How Far 2017 Would Go

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/38/74/86/3874865264ee88852c1061f9b27023e9.jpg
I can’t make money I’m not Bank Indonesia

Saya ingat betul, pada Juni 2010 dalam perjalanan ke sebuah bukit di Cikarang – Jawa Barat untuk pemotretan poster film Rayya, Cahaya di Atas Cahaya saya mengatakan ini pada Jeanny, wardrobe yang kami hire hari itu:

“Aku ga suka travelling, ide untuk capek capek terbang lama dan segala keriweuhannya bikin males aja” just like an asshole saat Jeanny bertanya apakah saya suka jalan jalan. Saya ingat betul kalimat ini karena memang seumur 19 tahun hidup saya kala itu, Jakarta adalah satu satunya destinasi travelling paling jauh yang pernah saya jejak. Sembilan belas tahun hidup tanpa pernah sekalipun berlibur saya terus menumpuk ide bahwa liburan is a waste of money and energy.

Butuh rentang enam tahun untuk bekerja dan bekerja demi ‘menabung’ CV yang bagus hingga akhirnya bisa mendapat pekerjaan dengan gaji yang bersisa untuk liburan di penghujung bulan. Jika saya menghabiskan bertahun tahun untuk membaca dan membuka dunia dari tulisan semata, maka dimulai sejak usia 23 saya ingin keluar dan melihat dunia sebenar benarnya.

Destinasi travelling saya di 2016 sudah saya bagikan di sini dan membaca kembali entry tersebut mampu membangkitkan senyum. Bahwa meski lemari baju saya tidak penuh terisi barang barang mahal bermerk ataupun tidak makan di restoran mewah setiap hari, hati saya penuh dengan kenangan kenangan baik tentang tempat dan orang orang baru #tsaahhh.

Ada jutaan deskripsi soal mengapa travelling dapat mengubah seseorang, dan satu hal yang saya pahami adalah hal itu benar adanya. Perspektif yang akan bertambah luas dengan pertemanan yang kian banyak adalah satu dari sekian juta mengapa saya begitu menggemari bepergian. Saya mengenal dan mendengar langsung kisah hidup orang orang yang menakjubkan.

Pemandangan yang menakjubkan, pengalaman yang mencerahkan pikiran, they’re really are, things that money can’t buy.

Jurnal travelling 2017 akan saya cicil perlahan dalam entry entry mendatang untuk dikompilasi pada akhir tahun. Dan hitung mundur dimulai sejak Tahun Baru!

Lombok – Gili Trawangan (26 Desember 2016 – 02 Januari 2017)

Sejak pertengahan Desember saya dan Farida sudah kasak kusuk merencanakan ingin berlibur ke mana. Ide bermunculan mulai dari Phi Phi Island, Vietnam (lagi) sampai Maldives! serba muluk memang. Saya sudah berniat untuk ke Bali dalam rangka tahun baru akhirnya setuju untuk melanjutkan perjalanan ke Lombok.

Snorkling adalah kegiatan baru yang saya gemari. Ada kesenangan tersendiri dalam berenang-berlama lama mengambang di lautan dan mengamati laut dari dalam air. Kalau mau roromantisan dan sok sok filosofis, saya menyenangi kesunyian yang absolut saat berenang dan seperti Capricorn kebanyakan (Murakami misalnya hahaha) saya cuma betah melakukan olahraga egois yang tidak melibatkan tim. Saya baru bisa berenang di akhir 2016 setelah 4 bulanan rutin belajar setiap minggu. Di Belitong saya belum berani berenang di laut tanpa life jacket barulah di Gili saya berani berenang di laut sebebas bebasnya!

Kejeniusan bermula dengan dibelinya tiket ke Lombok hingga 2 kali transit padahal ada penerbangan langsung Surabaya – Lombok tanpa harus transit ke Bali terlebih dahulu. Alhasil kami cuma punya kurang dari 24 jam untuk snorkeling di tiga spot di Gili karena keburu abis buat dua kali transit dan nginep di Bali.

Genius.

 

img_8096
Lombok Barat
img_8105
Snorkling Addict @Gili Trawangan
img_8140
Ada Gunanya Belajar Berenang! @Gili Meno
img_8148
Seaside’s Gelato
img_8158
Pelabuhan Gili Air
img_8229
Ngambang di Laut!

Semarang (27 – 29 Januari 2017)

Ini adalah sederet upaya trial kami kaum serikat buruh untuk memanfaatkan hari libur yang hanya 2 hari. Berbekal nekat bolos sebelum jam pulang di hari Jumat untuk mengejar penerbangan ke Semarang, berempat kami berhasil menggeber beberapa situs wisata di Semarang biar kaya turis kebanyakan :)))

img_9204
Gedong Songo
img_9242
Naik Kudaaaaa
img_9275
Lawang Sewu dengan Formasi Paling Turis Sedunia

Candidasa – Bali (04 – 08 Februari 2017)

Dalam rangka disuruh ikutan training lalu melipir ke Bali ngoahahhaa. Cuti yang tidak melimpah membuat jadual bepergian harus diatur sebaik baiknya. Kepingin mengulang pengalaman snorkling, saya bergegas ke Candidasa, sebuah desa keciiiil sekali di Kabupaten Karang Asem, dua jam perjalanan dari Bali. Mendapat review sebagai destinasi gateway yang baik lantaran jauh sehingga ga terlalu ramai, saya mendapat kesempatan untuk melihat Bali dengan wajahnya yang lain. Yang ramah, murah dan menyenangkan :*

img_9712
Blue Lagoon – 2nd Spot of Snorkeling
img_9592
Pantai Lebih, Klungkung
whatsapp-image-2017-02-09-at-5-13-59-pm
Virgin Beach – 3rd Spot of Snorkeling
whatsapp-image-2017-02-09-at-5-17-38-pm
In the Name of Wide Blue Sky and Deep Blue Sea ❤
whatsapp-image-2017-02-09-at-5-22-40-pm
Candidasa – 1st Spot of Snorkeling
WhatsApp Image 2017-02-09 at 5.24.39 PM.jpeg
Gosong tapi BAHAGIA!

Dulu, ketika saya membaca jurnal travelling mereka yang menyebut bahwa Indonesia cantik, kaya dan sayang untuk dilewatkan hanyalah basa basi traveller yang ga punya duit buat ke Maldives (yea, I was that naive) namun ketika melihat sendiri tempat yang dimaksud membuat saya sadar betapa beruntungnya kita orang Indonesia. Segenap keindahan alam dapat diakses dengan mudahnya meski well harus diakui beberapa tempat memang menguras kekayaan untuk disambangi. Namun jika dibanding dengan bule bule yang harus menempuh belasan jam penerbangan, melewati imigrasi dan berpotensi lost in translation maka sungguh, kita orang Indonesia beruntung adanya.

There was a time when I woke up in the middle of he night and feel that my life is such a mess. That I’m a lonely worthless human being. It happens in so many time it starts to affect my sleeping routine. Today when I saw Nani back in two years ago, I really want to thank her for being such a braveheart by taking a chance and conquering the worries of traveling alone in a perfectly strange place.

Eh sekarang malah kecanduan traveling sendirian hahaha.

Beberapa kawan berturut turut menjadi 25 di tahun ini. Saya senang membaca entry blog dan posting media sosial mereka. Usia 25 adalah spesial, konon katanya. Seperempat abad dengan persoalan Quarter Life Crisisnya. Saya justru -semoga tidak ada jinx di kalimat ini- menggenapi usia 25 dengan perspektif bahwa saya sudah mengalahkan krisis usia 25 itu. Betapa di usia ini tidak lagi saya temukan kegalauan kegalauan soal ke mana saya harus berkiblat dan mau jadi apa. Krisis atas penetapan formulasi pertanyaan filosofis paling klasik soal Who am I?

Bikin entry soal Millenials ah.

2017 masih panjang, kegemaran snorkeling semoga senantiasa dipertemukan dengan laut yang cantik dengan biota bawah laut yang masih asik. Semoga senantiasa punya cukup uang untuk bepergian sebab bucket list sedemikian panjang. Semoga di usia 25 bisa punya diving licence biar makin asik main di bawah air.

Sampit, 09 Februari 2017

Labuan Bajo, Maret teteh datang!!:)))

 

My 15 Most Inspiring Authors

Kena tagnya di Path, nulisnya di sini karena for the glory of satan, of course.
1. Seno Gumira Ajidharma
https://rusnanianwardotcom.files.wordpress.com/2016/02/952d2-saksi2bmata.jpg

Kebiasaan membaca buku dimulai dari Enyd Bylton dan R.L Stine. Nani SD adalah pengunjung taman bacaan Pondok Rukun yang kerap menyewa buku buku Lima Sekawan dan Goosebumps. Disertai Lupus, Reuni Para Hantu hingga komik komik Jepang. Saat SMP ketika semua orang membaca teenlit yang tengah populer populernya saat itu, saya membaca Agatha Christie dan roman roman abad pertengahan (Jane Austen, Sandra Brown dkk). Mungkin ini sebabnya referensi romantisme saya sedemikian bebal hahaha.

Seno Gumira adalah temuan di saat SMA sebenarnya. Bosan dengan gaya bahasa terjemahan buku buku luar saya mulai mencari penulis penulis dalam negeri yang bukunya bertebar di Lapak Tualang milik seorang kawan di Bandung. Dimulai dari membaca satu-dua cerpennya yang bertemakan Petrus lalu merambah ke Wesanggini dan Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian. Buku Saksi Mata yang mengangkat tema pembantaian Dili 1991 banyak mempengaruhi gaya tulisan saya di tahun 2008. Satir dan gelap (ditambah dose cukup dari Wiji Tukul, Nani di usia 17 tahun belum pernah sesinis itu)
2. Achdiat K Mihardja
Saya hanya membaca satu bukunya, berjudul Atheis. Saya ingat pernah menemukan buku ini di perpustakaan SMP dan membaca habis tanpa banyak ingat detil ceritanya. Membaca Atheis kembali beberapa bulan lalu kemudian bersegera menyimpulkan kalau saya memang jatuh cinta dengan sastrawan angkatan Pujangga Baru hahaha. Gaya bahasa yang baru saja bangkit dari era ejaan lama dengan pustaka HB Jasmin begitu memesona karena sedemikian baku lagi seksi. Terlepas dari itu, Achdiat membuat saya kagum dengan plot cerita yang pernah saya review di sini
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTL_ia2E4f-_QjcYXGYIokszrOO6uPdbF77oYey_qH7CgAKVqyT3. Stephen Hawking
Tentu tidak perlu saya jelaskan bagaimana hype buku The Grand Design di tahun tahun silam. Tidak perlu saya jabarkan soal isu ketuhanan memang senantiasa menarik untuk dibahas dari zaman ke zaman. Saya salah satu penikmat isu itu, dengan terus bertanya dan membaca, bertanya dan membaca. Dari zaman buku The Road to Allah-nya Jalalludin Rakhmat sampai The Grand Designnya Hawking, saya belum menemukan alasan apa yang mendorong saya percaya soal Allah. Saya, laiknya keterbatasan micro/macro-examination, melakukannya ya karena ingin saja. Sesungguhnya tidak penjabaran mutlak soal ketidakmutlakan free will ya kaaaan.
4. Emma Goldman
Sebagai anonimus di akun @bakunins, saya sendiri lupa apa yang membuat saya sedemikian excite dengan anarkisme di tahun 2012. Mungkin lantaran saya diam diam menyukai @hansdavidian kali ya :)))) ada dorongan impulsif untuk mempelajari anarki dan membuat akun twitter itu. Emma Goldman, adalah author yang membuat saya memikirkan soal feminisme lebih jauh lagi. Saya tidak berada di generasi habis gelap terbitlah terang dengan segenap gombalan feminisme a la kelas menengah ngehe. Goldman membabat habis batasan laki laki dan perempuan dan menempatkan semua orang adalah manusia. Tidak ada privilege dan bias gender. Ini yang kemudian mendorong saya untuk bisa melakukan instalasi listrik sendiri, bertukang dan merakit peralatan elektronik sendiri hingga membuat abah merasa useless saat bertandang ke kos untuk membantu pelaksanaan kerja berat. 
Ideas are bulletproof, my dear.
5.  Jalalludin Rakhmat 
https://i0.wp.com/d.gr-assets.com/books/1235014305l/2864252.jpgPenulis penulis yang menginfluence saya adalah yang sekaligus menjadi trigger atas ketertarikan terhadap sesuatu. Saya memiliki kecenderungan untuk obsess terhadap sesuatu yang menarik. Kalau dirunut dalam satu timeline, sejauh yang saya ingat obsesi saya adalah seperti ini:
Manga, Anime, Metal, Komunisme di Indonesia, Sufistik/Theist, Anarkisme, Greek Mythology, Cosmology/brainworks dan shits hippie says.

And I’m not even kidding when I said obsess. Saya ingat hari hari di mana sedemikian suka dengan anime saya sampai bercita cita jadi ninja dengan ninjutsu penyembuh dan pacaran sama Kakashi. Pernah terlibat komunitas metal dan menggagas beberapa gigs, mengoleksi merch dan kaos hingga kaset kaset rekaman Roadrunner United. Obsesi soal komunisme menelurkan Senja Merah dan tahun tahun di mana tidak ada yang lebih penting di kepala saya kecuali urusan negara yang belum juga menemukan di mana Wiji Thukul sebenarnya. Puncak pendalaman soal theist yang kemudian mendapat milestone berupa penyebutan “@rusnanianwar pasti anonimnya Asyaukani dan Ulil Abshar” lalu akun @bakunins yang menegaskan obsesi terhadap anarkisme yang bertahan sekurangnya setahun lamanya (yang lalu banyak difollow artes twitter itu)

Dan seterusnya dan seterusnya. Obsesi yang bersifat temporal karena saya melihat saya sekarang dan sungguh merasa kehidupan sedang kelewat selow. Saya tidak sedang menyenangi apa apa kecuali ide soal menjadi kurus melalui diet OCD. Sungguh waktu membuat kita jadi cetek begini ya, Tun :))
Jalalludin, adalah trigger saya untuk urusan sufistik. Jauh sebelum saya membuat akun twitter, jauh sebelum saya tau soal JIL dan utankayu. SMA kelas 2, saya mengenal mas Yudha. Beliau adalah lulusan pesantren dengan kemampuan bahasa inggris yang memesona. Berawal dari minta diajarkan bahasa inggris, bertandangnya beliau ke teras rumah berujung pada pembahasan soal Tuhan dan Agama. Saya dipinjamkan buku dengan judul The Road to Allah. Saya ingat saya yang sebulan kemudian sangat sangat alim hingga berfikir untuk mengenakan jilbab dan ingin menghadiri pengajian tasawuf (yang kemudian tidak diperkenankan abah, tentu saja)
Buku yang membuka pikiran saya soal betapa Islam sesungguhnya merupakan agama yang menyenangkan. Dengan konsep pluralisme yang menyentuh. Betapa beragama sungguh perkara sesederhana berbuat baik kepada sesama manusia.
Lalu saya lupa apa yang membuat saya kembali bebal dan tidak islami lagi di tahun tahun berikutnya. Mungkin lantaran pendalaman saya hanya sebatas membaca buku dan euforia sementara. Pada akhirnya yang melekat sebagai label adalah apa yang dilakukan dengan konsistensi kan?
6. Tan Malaka
Madilog adalah groundbase saya dalam belajar berlogika. Komplimen soal “Enak kalo curhat sama nani, jawabannya logis” saya dapatkan paskan membaca Madilog. Ada runutan cara berpikir yang saya coba terapkan dari buku ini, terpujilah beliau dan kemampuan akalnya. 
Paradigma paradigma berpikir serunut isi buku ini tentu belum bisa saya terapkan, ada banyak kausal yang membuatnya menjadi sulit. Faktor geologis dan etnologis misalnya, tapi simpulan paling sederhana dari menggunakan metode Tan Malaka adalah step back and see the whole page.
7. Sapardji Djoko Damono 
https://blogbukufaraziyya.files.wordpress.com/2015/11/hujan-bulan-juni.jpg?w=219&h=327Beliau adalah penulis yang menyelamatkan jiwa romantis saya. Saya selalu sinis dengan perkara cinta cintaan entah untuk alasan apa. Mungkin lantaran referensi bacaan saya yang jauh dari buku buku romantis populer yang kerap Amel bahas (sekali waktu saya pernah membaca buku Falla Adinda dan berujung jengah dan menggumam “Pfft.. selebtwit”) atau ya itu, saya emang berkemampuan untuk menjadi frigid hingga akhir zaman. 

Membaca puisi puisi Damono, melemparkan saya pada potongan potongan senja merah jambu yang berujung dengan perasaan hangat di dalam dada. Kesukaan terhadap puisi puisi Sapardji kian menjadi paska menonton duo Ari Reda secara langsung di Bentara Budaya Jakarta. Musikalisasi puisi yang sungguh syahdu saya hampir menasbihkan diri sebagai kelas menengah berbudaya yang hanya mendengar musik musik kelas atas nan berkualitas.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana 
Setabah hujan di bulan Juni.
Karena akulah si telaga.
 #MashupHore  

8. Leo Tolstoy
Anna Karenina mengantarkan saya pada Leo Tolstoy. Bukunya dipinjamkan ibu produser paling baik hati sejagad ranah hiburan Jakarta dan menghabiskan berminggu minggu membaca bukunya. Tolstoy, di balik nama besarnya melalui War and Peace (yang segera menobatkannya sebagai bapak filsuf politik rusia) justru lebih saya sukai di buku ini. Kenapa? karena Tolstoy adalah ‘manusia’ di buku ini, ditambah adaptasi filmnya yang mayan di tahun 2014 silam, Anna Karenina adalah satu dari dongeng kehidupan aristokrat yang saya suka.

https://i0.wp.com/photos1.blogger.com/blogger/787/545/1600/Embroideries.jpg9. Marjane Satrapi
Oh siapa yang tidak jatuh cinta pada Persepolis? Siapa yang tidak merasa tergugah, menahan nafas dan trenyuh dengan ilustrasi dan gaya penulisan Satrapi? Saya membeli buku Embroideries sebagai buku kedua Satrapi yang saya baca dan makin suka pada sudut pandang perempuan ini.

10. Karl Marx
Oke, saya anak IPS murtad hahaha. Baru mengenal Marxisme justru paska membaca Madilog. Jika bukan karena disebut tulisan tulisan saya Marxis sekali, saya tidak akan menunggu belasan menit untuk mengunduh sekedar .PDF artikel artikel beliau lalu membacanya dengan tekun. Saya berakhir dengan senyum simpul dan menertawakan komentar tersebut dengan ketertakjuban kenapa bisa seterkiblat itu pada Marx.

mungkin lantaran tidak ada yang benar benar original di bawah matahari kan ya?

11. NH Dini
Begini, saya tumbuh di era SD-SMP dalam kondisi sangat miskin sampai sampai keluarga kami tidak memiliki uang untuk ikut beramai ramai menggunakan televisi parabola. Di kotak TV 14 inci kami hanya ada TVRI berkat antena alakadarnya. Kondisi ini praktis membuat saya tidak menonton televisi kecuali jam 4 sore untuk tayangan Pak Odor dan Tara anak Tengger. Gugat saya semasa kecil soal kenapa kami tidak punya TV digital untuk menonton sinetron yang tengah hype di kawan kawan saya berujung syukur saat ini. Karena kemiskinan itu saya jadi memiliki referensi bacaan yang lumayan.

Hiburan untuk Nani kecil adalah perpustakaan daerah. Menjadi anggota di sana dan rutin meminjam sekedar buku bergambar hingga akhirnya berani masuk ke area non bacaan anak anak dan mulai mengenal penulis penulis angkatan baru, 45, 60 hingga angkatan reformasi. Sederet nama seperti YB Mangunwijaya, Sutan Takdir Alisjahbana, Marah Rusli, Putu Wijaya hingga NH Dini masih saya ingat dengan baik beserta karya karya mereka.

NH Dini dikenal dengan bukunya yang fenomenal; Namaku Hiroko. Buku yang bisa dibilang one hit wonder lantaran saya tidak pernah mendengar gaungnya lagi selepas buku itu. Lalu beberapa bulan silam menemukan buku dengan judul Padang Ilalang di Belakang Rumah dan bersegera menuntaskan nostalgia pada penulis yang membuat masa kecil Nani banyak membayangkan soal penjajah Jepang dan jugun ianfu.

12. Ugaran Prasad
Definisi author masuk dalam penulis lirik juga kan ya boleh ya ya ya. Hahaha. Ugaran Prasad saya temukan di blog yang kerap mengupdate tulisan tulisan yang masuk dalam kompas. Mulai dari SGA, Gunawan Muhammad hingga Djenar Maesa Ayu. Prasad, menyempil di antara nama nama itu dengan cerpennya Sepatu Tuhan, kisah soal Maradonna dan fenomena tangan Tuhan dengan ending yang apik.

Lama berselang dan saya mendapat kiriman album Anamnesis milik Melancholic Bitch dan tebak siapa vokalisnya? Yep. Ugaran Prasad. Tulisan tulisannya yang saya sukai itu mewujud dalam deretan lirik yang subhanallah membuat saya bersemangat untuk bergumam “Anjrit ini bagus banget”

13. Chie Watari
Kenapa Nani punya selera horor yang lumayan eksentrik? salahkan Chie Watari :)) kesehatan jiwa anak muda manapun bakal terganggu jika sepanjang waktu luangnya dihabiskan untuk membaca komik horor dengan plot cerita yang buangsat dan ilustrasi yang gore nan graphic semacam Misteri Sepotong Tangan misalnya. Kenapa tidak saya habiskan masa muda dengan nonton anak seusia saya main basket dan pacaran, misalnya. Kenapa?

14. Jane Austen
Another romantic author. Buku buku Jane, utamanya Emma dan Pride and Prejudice mengusung tema feminisme tanggung yang membuat saya terkadang gemes sendiri dengan konflik yang dihadapi Emma dan Elizabeth. Di buku Mansfield Park dan Sense and Sensibility barulah saya paham bagaimana Austen ingin menalarkan kegelisahannya sebagai perempuan di abad 18. Kebutuhan feminisme memang sesepele itu mengingat kondisi sosial budaya yang melatari kisah kisahnya. Tentu tidak akan countable jika dijadikan default untuk masyarakat sekarang. Hm.

15. Charles Dickens
Seperti semua orang, perjalanan mengenal Dickens dimulai dari A Christmast Carol. Meski bersekolah di SD Muhammadiyah, perpustakaan SD saya ternyata menyimpan buku usang bertema natal itu. Lalu beralih ke Oliver Twist, lalu Three Ghost Story dan terakhir The Great Expectations.

So, am I took this tagging game too seriously?

Catatan Sampit

Berjanji kepada calon warga kota Sampit @RizmaNurani untuk menulis soal Sampit. Saya kesulitan mengumpulkan tulisan2 lama lantaran tidak begitu banyak menjabarkan kota ini. Ini akan menjadi posting soal kota Sampit, semoga Risma betah membacanya ^^
Sampit merupakan ibukota kabupaten. Nama kabupatennya sendiri adalah Kotawaringin Timur yang terdiri dari 15 kecamatan. Bertetangga dengan kabupaten Seruyan (Kuala Pembuang), Katingan, dan Kotawaringin Barat (pangkalanbun) Yang saat ini sedang ramai adalah upaya pembentukan provinsi bernama Kotawaringin yang akan menggabungkan lima kabupaten2 di atas. Prosesnya sudah masuk tahap pengajuan rekomendasi ke Mahkamah Konstitusi. Jadi, Sampit adalah sebutan untuk sebuah kota kecil yang terdiri dari 2 kecamatan (Baamang dan Ketapang) dan tidak terlalu luas.
Yang luas adalah kabupaten Kotim-nya, bukan Sampit-nya. Di Sampit, lantmi dan pemerintahan ada di kota ini. Ada dua terminal, satu bandara, dua pelabuhan besar dan banyak sekali usaha retail dan franchise besar yang pernah dan buka di sini. Ada Jogja Chicken, Ayam Bakar Wong Solo, CFC, Pustaka 2000, Timezone, Matahari, Bakso Lapangan Tembak Senayan Jakarta, Inul Vizta, Coffee Toffee sampai yang terbaru adalah Hypermart.
Sungai Mentaya dan pasar modern PPM
Lokasinya yang berada di pinggir sungai Mentaya juga menguntungkan Sampit dari segi ekonomi. Ditambah dengan puluhan perusahaan besar sawit (PBS) yang beroperasi di kabupaten ini membuat Sampit dihinggapi banyak investor untuk urusan retail-franchise di atas. Dibanding Palangkaraya, kemajuan pembangunan di Sampit jauh lebih cepat karena perputaran uang yang juga lebih cepat ini.
Saya perlu ngomongin soal APBD dan pagu anggaran pemerintah daerah ga ya? yang pasti setiap tahun pendapatan asli daerah (PAD) Kotim selalu di atas 100 persen dari target awal. Tahun ini 100,4 persen. But we’ll skip that, gapenting hehehe.
Sebelum puluhan Perusahaan Besar Sawit merajai wilayah kabupaten Kotim, kota ini terkenal dengan logging di mana perusahaan besar kayu berjaya hingga awal tahun 2000an (saat itu razia ketat di mana mana, tidak sedikit yang kolaps gara2 kasus ilegal logging) kala itu ada beberapa nama perusahaan kayu raksasa di kotim antara lain NV Dajak Hovriben (belanda),  PT. Meranti Mustika (Singapura) dan lainnya
Rumah khas era belanda
Dari segi budaya, Sampit merupakan asimiliasi dari banjar dan dayak. Memiliki bahasa asli bernama bahasa dayak Sampit yang sayangnya hanya segelintir orang yang bisa berbahasa ini. Kurikulum di sekolah sekolah tidak lagi memuat bahasa dayak sebagai pelajaran muatan lokal dan ini sangat memprihatinkan.
Posisinya sebagai pusat ekonomi membuat banyak pendatang di kota Sampit. Menemui orang dayak asli di Sampit bukan perkara mudah sebab kota ini didominasi suku Jawa, Madura dan Banjar. Hal ini membuat nilai toleransi di kota Sampit cukup tinggi terutama pasca kerusuhan yang terjadi 2001 silam. Sekarang semuanya hidup berdampingan dalam koloninya masing masing dan semoga selalu damai yaa ^^
Semoga berkenan dengan tulisannya yaa.

Logika Rasa

Saya lupa mereview tulisan ini. Eniwei awal bulan silam saya mengkontribusikan tulisan alakadarnya untuk zine Suketteki yang terbit fisik di kota Malang. Yang berada di kota itu monggo disabet zinenya, gratisan ini.

Disusun oleh Eko Marjani dan Hangga Rachman, dua penggagas scene alternatif Malang yang namanya udah malang melintang itu (sumpah saya ga kreatif banget hari ini) menjadikan Suketteki sebuah zine yang ga ada hubungannya dengan Jepang sama sekali. Suket teki kali ya, pepatah jawa soal gajah yang tertimbun rumput teki itu.

Eniwei saya menulis ini;

L o g i k a Rasa                              
Rusnani Anwar | @polariaaa

Tidak semestinya perkara rasa dijabarkan melalui logika. Demikian yang saya dengar dari kicauan tweet seorang pesohor akademik. Diam diam saya mengamini. Tidak selayaknya sesuatu yang definisinya saja tidak jelas ditempatkan dalam logika jika A adalah B maka B adalah A. Ia hanya bisa dijabarkan melalui disiplin filsafat, di mana kemungkinan A menjadi alfabet lain hingga forma non alfabet menjadi mungkin.

Batasan filsafat adalah tepian kemungkinan dan logika menyederhakannya dalam kausal kausal yang disepakati sebagai kebenaran. Lantas bagaimana cara menyebut sakit hati adalah sakit hati jika setiap palet rasa manusia tidak memiliki ketetapan yang sama?

Yang menarik adalah kecenderungan untuk mengasosiasikan logika sebagai wilayah kerja otak dan rasa sebagai wilayah kerja hati. Kita sering lupa bahwa hati tidak dirancang untuk memiliki kemampuan mengolah perasaan. Semua rasa itu asalnya dari otak. Sistem limbik melalui amigdala dan hippokampus yang memproses kejadian dan menyimpulkannya sebagai galaw, sedih, senang, bahagia.

Tak heran jika sesekali dalam hidup, kita mengambil keputusan keputusan irasional yang jika dipikir kembali, hal tersebut sama sekali tak logis untuk dilakukan. Terimakasih kepada otak yang bekerjasama dengan kelenjar adrenal dan membuat masa muda kita menjadi tak ubahnya sepotong perahu di tengah badai.

Saya menulis ini sebagai ucapan selamat atas proyek zine yang Bimo bilang baru dimulainya bersama kawan. Saya mengerti tulisan semacam ini hanyalah kicau berkepanjangan yang sesungguhnya tidak pantas diterbitkan. Namun saya kirimkan juga, atas nama dorongan adrenal yang mungkin sepuluh tahun dari sekarang saat saya baca kembali, saya akan tertawa dan merasa ini tak logis.

Manusia modern dan peradabannya mengantarkan kita pada era di mana social pain dapat diputus dengan mudah layaknya physical pain. Penelitian menyebut bahwa anthistamine (kaya paramex, xanax, obat batuk, dll) dapat memotong sirkuit itu dari otak ke pemfungsi tubuh lain. Hal ini dapat menghindarkan kita dari perasaan tak keruan yang dapat berujung pada physical pain itu. Tidak seperti yang terjadi di abad ke delapanbelas di mana sebuah ‘penyakit’ bernama nervousa menjadi tren (yang berujung pada bunuh diri massal) dan tidak siapapun bisa menghentikannya (Madness and Civilization Michael Foucault page 151).
Urusan rasa, ternyata bisa diobati dengan logika.

Jika rasa adalah produk keluaran otak, maka logikanya Kita bisa mengatur bagaimana sebuah kejadian itu agar tidak masuk ke sistem limbik, amigdala dan hippokampus untuk kemudian menghentikan otak mengeluarkan endorfin, serotonin, dopamin dan sebagainya. Dengan mengurangi fokus dan mereduksi ingatan pada sebuah kejadian, memori akan memprosesnya sebagai short term memory sehingga misalnya, wajah gebetan, hal hal romantis yang ia lakukan akan mudah dilupakan layaknya kejadian kejadian kecil seperti mencuci piring di dapur.

Ketika sebuah kejadian diproses ke dalam long term memory, ia akan berpotensi untuk diakses amigdala dan hippokampus untuk disimpulkan sebagai sesuatu yang penting dan otak akan release zat zat adiktif yang akan diproses menjadi perasaan senang, sedih, galau, menyesal, kuatir dan sebagainya. Setiap ingatan yang masuk ke dalam long term memory memiliki kausal kunci. Misalnya, kalau kita ke Amerika dan nanya mereka sedang apa pada saat 11/9, mereka akan ingat betul meski hanya sedang memasak di dapur. Kausal kuncinya adalah kejadian besar itu. Kita lantas menyimpulkan kita sedang jatuh cinta saat kausal kuncinya adalah seseorang yang secara sosial disetujui sebagai gebetan.

Jadi, sederhananya, soal rasa bisa diatur oleh logika. Kita punya kendali untuk tidak jatuh cinta, tidak patah hati dan tidak galau.

Mari kita lihat berapa lama simpulan ini dapat bertahan dalam lembah inkonsistensi manusia.



Books : L O G I K A Drs. H. Mundiri
Madness and Civilization Michael Foucault.
Song : The Beatles – Rubber Soul Album



Menulis ini seperti ditulis di atas saat sedang sangat tertarik dengan sistem kerja otak yang sayangnya gagal saya pahami sangat jauh dan hasilnya ya begitulah, jabaran alakadarnya. Terimakasih untuk Bimo/Eko Marjani yang telah memberi ruang untuk tulisan ini dalam zine kelahiran pertama mereka. Semoga awet hingga issue #takterhingga!

Featured : Zine Late For School #3

Penampakan LFs #3 setelah difisikkan
Beberapa waktu lalu saya menemukan Late for School melalui twitter. Kini, sebulan berselang merekapun merilis edisi ketiga. Yang dibahas edisi kali ini adalah curhatan galaw para editor pemilukada yang bakal digelar 2014 kelak. Edisi #3 mengandeng beberapa kontributor yang cukup untuk mem-boost halaman hingga berjumlah delapan. 
Tak seperti edisi sudah sudah, kali ini mereka sengaja merilis dalam versi .pdf printable. Jadi, kalau dibaca via .pdf, lumayan njelimet. Versi fisik akan segera beredar di Bloodshine Merch Jl. Ki Hajar Dewantara depan SMKN PGRI. Atau download di sini

Saya mendapat kehormatan untuk turut menulis dalam zine ini.

Click to enlarge

Paradigma Kebebasan Kotak Suara
/Sejak awal, pemilihan umum adalah akumulasi lawak sarat/ dimana birokrat, tengkulak, cukong dan militer bersejawat/
Konon, kita telah memasuki masa modern. Di mana demos dan kratos sudah diterapkan pada nyaris seluruh belahan dunia. Demokrasi menjadi bahasa modern, sebab bahasa bahasa lain sudah menemui titik kadaluarsa dan tidak lagi efisien.Haram hukumnya jika kita tak berbondong-bondong memuja berhala modern bernama kebebasan. Kebebasan memilih, meski dibatasi pilihan hasil olahan kapitalis yang berdalih telah menegakkan fatwa soal verifikasi dari persetujuan para petinggi.
Efisiensi demokrasi sesungguhnya patut dipertanyakan.Terutama terhadap negara seluas Indonesia.Seberapa banyak kertas, kotak suara, celupan tinta dan pengadaan komputer untuk pemilu elektronik yang dihabiskan hanya untuk sebuah hajat lima tahunan yang digelar bergerinjal di hamparan nusantara. Lantas terdengar sayup korporasi pencetak, penyedia tinta, suplier kotak suara yang berbahagia setelah menang tender ratusan juta.Di atas semua itu, rakyat pemilik suara musti legowo menerima kemungkinan penggelembungan suara, invaliditas pencoblosan dan harapan harapan yang tak terpenuhi. 
Lalu negara membangun pengawas pemilu, menunjuk tim investigasi, lalu KPK, dan seterusnya, dan seterusnya. Demokrasi yang konon merupakan produk modern –meski telah melalui peradaban ribuan zaman- itu, toh harus tunduk jua pada sistem olahan manusia manusia mutakhir bernama birokrasi. Pemilukada Seruyan menuai harapan sekaligus pembuktian.Bahwa roda kekuasaan serikat keluarga Darwan Ali bisa dihentikan dengan terpilihnya pasangan independent yang merogoh 53 persen suara. Harapan bahwa pemimpin baru bisa memberikan kemakmuran yang diidamkan, sekaligus pembuktian bahwa masyarakat kian cerdas dalam memilih pemimpinnya.
Sebentar. Cerdas? Apa yang menjamin bahwa birokrasi berbelit perkara kepengurusan izin, akses peradilan dan kesehatan akan terurai menjadi lebih singkat dengan terpilihnya pemimpin baru ? Ini sebenarnya semacam ilusi Jokowi, ilusi pembangunan citra dan sorotan berlebih terhadap kesuksesan program program non prioritas. Semacam ibadah televisi. Berhala rating dan deretan saf panjang menuju pemuaraan persepsi.
Atau rakyat yang sedemikian lemah daya tahannya, hingga ketika digempur oleh janji dan iming-iming soal pendidikan gratis, akses kesehatan mudah dan kemakmuran merata menjadi tak ubahnya oase di selatan Ujung Pandaran yang amit-amit gersangnya luar biasa. Sekarang warga Kotim bisa menikmati perwujudan tahun ketigadari permakmuran merata dan pendidikan gratis. Berupa patung ikan senilai 40 miliar.

Dan lupakan soal e-KTP saya yang nyasar entah kemana berkat kusutnya sistem distribusi dari para camat melalui lurah dan ketua RT. Jangan bahas soal antrian panjang BBM, para pengecer minyak tanah yang terancam kehilangan pekerjaan dan melambungnya harga bawang. Semua itu bisa terentaskan dengan sibuknya bupati menyusun jadwal debat terbuka atas pembangunan patung ikan seharga 40 miliar. Beserta bonus tempat wisata. Percayalah, kita ini tengah bergerak cepat membangun Kotim.
@bakunins
Semoga edisi #4 tak berjeda terlalu lama yaaa 😀
Support our local scene!

Sampit Berisik Present ; Silent Scream

“Nama acara ini tuh apa ya?”
Saya tak sengaja melontarkan pertanyaan ini kepada salah seorang pembesut kegiatan, Mas Edy, saat acara setengah berjalan. Pasalnya, saya mendapat rantaian pesan singkat yang menyebut Sampit Berisik namun kemudian menemukan backdrop panggung berbuyi Silent Scream. Beliau tertawa dan bilang kalau ini (belum) Sampit Berisik, namanya Silent Scream. Gig kecil sebelum nanti digelar Sampit Berisik yang lebih besar. Dan konon akan mengundang nama besar dalam skema blackmetal indonesia. ihiy.
Maka begitulah, sebuah gig yang diprakarsai (Mas Agus yang resmi membuka Bloodshine Merch malam itu), Mas Edi, Padung Hitam dan komunitas metalcore Sampit berlangsung sejak pukul setengah delapan malam di halaman gedung KNPI. Saya datang bersama kru dari zine Late for School yang mengemban tugas mulia : untuk membagikan sekurangnya 50 pcs zine laknat itu kepada kawan kawan luar daerah. Yang kemudian habis dalam hitungan menit. Soalnya dikit. Hahahaha.

Panggung dijejak pertama kali oleh Brutu Fuck yang membawakan dua nomor pembuka. Band asal Palangkaraya ini sukses mengencerkan dahak yang serak dari crowd yang kemudian mulai bergerumul dan membentuk shaf rapih di lini depan panggung. 
http://www.facebook.com/Ryugahi

Penampil kedua adalah Dread Out, band Sampit yang malam itu sukses menarik massa untuk terus maju dan memulai ibadah headbang. Redemption dan Redneck dari Lamb of God dibawakan dengan apik hingga tanpa terasa kaki saya mulai pegal lantaran terlalu lama berdiri.

Sempat disinggung bahwa crowd tak terlalu bersemangat malam itu. Sebab jika dikomparasi dengan Boneka Tanah #2 dan #3 yang digelar nyaris setahun lalu, massa terlihat lesu. Bisa jadi lantaran berbedanya genre yang diusung, atau semata lantaran kekurangan teknis seperti sound yang kurang menggelegar. Tapi, untuk skala gig independen yang diselenggarakan berkat dana kolektif, Silent Scream ini tergolong sukses sebab ia berhasil menunaikan fungsi utamanya: sebagai wadah berkumpul dan bersenang senang.
Okesip, lanjut. Yang digadang gadang menaiki panggung dan melancarkan nomor nomor pamungkasnya. Blackmetal dari Sampit, Padung Hitam membawakan lagu mereka sendiri Dunia Hitam, Sakaratul Maut, Kematian, Siksa Akherat dan satu lagu Dimmu Borgir, Moarning Palace.
Setelah puas dengan aura mencekam di atas panggung, kita kita penonton keceh inipun disuguhkan BLFF yang membawakan beberapa lagu Asking Alexandria. Penampilan mereka cukup untuk melemaskan segala yang tegang setelah berbaku hantam dengan empat band sebelumnya.

http://www.facebook.com/Ryugahi

Brutu Fuck kembali tampil. Kali ini dengan format orkes keliling mereka membawakan sekurangnya sepuluh lagu. Dengan durasi masing masing lagu semacam Beca Tiguling Mesin Tempur yang dipepatkan dalam satu gebukan drum. 

Penutup, Battle Death tampil dengan berbeda sebab mereka satu satunya penampil dengan suara jernih yang bernyanyi. Menjadikannya semakin menarik sebab lagu merekalah yang diperlukan untuk menuntaskan klimaks yang telah dicapai. Tsah.

Silent Scream, Sampit Berisik atau apalah namanya acara ini, saya rasa sudah lebih dari cukup untuk menegaskan perihal skema independent sampit, terutama genre metalcore.

Terimakasih atas penyelenggara yang telah menyuguhkan sebuah panggung apik untuk kami. Semoga kelak bertemu lagi gig kece semacam ini :’)

Review : Zine Sampit Bernama Late For School

Jadi begini, saya sesungguhnya berniat buat kalem dan mereview zine ini seanggun mungkin. Namun maafkanlah, saya jejeritan -tertahan- dari dalam kubikal tempat segala kemuliaan internet berasal berkat 7 halaman zine ini. Late For School saya terima tadi malam, edisi kedua. Terkutuklah yang membuat saya tak lagi mampu mendeteksi perkembangan perindiean Sampit. Terlepas dari itu, zine ini mengingatkan saya pada dua zine favorit saya saat ini; Apokalips dan Paperzine.
Edisi Pertama Late For School

Apalagi kalau bukan rentetan kalimat anti-kapitalis, profil Homicide dan gaya bahasa Late For School yang mengingatkan saya pada dua zine di atas. Meski baru dua edisi, senang rasanya bisa membaca tulisan tulisan seperti ini dengan lingkup bahasan yang lebih lokal. Seperti kondisi jalanan Bagendang, misalnya. Atau sekutip dua kutip kalimat berbahasa Sampit serta review musik mereka yang cukup menarik.

Zine ini layak mendapat wadah dan kesempatan untuk diterbitkan secara fisik. Follow twitter mereka di download .pdf nya di sini (edisi #1) dan (edisi #2) serta mari bersama sama berdoa agar zine ini panjang umur!