Self Restraint, Beat Your Own Beast.

“Baca, menulis, baca dan nulis sampai waras lagi”

Saya menjalani disiplin yang cukup membuat saya bangga sama diri sendiri sekurangnya sepanjang Februari kemarin. Saya sedang mempelajari seni menahan diri. Dalam rangka mencari kewarasan dan fungsi normal sebagai makhluk sosial.

Sebulan terakhir, saya tidak beremosi berlebihan. Nyaris tidak belanja impulsif, nyaris tidak emotional eating (bahkan dalam sebulan terakhir saya sukses menurunkan 2 kilo berkat seni menahan diri itu tadi), dan tidak curhat pada siapapun soal perkara itu itu saja.

Saya mengingat hari hari di beberapa bulan silam di mana saya bisa mendadak burst out dan menangis sejadinya, atau mendadak merasa kek disedot ke dalam bumi tanpa alasan jelas lalu bengong berjam jam. Sekarang alasan alasan itu justru kian jelas, dan karena ia telah menjadi jelas, saya bisa memahami lalu memutus rantai itu dengan seni menahan diri.

Selain itu, membaca buku ternyata sangat membantu. Pertengahan tahun silam, dengan becanda saya ditantang untuk ikutan challenge di Goodreads. Dia memasang target 30 buku, saya ditantang 50 yang segera saya sahut “50? Seratus sekalian!” dengan nada sarkas tentu saja. Eh ternyata malah saya menggebu menjalani tantangan itu dan sudah melahap 23 buku hingga bulan ini.

Saya sampai menemukan pola, saat sedang dirundung kesepian, saat mulai memikirkan kemungkinan kemungkinan bahkan saat mulai merasa menyesal atas kejadian yang sudah lewat, saya bersegera mengambil buku dan mulai membaca. Masuk ke dalam pikiran orang lain yang tertuang dalam kalimat kalimat dan tau tau waktu berlalu, saya tidak lagi berminat memikirkan perkara lain selain apa yang telah saya baca. Siapa sangka jika membaca bisa menjadi terapi.

Hihi.

Selain itu ya seperti kata kawan saya di atas, proses mewaraskan diri salah satunya ya dengan menghapus blog lama, meninggalkan ruang ruang berpikir berlebihan dan ketidakwarasan itu dengan mantap. Saya lalu hijrah ke sini dan menjadikannya medium menulis hal hal di luar sekresi pikiran berlebih dan ketidakwarasan itu tadi. Menulis resensi, pandangan saya soal buku buku dan film yang telah disantap dan rasanya sama saja seperti menulis derita, keluhan serta kesedihan. Saya hanya butuh beradaptasi agar tidak menjadi individu baperan dan menyusahkan.

Sisanya, tidak ada kabar berarti dari saya. Koleksi buku yang makin bertambah, saya tidak lagi takut pada waktu senggang, saya tidak takut sendirian, saya tidak berpikir berlebihan dan semoga ini bisa menjadi rutin yang terus bertahan. Urgensi untuk mengeluh juga sering kalah oleh renungan renungan soal betapa beruntungnya saya yang masih bisa bertahan hidup dan tidak kalah oleh kepala sendiri.

Hidup masih menjanjikan perjalanan. Dan perjalanan itu, masih panjang!

Palangkaraya, 5 Maret 2015

Untuk hidup dan kehidupan, bersulang!

Advertisements

100 Buku Untuk 2016 #Februari

Januari kemarin saya menulis entry soal kepinginan membaca 100 buku di sepanjang tahun ini. Rencananya akan mengupdate buku buku yang telah dibaca setiap akhir bulan agar ter-track down sampai penghujung tahun. Tidak semua buku yang dibaca akan dijadikan review di web ini lantaran tidak semua buku yang saya baca semenarik itu. Kalo mau cek akun goodreads saya boleh juga. Siapa tau naksir.

.

.

.

Sama bukunya.

So here we go. List buku yang sudah dibaca di bulan Februari:

  1. Si Parasit Lajang – Ayu Utami
  2. Norwegian Woods – Haruki Murakami
  3. Banda Neira – Mayon Soetrisno
  4. Penembak Misterius – Seno Gumira Ajidharma
  5. Lolita – Vladimir Nabokov
  6. The Catcher in The Rye – JD Salinger
  7. Seks dan Revolusi – Jean-Paul Sartre
  8. Adultry – Paulo Coelho
  9. Ugly – Constance Briscoe
  10. Orang Orang yang Berlawan – Wilson
  11. Melipat Jarak – Sapardji Djoko Damono

Yang menjadi highlight adalah Banda Neira dan the Catcher in the Rye yang sempat saya review di web ini. Dua puluh tiga buku dalam kurun 2 bulan rasanya ga jelek jelek banget kaaan hahaha.

Akan lebih selow di bulan Maret mengingat pekerjaan mulai memasuki musim audit, blah.

Sampit, 29 Februari 2016

Dalam pembelajaran soal the art of being alone 🙂

Bermain Cita Cita

“Mari bermain cita cita”

Seorang guru berseru pada Selasa pagi

Di sebuah sekolah kumuh,

Dengan murid murid berseragam lusuh,

Dengan dana remah remah anggaran daerah

Puluhan bocah empat SD, bergemuruh, beberapa bertepuk tangan

Satu per satu ditanyai ingin menjadi apa

Berloncatan senang, masing masing punya jawaban

Dokter-astronot-artis-hingga presiden dilontarkan

Ada yang memukul mukul meja,

Tak sabar menunggu cita citanya terpapar

Amin diam,

Tak bergeming kala sang guru mengetuk ngetukkan ujung sepatu, menunggu

“Saya tak punya cita cita Pak, lihat nanti saja”

Gumam menggumam, tawa cela memburai seketika

Ruang kelas gaduh, Amin dihukum berdiri di depan kelas

Karena tak punya cita cita

Puluhan tahun lewat, tak ada satupun kawan kelasnya yang menjadi dokter-astronot-artis

Lebih lebih presiden

Satu satu mati, ada yang bolong kepalanya ditembak, gara gara bertatto

Ada yang mati kesetrum, kala menjaja asongan di atas atap kereta

Ada yang mati beranak, semata tak mampu ikut KB

Tak pula ada yang menjadi dokter bertatto

Astronot kemudi kereta

Atau bahkan artis dengan anak kelewat banyak

Amin, mengais sisa sisa sampah rumah mewah

Sekolahnya tak tuntas, SD-nya diratakan di tahun ke lima

Deru menderu, bisik membisik sampaikan padanya

Kawannya yang ingin jadi presiden mati

Ketangkapan warga sekampung mencuri televisi

Kais mengais, sampah yang bisa dimakan

Gumam pelan Amin tak tertangkap udara

“Hidup kok kebanyakan cita cita..”

Ventriloquist

https://i2.wp.com/sobadsogood.com/uploads/media/2014/03/09/Creepy-Vintage-Ventriloquist-Dummies-1.jpg
Serem? Iya. Kek mantan.

Ventriloquist itu istilah untuk pemain boneka dengan suara perut. Saya pertama kali mendengar istilah ini dari film Dead Silence, tentang hantu Mary Shaw, seorang ventriloquist yang terobsesi untuk membuat boneka yang bernyawa.

Postingan kali ini, saya tiba tiba terfikir tentang siapa yang ‘menggerakkan’ kita. Yang berbicara melalui kita, yang membut kita tertawa, menangis, bersuara, segalanya. Teori sains akan mengatakan semua itu merupakan reaksi neurotik yang kompleks pada otak besar yang memerintahkan syaraf untuk menggerakkan bibir, mengeluarkan suara, tertawa, semuanya.

Teori teologinya lebih kompleks lagi. Ada Tuhan dibalik semua kejadian. Manusia tertawa, menangis, bersuara, segalanya berkat ‘lillahi ta’ala’, kehendak Tuhan yang maha tinggi. Atas restu dan keinginan-Nya manusia berjalan, berfikir, berniat, berdetak dll.

Apakah juga Tuhan yang menggerakkan setiap perilaku cela manusia? Atau adakah konspirasi setan-malaikat dalam setiap tindakan yang manusia ambil?

Sebagai seorang realis-relatif, maka saya percaya pada teori sains yang sudah disepakati sebagai ke-be-nar-an dalam mengambil simpulan terhadap apapun (termasuk di dalamnya teori teori filsafat). Bahwa yang menggerakkan manusia adalah self-conscious, pertimbangan pribadi, dan reaksi tubuh atas perintah yang diberikan syaraf syaraf neurotik dari otak.

Bahwa tidak ada konspirasi setan-malaikat serta pihak ketiga dalam wujud yang menggerakkan manusia untuk berfikir, bernafas, mengunyah, berjalan, berbuat apapun. Sebagian besar merupakan tindakan natural yang terjadi secara begitu saja. Neither lantaran tubuh memang terbiasa melakukannya atau memang harus dilakukan demi stabilisasi organ tubuh (baca: denyut nadi, bernafas dan lain sebagainya)

Fokus saya kali ini, adalah apa yang menggerakkan pikiran manusia. Sebagai pusat gerak, tubuh harus diperintah oleh pikirannya. Mencuri, membunuh, tindakan tindakan yang disepakati secara sosial sebagai ‘perbuatan tercela’ itu tentu telah mendapat stimulasi dari pikiran untuk mencuri, membunuh dan sebagainya, oleh pikiran manusia.

Apa betul, tindakan jahat manusia digerakkan oleh setan? Sementara perbuatan baik digerakkan oleh malaikat? Saya, memilih untuk belum mempercayainya. Pihak ketiga yang menggerakkan manusia secara pasif untuk berfikir dan mencerna segala sesuatu itu berbentuk kasatmata. Pola pikir manusia dipengaruhi oleh lingkungan, latar pendidikan, asupan pengetahuan dan tentu saja: pengalaman hidup.

Keputusan yang diambil seseorang yang tidak pernah tau bahwa karbondioksida itu zat berbahaya tentu berbeda dengan keputusan seseorang yang mengetahui bahwa zat karsinogenik dari karbondioksida bisa memicu kanker dan flek paru paru saat keduanya sama sama dihadapkan pada masalah serupa: menyetujui atau tidak menyetujui pembangunan pabrik pengolahan Crude Palm Oil di dekat rumahnya, dengan iming iming kompensasi yang cukup besar.

Setidaknya itu merupakan contoh bahwa campur tangan pihak ketiga yang kasatmata (dalam hal ini pengetahuan) bisa membuat perbedaan dalam tindakan manusia. Simpulannya, ventriloquist saya adalah akal, nurani, asupan pengetahuan dan keinginan untuk terus berkembang.

So, who/what is your ventriloquist?

Ateis Puritan A La Mihardja

Disclaimer: Penulis adalah pembaca amatir, pengulas amatir, dan pengamat sastra amatir. Satu satunya yang profesional dari Penulis adalah makan rendang tanpa banyak mengunyah.

Yang saya kagumi saat membaca roman ini ialah kepandaian penulisnya dalam menjalin kata hingga pemaparan mengenai komunisme menjadi mudah dicerna. Tokoh bernama Hasan nampaknya sengaja dibuat agar berkarakter “mudah” dan gamang. Kiranya dengan sifat demikian, penggunaan sudut pandang orang pertama tunggal tetap mampu mengcover dua ideologi serba bertentangan. Komunisme dan kapitalisme, sosialisme dan anarkisme, atheis dan theis, modern dan mistik.

Maka Hasan, menceritakan hidupnya dengan alur yang runut. Tentang jiwanya yang semula kukuh perlahan menjadi goyang dan akhirnya runtuh (ditandai saat ia pulang ke Panyeredan dan menyatakan bahwa ia ingin mengambil jalannya sendiri) lalu menjadi kukuh kembali saat dirinya menjemput maut.

Tidak berimbangnya antara tokoh yang menganut paham mistik, tradisionalis dan yang menjunjung modernisme, komunis dan atheis (bahkan muncul Anwar, sang anarkhis) membuat roman ini terkesan ingin mempropagandakan paham komunisme. Bagaimana tidak, seorang Hasan yang mudah berubah pendiriannya digempur oleh Rusli, Kartini, Anwar dan sederet kawan kawan politiknya. Ditambah dengan tumbuhnya cinta dari Hasan kepada Kartini. Satu satunya yang menguatkan teori Hasan hanyalah ayah dan ibunya. Itupun tertinggal jauh di Panyeredan, di pikirannya.

Tapi kesan tersebut hanya bertahan hingga pertengahan buku. Sebab dengan hadirnya Anwar, seniman anarkhis yang nampaknya sengaja betul menjadi pembuat onar, menyeimbangkan sisi Hasan kepada ideologi komunis-atheis milik Rusli yang tampak begitu sempurna, utopis dan merayu rayu. Anwar menjunjung anarki dengan Bakunin sebagai gurunya. Ia tidak mengenal konsep ‘Lu punya gua punya’ dan cenderung barbar. Tidak sedikit ia menghina agama dan tuhan, sehingga kesal Hasan dibuatnya. Seolah ingin menegaskan bahwa tidak semua penganut paham tersebut menjadi seorang ‘sukses’ seperti Rusli. Anwar justru menjadi kuda liar hilang kendali, tak bersopan santun dan meletup letu, pemadat serta senantiasa tak beruang.

Cinta Hasan yang demikian kuat kepada Kartini-lah yang sebenarnya mengubah haluan hidupnya sedemikian rupa. Layaknya teori teori adaptasi, maka Hasan mencoba begitu keras agar terterima di dunia Kartini. Dunia yang serba modern, dunia di manaGone With the Wind  dan Bing Crosby menjadi penting.  “Terasa sekali betapa besarnya perubahanku dibanding dulu. Dulu artinya empat bulan yang lalu segala jejak dan ucapanku selalu kusesuaikan dengan “pendapat umum”, terutama dengan pendapat para ahli ulama. Aku selalu berhati – hati jangan sampai menjadi noda dalam pendangan umum, alias “klaim alim – ulama” itu. Tapi sekarang pandangan umum itu sudah tidak begitu kuhiraukan lagi. Bagiku sekarang lebih penting pendapat Kartini. ( Atheis, hal. 108)

Kemudian, sekali lagi Achdiat memberikan twist berupa pernyataan Anwar ketika Hasan tengah sembahyang saat pulang ke rumah orangtuanya. “…itulah yang kunamakan sandiwara dengan diri sendiri. Mengelabui mata sendiri… Itulah yang kubenci, sebab dengan begitu hilanglah kepribadian kita, persoonlijkheid kita.” (Atheis, hal. 145)

Sebab Anwar, Hasan merenung kembali. Sebab Anwar yang kemudian menggoda istrinya, di tahun tahun selepas pernikahannya dengan Kartini, Hasan menjauh dari Rusli dan kawan kawannya. Hidupnya tak jauh dari ke kantor, pulang dan mendapati isterinya tak di rumah, dan batuk batuk hebat. Di halaman halaman akhir terlihat betul keinsyafan Hasan dan penyakitnya yang mengganas dianggapnya sebagai siksa dunia.

Romanpun berakhir gamang. Tanpa ada batas jelas apakah hasan kembali ke islam atau menjadi atheis. Achdiatpun mendaulat tokoh tanpa nama yang menjadi editor untuk menerbitkan naskah autobiografi Hasan. Tokoh ini pula yang seolah menjadi pendamai atas dua ideologi besar yang merongrong pikiran Hasan. Jika Rusli hadir bersama Karl Marx, Hasan yang semula berpegang teguh pada Muhammad, maka Tokoh Ini membawakan Freud kepadanya. Tidak hanya Freud, namun segala perdamaian perdamaian pikiran. “Sesungguhnya, saudara, kita dilahirkan ke dunia ini dengan satu tugas yang mahapenting, yaitu ‘hidup’..” ( Atheis, hal. 202)

Sebagai penyeimbang, tugas tokoh tersebut tidak tunai sepenuhnya. Sebab pada detik sebelum Hasan ditembak, Hasan masih dikuasai amarah untuk membunuh. Dalam lubang perlindunganpun, ia banyak tepekur dan menangis. Sebab takut siksa neraka meski porsi rasa bersalahnya kepada orangtuanya -terutama ayahnya yang baru saja meninggal- demikian besar.

Hingga tuntas halaman terakhir, saya tidak banyak mengeluh. Kompleksitas Hasan sangat memukau saya. Sebagai yang baru membaca sedikit dan mendapat secuil pemahaman soal ideologi ideologi seperti komunisme, atheisme dan anarkisme serta filsafat, tentu saya kagum dengan kepiawaan Achdiat meramu semuanya dalam satu buku. Lebih lebih, dalam satu karakter bernama Hasan.

Berlatar di tahun 1940an, novel ini sedikitpun tidak menyentil isu kemerdekaan. Hanya sedikit bagian yang mengindikasikan Rusli terlibat dalam gerakan politik berbau kiri. Ditambah dengan sikap Anwar yang begitu membenci penjajah disebabkan oleh paham anarkis yang dijunjungnya.

Seolah ingin menjabarkan betapa berbahayanya pikiran manusia hingga yang telah kukuh memegang satu prinsip bisa luluh juga jika digempur prinsip baru dan tentu saja, cinta. Meski seolah ini adalah kisah yang menjadikan ide atheis sebagai garis utama, namun saya memandangnya sebagai kisah cinta Hasan dan Kartini yang dibalut teori teori. Entahlah, sekurang kurangnya hanya itu yang saya mampu simpulkan.

Membaca kembali Atheis setelah nyaris tujuh tahun membuat buku ini menjadi pengobat kangen yang cukup manjur. Membelinya dan membaca pelan pelan mampu menjabarkan banyak bagian yang tidak saya mengerti kala itu. Maklum saja, waktu itu saya baru kelas tiga SMP, tak tau soal komunisme, atheisme dan filsafat.Kisahnya begitu melekat hingga ke mana mana saya sebut jikalau Atheis karya Achdiat K Mihardja adalah novel favorit saya.

Sebuah novel, meskipun fiksi adanya, senantiasa menggambarkan suatu kondisi masyarakat tertentu. Atheis yang diterbitkan di tahun 1949 inipun membawakan gambaran jelas kondisi saat itu, Bandung khususnya. Masyarakat mengalami gelombang kiri dengan munculnya Rusli, bung Parta dan kawan kawan politiknya. Pemahaman kiri seolah meluas hingga (dari?) Jakarta sebab Anwarpun demikian.

Namun, kondisi masyarakat yang masih sangat lekat berhubungan dengan budaya Belanda membuat tokoh tokoh islam tidak menolah mentah segala yang di luar islam. Rukmini yang bersekolah di sekolah menengah kristen, Hasan yang mengenakan jas dan sempat bekerja di kantor milik Belanda. Meski secara pribadi Hasan menolak bioskop dan musik musik barat sebab dianggapnya tidak sesuai dengan didikan agamanya.

Sementara sekarang saat kita sudah membaur sekian lama dengan agama agama lain, budaya budaya lain, mengapa begitu sulit untuk menjadi damai atau setidaknya, bersikap seperti Hasan saat dirinya melewati lorong pelacuran; bersikap acuh dan terus berjalan sambil berdoa semoga tidak tergoda dirinya alih alih menggalang massa dan beramai ramai meruntuhkan sarang maksiat tersebut.

Nostalgiaaaa

Buku di atas merupakan cetakan ke 34 di tahun 2010. Sementara cetakan pertamanya di tahun 1949. Dari berbagai catatan di dunia maya yang mengulas buku ini, kebanyakan menyebut pekerjaan Hasan adalah juru tiket kapal. Sementara di buku yang saya beli, disebutkan bahwa Hasan adalah pegawai di kantor pemerintahan bagian pemasangan air (semacam PDAM). Di sanalah ia bertemu Rusli dan Kartini, saat Rusli ingin meminta pemasangan air di rumah barunya. Entah mana yang betul, tapi yang saya baca lebih terasa masuk akal.

Isu Ateisme yang diangkat Mihardja di buku ini dapat dikatakan masih di permukaan. Ia menjelaskan bagaimana Rusli dan pergejolakan jiwa lelaki taat beragama itu terhadap pertanyaan soal Tuhan dan Agama. Tidak dimunculkan sekat dan label apapun terhadap apa yang diyakini Rusli kemudian sebenarnya, bahkan hingga akhir hayatnya.

Meski demikian, lagi lagi mengingat tahun terbitnya buku ini, apa yang disuguhkan Mihardja sangatlah menarik sebab ia mampu menggambarkan seperti apa gejolak di masa itu. Tidak hanya di tataran sosial namun juga di tataran spirituil orang Indonesia yang baru mengenal ideologi bawaan barat tersebut (*)

Bolehkah Menjadi Jahat?

Betapa membosankannya semua dongeng jika tidak ada sosok yang disalahkan, yang menjadi masalah, yang berbuat salah. Bayangkan seperti apa rupa sinetron Indonesia jika tidak ada satupun tokoh berdandan menor dengan suara tinggi dan bermisi tunggal; merepresentasikan tujuh dosa manusia dalam sekali waktu.Jika bukan karena merasa benar, tidak akan ada manusia yang berbuat jahat.

Perasaan benar akan menimbulkan pembenaran, semacam kebenaran, namun hanya untuk konsumsi pribadi. Sebetulnya membahas soal ‘kejahatan’ itu sendiri rasanya menarik, apa yang membuat kita menyimpulkan satu kejahatan dan memberi vonis jahat kepada pelakunya. Sayangnya tulisan ini akan menjadi semakin panjang dam semakin membosankan untuk dibaca.

Kita simpulkan saja, kejahatan adalah label atas tindakan yang tidak sesuai norma (hukum, agama, adat dan susila), yang meresahkan lagi merugikan orang banyak dan pelakunya wajib menanggung konsekuensi berupa hukuman sesuai norma yang diberlakukan. Urusan menjadi jahat dan hubungannya dengan masyarakat sudah jelas, sekarang kembali ke soal pembenaran untuk berbuat jahat.

Seseorang pernah memberitau saya bahwa esensi dari hidup dan berbuat kebaikan itu ada tiga. Tidak merugikan orang lain, tidak menyakiti harga diri orang lain, dan tidak merusak lingkungan. Jika satu saja terlanggar, maka itu sesungguhnya adalah kejahatan. Sebelum menengok terlalu jauh kepada pelaku kriminal, saya rasa dalam setiap langkah, manusia sadar atau tidak sudah berbuat jahat.

Manusia memiliki sub conscious, suara kecil dalam kepala yang membantu kita mempertimbangkan baik buruk sebuah tindakan. Suara ini kemudian sering muncul dalam kartun jadul berupa setan dan malaikat yang berdiri di bahu dan saling membisiki. Biasanya, sang malaikat menang.

Namun perkenalkan sisi dalam kepala dengan suara lebih lantang bernama ego. Karena kita butuh merasa lepas dari rasa bersalah, ego akan membuatkan pembenaran atas tindakan yang merugikan, menyakiti harga diri orang lain dan merusak lingkungan. Dan biasanya, suara paling lantanglah yang terdengar.

ditemukan di sini

“Ah, telat dikit doang gini. Klien juga sering bikin gue nunggu, sekali kali bikin bawahan cengo di lokasi meeting gapapalah”

“Ya kan aku niatnya becanda. Dia juga pasti ngerti, kita kan temen. Lagian emang bener kok, dengan badan kaya gitu di duduk di situ bisa aja kursinya patah…”

“Sampah seupil gini ga bakal ngaruh sama banjir bandang”

Butuh waktu empat bulan bagi saya untuk berhenti mengelak dan mencari cari pembenaran atas hal jahat yang telah saya lakukan. Juli lalu saya menyakiti orang lain, mengkhianati kepercayaan, dan sebagainya dengan pergi begitu saja dari tempat saya bekerja di Jakarta.

Pembenaran pembenaran yang saya buat, alih alih menenangkan, ia justru menjadi beban. Saya terus berlindung dalam pernyataan “Tapi kan, gue ga nyaman ada di sana” seolah itu adalah hal besar yang akan mengubah Jakarta menjadi neraka jika dalam segera tidak ditemukan solusinya. Saya menyeret koper  dan melangkah ke bandara dengan ego yang besarnya melebihi diri saya sendiri. Lalu pergi, begitu saja.

Tidak ada cara lain selain memaafkan diri saya sendiri. Beberapa hal yang terjadi saya kompromikan sebagai konsekuensi atas tindakan saya dan sekarang, saya telah berdamai dengan diri sendiri. Sedang menata kembali mimpi dan merencanakannya dengan matang. Hebatnya, setelah semua yang terjadi, ternyata saya masih ingin menjadi penulis.

 

***

Lalu satu berita datang dari Bandung, tentang masjid Ahmadiyah yang dirusak FPI. Apakah Ahmadiyah telah melanggar suatu norma (hukum, agama, adat dan asusila)? jawabnya (sayang sekali) adalah iya, norma agama yang disuarakan melalui fatwa MUI bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan diluar islam. Tapi apakah Ahmadiyah merugikan orang lain, menyakiti harga diri orang lain dan merusak lingkungan?

Semua orang memiliki versi jawabannya sendiri dan saya yakin betul yang paling popular adalah ini; Ahmadiyah menyakiti harga diri umat muslim dan menginjak sakralitas nabi muhammad sebagai nabi terakhir. Tapi betulkah itu yang seluruh umat muslim rasakan atau hanya pendapat pribadi? Manusia tidak akan pernah menjadi individu yang merdeka pikirannya jika dalam memutuskan sikappun masih harus melalui approval dan persamaan visi dengan sang alpha dog.

Terlepas dari itu semua, negara ini pastilah punya regulasi hukum untuk pelanggaran norma agama. Membiarkan FPI mengambil alih proses penghukuman secara barbar dan tanpa keadilan bukanlah refleksi dari negara hukum yang konon katanya berasas demokrasi.

Jika setiap kubu, setiap individu memiliki pembenarannya sendiri atas sikap sikap jahat yang dianggap sebagai perbuatan ‘wajar’, sesungguhnya kita sudah mencapai esensi sebagai penerus nenek moyang. Menjadi manusia yang membuat dirinya dan seluruh keturunannya terusir dari surga demi memenuhi suara terlantang di dalam kepala bernama ego.

Kepala Polisi

“Pak, tolong saya dan keluarga saya Pak,”

Perempuan itu tersungkur tanpa banyak upaya.

Kepala polisi nyalang, nampaknya sedari tadi ia terantuk antuk menahan kantuk. Sebab tak banyak yang ia lakukan belakangan ini. Kecuali sesekali berpidato dan memimpin upacara. Ia berdehem di sela kumis yang dicukur tipis.

“Mau minta tolong apa, mbak?”

Perempuan yang sedari tadi menunduk kini menatap lurus ke arah kepala polisi. Wajahnya lebam, biru keunguan menggelayut di mata kanan, sementara bekas sundutan -seperti rokok- di pipi kiri yang berakhir pada jahitan di sudut bibir yang nampak masih basah. Tangisnya luruh, perempuan itu tengah menjadi bulan bulanan lelaki yang memperistrinya.

Kepala polisi berderak, seperti ingin batuk namun ditanggalkan. Sementara tangin perempuan itu kian deras hingga menggenangi sebagian teras kantor polisi. Ia tengah memikirkan jawaban paling memuaskan untuk perempuan itu. Dirinya menginginkan peradilan yang tertegak tinggi, apalagi jika menyangkut harkat martabat perempuan, perwujudan dari ibunya sendiri.

“Begini, mbak bisa masuk ke dalam ruangan penyidik yang ada di gedung utara, lalu nanti petugas yang ada di sana akan mencatat setiap aduan mbak secara rinci. Setelahnya, akan dilakukan pengusutan, jika terbukti bersalah, suami mbak akan dijadikan tersangka” 

Kepala polisi bergumam gumam, disimpannya kalimat itu dalam hati. Ia tau pasti prosesnya tidak akan segampang itu. Apalagi jika perempuan di depannya bersuamikan petinggi, atau setidaknya, orang kaya yang mampu menggotong pengacara ternama. Akan lama, berbelit serta bukan tidak mungkin jika justru perempuan itu yang akan masuk penjara.

“Atas tuduhan pencemaran nama baik”

Tanpa sadar kepala polisi bersuara.

“Ya, Pak?”

Kepala polisi berdehem

“Ah, bukan apa apa mbak. Begini, coba ceritakan dulu sama saya soal masalah mbak ini”

Meluncur deras kalimat kalimat mengiba dari mulut perempuan yang airmatanya kini sudah semata kaki setiap petugas polisi di kantor itu. Kepala polisi hingga harus berkali kali menegur agar sedu sedan perempuan itu tidak menutupi tutur aduan yang sedang disampaikannya.

Saat matahari kian meninggi dan airmata sudah sedengkul, tangis perempuan itu reda seiring dengan selesainya ia mengadu. Kepala polisi menghela nafas panjang untuk kemudian meminta waktu untuk berpejam dan mencarikan solusi untuknya.

 “Benar dugaanku, suaminya seorang petinggi”

Masih bersimpuh, perempuan itu bersuara

“Jadi bagaimana, Pak?”

Di sela hela nafas yang kelewat panjang, kepala polisi berkata

“Begini, mbak bisa masuk ke dalam ruangan penyidik yang ada di gedung utara, lalu nanti petugas yang ada di sana akan mencatat setiap aduan mbak secara rinci. Setelahnya, akan dilakukan pengusutan, jika terbukti bersalah, suami mbak akan dijadikan tersangka

Perempuan itu beringsut mengenakan sendalnya, sementara airmatanya menguap terpapar matahari, mengkristal layaknya garam.

“Nanti setelah istirahat makan siang”


Kepala polisi lantas terpejam, lalu menggelinding pergi.