Entah, Antara Cemas dan Gelisah

Aku seperti mengalami personal nervosa sekarang. Seperti perasaan seseorang yang tengah menunggu hukuman mati. Menanti vonis. Rasa cemas, gelisah, yang merundung seminggu belakangan bersebab tanpa sebab. Entah apa yang membuat perasaan ini menyerang. Aku merasa hidupku baik baik saja. Tidak istimewa memang, tapi baik baik saja.
Aku tidak sedang berada dalam masalah. Tidak dalam kesulitan.
Apa lantaran semuanya berlalu super normal, hingga aku merasa jenuh dengan pola yang sama?
Ah, lagi lagi jenuh yang kuteriakkan. Lagi lagi keluh yang kusuarakan.
Happy 17th fasting, all. Aku perlu suplai energi..
Advertisements

Kangen Nonton Konser..

Baru nyadar kalau di Sampit (where I’m live now), lagi kering konser. Tercatat terakhir konser musik di gelar pas bulan Februari lalu, konser Kuburan, Zakies sama Drive,. Lumayan pan lamanya., hm.. di kotaku, ada beberapa nama Event Organizer besar yang langganan mengundang artis buat konser, tiga nama kalau ga salah. Dua di antaranya merangkap sebagai radio.
Entah ini ada korelasinya dengan ditutupnya beberapa stasiun radio lantaran tersandung masalah perizinan oleh KPI (walah bahasanya koran banget boss).. atau alasan lain. Denger denger sih, biaya ngedatengin artis itu ga murah. Belum lagi tanggung jawab ke sponsor, De el el.
Sebagai masyarakat awam sih, aku ga ngerti tentang masalah birokrasi ke sana. Ngarepnya cuma biar konser musik bisa di adain sesering mungkin. Kayak 2009 lalu, dalam setahun nyaris belasan konser di gelar. Baik yang skala kecil sampai setaraf Mulan Jameela (believe me, untuk takaran kota sekecil Sampit, Mulan Jameela udah besar banget).
Atau jangan jangan ini efek dari menjamurnya acara musik televisi? sehingga para artis berfikir untuk tidak perlu jauh jauh ke pulau lain untuk menarik atensi masa terhadap karya karya debutan mereka. Dan kemudian management yang menaunginya mengkatrol harga si artis lebih tinggi karena stasiun tivi sudah membayar mereka dengan harga yang sama seperti sekali konser di wilayah terpencil. Kalau ini benar kejadian, kasian kami dongg..
hm, it just a random talk.. sedikit kangen pergi beramai ramai ke stadion 29 November untuk menonton konser. Meski si artis bukan pujaan, tapi cukup untuk memuaskan dahaga hiburan..

(atau ya berkesempatan poto bareng artis macam gini :P)

Back to Black

Setelah nyaris 12 jam ngerasain punya rambut berwarna seperti istrinya Raul Lemos, aku akhirnya mengembalikan si rambut ke habitat aslinya. Bayangkan, dalam sehari rambut ini harus menerima empat botol pewarna. Bahan kimia itu menodai kesucian rambutku!!! (jgderrrr!!)
Sebenarnya, aku suka dengan warnanya, merah maroon kecoklatcoklatan gimanaaa gitu..
Tapi, unfortunately, abah go mad. Beta dimarahi :'(. Apa boleh buat, bagi seorang muslim, mengubah ciptaan tuhan itu merupakan tindakan dosa. (eh BTW, aku ke salon buat ngelurusin rambut juga termasuk tindakan mengubah ciptaan tuhan kan?). Ah sudahlah, berhubung aku anak yang taat dan berbakti kepada abah tercinta. Rambut inipun kembali ke warna aslinya ^^
here my recent face.

sebelumnya (pas lagi warna coklat)

(yak, aku memang punya tampang seidiot ini)
Fuhh… selamat menunaikan ibadah puasa, semuanya! semoga puasa hari ini dilancarkan. Lanjut siaran duluuu 😀

Insiden Cat Rambut

Aku memutuskan buat ngewarnain rambut ini. Alasannya sih lantaran udah bosan sama warna hitam. (eh, sebenarnya rambutku lebih ke warna merah kebakar matahari ^^ dan rusak gara gara keseringan dicatok, hehehe).

Niatnya sih warna brunette. atau maroon. coklat coklat gimanaaa gituu.. eksperimenpun dimulai. Seorang kawan merekomendasikan pakai Shasha aja, soalnya ga tahan lama. In case aku bosen, tinggal keramas sepenuh hati, pelan pelan bisa ilang,,

Well, eksperimen begin.. (jeng jeng)

Mari Mewarnai Rambut Agar Menjadi Seperti Anne Hattaway di Get Smart (MMRAMSAHGS)

Bahan bahan yang diperlukan :

1. (Shasha warna Chocolate Brown)

2. (bleaching)

3. (sisir semir)

HASILNYA?????

(bukan, ini bukan aku, seperti INILAH seharusnya rambutku)

DAN WARNA RAMBUT SAYA SEKARANGGG

T_T

Yep, tiba tiba aku merasa mirip seperti mantan istrinya Raul Termos.

Dan abah (we called Ayah as Abah on banjar language) ga tau kalau aku ngecat rambut. FYI, abah seorang agamis. Dan yak, beliau marah, aku diancam ga dapet baju lebaran ntar (ancaman ini cuma berhasil buat anak TK, abah..)

Off today! pesan moral : Jangan pernah percayai insting anda dalam mewarnai rambut. Percayakan pada salon salon terdekat.

(Oh.. suddenly i miss my black hair)

Hobi Murahan Itu..

Mengenai hobi, konon blog merupakan tempat untuk menuliskan jurnal pribadi. Berhubung aku adalah pribadi yang sungguh narsis, maka kali ini sesuatu yang super ga penting bakal kutulis (silahkan klik close bar, aku sendiri nyaris muntah pas ngetik ini)
Sejak SD, aku suka membaca, hobi murahan, kata kawan kawan. Yep, murahan karena membaca tidak memerlukan banyak modal. Tidak seperti hobi yang lain, golf, scubadiving, bungeejumping (buset, ada gitu anak SD hobinya nyelam??)
Hobi membaca bersublimentasi menjadi hobi menulis. Hobi yang sudah murahan itu bertransformasi menjadi sesuatu yang sepuluh tingkat lebih murahan. Cukup bermodal kertas dan pena, hobi itu bisa tersalurkan. Oh dear, its me, Nani si Murahan. (loh?!)
Well, selama aku merasa senang, kenapa tidak. Maka mimpi mimpi besarpun bertumbuhan dari hobi itu. Sejak empat tahun lalu, aku bertekad untuk bisa menghasilkan duit dari hobiku itu. Menulis sesuatu yang kusuka, dan dapat duit. Mimpi orang miskin,,
Tuhan memang maha baik, mimpiku untuk menjadi penulis di dengar dan diwujudkan pada Desember 2009. Sejak itu aku tercatat sebagai wartawan di SKHU kotaku. Bangga? jelas. Aku semacam super excited dengan segala keterwujudan itu. Aku bisa menulis sebanyak yang aku mau, dan dibayar untuk itu.
Hanya saja, kata Mario Teguh, kalau bermimpi jangan kelamaan. Aku terlalu lama dibuai mimpi, hingga menjadi makhluk yang gemar bermuluk muluk. Gemar mengeluhkan ketidakselarasan ingin dan kenyataan. Akhirnya, menulis di SKHU itu tidak lagi menjadi hobi.
Aku tidak lagi menulis karena aku suka menulis.
Aku menulis karena menulis itu merupakan kewajiban, suatu keharusan.
Dengan semua target dan tenggat itu.
Ya, aku merasa terbebani. Seorang kawan bilang “Sesuatu yang sudah menjadi beban ga bagus untuk dilanjutkan”.
Maka aku berhenti, untuk ‘menyelamatkan’ hobiku.
Sebulan sudah lewat, banyak yang terjadi selama tujuh bulan bekerja di sana.
At least, aku sudah sempat jalan-jalan ke banyak tempat, dan dibayari. Dan berkesempatan menjadi wartawan di umur 17 tahun. As PR PT. Axia TBK said : “The youngest journalist”. hohohoho
Sekarang, aku kembali seperti dulu. Seorang anak perempuan 18 tahun yang gemar mengeluh dan menulis dengan bahasa sok nyastra. ^^ apa boleh buat, sudah hobi..
Aku benci kemiskinan yang dieksploitasi di negeri ini
Mereka tertuang dalam tivi-reality.
Orang orang miskin berurai airmata, mengiba akan nasibnya
Aku benci derita bertubi yang dihiperbolisasi
Semata demi rating dan ketenaran si televisi
Aku muak dengan televisi
Ah, tidak, aku muak dengan budak televisi
Apa boleh buat, pantatku terpaku oleh gemerlap silau kemiskinan yang diksploitasi.