The Subtle Art of Not Giving A Fuck

Mark Manson adalah orang favorit terbaru saya. Dalam skenario tea party imajiner yang saya gelar pada sore sore yang senggang beliau saya tempatkan tepat di samping Neil DeGrasse Tyson, bersisian dengan Christoper Nolan dan Murakami. Dalam skenario tersebut kami ngobrol soal alam semesta sambil minum teh dan ngemil profiteroles. Tidak, ini tidak berakhir dengan orgy what the fuck is wrong with you.

Di sela kesibukan push rank di PUBG (sudah Crown II yay), marathon How To Get Away With Murder di Netflix dan baru baru ini setengah mati bimbang haruskah menekuni Fortnite di Nintendo Switch karena faklah saya tertarik tapi gengsi hahaha, saya menemukan buku Pak Manson tengah diskon 20 persen di Periplus Juanda Surabaya. Dalam perjalanan pulang buku ini nyaris habis dan resmi tamat dua hari kemudian.

Isinya jauh dari buku buku self-help seperti yang sering saya temukan di akun Instagram Junita Liesar. Juga jauh dari tema motivasional seperti yang sering diposting orang orang sehat di media sosial. Secara sederhana The Subtle Art of Not Giving a Fuck (yang untuk kepentingan jemari akan disingkat sebagai TSANGF) ini bertutur soal: life sucks, yaudah jalani aja.

WhatsApp Image 2018-10-01 at 08.29.13

Tidak saya temukan soal “There will be a silver lining on every pain” atau “Embrace your hard time because it lead to something beautiful” atau “Jangan khawatir miskin kalau nikah dan punya anak sebelum mapan, rezeki Allah yang jamin” di buku ini. Buku ini cocok untuk seorang unique snowflake yang merasa berhak atas kemudahan kemudahan hidup karena kespesialan itu tadi. Yang merasa jalan hidupnya berat dan society telah berlaku sangat tidak adil. Bahwa sistem yang sudah berjalan ratusan tahun ini salah dan tidak fleksibel for my own needs. Bahwa tidak ada satupun ideologi yang bisa merangkul pemikiran seorang introvert ini dan nobody gets me.

No, we are not special.

Satu satunya yang membuat kita spesial kalau kata Pak Neil DeGrasse Tyson adalah kita terbuat dari unsur yang sama dengan bintang bintang di angkasa; karbon, nitrogen dan oksigen. Sisanya, seluruh peradaban dari tahun 0 hingga sekarang beserta segenap kebudayaan dan teknologi yang ada di dalamnya hanyalah a speck of dust on this universe. Pak Tyson juga bilang bahwa satu satunya alasan kita dan peradaban ini masih eksis adalah karena belas kasihan alam semesta. Coba bayangkan jika saat ini di galaksi tetangga tengah ada rangkaian ledakan bintang yang akan bersinggungan dengan galaksi kita dan membuat seluruh bumi beserta isinya meledak tanpa sisa dalam yet another big bang dan kita tidak bisa menebaknya karena ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita punya sekarang belum mampu melakukan observasi sejauh itu.

We’ll be erased. We will be forgotten.

Dengan premis A Counterintuitive Approach to Living a Good life Pak Manson terasa sangat berhati hati untuk berjalan tidak memberikan pesan yang salah soal “Ayo anak anak kita jadi nihilis saja karena susah payah mengejar kebahagiaan buat apa karena kita semua akan mati juga pada akhirnya~” untung Pak Doni tidak menulis buku motivasi hahaha. Hal ini ditulis secara gamblang di halaman preface soal Not Giving a Fuck tidak sama dengan being indifferent. Hanya saja kita lebih selektif dalam memilih ‘konflik’ hidup, disebutkan skala prioritas penting untuk menentukan sebanyak apa porsi emosi yang dikeluarkan untuk siapa atas hal apa.

Ini menarik sebab seusai membaca buku ini saya menjadi reflektif soal diri sendiri dan observatif terhadap orang lain. Pengelolaan emosi yang terlalu represif akan membuat seseorang triggered dengan hal hal sepele. Seperti Pak Manson, saya juga pernah mendapati orang marah marah dengan kasir Alfamart hanya karena label harga tidak sesuai. Atau meng-anjing-babi-kan orang yang mengambil spot parkir yang dikehendaki (padahal bukan reserved parking eniwei) diambil orang. Kalau kata Pak Manson, kondisi ini melelahkan karena kita stress dan beremosi berlebihan kepada hal hal yang tidak perlu.

Di Jepang ada istilah shikata ga nai (仕方がない) atau yang sering disingkat shouganai untuk merujuk soal “It can’t be helped”, yaudahlahya. Saya sering sekali menggumam kata yaudahlahya ini beberapa tahun belakangan sampai berubah menjadi shouganai sejak mengetahui hal ini saat kemarin pergi ke Jepang. Saya melihat sendiri soal betapa ‘shouganai’nya orang Jepang saat antrian toiletnya diselak turis Cina, atau saat saya jalan sambil main handphone hingga sering nyaris nabrak nabrak, mereka akan minta maaf (padahal yang salah saya) dan terus berjalan tanpa menunjukkan emosi. Kalau mau melihatnya dari perspektif berbeda ya orang orang Jepang (utamanya di kota besar seperti Tokyo dan Osaka) memang seperti zombie. Dan shouganai-nya mereka mungkin lebih ke arah “Aku sibuk sekali dan ga punya waktu untuk berurusan dengan hal hal sepele seperti memarahi turis yang kalau jalan sambil main hape”

But hey, it works either way.

Chapter chapter awal buku ini memaparkan soal permasalahan kita yang terlalu banyak giving a fuck. Pak Manson juga melakukan dekonstruksi soal kenapa kita sering merasa kita adalah an unique snowflake dan entitled to things. Di saat selebtwit dan selebgram menggempur kita soal kampanye you’re special so the world should pay attention and respect to you, Pak Manson malah mati matian meruntuhkan tower ego itu agar kita tidak merasa bahwa dunia dan masyarakat berhutang sesuatu kepada kita. Entitlement itu anak tirinya ego. Dan menjadi orang egois hanya boleh dilakukan kalau kamu anaknya Jack Ma. Kalau udah mizkin, merasa spesial dan minta diperlakukan istimewa yha udha mz u mati ajha~

WhatsApp Image 2018-10-01 at 08.29.17

Di buku ini juga dijelaskan soal kecenderungan kita untuk romanticizing pain. Di media sosial bertebaran orang orang yang tiap hari galau but never try to get help. Saya juga bertemu dengan yang berada dalam hubungan tidak sehat dan terus curhat soal itu tapi tidak pernah mengiyakan (dan melakukan) saat disuruh putus dan keluar dari hubungan itu. Kita memuja rasa sakit seolah itu memang bagian dari diri kita –lebih buruk lagi, merasa itu adalah takdir– seolah ia bagian dari tubuh yang kalau dilepas setara dengan harus kehilangan kaki kanan, ga ikhlas dan ga mampu.

Padahal rasa sakit baik psycological atau physical adalah reaksi tubuh atas reseptor neuron yang mengatakan “Hey, there’s something wrong here” dan tugas kita adalah to fix it. Seperti saat tangan keiris pisau, kita merasakan sakit lalu mencari cara untuk menyembuhkannya. Kasih obat merah, minum Paramex, lilit perban, apapun agar rasa sakitnya hilang. Begitu juga dengan rasa sakit yang muncul akibat cinta yang tidak berbalas, habis nonton drama Korea atau saat Poussey mati kegencet Sipir di Orange is the New Black (this part made me cried for 2 whole days) dan perasaan perasaan sedih sejenis. When we get sad, try to get out and be happy, get help and let yourself be helped. Terdengar sederhana tapi kita lebih suka menimpa kesedihan dengan kelaraan lain. Kesedihan, somehow, membuat kita merasa spesial. Dan kespesialan itu membuat kita merasa entitled.

The Feedback Loop from Hell-nya Pak Manson juga menarik sebab ia menyentil soal kebiasaan kita untuk overthinking dan overanalyze terhadap perkara yang sebenarnya sederhana saja. Bukan bermaksud mengecilkan nilai depresi, anxiety dan penyakit mental lainnya hanya saja kadang kita terlalu cepat menyimpulkan kesedihan kita sebagai depresi. Ditambah sulit untuk memilah mana kesedihan yang murni dan kesedihan demi konten di era sekarang ini. Tapi ya shouganai, berempati saja tanpa harus mencari motif.

Eniwei, karena entry ini sudah terasa panjang sekali, setelah seminggu membaca buku ini hingga tamat dan mengulang kembali dari kemarin, saya menemui simpulan soal hidup yang singkat ini laluilah dengan biasa saja. Prioritaskan keluarga dan teman yang baik, cut toxic people from your life (mereka beneran ada, bukan hanya mitos), tolong diri sendiri saat merasa sedih dan terjebak dalam anxiety. And life can’t be beautiful if we don’t want to see it that way.

 

Sampit, 01 Oktober 2018

Advertisements

Perubahan Adalah Kutukan (?)

Kita harus memaklumi kegemaran orang orang tua dalam bernostalgia. Dalam setiap kesempatan berbicara dengan seseorang yang jauh lebih tua dari saya, saya selalu meminta mereka untuk menceritakan zaman yang sudah lewat and oh boy they love it. Karena perubahan niscaya terjadi dan ia kian cepat berotasi dari masa ke masa. Di abad 18 mungkin butuh 20-30 tahun rentang masa dari satu penemuan berevolusi menjadi penemuan yang lebih mutakhir. Sementara saat ini, hanya butuh 5 tahun bergerak dari Java dan Symbian menuju Android dan IOS. Hanya butuh 2 tahun untuk sebuah handphone bergerak dari waterproof menjadi water resistant.

Karenanya mereka yang di tahun ini berusia 30an namun masih mencoba signifikan dengan mengikuti setiap tren terbaru akan kewalahan dan semakin merasa berjarak pada setiap tren baru yang muncul. Saya sendiri 26 tahun dan sudah tidak bisa merasa relate semenjak era Snapchat. IG Story, Tik Tok dan segala platform media sosial yang hype sudah terasa jauh berjarak dari saya. Di rentang usia dari nol ke 26 saja, saya mengalami beberapa fase perubahan yang menggugat nostalgia sekali-dua.

Seperti masa di mana untuk mengakses internet saja membutuhkan perjuangan yang hakiki. Untuk sekadar download gambar dengan satuan belasan kilobyte memakan waktu bermenit menit. Atau penghiburan paling menarik di internet adalah ketika mengunduh mp3 menjadi perkara yang bisa dilakukan (dan sederet situs porno ber-bandwidth rendah seperti DS dan Lalatx tentu saja)

Kala itu, meski internet dan teknologi sudah merangsek sedemikian canggihnya, kebersamaan masih bisa diraih melalui tukar menukar hardisk dan salin menyalin hasil unduhan ilegal film film terbaru. Atau ngumpul bareng di lokasi ber-wifi kencang (yang saat itu sangat jarang) dan menaruh segenap harap pada Internet Download Manager untuk kemudian berbincang hingga unduhan selesai. Di era itu, saya masih bisa relate.

Tak sampai sepuluh tahun selepasnya, saya berada di sebuah tongkrongan dengan 6 orang lain sibuk bermain dengan gadgetnya masing masing. Sekali-dua saya diajak foto selfie berdua atau foto group dengan senyum dibuat buat seolah we’re having the best time of our life karena sejurus kemudian muncullah foto tersebut di Instagram dengan caption serupa : Having a fun time with besties. Hal tersebut terjadi beberapa kali dan saya jengah, sebab kalau hanya untuk sibuk sendiri saya lebih suka ke cafe sendirian untuk dowload film sambil membaca buku. Melakukan hal sunyi seperti itu sendirian terasa lebih masuk akal daripada diam berjamaah.

Pemandangan menggelikan itupun pada akhirnya menjadi sebuah kemahfuman. Orang orang berkumpul dalam kelompok namun masing masing menelan kesunyian. Yang suka mati gaya karena tidak suka berlama lama menatap layar gadget seperti saya akan tersisih. Karena jengah, karena risih, karena mati gaya dan akhirnya memilih ngapa ngapain enaknya sendirian hahaha.

when everybody tried to be a special snowflake

Maka begitulah, bagaimana perubahan dapat menjadi kutukan. Mungkin ini yang dulu dirasakan oleh pendahulu kita saat melihat roda ditemukan dan orang orang mulai meninggalkan keseruan jalan kaki bersama sama. Saat mesin uap diciptakan dan revolusi teknologi didengungkan dan orang orang mulai lupa value segala hal yang dilakukan secara manual.

Tapi hey, setiap aksi akan menemukan reaksi. Bukannya seiring dengan kesunyian perubahan ini diiringi dengan nyaringnya gaung soal off grid and technology detox. Sebab setiap kita sebenarnya perlu istirahat dari perubahan. Jika yang lain melakoninya dengan seminggu penuh berkemah tanpa gadget dan mesin apapun, saya punya detox saya sendiri bernama nostalgia.

 

Sampit, 22 Juni 2018

Ini sudah hari ketiga hujang kelewat deras turun di pertengahan malam.

Yang Bikin Bodoh Itu Kurang Baca, Bukan Micin

Yang paling mengganggu saat berselancar di dunia maya adalah masih saja menemukan orang orang yang melakukan hal ini:

Tapi ketika yang beginian muncul, saya biasanya hanya tertawa dan membatin “Goblooo” sambil lalu. Herannya, meski sudah setengah mati screening pertemanan tapi tetap saja hal hal begini melintas di timeline Facebook. Bagi saya, like dan amin begini harmless. Nyampah tentu saja, apalagi kalau ternyata entry yang diserbu adalah clickbait atau monetized post tapi ya udahlah, toh saya berada di area yang tegas terkait memperbolehkan adik menghabiskan siang malamnya untuk looting sen demi sen dari flooding adsense. Yang ‘terjebak’ ngasih duit ke empunya hajatan ya siapa suruh sampah begitu diklik.

Sama seperti entry entry “Ketik Amin”, terlepas dari perdebatan ustadz ustadz soal boleh-tidaknya, kata “Amin” dalam kehidupan nyata memang telah digunakan secara foya foya sehingga apa bedanya dengan mengetiknya di sosial media (kecuali annoying dan nyampah, tentu saja. Tapi merasa annoyed adalah masalah saya, bukan hutang siapa siapa) dan kembali lagi, kalau terjebak monetized post maka yang goblo sebenarnya siapaaa?

Yang membodohi lagi menyesatkan serta meresahkan hingga urgensi untuk menuliskannya di blog ini adalah kebiasaan meng-copy paste/share hoax. Dan ini berbahaya karena sejarah telah mencatat ratusan kejadian dan puluhan ribu kematian sia sia karena berawal dari kabar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Dulu ketika menjadi jurnalis, setiap pagi saya panas dingin membaca berita yang saya tulis. Saya senantiasa kuatir jika berita saya tidak benar dan tidak cukup cover both side. Di bulan bulan terakhir saya bahkan sengaja menghindar menulis berita berita bombastis yang berpotensi masuk halaman utama. Saya lebih banyak mencari ide untuk berita feature yang menyenangkan semua pihak (mungkin ini juga yang akhirnya menyadarkan bahwa saya tidak berbakat menjadi jurnalis hahaha)

Kekhawatiran itu menghantui saya hingga susah tidur padahal koran kami hanya dicetak tiga ribu eksemplar dengan probabilitas orang membaca berita saya di sudut bawah halaman tengah hitam putih pastilah sangat kecil. Beruntung hingga akhir masa kejurnalisan, saya tidak mendapat kendala berarti terkait hal ini.

Sekarang bayangkan seseorang dengan follower ratusan ribu hingga jutaan, setiap hari menulis kebencian dan menyebar tidak hanya fitnah namun juga hoax. Berita bohong. Iya saya berbicara soal Jonru. Sejak setahun terakhir saya mengenal nama ini dan sesekali memantau Facebook Pagenya yang luar biasa sampah itu. Awalnya saya biasa saja sebab alam memang membutuhkan orang orang seperti Jonru untuk menjaga keseimbangannya. Toh hanya satu orang saja, dan saya hanya perlu menutup aplikasi Facebook agar tidak lagi merasa terganggu.

Namun waktu berlalu dan makin banyak undangan group yang saat saya bergabung di dalamnya, kok Jonrunya makin banyak. Makin sering saya menemukan tulisan tulisan Jonru dan yang sejenis Jonru di sekitar saya. Kalau hoax masih bisa disikapi dengan kebijaksanaan berupa buka Google dan verifikasi beritanya, menghadapi ujaran kebencian membutuhkan kebijaksanaan mental yang lebih kompleks. Kita harus memiliki keterbukaan pikiran, toleransi yang tinggi dan kelapangan jiwa untuk bisa menelan kenyataan bahwa ada jutaan orang yang tiap tiap individu itu memiliki kemungkinan terhasut dan turut menjadi.

Kebencian yang tidak rasional terhadap Jokowi

Cina akan menginvasi Indonesia dan mengganti ideologi negara ini menjadi Komunisme

Anti vaksin (yang menariknya jika di luar negeri gerakan anti vaksin ini karena mereka curiga pemerintah melalui industri obat obatan ingin meracuni anak anak mereka atau karena tergabung dalam cult of being as nature as possible will heal your miserable soul, di Indonesia vaksin ditolak karena Amerika menyusupkan gelatin Babi ke dalam vaksin untuk mengkafirkan bayi bayi muslim. Yeah, it really happens.

Gempa terjadi karena makin banyak orang pro LGBT

Yahudi antek Amerika akan memusnahkan umat Islam

Konten konten bertema demikian biasanya dimulai dengan sederet panjang dikabarkan dari (insert a shady news biro) yang melakukan investigasi di (insert a stranded city of nowhere) dan mendapat informasi dari agen rahasia (what? MI6? Mossad? BIN? apa?) lalu disusul a poorly written (some sort of) news dan diakhiri dengan seruan agar umat Islam bersatu dan ujung ujungnya memboikot sesuatu.

Dan kita masih saja menuding micin sebagai sumber kebodohan.

Membaca adalah solusi untuk kebodohan yang sia sia ini. Baca buku buku yang bagus, berita berita dari saluran yang kredibel; tonton berita di televisi karena sekurangnya masih dikawal oleh KPI bukan dari channel Youtube yang sumber beritanya dari opini content creatornya. Bangun perspektifmu sendiri, uji dengan verifikasi dan buka pikiran (serta kelapangan hati) untuk menerima perubahan atas perspektif itu. Saya tidak pernah malu jika perspektif saya sekarang berbeda dengan beberapa tahun lalu sebab saya tau seberapa banyak buku yang saya baca, berapa banyak individu baru yang saya temui, kejadian yang terjadi selama rentang waktu itu.

Lagipula sudah 2018 masa masih meminjam opini orang?

 

 

Resolusi 26

Delay posting 2 minggu karena sibuk bolak balik toilet gara gara muntaber bedebah~

Here I am, menjadi 26. Setelah dari awal Januari mencari cari soal apa saja yang saya inginkan dan tidak menemukan banyak hal. Bukan ingin sok having a content grateful life tentu saja tidak saya masih iri dengan yang bisa makan bakso tiap hari tapi badannya tetap kayak barbie. Tapi seiring dengan bertambahnya buku yang saya baca, tempat yang saya kunjungi dan diskusi tak habis habis soal jagad raya dan seisinya, saya mungkin kehabisan mimpi karena satu per satu telah terpenuhi. Agar perputaran hidup tetap sip, maka mari menemukan mimpi mimpi baru!

Review resolusi 25, waktu itu saya menulis:

  • Membaca 50 buku
    • Saya menamatkan 52 buku di usia ini, not bad.
  • Menyelesaikan renovasi rumah pribadi
    • Mengurus instalasi listrik dan air serta menambah dapur. Meski tidak ditempati tapi rumah tersebut sudah dikontrakkan jadi satu tanggungan hutang dicoret karena sudah bisa muter sendiri
  • Pergi ke luar negeri setidaknya satu kali
    • Seminggu di Jepang pada November 12 kyaaa~
  • Nonton AriReda lagi
    • AriReda rilis album Suara Dari Jauh pada 23 Maret di Gedung Kesenian Jakarta dan saya duduk manis di baris kedua dari depan 🙂
  • Makin jago renang dan yoga
    • AKHIRNYA BISA BERENANG! setelah sepanjang empat bulan akhir di 2016 latihan berenang seminggu 3 kali, Februari 2017 sudah berani nyebur di laut bebas tanpa pelampung, berenang bersama Pari Manta (dan kesetrum ubur ubur) di laut Labuan Bajo.
  • Tinggal di Bali
    • Belum, masih pitching sesekali 
  • Dan tentu saja, masih New York!

Tahun lalu saat menuliskan resolusi ini saya sedang merindukan Bali dengan teramat sangat. Sepanjang 2016 saya 3 kali ke Bali dalam rangka menuntaskan rindu itu yang berujung dengan keinginan untuk tinggal di sana. Setelah pulang dari Jepang juga sama, saya mengalami demam dadakan dan ingin tinggal di Jepang. Hingga akhirnya sadar bahwa no place is home until you settling your nest and call it home. Setelahnya semua demam demam dadakan itu reda, 25 tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk menyebut di sinilah rumah saya sekarang. No more denial baby~

Resolusi 26:

  1. Menjadikan meal prep sebagai gaya hidup
  2. Lebih ramah kepada lingkungan
  3. Pergi ke luar negeri setidaknya satu kali
  4. Membaca 50 buku
  5. Nonton konser bagus
  6. (Masih) New York

Finger crossed!

2017, Wrapped

Ini adalah tahun kedelapan saya tuliskan resolusi tahun baru sekaligus ulang tahun dalam label Resolusi {insert current age}. Tahun ini adalah giliran Resolusi 26 meski rasanya baru kemarin saya menuliskan Resolusi 18 dan saat itu saya menulis begini:

Saya hanya akan bekerja jika pekerjaan itu mampu bersinergi dengan ideologi saya (saya tau ini terdengar sangat sangat super sombong)
Well, saya rasa ini salah satu dari resolusi ulang tahun yang mampu saya penuhi. Ideologi saya sebenarnya tidak muluk, saya hanya ingin pekerjaan yang tidak terpaku hanya pada satu space. Tidak hanya diam, menunggu tanggal gajian lalu berulang sampai tahun berlalu tanpa terasa lantas saya jadi tua dan kalang kabut nyari jodoh 😀
Sekarang saya menjejak tahun ke empat menjadi corporate slave yang terpaku pada satu space, diam dan menunggu tanggal gajian. Jika hal ini saya tulis setahun silam, entry blog ini akan berisi penyesalan dan rasa bersalah terhadap Nani Delapan Tahun Lalu. Betapa saya sudah membunuh mimpi mimpinya dan seterusnya.
Selama tiga tahun menjadi ‘mimpi buruk’ bagi idealisme remaja 17 tahun itu, saya telah menjejakkan kaki ke belasan kota dan tiga negara. Langkah terjauh yang melebihi dari apa yang saya bisa lakukan dalam lima tahun sebelumnya. Tidak hanya soal mampu bepergian, tapi apa yang saya dapat dari perjalanan itu. Saya mengetahui hal hal baru dan melihat langsung, mengalami peristiwa yang selama ini hanya saya baca dan lihat di buku buku dan internet. Setiap diskusi dengan orang orang baru menjadi nutrisi bagi pikiran saya dan membuka perspektif seluas luasnya. Menggenapi istilah open-minded se-kaffah kaffahnya.
2017 adalah satu lagi tahun yang menyenangkan. Saya kembali bisa bepergian dan bersenang senang. Menambah Lombok, Gili Trawangan, Semarang, Bali (ke 8 kalinya), Malang – Batu (ke 2 kalinya), Jakarta (ke entah sekian belas kalinya), Jogjakarta (ke 2 kalinya), Labuan Bajo, Bali (ke 9 kalinya), Bali (lagi) (ke 10 kalinya), Jakarta memboyong Bapak Anwar sekeluarga, dan Jogjakarta (ke 3 kalinya) untuk list perjalanan dalam negeri dan Jepang untuk daftar bepergian luar negeri. Bagaimana caranya bisa liburan hingga 13 kali dalam setahun sementara jatah cuti hanya 14 hari? Berterimakasihlah pada kalender Indonesia yang banyak tanggal merah kejepitnya.
Istilah travelling adalah candu akhirnya saya rasakan benar adanya. Setelah tiga tahun terakhir menghabiskan setidaknya 10 kali jalan jalan dalam setahun (walaupun sekedar short trip untuk nonton premiere film/konser/teater atau cuma makan makan enak), sebulan saja tidak ke mana mana rasanya seperti ada yang kurang. Apalagi akhir tahun kemarin saat bersikeras untuk tidak ke mana mana karena selain cuti habis :))) juga karena Bapak Anwar ingin ngumpul pas tahun baru.
Major spotlight pada tahun 2017 kemarin memang (masih) soal bepergian. Di sela selanya saya menamatkan membaca 52 judul buku, pindahan dari kos menjadi rumah kontrakan, menekuni hobi bersepeda dan memulai meal prep. Seperti semua manusia lain di muka bumi, saya menginginkan progresi, perubahan, kemajuan. Menulis resolusi adalah salah satu cara untuk mengabadikan hal tersebut. Delapan tahun berselang sejak penulisan Resolusi 18 dan sebuah dusta rasanya jika saya tidak merasa lega dengan apa yang terjadi tahun demi tahun. Yang paling melegakan mungkin pada tahun 2015  saat saya mencoret nyaris semua bucket list yang saya buat empat tahun sebelumnya, hanya tersisa satu bucket list yang belum kesampaian; pergi ke New York.
Di tahun itu juga, saya menulis ulang bucket list saya. Hal hal yang ingin dilakukan sebelum mati dan lantaran hingga saat ini saya belum mati, maka review terhadap hal tersebut terasa penting untuk dilakukan:
Bucket list revised, 7 Desember 2015
1. New York
Munculnya keinginan untuk pergi ke New York saya rasa sama dengan anak anak yang remaja di tahun 2000an lainnya. Saya memulainya dengan serial How I Met Your Mother dan film film chick flick. Betapa indah New York di mata saya saat itu. Saya masih melihatnya dengan keindahan yang sama hingga sekarang. Saat ini, ke New York sebenarnya mudah dan (relatively) murah jika dilakoni melalui paket tour. Tapi bertahun tahun saya menyimpan kota itu dalam angan bukan untuk disederhanakan melalui 6 hari perjalanan ke tempat tempat wisata dengan kunjungan terburu buru. Saya ingin (kalau tidak kesampaian untuk tinggal) menetap setidaknya selama sebulan lalu menyesap pelan pelan kota yang sudah memesona saya sejak remaja itu. Untuk mewujudkan hal ini sama sekali tidak mudah apalagi murah :)))

2. Berat badan ideal

Yhaa.. masih belum yhaa.. tapi on a serious note, I’m no longer give a fuck about it. Selama ini gendut adalah label yang tidak saya terima untuk menjadi bagian dari diri saya. Seolah sebutan gendut adalah sebuah penghinaan yang harus mati matian dilawan. Padahal sebenarnya orang orang menyebut saya gendut tidak mutlak karena menghina, mungkin hanya ngatain :)) semenjak semakin aware bahwa semesta tidak berputar dengan saya sebagai porosnya, kekhawatiran kekhawatiran irasional terhadap pandangan orang terhadap bentuk tubuh saya perlahan hilang. People wasn’t care that much on others because we are all designed to be a self-centered person. 

3. Jatuh cinta karena perasaan ini menyenangkan mehehehe

“Mehehehe”nya bikin point ini meaningless sebenarnya. Dua tahun lewat dari 2015 dan saya masih belum merasakan apa apa kepada siapa siapa. Kalau diandaikan sebagai kurva memang ada beberapa lonjakan perasaan yang disponsori trio hormon tapi tidak satupun bertahan lebih dari seminggu. Mungkin it is the way it is, bahwa tidak semua manusia “cocok” dengan kotak bernama percintaan.

4. Perjalanan ke luar negeri

Saya melontarkan hal ini dalam kondisi belum pernah ke luar negeri sama sekali. Passport aja ga punya dan pergi ke luar negeri terasa rumit sekali dalam kepala. Akhirnya setelah batal ke Vietnam, enam bulan kemudian saya mencoret bucket list ini dengan menjadikan Singapore sebagai negara asing pertama yang dikunjungi. Tahun selanjutnya menambahkan Jepang dalam daftar tersebut. Malaysia di tahun ini dan semoga, semoga saja, New York di winter 2019.

5. Kuliah dan menjadi sarjana

Sebenarnya perkara sarjana sarjanaan ini agak mengganggu hanya pada saat mencari pekerjaan tanpa koneksi ‘orang dalam’. Jika tanpa dibantu rekomendasi orang di dalam perusahaan yang perekrutannya secara spesifik mencari jurusan tertentu maka mustahil saya bisa masuk sebagai asst. comm. di kantor yang dulu mensyarat minimalkan S1 Komunikasi/Pendidikan Bahasa Inggris ini. Bukan bermaksud untuk menihilkan nilai kuliah dan menjadi sarjana tapi mungkin seperti perkara percintaan, kotak itu hanya tidak “cocok” dengan saya.

6. Melihat abah naik haji umroh

Daftar tunggu calon jamaah haji Kotawaringin Timur tembus 18 tahun untuk yang sudah membayar DP. Kemarin sempat ngobrol dengan Abah, umroh aja gapapa katanya :)))

7. Pekerjaan yang nyaman

Saya ga tau apa itu nyaman karena saya belum mencoba semua pekerjaan. Namun setelah 9 tahun bekerja di berbagai tempat, saya harus mengakui ini adalah pekerjaan paling nyaman dari semua pekerjaan yang pernah saya lakoni.

8. Memenuhi impian impian tersier di masa kecil

Mimpi tersier saya akan terdengar sederhana jika dibaca di usia dan perspektif sekarang. Namun jika dilihat dari mata anak kecil yang begitu miskin hingga untuk makan malam ia harus berbagi sebungkus indomie dengan kakaknya, keinginan ini megah adanya. Mimpi saya ingin punya uang untuk membeli apapun yang saya inginkan. Meski uang saya sekarang tidak cukup untuk membeli Apache Helicopter, tapi sejauh ini saya merasa aman dari segi finansial.

9. Membuat siapapun yang bersinggungan dengan saya merasa bahagia

Ini kerjaan SJW sebenarnya hahaha. Saya tidak pernah iseng nanya apakah mereka bahagia tapi sejauh ini hubungan dengan keluarga, teman dan Bambang baik baik saja.

10. Be a positive Nani and makes the struggling 2012 Nani proud!

I am positive and proud!

Saya masih memiliki tahun tahun di depan untuk mencoret bucket list yang tersisa. Tidak banyak memang tapi ya ga mudah juga. Secara keseluruhan 2017 adalah tahun yang menyenangkan ^^

 

Sampit, 04 Januari 2018

Bulan Pertama Meal Prep dan Apa Yang Terjadi di Antaranya

Genap sebulan mencoba pola makan meal prep. Beberapa perubahan terjadi salah satunya soal tidak lagi telat makan gara gara males pesan atau beli makanan. Tapi yang paling signifikan adalah soal berapa banyak uang yang bisa dihemat selama sebulan meal prep.

Saya kebetulan track down kegiatan ini di Instagram, gambaran berapa yang dihabiskan untuk meal prep seperti ini:

Minggu 1

Rolled oats + susu kedelai 5 porsi
Sup sapi jamur kancing with steamed veggies 5 porsi
Baked chicken breast with oglio olio fettuccine 5 porsi
Total belanja 187 ribu

Minggu 2

Chicken burrito with roasted sweet potato & sautéed garlic broccoli 5 porsi
Semur daging dan fettuccine oglio olio 5 porsi
Telor dadar saos pedas dan nasi merah 5 porsi
Total belanja 71 ribu

Minggu 3

Roasted (tulang2) Salmon plus nasi 4 porsi
Empal gepuk plus kentang 4 porsi
Capsim bawang putih 4 porsi
Total belanja 85 ribu

Minggu 4

Pulled beef burrito + tamagoyaki + sayur 4 porsi
Ayam kalasan + nasi putih 4 porsi
Cajun shrimp 2 ways + baked sweet potatoes 4 porsi
Total belanja 104 ribu

Berarti total sebulan 447 ribu dengan total porsi 54 porsi. Kalau dipukul rata berarti satu kali makan biayanya Rp. 8.200! Kemarin dalam posting sebelumnya saya gambarkan kalau satu kali makan biayanya minimal 15 ribu, porsi nasi campur dengan lauk seadanya belum lagi kalau pesannya pake gojek. Saya sulit mencari pembanding untuk harga 8 ribu bisa makan apa di luar sana kecuali Indomie di warung burjo.

Sementara dengan meal prep, delapan ribu saya bisa makan Salmon, daging sapi, ayam kampung sampai telur omega. Sayurannya juga ”mewah” mulai dari brokoli, wortel Thailand, ubi Cilembu (di Sampit ubi Cilembu mahal neyk), paprika sampai kentang impor. Kenapa bisa semurah itu? Pertama saya beli bahan makanan sekaligus untuk seminggu ke depan dan betul betul diperkirakan perlunya seberapa. Paprika misalnya, sekilonya 89 ribu tapi saya cuma perlu untuk filling burrito 4 porsi jadi belinya cuma 1 buah (10 ribu), brokoli juga begitu. Untuk protein saya biasanya beli daging 1 kilo (120 ribu) lalu direbus dan dibagi untuk 10 porsi (satu porsi 100 gram), bisa untuk 2 minggu meal prep, kemarin malah beli sekilo di awal bulan baru habis sekarang. Protein kalau disimpan di freezer bisa tahan berbulan bulan.

Saya sering ditanya “Memangnya enak ya makanan yang udah berhari hari di kulkas?” saya juga sebelum mulai mikirnya begitu kok. Ternyata engga, mungkin karena disimpannya per porsi jadi ga dibuka – tutup dan antara masakan kering dan basah dipisah. Yang kurang awet sejauh pengalaman saya adalah rolled oat. Saya bikin sekaligus untuk 5 hari dengan mencampur rolled oat dan susu kedelai, hari keempat rasanya mulai asam. Tapi anggap aja yoghurt tep aja saya abisin wkwk, jadinya sekarang kalau mau sarapan oat bikinnya malam sebelumnya atau nyetok hanya 2 porsi. Sisanya aman, sayur sampai sup setelah dipanaskan rasanya sama seperti baru dimasak.

Pertanyaan lainnya apakah tidak bosan. Meskipun saya membuat 3 porsi dalam sehari, namun jika dimakan setiap hari rasanya bosan juga. Ini saya akui, minggu pertama saya sempat jenuh di hari keempat, ditambah saya yang ngotot masak makanan sehat. Perut yang sebelumnya diisi makanan enak (high carbo, high sugar, high salt) dipaksa adjust untuk makanan yang tidak hanya monoton tapi juga hambar. Mana skill masak masih terbatas banget :)) di minggu kedua saya perbaiki, mulai makan daging dan ayam yang dimasak dengan enak (pake bumbu instant Munir/Pazaar dari Malaysia yang sebungkusnya aja 25 ribu meh. Untung bisa dibagi tiga) terus dengan tidak terpatok dengan menu yang sudah disiapkan. Biasanya makan siang dan makan malam saya tukar bergantian. Dan untuk makan malam kalau lagi rajin saya modif lagi (misal sup daging saya ambil dagingnya, dibalur tepung jadi katsudon) minggu ketiga saya cuma masak untuk 4 hari dengan tujuan 3 harinya bisa makan siang/makan malam di luar. Yang ada malah ga makan gara gara males dan udah terlanjur mikir sayang duitnya hahaha. Minggu keempat saya masukkan satu menu yang familiar (lalapan ayam goreng Kalasan plus nasi putih) soalnya kangen makan nasi putih :)))

Gila ya, kebayang ga riwehnya ibumu memasak setiap hari dan memikirkan menu yang berbeda beda biar kamu ga bosen. Tapi kamunya malah bilang bosan, ga enak dan makan di luar.

Pertanyaan lainnya yang juga menarik adalah “Memang beneran bisa sehemat itu ya, Nan?” saya berhemat dengan meal prep ini tujuannya sederhana sekali : pengen bisa jalan jalan tanpa mengorbankan dana untuk 2 rumah yang masih harus saya kredit selama 9 tahun ke depan. Tidak hanya untuk membayar cicilan tapi juga bikin pagar bangun halaman belakang ini dan itu yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Lagian ngapain ya kredit rumah sampai dua biji :))) sebagai impact dari bulan pertama full meal prep, tidak ngopi di cafe dan hanya jajan satu tiket bioskop di akhir pekan saya bisa nonton Fleet Foxes di Malaysia tanggal 16 Januari ini dengan sisa gaji tanpa mengusik bonus tahunan. Kok bisa? 

Ya kalo gajinya gede mah bisa bisa aja *ditimpuk massa*

Tapi cara melihatnya bukan dari apa yang bisa dibeli/dilakukan dengan sisa uang setelah meal prep soalnya kalau duit lu meteran mah sebulan abis 4 juta buat makan ya sisanya tetap aja banyak. Saya melihatnya dari seberapa persen turun dari biaya makan normal (full makan di luar) berbanding meal prep. Seperti yang saya rincikan di posting sebelumnya, saya menghabiskan minimal 2,5 juta sebulan untuk makan. Minimal. Di hari hari yang indah seperti sehabis kenaikan gaji atau bonus tahunan pernah nembus 4 juta. Dari mana saya tau? saya cukup neat menulis flow keuangan (tapi tidak cukup rajin untuk memikirkan mana yang bisa dihemat dan tidak wkwk). Dari 2,5 juta menjadi 447 ribu adalah pencapaian tersendiri. Kalau kamu fikir 2,5 juta sebulan untuk makan terdengar berlebihan, itu hanya 83 ribu sehari. Dibagi 3 berarti 27 ribu. Itu hanya untuk makan lho, belum ngemil, ngopi dan jajan lainnya. Kalau dengan meal prep bisa menghemat 2-3 juta sebulan, there’s no other reason for me to not to bosque~

Dengan asumsi bisa menyisihkan minimal 2 juta saja sebulan, dalam setahun sudah bisa menyimpan 24 juta hanya dari mengubah pola makan. Tujuannya memang muluk, pengen hemat sekaligus kurus sekaligus sehat sekaligus ke New York hahaha. Sebulan terakhir dengan meal prep memang turun sekilo hanya dengan melakukan portioning dan mengira ngira kalori intake per meal tanpa olahraga yang berarti. Modal awal untuk yang pengen memulai meal prep mungkin selain niat adalah kotak bekal yang durable untuk microwave dan bumbu kering (bawang putih, bawang bombai, cajun spice, italian herb, black pepper, paprika bubuk, bubuk kari dst sebab walaupun ga bisa masak, kalau semuanya dicampur makanan jadi terasa ‘profesional’ hahaha)

2017 telah habis, Desember kemarin memang saya jadikan bulan percobaan sebelum ‘serius’ meal prep di Januari. Karena percobaan, saya masih makan suka suka kalau keluar di akhir pekan. Rencananya 2018 selain meal prep, saya juga mau mulai menjalani frugal living. Selain hemat juga enviroment friendly soalnya. Banyak sekali yang ingin dilakukan, semoga konsisten dan menjadi kebiasaan 🙂

 

Sampit, 02 Januari 2018

Kenapa Ikutan Meal Prep?

Saya sadar betul bahwa Nani dan konsistensi adalah dua hal yang sulit akur. Saya jarang sekali betah melakukan satu hal secara rutin dan menahun. Runutan contohnya ada di entry blog sebelumnya dan jujur saja menuliskan hal itu membuat saya nelangsa. Seperti menguwek uwek jeroan sendiri dengan tangan kosong. Tapi tidak seperti konsistensi yang tidak berkawan baik dengan saya, kemampuan menemukan silver lining secara prematur adalah keahlian yang sayangnya tidak bisa saya cantumkan dalam resume pekerjaan manapun.

Setelah bengong dan tidak karuan tidur (sebagian besar karena menjadi pelaku LDR dengan lima jam perbedaan waktu sih) selama nyaris seminggu saya mulai merasa bahwa saya butuh perubahan. Saya tidak bisa berbuat banyak pada nasib, tapi saya punya kekuatan untuk mengubah perkara non abstrak di sekitar saya. Akhirnya pada long weekend kemarin saya menata ulang kamar dan menghilangkan beberapa furniture di dalamnya.

Untuk diketahui kamar pada rumah yang saya tempati bersama seorang kawan 6 bulan terakhir ini hanya berukuran 3 kali 3 meter. Sebelumnya kamar kontrakan saya berukuran 4 kali 6 sehingga ketika semua perkakas kamar dipindah rasanya kok sempit sekali. Dengan kasur custom 200 kali 200, kamar di rumah baru ini literally isinya kasur semua :)) enam bulan dengan kondisi kamar tanpa ruang gerak itu memperkuat rasa malas sehingga banyak waktu yang saya habiskan di atas kasur dan mager.

Setelah mengungsikan 2 lemari buku dan mengganti kasur menjadi ranjang ukuran 90cm, saya kaget ternyata 210 kali 100 sentimeter lebih dari cukup untuk melakukan banyak hal. Setelah 3 hari berkutat dengan penataan ulang kamar, hari ini saya ingin memulai perubahan lainnya; meal prep (buset butuh 4 paragraf sebelum akhirnya kita memasuki tema ini ya)

Meal prep ini sering muncul di Tasty (sub-channel BuzzFeed) dan saya kelewat sering nonton video masak masakkan ini pada saat mager menjadi rutinitas dulu. Gaungnya menjadi lebih kencang setelah belakangan di Twitter sering wira wiri mba Twelvi dengan resep dan tips meal prepnya. Pas baca blognya, bagian yang paling menarik perhatian saya adalah dia bisa menabung hingga 150 juta selama kurang dari 2 tahun untuk jalan jalan.

Oke, saya mungkin membutuhkan waktu lebih banyak untuk menabung uang sebanyak itu. Tapi setelah melakukan hitung hitungan sesuai dengan guideline mbaknya, saya bisa menabung jumlah yang sama dalam waktu 2,5 tahun. Yang mana jika sudah saya lakukan empat tahun yang lalu saat pertama masuk kantor maka seharusnya saya sudah bisa membelikan rumah baru untuk abah (harga rumah baru tipe 100 di Sampit lho ya, bukan Meikarta), tapi gapapa, empat tahun terakhir saya bersenang senang, melihat dan belajar banyak hal. Nah, pada 2018 harusnya saya sudah cukup dan bisa memulai hal baru : menabung.

In a way or another, saya merasa relate dengan cerita mbak Twelvi soal hidup pas pasan – dapat kerjaan oke dengan gaji lumayan – foya foya untuk membayar/membuktikan sesuatu. Saya sendiri sadar betul sekali dua kali dalam sebulan saya akan belanja online barang barang bermerk dengan dorongan serupa. Atau membeli hal hal yang tidak bisa saya beli dulu untuk mengisi sesuatu yang hilang di masa lalu. Daftarnya berlanjut hingga ke soal makanan dan ini yang paling parah. Hubungan saya dan makanan tiga tahun belakangan lebih seperti objek-subjek balas dendam ketimbang penghilang rasa lapar. Ada urusan kompleks yang berakar pada mendadak punya uang lebih. Urusan kompleks yang membuat saya melesat dari 79 kilo menjadi 95 kilo dalam kurun tiga tahun.

Bodoh jika saya tidak belajar apa apa dari garis panjang kemiskinan di keluarga kami maka dengan sungguh sungguh dan semoga konsistensi betah berlama lama akur dengan saya, 2018 saya ingin mulai meal prep dan membeli rumah baru buat abah sebelum 2025.

Meal prep ini terdengarnya sederhana sekali ya. “Apaan sih tiap hari juga aku masak biasa aja kok”, hal ini sangat signifikan untuk orang yang sama sekali tidak masak dan menghabiskan minimal 100 ribu sehari untuk makan. Minimal. Untuk takaran kota kecil, tiap ditanya dan menjawab seperti itu orang akan berkata wow dan terkaget kaget. Wajar sebab dari perspektif mereka yang masih tinggal dengan orang tua, 100 ribu lebih setiap hari untuk makan doang berlebihan. Tapi let me do the math for you;

Sarapan – nasi campur/pecel/lontong/bubur ayam/soto HARUS ekstra lauk plus delivery 10.000 = 35 ribu

Ngopi – tiap hari pasti pesan atau mampir ke coffe shop dekat kantor = 33 ribu

Makan siang – biasanya jam 2-4 tergantung lapernya kapan, harga kurang lebih sarapan

Makan malam – kalau masih kenyang jarang makan malam, tapi kalau masih bangun sampai jam 12, biasanya keluar dan makan 20-40 ribu.

Itu kebutuhan makan basic, belum ngemil.

Maka ketika melihat hitung hitungan meal prep bisa mereduce sejuta seminggu jadi 200 ribu, ada kemungkinan 3,2 juta yang bisa ditabung setiap bulan. Belum ditambah dari berhenti belanja online, sementara tidak jalan jalan tanpa tujuan dan seterusnya. Optimislah.

Di sisi lain, meal prep ini bisa menjadi solusi beberapa masalah sekaligus;

  1. Masak bisa dirapel di hari Minggu, jadi tidak harus bangun pagi setiap hari untuk masak
  2. I need to cut lose some weight, jadi bisa sekalian mengatur menu low carb
  3. Alasan beli makanan adalah karena malas ribet, dan buka kulkas – ambil bekal – bawa pergi tidak lebih ribet dari bbman sama jasa kurir makanan
  4. I need to start saving my money

Saya sudah mencoba hal ini selama seminggu. Masih banyak PRnya, seperti memperlengkap bumbu bumbu dapur biar masakannya ga monoton, beli kotak bekal yang HDPE sekaligus microwave friendly sekaligus berukuran seragam (biar kalau disimpan di kulkas lebih rapi) dan seterusnya.

Selama seminggu ini yang paling menarik perhatian saya adalah jumlah uang yang dikeluarkan. Karena meal prep ini sekalian diet, jadi saya berusaha untuk hanya makan makanan yang sudah disiapkan. Otomatis tidak minum kopi fancy yang kalorinya entah berapa itu, tidak ngemil dst, saya asli seminggu ini cuma ngeluarin 187 ribu buat makan. Weekend kemarin saya menghabiskan 200 ribu untuk nonton + ngopi di malam minggu. Jumlah yang lebih besar dari anggaran meal prep seminggu!

24845502_115139459274438_6949405342904090624_n

Mungkin ada yang mikir “Aelah 200 ribu doang pelit amat kek orang susah aja” I do, saya tau betul rasanya susah dan ga kepengen kaya begitu terus terusan. Selain itu, saya ingin menunjukkan pada diri sendiri bahwa ada hal hal yang ga ketangkep sama indra saya dan berjalan dengan sendirinya. Padahal saya bisa melakukan kontrol terhadap hal tersebut. Cuma harus lebih peka aja. Memperbaikinya pelan pelan. Bertahap.

Masalah makan terbesar saya mungkin ada di sarapan. Saya ga suka sarapan, tendensi saya adalah melakukan rapel sarapan dan makan siang dalam porsi besar di jam 10 pagi. Hasilnya jam 3 ya laper lagi, geser ke 9-10 malam pengen makan. Dulu saya sempat rajin bikin oatmeal pagi pagi. Tapi bosen rasanya begitu begitu saja dan harus mengulang ritual nyeduh air – nunggu – aduk aduk – nunggu dingin – baru makan.

Dengan meal prep, tiap pagi tinggal buka toples terus ditambah apa aja yang lagi dicemil anak kantor wkwk. Sementara untuk makan siang dan makan malam saya coba tiga menu biar ga bosen. So far ini menyenangkan, karena tujuan utamanya adalah menghemat uang bukan diet, jadi masih bisa cemal cemil kalau gratisan.

IMG_1941
Oatmeal susu plus dried blueberries camilan anak admin :))

 

Sampit, 14 Desember 2017