila ya saya bikin pasport sehari jadi buat ke Singapore doang. Long story short, usai semua pembatalan dan re-route penerbangan, saya mendapatkan tiket ke Singapore 4 kali lipat harga normal lantaran pembelian dilakukan kurang dari 24 jam sebelum keberangkatan dan itu sedang libur lebaran. Of course.

Rida? oh dia beli tiket seharga 8 kali lipat harga normal pada dua jam sebelum keberangkatan. Di Bandara. Kek perkara pergi ke Singapure serupa kaya naik kereta api ke Sleman.

Kami memang bukan traveller paling cerdas sedunia.

Empat hari di Singapura itu seru! Pertama kalinya saya pergi ke luar negeri dan berhadapan dengan toilet kering ke manapun menuju. Secara agresif makan SubWay dan melakukan tourist cliche di beberapa spot turis di sana. FUN!

Surabaya (13 – 14 Agustus)

Trip kali ini didasari rasa penasaran terhadap ide iseng gimana kalau weekend ke luar kota tanpa kudu ambil cuti atau nunggu tanggal merah. Pada tanggal 12 tepatnya jam dua subuh saya membeli tiket penerbangan paling pagi ke Surabaya dan pulang paling sore di tanggal 14. Eh ternyata bisa loh, tiba di Surabaya jam 9 pagi lalu mengitari mall TP yang sekarang sudah ada enam biji lalu menunaikan urusan di ZAP Clinic, nonton, nongkrong, ke mall lagi keesokan harinya lalu pulang.

Cukup untuk kabur singkat dari Sampit, tapi untuk ditunaikan setiap minggu seperti ide semula, rasanya tidak setimpal dengan pegel badan aja.

Jakarta (20 – 22 Agustus)

Ke Jakarta sebenarnya tidak bisa dianggap sebagai liburan. Namun kali ini perginya bersama tiga orang kawan lainnya and we had a great time for 2 days in Jakarta! Ditambah lagi seluruh keperluan saya disponsori! Hahaha. Terbang melalui penerbangan paling sore ke Semarang lalu tiba di Jakarta menjelang tengah malam untuk kemudian berhura hura dan mall-hopping keesokan harinya. FUN ❤

Jakarta – Surabaya – Medan – Pekanbaru – Belitung (25 Agustus – 6 September 2016)

Permohonan cuti pada 25-26 Agustus sudah saya ajukan sebulan sebelumnya. Alasannya, saya ingin menghadiri pagelaran Teater Bunga Penutup Abad di Gedung Kesenian Jakarta. Teater yang tiketnya telah saya beli jauh sebelum permohonan cuti disetujui karena tiket telah nyaris habis sebulan lebih sebelum pertunjukan. Saya kebagian tiket VIP that cost me some fortune tapi tidak saya sesali karena tempat duduk saya strategis sekali.

Seminggu sebelum berangkat, dua berita saya terima. Satu; cuti saya tidak diluluskan dan dua; pada tanggal itu saya harus berangkat dinas untuk photoshoot seluruh anak grup KLK di Indonesia. WTF.

Nyaris semalam penuh saya menimbang betapa saya akan menyesal jika tidak menyaksikan teater yang diangkat dari novel Bumi Manusia-nya Pram ini. Ditambah dengan fakta bahwa tiketnya susah didapat. Betapa dekat saya dengan tunainya keinginan tersebut dan betapa mendesak ia untuk dipenuhi. Akhirnya, dengan keberanian entah dari mana, saya yang hanya remah korporat ini menghubungi Presiden Direktur perusahaan kami di Jakarta dan meminta agar jadual dinas saya dimundur serta saya diizinkan cuti untuk nonton teater.

Pertanyaan beliau : “What? How? What the.. Nani, that presentation have to be done in 24, and our time is tight. And your bloody theatre, what is that all about?”

Men, kalau levelnya Regional Direktur saya masih bisa cengengesan dan ngarang ini-itu. Di hadapan Presdir begini saya hanya merasa kurang tepat untuk berbohong. Akhirnya saya jelaskan semua secara panjang lebar dan betapa saya ingin nonton pagelaran tersebut lantaran jangkauan temanya adalah sesuatu yang sejak remaja saya sukai. Beliau akhirnya setuju, dengan saya yang penuh keyakinan menyatakan akan menyelesaikan draft awal sebelum tanggal 7 sehingga dia punya sekurangnya 4 kali kesempatan untuk review dan revisi. (update, ini tanggal 11 dan kami telah melakukan dua kali review, beliau bilang semuanya oke dan tinggal menunggu beberapa data tambahan dari akuntan lalu beres. YAY)

Begitulah, drama di balik Teater Bunga Penutup Abad. Men itu empat jam paling bahagia dalam hidup saya. Nyaris tanpa kedip saya menyaksikan perwujudan novel Pak Pram, ke dalam teater. Penampilan Happy Salma yang tanpa cela, Reza Rahardian yang utuh hadir sebagai Minke. Duh.

Lepas dari Jakarta, pada 26 Agustus saya berangkat ke Surabaya selama dua hari untuk beberapa urusan. Lantas memulai dinas sambil nyolong liburan dan kopdar di hari Senin. Di Medan saya bertemu kawan lawas dari twitter, makan duren di tempat paling klise untuk turis lalu melakukan photoshoot di tiga kabupaten berbeda. Lalu melanjutkan ke Pekanbaru, photoshoot di dua kabupaten dengan arah berlawanan sehingga sungguh menguras energi lalu ke Jakarta untuk preview awal. Lalu melanjutkan ke Tanjung Pandan untuk sehari penuh memanfaatkan fasilitas kantor untuk pergi ke pantai pantai di sepanjang Tanjung Pandan – Kelapa Kampit dan diving di pulau Lengkuas kyaaaaaa.

Pulang pada tanggal 6 dan preview kedua keesokan harinya. Saya sendiri bertanya tanya kenapa saya masih sehat secara fisik dan mental setelah deadline beruntun sejak awal Agustus kemarin hahaha. Ini adalah rute terpanjang saya dalam bepergian. Dan trip kali ini cukup untuk membuat saya kalem tidak ingin pergi ke mana mana sekurangnya hingga tahun depan. Airport juggling, tons of hotel check in, aju merasa cukup dengan semuwa ituw.

2016 adalah tahun yang menyenangkan. Saya banyak membaca, banyak bepergian, banyak menemui keseruan di tahun ini. September akan habis dalam kedipan mata, saya yakin itu. Setelah pergi ke banyak tempat dan bertemu banyak orang, saya mulai memikirkan soal  iya, memangnya kenapa sih saya kudu keukeh banget tetap di Sampit? menyusul tawaran Presdir untuk menempati posisi PR dan memimpin communication department di kantor pusat dengan gaji yang tentu berkali lipat. Tawaran yang sudah dua kali saya tolak dengan alasan saya tidak ingin meninggalkan bos saya di regional karena saya ingin berterima kasih dengan tetap di sini sampai beliau pensiun.

Oh, saya sangat menyayangi bos saya yang satu ini. Saya muncul di hadapan beliau untuk melamar pekerjaan tanpa modal apapun kecuali keberanian. Perusahaan ini membutuhkan sarjana bahasa inggris/komunikasi yang menguasai desain dan pengalaman bekerja di perkebunan minimal dua tahun. Saya muncul dengan kondisi resume awur awuran, tanpa rekomendasi lantaran saya cabut tanpa short notice dari kantor sebelumnya. Saya diterima bekerja tanpa alasan kuat kecuali beliau percaya pada saya. Dan itu bikin terharu, sungguh.

Setiap mengingat bagaimana beliau membela saya saat yang lain mempertanyakan kredibilitas saya, pada setiap gugat manager mengapa saya naik jabatan sedemikian cepatnya, beliau yang mempertaruhkan kredibilitasnya saat Presdir meminta saya memegang proyek senior manager and share holder annual presentation. Proyek yang di tahun tahun sebelumnya dipegang oleh expatriate senior manger yang telah bekerja 15 tahun lebih sebagai tangan kanan Presdir. Yang kemudian diserahkan kepada saya (dengan waswas yang tinggi, mungkin), anak kampung yang norak melihat MRT, berbahasa Inggris seadanya dan bahkan tidak sekalipun mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dari SMA. Tanpa sertifikat desain, PR, public communication, apapun.

Saya tidak memiliki banyak pilihan kecuali bersyukur dan melesat lebih jauh dari ini. I already detached every string here in Sampit. I cut my friends, my family, love of my life. I already found myself all alone every time I got back home anyway. It’s been two years and I think I’m ready, I’m prepared physically and most important mentally to loose the string and leave. Tapi ya kenapa ya rasanya susya sekali hahaha.

Sampit, 11 September 2016

Saya semestinya bahagia sekali sekarang, setelah semua pujian dan pengakuan itu.

Tapi ya kok ya tep aja rasanya kek ada yang salah.

The Lonely Mr. Wind-Up Bird

Home again, I sat on the kitchen table as usual, drinking a beer and listening to music on the radio. It then occurred to me that I wanted to talk to someone – about the weather, about political stupidity; it didn’t matter what. I just wanted to talk to somebody, but I couldn’t think of anyone, no one person I could talk to.

I didn’t even have a cat.

Haruki Murakami, The Wind-Up Bird Chronicle page 371

Sampit, 18 Juli 2016

Wild Child – Reno

 

Lobus Temporal

Otak manusia dibagi menjadi 4 lobus; frontal, parietalis, oksipital dan temporal. 2013 adalah tahun di mana saya somehow terobsesi mempelajari kinerja otak melalui kanal wikipedia dan artikel artikel kedokteran di webmd. Oh saya ingat, saya lakukan itu untuk riset sebelum menulis cerpen Logika, walopun hasilnya alakadarnya tapi begitulah, ada beberapa yang masih saya ingat dari maraton membaca artikel bebas di internet itu.

Melalui lobus temporal, apa yang ditangkap oleh reseptor reseptor indera perasa (sistem limbik) diolah menjadi ingatan sensorik. Di sini terdapat hipokampus yang mengolah bau, suara, rasa, rangsangan syaraf dan tentu saja, gambar menjadi ingatan. Kenangan, yang kerap disandarkan sebagai sumber segala kebahagiaan itu adalah produk hipokampus. Pernah lagi senyam senyum abis gajian terus tetiba dunia hancur lebur gara gara mencium parfum mantan? nah berterimakasihlah pada hipokampus.

071718_scivis_fly-brain_feat
What a beauty

Di lobus temporal pula, kenangan dapat diminimalisir. Prosesnya seperti menghapal RPUL, lagu kesayangan atau detil kecil soal kencan pertama, mata menerima apa yang dilihatnya dan memprosesnya sebagai ingatan jangka pendek. Stimulasi hipotalamuslah yang membuatnya menjadi ingatan jangka panjang bahkan patahan patahannya bisa melompat ke jalur subconscious atau memori bawah sadar. Ingatan jangka pendek yang diulang, diulang, diulang dan diulang hingga tiap kamu melihat wajahnya di mana saja, yang menghambur bukan sekedar identifikasi nama, tapi tarakdungcesdararamdararamsyalalala mampuslah kau dikoyak koyak kenangan.

Bagaimana proses pengolahan rasa hingga ia bisa menjadi pemicu emosi, penyebab seseoang galau atau bahkan menjadi pengambil keputusan keputusan besar dalam hidup. Beruntungnya, saya tidak banyak bersinggungan dengan perkara emosional sejak usia bekerja sehingga rasa rasanya beberapa keputusan besar dalam hidup saya ambil dengan logika yang insya Allah logis. Tidak ada momentum saya memutuskan untuk berhenti bekerja atau pindah ke luar kota lantaran disuruh pacar, misalnya. Atau karena marah dengan orang tertentu, atau karena secara batiniah tertekan. Untungnya saya diberi kekuatan untuk tidak baper secara serius.

Ah ya, itu istilahnya. Baper.

Menarik untuk memikirkan bahwa saat ini, tepat di momen ini, ada ribuan neuron dan syaraf yang bekerja di dalam kepala kita sedemikian hebohnya. Ada ribuan kilometer perjalanan darah dalam pembuluh dan ada ribuan potongan ingatan yang sedang diolah menjadi kenangan di dalam sistem limbik beserta amigdala dan hipokampus dan sederet reseptor lainnya. Dengan semua kehebohan di dalam sana, yang tampak di luar hanyalah kamu yang sedang menatap layar komputer sambil ngupil.

Lalu jika perkara kenangan yang menyayat hati nyatanya sesederhana itu, kenapa ada rasa sakit yang tidak bisa dijabarkan saat kenangan itu menyerbu? Kenapa muncul perasaan seperti darah yang mendesir, dada yang sesak, feels like a pinch in a heart, kepala yang wombling bahkan ada yang serangan jantung karena kaget misalnya.

Perkenalkan, amigdala.

Saya ingat pernah berdiskusi perkara ini, soal temuan sains bahwa psychological pain dan social / physical pain sebenarnya memiliki sirkuit yang sama. Saya sebutkan bahwa amigdala mungkin mempengaruhi kelenjar kelenjar penghasil hormon yang kemudian menstimulasi organ untuk bereaksi terhadap rangsangan tersebut. Sederhananya, saat kamu lagi galau, amigdala memproses emosi menjadi sedih. Somehow, mungkin, rangsangan emosi dari amigdala ini bersinggungan dengan kelenjar penghasil protein ACTH (hipotipis, hipopipis?) yang membuat seseorang menangis dan menangis dan menangis hingga boom! dadanya sesak lantaran jalur oksigen masuk tertutupi kelenjar ingus. Lalu asma, lalu mati.

Namun argumen yang ia ajukan lebih menarik, dibanding merunutnya sebagai perkara sebab-akibat, ia menyebut bahwa secara logika psychological pain dan physical pain adalah sama. Sebab ketika seseorang sakit secara fisik, obat yang diberikan adalah zat kimia yang jika bersinergi dengan kelenjar hormon, sistem syaraf dan lobus lobus otak, maka ia akan menyeimbangkan yang kurang dan menihilkan sirkuit rasa sakit.

Jadi semisal sedang sedih sedihnya, minumlah esilgan 😀 😀 😀

Eh jangan ding, seriusan jangan. hahaha.

Dalam Madilog-nya Tan Malaka pernah membahas soal dialektika adalah penentu perkembangan mental manusia. Kemampuan untuk menangkap setiap kejadian melalui reseptor reseptor indera tubuh dan mengolahnya melalui cortex logika. Memisahkan mana yang penting dan tidak melalui hiptalamus lalu menyerapnya menjadi kenangan di hipokampus dan dikeluarkan sebagai emosi oleh amigdala. Bijak dalam berdialektika, adalah kunci. You can reads all the books in the world, or having a non-stop hour of langitan conversation, its all means nothing if you’re not loved. Kata Lennon begitu kak.

Maaf. Posting ini ujungnya ternyata cuma begini doang :)))