How Far 2017 Would Go

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/38/74/86/3874865264ee88852c1061f9b27023e9.jpg
I can’t make money I’m not Bank Indonesia

Saya ingat betul, pada Juni 2010 dalam perjalanan ke sebuah bukit di Cikarang – Jawa Barat untuk pemotretan poster film Rayya, Cahaya di Atas Cahaya saya mengatakan ini pada Jeanny, wardrobe yang kami hire hari itu:

“Aku ga suka travelling, ide untuk capek capek terbang lama dan segala keriweuhannya bikin males aja” just like an asshole saat Jeanny bertanya apakah saya suka jalan jalan. Saya ingat betul kalimat ini karena memang seumur 19 tahun hidup saya kala itu, Jakarta adalah satu satunya destinasi travelling paling jauh yang pernah saya jejak. Sembilan belas tahun hidup tanpa pernah sekalipun berlibur saya terus menumpuk ide bahwa liburan is a waste of money and energy.

Butuh rentang enam tahun untuk bekerja dan bekerja demi ‘menabung’ CV yang bagus hingga akhirnya bisa mendapat pekerjaan dengan gaji yang bersisa untuk liburan di penghujung bulan. Jika saya menghabiskan bertahun tahun untuk membaca dan membuka dunia dari tulisan semata, maka dimulai sejak usia 23 saya ingin keluar dan melihat dunia sebenar benarnya.

Destinasi travelling saya di 2016 sudah saya bagikan di sini dan membaca kembali entry tersebut mampu membangkitkan senyum. Bahwa meski lemari baju saya tidak penuh terisi barang barang mahal bermerk ataupun tidak makan di restoran mewah setiap hari, hati saya penuh dengan kenangan kenangan baik tentang tempat dan orang orang baru #tsaahhh.

Ada jutaan deskripsi soal mengapa travelling dapat mengubah seseorang, dan satu hal yang saya pahami adalah hal itu benar adanya. Perspektif yang akan bertambah luas dengan pertemanan yang kian banyak adalah satu dari sekian juta mengapa saya begitu menggemari bepergian. Saya mengenal dan mendengar langsung kisah hidup orang orang yang menakjubkan.

Pemandangan yang menakjubkan, pengalaman yang mencerahkan pikiran, they’re really are, things that money can’t buy.

Jurnal travelling 2017 akan saya cicil perlahan dalam entry entry mendatang untuk dikompilasi pada akhir tahun. Dan hitung mundur dimulai sejak Tahun Baru!

Lombok – Gili Trawangan (26 Desember 2016 – 02 Januari 2017)

Sejak pertengahan Desember saya dan Farida sudah kasak kusuk merencanakan ingin berlibur ke mana. Ide bermunculan mulai dari Phi Phi Island, Vietnam (lagi) sampai Maldives! serba muluk memang. Saya sudah berniat untuk ke Bali dalam rangka tahun baru akhirnya setuju untuk melanjutkan perjalanan ke Lombok.

Snorkling adalah kegiatan baru yang saya gemari. Ada kesenangan tersendiri dalam berenang-berlama lama mengambang di lautan dan mengamati laut dari dalam air. Kalau mau roromantisan dan sok sok filosofis, saya menyenangi kesunyian yang absolut saat berenang dan seperti Capricorn kebanyakan (Murakami misalnya hahaha) saya cuma betah melakukan olahraga egois yang tidak melibatkan tim. Saya baru bisa berenang di akhir 2016 setelah 4 bulanan rutin belajar setiap minggu. Di Belitong saya belum berani berenang di laut tanpa life jacket barulah di Gili saya berani berenang di laut sebebas bebasnya!

Kejeniusan bermula dengan dibelinya tiket ke Lombok hingga 2 kali transit padahal ada penerbangan langsung Surabaya – Lombok tanpa harus transit ke Bali terlebih dahulu. Alhasil kami cuma punya kurang dari 24 jam untuk snorkeling di tiga spot di Gili karena keburu abis buat dua kali transit dan nginep di Bali.

Genius.

 

img_8096
Lombok Barat
img_8105
Snorkling Addict @Gili Trawangan
img_8140
Ada Gunanya Belajar Berenang! @Gili Meno
img_8148
Seaside’s Gelato
img_8158
Pelabuhan Gili Air
img_8229
Ngambang di Laut!

Semarang (27 – 29 Januari 2017)

Ini adalah sederet upaya trial kami kaum serikat buruh untuk memanfaatkan hari libur yang hanya 2 hari. Berbekal nekat bolos sebelum jam pulang di hari Jumat untuk mengejar penerbangan ke Semarang, berempat kami berhasil menggeber beberapa situs wisata di Semarang biar kaya turis kebanyakan :)))

img_9204
Gedong Songo
img_9242
Naik Kudaaaaa
img_9275
Lawang Sewu dengan Formasi Paling Turis Sedunia

Candidasa – Bali (04 – 08 Februari 2017)

Dalam rangka disuruh ikutan training lalu melipir ke Bali ngoahahhaa. Cuti yang tidak melimpah membuat jadual bepergian harus diatur sebaik baiknya. Kepingin mengulang pengalaman snorkling, saya bergegas ke Candidasa, sebuah desa keciiiil sekali di Kabupaten Karang Asem, dua jam perjalanan dari Bali. Mendapat review sebagai destinasi gateway yang baik lantaran jauh sehingga ga terlalu ramai, saya mendapat kesempatan untuk melihat Bali dengan wajahnya yang lain. Yang ramah, murah dan menyenangkan :*

img_9712
Blue Lagoon – 2nd Spot of Snorkeling
img_9592
Pantai Lebih, Klungkung
whatsapp-image-2017-02-09-at-5-13-59-pm
Virgin Beach – 3rd Spot of Snorkeling
whatsapp-image-2017-02-09-at-5-17-38-pm
In the Name of Wide Blue Sky and Deep Blue Sea ❤
whatsapp-image-2017-02-09-at-5-22-40-pm
Candidasa – 1st Spot of Snorkeling
WhatsApp Image 2017-02-09 at 5.24.39 PM.jpeg
Gosong tapi BAHAGIA!

Dulu, ketika saya membaca jurnal travelling mereka yang menyebut bahwa Indonesia cantik, kaya dan sayang untuk dilewatkan hanyalah basa basi traveller yang ga punya duit buat ke Maldives (yea, I was that naive) namun ketika melihat sendiri tempat yang dimaksud membuat saya sadar betapa beruntungnya kita orang Indonesia. Segenap keindahan alam dapat diakses dengan mudahnya meski well harus diakui beberapa tempat memang menguras kekayaan untuk disambangi. Namun jika dibanding dengan bule bule yang harus menempuh belasan jam penerbangan, melewati imigrasi dan berpotensi lost in translation maka sungguh, kita orang Indonesia beruntung adanya.

There was a time when I woke up in the middle of he night and feel that my life is such a mess. That I’m a lonely worthless human being. It happens in so many time it starts to affect my sleeping routine. Today when I saw Nani back in two years ago, I really want to thank her for being such a braveheart by taking a chance and conquering the worries of traveling alone in a perfectly strange place.

Eh sekarang malah kecanduan traveling sendirian hahaha.

Beberapa kawan berturut turut menjadi 25 di tahun ini. Saya senang membaca entry blog dan posting media sosial mereka. Usia 25 adalah spesial, konon katanya. Seperempat abad dengan persoalan Quarter Life Crisisnya. Saya justru -semoga tidak ada jinx di kalimat ini- menggenapi usia 25 dengan perspektif bahwa saya sudah mengalahkan krisis usia 25 itu. Betapa di usia ini tidak lagi saya temukan kegalauan kegalauan soal ke mana saya harus berkiblat dan mau jadi apa. Krisis atas penetapan formulasi pertanyaan filosofis paling klasik soal Who am I?

Bikin entry soal Millenials ah.

2017 masih panjang, kegemaran snorkeling semoga senantiasa dipertemukan dengan laut yang cantik dengan biota bawah laut yang masih asik. Semoga senantiasa punya cukup uang untuk bepergian sebab bucket list sedemikian panjang. Semoga di usia 25 bisa punya diving licence biar makin asik main di bawah air.

Sampit, 09 Februari 2017

Labuan Bajo, Maret teteh datang!!:)))

 

Advertisements

Liturgi Melankolia dan Semiotika Rajatega

Begitu mendapati buku Setelah Boombox Usai Menyalak dalam kiriman buku bulanan dua bulan silam, saya segera menjadikan buku bersampul cokelat ini sebagai next playlist dalam anggaran baca buku bulanan saya. Begitu menyelesaikan 1Q84 yang naudzubilah tebalnya itu, saya justru terlupa dengan keberadaan buku yang belinya pakai acara ngotot dulu sama mas Ilham lantaran dicetak terbatas dan PO dulu duluan ini. Hingga tiga buku kemudian barulah saya ngeuh kalau saya masih berhutang janji untuk menamatkan buku ini.

Untitled.jpg
Tiap berhasil menamatkan buku di kantor, saya merasa seolah melakukan sebuah pemberontakan melalui metode makan gaji buta :))

 

Herry Sutresna yang kemudian lebih dikenal sebagai Ucok Homicide adalah salah satu pembesar skena hiphop underground di Bandung. Eranya bangkit beriringan dengan nafas musik metal yang berembus dari wilayah rural Ujung Berung. Meski bukan penggemar hip hop secara partikular, kesukaan saya pada musik underground di era 2007-2011 sedikit banyak mengantarkan saya pada karya karya Pak Ucok, utamanya melalui Homicide.

Beberapa lagunya kerap saya jadikan anthem bagi kondisi sosial terkini. Saat FPI tengah mendesak Jaringan Islam Liberal dan kerap melakukan sweeping pada diskusi diskusi kiri, misalnya, saya akan bergumam lagu Puritan dan mengutip sepenggal-dua penggal liriknya untuk di-tweet. Atau saat agak berlebihan membaca buku buku sufistik, maka Siti Djenar Cypher Drive akan menemani kepala saya seharian. Juga pada setiap peringatan hari diculiknya Wiji Thukul, saya akan memutar Sajak Suara yang merupakan musikalisasi dari puisi beliau.

Semiotika Rajatega, Panoptikanubis, Membaca Gejala dari Gejala, Boombox Monger dan beberapa nomor lainnya telah saya hapal di luar kepala tanpa motivasi apapun kecuali memang ingin dengan mudah mengutip liriknya sewaktu waktu.

Lirik. Adalah satu satunya alasan mengapa saya mendengarkan Homicide.

Ketika Pak Ucok menggagas zine Lyssa Belum Tidur, saya adalah yang paling semangat membongkar paket kiriman kengkawan dari skena indie Bandung. Aneh, sekian tahun berlalu sejak saya demikian akrab dengan Bandung namun tidak sekalipun pernah menjejakkan kaki di kota itu meski sekian belas kota dan sekian negara lain telah dikunjungi. Lalu kebiasaan itu berkurang hingga lenyap sepenuhnya di beberapa tahun belakangan.

Maka rasanya tidak berlebihan jika kemudian buku ini menjadi ajang nostalgia yang agak melankolis untuk saya. Seolah diingatkan pada masa di mana ideologi dan kemampuan dialektika adalah hal penting, paling penting dan tiada lain yang lebih penting. Masa di mana saya lebih menggemari berdiskusi perkara langitan hingga menjelang pagi tinimbang menghabiskan malam minggu dengan berkencan. Jatuh cinta adalah perkara asing sejak dialektika menjadi komoditas penting.

Sebagian besar isi buku telah diterbitkan untuk berbagai majalah dan zine musik, nasional maupun lokal. Sebagian besar isi buku juga telah saya baca dalam blog, website dan zine yang ditulis Pak Ucok. Bercerita tentang sejarah pembentukan Homicide yang berawal dari Godzkilla hingga Morgue Vanguard sampai pada titik di mana ia menjadi orang paling dicari untuk urusan skena hiphop Bandung.

Perseteruannya dengan Tufail al Ghifari adalah satu dari sekian hal yang mengingatkan saya pada kekuatan lirik yang digunakan Pak Ucok. Hal ini tentu saja didasari oleh asupan bacaannya yang tidak main main. Sederet nama filsuf Yunani hingga sosialis abad 17 menjadi pembuka buku setebal 225 halaman ini.

Buku ini akan dan telah menjadi satu dari beberapa buku skena lokal Bandung yang saya suka (dan putuskan sebagai harta berharga). Pak Ucok telah sekali lagi memberikan kausal mengapa saya sangat suka beliau sebagai penulis..

Kedua setelah Pak Kimung, tentu saja! hihihi.

Fasis yang baik adalah fasis yang mati! – Homicide, Puritan.

Between the Monster, Sea and Magnetic Zero

Di tahun ini keakraban saya dengan Spotify meningkat. Ditandai dengan secara rutin menjadi satu di antara sekian juta subscriber yang turut menanggung biaya hidup orang orang di belakang aplikasi musik satu ini setiap bulannya.

Spotify mendekatkan saya dengan indie-folk lebih jauh lagi berkat algoritma tebak tebakkan mereka melalui menu Discover Weekly setiap minggunya. Sistemnya sederhana, mereka membuatkan playlist dengan musisi musisi yang berkaitan dengan musik yang sering kita dengarkan. Berhubung dosis harian saya muter muter di First Aid Kid, Laura Marling, Mumford and Sons serta Imagine Dragons, maka yang muncul adalah beberapa nama ini yang dalam setahun belakangan lagu lagunya saya nyanyikan dengan segegap gegapnya gempita yang saya punya.

Of Monster and Men

https://i0.wp.com/66.media.tumblr.com/6c9b3bed815e5d023b43e172f973db8c/tumblr_ob0p4k6FWk1vu4ih3o3_1280.jpg
Gayanya bolela, kek band band Grunge 90an

Nuansa kampung halaman band ini – Iceland – terlihat kental dalam lagu Little Talk yang secara viral menjadikan band ini dikenal. Paus raksasa, laut lengkap dengan gunung esnya, orang orang berjaket bulu tebal memburu paus, dan seterusnya. Album My Head is An Animal (yang kemudian muncul sebagai sepenggal lirik dalam lagu di atas) menjadi bagian dalam playlist harian tanpa kecuali. Nomor nomornya menarik, seperti Dirty Paws (yang menjadi soundtrack film The Secret Life of Walter Mitty), King and Lion Heart dan favorit saya tentu saja, Chrystal.

Edward Sharpe and the Magnetic Zero

Gara garanya sepenggal bridge sebelum refrain yang berbunyi;

‒ Jade?
‒ Alexander?
‒ Do you remember that day you fell outta my window?
‒ I sure do‒you came jumping out after me.
‒ Well, you fell on the concrete, nearly broke your ass, and you were bleeding all over the place, and I rushed you out to the hospital, you remember that?
‒ Yes, I do.
‒ Well, there’s something I never told you about that night.
‒ What didn’t you tell me?
‒ Well, while you were sitting in the back seat smoking a cigarette you thought was gonna be your last, I was falling deep, deeply in love with you, and I never told you ’til just now!

https://rusnanianwardotcom.files.wordpress.com/2016/11/7f131-edward-sharpe-and-the-mag-008.jpg?w=590&h=354
Hippie Hippie ena. Membernya kek mau tanding bola.

Saya kemudian habis habisan mendengarkan gabungan dua band yang menghasilkan sebuah kolaborasi berisi lebih dari 10 member ini, lengkap dengan gaya mereka yang mengingatkan saya pada Bara Suara. Renyah, riang berapi api. Favorit saya adalah self-titled album mereka dan tentu saja, nomor Home di atas.

Wild Child

https://f4.bcbits.com/img/a0463800673_10.jpg
Why kumisnya why?

Formatnya: mbak-mbak chubby nyanyi dengan males malesan duet sama mas-mas kerempeng dengan kumis hipster dan gaya belum mandi berhari hari.

Tapi bangsat lagu lagunya enak semua.

Duo Kelsey dan Alexander yang mirip pasangan kelamaan bareng terus ogah ogahan PDA demi kepentingan kamera punya kinetis kimiawi yang jauh lebih mesra, klop dan megah dibanding apa yang terlihat. Udah paling pas mendengarkan mereka melalui format audio saja hahaha.

Tiga album telah saya hapal semua lagunya, Pillow Talk, Rundaround dan Fools. Dengan nomor nomor yang liriknya bikin mendesah enak. Whiskey Dream, Winter Pocket, Fools, Pillow Talk, Saving Face, Reno, Trillo Talk, Meadow, Break Bones. Semuanya. Oh, dan coba dengarkan Reno dalam versi audiotree, enaaaa.

I’m a girl and every single girl on earth needs a certain song to represent their feeling dan band asal Texas ini telah berhasil menemani setiap inci perjalanan hati saya. Tsaahh.

Fleet Foxes

https://i0.wp.com/stereoembersmagazine.com/wp-content/uploads/2016/05/A1CQUjoruxL._SL1500_.jpg
Artwork album Fleet Foxes keren semua.

Di Path, mbak Reda dari AriReda sekali waktu memposting tengah mendengarkan Sun Giant milik band ini. Teringat pernah mendengarkannya sekali waktu, sayapun mengunduh Album Sun Giant dan beberapa nomor dari album Helplessness Blues dan Fleet Foxes. Keberhasilan lagu lagu seperti Mykonos, White Winter Hymnal (yang liriknya gore sekali itu) dan Montezuma dalam mentersesatkan mood saya sehari hari membuat mereka menjadi salah satu favorit saya di tahun ini.

Ketajaman Fleet Foxes dalam mengolah lirik yang tidak biasa dengan musik yang membawa pesona ambient membuat mereka cocok untuk meditasi (?) ini memang terdengar aneh namun sejak agak rajin yoga dan meluangkan 15 menit meditasi setiap hari, lagu lagu mereka entah mengapa lebih enak untuk mengiringi tinimbang score score keIndia-Indiaan yang bertebar di yutub. Personal preference sih, tapi kalo iseng cobain aja.

Empat nama di atas adalah temuan berharga saya di tahun ini. Meski terdapat sederet nama lain yang tidak kalah menarik seperti The Oh Hellos, Barton Hollow, Ben Howard, The Avett Brothers sampai Lost in the Trees yang Neither Here or There-nya cocok buat score film psikologi thriller, kayaknya cuma empat di atas yang betah saya dengarkan berkali kali, berhari hari, hingga hapal di luar kepala lalu direka reka untuk digumamkan sebagai (sekali lagi) representasi perasaan.

Sampit, 17 Nopember 2016

Wolf mother where you’ve been? You look so worn, so thin.

Senja Merah : Kebahagiaan yang Banal

Untitled.jpg
Sampul Depan

Saya lupa kapan tepatnya atau dalam momentum berupa apa, namun saya ingat pernah menghabiskan berminggu minggu mengetik naskah Senja Merah ini. Setiap sesi menulis saya selalu memutar lagu lagu Iwan Fals, Homicide dan sesekali nomor klasik semacam Pavarotti dan skor skor olahan Yo Yo Ma. Di sela menulis, saya sibuk terlibat dalam twitwar dan diskusi kiri di forum Facebook seolah dua platform media sosial tersebut adalah satu satunya dunia yang saya punya.

Masa remaja saya (saya 18 tahun kala itu) awesome sekalilah pokoknya. Walaupun penganggur lantaran baru saja cabut dari koran, walaupun tidak mengetahui cara membayar kreditan PC yang cicilannya masih sekian bulan. Waktu itu saya hanya ingin menulis dan menulis saja.

Dengan kemampuan dan pengetahuan tentang dunia kepenulisan yang alakadarnya, banyak sekali kesalahan tata bahasa dan ejaan di dalamnya. Namun toh tetap saja dengan bangganya naskah Senja Merah yang awalnya berjudul Malam Teror ini saya pamerkan ke mana mana. Hingga satu-dua kawan membantu menghubungkan saya dengan penerbit penerbit dan sepanjang 2010 saya disibukkan dengan perasaan deg degan ketika berkomunikasi langsung dengan para editor penerbit penerbit ternama itu.

https://scontent-sit4-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/15055614_1331782500178735_7525894579774471026_n.jpg?oh=8624e6f7ab1a5b0046d2229575fc67ab&oe=58CB35A8

Upaya memenuhi kalimat “Tulisanmu menarik, apalagi ini ditulis oleh gadis belasan tahun, kamu cuma harus edit ulang dan kembangkan cerita tokohnya lalu kirim kembali, naskahmu akan menjadi pertimbangan teratas kami” dari Mbak Nita, editor Kurnia Esa yang waktu itu intens berkomunikasi dengan saya berujung pada kemalasan. Saya bosan melihat naskah novel ini dan mengalami kebuntuan untuk melakukan pembenahan. Ditambah dengan saya yang diterima bekerja di Jakarta dan memulai kesibukan sedemikian rupa.

Hingga tau tau, delapan tahun lewat begitu saja. Saya tidak lagi berkomunikasi dengan Mbak Nita dan keinginan untuk melakukan editing naskah ini tak kunjung muncul. Sampai akhirnya di awal 2016, out of the blue, saya ingin membukukan naskah Senja Merah, bagaimanapun caranya.

Dan begitulah, sebelas bulan selepas resolusi tahun baru itu dilontarkan, saya akhirnya mencetak indie buku ini melalui Print On Demand karena proses di NulisBuku.com kelewat ribet buat pemalas seperti saya. Akhirnya, saya dapat memegang Senja Merah dalam format mirip novel beneran dan bangga tidak alang kepalang. Meski pada akhirnya mereka hanya akan berakhir di rak buku di rumah dan dibaca satu-dua kawan, saya toh akhirnya menerbitkan buku dan memenuhi satu dari beberapa resolusi tahun baru yang belum tentu kesampaian.

Berikut sinopsis untuk Senja Merah yang ditulis oleh Mbak Nita dari Kurnia Esa, 2010:

Tak ada malam yang tak mencekam. Tak ada malam yang berurai cahaya, bahkan dari api kecil sekalipun. Sunyi. Senyap. Semua membisu tanpa suara – selain derap sang Teror Malam beserta sirene mereka. Ketakutan, kecemasan, nafas seakan terhenti ketika senja meredup meninggalkan hari.
Wenggini hanyalah bocah ingusan dari desa yang selalu melewati malam teror. Hingga akhirnya, satu demi satu keluarganya diterkam Teror Malam. Lubang-lubang timah panas mengakhiri segala yang dimilikinya. Satu malam saja, Wenggini yatim piatu.
Dunia tak berhenti. Hidup Wenggini terus berlanjut. Ada apa dengan teror malam? Siapa mereka? Apa mau mereka?
“Merdeka adalah harga mutlak yang harus dimiliki negara ini. Demi merdeka, tak ada satupun nyawa terbuang percuma.” Begitu yang tertanam di benak setiap mereka yang berani saat itu.
Tapi apalah artinya jika sudah mati? Akankah kemerdekaan itu jadi lebih bermakna? Seribu satu pertanyaan berkecamuk dalam benak Wenggini. Kalau saja ada yang mau menjelaskan kenapa ayah, ibu, serta Sunaryo harus mati, Wenggini harus yakin alasannya benar. Hingga akhirnya pria itu datang di hidupnya. Pria yang mengubahnya menjadi wanita mumpuni yang mengerti apa yang harus dilakukan.
Namun teror tetap ada. Teror yang kian mencekam, tak hanya datang saat senja menghilang, tetapi ada kapanpun ia mau!
Lariii!! atau hadapi dengan dagu terangkat dan siap bersimbah darah!

Saya tidak menjual buku ini dalam format cetak karena… too much effort hahaha. Entahlah, saya sendiri ga tega jika seseorang harus membayar 50-60 ribu di luar ongkir hanya untuk membaca sesuatu yang sudah saya sebar di internet sejak sekian lama. Saya hanya ingin membuat kenang kenangan untuk diri sendiri, agar kelak sepuluh, dua puluh tahun dari sekarang saat saya mengalami hari paling buruk sedunia, saya bisa meraih buku ini dari rak berdebu dan tersenyum soal bagaimanapun juga saya pernah bermimpi dan mewujudkan mimpi itu 🙂

Gombal abis ya alasannya.

Anyway jikalau ingin membaca versi yang telah dirapikan, silakan download .Pdfnya di sini.

Sampit, 10 Nopember 2016

Nani punya buku sendiri, Yay!

A Clockwork Orange, Satir Kriminal Rasa Pulp Fiction

Di tahun 197https://i1.wp.com/i.gr-assets.com/images/S/compressed.photo.goodreads.com/books/1391825616i/8810._UY200_.jpg0an, berbarengan dengan populernya nama Andy Warhol dan orang orang yang menjadikan film The Rocky Horror Picture Show sebagai acuan hidup ideal, ada nama Stanley Kubrick yang melejit melalui film film bergenre tidak biasa. Kubrick melejit berkat film Lolita (dari buku populer milik Vladimir Nabokov) menyusul Spacetime Odyssey yang di tahun segitu efek yang digunakan untuk perjalanan luar angkasa bisa dibilang bolehlaah. Kemudian menyusul The Shining dan Dr. Strangelove yang membuat nama beliau ada di jajaran teratas sutradara paling keren sedunia.

Yang saya tidak tau, novel yang baru saja saya habiskan di akhir pekan silam ini ternyata sudah ada filmnya. Film ini disutradari oleh Kubrick dan sebagai penganut paham Apapun Yang Disutradari Kubrick Pastilah Keren dan Patut dibaca versi Bukunya, saya mendapati bahwa meskipun dibutuhkan sedikit waktu untuk beradaptasi dengan gaya bahasa yang digunakan Anthony Burgess (ada campuran bahasa slang Rusia, gaya bahasa selatan Amerika dan beberapa susunan kalimat yang terasa ganjil), buku ini layak saya rawat baik baik untuk generasi selanjutnya.

Kemunculan tokoh Alex yang menggemari violence sepintas mengingatkan saya pada film Pulp Fiction, meski film ini muncul dua dekade selanjutnya, gaya bercerita tokoh Alex DeLarge seolah mengadaptasi duo Vincent Vega dan Jules Winfield.
Untitled.jpg

Dibuka dengan sosok Alex DeLarge dan tiga temannya sedang minum di sebuah milkbar yang saya baru ngeuh kalo minuman yang dijual adalah, well, susu :))) di sana konon terdapat minuman yang mengandung formula khusus yang membuat seseorang terjustifikasi untuk melakukan kegiatan kriminal kelas berat-amoral dan tanpa batas. Whoa. Sains fiksi sekali hahaha.

Di bawah pengaruh minuman ajaib tersebut, keempatnya melakukan kegiatan kriminal mulai dari memukuli gelandangan hingga memperkosa istri orang. Hal hal seperti ini memang terasa seperti “Wah ini filmnya Kubrick banget nih”. Semula saya kira buku ini akan berhenti saat Alex masuk penjara dan perlahan bertobat dan menyesali perbuatannya. Namun melihat buku yang baru mencapai separuh, saya harus siap dengan skenario Jatuh Bangun Seorang Kriminal Tobat Kembali ke Masyarakat.

Namun ternyata justru hal hal bombastis baru dimulai dari sini. Alex kemudian ditawari untuk memperpendek masa tahanannya dengan syarat ia harus ikut eksperimen untuk merubah karakter manusia. Tidak, eksperimen ini tidak melibatkan ustadz yang bisa mengeluarkan jin kriminil dari ubun ubun seseorang. Ia berupa serangkaian tes psikologi dan ‘siksaan’ mental berupa nonstop menyaksikan tayangan kekerasan. Ditambah dengan dosis obat yang meningkatkan emosi, Alex harus berhadapan dengan mimpi buruk itu hingga akhirnya pada final tes, ia lolos dan dinyatakan aman untuk kembali ke masyarakat.

Sepintas saya teringat pada novel A Most Dangerous Method, tentang Sabina, pesakit jiwa yang kemudian menjalani tes psikologi yang dipimpin oleh Sigmund Freud dan Carl Jung melalu metoda dihadapkan dengan mimpi buruk si pesakit jiwa. Dalam A Clockwork Orange Alex adalah kriminal kelas teri yang bertobat dan telah melunturkan dorongan kekerasan yang harus ditekan sedemikian rupa terhadap tayangan kekerasan.

Eksperimen bernama Ludovico Technique oleh Dr. Brodsky ini bukan satu satunya perihal bombastis di novel A Clockwork Orange. Hal bombastis lainnya adalah Alex menjadi alat perlawanan seorang oposisi negara yang istrinya telah diperkosa Alex di awal cerita! Dengan menggunakan Alex sebagai contoh gagal dari Ludovico Technique yang digunakan negara untuk menurunkan angka kejahatan namun penuh dengan indikasi pelanggaran hak asasi manusia, F. Alexander penulis buku A Clockwork Orange di dalam novel ini ingin menunjukkan bahwa negara tidak bisa melanjutkan eksperimen tersebut sekaligus membunuh Alex yang telah memperkosa istrinya hingga meninggal.

Sampai di halaman ini saya sampe mangap mangap saking bombastisnya.

Hal bombastis lainnya adalah: Alex DeLarge baru berusia 15 tahun saat ia melakukan semua tindakan kriminal tersebut, driven by a fucking magical milkshake. Sinting.

Novel ini membuat saya ingin segera mencari filmnya dan menikmati penelaahan visual ala Kubrick yang senantiasa sukses membuat saya berdecak kagum. Dan menyisakan deretan panjang diskusi imajiner soal upaya Burgess yang mungkin sedikit berlebihan dalam menyajikan lapisan lapisan psikologis agar terlihat seperti penulis penulis 70an lainnya.

Sampit, 08 Nopember 2016

Abis ini lanjut baca Murakami lagi, tentu saja.

Menulis, dan Menulis Saja. Seratus Buku Untuk 2016 #Agustus&September

Sebelum saya kehilangan waktu untuk membaca pada kesibukan kesibukan di luar diri sendiri, saya ingin membaca dan terus membaca. Menulis dan menulis saja. Saya ingin memenuhi laman laman site ini dengan ratusan bahkan ribuan entry, yang penting atau tidak, yang sarat pemikiran atau sekadar sampahan curhat.

Sebelum saya memikirkan soal tagihan listrik air kreditan bayar sekolah dan kebutuhan rumah, saya ingin menghabiskan hari hari saya dengan rasa penasaran soal alter realitas, teori teori evolusi dan pembentukan semesta serta perputaran langit bumi beserta luar angkasa. Saya ingin merasakan urgensi untuk mengetahui nasib tokoh utama di buku buku populer yang saya baca. Saya ingin menuliskan semua yang saya rasa hingga detil terkecil dan merayakan semeriah meriahnya festival perasaan dalam kesunyian tengah malam di kamar kos saya.

Saya ingin pergi ke setiap kota di Indonesia, belajar sekurangnya 3 bahasa berbeda dan menjadi pandai dalam tawar menawar harga di pasar karena kemampuan komunikasi yang mumpuni. Saya ingin berdiskusi dan tertawa hingga pagi, saya ingin menari dan bernyanyi sekerasnya pada hujan hujan di kota asing.

Sebelum saya memutuskan untuk melibatkan orang lain selain diri saya sendiri dalam merayakan hidup ini. Sebelum saya menambah satu-dua nama dalam festival sunyi tengah malam dengan rengekan dan dengkuran mereka. Sebelum saya melonggarkan persyaratan serba-praktis dalam periode paling egois ini.

Saya berada di usia di mana saya tidak menginginkan keterlibatan orang lain kecuali satu-dua kawan yang datang sesekali untuk memastikan saya tidak melakukan hal hal tolol seperti memangkas habis rambut (lagi) misalnya. Saya menemukan refleksi paling akurat dalam buku buku Murakami dan larut dalam setiap lembar keriuhan cerita dan dibaca dalam sunyi. Saya kini memahami mengapa orang orang gemar sekali membaca buku.

Saya merapel (lagi) log bacaan saya bulan ini.

Buku yang telah dibaca bulan Agustus dan September:

  1. Wind – Haruki Murakami
  2. Pinball – Haruki Murakami
  3. After Dark – Haruki Murakami
  4. After the Quake – Haruki Murakami
  5. The Girl on the Train – Paula Hawkins
  6. The Elephant Vanishes – Haruki Murakami
  7. South of the Border, West of the Sun – Haruki Murakami
  8. 1Q84 book 1 – Haruki Murakami

Total buku yang telah dibaca hingga September 2016 : 62 dari 100 buku.

Karena mustahil rasanya melahap 38 buku dalam tiga bulan yang tersisa, maka sepertinya resolusi 100 Buku Untuk 2016 harus direlakan untuk tidak tercapai. Sisi positifnya: saya sudah membaca 62 buku! di tahun tahun sebelumnya untuk memikirkan membaca 10 buku setahun saja rasanya sulit. Padahal hidup tidak sibuk dengan waktu luang kelewat banyak.

Maka sebelum saya melibatkan diri dalam hubungan fisik non fisik dengan Homo Sapiens lain di muka bumi, sebelum kepala saya dipenuhi perkara perkara duniawi, saya ingin menghabiskan waktu yang saya punya seegois egoisnya.

Sampit, 29 September 2016

It’s the most egocentric time of my lifetime period. But aren’t we all?

1Q84 Membuat Saya Merasa Normal

Untitled.jpg

Dalam buku George Orwell yang ditulis pada tahun 1949, muncul sebuah prediksi masa depan atas seperti apa dunia di tahun 1984. Di buku ini, tuan Orwell menggambarkan totalitarian di mana bumi dikuasai oleh segelintir orang yang menyebut dirinya Big Brother. Mengingat tahun penulisannya, tuan Orwell sepertinya ingin mengingatkan sesama rekan penulis dan kaum intelektual mengenai bahaya komunisme.

Eniwei, bicara soal tema, 1Q84 mengadaptasi ide tuan Orwell tentang (sebagian) dunia yang dikuasai segelintir orang (Little People) yang sedemikian berkuasa dan mempengaruhi pengikutnya. Sakigake namanya, berada dalam realita alternatif di mana ada dua bulan  berwarna kuning dan hijau menggantung di cakrawala. Pak Murakami mungkin dapat mengendus kemungkinan buku ini akan dituding mengacu pada karya tuan Orwell, didampuklah Profesor Ebisuno untuk menjelaskan hal ini:

“George Orwell introduced the dictator Big Brother in his novel 1984, as I’m sure you know. The book was an allegorical treatment of Stalinism, of course. And ever since then, the term ‘Big Brother’ has functioned as a social icon.” – Professor Ebisune, page 338

Mungkin lantaran buku yang saya baca masih belum banyak dan temanya terbatas, penelurusan psikologis sedetil dan semenarik ini baru saya temukan di buku buku Murakami. Yang dituliskan tidak seperti cukilan dari buku buku psikologi atau menggurui seperti Paulo Coelho. Ia seperti menceritakan kembali sebuah pengalaman pribadi sehingga membuat yang membaca merasa terkoneksi dan membaca lebih lagi. Tidak heran jika kemudian banyak yang terobsesi dengan kehidupan pribadi pak Murakami dan memulai telaah sotoy soal apakah beliau mengalami depresi, lekat dengan ide bunuh diri dan seorang nihilist.

Dalam buku What I Talk About When I Talk About Running saya menangkap bahwa Murakami adalah orang paling simpel sedunia. Lihat bagaimana beliau menjabarkan latar hidupnya sampai akhirnya ia memutuskan untuk menjadi penulis. Penjelasan penjelasannya soal pertanyaan media/fans yang -tidak selengean penuh sarkasme seperti Seno Gumira- namun lebih seperti… menceritakan kembali. Tanpa penelaahan atau upaya menjadi misterius yang berlebihan.

1Q98 adalah buku Murakami paling panjang (sejauh ini) lantaran terdiri dari tiga buku terpisah. Totalnya 1318 halaman dengan satu potongan chapter yang tembus ke Newyorker Magazine berjudul Towns of Cats. Lagi lagi setelah Kafka on the Shore, Murakami ngobrol sama kucing di cerpen yang mengharukan ini hiks.

Membaca 1Q98 membawa kesenangan tersendiri bagi saya, meski sepanjang ini, tiga minggu terasa sebentar dan tau tau bukunya abis. Meski banyak yang menyebut buku ini belum bisa disebut sebagai magnum opusnya Murakami karena masih ada buku bukunya yang lain yang tidak kalah bagus, namun bagi saya yang baru membaca 14 judul Murakami, 1Q98 memenangkan kompetisi Buku Murakami yang Nani Paling Suka. Kompetisi yang tidak penting sekali hahaha.

Proporsinya pas sekali, jumlah tokoh tidak berlebihan dan permainan antara surealisme, plot twist, koneksi antar tokoh, semuanya pas. Rasanya bahagia sekali kalau bisa baca buku sebagus ini ya.

Meski sepenuhnya fiksi, soal pembunuh bayaran di sebuah dunia dengan dua bulan menggantung di cakrawala, penokohan yang dibangun Murakami sepenuhnya terasa nyata. Kita seolah mengenal baik Aomame dan Tengo di dunia nyata. Kepala saya bahkan tidak henti hentinya mengulang sosok Ayumi sebagai refleksi diri sendiri hingga berujung cengengesan dan gumaman “Hehehe, ada temennya hehe”

None of them know, Aomame thought. But I know. Ayumi had a great emptiness inside her, like a desert at the edge of the earth. You could try watering it all you wanted, but everything would be sucked down to the bottom of the world, leaving no trace of moisture. No life could take root there. Not even birds would fly over it. What had created such a wasteland inside Ayumi, only she herself knew. No, maybe not even Ayumi knew the true cause.But one of the biggest factors had to be the twisted sexual desires that the men around Ayumi had forced upon her. As if to build a fence around the fatal emptiness inside her, she had to create the sunny person that she had built, there was only an abyss of nothingness and the intense thirst that came with it. Though she tried to forget it, the nothingness

would visit her periodically – on a lonely rainy afternoon, or at dawn when she woke from a nightmare. What she need at such times was to be held by someone, anyone. – page 523

Setelahnya, saya merasa semua keanehan keanehan di muka bumi ini dapat terjelaskan dengan baik. Seharusnya saya lebih giat membaca buku sejak dulu. Meski akhirnya Ayumi ditemukan mati dalam keadaan telanjang setelah dicekik seseorang di kamar hotel, hidup memang seharusnya dijalani dengan kesederhanaan sikap dan pikiran, seperti yang telah berpuluh puluh tahun pak Murakami lakukan. Hahaha.