Bulan Pertama Meal Prep dan Apa Yang Terjadi di Antaranya

Genap sebulan mencoba pola makan meal prep. Beberapa perubahan terjadi salah satunya soal tidak lagi telat makan gara gara males pesan atau beli makanan. Tapi yang paling signifikan adalah soal berapa banyak uang yang bisa dihemat selama sebulan meal prep.

Saya kebetulan track down kegiatan ini di Instagram, gambaran berapa yang dihabiskan untuk meal prep seperti ini:

Minggu 1

Rolled oats + susu kedelai 5 porsi
Sup sapi jamur kancing with steamed veggies 5 porsi
Baked chicken breast with oglio olio fettuccine 5 porsi
Total belanja 187 ribu

Minggu 2

Chicken burrito with roasted sweet potato & sautéed garlic broccoli 5 porsi
Semur daging dan fettuccine oglio olio 5 porsi
Telor dadar saos pedas dan nasi merah 5 porsi
Total belanja 71 ribu

Minggu 3

Roasted (tulang2) Salmon plus nasi 4 porsi
Empal gepuk plus kentang 4 porsi
Capsim bawang putih 4 porsi
Total belanja 85 ribu

Minggu 4

Pulled beef burrito + tamagoyaki + sayur 4 porsi
Ayam kalasan + nasi putih 4 porsi
Cajun shrimp 2 ways + baked sweet potatoes 4 porsi
Total belanja 104 ribu

Berarti total sebulan 447 ribu dengan total porsi 54 porsi. Kalau dipukul rata berarti satu kali makan biayanya Rp. 8.200! Kemarin dalam posting sebelumnya saya gambarkan kalau satu kali makan biayanya minimal 15 ribu, porsi nasi campur dengan lauk seadanya belum lagi kalau pesannya pake gojek. Saya sulit mencari pembanding untuk harga 8 ribu bisa makan apa di luar sana kecuali Indomie di warung burjo.

Sementara dengan meal prep, delapan ribu saya bisa makan Salmon, daging sapi, ayam kampung sampai telur omega. Sayurannya juga ”mewah” mulai dari brokoli, wortel Thailand, ubi Cilembu (di Sampit ubi Cilembu mahal neyk), paprika sampai kentang impor. Kenapa bisa semurah itu? Pertama saya beli bahan makanan sekaligus untuk seminggu ke depan dan betul betul diperkirakan perlunya seberapa. Paprika misalnya, sekilonya 89 ribu tapi saya cuma perlu untuk filling burrito 4 porsi jadi belinya cuma 1 buah (10 ribu), brokoli juga begitu. Untuk protein saya biasanya beli daging 1 kilo (120 ribu) lalu direbus dan dibagi untuk 10 porsi (satu porsi 100 gram), bisa untuk 2 minggu meal prep, kemarin malah beli sekilo di awal bulan baru habis sekarang. Protein kalau disimpan di freezer bisa tahan berbulan bulan.

Saya sering ditanya “Memangnya enak ya makanan yang udah berhari hari di kulkas?” saya juga sebelum mulai mikirnya begitu kok. Ternyata engga, mungkin karena disimpannya per porsi jadi ga dibuka – tutup dan antara masakan kering dan basah dipisah. Yang kurang awet sejauh pengalaman saya adalah rolled oat. Saya bikin sekaligus untuk 5 hari dengan mencampur rolled oat dan susu kedelai, hari keempat rasanya mulai asam. Tapi anggap aja yoghurt tep aja saya abisin wkwk, jadinya sekarang kalau mau sarapan oat bikinnya malam sebelumnya atau nyetok hanya 2 porsi. Sisanya aman, sayur sampai sup setelah dipanaskan rasanya sama seperti baru dimasak.

Pertanyaan lainnya apakah tidak bosan. Meskipun saya membuat 3 porsi dalam sehari, namun jika dimakan setiap hari rasanya bosan juga. Ini saya akui, minggu pertama saya sempat jenuh di hari keempat, ditambah saya yang ngotot masak makanan sehat. Perut yang sebelumnya diisi makanan enak (high carbo, high sugar, high salt) dipaksa adjust untuk makanan yang tidak hanya monoton tapi juga hambar. Mana skill masak masih terbatas banget :)) di minggu kedua saya perbaiki, mulai makan daging dan ayam yang dimasak dengan enak (pake bumbu instant Munir/Pazaar dari Malaysia yang sebungkusnya aja 25 ribu meh. Untung bisa dibagi tiga) terus dengan tidak terpatok dengan menu yang sudah disiapkan. Biasanya makan siang dan makan malam saya tukar bergantian. Dan untuk makan malam kalau lagi rajin saya modif lagi (misal sup daging saya ambil dagingnya, dibalur tepung jadi katsudon) minggu ketiga saya cuma masak untuk 4 hari dengan tujuan 3 harinya bisa makan siang/makan malam di luar. Yang ada malah ga makan gara gara males dan udah terlanjur mikir sayang duitnya hahaha. Minggu keempat saya masukkan satu menu yang familiar (lalapan ayam goreng Kalasan plus nasi putih) soalnya kangen makan nasi putih :)))

Gila ya, kebayang ga riwehnya ibumu memasak setiap hari dan memikirkan menu yang berbeda beda biar kamu ga bosen. Tapi kamunya malah bilang bosan, ga enak dan makan di luar.

Pertanyaan lainnya yang juga menarik adalah “Memang beneran bisa sehemat itu ya, Nan?” saya berhemat dengan meal prep ini tujuannya sederhana sekali : pengen bisa jalan jalan tanpa mengorbankan dana untuk 2 rumah yang masih harus saya kredit selama 9 tahun ke depan. Tidak hanya untuk membayar cicilan tapi juga bikin pagar bangun halaman belakang ini dan itu yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Lagian ngapain ya kredit rumah sampai dua biji :))) sebagai impact dari bulan pertama full meal prep, tidak ngopi di cafe dan hanya jajan satu tiket bioskop di akhir pekan saya bisa nonton Fleet Foxes di Malaysia tanggal 16 Januari ini dengan sisa gaji tanpa mengusik bonus tahunan. Kok bisa? 

Ya kalo gajinya gede mah bisa bisa aja *ditimpuk massa*

Tapi cara melihatnya bukan dari apa yang bisa dibeli/dilakukan dengan sisa uang setelah meal prep soalnya kalau duit lu meteran mah sebulan abis 4 juta buat makan ya sisanya tetap aja banyak. Saya melihatnya dari seberapa persen turun dari biaya makan normal (full makan di luar) berbanding meal prep. Seperti yang saya rincikan di posting sebelumnya, saya menghabiskan minimal 2,5 juta sebulan untuk makan. Minimal. Di hari hari yang indah seperti sehabis kenaikan gaji atau bonus tahunan pernah nembus 4 juta. Dari mana saya tau? saya cukup neat menulis flow keuangan (tapi tidak cukup rajin untuk memikirkan mana yang bisa dihemat dan tidak wkwk). Dari 2,5 juta menjadi 447 ribu adalah pencapaian tersendiri. Kalau kamu fikir 2,5 juta sebulan untuk makan terdengar berlebihan, itu hanya 83 ribu sehari. Dibagi 3 berarti 27 ribu. Itu hanya untuk makan lho, belum ngemil, ngopi dan jajan lainnya. Kalau dengan meal prep bisa menghemat 2-3 juta sebulan, there’s no other reason for me to not to bosque~

Dengan asumsi bisa menyisihkan minimal 2 juta saja sebulan, dalam setahun sudah bisa menyimpan 24 juta hanya dari mengubah pola makan. Tujuannya memang muluk, pengen hemat sekaligus kurus sekaligus sehat sekaligus ke New York hahaha. Sebulan terakhir dengan meal prep memang turun sekilo hanya dengan melakukan portioning dan mengira ngira kalori intake per meal tanpa olahraga yang berarti. Modal awal untuk yang pengen memulai meal prep mungkin selain niat adalah kotak bekal yang durable untuk microwave dan bumbu kering (bawang putih, bawang bombai, cajun spice, italian herb, black pepper, paprika bubuk, bubuk kari dst sebab walaupun ga bisa masak, kalau semuanya dicampur makanan jadi terasa ‘profesional’ hahaha)

2017 telah habis, Desember kemarin memang saya jadikan bulan percobaan sebelum ‘serius’ meal prep di Januari. Karena percobaan, saya masih makan suka suka kalau keluar di akhir pekan. Rencananya 2018 selain meal prep, saya juga mau mulai menjalani frugal living. Selain hemat juga enviroment friendly soalnya. Banyak sekali yang ingin dilakukan, semoga konsisten dan menjadi kebiasaan 🙂

 

Sampit, 02 Januari 2018

Advertisements

Kenapa Ikutan Meal Prep?

Saya sadar betul bahwa Nani dan konsistensi adalah dua hal yang sulit akur. Saya jarang sekali betah melakukan satu hal secara rutin dan menahun. Runutan contohnya ada di entry blog sebelumnya dan jujur saja menuliskan hal itu membuat saya nelangsa. Seperti menguwek uwek jeroan sendiri dengan tangan kosong. Tapi tidak seperti konsistensi yang tidak berkawan baik dengan saya, kemampuan menemukan silver lining secara prematur adalah keahlian yang sayangnya tidak bisa saya cantumkan dalam resume pekerjaan manapun.

Setelah bengong dan tidak karuan tidur (sebagian besar karena menjadi pelaku LDR dengan lima jam perbedaan waktu sih) selama nyaris seminggu saya mulai merasa bahwa saya butuh perubahan. Saya tidak bisa berbuat banyak pada nasib, tapi saya punya kekuatan untuk mengubah perkara non abstrak di sekitar saya. Akhirnya pada long weekend kemarin saya menata ulang kamar dan menghilangkan beberapa furniture di dalamnya.

Untuk diketahui kamar pada rumah yang saya tempati bersama seorang kawan 6 bulan terakhir ini hanya berukuran 3 kali 3 meter. Sebelumnya kamar kontrakan saya berukuran 4 kali 6 sehingga ketika semua perkakas kamar dipindah rasanya kok sempit sekali. Dengan kasur custom 200 kali 200, kamar di rumah baru ini literally isinya kasur semua :)) enam bulan dengan kondisi kamar tanpa ruang gerak itu memperkuat rasa malas sehingga banyak waktu yang saya habiskan di atas kasur dan mager.

Setelah mengungsikan 2 lemari buku dan mengganti kasur menjadi ranjang ukuran 90cm, saya kaget ternyata 210 kali 100 sentimeter lebih dari cukup untuk melakukan banyak hal. Setelah 3 hari berkutat dengan penataan ulang kamar, hari ini saya ingin memulai perubahan lainnya; meal prep (buset butuh 4 paragraf sebelum akhirnya kita memasuki tema ini ya)

Meal prep ini sering muncul di Tasty (sub-channel BuzzFeed) dan saya kelewat sering nonton video masak masakkan ini pada saat mager menjadi rutinitas dulu. Gaungnya menjadi lebih kencang setelah belakangan di Twitter sering wira wiri mba Twelvi dengan resep dan tips meal prepnya. Pas baca blognya, bagian yang paling menarik perhatian saya adalah dia bisa menabung hingga 150 juta selama kurang dari 2 tahun untuk jalan jalan.

Oke, saya mungkin membutuhkan waktu lebih banyak untuk menabung uang sebanyak itu. Tapi setelah melakukan hitung hitungan sesuai dengan guideline mbaknya, saya bisa menabung jumlah yang sama dalam waktu 2,5 tahun. Yang mana jika sudah saya lakukan empat tahun yang lalu saat pertama masuk kantor maka seharusnya saya sudah bisa membelikan rumah baru untuk abah (harga rumah baru tipe 100 di Sampit lho ya, bukan Meikarta), tapi gapapa, empat tahun terakhir saya bersenang senang, melihat dan belajar banyak hal. Nah, pada 2018 harusnya saya sudah cukup dan bisa memulai hal baru : menabung.

In a way or another, saya merasa relate dengan cerita mbak Twelvi soal hidup pas pasan – dapat kerjaan oke dengan gaji lumayan – foya foya untuk membayar/membuktikan sesuatu. Saya sendiri sadar betul sekali dua kali dalam sebulan saya akan belanja online barang barang bermerk dengan dorongan serupa. Atau membeli hal hal yang tidak bisa saya beli dulu untuk mengisi sesuatu yang hilang di masa lalu. Daftarnya berlanjut hingga ke soal makanan dan ini yang paling parah. Hubungan saya dan makanan tiga tahun belakangan lebih seperti objek-subjek balas dendam ketimbang penghilang rasa lapar. Ada urusan kompleks yang berakar pada mendadak punya uang lebih. Urusan kompleks yang membuat saya melesat dari 79 kilo menjadi 95 kilo dalam kurun tiga tahun.

Bodoh jika saya tidak belajar apa apa dari garis panjang kemiskinan di keluarga kami maka dengan sungguh sungguh dan semoga konsistensi betah berlama lama akur dengan saya, 2018 saya ingin mulai meal prep dan membeli rumah baru buat abah sebelum 2025.

Meal prep ini terdengarnya sederhana sekali ya. “Apaan sih tiap hari juga aku masak biasa aja kok”, hal ini sangat signifikan untuk orang yang sama sekali tidak masak dan menghabiskan minimal 100 ribu sehari untuk makan. Minimal. Untuk takaran kota kecil, tiap ditanya dan menjawab seperti itu orang akan berkata wow dan terkaget kaget. Wajar sebab dari perspektif mereka yang masih tinggal dengan orang tua, 100 ribu lebih setiap hari untuk makan doang berlebihan. Tapi let me do the math for you;

Sarapan – nasi campur/pecel/lontong/bubur ayam/soto HARUS ekstra lauk plus delivery 10.000 = 35 ribu

Ngopi – tiap hari pasti pesan atau mampir ke coffe shop dekat kantor = 33 ribu

Makan siang – biasanya jam 2-4 tergantung lapernya kapan, harga kurang lebih sarapan

Makan malam – kalau masih kenyang jarang makan malam, tapi kalau masih bangun sampai jam 12, biasanya keluar dan makan 20-40 ribu.

Itu kebutuhan makan basic, belum ngemil.

Maka ketika melihat hitung hitungan meal prep bisa mereduce sejuta seminggu jadi 200 ribu, ada kemungkinan 3,2 juta yang bisa ditabung setiap bulan. Belum ditambah dari berhenti belanja online, sementara tidak jalan jalan tanpa tujuan dan seterusnya. Optimislah.

Di sisi lain, meal prep ini bisa menjadi solusi beberapa masalah sekaligus;

  1. Masak bisa dirapel di hari Minggu, jadi tidak harus bangun pagi setiap hari untuk masak
  2. I need to cut lose some weight, jadi bisa sekalian mengatur menu low carb
  3. Alasan beli makanan adalah karena malas ribet, dan buka kulkas – ambil bekal – bawa pergi tidak lebih ribet dari bbman sama jasa kurir makanan
  4. I need to start saving my money

Saya sudah mencoba hal ini selama seminggu. Masih banyak PRnya, seperti memperlengkap bumbu bumbu dapur biar masakannya ga monoton, beli kotak bekal yang HDPE sekaligus microwave friendly sekaligus berukuran seragam (biar kalau disimpan di kulkas lebih rapi) dan seterusnya.

Selama seminggu ini yang paling menarik perhatian saya adalah jumlah uang yang dikeluarkan. Karena meal prep ini sekalian diet, jadi saya berusaha untuk hanya makan makanan yang sudah disiapkan. Otomatis tidak minum kopi fancy yang kalorinya entah berapa itu, tidak ngemil dst, saya asli seminggu ini cuma ngeluarin 187 ribu buat makan. Weekend kemarin saya menghabiskan 200 ribu untuk nonton + ngopi di malam minggu. Jumlah yang lebih besar dari anggaran meal prep seminggu!

24845502_115139459274438_6949405342904090624_n

Mungkin ada yang mikir “Aelah 200 ribu doang pelit amat kek orang susah aja” I do, saya tau betul rasanya susah dan ga kepengen kaya begitu terus terusan. Selain itu, saya ingin menunjukkan pada diri sendiri bahwa ada hal hal yang ga ketangkep sama indra saya dan berjalan dengan sendirinya. Padahal saya bisa melakukan kontrol terhadap hal tersebut. Cuma harus lebih peka aja. Memperbaikinya pelan pelan. Bertahap.

Masalah makan terbesar saya mungkin ada di sarapan. Saya ga suka sarapan, tendensi saya adalah melakukan rapel sarapan dan makan siang dalam porsi besar di jam 10 pagi. Hasilnya jam 3 ya laper lagi, geser ke 9-10 malam pengen makan. Dulu saya sempat rajin bikin oatmeal pagi pagi. Tapi bosen rasanya begitu begitu saja dan harus mengulang ritual nyeduh air – nunggu – aduk aduk – nunggu dingin – baru makan.

Dengan meal prep, tiap pagi tinggal buka toples terus ditambah apa aja yang lagi dicemil anak kantor wkwk. Sementara untuk makan siang dan makan malam saya coba tiga menu biar ga bosen. So far ini menyenangkan, karena tujuan utamanya adalah menghemat uang bukan diet, jadi masih bisa cemal cemil kalau gratisan.

IMG_1941
Oatmeal susu plus dried blueberries camilan anak admin :))

 

Sampit, 14 Desember 2017

Ketidaktertarikan yang Tidak Menarik

Jika fase hidup harus dicacah dan diberi label seiring perjalanan usia, saya rasa marka yang paling tepat untuk usia 25 ini adalah apathy. Saya merasa kehidupan saya adalah stagnan meski di luar terlihat saya tengah melesat ke banyak penjuru mata angin. Saya sadari ini saat hari terakhir di Jepang. Saya menggumam sendiri setelah keluar dari toilet bandara Osaka

“Bangsat, udah ke Jepang kok rasanya biasa aja”

Pergi ke Jepang bukan soalan sepele untuk saya. Ada belasan tahun yang dihabiskan untuk membaca komik dan sedikit sedikit tahu budaya Jepang. Ada masa di mana saya kesal karena Abah tidak ma(mp)u mengkursuskan saya Bahasa Jepang. Tokyo Tower, Asakusa, Gunung Fuji dan seterusnya pernah saya tuliskan tebal tebal di halaman belakang buku pelajaran Matematika tepat di bawah Bucket List seumur hidup Nani. Waktu itu saya hanya bisa nonton Naruto sambil bergumam kapan bisa pergi ke Jepang. Ke mana antusiasme terhadap keinginan di halaman belakang buku pelajaran Matematika itu pergi, saya tidak mengerti.

Di persinggahan ini, saya tidak merasa tertarik dengan apapun. Perubahan ini terasa sebab saya dulu adalah seseorang yang mudah tertarik dengan hal baru dan tenggelam di dalamnya. Saya ingat saya pernah memiliki sekurangnya empat binder yang saya sampul hitam dengan lambang pentagram dan stiker band band metal di mana mana. Saya pernah telat setiap pagi karena malamnya khusyuk di forum metal sambil mencatat hal hal yang tidak saya tahu ke dalam binder tersebut. Ada juga masa di mana saya sangat tertarik dengan islam, musik jazz, anime, indie movement dan seterusnya. Antusiasme saya terus ada, waktu ke waktu sebab kala itu saya merasa bahwa stagnansi adalah mati.

Sekarang sudah menjejak tahun ketiga saya merasa tidak tertarik pada apapun. Sungguh saya mencoba untuk menemukan hal baru. Pada buku buku misalnya, dorongan untuk serius menjadi pembaca buku muncul pada awal 2016. Saya mulai mengoleksi buku buku yang dulu tidak bisa saya beli. Selesai bernostalgia saya melahap buku buku baru hingga tidak terasa dalam setahun 89 buku selesai saya baca. Tahun selanjutnya, antusiasme pada buku buku seolah lenyap. Sekarang untuk menamatkan dua buku dalam satu bulan saja saya rasanya malas. Hasilnya, dalam nyaris dua tahun terakhir saya membeli lebih dari 300 buku dan nyaris setengahnya belum terbaca.

Saya mencoba untuk menyukai travelling karena pertengahan tahun ini ngeuh bahwa saya banyak jalan jalan dalam setahun belakangan. Saya mencoba menyusun kota dan negara yang ingin dikunjungi beserta alasan. Namun setelah menuntaskan Jepang, daftar kota dan alasan ingin mengunjunginya yang saya susun terasa hambar. Saya menyadari bahwa travelling seperti upaya skip dari realita. Bahwa saya tidak harus begini begitu untuk sementara. Setelahnya ya sama saja, kembali dalam dunia tanpa selera. Apatisme ini berujung dengan ajakan ke Korea di akhir tahun yang saya tampik meskipun separuh biaya ditanggung program infaq dan sodaqohnya seorang kawan. Sungguh, ketidakantusiasan ini seperti kutukan.

Dalam daftar upaya menemukan antusiasme ini ada bersepeda (karena males), belajar Bahasa Perancis (karena ngapain juga), sampai blind dating tiap ke luar kota yang berakhir dengan kebosanan. Hingga perkara tidak sehat seperti bikin my personal mukbang show di mana saya beli banyak makanan dan mencoba memakannya sekaligus (kayaknya naik 5 kilo gara gara ini), dan mencoba rajin mabu mabuan untuk meningkatkan resistensi terhadap alkohol yang hasilnya kalau setahun lalu dua teguk wine saja saya tumbang, sekarang even half a bottle of Jack Daniel didn’t tackle me down. Puncaknya adalah ketika saya membeli perlengkapan baking mulai dari oven, mixer, mangkuk dan gelas ukur, loyang dan semuanya lalu ketika sampai di rumah saya tidak berselera bahkan untuk membuka mereka dari kardusnya hingga hari ini. Padahal sehari sebelumnya begitu tekun saya telusuri video video Tasty di Youtube.

Rasanya seperti sudah mencoba terlalu banyak dan akhirnya menyerah.

Sekarang saya tidak tahu ingin melakukan apa. Saya bosan setengah mati tapi terlalu malas untuk bergerak. Penghiburan penghiburan kecil dan meaningless adalah makan pagi – siang – malam dan internet. Juga berseason season serial televisi Netflix.

Selain Bambang, saya tidak begitu mengerti di mana letak keriaan di dunia ini.

IMG_1413
His sleeping face soothe all aches 

 

Sampit, 24 Nopember 2017

Selamat Jalan, Mama

Saya memerlukan waktu 3 tahun lima bulan hingga akhirnya memiliki kelapangan hati untuk menuliskan soal kepergian mama. Sebelumnya kakak adalah satu satunya sosok yang saya bagi soal betapa terganggunya saya dengan kenyataan bahwa mama meninggal sebelum saya menjadi saya yang sekarang ini. Perasaan terganggu itu kemudian berkembang menjadi penyesalan dan rasa bersalah yang teramat sangat hingga sering kali saya menemukan diri saya menangis sejadinya tanpa sebab. Atau terjaga bermalam malam memikirkan apa yang bisa saja terjadi jika kami tidak semelarat itu saat mama sakit.

Saya lahir di keluarga miskin. Abah adalah penjual minyak tanah keliling dengan penghasilan yang cukup untuk membeli indomie tiga bungkus dimakan berlima setiap hari. Saya terbiasa menumpang kawan untuk berangkat sekolah hingga SMA, tidak mampu membeli parabola hingga hanya mengonsumsi TVRI dan Metro TV berbelas tahun lamanya melalui satu satunya televisi tabung 14 inci tanpa remote di ruang tamu merangkap ruang tengah merangkap ruang makan merangkap kamar adik.

Paska kerusuhan etnis 2001, usaha minyak tanah abah tamat riwayatnya. Rumah yang tidak seberapa luas itu dijual dan kami pindah ke sebuah rumah kontrakan berkamar satu. Tiga ramadhan kami habiskan di rumah sempit dari papan yang bersebelahan dengan kandang ayam itu (yang membuat teman sekelas enggan berkawan selama satu semester di kelas satu SMP lantaran rambut saya senantiasa berkutu). Tiga ramadhan yang sahur-berbukanya makan indomie dan sarden melulu. Tiga Idul Fitri di mana saya tidak dikunjungi kawan manapun sebab saya selalu berbohong kami pulang kampung.

Saya tidak menghabiskan masa kecil dengan menonton kartun. Yang saya ingat hanyalah kenangan bermain egrang, barbie kertas dan patok lele di rumah tetangga. Juga ingatan atas seorang paman yang tengah menonton video porno di ruang tengah dan menawari saya untuk memegang kemaluannya. Tawaran yang kemuadian datang secara terus menerus hingga saya kelas 1 SMA. Yang membuat saya ketakutan setengah mati jika ditinggal sendirian di rumah, yang membuat saya mandi dengan pakaian lengkap setiap hari, yang membuat saya jijik setengah mati jika melihat figur wanita dan laki laki telanjang di televisi.

Sumber penghiburan saya adalah Perpustakaan Daerah. Selain untuk menghindari orang yang saat itu paling saya benci sedunia, Perpusda memiliki koleksi buku buku fiksi yang bisa dibaca dan dipinjam secara gratis. Penghiburan lain selain buku buku, adalah masakan mama.

Meski frekuwensi makan Indomie dan sarden nyaris setiap hari, namun Indomie dan sarden yang mama masak adalah yang paling enak sedunia. Atau ketika abah memiliki uang berlebih, abah akan pergi ke rumah tukang sate dan membeli tulang tulang ayam yang telah dikerat dagingnya untuk sate, kadang kadang ditambah kulit dan usus. Tulang tulang dengan daging tak seberapa itu lalu dimasak dengan saos plastikan, dapat dipastikan kami semua makan lahap hari itu.

Di tengah kemiskinan yang meraung raung sepanjang masa kecil saya itu, mama adalah yang paling sabar mendengarkan keluhan saya setiap pulang sekolah. Waktu itu saya menganggap mama sangatlah kejam karena tidak membiarkan saya melanjutkan sekolah ke SMP PGRI yang jam belajarnya santai sekali itu. Saya dipaksa masuk ke SMP favorit kedua dan kemudian SMA favorit pertama dengan alasan yang bagi saya waktu itu terdengar sangat picisan : “Agar hidup saya tidak susah seperti hidup beliau”

Mama dengan sabarnya membujuk adik saya yang terlambat bicara (dan menurut guru gurunya autis) untuk terus bersekolah meski sudah tiga kali tinggal di kelas dua SD. Adik saya sekarang berumur 20 tahun dan masih di kelas 2 SMA, namun berkat kesabaran mama dulu, adik saya mungkin adalah anak berumur 20 tahun yang paling keren yang pernah saya kenal. Ia punya mental yang kuat (bagaimana tidak, dari umur 6 tahun lingkungan telah menolaknya sedemikian rupa hanya karena tidak bisa bicara) dan kebijaksanaan dalam bertindak yang tidak pernah saya miliki saat seusianya.

Mama yang menghabiskan seumur hidupnya menunggu dinikahi agar terbebas dari beban menafkahi 6 adik adiknya, yang tidak mengenal dunia luar kecuali rumah dan jalan jalan kampung tempatnya berjualan jajanan pasar. Yang tidak lancar berhitung maupun membaca karena hanya mampu bersekolah hingga kelas 5 SD. Yang tidak mengenal Dawkins, Tan Malaka, Pramoedya ataupun Marx namun tetap menjadi orang paling cerdas sekaligus bijaksana yang pernah saya kenal. Yang di sisa hidupnya harus menanggung sakit karena telah bekerja sedemikian beratnya dalam tubuh kanak kanak.

Kemiskinan itu berkurang rongrongannya ketika kakak sudah mulai bekerja. Akhirnya kami memiliki belasan saluran televisi meskipun perangkatnya tidak berganti. Mama gemar sekali menonton Natgeo channel saat larut malam, terutama tayangan yang berkaitan dengan luar angkasa. Tiga tahun setelahnya, saya menyusul bekerja. Akhirnya bisa mencicil perangkat komputer dan sofa meski hanya sebatas DP karena cicilannya dilanjutkan oleh mama.

Saya kira semuanya telah membaik saat itu. Adik akhirnya lulus SD dan bisa membaca, kakak naik jabatan dari pramuniaga menjadi kasir swalayan, saya menjejak bulan keenam sebagai wartawan dengan kerja sambilan penyiar radio dan EO. Yang saya lupa adalah, saya seharusnya sadar bahwa mama tengah sakit dan butuh pertolongan.

***

Saya memiliki beberapa penyesalan dalam hidup. Seperti kenapa dulu saya tidak pernah berani mengadukan perbuatan paman saya kepada orang dewasa, kenapa saya tidak mencoba lebih keras untuk kuliah sastra, kenapa saya tidak menekuni pekerjaan film lebih giat lagi dan seterusnya. Namun dari semua penyesalan itu ada satu yang membangunkan saya di tengah malam dan membuat saya kehilangan fokus untuk kemudian menangis sejadinya di toilet hingga sekarang.

Penyesalan karena saya tidak bisa membayar 2,5 juta untuk sewa ambulans dan merujuk mama ke rumah sakit Provinsi. Bagi saya dan keluarga di tahun 2014 nominal itu sungguhlah besar, nyaris 2 bulan gaji saya sebagai Creative Program di salah satu TV lokal saat itu. Namun bagi saya harusnya sangatlah mudah untuk mencari pinjaman mengingat luasnya pergaulan saya sebagai jurnalis dan penyiar radio. Saat itu saya tau betul saya bisa mendapatkan uang itu tapi dengan bangsatnya saya hanya diam dalam rapat keluarga soal : merujuk mama ke RS Provinsi atau menandatangani surat pulang atas permintaan sendiri yang isinya memilukan itu.

Malam itu penyakit ginjal mama tengah parah parahnya, ia meraung kesakitan di bangsal kelas 3 RS Murjani Sampit hingga menjelang subuh. Keputusan kami bulat, mama akan dibawa pulang (yang kami ketahui bersama bahwa tanpa dialisis mama akan meninggal dalam hitungan minggu). Saat kakak merapikan barang barang mama, beliau berkata di sela rintih dan tangisnya bahwa beliau tidak pulang dan masih ingin hidup untuk menyaksikan cucu pertamanya tumbuh besar. Mama pingsan subuh itu, saat matahari terbit abah datang berboncengan dengan adik yang menyeret gerobak minyak tanah beliau di sepeda motornya. Gerobak dilapis kasus Palembang dan mama dibawa pulang hari itu.

Mama meninggal seminggu kemudian.

***

Saya membaca dan mendengar cerita orang orang mengenai coping mechanism. Namun yang saya lakoni pada saat penyakit mama memburuk kalaulah disebut coping mechanism maka yang saya pilih adalah metode paling buruk sedunia. Saya begitu dingin menghadapi sakitnya mama, saya terus bergumam soal mama tidak mungkin meninggal di usia semuda itu, mama telah mengalami hal serupa tahun lalu dan baik baik saja, mama masih sehat kok dan seterusnya. Malam malam berjaga di rumah sakit saya lakoni setengah hati, hingga akhirnya mama tidak lagi mengingat saya dalam perbincangannya dengan kakak. Bahkan pada bada’ Dzuhur mama meninggal, saya menolak mendampingi beliau saat menghela nafas terakhir. Saya ada di ruang tengah, nonton TV sambil makan martabak. Saya baru menangis saat mama dikafankan sore harinya. Malam hari selepas pemakaman, saya pergi ke sebuah cafe bersama dua orang kawan yang bingung kenapa saya malah tertawa tawa dan bersikap seolah tidak terjadi apa apa.

Butuh waktu 3 tahun lima bulan untuk akhirnya saya bisa menceritakan detil ini kepada kakak. Yang kemudian menyebut saya tidak bertanggung jawab atas kematian mama. Bahwa saya tidak semestinya menyalahkan diri sendiri atas kejadian tersebut. Semakin saya katakanlah sukses semakin saya ingin mendamprat Nani tiga tahun silam, gadis 22 tahun itu sedemikian egois hingga lupa untuk sayang kepada ibunya sendiri.

Sekarang selepas bercerita dan akhirnya menulis ini, saya seperti terbangun dari ruang vakum dalam kepala yang memutar mutar saya pada penyesalan itu. Sekarang saya ingin lebih pandai menerima kematian mama sebagai bagian dari proses kehidupan, bahwa yang hidup bakal mati, kapanpun bagaimanapun. Saya ingin bersikap lebih lunak pada diri sendiri agar tidak mengutuk kemudahan yang saya punya sekarang sebagai pengingat betapa tidak berdayanya saya tiga tahun silam.

Saya ingin menjadi orang yang tidak memiliki keluhan apapun terhadap dirinya. Yang dengan lapang dada menerima segala kejadian dan tidak berputar putar menyesali perkara yang sudah terjadi. Saat ini saya akhirnya bisa meyakini bahwa mama tidaklah marah pada saya, bahwa beliau telah memaafkan saya jauh sebelum kematiannya. Untuk terus membahagiakan sisa anggota keluarga yang saya punya dan hidup melalui mimpi beliau untuk melihat dunia seluas luasnya, segegap gempitanya.

Awaited

Untitled.jpg
Don’t be that guy.

Wah, dua puluh lima.

Dulu sekali saat saya masih belasan dan mulai rajin menulis blog, yang paling sering saya jadikan entry adalah soal betapa inginnya saya pergi dan tinggal di New York. Tenang, hingga pada detik tulisan ini direkam maya, saya masih kalem kalem aja di Sampit dan belum ada pergerakan menuju negara dengan tingkat kriminalitas dan polusi tinggi itu.

Secara sederhana, kala itu saya kelewat ngebet untuk menjadi keren dan New York menempati hirarki tertinggi. Kepinginan yang luar biasa mengada ada untuk seorang perempuan 16 tahun baru lulus SMA dengan orang tuanya yang bukan siapa siapa. Perempuan yang jangankan ke luar negeri, ke luar kotapun ia tak pernah.

Perempuan 16 tahun yang kemudian menggenapi usia 17nya dengan tuntutan harus bekerja. Yang asing dengan komputer, internet lebih lebih gadget canggih. Harta berharganya hanya beberapa belas buku yang dibaca berulang ulang dan sepeda motor kreditan yang kemudian membawanya hingga berkilometer setiap harinya untuk mencari berita.

Sepanjang usia 17, saya harus membagi gaji yang tak seberapa dengan cicilan komputer dan sepeda motor. Menyisakan tidak lebih dari 200 ribu untuk jajan. Setiap ‘uang rokok’ yang diberikan narasumber segera saya bawa pulang untuk diberikan kepada ibu dengan perasaan bangga luar biasa, kami biasanya makan enak keesokan harinya. Di usia itu, saya banyak begadang untuk belajar mengoperasikan komputer dan mengetik dengan baik. Sambil terus membaca kamus di waktu luang.

Delapan tahun silam, saya tidak pernah tau akan seperti apa saya di usia 25. Yang saya tau, saya tidak akan menikah di usia ini :))) namun pada setiap langkah pulang seusai lembur, pada kesunyian jelang subuh saat begadang saya selalu yakin bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Nani kelak akan baik baik saja.

Saya tengah memandang sertifikat Executive of the Year di ruangan saya saat menulis kalimat ini. Siapa sangka bahwa perempuan yang hanya lulusan SMA ini tidak hanya mendapat tempat di kerumunan namun juga menonjol dengan caranya sendiri. Saya tidak ingin disebut beruntung sebab saya tau, ada kamus lusuh dan jemari yang pegal delapan tahun silam. Ada sumpah untuk tidak mau lagi jadi orang miskin setelah kematian ibu. Kemiskinan yang tidak hanya membuat beliau pergi demikian cepatnya tanpa perawatan berarti namun juga kemiskinan yang membuat ibu tidak mengecap kebahagiaan hingga hari kematiannya.

Kemiskinan yang memberi kami ratusan kali makan malam berupa sebungkus mie instan berkuah banyak untuk dimakan berdua. Yang membuat ibu harus berjalan kaki dan mengantri raskin di kelurahan setiap bulan. Yang membuat kami sekeluarga hanya bisa makan daging sekali dalam setahun saat Idul Adha. Yang membuat masa SMP-SMA saya terasa seperti neraka.

Kemiskinan yang, sekali lagi, mengambil ibu sedemikian cepatnya.

Namun sungguh, keahlian utama manusia adalah bertahan hidup dan menemukan silver lining di setiap duka. Jika bukan karena kematian ibu, tidak akan saya melanggar janji untuk senantiasa melawan kapitalisme, tidak akan saya bekerja untuk perkebunan sawit dan menjadi bagian dari permasalahan deforesasi di muka bumi. Betapa tidak, persimpangan karir sebulan setelah ibu meninggal adalah menjadi guide untuk OFI Pangkalanbun atau berhenti bermain main dan mencari uang.

Kemiskinan sekali lagi menang.

Dua tahun berselang sejak kematian ibu, dua tahun sudah saya berturut turut menjadi Best Executive of the Year dan dua kali pula naik jabatan. Melepaskan diri dari rumah dan segenap perkara kemiskinan yang berputar putar di keluarga mendiang ibu. Memastikan abah dan adik berkehidupan layak sambil terus berupaya untuk membuat kehidupan saya sendiri lebih baik.

Maka untuk persoalan sepelik ini, saya menolak disebut beruntung.

Apa masalah paling pelik perempuan yang menginjak usia 25 tahun? Seluruh orang Indonesia akan mengamini pernyataan ini: Menikah. Kapan nikah, sudah ada calon apa belum, kok masih betah aja jomblo, nanti susah hamil kalau nikahnya ketuaan, jangan pilih pilih kalau sudah jadi perawan tua bakal nyesal dan seterusnya dan seterusnya. Oh trust me, saya mendapat pertanyaan ini dari orang orang asing pada setiap kesempatan.

Saya menginjak usia 20an dengan memandang punggung kakak yang kala itu secara perlahan menjadi tulang punggung keluarga. Sejak usia 19, setamat SMA ia sudah menjadi pramuniaga toko dan menghabiskan enam tahun hidupnya di tempat itu hingga akhirnya berhenti saat menikah di usia 25. Pernikahan yang memberinya gelar janda sepuluh bulan kemudian. Sepuluh bulan yang serupa neraka, jika saya boleh mengutip ungkapan kakak menyusul nasihat untuk betul betul mempertimbangkan keinginan menikah. Menikah dengan orang yang salah adalah hal terakhir yang ingin saya lakukan dalam hidup.

Memiliki Kakak seperti itu, ditambah Abah yang tidak sekalipun riwil soal kapan saya menikah (sebab nampaknya di mata Abah saya adalah anak kecil selamanya) cukup untuk menutup ruang pertimbangan untuk menikah demi menyenangkan hati keluarga.

Apa yang akan saya lakukan di usia 25 dan seterusnya?

I don’t know.

I don’t know where I’d go.

But deep down I know that I’ll go far.

Semarang, 19 Januari 2017

A late birthday wish

Semoga saya dan seluruh makhluk bumi selalu bahagia 🙂

2017’s Wishlist

Ritual akhir tahun kesukaan saya selain merencanakan liburan adalah terbukanya ruang kewajaran untuk menepi dari kehidupan yang serba normal serba waras dengan banyak banyak menuliskan resolusi untuk tahun berikutnya. Ini adalah kegiatan klise yang paling saya suka. Menuliskan keinginan keinginan di tahun mendatang untuk kemudian berupaya (atau tidak) mewujudkannya satu per satu.

Setiap tahun saya menuliskan harapan harapan baru, dan setiap tahun saya selalu menemukan hal hal tersebut mewujud sehingga rasanya menyenangkan untuk senantiasa menuliskan semacam wishlist ini berulang ulang.

Salah satu keinginan saya di tahun 2016 ini adalah menamatkan sekurangnya 100 buku sebagai balas dendam atas tahun tahun di mana saya tidak mampu dan tidak sempat membeli ataupun membaca buku. Hasilnya hingga 08 Desember hari ini, saya telah membaca sekurangnya 80an buku. Meski tidak tercapai 100, namun jumlah ini jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya di mana saya hanya membaca tak sampai lima buku dalam setahun.

Resolusi garismiring wishlist garismiring motivasi 2017  saya adalah sebagai berikut:

  • Membaca 50 buku
  • Menyelesaikan renovasi rumah pribadi
  • Pergi ke luar negeri setidaknya satu kali
  • Nonton AriReda lagi
  • Makin jago renang dan yoga
  • Tinggal di Bali
  • Dan tentu saja, masih New York!

Saya cukup lama bergeming di depan laptop untuk mengulang ulang kepinginan apa yang begitu saya inginkan untuk diri saya di tahun mendatang. Saya ingat di tahun tahun silam ada puluhan bahkan mungkin ratusan perkara yang saya inginkan untuk kejadian. Kini untuk mencetuskan enam poin di atas saja rasanya lamaaa sekali. Kecuali New York, my ultimate life goal.

Mungkin karena saya semakin tua, 25 tahun di bulan Januari kelak. Mungkin lantaran perjalanan hidup telah mempertemukan saya dengan banyak sekali orang, tempat dan pemahaman baru. Mungkin karena rajin yoga dan meditasi (?) namun saya jarang sekali menemukan diri saya jatuh dengan hebatnya seperti tahun kemarin. Istilah there will be quiet after the storm nampaknya benar adanya.

Eniwei, satu yang mencolok dari 2017’s wishlist saya adalah Tinggal di Bali. Hal ini tercetus lantaran dalam beberapa bulan terakhir saya kembali teringat soal betapa sulit untuk berkehidupan dengan layak di Sampit. I was paid well at work, have a good career and so on and so on. Tapi hidup bukan melulu soal menjadi yang terbaik di tempat kerja. Saya memiliki sisa 16 jam dalam hidup yang tidak tersentuh kegiatan sosial yang berarti. Melulu soal tidur cukup, bangun tidur dan bekerja lalu tidur lagi sambil liburan sekali-dua kali dalam setahun.

Jenuh, men.

Bali adalah tempat paling ideal saat ini sebab saya telah merasakan tinggal di Jakarta dan kota kota besar lainnya di Pulau Jawa sama sekali tidak menarik minat saya. You can be anything you want in Bali and people would considerate it as normal. As long it doesn’t bring any harm to another creatures.

Saya nyaris menggenapi seperempat abad dan tidak sekalipun saya menemukan orang di Sampit yang ngeuh siapa itu Eka Kurniawan. Belumlah lagi jika saya menyebut AriReda, Haruki Murakami atau bahkan Umberto Eco. Bukan bermaksud menegasikan intelektualitas orang orang di kota saya, mungkin hanya sayanya yang belum bertemu tapi seperempat abad rasanya sudah lebih dari cukup untuk menunggu dan mencari.

Sementara di Bali, dalam satu kali nongkrong saya bisa mendapatkan empat jam lebih percakapan panjang lebar tentang absurditas tema buku buku Murakami, Gabriel Marquez dan Kafka-esque. Bagaimana tidak menjadi sebuah triumph jika dalam perjalanan pulang ke hotel saya tak henti tersenyum lantaran merasa berada di tempat yang tepat.

Betapa ini akan terdengar seperti sebuah kesombongan namun demikianlah adanya. Saya mungkin satu di antara (saya yakin) banyak orang yang lelah dengan keadaan tidak dimengerti, yang nilai nilainya dianggap sebagai sekedar sebuah fase yang akan segera menemukan jalan lurus kembali, yang terus menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar bangun pagi, bekerja untuk kemudian pulang dan tidur lalu besok bekerja dalam pekerjaan yang dilakoni setengah hati.

Saya pernah sampaikan keinginan ini kepada beberapa orang dan reaksinya berbeda beda. Beberapa menyebut saya kurang bersyukur dengan kehidupan yang saya miliki sekarang. Dengan mudahnya saya bisa melancong ke luar negeri dan makan-menginap di tempat mewah tanpa perlu kuatir akan kehabisan uang. Atau betapa gampangnya saya pergi dari cafe ke cafe menghabiskan ratusan ribu untuk sekadar duduk dan membaca buku, menulis untuk blog melalui MacBook mahal tanpa kuatir soal cicilan dan nota nota. Ia menyebut hidup saya telah menjadi standar rasa iri bagi kebanyakan orang seusia saya, ditambah dengan saya hanya lulusan SMA namun menjadi kesayangan bagi Direktur perusahaan asing di tempat saya bekerja.

Tidak sekalipun saya mengecilkan hal tersebut, sungguh jika keberuntungan adalah perkara kocokan dadu yang dimainkan Einstein bersama Tuhan di atas sana, maka saya adalah beruntung adanya. Namun hidup bukan sekadar melancong ke luar negeri atau nongkrong di cafe cafe mahal. Saya merindukan rekan untuk perjalanan yang tidak sebentar, saya menginginkan lingkaran yang menganggap apa yang ditulis oleh Gunawan Muhammad adalah sesuatu yang penting dan ucapan Seno Gumira Ajidarma dalam bedah bukunya layak dibahas dalam sekurangnya tiga perspektif berbeda.

Saya ingin berdebar debar menantikan AriReda, Pure Saturday, Efek Rumah Kaca tampil di atas panggung. Saya ingin berdebar debar menantikan sanggahan argumen tentang penyataan Richard Dawkins dalam buku The Selfish Gene-nya. Saya ingin mengetahui dan belajar lebih banyak hal lagi, mengalami lebih banyak peristiwa lagi untuk kemudian mati dengan perasaan “Saya sudah hidup dengan sebaik baiknya”

Ledakan keinginan untuk pergi dari kota ini ditunjang oleh sudah dua tahun terakhir saya tinggal terpisah dari keluarga. Memenuhi semua kebutuhan sendiri dan semakin jago mengolah emosi. Saya siap, dan itu yang terpenting dari segalanya. We only had one shot to live in this world, and I don’t want to stay in a wrong place whilst I can move.

2017, here we go.

 

 

 

11 Desember 2016

Masa muda jangan dihabiskan untuk hanya diam

Belum

Belum adalah nomina paling optimis sedunia.

Dan saya jatuh cinta pada belum sejak setahun lalu.

Memasuki bulan Nopember, saya mengambil ruang untuk menelaah kembali setiap jengkal kejadian setahun belakangan. Betapa saya telah berbenah untuk menjadi lebih baik, lebih hemat, lebih sabar, lebih sering yoga dan meditasi, lebih tidak berantakan lagi. My life before 2016 has been a mess, a gigantic clutter. Momentumnya adalah release, mengambil waktu lima hari di Sanur, Bali. Betapa beruntungnya saya bertemu Pito, kawan yang hingga detik ini masih ‘menemani’ saya setelah entah berapa banyak waktunya habis untuk pelan pelan mengupas saya, mengawal proses berbenah itu.

Kini tidak ada lagi emotional eating, tasteless life, pitiful lamentation atau temporal-later-to-be-regreted decision. Tapi bukan berarti setahun belakangan tidak ada ‘cobaan’, hingga akhir Agustus saya baru betul betul melepas semua di atas dan mengikhlaskan setiap hal. Saya hanya sedikit lebih baik karena mantra belum.

Setiap menemui pejal di perjalanan ini, saya bergegas merapal belum agar konsumsi Depakote dan Clobazam dapat dihindari.

“Meski harus kehilangan teman yang telah hadir selama tigabelas tahun di hidup saya, bukan berarti saya tidak akan menemukan teman yang baik. Saya hanya belum bertemu teman yang baik”

“Meski terus menerus gagal dicintai balik orang yang saya cinta, bukan berarti saya harus berhenti percaya terhadap cinta. Saya hanya belum bertemu orang yang tepat”

Nopember tahun ini, saya kembali dihadapkan pada kehilangan. Saya mungkin agak terburu buru mengklaim reward atas semua upaya perubahan setaun belakangan dalam momentum ini. Sebab seperti yang sudah sudah, hal ini terasa sedemikian benar hingga saya menolak melihat kesalahan yang saya ciptakan sendiri. Saya berhutang maaf lantaran telah menjadikan seorang asing yang mungkin peduli terhadap saya sebagai objek penghargaan dari semesta atas upaya perubahan yang belum seberapa ini.

Saya tau betul besaran perasaan saya kepadanya saat ini. Melebihi yang sudah sudah. Namun apa yang saya lakukan dalam momentum penolakan kali ini membuat saya begitu bahagia lantaran apa yang saya lakukan setahun belakangan ternyata ada hasilnya. Saya ingat bagaimana reaksi saya pada Nopember 2015, saat kata tidak meluncur dari seseorang yang saya suka. Saya memangkas habis rambut saya, menangis setiap malam hingga seminggu lamanya, dan menolak makan sedemikian rupa hingga turun 12 kilo (yang terakhir ini sebenarnya pengen banget bisa saya ulang lagi :))) patah hati yang sedemikian radikal, ugal ugalan dan self-harming karena saya tidak mencintai diri saya sendiri barang sedikitpun.

Kali ini, setetes airmatapun tidak jatuh meski saya telah berupaya sedemikian rupa untuk mengenang ngenang kata kata manis, janji janji yang baik darinya. Meski sekali lagi, saya tau betul besaran perasaan saya padanya sedemikian besar, dengan harapan yang tidak main main. Saya sejujurnya sudah menyiapkan diri soal terulangnya ledakan emosi seperti tahun tahun yang sudah sudah dan melakukan repetisi ke Bali – release – pulang dan implementasi teori lagi. Nyatanya tidak, saya mencelos saat keputusan itu dilontarkan, merasakan kembali seperti ada yang mencubit jantung saya dan segalanya tiba tiba terasa suram. Namun meski belasan lagu yang pernah ia nyanyikan saya putar ulang dalam playlist spotify yang saya buat diam diam itu, tidak satu airmatapun jatuh. Saya beranjak dari tempat tidur, mengenakan jaket dan bertemu kakak untuk kemudian bercerita tentang satu lagi lelaki yang membuat saya jatuh cinta.

Seseorang yang saya kira adalah hadiah dari upaya mati matian mencintai diri sendiri setahun belakangan. Jawaban dari harapan untuk bisa dimengerti dan dicintai sepenuh hati.

Saya hanya belum bertemu dengan sosok itu.

538718.png

Sampit, 26 Nopember 2016

Belum adalah nomina paling optimis sedunia

Karena tepat di belakangnya terdapat kata akan