How Far 2017 Would Go

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/38/74/86/3874865264ee88852c1061f9b27023e9.jpg
I can’t make money I’m not Bank Indonesia

Saya ingat betul, pada Juni 2010 dalam perjalanan ke sebuah bukit di Cikarang – Jawa Barat untuk pemotretan poster film Rayya, Cahaya di Atas Cahaya saya mengatakan ini pada Jeanny, wardrobe yang kami hire hari itu:

“Aku ga suka travelling, ide untuk capek capek terbang lama dan segala keriweuhannya bikin males aja” just like an asshole saat Jeanny bertanya apakah saya suka jalan jalan. Saya ingat betul kalimat ini karena memang seumur 19 tahun hidup saya kala itu, Jakarta adalah satu satunya destinasi travelling paling jauh yang pernah saya jejak. Sembilan belas tahun hidup tanpa pernah sekalipun berlibur saya terus menumpuk ide bahwa liburan is a waste of money and energy.

Butuh rentang enam tahun untuk bekerja dan bekerja demi ‘menabung’ CV yang bagus hingga akhirnya bisa mendapat pekerjaan dengan gaji yang bersisa untuk liburan di penghujung bulan. Jika saya menghabiskan bertahun tahun untuk membaca dan membuka dunia dari tulisan semata, maka dimulai sejak usia 23 saya ingin keluar dan melihat dunia sebenar benarnya.

Destinasi travelling saya di 2016 sudah saya bagikan di sini dan membaca kembali entry tersebut mampu membangkitkan senyum. Bahwa meski lemari baju saya tidak penuh terisi barang barang mahal bermerk ataupun tidak makan di restoran mewah setiap hari, hati saya penuh dengan kenangan kenangan baik tentang tempat dan orang orang baru #tsaahhh.

Ada jutaan deskripsi soal mengapa travelling dapat mengubah seseorang, dan satu hal yang saya pahami adalah hal itu benar adanya. Perspektif yang akan bertambah luas dengan pertemanan yang kian banyak adalah satu dari sekian juta mengapa saya begitu menggemari bepergian. Saya mengenal dan mendengar langsung kisah hidup orang orang yang menakjubkan.

Pemandangan yang menakjubkan, pengalaman yang mencerahkan pikiran, they’re really are, things that money can’t buy.

Jurnal travelling 2017 akan saya cicil perlahan dalam entry entry mendatang untuk dikompilasi pada akhir tahun. Dan hitung mundur dimulai sejak Tahun Baru!

Lombok – Gili Trawangan (26 Desember 2016 – 02 Januari 2017)

Sejak pertengahan Desember saya dan Farida sudah kasak kusuk merencanakan ingin berlibur ke mana. Ide bermunculan mulai dari Phi Phi Island, Vietnam (lagi) sampai Maldives! serba muluk memang. Saya sudah berniat untuk ke Bali dalam rangka tahun baru akhirnya setuju untuk melanjutkan perjalanan ke Lombok.

Snorkling adalah kegiatan baru yang saya gemari. Ada kesenangan tersendiri dalam berenang-berlama lama mengambang di lautan dan mengamati laut dari dalam air. Kalau mau roromantisan dan sok sok filosofis, saya menyenangi kesunyian yang absolut saat berenang dan seperti Capricorn kebanyakan (Murakami misalnya hahaha) saya cuma betah melakukan olahraga egois yang tidak melibatkan tim. Saya baru bisa berenang di akhir 2016 setelah 4 bulanan rutin belajar setiap minggu. Di Belitong saya belum berani berenang di laut tanpa life jacket barulah di Gili saya berani berenang di laut sebebas bebasnya!

Kejeniusan bermula dengan dibelinya tiket ke Lombok hingga 2 kali transit padahal ada penerbangan langsung Surabaya – Lombok tanpa harus transit ke Bali terlebih dahulu. Alhasil kami cuma punya kurang dari 24 jam untuk snorkeling di tiga spot di Gili karena keburu abis buat dua kali transit dan nginep di Bali.

Genius.

 

img_8096
Lombok Barat
img_8105
Snorkling Addict @Gili Trawangan
img_8140
Ada Gunanya Belajar Berenang! @Gili Meno
img_8148
Seaside’s Gelato
img_8158
Pelabuhan Gili Air
img_8229
Ngambang di Laut!

Semarang (27 – 29 Januari 2017)

Ini adalah sederet upaya trial kami kaum serikat buruh untuk memanfaatkan hari libur yang hanya 2 hari. Berbekal nekat bolos sebelum jam pulang di hari Jumat untuk mengejar penerbangan ke Semarang, berempat kami berhasil menggeber beberapa situs wisata di Semarang biar kaya turis kebanyakan :)))

img_9204
Gedong Songo
img_9242
Naik Kudaaaaa
img_9275
Lawang Sewu dengan Formasi Paling Turis Sedunia

Candidasa – Bali (04 – 08 Februari 2017)

Dalam rangka disuruh ikutan training lalu melipir ke Bali ngoahahhaa. Cuti yang tidak melimpah membuat jadual bepergian harus diatur sebaik baiknya. Kepingin mengulang pengalaman snorkling, saya bergegas ke Candidasa, sebuah desa keciiiil sekali di Kabupaten Karang Asem, dua jam perjalanan dari Bali. Mendapat review sebagai destinasi gateway yang baik lantaran jauh sehingga ga terlalu ramai, saya mendapat kesempatan untuk melihat Bali dengan wajahnya yang lain. Yang ramah, murah dan menyenangkan :*

img_9712
Blue Lagoon – 2nd Spot of Snorkeling
img_9592
Pantai Lebih, Klungkung
whatsapp-image-2017-02-09-at-5-13-59-pm
Virgin Beach – 3rd Spot of Snorkeling
whatsapp-image-2017-02-09-at-5-17-38-pm
In the Name of Wide Blue Sky and Deep Blue Sea ❤
whatsapp-image-2017-02-09-at-5-22-40-pm
Candidasa – 1st Spot of Snorkeling
WhatsApp Image 2017-02-09 at 5.24.39 PM.jpeg
Gosong tapi BAHAGIA!

Dulu, ketika saya membaca jurnal travelling mereka yang menyebut bahwa Indonesia cantik, kaya dan sayang untuk dilewatkan hanyalah basa basi traveller yang ga punya duit buat ke Maldives (yea, I was that naive) namun ketika melihat sendiri tempat yang dimaksud membuat saya sadar betapa beruntungnya kita orang Indonesia. Segenap keindahan alam dapat diakses dengan mudahnya meski well harus diakui beberapa tempat memang menguras kekayaan untuk disambangi. Namun jika dibanding dengan bule bule yang harus menempuh belasan jam penerbangan, melewati imigrasi dan berpotensi lost in translation maka sungguh, kita orang Indonesia beruntung adanya.

There was a time when I woke up in the middle of he night and feel that my life is such a mess. That I’m a lonely worthless human being. It happens in so many time it starts to affect my sleeping routine. Today when I saw Nani back in two years ago, I really want to thank her for being such a braveheart by taking a chance and conquering the worries of traveling alone in a perfectly strange place.

Eh sekarang malah kecanduan traveling sendirian hahaha.

Beberapa kawan berturut turut menjadi 25 di tahun ini. Saya senang membaca entry blog dan posting media sosial mereka. Usia 25 adalah spesial, konon katanya. Seperempat abad dengan persoalan Quarter Life Crisisnya. Saya justru -semoga tidak ada jinx di kalimat ini- menggenapi usia 25 dengan perspektif bahwa saya sudah mengalahkan krisis usia 25 itu. Betapa di usia ini tidak lagi saya temukan kegalauan kegalauan soal ke mana saya harus berkiblat dan mau jadi apa. Krisis atas penetapan formulasi pertanyaan filosofis paling klasik soal Who am I?

Bikin entry soal Millenials ah.

2017 masih panjang, kegemaran snorkeling semoga senantiasa dipertemukan dengan laut yang cantik dengan biota bawah laut yang masih asik. Semoga senantiasa punya cukup uang untuk bepergian sebab bucket list sedemikian panjang. Semoga di usia 25 bisa punya diving licence biar makin asik main di bawah air.

Sampit, 09 Februari 2017

Labuan Bajo, Maret teteh datang!!:)))

 

December OCD Project – The Beginning

Saya memulai perjalanan diet dietan ini sejak lama banget sebenarnya. Saya ingat satu fase di mana saya menolak makan apapun kecuali apel dan turun hingga delapan kilo di 2013 silam. Lalu berhenti, lalu menggebu lagi di beberapa bulan lalu lalu berhenti. Diet yoyo ini saya coba gali apa masalahnya, kenapa sebegitu susah buat saya untuk memulai sesuatu yang baik untuk diri saya sendiri.
1. Motivasi
Alasan untuk menjadi kurus harus cukup kuat dan tidak fluktuatif. Karenanya jangan memulai diet jika tujuannya hanya untuk menarik perhatian orang yang disuka misalnya. Saat orang tersebut tidak menyukaimu lagi, apa alasan untuk tidak memulai emotional eating (lagi?) 
oke ini curhat.
2. Metode diet
https://i1.wp.com/img.picturequotes.com/2/2/1512/no-one-wants-to-see-curvy-women-quote-1.jpg
Fuck you Karl.
Oh you named it, I’ve tried them all. Katering sehat yang isinya melulu nasi merah dengan porsi anak ayam itu? Sudah. Diet mayo? sudah. Program 13 hari, OCD, food combining sampai belasan merk pil pelangsing sudah saya coba. Hasilnya? teteup, yoyo. Hari ini diet, besok nasi goreng kambing. Program selesai, balik ke kebiasaan awal. Kembalinya kudu ke atas, motivasinya ga kuat. 
3. Support Group 
“Ah Nani sok diet. Percuma ga bakal kurus juga”
“Ayo makan siang, ga usah diet dietan gitu ah”
“Kenapa harus kurus sih? Begini aja aku suka sama kamu”
Kapan kurusnya kalau begini men?
4. Wake Up Call
Kamu kudu ditempeleng semesta dulu sampai merasa se-worthless worthlessnya biar sadar.
5. Mindset
“Gapapalah makan agak banyakan, kan seharian cape di kantor”
“Nongkrong minum iceblend plus camilan ah, I deserve it”
“Gapapa gendut, nanti juga ada yang suka Nani apa adanya”
the fuck is it, brain?
 
Lima kausal di atas menemui pencerahannya paska saya memutuskan untuk memulai OCD dan rutin ngegym di bulan ini. So here we go, December OCD Project.
1. Motivasi
Saya nihilkan semua bayangan soal akan disukai orang yang saya sukai. Saya tidak butuh dia untuk mendikte seperti apa tubuh saya seharusnya terlihat. Saya bongkar lemari dan melihat history pembelian baju baju online. Ukuran saya mentok di XXL sementara baju baju ukuran XL hanya beberapa yang muat. Saya gendut banget, gendut sekali hingga saya benci apa yang saya lihat di cermin setiap pagi. Saya keluarkan semua baju baju lama dan lungsuran dari kakak lalu memajangnya di lemari. Rata rata berukuran L. Ini milestone pertama, saya kudu muat di ukuran L SECEPATNYA.
2. Metode Diet
Oke, here’s the fact. I can actually have a foodgasm. You know, when the food is so good it makes you smile and somehow felt better instantly? Hal ini muaranya di otak, reaksi kimiawinya membuat kita merasakan endorphin karena makanan enak. Googlinglah biar saya ga repot menjelaskan. Satu hal yang sulit untuk saya jalani dari semua metode diet selama ini: Pantangan makan.
Selain lantaran katering saya sekarang enak sekali, menunaikan pantangan makan terasa berat karena sulit untuk makan dada ayam polos tanpa lemak dikukus bukan digoreng plus sayur yang disteam dengan garam dikit dan gaboleh makan ini gaboleh makan itu setiap hari. Bosen dan ribet.
Lalu Amel, dengan menggebu gebu menjelaskan soal OCD. Saya tidak asing dengan OCD, hanya saja baru sore itu saya mengerti bahwa OCD memperbolehkan kita makan apa saja yang kita mau. WHOA! ini lebih menarik dari teori relativitas revisiannya Carl Sagan.
Jadi metode diet saya seminggu belakangan adalah jendela delapan jam. Jadi saya puasa 16 jam dengan water intake semata. Berat, satu dua hari pertama adalah siksaan utamanya di jam 10 pagi masa masa saya kerap ditawari sarapan dari bos yang baik hati. Tapi dari jam 10 ke 12 siang cuma tiga jam dan saya bisa makan katering yang enak sekali, gorengan yang dibeli kantor bahkan es cendol yang sudah sekian lama saya ga minum itu. Sepanjang jam 12 hingga pulang kantor, saya makan senormalnya, seenaknya. Lalu berhenti di jam 8 malam dan lanjut water intake sampai besoknya jam 12 siang.
Sampai sekarang, rasanya oke oke aja. 
3. Support Group
Ini yang saya lakukan untuk membendung pedihnya omongan orang soal saya yang sok sokan diet: I’m telling EVERYBODY that I’m on diet with a serious note. Mulai dari OB sampai manager sampai bos besar saya kasih tau kalau saya sedang diet dan hanya available buat ditawarin makan di jam 12 siang. Hasilnya, di kantor saya bisa adem ayem minum air doang tanpa harus dikatain “Halah Nani sok diet” tiap ada makanan. Saya lemah kalo dibujuk soal makanan soalnya :’) 
Social circle sayapun luar biasa supportif. Amel utamanya, jika sebelumnya ada berjam jam selepas jam ngantor yang kami habiskan dengan bergelas gelas coffeeblend dan anek camilan di cafe, saat ini saya ga diajakin lagi, kalaupun kebutuhan ngobrol sedemikian mendesak, kami memilih buat ke mall dan ngobrol sambil window shopping atau ya harus pasrah saya cuma minum aer doang di cafe. Geng arisanpun paham dan tidak ngoceh aneh aneh saat saya tidak makan apa apa lantaran jendela makan sudah lewat. 
Mereka yang menghargai niatan kita dengan diam diam mendukung ini kudu diapresiasi dengan sikap tidak mudah menyerah, bukan?
Lagian kan tengsin men, sudah ngomong diet ke mana mana tapi ga kurus kurus :))))
4. Wake Up Call
Momentum ditempeleng semesta soal “Hey! diet sekarang juga” tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Alasan saya diet semata ingin disukai lelaki yang saya sukai, atau ingin menjadi lebih sehat, tapi tidak pernah ada satu momen di mana saya sedemikian merasa worthlessnya, terhinanya, tesinggungnya lantaran menjadi gendut.
Lalu kejadian juga akhirnya. Butuh waktu lama untuk mengakui ini, tapi saya diputusin saat sedang sayang sayangnya oleh lelaki yang sehari setelah meminta putus balikan lagi dengan mantannya yang berbadan jauh lebih kurus dibanding saya.
Ini memalukan, sungguh. Saya belum pernah merasa seworthless ini sebelumnya, saya, seorang Nani, dipermalukan oleh seorang lelaki. I’m in rage, I’m angry, I’m insulted and its good. I have all the energy I needed to keep on working out at gym. Saya rangkum semua perasaan itu dan menyalurkannya dengan bijaksana. Saat fase makan biasa memasuki emotional eating misalnya, saya bisa mengingat kejadian itu dan makanan saya tiba tiba terasa hambar. Atau saat malas malasnya ngegym, atau saat pengen makan gordon bleu dan fettucine carbonara di malam hari. Even the negative energy can be good at something yes 🙂
5. Mindset
Butuh waktu 28 hari nonstop hingga seseorang bisa memulai habit baru. Ini teori yang belum saya verifikasi kebenarannya. Tapi berhasil untuk upaya berhenti merokok pertama di tahun 2012 silam. 28 hari tanpa rokok membuat seluruh nikotin dalam darah keluar dan urge untuk menyulut itu sirna. Yaaaa kalau setahun kemudian iseng mulai merokok (lagi) ya salah sendiri ya Nan.
Saya ingin menjadikan OCD sebagai habit, setidaknya sampai bobot saya ideal. Saya ingin pergi ke gym tidak menjadi keharusan tapi sesuatu yang dilakukan dengan normal seperti bernafas misalnya. Mindset terhadap makananpun pelan pelan diubah.
Saya sudah tidak meminum minuman berwarna dalam kemasan sejak setahun belakangan. Soda, teh botol, susu, apapun yang manis manis sudah saya tinggalkan karena mindset “Gula yang membuat mama meninggal”. Alhasil jika sekarang saya terlalu banyak minum atau makan yang manis manis, saya jadi hiperaktif dan cepat sekali merasa lelah.  
Mindset yang simpel tapi ternyata pengaruhnya besar. Beberapa mindset yang ingin saya tanamkan:
“Ah saya udah puas makan itu di duapuluh tahun hidup saya kemarin” tiap craving makanan yang ga sehat
“Ah ngapain banyak banyak nanti kekenyangan malah susah gerak” tiap ketemu makanan enak
“Mending ngegym” tiap kali down dan mulai pengen emotional eating.
Semoga kausal kausal ini cukup untuk membentuk saya menjadi lebih bertujuan dalam melakukan diet. Saya bahkan sampai menuliskan soal menjadi kurus ke dalam bucket list. Karena saya terlalu berharga untuk dipepatkan dalam jokes jokes basi soal orang gendut. Sebab saya worthy, saya berharga 🙂
Started tommorow, I’ll post a weekly progress.
Buat motipasi.

Bucket List, Revised

Saya adalah pendoa yang lantang. Saya tuliskan banyak sekali harapan di blog ini untuk alasan saya ingin didengar. Ia mungkin menjadi satu dari sekian banyak medium untuk berkomunikasi. Karenanya dari tahun ke tahun saya punya kebiasaan menuliskan resolusi dan pengharapan melalui momentum tahun baru sekaligus ulang tahun. Ada keinginan keinginan yang begitu subtil nan kerdil yang saya tuliskan untuk kemudian diharapkan dapat terwujud. Somehow.
Saya bukan pembaca gejala yang baik, ada banyak kejadian yang tidak saya duga terjadi meski saya merasa sudah sepenuh upaya membaca semesta. Untuk tidak ignoran dan menakar nakar kemungkinan dari segi logika. Toh kecolongan juga, untuk menegaskan bahwa saya selaku manusia memang selemah itu.
Salah satu yang rutin saya update adalah Bucket List. Terinspirasi dari film lawas dengan judul serupa, saya menuliskan hal hal yang ingin saya lakukan sebelum mati di bulan Mei 2011. Setelah bucket list itu ditulis, apa yang terjadi di tahun selanjutnya membuat saya terkagum kagum dengan kinerja semesta. Satu per satu terwujud hingga nyaris habis. Paska 2012, tahun keajaiban itu, saya menulis kembali sebuah bucket list.
Bucket List, Revised December 20, 2012 

  1. New York
  2. Menulis buku
  3. Keluar dari rumah dan tinggal sendiri
  4. Jatuh cinta
  5. Bikin zine
  6. Jadi anchor televisi
  7. Merasa cukup dan berdamai dengan keadaan 
Yang kemudian mengendap karena hidup sedang ramai ramainya di tahun 2013 hingga sekarang. Jika bukan lantaran kegiatan iseng tengah malam untuk stalking diri sendiri, saya mungkin bakal lupa soal ini. Dan here we are, menghadapi satu lagi keterkaguman atas kinerja semesta dengan melakukan review terhadap satu per satu harapan itu.
1. New York
New York adalah muara mimpi mimpi saya sejak usia belasan. Sejak menonton Pretty Woman, Friends, Sex and the City dan tentu saja, How I Met Your Mother. Ada keinginan besar untuk hidup di apartemen dengan segenap kegaduhannya, untuk malam malam yang dihabiskan dengan mendengarkan musik musik jazz di bar bar lusuh, untuk merayakan kebebasan rokenrol yang sesungguhnya. Mimpi itu, masih saya pendam hingga sekarang, jelang 9 tahun selepasnya.
2. Menulis buku
Januari 2014 saya menulis Perempuan Kopi. Yang meski tidak berujung di penerbit manapun, saya toh tetap menulis buku 😀 😀
3. Keluar dari rumah dan tinggal sendiri
Keinginan ini menguat sekembalinya saya dari Jakarta. Kebiasaan untuk hidup sendiri menjadi faktor mengapa rumah begitu gerah saat itu. Mei 2014 ibu saya meninggal, alasan untuk keluar dari rumah bergeser menjadi betapa sesaknya saya yang harus melihat bayangan ibu di setiap sudut rumah. Atas alasan saya yang begitu lemah untuk tetap di rumah, saya keluar rumah dan ngekos pada Februari 2015 hingga sekarang. Memenuhi ingin untuk tinggal sendiri dan sepenuhnya mandiri. Alhamdulillah, kesampaian.
4. Jatuh Cinta
Tahun 2012 adalah tahun yang kering hahaha. Saya sedemikian terasing dengan kehidupan sosial sampai sampai ide untuk jatuh cinta masuk ke dalam bucket list. Hasilnya, saya habis dihajar cinta di tahun ini :’) perjalanannya singkat meski saya mengenalnya bertahun tahun lamanya. Satu yang saya pelajari dari perjalanan ini adalah betapa saya sudah bisa move on, membuka diri dan berkompromi. Yay.
5. Bikin Zine
Late for School namanya, zine besutan Edi dan Abdi, duo zinemaker dari Sampit favorit saya. Mereka mengajak saya untuk berkolaborasi, lama kelamaan menjadi kontributor tetap lalu bersama sama menyebarka wabah LS ke gig gig kecil yang menjamur kala itu, di tahun 2013. 
6. Jadi Anchor Televisi
“Setelah ini, lalu apa?” adalah pertanyaan yang tanyakan pada diri sendiri paska pulang merantau. Di tahun itu saya sudah melakoni pekerjaan sebagai wartawan, penyiar radio, copywriter dan publicist. Ide untuk tetap berada di track pekerja kreatif membuat saya terpikir untuk menjadi anchor. Iseng sebenarnya karena saya melupakan ide ini begitu saja selepas diposting. Oh, tapi hati hatilah dengan doa, ia diam diam menyerabut di langgam semesta dan voila, saya tercatat sebagai presenter dan kreatif televisi lokal dua tahun lamanya sejak Pebruari 2013 hingga Oktober 2014.
7. Merasa Cukup dan Berdamai Dengan Keadaan
Saya adalah sepenuhnya jabaran atas definisi restless di tahun 2012. Saya ingat malam malam yang saya habiskan untuk terlalu banyak merenung atas kemungkinan kemungkinan. Siang siang yang terasa panjang lantaran berlalu dengan penuh pikiran mengawang awang soal apa yang seharusnya saya lakukan. Saya sempat pengangguran lima bulan lamanya. Masa masa sulit yang dihadapi perempuan berusia 20 tahun yang masih tinggal bersama orangtua bukanlah sesuatu yang besar sebenarnya.
Namun saya ingat betul soal ini, soal semacam sumpah kepada diri sendiri. Untuk bekerja sekeras mungkin dan menjadi kaya raya :’)))) tidak lama kemudian saya bekerja di televisi hingga sekarang di kantor perkebunan kelapa sawit. Saya masih jauh dari kaya raya, jauh dari gelimang materi yang mudah ditemui di televisi. Tapi jika Nani sekarang bertemu dengan Nani yang berusia 20 tahun, saya akan memeluknya dan berterimakasih karena telah bekerja sedemikian keras di saat itu. Karena tidak menyerah pada saya sekarang, karena ia saya bisa merasa cukup meskipun belum kaya raya. 
Perkara berdamai dengan keadaan, ada beberapa kejadian yang mengajarkan saya tentang kehilangan di bentangan tahun 2012-2015. Mulai dari kehilangan cinta pertama, meninggalnya mama, lalu puncaknya di tahun ini, saya diajarkan soal kehilangan kepercayaan terhadap orang lain. Dari kejadian kejadian itu saya harusnya paham soal bersabar, pasrah dan ikhlas. Saya diajak untuk belajar patah hati, adaptasi atas rasa sedih, kehilangan, rindu, lalu rutin paska meninggalnya mama hingga belajar untuk meresapi perasaan kecewa yang demikian subtil saya masih sulit untuk menihilkan perasaan itu di sesekali waktu.
Tapi begitulah, kehidupan masih menjanjikan perjalanan yang panjang. Tahun 2016 tinggal hitungan minggu. Di sela gegap Pilkada saya menyelipkan harapan harapan yang bermuara pada bucket list yang telah direvisi. Senang bisa mencentang enam dari tujuh harapan dalam kurun tiga tahun. Saya semakin ingin percaya dan berpasrah pada perputaran semesta. Sebab tidak ada yang lebih menyenangkan dengan duduk manis dan menikmati pertunjukan maha dahsyat penuh kejutan bernama Perjalanan Hidup.
https://sharpandkeen.files.wordpress.com/2012/06/rainy-new-york.jpg?w=212&h=320Bucket list revised, 7 Desember 2015
  1. New York
  2. Berat badan ideal
  3. Jatuh cinta karena perasaan ini menyenangkan mehehehe
  4. Perjalanan ke luar negeri
  5. Kuliah dan menjadi sarjana
  6. Melihat abah naik haji
  7. Pekerjaan yang nyaman
  8. Memenuhi impian impian tersier di masa kecil
  9. Membuat siapapun yang bersinggungan dengan saya merasa bahagia.
  10. Be a positive Nani and makes the struggling 2012 Nani proud!

AMIIIIIN

2015, Another Good Year

Desember adalah bulan melankoli (melan koli hehehe. okay). Bulan di mana banyak orang menulis kata kata perpisahan. Sementara Januari adalah bulan pengharapan, Desember seolah menjadi tumpuan semua kenangan. 
Iya ya, kita memang setidakcocok itu.
Desember menjadi bulan di mana buku buku menemui lembar terakhirnya. Bulan di mana satu per satu kenangan dipilah untuk dibawa ke tahun berikutnya dan diam diam diselipkan menjadi harapan. Ada yang lewat, ada yang singgah untuk sesaat, ada yang tergenggam lalu terlepas, ada upaya untuk menjadi ikhlas. 
2015, indeed, is another good year for me.
Enam tahun terakhir saya habiskan bulan Desember dalam kesibukan merancang dan mengerjakan event pisah sambut tahun perusahaan orang. Saya semacam menolak untuk merayakan perpindahan tahun dengan tidak larut dalam euforia itu dan justru memilih untuk bekerja. Seperti ada upaya rebel di sana, entah. Tahun ini, ajakan pemilik event organizer tempat saya iseng freelance selama ini saya tolak untuk alasan: pengen tahun baruan.
Ada semacam excitement yang sulit saya gambarkan terkait momentum perpindahan tahun ini. Seperti ada keinginan untuk bersegera meninggalkan tahun yang diam diam menorehkan banyak luka. Saya kehilangan beberapa kawan baik sekaligus dalam rentang waktu duabelas bulan atas perkara perkara yang berada di luar kuasa saya. Kesalahan kesalahan yang dengan sadar saya lakukan dan kegilaan kegilaan di luar batas logika.
Puncaknya adalah Nopember. Saya selipkan keinginan kuat untuk berhenti mencari pemenuhan atas adiksi dopamin serotonin dan endorfin yang saya dapatkan dari melakukan hal yang salah. Memutuskan untuk berjilbab dan mencukur habis rambut saya. I think I hit my lowest point this year and I need 2016 to get back into what I used to be.
Saya tidak akan pernah merendahkan diri saya sendiri lagi.
Perubahan perspektif yang terjadi di dalam kepala saya simbolisasikan ke dalam perubahan fisik. Dimulai dari diet sebenarnya, ada perubahan pola makan (saya tidak lagi sarapan yang aneh aneh dan sesekali makan malam) dan kebiasaan (tidak lagi ngemil dan hanya minum coffeeblend sesekali) yang berujung pada afirmasi “Nani kurusan ya sekarang” walaupun saya sungguh sangat jauh sekali dari berat ideal, but I know, I’m on my way. 
Selanjutnya saya memutuskan untuk menggunakan jilbab. Alasannya sangat sederhana, saya merasa cantik berjilbab. Bukan untuk menyatakan tobat atau pembuktian atas sesuatu. Namun lama kelamaan, mungkin di situlah menariknya cara kerja Allah, saya jadi tertarik untuk berperilaku seperti orang islam. Kalau sebelumnya saat kaget yang saya lontarkan adalah alat genital, kini jadi takbir. Ada dorongan untuk sholat dan membaca alquran walaupun selama ini (hingga saat ini bahkan) saya menganggapnya meaningless. Ada semacam pertanggungjawaban moril yang saya lakukan subconsciously mungkin. Mungkin.
Terakhir, ini yang sempat bikin shock tubuh saya (literally, saya sempat demam dua hari) adalah keputusan untuk mencukur habis rambut yang 23 tahun terakhir melekat di kepala. Keinginan ini sebenarnya berawal dari saran kang salon langganan. Rambut saya sudah sedemikian berantakannya hingga setiap pagi selepas malamnya keramas, rambut saya akan berbau seperti habis terbakar. Sejarahnya adalah sembilan tahun dengan interval dua bulan sekali rebonding dan enam tahun dibagi enam bulan sekali pewarnaan. Ditambah cerita nenek soal saya yang tidak pernah digundul saat bayi (lantaran konon waktu itu rambut saya halus dan lebat) jadilah keinginan itu diwujudkan pada 22 Nopember silam. Penyesuaiannya berat, kadang kaget sendiri kalau tanpa sengaja melihat kaca. Menjadi sering sakit kepala di pagi hari (mungkin lantaran kepalanya masuk angin kali ye) namun perlahan semuanya teratasi.
Seminggu berselang dan melihat rambut pelan pelan tumbuh (dan kayaknya) sehat itu menyenangkan yaaaaa hahaha.
Perubahan fisik maupun mental yang terjadi paska kejadian kejadian sedih di tahun ini semoga berkelanjutan dengan baik hingga tahun tahun selanjutnya. Untuk tidak lagi mempertanyakan kinerja semesta dan berhenti untuk terlalu banyak memikirkan hal hal yang will happen when it happens. Berfokus pada apa yang terjadi hari ini dan tidak membebani diri sendiri dengan terlalu banyak what if dan rasa bersalah yang tidak habis habis. 
Untuk terus berbahagia dan tidak bersedih lama lama. 
2016 dan usia 24, bring it on!

Jelang 2015

Layaknya ulang tahun, saya selalu bersemangat soal tahun baru. Tahun di mana hal hal bisa dilakukan dengan perasaan baru walopun sebenarnya bentukan saya ya begitu begitu saja. Saya percaya pada kekuatan doa, bahwa doa doa kecil yang dilempar dengan kesungguhan hati akan menemui titik wujudnya kelak.

Banyak sekali doa doa kecil yang saya lontarkan melalui blog ini, dengan sejumput perasaan percaya bahwa ia akan terwujud kelak entah kapan. 2014 akan habis dalam hitungan jam, saya menulis ini melalui kubikal kecil di sore hari yang longgar selepas marathon deadline terkirim dan dipresentasikan. Saya selesai, untuk hari ini.

Saya menulis resolusi 2014 di postingan ini. Keinginan saya polos sekali tahun itu:

Resolusi 22:
1. KULIAH 

2. LAPTOP DAN KENDARAAN BARU
3. JATUH CINTA
4. BEPERGIAN
5. LEBIH SABAR DAN BERKOMPROMI
6. NEW YORK

Ini adalah tahun yang memalukan kerena tidak satupun dari resolusi tersebut terpenuhi hahaha.
Namun entah mengapa saya merasa baik baik saja, tidak merasa terbebani dan resolusi resolusi itu terlupakan di bulan ketiga. Saya hanya ingin membagi highlight kejadian kejadian 2014 di tulisan kali ini. Mengingat banyak bulan di rentang mei-desember yang terlewatkan untuk berbagi kabar via blog seperti yang biasa saya lakukan.

Awal tahun, di awal usia 22 saya menemui jenuh luar biasa dengan pekerjaan di televisi. Ada banyak alasan yang memantapkan langkah saya untuk kemudia resign di bulan Oktober. Bulan mei, tanggal 27 ibu saya meninggal dunia selepas dua minggu sakit keras. Dimulai dari sulit tidur, kaki yang membengkak hingga puncaknya, beliau divonis gagal ginjal dan akan segera meninggal. ‘Segera’ yang mengambil porsi sepekan. Jika saya tau itu adalah minggu terakhir saya melihat ibu, ada banyak sekali yang ingin saya ceritakan pada beliau. Untuk mengganti tahun tahun tanpa kebersamaan dengan beliau semenjak saya sibuk bekerja.

Paska meninggalnya mama, ingatan saya samar. Saya ingat saat menjadi manager event di salah satu cafe besar di sampit, puluhan bahkan ratusan malam yang dihabiskan di kedai kopi, tindakan irasional dalm upaya memenuhi rindu pada seseorang di masa lalu hingga beberapa moment di mana saya mendadak sesak nafas dan menangis sejadinya karena kangen mama.

Selepas lebaran, saya membulatkan tekad untuk berhenti dari televisi yang kemudian disetujui pada bulan oktober akhir. Saya kemudian mendapat tawaran untuk menjadi staff komunikasi di salah satu perusahaan perkebunan sawit dan menjadi corporate slave seperti yang sering dibanggakan kaum urban kelas menengah ibukota itu.

Dengan gaji yang cukup untuk hidup dan berkehidupan, saya kini memasuki bulan kedua di tempat kerja baru. Tidak ada yang mudah dari transisi, terimakasih kepada kamu yang telah berkenan menemani malam malam penuh keluh saya selama Nopember silam. Yang menghibur dan mengajak jalan jalan, yang senantiasa baik dan pengertian. Terimakasih.

Kini 2014 tinggal hitungan jam. ada ribuan resolusi yang ingin saya tuliskan di tahun depan saat berulang tahun. Saya simpan nanti, untuk tahun yang semoga penuh dengan kebahagiaan.

Selamat tahun baru!

Selamat Menjadi 22, Nani!

Saya berulangtahun kemarin. Genap menjadi duapuluhdua tahun, tua yaaa hahahaha. Saya menelikung kebiasaan menulis resolusi (yang biasanya berlabel ‘Resolusi 20, Resolusi 21 dst itu) dan menggunakan judul di atas. Tapi konten posting ini sama saja kok, ini adalah Resolusi 22 saya. 
Setahun terakhir saya diizinkan untuk mengalami usia 21 yang luar biasa. Semuanya sudah saya tumpahkan dalam beberapa posting blog berbulan bulan belakangan sehingga tak perlulah ia menemui repetisi di tulisan kali ini. Intinya saya sangat senang pada 2013, pada usia 21 dengan segala keramaian dan kesunyiannya. Dengan jatuh dan patah cintanya ^^
Kali ini saya merayakan ulang tahun dengan membungkus rapi 22 kopi print out Perempuan Kopi dalam bungkus kado cantik berhiaskan pita. Nani memang perempuan sekali hihi. Semuanya menemui pemilik, baik dalam maupun luar kota, baik yang saya serahkan langsung maupun melalui berkloter kloter pengiriman via pos. Semuanya berisi keinginan untuk berbagi keriaan yang sama dengan saya yang tengah merayakan ulang tahun. Semoga energi ini sampai kepada siapapun yang membaca Perempuan Kopi nantinya.
Norak ya? hahaha. Iya saya tau kok, saya seperti anak kecil kebanyakan energi dan sangat bersemangat saat berulangtahun. Saya bahkan melarang diri sendiri untuk menulis soal resolusi tahun baru sebelum 10 Januari tiba. Tahun ini, saya habiskan energi bermalam malam mengedit ulang Perempuan Kopi, mencetak, memperbanyak lalu membungkusnya serapih mungkin demi alasan yang saya sendiri ga tau apa. 
Saya hanya suka melakukannya, itu saja. Maka beginilah, Nani genap menjadi 22 dan masih punya ratusan hari di 2014 untuk dilewati -semoga- dengan euforia dan kegembiraan serupa sepanjang tahunnya. Amin.
Usia begini masih layakkah untuk dirayakan dengan keriaan yang cenderung berlebihan? Kenapa tidak! Bersama teman teman kantor saya merayakan pertambahan usia dengan kejutan berupa 10 cupcake di atas meja kerja. Malamnya saya berada di tengah dua kawan baik untuk menggila mumpung usia masih muda hahaha. Perayaan ini menyenangkan dan membaginya bersama orang lain menjadi jauh lebih menyenangkan.
Terimakasih untuk semua doa di hari ini, semoga semua yang bagus bagus mewujud dalam kehidupan Nani yang kece ini. Amin!
Resolusi 22:
1. KULIAH 
Keinginan ini tercetus saat bersama presenter senior di televisi tempat saya bekerja menceritakan soal betapa ia ingin kuliah tapi hidup berjalan begitu cepat. Tau tau kerja, nikah, punya anak, dan usia mudanya lewat begitu saja. Waktu itu di kantin kantor pemerintah kabupaten saya sekenanya menjawab “Yuk tahun depan kuliah yuk. Ambil hukum aja biar lucu” dan disambut pendar gembira dan nada antusias dari kawan saya ini. Kami lalu berencana untuk masuk pada gelombang penerimaan mahasiswa di bulan Februari dan mengambil sebanyak2nya SKS agar segera lulus hahaha. Saya tau saya akan sangat malas untuk kuliah kalau ini sekedar resolusi yang dicetuskan sendiri. Kali ini saya sudah kadung membuat janji pada seorang kawan dan terkutuklah saya jika sampai mengecewakan orang lain yang sudah mempercayakan harapannya kepada saya hanya karena alasan malas. Jadi, kita lihat saja ke depannya gimana ^^
2. LAPTOP DAN KENDARAAN BARU
Ini sebenarnya upaya untuk memotivasi diri sendiri agar lebih giat bekerja di tahun ini. Ditambah dari itung2an Nani, tahun ini memungkinkan untuk saya memulai kreditan baru hahahaha.
3. JATUH CINTA
Naif banget ya? membuat semacam target perkara rasa begini. Kepinginan saya simpel kok, agar berjalan keluar dari kotak kebiasaan lama berisi dekralasi-cinta-hanya-kepada-satu-orang-saja itu. Jenuh pada diri sendiri yang hanya bisa merengek dan menya menye soal susah move on. Saya ingin bertemu dengan orang orang baru dan mengenal konsep jatuh cinta di luar kotak itu. Jika rasanya akan berbeda, saya sudah cukup yakin dengan kemampuan kompromi saya kok. Tidak mengeluh dan belajar formulasi baru soal tjinta. Karena Nani sangat sangat layak untuk disayangi :p
4. BEPERGIAN
Entah ke mana, 2014 pengen bisa jalan jalan!
5. LEBIH SABAR DAN BERKOMPROMI
Ini terkait pekerjaan, keluarga dan kehidupan. Saya sadar kalau saya orangnya ga sabaran, terbukti dengan seringnya saya menyenggol barang2 hingga berantakan karena ingin cepat cepat bergerak. Saya yang lebih memilih buat menguliti kulit mangga pake gigi ketimbang berdiri dan mencari pisau atau sekadar jatuh dari sepeda motor lantaran selalu terburu buru kalau berangkat siaran. Antara ga sabaran dan males emang tipis ya, Nan :p ketidaksabaran ini didukung minimnya kemampuan berkompromi sebagai produk akhir dari keras kepalanya saya adalah kombinasi maut untuk menjadi Nani yang menyebalkan hahaha. Saya tidak pernah betah bekerja lebih dari setahun di tempat yang sama, lima tahun terakhir saya sudah bekerja di empat perusahaan berbeda (setahun di antaranya jadi pengangguran) dan ini konyol. 
Sebab ada begitu banyak benefit dari bekerja di tempat menyenangkan dalam waktu lama seperti televisi tempat saya sekarang. Jaminan pensiun, cuti regular, jam kerja yang kian lama kian longgar.. hahaha. Intinya saya ingin berhenti grasak grusuk dan lebih berpikir sebelum bertindak. Agar saya bisa bahagia lalu semua orang di sekitar turut berbahagia. Amin.
6. NEW YORK
Tentu saja, masih ingin berkehidupan di New York.
Segitu saja kok, Resolusi 22nya Nani. Semoga mereka menjadi penyemangat dalam upaya saya untuk terus berbahagia. Ketidakberhasilannya mewujud semoga tidak menjatuhkan saya dalam kondisi tidak bahagia berlama lama. Saya toh yakin Tuhan akan mempertemukan saya dengan orang orang yang akan membantu agar saya tidak terlalu lama menjadi tidak bahagia. Seperti yang ia sudah lakukan selama ini 🙂
 https://i2.wp.com/distilleryimage1.ak.instagram.com/e120843c7aba11e3b9b40e9c7b1acf11_8.jpg

Sesuai janji, saya akan merilis Perempuan Kopi dalam format e-book yang bisa diunduh di sini. Bagi yang ingin kopi print outnya saya bisa sediakan tapi ongkir ditanggung yang request hehe. Untuk yang berminat boleh ke rusnani.anwar@yahoo.com ya.

Oke. Sekian tulisan soal Nani yang sedang berulangtahun. Semoga kepinginn kepinginan di atas dapat terwujud. Semoga banyak bertemu kejadian menarik di tahun ini, semoga bisa bepergian ke kota asing, semoga bisa jadi penulis, semoga punya pacar, semoga hidup berjalan dengan penuh rasa bahagia!

Maka sekali lagi, Selamat Menjadi 22, Nani!

Makanya, Minta.

Minta, kamu bakal dikasih.
Ini kata temen saya yang jago filsafat. Iya, terlepas dari konteks kanon sekalipun, meminta adalah kata kerja yang termasuk dalam kategori berkomunikasi. Kita manusia ini tidak pandai membaca gelagat pikiran orang -walaupun sebagian ada yang mengaku bisa membaca isi kepala orang melalui gesture dan pembacaan sikap- sehingga komunikasi menjadi kebutuhan penting. Mediumnya banyak, melalui tulisan, orasi, ceramah, lukisan, kode morse, apapun. Intinya adalah bagaimana menyampaikan isi kepada kepada manusia lain.
Formatnya ada dalam banyak kata kerja. Menggugat, mengiba, memarahi, mencintai, atau ini, meminta. Objeknya bisa apa saja, barang atau jasa. Namun yang ingin saya tulis kali ini adalah wujud komunikasi interhuman bernama ‘harapan’. Komunikasi interhuman? istilah ini tidak ada di rujukan manapun soalnya saya ngarang hahaha. Gimana manusia berkomunikasi dengan dirinya sendiri gitulah.
Tuhan ada di kedalaman akal, kata kawan saya yang selain jago filsafat juga mendalami ilmu agama itu. Ia selalu menulis bahwa Tuhan bersemayam dalam setiap manusia, mewujud dalam istilah inner peace. Dalam satu titik bernama transenden kita bisa ‘mengakses’ Tuhan dan berkomunikasi serta mungkin, akan mendapat mukjizat seperti yang dijanjikan kitab kitab kanon.
Apa yang saya punya masih sangat sangat jauh untuk ke sana. Komunikasi intrahuman yang saya singgung di atas tak lebih dari upaya saya untuk bicara sendiri dan meyakinkan bahwa Nani adalah seorang yang baik, yang sabar, pekerja keras dan tidak ingin menyakiti siapapun ke manapun ia melangkah. Setiap pagi sebelum bekerja dan malam sebelum tidur.
Lalu, soal minta meminta. Saya belum mengerti konsep sugesti, kekuatan pikiran, ilmu hypnotheraphy dll yang sering dikonsumsi motivator motivator MLM itu. Namun saya percaya bahwa saya adalah produk dari repetisi komunikasi. Apa yang dilakukan dan suara yang ingin disampaikan melalui banyak medium komunikasi itu adalah siapa saya. Sesuatu yang saya tinggalkan kelak ketika perjalanan ini menemui transisi.

2013 akan tamat dan tidak terulang. Banyak sekali kalimat seharusnya tertinggal di tahun ini. Seharusnya saya berupaya lebih keras untuk menjadi copy editor di koran,  seharusnya  saya tidak melamar pekerjaan di televisi,  seharusnya  saya mengemas semua barang dan kembali hijrah ke luar kota,  seharusnya  saya lebih berusaha untuk membuatnya jatuh cinta ^^
Penghujung 2013 tentu tidak ingin saya habiskan dengan kalimat bagaimana jika, seharusnya, dan kalau saja. Tahun ini adalah satu lagi tahun menyenangkan untuk dihabiskan. Saya memulai pekerjaan di televisi dan banyak belajar hal baru, pendapatan bertambah dan kesehatan mama jauh membaik. Saya jatuh cinta dan punya beberapa kawan dekat, mencoba beberapa hal baru dan semuanya membuat saya banyak berbahagia.
Soal komunikasi intrahuman tadi, saya sempat berkomunikasi melalui medium tulisan soal ini: Projek 2013, Weight Loss, semacam setting my own goal gitulaahh. Ditulis sebelum kepikiran buat masuk tipi dan sampai Oktober niatan untuk diet dan olahraga itu tidak kunjung terlaksana. Saya selalu berlindung pada alasan “Butuh alasan kuat untuk melakukan hal hal yang saya anggap tidak terlalu mengganggu kalau tidak diubah” seperti perkara gendut ini. Ketika masuk tipi dan bos menginstruksikan saya buat menjadi presenter, rekan kerja dan bos sendiri tidak mempersoalkan bentukan saya yang mirip dispenser bermicrophone itu. Sayapun tidak menganggapnya sebagai masalah selama saya masih bergerak (ajaibnya, dengan cukup gesit) dan sehat sehat aja.

Minta, kamu bakal dikasih.
Saya meminta pada diri sendiri untuk mengurangi berat badan kala itu. Berjanji malah, untuk banyak berolahraga dan mengurangi camilan tengah malam demi kesehatan. Mungkin lantaran alasan kesehatan masih belum cukup kuat untuk membuat saya memasukkannya ke dalam kanal ingatan lebih lebih sugesti (bok, tau pernah nulis begituan aja barusan pas ngecek posting2 lama hahaha) jadinya saya dikasih faktor pembuat kurus paling ampuh sejak zaman Aphrodite masih pacaran sama Zeus: Jatuh Tjinta.
Saya punya hubungan khusus dengan makanan enak, sungguh. Otak saya kadung terbiasa melepaskan endorphin kala palet lidah bertemu dengan padanan rasa manis-gurih dan lembutnya nasi putih. Jabaran saya soal makanan makanan yang saya suka terangkum dalam www.sampitculinary.blogspot.com karena memang sebesar itulah kemampuan makanan dalam membuat saya bahagia. Hingga Oktober tahun ini belum saya temukan hal hal yang cukup menarik untuk mengalihkan perhatian saya pada makanan enak. Sampai dikasih itu, jatuh cinta.
Pertama kalinya saya gapunya minat terhadap makan siang di rumah makan favorit dan lebih memilih pulang untuk sekadar berbalas pesan. Mungkin, pertama kalinya juga otak saya mengalihkan kebiasaan melepas endorphinnya dari stimulasi indra pengecap ke sistem limbik bernama mengingat wajah-suara seseorang. Bhahahaha ini jadi jijik gini naninya masaaaa.
Intinya saya dikasih apa yang saya minta di tahun ini. Kurusan -belum kurus- setelah dua bulan terakhir tidak menaruh minat berlebih terhadap makanan. Menganggapnya hanya sekedar kebutuhan biologis untuk menjaga fungsi organ tetap berjalan. Hasilnya, 83 kilo ke 68. Mayan, ukuran XL udah longgar kalo dipake B’)))
Noo. I’m not gonna put my before-after picture here simply because its just too herbalife-fey for me 😛