A Trip to Remember

I rarely post my trip experiences. I’m not that good on describing what I feel and found the amazingness of the place I’ve been going. It’s September already and last night I had this thought before I hit the sack.

Men Nani udah jalan jalan ke banyak tempat sekali tahun ini.

Jadi ini dituliskan untuk mengingatkan diri sendiri di tahun tahun selanjutnya soal betapa saya semestinya tidak menggugat berlebih terhadap hidup yang tidak berjalan mulus. Entry kali ini akan dipenuhi selfie. I warn you.

Bali (29 Desember 2016 – 2 Januari 2016)

Ini kali pertama saya pergi ke Bali, menginap di Kuta untuk kemudian pindah ke Sanur dua hari setelahnya. Bertemu Pitooooo \o/ dan menghabiskan pagi – sore seliweran di pantai dan mencicipi kopi kopi enak, makanan makanan lezat dan perbincangan hangat aww.

Bali – Jakarta – Bali (23 – 31 Januari 2016)

Kali ini ke Bali (lagi) karena niatan nonton Ari Reda di Taman Ismail Marzuki pada 26 Januari. Mumpung weekend, melayanglah gadis ini ke haribaan Sanur untuk menyapa residen Ubud kesayangan dan Pito. Lalu menyaksikan Ari Reda yang memukau selama tiga jam pagelaran dan kembali ke Bali untuk nonton Navicula! Bulan yang menyenangkan indeed. Oh, saya juga menghadiri Malam Puisi Bali dan menjadi turis ga tau diri membacakan puisi Lang Leav dan Aan Mansyur. Bhihik.

 

Bali (08 – 12 April 2016)

Iya Nani ke Bali lagi hahaha. Kali ini untuk ngapain ya.. wait.. oke kali ini tanpa alasan selain kebetulan ada libur panjang (?) atau lainnya. Kembali menyambangi residen Ubud dan secara abusive menghajar Kuta dan Seminyak bermodalkan sepeda motor sewaan.

Bali (13 – 18 Mei)

Oke saya ke Bali lagi. Kalau tiap berangkat dan balik ke Sampit membawa satu kodi Pie Susu Dian, mungkin di tahun ini saya sudah sukses menjadi re-seller leholeh khas Bali itu. Di titik ini saya telah sukses dikenali oleh para waitress Smorgas – Jl. Danau Tamblingan dan ikrib bingit sama Pito dan kengkawannya di Helmen Coffee. Dan residen Ubud masih seenak empat kunjungan sebelumnya.

Kali ini saya membawa misi untuk menyaksikan pagelaran Ari Reda di Rumah Sanur – Jl. Danau Poso. Saat pagelaran berakhir dan saya kudu packing untuk mengejar penerbangan pagi keesokan harinya, di sela seruput terakhir soto yang enak banget itu saya memutuskan untuk tidak ke Bali dulu sementara waktu. Setidaknya sampai saya sembuh. Nani sakit kolesterol. Men.

Screen Shot 2016-09-11 at 12.30.19 PM.png

Singapura (30 Juni – 6 Juli 2016)

Berawal dari “Nan ke Vietnam yuk” dari Rida, saya menyelesaikan pembuatan pasport dalam kurun waktu SEHARI. Terimakasih kepada Manager HRD KLK Kalteng, I owe you one muach. Mengurus itinerary dan sekelumit perpesanan hotel melalui jasa pemesanan online, semua sudah fix lengkap dengan peta Ho Chi Minh City dan Rida telah membayar bagiannya. Lalu pada H MINUS SATU, Rida yang saat itu ada di Jakarta menelpon soal.

“Nan kayaknya Vietnam kejauhan, ke Singapore aja yuk”

Saya sayang Rida, namun kali ini sekurangnya tiga puluh menit saya habiskan untuk memprotes soal gila ya saya bikin pasport sehari jadi buat ke Singapore doang. Long story short, usai semua pembatalan dan re-route penerbangan, saya mendapatkan tiket ke Singapore 4 kali lipat harga normal lantaran pembelian dilakukan kurang dari 24 jam sebelum keberangkatan dan itu sedang libur lebaran. Of course.

Rida? oh dia beli tiket seharga 8 kali lipat harga normal pada dua jam sebelum keberangkatan. Di Bandara. Kek perkara pergi ke Singapure serupa kaya naik kereta api ke Sleman.

Kami memang bukan traveller paling cerdas sedunia.

Empat hari di Singapura itu seru! Pertama kalinya saya pergi ke luar negeri dan berhadapan dengan toilet kering ke manapun menuju. Secara agresif makan SubWay dan melakukan tourist cliche di beberapa spot turis di sana. FUN!

Surabaya (13 – 14 Agustus)

Trip kali ini didasari rasa penasaran terhadap ide iseng gimana kalau weekend ke luar kota tanpa kudu ambil cuti atau nunggu tanggal merah. Pada tanggal 12 tepatnya jam dua subuh saya membeli tiket penerbangan paling pagi ke Surabaya dan pulang paling sore di tanggal 14. Eh ternyata bisa loh, tiba di Surabaya jam 9 pagi lalu mengitari mall TP yang sekarang sudah ada enam biji lalu menunaikan urusan di ZAP Clinic, nonton, nongkrong, ke mall lagi keesokan harinya lalu pulang.

Cukup untuk kabur singkat dari Sampit, tapi untuk ditunaikan setiap minggu seperti ide semula, rasanya tidak setimpal dengan pegel badan aja.

Jakarta (20 – 22 Agustus)

Ke Jakarta sebenarnya tidak bisa dianggap sebagai liburan. Namun kali ini perginya bersama tiga orang kawan lainnya and we had a great time for 2 days in Jakarta! Ditambah lagi seluruh keperluan saya disponsori! Hahaha. Terbang melalui penerbangan paling sore ke Semarang lalu tiba di Jakarta menjelang tengah malam untuk kemudian berhura hura dan mall-hopping keesokan harinya. FUN ❤

Jakarta – Surabaya – Medan – Pekanbaru – Belitung (25 Agustus – 6 September 2016)

Permohonan cuti pada 25-26 Agustus sudah saya ajukan sebulan sebelumnya. Alasannya, saya ingin menghadiri pagelaran Teater Bunga Penutup Abad di Gedung Kesenian Jakarta. Teater yang tiketnya telah saya beli jauh sebelum permohonan cuti disetujui karena tiket telah nyaris habis sebulan lebih sebelum pertunjukan. Saya kebagian tiket VIP that cost me some fortune tapi tidak saya sesali karena tempat duduk saya strategis sekali.

Seminggu sebelum berangkat, dua berita saya terima. Satu; cuti saya tidak diluluskan dan dua; pada tanggal itu saya harus berangkat dinas untuk photoshoot seluruh anak grup KLK di Indonesia. WTF.

Nyaris semalam penuh saya menimbang betapa saya akan menyesal jika tidak menyaksikan teater yang diangkat dari novel Bumi Manusia-nya Pram ini. Ditambah dengan fakta bahwa tiketnya susah didapat. Betapa dekat saya dengan tunainya keinginan tersebut dan betapa mendesak ia untuk dipenuhi. Akhirnya, dengan keberanian entah dari mana, saya yang hanya remah korporat ini menghubungi Presiden Direktur perusahaan kami di Jakarta dan meminta agar jadual dinas saya dimundur serta saya diizinkan cuti untuk nonton teater.

Pertanyaan beliau : “What? How? What the.. Nani, that presentation have to be done in 24, and our time is tight. And your bloody theatre, what is that all about?”

Men, kalau levelnya Regional Direktur saya masih bisa cengengesan dan ngarang ini-itu. Di hadapan Presdir begini saya hanya merasa kurang tepat untuk berbohong. Akhirnya saya jelaskan semua secara panjang lebar dan betapa saya ingin nonton pagelaran tersebut lantaran jangkauan temanya adalah sesuatu yang sejak remaja saya sukai. Beliau akhirnya setuju, dengan saya yang penuh keyakinan menyatakan akan menyelesaikan draft awal sebelum tanggal 7 sehingga dia punya sekurangnya 4 kali kesempatan untuk review dan revisi. (update, ini tanggal 11 dan kami telah melakukan dua kali review, beliau bilang semuanya oke dan tinggal menunggu beberapa data tambahan dari akuntan lalu beres. YAY)

Begitulah, drama di balik Teater Bunga Penutup Abad. Men itu empat jam paling bahagia dalam hidup saya. Nyaris tanpa kedip saya menyaksikan perwujudan novel Pak Pram, ke dalam teater. Penampilan Happy Salma yang tanpa cela, Reza Rahardian yang utuh hadir sebagai Minke. Duh.

Lepas dari Jakarta, pada 26 Agustus saya berangkat ke Surabaya selama dua hari untuk beberapa urusan. Lantas memulai dinas sambil nyolong liburan dan kopdar di hari Senin. Di Medan saya bertemu kawan lawas dari twitter, makan duren di tempat paling klise untuk turis lalu melakukan photoshoot di tiga kabupaten berbeda. Lalu melanjutkan ke Pekanbaru, photoshoot di dua kabupaten dengan arah berlawanan sehingga sungguh menguras energi lalu ke Jakarta untuk preview awal. Lalu melanjutkan ke Tanjung Pandan untuk sehari penuh memanfaatkan fasilitas kantor untuk pergi ke pantai pantai di sepanjang Tanjung Pandan – Kelapa Kampit dan diving di pulau Lengkuas kyaaaaaa.

Pulang pada tanggal 6 dan preview kedua keesokan harinya. Saya sendiri bertanya tanya kenapa saya masih sehat secara fisik dan mental setelah deadline beruntun sejak awal Agustus kemarin hahaha. Ini adalah rute terpanjang saya dalam bepergian. Dan trip kali ini cukup untuk membuat saya kalem tidak ingin pergi ke mana mana sekurangnya hingga tahun depan. Airport juggling, tons of hotel check in, aju merasa cukup dengan semuwa ituw.

2016 adalah tahun yang menyenangkan. Saya banyak membaca, banyak bepergian, banyak menemui keseruan di tahun ini. September akan habis dalam kedipan mata, saya yakin itu. Setelah pergi ke banyak tempat dan bertemu banyak orang, saya mulai memikirkan soal  iya, memangnya kenapa sih saya kudu keukeh banget tetap di Sampit? menyusul tawaran Presdir untuk menempati posisi PR dan memimpin communication department di kantor pusat dengan gaji yang tentu berkali lipat. Tawaran yang sudah dua kali saya tolak dengan alasan saya tidak ingin meninggalkan bos saya di regional karena saya ingin berterima kasih dengan tetap di sini sampai beliau pensiun.

Oh, saya sangat menyayangi bos saya yang satu ini. Saya muncul di hadapan beliau untuk melamar pekerjaan tanpa modal apapun kecuali keberanian. Perusahaan ini membutuhkan sarjana bahasa inggris/komunikasi yang menguasai desain dan pengalaman bekerja di perkebunan minimal dua tahun. Saya muncul dengan kondisi resume awur awuran, tanpa rekomendasi lantaran saya cabut tanpa short notice dari kantor sebelumnya. Saya diterima bekerja tanpa alasan kuat kecuali beliau percaya pada saya. Dan itu bikin terharu, sungguh.

Setiap mengingat bagaimana beliau membela saya saat yang lain mempertanyakan kredibilitas saya, pada setiap gugat manager mengapa saya naik jabatan sedemikian cepatnya, beliau yang mempertaruhkan kredibilitasnya saat Presdir meminta saya memegang proyek senior manager and share holder annual presentation. Proyek yang di tahun tahun sebelumnya dipegang oleh expatriate senior manger yang telah bekerja 15 tahun lebih sebagai tangan kanan Presdir. Yang kemudian diserahkan kepada saya (dengan waswas yang tinggi, mungkin), anak kampung yang norak melihat MRT, berbahasa Inggris seadanya dan bahkan tidak sekalipun mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dari SMA. Tanpa sertifikat desain, PR, public communication, apapun.

Saya tidak memiliki banyak pilihan kecuali bersyukur dan melesat lebih jauh dari ini. I already detached every string here in Sampit. I cut my friends, my family, love of my life. I already found myself all alone every time I got back home anyway. It’s been two years and I think I’m ready, I’m prepared physically and most important mentally to loose the string and leave. Tapi ya kenapa ya rasanya susya sekali hahaha.

Sampit, 11 September 2016

Saya semestinya bahagia sekali sekarang, setelah semua pujian dan pengakuan itu.

Tapi ya kok ya tep aja rasanya kek ada yang salah.

Advertisements

The Lonely Mr. Wind-Up Bird

Home again, I sat on the kitchen table as usual, drinking a beer and listening to music on the radio. It then occurred to me that I wanted to talk to someone – about the weather, about political stupidity; it didn’t matter what. I just wanted to talk to somebody, but I couldn’t think of anyone, no one person I could talk to.

I didn’t even have a cat.

Haruki Murakami, The Wind-Up Bird Chronicle page 371

Sampit, 18 Juli 2016

Wild Child – Reno

 

Lobus Temporal

Otak manusia dibagi menjadi 4 lobus; frontal, parietalis, oksipital dan temporal. 2013 adalah tahun di mana saya somehow terobsesi mempelajari kinerja otak melalui kanal wikipedia dan artikel artikel kedokteran di webmd. Oh saya ingat, saya lakukan itu untuk riset sebelum menulis cerpen Logika, walopun hasilnya alakadarnya tapi begitulah, ada beberapa yang masih saya ingat dari maraton membaca artikel bebas di internet itu.

Melalui lobus temporal, apa yang ditangkap oleh reseptor reseptor indera perasa (sistem limbik) diolah menjadi ingatan sensorik. Di sini terdapat hipokampus yang mengolah bau, suara, rasa, rangsangan syaraf dan tentu saja, gambar menjadi ingatan. Kenangan, yang kerap disandarkan sebagai sumber segala kebahagiaan itu adalah produk hipokampus. Pernah lagi senyam senyum abis gajian terus tetiba dunia hancur lebur gara gara mencium parfum mantan? nah berterimakasihlah pada hipokampus.

071718_scivis_fly-brain_feat
What a beauty

Di lobus temporal pula, kenangan dapat diminimalisir. Prosesnya seperti menghapal RPUL, lagu kesayangan atau detil kecil soal kencan pertama, mata menerima apa yang dilihatnya dan memprosesnya sebagai ingatan jangka pendek. Stimulasi hipotalamuslah yang membuatnya menjadi ingatan jangka panjang bahkan patahan patahannya bisa melompat ke jalur subconscious atau memori bawah sadar. Ingatan jangka pendek yang diulang, diulang, diulang dan diulang hingga tiap kamu melihat wajahnya di mana saja, yang menghambur bukan sekedar identifikasi nama, tapi tarakdungcesdararamdararamsyalalala mampuslah kau dikoyak koyak kenangan.

Bagaimana proses pengolahan rasa hingga ia bisa menjadi pemicu emosi, penyebab seseoang galau atau bahkan menjadi pengambil keputusan keputusan besar dalam hidup. Beruntungnya, saya tidak banyak bersinggungan dengan perkara emosional sejak usia bekerja sehingga rasa rasanya beberapa keputusan besar dalam hidup saya ambil dengan logika yang insya Allah logis. Tidak ada momentum saya memutuskan untuk berhenti bekerja atau pindah ke luar kota lantaran disuruh pacar, misalnya. Atau karena marah dengan orang tertentu, atau karena secara batiniah tertekan. Untungnya saya diberi kekuatan untuk tidak baper secara serius.

Ah ya, itu istilahnya. Baper.

Menarik untuk memikirkan bahwa saat ini, tepat di momen ini, ada ribuan neuron dan syaraf yang bekerja di dalam kepala kita sedemikian hebohnya. Ada ribuan kilometer perjalanan darah dalam pembuluh dan ada ribuan potongan ingatan yang sedang diolah menjadi kenangan di dalam sistem limbik beserta amigdala dan hipokampus dan sederet reseptor lainnya. Dengan semua kehebohan di dalam sana, yang tampak di luar hanyalah kamu yang sedang menatap layar komputer sambil ngupil.

Lalu jika perkara kenangan yang menyayat hati nyatanya sesederhana itu, kenapa ada rasa sakit yang tidak bisa dijabarkan saat kenangan itu menyerbu? Kenapa muncul perasaan seperti darah yang mendesir, dada yang sesak, feels like a pinch in a heart, kepala yang wombling bahkan ada yang serangan jantung karena kaget misalnya.

Perkenalkan, amigdala.

Saya ingat pernah berdiskusi perkara ini, soal temuan sains bahwa psychological pain dan social / physical pain sebenarnya memiliki sirkuit yang sama. Saya sebutkan bahwa amigdala mungkin mempengaruhi kelenjar kelenjar penghasil hormon yang kemudian menstimulasi organ untuk bereaksi terhadap rangsangan tersebut. Sederhananya, saat kamu lagi galau, amigdala memproses emosi menjadi sedih. Somehow, mungkin, rangsangan emosi dari amigdala ini bersinggungan dengan kelenjar penghasil protein ACTH (hipotipis, hipopipis?) yang membuat seseorang menangis dan menangis dan menangis hingga boom! dadanya sesak lantaran jalur oksigen masuk tertutupi kelenjar ingus. Lalu asma, lalu mati.

Namun argumen yang ia ajukan lebih menarik, dibanding merunutnya sebagai perkara sebab-akibat, ia menyebut bahwa secara logika psychological pain dan physical pain adalah sama. Sebab ketika seseorang sakit secara fisik, obat yang diberikan adalah zat kimia yang jika bersinergi dengan kelenjar hormon, sistem syaraf dan lobus lobus otak, maka ia akan menyeimbangkan yang kurang dan menihilkan sirkuit rasa sakit.

Jadi semisal sedang sedih sedihnya, minumlah esilgan 😀 😀 😀

Eh jangan ding, seriusan jangan. hahaha.

Dalam Madilog-nya Tan Malaka pernah membahas soal dialektika adalah penentu perkembangan mental manusia. Kemampuan untuk menangkap setiap kejadian melalui reseptor reseptor indera tubuh dan mengolahnya melalui cortex logika. Memisahkan mana yang penting dan tidak melalui hiptalamus lalu menyerapnya menjadi kenangan di hipokampus dan dikeluarkan sebagai emosi oleh amigdala. Bijak dalam berdialektika, adalah kunci. You can reads all the books in the world, or having a non-stop hour of langitan conversation, its all means nothing if you’re not loved. Kata Lennon begitu kak.

Maaf. Posting ini ujungnya ternyata cuma begini doang :))) 

Self Restraint, Beat Your Own Beast.

“Baca, menulis, baca dan nulis sampai waras lagi”

Saya menjalani disiplin yang cukup membuat saya bangga sama diri sendiri sekurangnya sepanjang Februari kemarin. Saya sedang mempelajari seni menahan diri. Dalam rangka mencari kewarasan dan fungsi normal sebagai makhluk sosial.

Sebulan terakhir, saya tidak beremosi berlebihan. Nyaris tidak belanja impulsif, nyaris tidak emotional eating (bahkan dalam sebulan terakhir saya sukses menurunkan 2 kilo berkat seni menahan diri itu tadi), dan tidak curhat pada siapapun soal perkara itu itu saja.

Saya mengingat hari hari di beberapa bulan silam di mana saya bisa mendadak burst out dan menangis sejadinya, atau mendadak merasa kek disedot ke dalam bumi tanpa alasan jelas lalu bengong berjam jam. Sekarang alasan alasan itu justru kian jelas, dan karena ia telah menjadi jelas, saya bisa memahami lalu memutus rantai itu dengan seni menahan diri.

Selain itu, membaca buku ternyata sangat membantu. Pertengahan tahun silam, dengan becanda saya ditantang untuk ikutan challenge di Goodreads. Dia memasang target 30 buku, saya ditantang 50 yang segera saya sahut “50? Seratus sekalian!” dengan nada sarkas tentu saja. Eh ternyata malah saya menggebu menjalani tantangan itu dan sudah melahap 23 buku hingga bulan ini.

Saya sampai menemukan pola, saat sedang dirundung kesepian, saat mulai memikirkan kemungkinan kemungkinan bahkan saat mulai merasa menyesal atas kejadian yang sudah lewat, saya bersegera mengambil buku dan mulai membaca. Masuk ke dalam pikiran orang lain yang tertuang dalam kalimat kalimat dan tau tau waktu berlalu, saya tidak lagi berminat memikirkan perkara lain selain apa yang telah saya baca. Siapa sangka jika membaca bisa menjadi terapi.

Hihi.

Selain itu ya seperti kata kawan saya di atas, proses mewaraskan diri salah satunya ya dengan menghapus blog lama, meninggalkan ruang ruang berpikir berlebihan dan ketidakwarasan itu dengan mantap. Saya lalu hijrah ke sini dan menjadikannya medium menulis hal hal di luar sekresi pikiran berlebih dan ketidakwarasan itu tadi. Menulis resensi, pandangan saya soal buku buku dan film yang telah disantap dan rasanya sama saja seperti menulis derita, keluhan serta kesedihan. Saya hanya butuh beradaptasi agar tidak menjadi individu baperan dan menyusahkan.

Sisanya, tidak ada kabar berarti dari saya. Koleksi buku yang makin bertambah, saya tidak lagi takut pada waktu senggang, saya tidak takut sendirian, saya tidak berpikir berlebihan dan semoga ini bisa menjadi rutin yang terus bertahan. Urgensi untuk mengeluh juga sering kalah oleh renungan renungan soal betapa beruntungnya saya yang masih bisa bertahan hidup dan tidak kalah oleh kepala sendiri.

Hidup masih menjanjikan perjalanan. Dan perjalanan itu, masih panjang!

Palangkaraya, 5 Maret 2015

Untuk hidup dan kehidupan, bersulang!

100 Buku Untuk 2016 #Februari

Januari kemarin saya menulis entry soal kepinginan membaca 100 buku di sepanjang tahun ini. Rencananya akan mengupdate buku buku yang telah dibaca setiap akhir bulan agar ter-track down sampai penghujung tahun. Tidak semua buku yang dibaca akan dijadikan review di web ini lantaran tidak semua buku yang saya baca semenarik itu. Kalo mau cek akun goodreads saya boleh juga. Siapa tau naksir.

.

.

.

Sama bukunya.

So here we go. List buku yang sudah dibaca di bulan Februari:

  1. Si Parasit Lajang – Ayu Utami
  2. Norwegian Woods – Haruki Murakami
  3. Banda Neira – Mayon Soetrisno
  4. Penembak Misterius – Seno Gumira Ajidharma
  5. Lolita – Vladimir Nabokov
  6. The Catcher in The Rye – JD Salinger
  7. Seks dan Revolusi – Jean-Paul Sartre
  8. Adultry – Paulo Coelho
  9. Ugly – Constance Briscoe
  10. Orang Orang yang Berlawan – Wilson
  11. Melipat Jarak – Sapardji Djoko Damono

Yang menjadi highlight adalah Banda Neira dan the Catcher in the Rye yang sempat saya review di web ini. Dua puluh tiga buku dalam kurun 2 bulan rasanya ga jelek jelek banget kaaan hahaha.

Akan lebih selow di bulan Maret mengingat pekerjaan mulai memasuki musim audit, blah.

Sampit, 29 Februari 2016

Dalam pembelajaran soal the art of being alone 🙂

Bermain Cita Cita

“Mari bermain cita cita”

Seorang guru berseru pada Selasa pagi

Di sebuah sekolah kumuh,

Dengan murid murid berseragam lusuh,

Dengan dana remah remah anggaran daerah

Puluhan bocah empat SD, bergemuruh, beberapa bertepuk tangan

Satu per satu ditanyai ingin menjadi apa

Berloncatan senang, masing masing punya jawaban

Dokter-astronot-artis-hingga presiden dilontarkan

Ada yang memukul mukul meja,

Tak sabar menunggu cita citanya terpapar

Amin diam,

Tak bergeming kala sang guru mengetuk ngetukkan ujung sepatu, menunggu

“Saya tak punya cita cita Pak, lihat nanti saja”

Gumam menggumam, tawa cela memburai seketika

Ruang kelas gaduh, Amin dihukum berdiri di depan kelas

Karena tak punya cita cita

Puluhan tahun lewat, tak ada satupun kawan kelasnya yang menjadi dokter-astronot-artis

Lebih lebih presiden

Satu satu mati, ada yang bolong kepalanya ditembak, gara gara bertatto

Ada yang mati kesetrum, kala menjaja asongan di atas atap kereta

Ada yang mati beranak, semata tak mampu ikut KB

Tak pula ada yang menjadi dokter bertatto

Astronot kemudi kereta

Atau bahkan artis dengan anak kelewat banyak

Amin, mengais sisa sisa sampah rumah mewah

Sekolahnya tak tuntas, SD-nya diratakan di tahun ke lima

Deru menderu, bisik membisik sampaikan padanya

Kawannya yang ingin jadi presiden mati

Ketangkapan warga sekampung mencuri televisi

Kais mengais, sampah yang bisa dimakan

Gumam pelan Amin tak tertangkap udara

“Hidup kok kebanyakan cita cita..”

Ventriloquist

https://i2.wp.com/sobadsogood.com/uploads/media/2014/03/09/Creepy-Vintage-Ventriloquist-Dummies-1.jpg
Serem? Iya. Kek mantan.

Ventriloquist itu istilah untuk pemain boneka dengan suara perut. Saya pertama kali mendengar istilah ini dari film Dead Silence, tentang hantu Mary Shaw, seorang ventriloquist yang terobsesi untuk membuat boneka yang bernyawa.

Postingan kali ini, saya tiba tiba terfikir tentang siapa yang ‘menggerakkan’ kita. Yang berbicara melalui kita, yang membut kita tertawa, menangis, bersuara, segalanya. Teori sains akan mengatakan semua itu merupakan reaksi neurotik yang kompleks pada otak besar yang memerintahkan syaraf untuk menggerakkan bibir, mengeluarkan suara, tertawa, semuanya.

Teori teologinya lebih kompleks lagi. Ada Tuhan dibalik semua kejadian. Manusia tertawa, menangis, bersuara, segalanya berkat ‘lillahi ta’ala’, kehendak Tuhan yang maha tinggi. Atas restu dan keinginan-Nya manusia berjalan, berfikir, berniat, berdetak dll.

Apakah juga Tuhan yang menggerakkan setiap perilaku cela manusia? Atau adakah konspirasi setan-malaikat dalam setiap tindakan yang manusia ambil?

Sebagai seorang realis-relatif, maka saya percaya pada teori sains yang sudah disepakati sebagai ke-be-nar-an dalam mengambil simpulan terhadap apapun (termasuk di dalamnya teori teori filsafat). Bahwa yang menggerakkan manusia adalah self-conscious, pertimbangan pribadi, dan reaksi tubuh atas perintah yang diberikan syaraf syaraf neurotik dari otak.

Bahwa tidak ada konspirasi setan-malaikat serta pihak ketiga dalam wujud yang menggerakkan manusia untuk berfikir, bernafas, mengunyah, berjalan, berbuat apapun. Sebagian besar merupakan tindakan natural yang terjadi secara begitu saja. Neither lantaran tubuh memang terbiasa melakukannya atau memang harus dilakukan demi stabilisasi organ tubuh (baca: denyut nadi, bernafas dan lain sebagainya)

Fokus saya kali ini, adalah apa yang menggerakkan pikiran manusia. Sebagai pusat gerak, tubuh harus diperintah oleh pikirannya. Mencuri, membunuh, tindakan tindakan yang disepakati secara sosial sebagai ‘perbuatan tercela’ itu tentu telah mendapat stimulasi dari pikiran untuk mencuri, membunuh dan sebagainya, oleh pikiran manusia.

Apa betul, tindakan jahat manusia digerakkan oleh setan? Sementara perbuatan baik digerakkan oleh malaikat? Saya, memilih untuk belum mempercayainya. Pihak ketiga yang menggerakkan manusia secara pasif untuk berfikir dan mencerna segala sesuatu itu berbentuk kasatmata. Pola pikir manusia dipengaruhi oleh lingkungan, latar pendidikan, asupan pengetahuan dan tentu saja: pengalaman hidup.

Keputusan yang diambil seseorang yang tidak pernah tau bahwa karbondioksida itu zat berbahaya tentu berbeda dengan keputusan seseorang yang mengetahui bahwa zat karsinogenik dari karbondioksida bisa memicu kanker dan flek paru paru saat keduanya sama sama dihadapkan pada masalah serupa: menyetujui atau tidak menyetujui pembangunan pabrik pengolahan Crude Palm Oil di dekat rumahnya, dengan iming iming kompensasi yang cukup besar.

Setidaknya itu merupakan contoh bahwa campur tangan pihak ketiga yang kasatmata (dalam hal ini pengetahuan) bisa membuat perbedaan dalam tindakan manusia. Simpulannya, ventriloquist saya adalah akal, nurani, asupan pengetahuan dan keinginan untuk terus berkembang.

So, who/what is your ventriloquist?