detached to re-attached

Memasuki bulan ke-dua menetap di Bali tanpa tujuan apa-apa kecuali keinginan untuk pergi dari Sampit. I’m getting better, I guess. Tubuh dan kepalaku masih mencerna apa yang terjadi dan menerjemahkannya dalam beberapa perubahan. Fisiologis dan psikologis. 30 percent of my hair are white now, doctor said due to stress and malnutrient. I’ve become desensitised to physical pain, maybe it’s part of coping mechanism: numbing. Nginjak beling, jatuh dari motor, keiris kegores up to hari pertama menstrual, aku tidak merasakan apa-apa.

Psychological, I’m back to mania episode, this time lasts for months and still going (seems like). Somehow aku merasa ini lebih baik dari MDD, depression hindering my function especially work. When I’m not working, I feel useless. With mania at least I becomes a non-stop train that always working, always delivering :))

Dengan nekat menambah pekerjaan tetap dan tanda tangan kontrak masing-masing 3 dan 12 bulan dengan klien sebagai content provider. Menciptakan sesempurnanya ruang untuk ketiadaan ruang berpikir kenapa aku tidak diinginkan. Kinda envy you who could wanting me today and decided to no longer wanting me the day after, thou.

So yea, hari ini menjadi marka tepat 2 bulan aku berada di ruang dan waktu yang asing. Mau apa dan ke mana setelah ini, I have no idea. But life can’t be that difficult di depan sana.

I’ve through hell, thanks to the evilest person I’ve ever encountered.

Denpasar,

23 Januari 2021.

Tentang Amarah

Lahir di keluarga miskin membuatku belajar banyak tentang rasa marah. Aku marah saat teman-teman sekelas dibelikan buku, sepatu dan seragam baru saat mereka juara kelas. Sementara aku harus melanjutkan menulis di halaman-halaman kosong buku pelajaran bekas Kakak. Aku marah, dan belajar sekuatnya untuk menjadi juara 1, kalau perlu juara umum untuk membuktikan bahwa tanpa buku dan sepatu baru aku juga bisa sama seperti yang lain. Saat itu aku tidak melihat bahwa menulis di buku tulis bekas Kakak membuatku terpapar dengan pelajaran yang enam tahun di atas jenjang pendidikanku.

Saat pulang ke rumah dan Ibu lagi-lagi memasak mie instan berkuah banyak yang rasanya asin bukan karena bumbu mie tapi karena Ibu menambahkan garam agar kuahnya bisa dimakan dengan nasi Raskin yang diambilnya setiap hari Sabtu setelah mengantri berjam-jam di Kelurahan, lalu menjunjung beras 5 kilo di kepalanya, berjalan kaki. Aku marah karena teman-temanku bercerita tentang restoran yang mereka dan keluarganya kunjungi di akhir pekan.

Saat harus berjalan kaki berkilometer dari sekolah setiap hari karena malu jika dijemput Bapak menggunakan sepeda yang dipakainya untuk berjualan minyak tanah, aku marah karena temanku yang dibelikan Bapaknya sepeda motor baru karena ia juara 5 di kelas. Aku yang juara 1 kenapa tidak dibelikan sepeda motor juga? Apa salahku sampai harus dihukum seperti ini?

Saat aku bekerja siang dan malam di umur 16 tahun, aku marah karena penghasilanku tetap tidak bisa mengubah kebiasaan Ibu menangis di tengah malam karena hari itu lagi-lagi rumah kami didatangi tukang tagih dari Koperasi Simpan Pinjam dan Ibu tidak punya 20 ribu rupiah untuk cicilan hariannya.

Saat Ibu meninggal dunia karena kami tidak memiliki 2,5 juta untuk membawanya ke Rumah Sakit Provinsi, aku meledak dalam kemarahan. Aku menangis bermalam-malam, mengutuk kemiskinan kami dan bersumpah untuk berhenti menjadi orang miskin.

Aku marah kepada diriku sendiri yang telah membunuh Ibuku karena kurang berusaha sebelum kematiannya. Seharusnya aku bekerja lebih giat lagi dan mencegah kematiannya. Seharusnya aku bisa membelikannya makanan sehat dan mengurangi beban pikirannya yang melulu berputar pada bagaimana cara menjalankan hidup 5 orang dengan uang yang kadang ada kadang tidak dan lebih banyak kelaparannya.

Dua tahun penuh bekerja siang malam namun kali ini aku berada di tempat yang “tepat” untuk mencari uang. Mulai dari Director, Regional Director hingga level President Director dan CEO mengenal namaku dan berkali-kali pujian tentang “Betapa beruntung perusahaan memiliki aku” dan “Putra daerah prodigy” yang mereka banggakan kepada stakeholder membuat kepalaku di atas awan. Setelah menjadi staff, aku naik menjadi assistant, jabatan yang tidak pernah dimiliki siapapun tanpa gelar S1 di perusahaan itu. Betapa banyak aturan yang atasanku langgar semenjak awal masuk kantor membuatku bangga dengan diriku sendiri. Dan sebagai rasa terima kasih, aku bekerja lebih giat lagi.

Enam kali tipes karena berada di kantor untuk bekerja hingga pukul 3 pagi hampir setiap hari, dua kali ke IGD sendirian karena tidak mau merepotkan siapapun, dan puluhan kali visit ke Psikiater karena aku sudah membayar hutang atas kemiskinanku tapi aku masih saja restless.

Aku masih marah.

Empat tahun setelah kematian Ibu, aku membeli rumah, mobil dan memberangkatkan Bapak untuk umroh. Aku bisa makan di mana saja tanpa harus memikirkan harga. Aku bisa pergi ke luar negeri kapan saja asal ada cutinya. Aku bisa menguliahkan adikku dan menjamin kesehatan Bapak dengan segudang asuransi.

Tahun 2017 akhir keadaan kantor berubah total, aku yang merupakan “anak emas” hasil temuan dan kesayangan Regional Director harus meredupkan diri karena beliau sudah saatnya pensiun. Meski tidak butuh waktu lama untuk penggantinya juga menjadikanku anak emas, tapi aku lelah, aku capek kerja hingga lupa bagaimana rupa sinar matahari karena masuk paling pagi dan pulang paling larut. Aku juga capek, karena tidak peduli berapa banyak uang yang kumiliki dan dendam atas kemiskinan yang kubayar, hatiku tidak pernah benar-benar merasa nyaman.

Dalam sabbatical leave yang kuambil sebulan lamanya, aku mendekam di Ubud, Bali. Dibimbing Mbak Rika Cahyani, setiap hari adalah meditasi dan upaya mengenali diri. Lalu ketika ia menanyakan tentang bagaimana aku melihat diriku sendiri, aku menjawab dengan sejujurnya,

“Aku adalah amarah”

“Tapi aku capek, aku lelah marah-marah melulu”

Selama sebulan aku belajar tentang marah, amarah dan bagaimana membedakan keduanya. Serta seperti apa emosi dapat mempengaruhi kebahagiaan. Aku pulang tidak dengan hati yang seketika berubah menjadi bahagia, tapi aku mengerti apa dan bagaimana amarah bekerja dalam membentukku, lalu berdamai dengannya.

Hingga kemarin, aku tidak bisa mengingat kapan terakhir kali aku bergerak karena rasa marah. Betapa “santai”-nya aku menghadapi kesulitan tanpa sekalipun menaikkan suara. Seseorang menipuku jutaan rupiah, tidak satupun makian yang keluar. Aku minta komitmennya untuk membayar dan ketika itu dilanggar, aku laporkan ke kantor polisi untuk penipuan. Tanpa marah, praktikal dan solutif. Saat seseorang memperkosaku dalam keadaan mabuk, aku kumpulkan seluruh barang-barangku dan pergi untuk selamanya dari hidupnya. Aku hanya meninggalkan pesan setiap bulan agar ia mengembalikan apa yang dia pinjam dariku.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun lamanya, aku marah. Saat berkali-kali hatiku diinjak karena ia tidak mampu membuat pilihan dan menerima konsekuensi atas pilihan itu, saat nilai dan sejarah hidupku yang berdarah-darah diludahi dengan kalimat “I like her, but I love you” yang kemudian diubah menjadi “It turns out I don’t love you I choose her” dalam waktu kurang dari 24 jam. Baru ini aku merasa begitu rendah sebagai manusia. Betapa aku dan apa yang telah kulalui jangankan dihargai, dianggap cukup penting untuk dijaga perasaannya saja tidak.

Lalu setelah berkali-kali ia menyebut aku yang harus memaafkan diriku sendiri, aku yang harus mencintai diriku sendiri, aku yang “salah” dalam situasi ini, aku murka. Amarah yang telah membentukku, kembali dalam format berkali lipat. Sebab yang sudah-sudah, mereka cukup tahu diri atas kesalahan mereka dan memilih untuk diam. Untuk menjauh saat kuminta pergi. Mereka cukup “manusiawi” untuk menerima bahwa mereka sudah menyakitiku dan mengerti bahwa mereka tidak layak bahkan untuk meminta maaf.

Lalu seseorang, berkali-kali menikamku dengan pisau yang sama di luka yang sama hingga aku nyaris percaya bahwa ini adalah kesalahanku. Bahwa aku layak diperlakukan serendah itu karena akulah yang lebih dulu menyakitinya. Rasa bersalah ini kupendam sendirian berbulan lamanya saat ia memamerkan kemesraan yang tidak pernah dilakukannya padaku di media sosial. Hingga suatu hari aku sadar, ribuan orang menghargai luka dan perjuanganku sementara ia kembali memintaku untuk memaafkannya, memberi makan egonya. Seseorang yang tanpa kesadaran diri atas seperti apa kerusakan yang telah ia bawa ke hidupku, meminta aku memaafkannya setelah apa yang ia lakukan dalam upaya terbaiknya menyakitiku.

Aku familiar sekali dengan monster yang ada di dalam diriku. Seumpama Carl Jung menyebutnya sebagai shadow. Aku sudah berkenalan dan memberikan ruang untuknya sebagai bagian dari diriku. Sehingga aku tau, ketika ia ingin bergerak bangun, aku bisa memintanya untuk tenang. Ia adalah kumpulan rasa sakit, amarah dan kejadian-kejadian yang tidak akan aku maafkan meski berkali-kali kusebut aku hanya sedang tidak beruntung. Ia mengumpal menjadi satu, seumpama monster, yang aku benci setengah mati namun mau tidak mau aku bersisian hidup dengannya.

Kamu membangunkannya.

Kamu menggantikan posisinya.

Jakarta, 15 Desember 2020

Seseorang telah menempati ruang yang kusiapkan untuk sesempurnanya amarah

Rasa Sakit

Waktu berjalan dan kamu kira kamu sudah terbiasa dengan rasa sakit. Kamu kira hidup dengan larah luka yang menganga sudah kamu relakan sebagai bagian dari masa lalu tanpa pilihan. Kamu lalu memilih untuk menjadi dewasa dan hidup dengan segenap konsekuensi atas pilihan itu.

Hingga seseorang datang, memberikan satu lagi penolakan atas apa yang tersisa dari dirimu. Bertubi, berkali-kali. Saat kamu kira sungguh mustahil seseorang seperti dirinya melukaimu sejauh itu, dia benar-benar melakukannya. Seseorang yang dengan lembut menyebut namamu di belakang kata aku mencintaimu dan membuatmu percaya bahwa apa yang tersisa dari tubuh dan jiwamu layak untuk dicintai. Untuk disayangi.

Lalu, saat ia benar-benar pergi, kamu memilih diam dan menelan rasa sakit itu sendirian. Pada malam-malam saat kamu terjaga dan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menangisi namanya. Memanggil dengan apa yang tersisa dari lirih suaramu untuk kembali merasakan kenyamanan dan keamanan itu, untuk sekali saja. Agar kamu bisa terlelap tanpa mimpi buruk yang perlahan mulai mengambil sedikit demi sedikit dari apa yang tersisa dari dirimu.

Minggu berganti, dan kamu memilih untuk pergi, dari rumah yang menghantuimu dengan kenangan atas apa yang kamu kira adalah cinta. Dari setiap sudut ruangan yang membuatmu mengira kamu berharga tapi lalu dibuang begitu saja.

Namun di ruang dan waktu yang asing inipun, kamu tak habis menangisi rasa sakit di dadamu. Pada malam-malam saat kamu terjaga, pada kesunyian yang bernas setiap usai kamu benturkan kepala ke dinding karena mereka berisik luar biasa, pada setiap keping obat yang kamu telan dalam upaya ingin terlupa, rasa sakit itu tetap memelukmu.

Kamu mengira rasa sakit itu akan kalah pada terjaga berhari-hari, pada tubuh tanpa asupan energi, pada airmata yang menggenang setiap kali kamu sebut namanya, pada ribuan hembusan nafas dan doa agar kamu dapat terlepas rasa sakit meski hanya sehari.

Hari ini bertubi kabar baik kamu terima. Dua orang kini mempercayaimu dengan perkerjaan yang kamu suka. Hadiah, kata-kata penyemangat dan upaya untuk menghiburmu tak pernah putus diberikan. Kamu tersenyum, merasa familiar dengan rasa menyenangkan itu, dan mengira inilah hari di mana rasa sakit itu akhirnya pergi.

Namun pada redup lampu kamar saat hari telah berganti, kamu tutup pintu dan jendela, mencoba memejamkan mata lalu airmata kembali mengalir. Rasa sakit itu kembali memelukmu hingga tidak ada yang bisa kamu lakukan kecuali menangis. Dan kamu merasa telah mengkhianati hal-hal baik yang seharusnya membuatmu bahagia di hari ini.

Kepada pil tidur kelima kamu titipkan sebuah harapan.

Ambil rasa sakitnya.

Ambil semua yang tersisa.

Denpasar, 28 Nopember 2020.

Luka

Tidak ada yang tau mengapa aku bernama Luka. Pun diriku sendiri, ibuku hidup tidak cukup panjang untuk memberitahu mengapa aku bernama Luka. Ayah? Sejak lahir aku tidak mengenal sosoknya. Hanya ada Ibu dan bermalam-malam shift kerjanya yang itupun tidak bertahan lama. Ia meninggal saat aku mulai bisa membaca.

Semula kupikir tak ada salahnya bernama Luka. Seorang guruku mengeja namaku sebagai L-U-C-C-A, ia menyebut itu nama yang indah. Hingga tahun ketiga Sekolah Dasar aku bahagia sebab mempunyai nama Lucca yang indah artinya. Lalu kartu pelajar yang dibuat di tahun keempat harus melongok kembali akta kelahiranku. Seluruh kelas akhirnya tau bahwa aku bernama Luka. Dan mereka mulai menyampirkan kata ‘borok’, ‘koreng’, ‘bopeng’ di belakang namaku.

Pengasuh panti asuhan sempat menambahkan nama marganya di belakang namaku. Ia kemudian diseret ke dalam sidang adat karena sembarangan memberi marga ke seorang asing yang tak jelas asalnya. Ditambah, kata Luka harus berada di depan marga yang konon katanya hanya dimiliki para bangsawan itu.

Ya, aku tinggal di panti asuhan selepas Ibu meninggal. Kadang terpikir bagaimana bisa Ibu tak memiliki keluarga sama sekali. Sekadar Kakak, Adik, Ibu atau bahkan teman, Ibu tidak menunjukkan tanda memiliki mereka. Pemakamannya digelar sederhana, yang bertandang hanya tetangga, yang memandikan dan menguburnya para pengurus Masjid. Hingga akhirnya aku ditemukan menangis lapar di dalam kontrakan dan semua orang terusik, membuangku ke Panti Asuhan.

Mungkin, Ibu memiliki keluarga dan teman. Tapi mereka hanya enggan memelihara seorang anak bernama Luka. Tinggal di panti mengharuskanku untuk tidak egois dalam menuntut kasih sayang. Sebab aku harus berbagi dengan puluhan anak lain. Dipeluk sekali seminggu saja sudah beruntung. Karenanya aku terbiasa mengejar gelar terbaik agar diperhatikan. Menjadi penghafal paling cepat, murid paling pandai, hingga pencuri handal.

Di usia remaja setidaknya enam kali aku mencuri dari kotak amal Masjid. Semata lantaran pengurus panti terus mengeluh soal kesulitannya mencari dana untuk memberi kami makan dan kehidupan yang layak. Uang yang kucuri banyak jumlahnya, diam-diam kumasukkan ke dalam kotak amal panti. Seseorang melihat aksiku dan mengadu. Aku dikeluarkan dari panti karena mereka tidak bisa memelihara seorang pencuri.

Padahal aku hanya butuh pelukan dan tepukan bangga dari mereka.

Sebenarnya bernama Luka-pun bagiku tidak masalah. Ibuku pastilah memiliki alasan indah (setidaknya kuharap begitu) mengapa aku bernama Luka. Kadang aku hanya kesal sebab Ibu tidak memberiku nama yang agak panjang, atau setidaknya satu kata tambahan agar aku tidak kesulitan untuk membuat akun jejaring sosial yang mengharuskanku memiliki last name. Atau agar orang-orang tidak sampai di titik kesal karena berkali-kali mendapat jawaban “Luka” saat mereka menanyakan “Iya Luka, terus nama lengkapnya apa?”

Usiaku bertambah dan aku mengalami mimpi buruk banyak jumlahnya. Mimpi itu berupa seorang pria memukuli Ibu. Aku bermimpi Ibu lebam berdarah berkat sabetan ikat pinggang pria tinggi besar yang tidak pernah bisa kulihat wajahnya. Ibu terus memohon ampun dan pria itu seakan tak bertelinga. 

Mimpi itu berulang-ulang hingga membuatku nyaris percaya bahwa itu adalah kenyataan.

Mimpi itu terulang hingga sekarang. Seperti pemutar kaset yang rusak tombolnya kepalaku mengulang mimpi itu setiap malam. Hingga kemarin akhirnya aku percaya, itu adalah kenyataan. Sebab aku bernama Luka, Ibuku mengeram benci saat melahirkanku ke dunia. Aku memberinya luka. Tidak terhitung banyaknya. Ia menyabetkan ikat pinggang dan membenturkan kepalaku ke tembok hingga aku lupa akan lukaku dan selalu mengira ia adalah Ibu terbaik yang aku punya.

Aku bernama Luka. Aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Usiaku 23 tahun, tidak perlu khawatir saat menemukan tubuhku yang mungkin berserak hancur. Makamkan aku selayaknya manusia, tak perlu repot mencari kerabat sebab aku tak memiliki mereka. Urusan duniaku sudah usai, tidak ada hutang maupun dendam yang belum terpunahkan.

Tidak ada yang tau mengapa aku bernama Luka. Pun diriku sendiri, ibuku hidup tak cukup panjang untuk memberitau mengapa aku bernama Luka. Ayah? Sejak lahir aku tidak mengenal sosoknya. Hanya ada ibu dan bermalam malam shift kerjanya yang itupun tidak bertahan lama. Ia meninggal saat aku mulai bisa membaca..

Sampit, 24 Maret 2012

Kepada Laut Aku Ingin Pulang

Kepada laut aku ingin pulang
Untuk lebur bersama riak dan gelombang
Dalam gelap yang menenangkan
Tanpa rasa sakit dan pintu yang ditutup berdebam

Kepada laut aku ingin pulang
Aku menyerah untuk mengetuk berulang
Pada pintu dan jendela yang kukira bersedia memberikan rasa aman

Sebab

Jika hanya larah luka yang engkau berikan
Harusnya kau bunuh aku sejak permulaan.

Sampit, 16 Nopember 2020

Effortless Love

Aku tumbuh dengan asumsi bahwa cinta adalah reward. Aku menitipkan harapan untuk dicintai melalui sikap yang baik, membantu pekerjaan di rumah, menjadi juara satu, memenangi banyak perlombaan di sekolah. Tapi tidak juga kudapatkan pelukan dan kata-kata penuh kasih sayang dari mereka.

Aku tidak sadar, aku selalu menjadikan cinta sebagai imbalan. Sepanjang usia remaja aku mengira seseorang akan mencintaiku jika aku menjadi perempuan yang mereka sukai. Open minded, pandai berbahasa Inggris, cerdas dan mampu mengimbangi diskusi tentang apapun. Dan aku belajar dan belajar, menelan ratusan buku hingga belasan tahun berlalu dan aku tetap tidak dicintai.

And then there’s you. Kamu datang dan membuatku merasa dicintai tanpa aku harus berusaha apapun kecuali menjadi diriku sendiri. Kamu sudah mencintaiku bahkan sebelum aku riset tentang apa yang kamu sukai. Kamu sudah mencintaiku bahkan sebelum aku bergerak untuk membuatmu kagum kepadaku. Kita hanya perlu menjadi diri kita sendiri dan berjalan bersisian untuk membagi keriaan dan kesuraman dunia.

Bulan berlalu dan belum pernah aku merasa sebahagia itu. Bagaimana bisa tanpa aku belajar hingga larut malam, tanpa aku membuat catatan untuk memulai percakapan, tanpa aku diet mati-matian, seseorang menerimaku dan membuat hidupku lebih menyenangkan? Aku begitu menikmati perasaan itu dan tidak bisa menahan diriku sendiri untuk memberitahu setiap orang bahwa aku, dicintai karena menjadi aku, bukan siapapun.

Suatu pagi saat demamku tinggi dan satu porsi soto tersaji di meja makan, hatiku mencelos. Ingatan tentang masa kecil dan segala hal yang terjadi di dalamnya menghajarku dalam sekali sentakan. Hari itu berulang-ulang di kepalaku pikiran tentang “Aku tidak layak mendapatkan ini”

Dan aku menjadi Ibuku. Memilih diam sebagai jalan untuk coping dari setiap masalah dalam hidupnya. Memilih untuk menelan semuanya sendiri karena menganggap tidak akan ada yang bisa mengerti. Memilih untuk perlahan mendorongmu pergi. Mematikan seluruh perasaan sebab aku tidak layak untuk dicintai.

Tapi kamu tetap di situ, menyayangiku.

***

Sebulan terakhir tidak satu malampun aku lewati tanpa mimpi buruk. Buah penyesalan yang sedemikian dalam namun terus kusebut sebagai penghukuman. Berkali-kali mengalami episode mania dan kusebut sebagai tulah dari eksistensiku yang tidak lebih dari sosok jahat tanpa hati. Hingga di penghujung hari, setelah suara dokter meninggi karena ia hampir putus asa menyebut bahwa semua ini bukan salahku, aku pulang dalam penerimaan.

Aku lelah menghukum diriku sendiri, pada malam-malam menuju tidur dan suara itu datang dan menyebut aku tidak layak untuk hidup, aku akan merindukanmu. Menyebut namamu di sela tangis hingga suara itu menjelma menjadi mimpi buruk lalu terjaga dengan penderitaan yang sama.

Aku merindukanmu yang sempat menjadi pengingat bahwa aku bisa berdamai dengan diriku sendiri. Aku merindukanmu saat gelap turun dan aku mulai merasakan dingin. Aku merindukanmu. Aku tidak lagi memiliki ‘tapi’ dan ‘rasionalisasi’.

Yang aku tahu, aku merindukanmu.

Bluebeard’s Castle

Serial You di Netflix ini menarik sekali karena: it touches so many soft spots in me. Menamatkan 10 episodenya dalam dua malam Januari silam dan betapa saya ngefans dengan karakter Beth yang kampring di serial ini :))

Screen Shot 2019-08-05 at 22.26.11Bicara soal plot dan alur cerita sebenarnya biasa banget, milenial urban stories pada umumnya. Agak mengingatkan pada beberapa potongan cerita di novel Hanya Yanagihara yang A Little Life, soal bagaimana dinamika kehidupan milenial di New York, Amerika pada umumnya.

Pergeseran perspektif soal “American Dreams” di era Baby Boomers dan Milenial juga menarik, jika dulu yang diusung adalah soal harta dan tahta dan kesuksesan materi tiada ampun maka di zaman ini kesuksesan adalah bagaimana untuk “selesai” dengan diri sendiri sebelum terjun ke ranah rigid bermasyarakat.

1101130520_600.jpgHal ini mungkin berkaitan dengan awareness soal self-love, soal spiritualisme, soal mental illness dan seterusnya di era sekarang. Setelah revolusi internet bergaung, orang orang lebih mudah menyampaikan pergulatan batinnya sehingga wajar jika majalah Times menyebut milenial dengan The Me Me Me Generation. Generasi paling nyaring dibanding generasi generasi sebelumnya.

Saya sendiri berisik minta ampun, utamanya di ranah tulisan mengingat saya kurang nyaman dengan media visual seperti video. Sehingga ketika menemukan buku atau film/serial yang seolah olah menjadi representasi diri, saya akan ngefans seketika.

Seperti monolog Beth saat menjelang kematiannya dalam sekapan Joe di ruang bawah tanah toko buku:

How the hell did you end up here?

You used to wrap yourself in fairy tales like a blanket. But it was the cold you loved. Sharp shivers as you uncovered the corpses of Bluebeard’s wives. Sweeter goose bumps as Prince Charming slid one glass slipper over your little toes, a perfect fit.

But by the schoolyard, real princesses floated by you on fall winds. You saw the gulf between you and the rich girls, and vowed to stop believing in fairy tales. But the stories were in you, deep as poison.

If Prince Charming was real, if he could save you you needed to be saved from the unfairness of everything when would he come? The answer was a cruel shrug in a hundred fleeting moments. The sneer on Stevie Smith’s face when he called you a fat cow. Uncle Jeff’s hand squeezing your ass in the Thanksgiving kitchen. The accusation in your father’s eyes when you told him what happened.

From every boy masquerading as a man that you let into your body, your heart, you learned you didn’t have whatever magic turns a beast into a prince. You surrounded yourself with the girls you’d always resented, hoping to share their power, and you hated yourself. And that diminished you even more.

And then, right when you thought you might just disappear, he saw you. And you knew, somewhere deep, it was too good to be true. But you let yourself be swept, because he was the first strong enough to lift you.

Now, in his castle, you understand Prince Charming and Bluebeard are the same man. And you don’t get a happy end unless you love both of him. Didn’t you want this? To be loved?

Didn’t you want him to crown you?

Didn’t you ask for it?

Didn’t you ask for it?

Didn’t you ask for it?

So say you can live like this. Say you love him, say thank you, say anything but the truth.

What if you can’t love him back?

 

Bluebeard and His Seven Wives adalah dongeng soal seorang Sultan tajir yang punya kastil dengan banyak pintu. Setiap istri yang dia bawa pulang akan penasaran dengan isi di balik pintu pintu tersebut dan Bluebeard (meski telah memberikan warning) namun tetap membuka pintu itu. Hingga pintu ketujuh terbuka, ia mau tidak mau harus membunuh istrinya itu.

Versi favoritku tentu saja dari Grimm Brothers, namun dongeng versi lightnya bisa dibaca di sini. Dongeng ini cukup terkenal hingga diangkat menjadi film di tahun 1925 dan beberapa play teater. Tentang bagaimana rasa ingin tahu pada akhirnya literally bisa membunuhmu, jauh sebelum istilah curiousity kills the cat itu muncul.

Ini adalah satu dari sekian banyak random thoughts kind of entry. Baru saja tiba dari Bali tadi siang. Delay penerbangan hingga lima jam membuat saya banyak bengong di pojokan bandara. Buku Mythology 101-nya Kathleen Sears hampir habis saat saya menemukan cerita soal Cronus yang membunuh Uranus dengan cara ngumpet di vagina Gaia sambil membawa arit untuk kemudian memotong penis Uranus. Imajinasi orang orang zaman dulu yang ajaib mengingatkan saya pada dongeng Bluebeard dan akhirnya monolog Beth di atas.

Kelindan ingatan itu berakhir dengan saya yang menangis pelan tanpa suara karena tiba tiba merindukan rumah yang tidak pernah ada itu. Teringat kepada berapa kilometer dan waktu yang saya tempuh hingga usia sekarang tapi tetap saja perasaan sunyi menyergap ketika membuka pintu di penghujung hari dan menemukan rumah kosong tanpa bunyi. Saya kira, naifnya, saya telah selesai soal penerimaan atas keadaan. Bahwa sunyi dan sepi harus diterima bukan dipungkiri. Bahwa kesendirian ini adalah konsekuensi atas pilihan yang harus dijalani dengan berani.

Tapi tetap saja,

Ia menjadi kutukan bagi yang mengetahui.

 

 

 

Sampit, 05 Agustus 2019

Sebab, tidak ada yang lebih sunyi dari perasaan tidak dimengerti.

Semantik Perspektif dan Perkara Sudut Pandang

Dari mana sebuah simpulan didapat? Bagaimana sebuah perspektif terbentuk? Apakah ia benar benar berasal dari kesadaran diri, stimulasi berfikir atau yang sering disebut sebagai self conscious? Bagaimana dengan pihak ketiga? Vektor, perantara, lingkungan sekitar, pendapat orang lain, norma, dogma, doktrin dan sejumlah kausal lain yang mampu membentuk — bahkan mempengaruhi — sebuah sudut pandang dan simpulan?

Dari sini saya belajar mengenai perspektif itu relatif. Netralitas adalah ilusi (hal ini akan saya tulis khusus kemudian). Selain relatif, saya belajar bahwa asumsi tidaklah murni berasal dari apa yang disebut sebagai self conscious. Entry blog kali ini mengarah pada apa yang tengah saya amati belakangan di Indonesia. Negara ini masih saja berkutat pada radikalisme dan kelompok penjual agama. Terakhir kabar, Kementrian Komunikasi dan Informasi melakukan pemblokiran terhadap situs situs propagandis berbau radikalisme.

Sejak awal penciptaannya hingga di era Paleotikum manusia percaya bahwa tuhan adalah api, petir, air, bahkan pohon dan batu. Zaman berlalu, peradaban kian maju dan manusia percaya bahwa tuhan adalah matahari dan dewa dewa yang bersemayam pada gunung berapi. Dewa dewa dalam ujud menyerupai manusia dan binatang yang disucikan bermunculan, menumbangkan tuhan tuhan lama yang perlahan bisa dijelaskan, diwajarkan, dirasionalkan. Keyakinan seperti ini melebar sejak abad 1 hingga 9 dan akhirnya tuhan dikirim ke alam luar, ke dimensi entah di mana, dalam wujud berupa ada. Hal ini tertuang dalam kanon kanon agama Semitik (Yahudi, Kristen, Islam dan segenap turunannya). Semenjak diletakkan dalam wujud yang mustahil dibuktikan secara empiris, tuhan aman di kedalaman hati masing masing manusia.

Kemudian tibalah kita di era pra modern. Gejolak sains, penemuan penemuan ilmiah dan revolusi di bidang industri pada awal 16 menjadi titik di mana ilmu pengetahuan mengalami puncak kejayaannya. Porosnya di negara Eropa meskipun di tanah Arab mengalami perkembangan serupa (tapi revolusinya berhenti sejak ada Sultan Turki di masa Ottoman iseng mengharamkan mesin cetak)

Ledakan ilmu pengetahuan membuat agama agama Semitik yang mulai kuat saat itu mendapat guncangan cukup berat hingga menimbulkan friksi antara cendekiawan dan gereja. Tidak terhitung berapa kali Galileo Galilei disidang gereja karena membawa premis mengenai bentuk alam semesta. Tidak terhitung berapa banyak ilmuan yang dipenjara karena berhasil membuat pembuktian empiris atas dongeng dongeng kanon. Selebrasi sains tidak bisa dibendung dan meluas hingga akhirnya perspektif barat berkembang ke arah baru; Ateisme, Sekularisme, Liberalisme. Perjalanannya panjang dan mengorbankan banyak nyawa. Bagi saya manusia dan bagaimana mereka memperjuangkan ideologinya selalu menjadi hal yang menarik untuk diamati.

Membebaskan tuhan dari lingkup kanon dan berita berita usang adalah perspektif saya terhadap pandangan ini. Orang orang membebaskan tuhan dari pepatan definisi dan mematahkan ilusi tentang bagaimana sesuatu terjadi dan diciptakan. Ada juga yang membebaskan tuhan dari ritus pemujaan, ada yang membebaskannya dari ujud  dan ada yang membebaskan tuhan ke titik nol. Tiada. Alpa. Nihil.

Ini disebabkan sejak era pra modern bangsa Eropa – Amerika telah mengalami gejolak mereka sendiri. Mulai kasus Ku Klux Klan hingga perang salib dan sebagainya. Bentangan masa sejak abad 16 hingga 2011-lah, yang berkontribusi besar dalam pembentukan sudut pandang kaum maju hingga tidak lagi mempermasalahkan soal eksistensi ketuhanan lantaran mereka telah mengalaminya sejak berabad lampau.

Meski kemudian, teori relativitas yang saya gunakan mengharuskan saya untuk meletakkan kemungkinan bahwa tentu masih ada sikap radikalisme dan antisekularis di negara dengan sejarah peradaban belasan tahun itu. Dengan persentase yang sangat kecil, tentu saja.

Waktu, ternyata juga bisa menjadi variabel yang membentuk sebuah perspektif.

Saya kemudian mencoba mengkomparasi fenomena tersebut di Indonesia, negara dengan usia sejarah yang tidak sampai empat abad jika dihitung sejak masa prakolonial. Indonesia sebagai sebuah negara tentu mengalami perkembangannya sendiri. Saat negara maju sudah berdamai dengan ledakan ilmu sains dan filsafat serta bagaimana kedua hal itu mempengaruhi konsep ketuhanan, Indonesia baru memulai fase tuhan adalah dewa yang mewujud dalam benda benda duniawi-nya. Lalu agama Semitik masuk melalui pedagang Arab-Gujarat (Islam) dan kolonisasi Belanda yang mengusung triteologi Gold, Glory, Gospelnya (Kristen)

Menurut saya, inilah yang kemudian menyebabkan Indonesia baru memulai fase ledakan ilmu sains dan filsafat di era milenium, ratusan tahun tertinggal dari negara barat. 

Kenapa saya menjadikan tahun 2000 sebagai benchmark perkembangan ilmu sains dan (utamanya) filsafat? Apakah saya menampik fakta bahwa selebrasi ilmu pengetahuan membuat sejarah mencatat soal pro-kontra buku Atheis-nya Achdiat K Miharja, PKI dan tudingan anti-islamnya, hingga konsep manunggaling kawula gusti di era Syech Siti Djenar di era Wali Songo? Bukankah gejolak pencarian tuhan di ranah pribadi telah terjadi sejak dulu kala? Kalau boleh saya menyebut, sejak masa Indonesia nyaris merdeka hingga Orde Baru selesai, kita baru memulai percikan perubahan konsep ketuhanan. Hal inilah era post-modernnya kita.

Percikan yang terus meletup dan akhirnya meledak di era milenium, sekarang sekarang ini. Sejak munculnya tokok Gus Dur sebagai bapak Pluralisme hingga pengukuhan Jaringan Islam Liberal di tahun 2002, rasa rasanya sejak itulah terjadi peralihan dari pra-modern ke modern di negara ini. Tren melawan arus, gelombah mahasiswa yang melawan rezim Suharto, hingga meluasnya teori Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme di ruang publik. Kita lebih bebas dalam memilih ujud tuhan dan memutuskan untuk percaya atau tidak dengan paparan konsep dan ilmu pengetahuan yang sudah terbentuk sejak ratusan tahun silam di negara barat.

Pasca tumbangnya Orba, saat ini dengan mudahnya saya menemukan kelompok anarki dalam atribut punk. Sungguh berbeda dari 40 tahun silam di mana seseorang bisa dengan mudah kehilangan nyawa hanya karena ideologi yang dimilikinya.

Screen Shot 2019-07-11 at 17.20.57
Pendekatan menarik soal Consciousness via Kurzgesagt

Maka sekarang lihatlah, Indonesia tengah menikmati masa merdekanya. Kini begitu mudah menemukan buku buku Karen Armstrong, Stephen Hawking, Carl Sagan hingga Madilog-nya Tan Malaka dan menjadi bacaan setiap orang bahkan menjadi sumber studi. Bicara soal Orba, jangankan buku buku yang mempertanyakan ideologi sosial-budaya seperti Madilog, sebuah fiksi cinta cintaan Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Pulau Buru saja dibredel. Ki Panjdi Kusmin yang cuma menulis cerpen Langit Makin Mendung saja harus dipenjara, Seno Gumira Ajidharma harus kehilangan penertbitan dan pekerjaannya di majalah Djakarta, Djakarta! hingga Widji Thukul yang harus hidup dalam pelarian seumur hidupnya hanya karena menulis puisi.

Kini, tiap individu telah bebas untuk membebaskan tuhan dari koloni kanon. Dalam perjalanannya tentu akan ada friksi dan perlawanan sebagai deviasi dari era pra-modern. Indonesia tengah mengalami prosesnya sendiri untuk melawan radikalisme dan menentang upaya memundurkan peradaban melalui jualan khilafah dan mengembalikan Islam ke khittahnya.

Mungkin, ini hanya kemungkinan dan romantisme saya terhadap negara ini, setelah satu-dua abad gejolak ini mengeliat dan terus menjadi udara yang menebar perspektif progresif, negara ini akan menemukan “kemerdekaan”nya sendiri. Setelah faktor dari sudut ketiga berupa waktu menelusup untuk kemudian membentuk simpulan bahwa apa yang tabu di masa lalu, telah sedikit terbebas di saat ini, dan akan lepas sepenuhnya di masa mendatang.

Apa yang kita lihat saat ini adalah proses. Dengan harga yang mahal sejarah negara ini akan tercatat. Puluhan teror bom bunuh diri, laskar jihad hingga pembantaian atas nama agama (ibid: Cikeusik, 2011) dan segenap upaya perlawanan keji dari yang tidak menginginkan  ledakan ilmu sains dan filsafat ini terjadi. Perlawanan tanpa basis dari kelompok yang tidak mau Indonesia menjadi tanah laknat jajahan antek kafir Yahudi – Amerika.

Namun, jika perubahan serupa udara, bisakah kita menghentikannya?

Saya menempatkan diri dalam perspektif serupa belasan tahun silam. Saat satu satunya ilmu pengetahuan yang saya dapat adalah doktrin agama dari Ayah dan sekolah. Saat majalah yang tersedia di rumah nenek hanya Sabili dan Hidayah serta buku buku radikalis berkedok pencerahan islam. Namun sekarang sudut pandang saya berbeda, semenjak membuka diri untuk berhenti membaca hal tersebut dan memulai petualangan imaji dalam Madilog dan Grand Design hingga mengantarkan saya pada simpulan ini. Simpulan bahwa saya saat ini, belasan tahun berselang, saya menganggap memang sudah saatnya hal ini terjadi. Sesedih apapun saya atas collateral damage yang disebabkan, itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah perubahan.

Apakah ini inkonsistensi? Tidak tetapnya pendirian? Peragu?

Saya menyebutnya perspektif yang mengalami perubahan seiring dengan masuknya vektor dan kausal kausal dari luar. Yang berproses dan diterima sebagai ideologi baru. Karenanya ini tidak bisa disebut sebagai self-conscious. Bagi saya, tidak akan ada simpulan yang bisa diambil tanpa sumber. Tidak ada sudut pandang tanpa bercampurnya bias, pendapat dan diskusi tak berkesudahan.

Yang ada hanya ketidaktahuan, kealpaan, bukan sudut pandang.

Sampit, 11 Juli 2019

Cognitive Bias dan Pemaknaan Mimpi Buruk

Saya jarang sekali bermimpi buruk belakangan ini. Dulu ketika masih usia belasan mimpi buruk menjadi perkara harian, kebanyakan mimpi diperkosa/dikurung dalam sumur. Biasanya jika terbangun dengan keringat mengucur atau airmata mengalir, saya akan merangsek ke kamar Kakak dan melanjutkan tidur di sana karena somehow saya merasa ‘aman’. Sesekali di usia 20an ini saya masih terbangun dengan pola yang sama namun biasanya akan segera tertidur kembali karena saya mengerti dari mana datangnya mimpi buruk itu.

Bahkan hal itu tidak lagi saya maknai sebagai mimpi yang buruk karena tau diri ini menggemari Junji Ito, suka game violence, ngefans sama film film Zombie dan mengikuti serial Happy Tree Friends dan Salad Fingers di YouTube. Jika mimpi yang saya alami adalah tembak tembakan/dikejar zombie/masuk ke realm aneh saya akan terbangun dengan ngos ngosan senang lalu menggumam “THAT DREAM WAS AWESOME!” lalu tidur kembali in no time.

Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, saya menemukan mimpi buruk dengan keinginan merangsek ke kamar Kakak setelah terbangun. Karena sadar sudah 6 tahun terakhir saya hidup sendiri, maka hal pertama yang saya lakukan adalah menangis sejadinya dan menelpon kawan baik di Bengkulu yang kebetulan masih terjaga. Kami membahas soal surviving mode tubuh dan pikiran yang bahkan saat dalam mimpi sekalipun, masih alert dan saya ingat betul dalam mimpi saya bergumam “Nani this is not real, wake up, Nani wake up” hingga akhirnya tiba tiba terjaga.

Tertidur kembali setelah menolak menenggak obat tidur dan memilih minum susu hangat, pagi ini saya bangun lalu browsing singkat dan membaca beberapa lembar Psychology Book-nya DK seusai menyeduh kopi dan merokok seperti biasa. Saya kira saya sudah selesai untuk menyingkirkan kepatah-hatian yang saya alami. Saya sudah menghapus setiap jejaknya hingga tidak bersisa barang secuilpun. Wajahnyapun sudah samar di ingatan saya, suara dan hal hal yang pernah ia katakan pelan pelan saya pindah dari long memory term ke short memory term dengan coping mechanism yang saya pelajari melalui buku buku dan artikel psikologi.

Meski jarang sekali berkasih-kasihan, he’s my second boyfriend for the entire 27 years of my life, saya cukup mahfum soal bagaimana jatuh cinta dan patah hati bekerja. Melalui curhatan teman teman dan buku/video/artikel yang saya cerna. Namun rupanya ada sedikit perbedaan antara memahami dan mengalami. Ada beberapa tahun di mana saya sangat terobsesi dengan bagaimana otak bekerja hingga saya tiba di titik segala hal dapat dijelaskan secara rasional tanpa melibatkan perkara gaib sedikitpun. Titik terakhir jika sesuatu terjadi dan saya mentok tidak bisa memahami, saya kembali pada premis:

“Terima saja, kamu hanya belum mengerti apa yang terjadi”

Dan biasanya setelah sekian waktu dan diskusi saya lalui, ia akan bisa diterima dengan baik. Dirasionalkan dengan baik karena saya tau, ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan saya masih sangat bodoh dan perlu banyak belajar. Mengambil jarak dan melihatnya melalui eagle eye atau sekadar menerima bahwa saya sedang terjebak dalam ilusi Panoptikon, adalah metode paling ampuh untuk melalui ‘cobaan’ hidup.

Dalam cognitive bias ada ruang bernama Not Enough Meaning dengan premis bernama We Imagine Things and People We’re Familiar With of Fond of as Better dan We Simplify Probabilities and Numbers to Make Them Easier to Think About. Dan saya harus mengakui saya memandang kepatah-hatian ini dengan bias yang terlampau banyak. Saya mengira saya sudah cukup mengenalnya dan membangun tebak tebak buah manggis soal perasaannya pada saya. Saya menyusun symptom yang berujung simpulan kurang valid/tidak masuk akal karena menggunakan pendekatan Appetite, seperti yang dijelaskan Plato dalam The Tripartite Theory of the Soul:

Appetite : this is the part of the soul where very basic cravings and desires come from. For Example, things like thirst and hunger can be found in this part of the soul. However, the appetite also features unnecessary and unlawful urges, like overeating or sexual excess.

WhatsApp Image 2019-06-07 at 10.45.31.jpeg

Bias seperti ini jika dibiarkan akan menjadi prejudis dan asumsi yang tidak main main gemanya. Saya ingat betul bagaimana seorang Nani saat berusia 15 tahun dan patah hati untuk pertama kalinya. Saya membangun imagi yang sedemikian kokoh positifnya dan vivid bahwa lelaki ini tidak meninggalkan saya namun hanya sedang sibuk saja, saya harus menunggunya. Hingga akhirnya 9 tahun berlalu dan saya mendapat jawaban bahwa ia tidak sekalipun ingin menjadi pacar saya, yang terjadi hanya perkenalan biasa.

Sembilan tahun saya menunda hidup karena ketidaktahuan dan demi apapun saya menolak menghabiskan sembilan tahun lagi untuk sekadar patah hati. Sejak 31 Mei saya mendapat distraksi menarik, karena kekaguman saya kepada orang ini tidak main main besarnya, sebuah afirmasi darinya menjadi pengalihan isu yang sangat baik. Terlalu baik malah. Setelah 31 Mei saya tidak memikirkan sedikitpun soal patah hati yang baru saja terjadi, dunia seolah berwarna jingga keemasan dengan saya sebagai Alina dan ia Sukabnya. Indah, terlalu indah seolah olah tidak ada hal lain yang lebih indah.

Sayangnya, seperti halnya distraksi apapun, ia ephemeral. Temporal. Ketika keriaan itu usai dan dopamine level di otak menurun, saya harus kembali membuka karpet dan membereskan sampah di bawahnya. Tapi kali ini tanpa bantuan alkohol, obat penenang atau curhat berlebihan. Saya harus menghadapi ini sendirian dengan ‘bekal’ pengetahuan yang rasanya cukup untuk bersepakat dengan diri sendiri bahwa:

“Ia hanyalah fluke in the system. Kesialan yang terjadi. Shit happens sometimes. Kamu dibrengsekin, disakiti dan tidak apa apa. Toh yang indah indah juga pernah terjadi, seimbang. Terima dan lepaskan”

Perasaan dua orang yang bersepakat untuk berkongsi tidak akan pernah bisa linear. Hal ini disebabkan dua individu dibesarkan, terpapar dan memiliki belief system yang berbeda. Jika dalam hal ini garis saya perkara cinta-mencintai lebih panjang sementara ia telah berhenti sejak lama, ya tidak apa apa. Namanya juga dua garis yang tidak akan pernah linear. Rasional saja tidak cukup, saya juga harus belajar untuk menerima dan merelakan.

Tes MMPI telah dibahas sedikit pada pertemuan ke-4 kemarin. Dokter bilang kurva reasoningku tinggi. Kemampuanku untuk merasionalkan setiap kejadian di masa lalu sangat baik. Diam diam aku bangga dengan itu, rasanya seperti validasi atas upaya memahami diri sendiri melalui buku buku dan diskusi selama ini. Kurva yang mengkhawatirkan hanya bad thoughts dan inipun kuamini sebab ia telah menjadi belief systemku pasca bersikap dan berpikiran positif membuatku berakhir pada pelecehan seksual, penipuan uang, dan menunggu seseorang hingga 9 tahun lamanya. Sehingga seperti yang diajarkan seorang kawan, sebelum ia melakukan operasi bedah, ia akan memikirkan kemungkinan terburuk agar siap secara mental dan menganggap keberhasilan operasinya adalah ‘reward’ dari upaya maksimalnya.

Namun saya mengerti, berpikiran positif dan berpikiran negatif memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Ada alur dengan kemungkinan mengguncang ketetapan dan kestabilan pikiran namun itu adalah resiko yang harus diambil. Hidup adalah soal memilih dan memperjuangkan pilihan itu hingga dihadapkan dengan pilihan pilihan baru dan pola yang sama kembali diulang. Sekarang saya ingin belajar bersikap netral, seperti yang kerap saya ulang ulang sebagai mantra di pagi hari:

Daripada suudzon atau husnudzon, lebih baik tidak berprasangka sama sekali.

Untuk bersikap senantiasa netral dan dalam perjalanannya, hidup mempertemukan saya dengan banyak sekali hal hal menarik yang ‘mengejutkan’ karena saya berangkat tanpa prasangka. Jika saja dulu saya berprasangka baik/buruk tentang bagaimana hubungan ini akan menuju, tidak akan saya dikejutkan dengan perasaan sangat sangat bahagia karena dicintai seseorang yang saya cintai 2 tahun lamanya. That was wonderful, menemukan diri berbahagia itu menyenangkan. Mengetahui ada seseorang yang khawatir dan memikirkan eksistensi saya rasanya membahagiakan. Itu adalah reward dari sikap menolak berprasangka.

Walaupun kejutan di akhirnya adalah patah hati, ya tidak apa apa. Hidup tetap harus berjalan dan saya harus lebih belajar lagi soal menerima dan merelakan.

 

Sampit,  07 Juni 2019

 

 

Liebster Award Nomination

Menemukan challenge berantai seperti ini seketika melemparkan saya ke 10 tahun silam, saat menulis blog adalah hobi semua orang dan tempat ini lebih ramai dari pasar malam. Sekarang tentu saja ia telah beralih platform menjadi Facebook, Instagram dan Twitter. Namun hingga saat ini blog masih menjadi favorit saya untuk menuangkan isi kepala. Dan karena ia sudah tidak seramai dulu, saya jauh lebih nyaman untuk berbicara tanpa keinginan untuk menggugah, menginspirasi lebih lebih mencitrakan diri di sini.

Mbak Maya menyertakan saya di antara 11 blogger lain untuk mengikuti Liebster Award Nomination ini (lebih lengkap ada dalam entry beliau yang ini) dan saya tertarik untuk ikut meramaikan karena itu tadi, atas nama nostalgia hahaha.

Berikut jawaban saya untuk 11 pertanyaan dari Mbak Maya:

Question for my fellow bloggers:

  1. your blog in 3 words, are? Media curhat, review buku dan jalan jalan
  2. your favorite author? Saat ini masih ditempati Haruki Murakami
  3. how many times did you re-read your writing? in a good day, 2-3 kali.
  4. when you write, do you lock yourself in a room? I don’t need to, I’m living alone
  5. your favorite books? Cantik Itu Luka, Sputnik Sweetheart, The Redeemer, One Hundred Years of Solitude (by far)
  6. what is your favorite stationary items? my lovely meal plan journal
  7. any other hobbies else than writing? Memasak dan menghitung kalori (by far)
  8. what kind of things that must be there or accompanying you when you write? my imaginary friend
  9. what is a writer’s block to you? rasa nyaman
  10. most anticipated guest to be at your house right now? basically anyone. Why? I’m still in this house warming euforia, baru pindahan~
  11. where would you want to be, the beach or the mountain? beach for sure. Di bawah sinar rembulan. Sambil berpegangan tangan :’)

Random 11 fact about me:

  1. I had this weird allergy toward perekat. Lakban, plester luka, koyo akan menimbulkan ruam dan gatal gatal yang berujung dengan bekas luka. I can’t recall when the last time I had kulit mulus tanpa bekas luka.
  2. I read comic books in a speed of light
  3. Lebih suka nonton teater/monolog/designated seating music show dibanding konser karena suka mendadak panik kalau berada di tengah orang banyak yang teriak teriak
  4. Meski sudah 10 tahun bekerja di bidang komunikasi (jurnalis, penyiar radio, penyiar TV, publicist dan sekarang humas – CSR) lidahku suka mendadak kelu kalau kenalan sama orang baru~
  5. Punya teman diskusi imajiner
  6. Sering dikira melucu padahal murni bodoh. Pernah mengira sapioseksual adalah sebutan untuk orang dengan fetish terhadap sapi.
  7. Pernah masuk UGD karena makan Momogi rasa keju 4 kotak isi 20
  8. Kalau latah nyebutnya ayam aku merasa seperti komedian program TV pagi hari yang tidak lucu 😦
  9. Agus Kuncoro adalah segalanya
  10. Hopeless romantic
  11. Lebih takut film sedih daripada film horor

Saya seharusnya mendampuk 11 blogger lain untuk menuliskan hal serupa di atas tapi saya ga bisa menemukan 11 laman blog milik kawan yang cukup dekat untuk meneruskan pesan ini. Jadi ya, biarlah berhenti di saya hehe.

***

Oh, kemarin saat menuliskan kaleidoskop 2018 di pertengahan bulan Desember, saya sama sekali tidak memiliki rencana akan ke mana pada saat tahun baru. Saya sudah menyusun janji mabar dengan rekan rekan sepermainan PUBG dan membeli banyak sekali cemilan sebagai kawan nonton Netflix untuk melewati tahun baru dan libur panjang di dalamnya.

Ndilalah, saya berangkat ke Bali pada 28 Desember dengan keputusan diambil tepat dua hari sebelumnya sebab apalah artinya usia muda jika impulsif tidak menjadi sifat utama. Menghabiskan seminggu dengan makanan enak, obrolan dan diskusi tidak berkesudahan. Untuk sekedar berpendapat dan mengungkapkan hal hal yang tidak pernah berani saya katakan di lingkaran sosial di Sampit atas nama decency dan memaklumi. Begitulah, tahun baru 2019 saya lewati dengan tipsy berkat 3 gelas wine dan riuhnya hitung mundur di antara kembang api pantai Canggu.

Sampit, 4 Januari 2019